Unbroken (Chapter 3)

Unbroken

Title: Unbroken – Chapter 3

Author: V (@violarosaliya)

Main casts: Kim Jong In a.k.a Kai | Kim Hyo Jae (OC)

Supporting casts: Find it out through the stories

Genre: Romance | school life | friendship

Rated: PG 13

Length: Chaptered

Disclaimer: Fanfiction ini murni hasil karya author tanpa plagiat dari fiksi manapun.

Author’s note: I hope you enjoy reading this fan fiction. Please leave comments after that. Every comment is so valuable for me. Thank you very much.

I also post this story on my blog phiyongg.wordpress.com

Summary:

Unbroken. Nothing will be broken.

Neither the precious relationship nor the old feeling.

Nothing should be broken in the middle of this triangle love.

 

(KAI POV)

Sinar matahari pagi cerah yang masuk melewati gorden kamar lagi-lagi mengganggu tidurku pagi ini.Aku menyipitkan mata saat cahaya yang masuk terlalu banyak.

Krek krek.

Aku mendengar suara gagang pintu kamar yang coba dibuka beberapa kali dari luar dan itu sangat menjengkelkan untukku yang masih butuh waktu untuk tidur ini.

“Yaaa.Kai.Cepat bangun” terdengar teriakan khas noona dari luar sambil menggedor keras pintu kamar saat aku tidak juga bangun dan membukakan pintu untuknya.

“Yaaa. Kim Jong In” aku seketika bangkit dari tempat tidur ketika mendengar noona sudah berteriak memanggil nama lengkapku. Itu berarti kemarahannya hampir 90%.Dengan tergesa menuju pintu kamar meskipun masih dengan mata mengantuk.

Aku membuka pintu kamar yang terkunci dan dengan sigap noona langsung mendorong pintu kedalam agar Ia bisa masuk.

Ia memandang kesal aku yang masih berdiri mematung sambil memeluk pintu.

“Yaa, noona. Sakit” aku mengaduh saat Ia mencubit keras kedua pipiku. Aku mengelus-elus kedua pipiku yang memerah.Aku mengikutinya yang duduk di bangku di samping tempat tidurku.Ia menghela napas sebelum mengatakan apa yang ingin sampaikan. Ia pasti sedang mencoba menahan emosinya jika ia menghelas napas seperti itu. Dan bila sudah seperti ini sudah 100% aku pasti akan kena marah.

“Yaa, Kim Jong In” Ia berbicara sepelan mungkin mencoba untuk tidak terbawa emosi.

“Ne, noona” aku menjawab sambil menundukkan kepala.

“Sudah berapa hari kau bolos minggu ini?”Ia lebih tenang sekarang terlihat dari sorot matanya yang teduh. Aku tahu ia sangat menyayangiku namun Ia selalu berpikir walaupun aku tidak butuh sekolah ataupun ijazahnya sekarang tapi itu pasti ada gunanya nanti. Dan ia tidak ingin aku terlambat menyesali semuanya.

“Cuma tiga hari, noona” jawabku sambil mencoba mengingat berapa hari sekolah yang aku lewatkan untuk latihan bersama teman-teman bandku.

“Yaa, Kim Jong In. Tiga hari bolos dan kau bilang CUMA??” aku memegang kedua tangannya saat ternyata jawaban yang aku berikan salah total.Jawabanku malah jadi bumerang untuk kemarahan yang naik ke level selanjutnya.

“Noona, mianheyo” aku meminta maaf sambil membuat wajahku sampai terlihat memelas.

Ia tersenyum.

“Berhenti, Kai. Kau terlihat jelek seperti itu” katanya tersenyum lalu menjewer kupingku.

“Yaa, noona.Kau terlihat seperti pembunuh berantai, menjewerku dengan wajah tersenyum begitu.Kau tidak tahu kalau ini sakit.Aaak, Noona, stop” jeweran noona memang dashyat.

“Aku tahu ini bukan mimpimu, Kai. Aku tahu kau punya mimpi yang lebih besar dari sekedar lulus sekolah lalu masuk universitas. Aku tahu kau punya impianmu sendiri. Tapi tolong Kai paling tidak kau harus lulus sekolah. Jika ini bukan untuk dirimu sendiri tolong lakukan untukku.Setelah itu semuanya terserah padamu. Aku akan selalu mendukung semua keputusanmu setelah itu bahkan jika harus melawan appa. Aku tidak pernah minta apapun, Kai.Mungkin saat ini kau menganggap ini tidak penting atau apapun.Tapi tolong kali ini saja” aku terdiam memandangi kalimat noona yang satu persatu menempel di pikiranku.

“Kau bisa kan, Kai?” katanya penuh harap. Matanya seperti berbicara bahwa aku harus mengatakan ya.Aku terdiam karena masih ada ragu yang terasa.

Kemudian aku mengangguk mantap membuat tangisnya pecah.Ia lalu memelukku.

“Aku merindukan eomma, Kai” bisiknya saat memelukku. Aku memeluk noona dengan erat dan mengelus punggungnya agar Ia lebih tenang. Tak kusangka ternyata noona banyak memendam perasaannya sendiri.Aku merasa bersalah padanya.Merasa bersalah karena tidak bisa memahami kondisi noona.Sedikit banyak noona pasti terbebani dengan semua prilaku burukku.

“Noona, maafkan aku, ya” aku berbisik padanya.

 

Lima menit kemudian noona melepas pelukannya lalu tersenyum. Sepertinya Ia lega karena sudah bisa melepaskan pikiran-pikiran yang membebaninya. Namun masih tersisa butiran air mata dipipinya yang kemudian aku hapus dengan kedua telapak tanganku.

Ia kembali tersenyum sebelum akhirnya bangkit menuju dapur.

“Aku akan buatkan sarapan. Jangan lupa dihabiskan” dalam beberapa detik Ia kembali ke noona yang cerewet. Tapi aku lebih suka noona yang seperti itu.

“Kai, cepat mandi lalu pergi ke sekolah” terdengar suara noona dari dapur.Teriakkannya makin lantang setelah menangis rupanya.

♪ ♪ ♪

(KAI POV)

Aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi sejak pagi hingga kini. Apakah ini yang dinamakan habis jatuh tertimpa tangga? Entahlah yang pasti ini hal yang sama sekali tidak aku harapkan terjadi di pagi hari normalku.

Setelah bangun dengan paksaan yang menyiksa ditambah dengan melihat noona yang menangis persis dihadapanku dan kini aku terpaksa harus menyumbat kedua telingaku dengan sepasang headset berwarna putih agar suara teriakan para yeoja seperti biasanya sangat mengganggu bahakan saat sebelum aku melangkah masuk ke sekolah melalui gerbang sekolah. Hal seperti ini tidak akan terjadi jika aku ke sekolah melewati jalur privatku sendiri seperti biasanya. Ini semua karena noona yang percaya bahwa aku akan kembali membolos. Jadi dia mengantarku dan berhenti tepat di gerbang sekolah yang begitu ramai dengan lalu lalang siswa yang mulai berdatangan.

“Yaa, Kai. Apa kau selalu ke sekolah seperti ini? Dengan semuanya serba hitam?” noona sepertinya menyadari style fashionku yang sangat menjunjung tinggi warna hitam di semua fashion item-ku.

“Yaa, noona.Berisik.Aku sedang mencoba menghubungi Sehun sekarang” aku menyuruhnya mengecilkan suara.

Tet.Tet.Teeeet.

Beberapa mobil siswa lain yang persis di belakang kami menekan klakson dengan tidak sabar meminta mobil noona bergerak maju dari depan gerbang sekolah.

“Yaa, Kai. Cepat turun.Kau tidak mau kan noona-mu ini mendapat masalah di hari pertama mengantar ke sekolah?”Ia mengeluarkan jurus wajah memelasnya.

Tet.Tet.Teeet.

Suara klakson kembali memekakkan telingaku untuk kesekian kalinya pagi ini.Akhirnya segera aku turun dari mobil untuk menghentikan semua polusi suara yang ada.Noona melambaikan tangannya kemudian berlalu menuju rumah sakit.

Aku mengambil napas panjang lalu melangkah memasuki gerbang sekolah yang mulai penuh sesak karena beberapa puluh siswi memutuskan untuk tetap berada di sekitar gerbang padahal kurang dari delapan menit lagi kelas akan dimulai. Cara terbaik yang bisa aku lakukan untuk meminimalisir polusi suara yang ternyata masih berlajut hingga kini adalah dengan menyumbat kupingku dengan sebuah headset.Karena hampir seluruh yeoja yang masih ngotot berada di sekitar gerbang sekolah bersorak gembira menyambut kedatanganku layaknya seorang presiden atau perdana menteri datang ke sekolah mereka.Mereka berteriak mengucapkan terima kasih karena aku kembali masuk sekolah lewat gerbang sekolah.Ada yang menulis “WELCOME BACK KAI” di layar smartphone-nya atau menulis seperti saranghae, Kai dan kata-kata sejenisnya.Menurutku ini semua terlalu atau mungkin sangat berlebihan.Apa mereka tidak tahu kalau aku lebih nyaman melewati “jalurku” karena hal seperti ini? Aku akhirnya hanya bisa tersenyum pada mereka sambil berjalan secepat yang aku bisa. Namun, apa mau dikata, jarak dari gerbang sekolah menuju kelas yang biasanya kurang dari tiga menit kini harus membuatku terlambat masuk ke kelas ekonomi. Tapi akhirnya aku terselamatkan kali ini.Mr. Choi tidak bisa mengajar hari ini karena mengikuti seminar di salah satu universitas. Saat aku memasuki kelas, Kim Nam Joon, sang ketua kelas yang sangat bergaya rapper ini sedang menulis beberapa soal tugas dari Mr. Choi. Entah kenapa aku meminta maaf karena keterlambatanku padanya kali ini. Namun seperti biasanya Ia tidak begitu mempermasalahkannya. Dan hal inilah yang aku suka darinya.Dia tidak terlalu kaku seperti ketua kelas pada umumnya yang begitu ketat pada peraturan.Kami juga sempat berbincang sebentar.

“Aku dengar kau akan ikut festival besok, Kai” ia bertanya di sela-sela Ia menulis. Aku masih berdiri di sampingnya.

“Oh, ne, Nam Joon-ah.Tapi dari mana kau tahu?” aku sedikit berbisik saat membicarakan festival musik underground itu.

“Aku juga akan ikut festival itu besok.Tapi tidak bersama band.Aku akan ikut battle group rap” jawabnya membuatku manggut-manggut.

“Ya, Kai.Tapi disana jangan panggil aku Nam Joon ya. Panggil aku Rap Monster” Ia berbisik lalu terkikik. Aku bertanya-tanya bagaimana Nam Joon yang sangat humoris ini ternyata punya name stage Rap Monster.

“Sampai jumpa disana besok, ketua kelas” aku tersenyum lalu membungkuk hormat padanya.Ia lalu melanjutkan menulis soal ke sepuluh.

Sehun takjub melihatku yang tidak datang seterlambat biasanya.Ia bahkan berhenti menyalin soal saat aku duduk di bangku sebelahnya.

“Ya, Kai. Ini benar kau, kan?” katanya masih tidak percaya padahal aku sudah mengobrol dengan ketua kelas hampir lima menit.

“Apa ini benar kau, Kai?Atau mungkin ini hanya hologram?”Ia memegang rambut, bahu, dan lenganku untuk mengecek keraguannya.

Aku memukul kepalanya dengan gulungan kertas soal.

“Yaa, Kai” Ia meringis kesakitan sambil membuka gulungan kertas yang hampir robek.

“Aku bukan hologram kan?” kataku sambil mengeluarkan buku teks dan kertas kosong lalu mulai menyalin soal.

Hampir saja aku akan mendapat serangan balasan dari Sehun namun berhasil aku tangkis dengan lengan kananku yang semakin membuatnya kesal. Ia memutuskan untuk mendiamkanku.

“Ya, Sehun-ah. Apa kau ingat Kim Hyo Jae?” aku spontan bertanya saat Ia sedang berkonsentrasi dengan jawaban soal nomor lima.

“Siapa? Kim Hyo Jae? Siswi kelas berapa?”Ia balik bertanya tanpa mengalihkan perhatiannya dari kertas soal.

“Siswi kelas lima saat kita sekolah dasar” jawabku menanti ekspresinya.

“Kau tidak salah bertanya kan, Kai?” Ia menoleh kearahku dengan kening berkerut. Aku menggeleng pasti.Ia memilih untuk memecah konsentrasinya sebentar.

“Hyo Jae? Kim Hyo Jae? Dia siswi yang pernah jadi model pakaian itu bukan?” Sehun mengecilkan volume suaranya saat kembali mengingat satu nama yang tadi aku sebut.

“Omoo.Dia yang sering kau jahili, kan Kai?”Ia terkikik sekarang.

“Tapi tunggu dulu.Kenapa kau tiba-tiba bertanya tentang dia?” sehun kembali mengernyit.Ia kelihatannya heran denganku yang tanpa ada hujan badai menanyakan teman SD yang sudah tidak pernah kami temui kurang lebih enam tahun lamanya.

“Sebenarnya aku sudah bertemu dengannya” aku memainkan pensil mencoret-coret halaman 66 buku teks ekonomiku.

“Mwo?Jinjja?Wae?Bagaimana bisa?” konsentrasinya kembali buyar seketika aku mengungkapkan fakta kedua.Aku hanya bisa mengangguk.

“Yaa, Kai. Bagaimana bisa kau hanya mengangguk, huh?”Ia akhirnya berhenti menulis. Sehun juga mengambil paksa pensil yang sedang aku gunakan.

“Aku bertemu dengannya. Aku tahu siapa dia. Tapi dia tidak tahu kalau aku Kim Jong In. Dan itu membuatku tidak tenang” aku mencoba menjelaskan apa yang aku rasakan saat ini.

“And then?”

“Sehun, kami tidak seharusnya berteman, kan? Reaksi yang aku tunggu saat Ia bertemu denganku setelah enam tahun adalah memaki, menampar, atau melakukan dua hal itu sekaligus mungkin. Bukan malah menolong dan menjadi temanku” aku menghela napas.

Sebenarnya aku sudah tidak mau lagi membicarakan ini setelah Hyo Jae memberitahuku identitasnya. Mungkin lebih baik kalau kami berdua berteman selamanya tanpa tau apapun tentang diri satu sama lain. Ia tidak tahu apapun tentangku lebih tepatnya. Tapi itu sungguh tidak mungkin. Suatu hari hal ini juga pasti akan terjadi.

“Aku masih tidak mengerti, Kai” tuntutnya.

“Teman-teman waktunya hanya tersisa 20 menit lagi” Nam Joon mengingatkan kami tenggat waktu untuk mengumpulkan tugas yang baru setengah aku kerjakan.Aku kembali menyelesaikan soal tanpa menghiraukan Sehun.

♪ ♪ ♪

(Author POV)

Pukul 07:00 PM

Mobil Sehun

Seperti biasanya di hari-hari normalnya, hari ini Kai memutuskan untuk tidak langsung pulang kerumah. Disamping karena Ia tahu akan merasakan kebosanan yang amat sangat jika harus dirumah dan sendirian.  Selain itu hari ini Ia juga harus melakukan latihan terakhir bersama bandnya sebelum festival musik besok. Ditambah lagi dengan perform individu masing-masing yang berarti Kai akan battle dengan para pemain drum lainnya. Oleh karena itu hari ini Ia bersama teman-temannya sepakat untuk latihan bersama terakhir hari ini sehingga besok bisa melakukan latihan individual.

“Turunkan aku di toko musik yang disana” Kai menunjuk sebuah papan reklame besar yang berbentuk mikropon bertuliskan nama toko musik yang aku maksud.

“Apa festivalnya besok, Kai?” tanya Sehun sambil terus fokus mengemudi dengan sedikit melambatkan laju kendaraannya.

“Iya.Jangan sampai tidak datang, Sehun” Kai menjawab dengan sedikit nada mengancam.

“Mana mungkin aku bisa tidak datang, kan?”Ia mencibir.

“Tenang saja, Kai.nanti aku akan bawa pompom yang super meriah” Ia sudah terbahak sekarang. Beberapa orang yang lalu lalang di pinggir jalan akhirnya memperhatikan mereka berdua.

“Yaa, Oh Sehun.Awas saja kalau sampai itu terjadi” Kai kembali mengancamnya.Dan kali ini benar-benar serius. Bagaimana bisa dia membawa pompom memangnya Kai akan bertanding basket?

Sehun masih terbahak sampai Ia menghentikan mobil tepat di depan tempat yang Kai tuju. Ia terlihat ngos-ngosan karena tertawa. Kai menggelengkan kepalanya dan turun dari mobil.

“Kau tidak mau naik dulu?” tawar Kai pada temannya itu.

“Apa boleh?”Sehun terlihat tertarik.

“Kenapa tidak boleh?Tapi nanti kau cuma bisa melihat dari luar.Hehe” Kai balik tertawa sekarang.

“Sudah aku duga.Ya sudah aku pulang ya. Bye” Sehun memutar mobilnya ke arah berlawanan. Kai langsung ke dalam toko musik yang bisa dikategorikan cukup besar itu.Cukup besar untuk memajang hampir ratusan instrumen musik di lantai pertama dan kedua.Sedangkan di lantai paling atas terdapat beberapa ruang latihan dan tempat rekaman. Kai bersama teman-teman bandnya biasa menyewa satu ruangan disini untuk latihan meskipun Ia juga memiliki peralatan selengkap ini di rumahnya.

Saat memasuki ruang latihan yang kedap suara itu, ternyata Kai yang datang paling terlambat.Ia sempat di kerjai oleh teman-temannya karena kebiasaan terlambat Kai yang sudah pada tingkat mengkhawatirkan. Setelah hampir 10 menit mengerjai Kai akhirnya mereka memberi tahu bahwa Kai sedang di kerjai.Merekapun tertawa bersama.Mungkin ini salah satu yang membuat Kai sangat senang bila sudah latihan bersama. Selain merasa senang karena bisa latihan drum. Ia juga senang karena bisa berkumpul bersama orang yang bukan hanya satu passion dengannya namun juga menjadi keluarganya selain keluarga yang Ia miliki. Ia merasa seperti punya dua orang kakak dan satu orang adik laki-laki. Dua orang yang menjadi bassis dan gitaris dalam bandnya itu berusia dua tahun lebih darinya dan sang vokalis merupakan siswa sekolah menengah seperti dirinya.

Hampir lebih dari dua tahun bersama-sama sudah beberapa kali mereka memenangkan kompetisi dan hal inilah yang membuat mereka selalu optimis. Mereka juga selalu mendukung satu sama lain dalam hal apapun. Terutama dua orang hyung yang selalu mendukung agar bisa sekolah dengan baik.Namun, karena sifat Kai yang keras kepala mereka sering merasa kewalahan dengan kebiasaan bolosnya itu.

Latihan mereka awali dengan memainkan beberapa buah lagu milik 30 Seconds to Mars, Linkin Park, dan My Chemical Romance. Mereka juga memainkan beberapa lagu dari The Beatles dan Queen. Hampir empat jam lamanya mereka latihan. Namun, mereka seperti kehilangan rasa capek karena bagi mereka bermain musik adalah jiwanya.

Tepat pukul sebelas malam mereka akhirnya berhenti latihan dan memilih untuk pulang dan beristirahat mempersiapkan diri untuk kompetisi esok hari.

 

♪ ♪ ♪

 

Saturday night, 03 May 2014

Festival Musik

(Author POV)

Suara musik berdentum terdengar cukup jelas dari tangga pertanda suara dari dalam benar-benar keras.Seorang yeoja bertubuh seratus tujuh puluh senti berjalan menuruni tangga lalu mendorong pintu menuju sebuah ruangan yang sudah dipenuhi para pengunjung yang sedang berjingkrak saat sekelompok anak muda sedang membawakan sebuah lagu cadas di atas panggung.Di belakangnya terlihat deretan peserta festival musik yang menunggu giliran untuk tampil.Sementara itu di sisi kiri panggung nampak tiga orang juri yang sangat kompeten dan berpengaruh di dunia musik bergenre keras seperti ini.

Suasana kafe underground yang kelam dengan sedikit pencahayaan serta bau asap rokok dan alkohol yang sangat asing bagi yeoja itu membuatnya sedikit bergidik. Namun, Ia tetap datang karena sudah berjanji pada seseorang. Dengan kata lain, Ia memberanikan dirinya untuk datang. Beberapa orang yeoja memperhatikan dandanannya yang mungkin tidak terlihat seperti seseorang yang suka musik cadas. Tidak seperti mereka yang mengenakan dress ketat ataupun jeans dengan baju robek-robek Ia lebih memilih untuk mengenakan rok hitam panjang yang sedikit lebar dengan kaos lengan pendek juga berwarna hitam bertuliskan KAI dan sepasang ankle boots berwarna senada. Ia juga membiarkan rambut panjangnya yang Ia cat coklat tergerai. Berbeda dengan para yeoja tadi, kini beberapa orang namja malah memperhatikannya takjub karena Ia terlihat sangat kasual dan yang pasti begitu cantik.

Yeoja cantik itu berjalanke tengah mencoba menyeruak diantara para penonton yang semakin menggila. Genre lagu seperti ini memang bukan favoritnya namun Ia sudah berjanji. Kata mengingkari janji benar-benar tidak ada di dalam kamusnya.

Ia memilih untuk duduk di meja bar saat seseorang yang Ia tunggu untuk tampil belum menampakkan dirinya. Ia mengeluarkan smartphone-nya dari dalam postman bag kecil, namun mengurungkan niatnya untuk menekan tombol panggil karena akan sulit menelepon seseorang di tengah kebisingan hampir 80 desibel ini. Beberapa saat kemudian seorang bartender mendekatinya dan menanyakan apa dia mau memesan sesuatu sembari menunggu.

“Aku pesan es krim dan tiramisu” kata yeoja itu serius membuat bartender itu terkikik.

“Maaf, nona.Kami tidak menjual es krim disini apa lagi tiramisu” bartender itu menjawab sopan sambil masih tertawa.

“Ya sudah kalau begitu aku pesan cola saja”

Bartender itu mengangguk lalu meracik pesanan cola itu.

“Thank you” Ia berterima kasih lalu menyeruput cola dalam sebuah gelas besar itu. Ia terlihat sangsi apa benar minuman itu cola.

“Are you ready for Buzz LIghtyear, guys?” suara seorang namja berteriak melalui mikropon. Seperti dipandu seluruh ruangan berteriak I’m ready membuat suara bergaung yang dashyat.

“The last but not least, please welcome BUZZ LIGHTYEAR”  suara pembawa acara terdengar makin semangat saat memanggil satu nama band bernama seorang tokoh kartun.

Yeoja itu tersentak.

“Penampilan terakhir?Apa aku datang terlambat?” tanyanya pada bartender tadi.

“Sepertinya begitu.Untuk penampilan bersama dalam satu band, Buzz Lightyear yang terakhir. Tapi setelah ini masih ada battle antar vokalis, bassis, gitaris, dan drummer” jelas sang bartender padanya.

“Apa kau fans Kai? Sebaiknya kau ke tengah sebentar lagi Ia akan tampil” tambahnya sambil menunjuk ke atas panggung setelah melihat tulisan KAI di kaosnya.Yeoja itu menurut.Ia kembali mencoba masuk ditengah-tengah penonton yang sepertinya lebih dari separuh adalah fans berat Buzz Lightyear. Ia akhirnya mendapat posisi yang cukup strategis yang langsung berhadapan dengan Kai.

Setiap band ternyata membawakan dua lagu. Lagu pertama adalah lagu pilihan dari panitia festival yang harus mereka bawakan dengan gaya mereka sendiri dan lagu kedua adalah lagu ciptaan masing-masing. Event ini merupakan event tahunan yang cukup besar sehingga pemenang pertama secara grup akan mendapat hadiah yang juga sangat menggiurkan yaitu sebuah studio latihan lengkap dengan instrumen musiknya. Hadiah ini bagai angin segar bagi para anak muda yang menjadikan musik sebagai passionnya. Sedangkan para anggota band yang memenangkan battle akandidaulat untuk menjadi penampilan pembuka di salah satu konser band kenamaan internasional beberapa bulan mendatang.

Sang gitaris mulai memetik gitar mengiringi vokalis yang bernyanyi secara akustik sebagai intro.Sang drummer menabuh drum dengan pelan.Saat itu juga beberapa puluh yeoja meneriakkan namanya.Lalu penampilan sebenarnya berlanjut, bersama dengan penonton yang semakin menggila, Buzz Lightyear memberikan penampilan terbaik mereka.Lagu pilihan panitia ternyata lagu rock yang cukup populer. Namun mereka membawakannya dengan aransemen yang sangat berbeda ditambah lagi dengan suara sang vokalis yang sangat berkarakter. Hal ini membuat penampilan mereka mendapat tepuk tangan yang menggema di seluruh ruangan.

Sebelum melanjutkan ke penampilan kedua, sang vokalis menyapa para penonton dengan suara beratnya. Ia juga sedikit bercerita tentang lagu yang akan mereka bawakan sebentar lagi merupakan ciptaan sang gitaris mengenai salah satu kisah cintanya yang pernah berakhir tragis. Penonton riuh memberikan reaksinya masing-masing.

“Sepertinya dia masih siswa sekolah, kan?” yeoja tadi bertanya pada seseorang disampingnya.

“Omoo.Apa kau cuma mengenal Kai?” tanyanya menggeleng-geleng takjub.Yeoja itu mengangguk.

“Iya.Dia siswa SOPA kelas X” jawabnya.Yeoja itu kembali manggut-manggut.

Tepat sesaat setelah pertanyaannya di jawab Ia kembali memfokuskan pandangan ke tengah panggung dimana Kai berada. Ia melambai-lambaikan tangan yang membuat beberapa orang memprotesnya. Namun, Ia yakin Kai sempat melihatnya tadi. Ia yakin itu.

Penampilan kedua akhirnya dimulai setelah sang vokalis berteriak keras menyebutkan sebuah judul lagu. Lagu patah hati sang gitaris ini terdengar unik dengan aransemen dan lirik lagu yang sangat orisinal. Diawal terdengar seperti lagu mellow namun seketika menghentak para penonton pada reff pertama hingga akhir penampilan. Lagi-lagi mereka mendapat tepuk tangan yang super duper meriah.

Yeoja itu memperhatikan Kai yang dahinya sudah bersimbah peluh. Namun, ia tidak terlihat lelah atau semacamnya. Ia malah tersenyum dan hampir membuat yeoja itu ingin menangis. Suara dukungan untuk mereka masih terdengar hingga mereka kembali ke belakang panggung.

Ia berjalan keluar dari kerumunan penonton satu arah dengan tempat yang Kai tuju. Hampir semua staff ternyata adalah pria dan itu menciutkan niatnya untuk menghampiri Kai.namun, Ia sempat melihat Kai berbicara dengan seorang namja bertubuh kurus setinggi Kai dan seorang yeoja yang terlihat akrab dengannya. Yeoja manyun karena hanya bisa melihat Kai dari kejauhan.

“Apa dia tidak tahu aku ada disini?” gumamnya sambil memandangi alat komunikasi yang tidak menunjukkan tanda-tanda seseorang telah menghubunginya.

Ia mengirim pesan pada seseorang namun Ia tak kunjung menerima balasan.

Waktu sudah menunjukkan pukul satu malam saat battle antar gitaris baru saja usai. Battle antar drummer menjadi kompetisi terakhir sebelum juri mengumumkan siapa saja yang akan masuk ke babak final minggu depan. Set panggung telah diubah dengan meletakkan beberapa buah drum di sepanjang panggung. Beberapa orang namja naik keatas panggung dengan membawa stik ajaib mereka masing-masing lalu duduk di belakang instrumen musik gebuk itu. Kai kembali memilih drum yang terletak di tengah. Ia hanya mengenakan selembar kaos warna putih berlengan pendek dan jeans warna hitam. Begitu juga dengan drummer lain yang menggunakan baju lebih simple dari penampilan grup.

Pembawa acara tadi sengaja membiarkan para penonton memberikan semangatnya pada para drummer yang sebentar lagi akan mengadu kemampuannya. Sama seperti battle sebelumnya, para drummer akan memainkan demo drum secara individu selama dua sampai empat menit. Kemudian mereka diperbolehkan untuk saling membalas permainan satu sama lain sehingga tercipta harmoni. Dan yang terakhir mereka akan menggebuk drum secara bersama-sama. Drummer dengan teknik bermain yang paling baguslah yang akan mendapat tiket menuju final.

Yeoja itu kembali memposisikan dirinya ke tempat paling strategis yang Ia bisa. Lalu memandangi Kai yang penuh semangat menabuh drum. Kai terlihat berbeda dari biasanya yang pendiam. Diatas panggung Ia selalu tersenyum bahagia. Seperti sedang mengatakan bahwa disinilah seharusnya Ia berada. Dan hal ini juga yang membuat penonton menikmati penampilannya.

Yeoja itu terpaku memandangi Kai dari kejauhan. Dalam beberapa detik ia merasa waktu terhenti dan suasana seketika senyap. Jantungnya berdetak kencang saat ini. Tabuhan drum akhirnya disambut riuh rendah sorak sorai penonton menandakan inilah akhir dari kompetisi. Hal ini juga membuat yeoja itu kembali dari lamunannya.

Seluruh peserta naik ke atas panggung saat juri akhirnya merampungkan penilaian mereka.Satu persatu mereka berjejer. Salah satu juri yang berjaket kulit dengan tato di pergelangan tangan kanannya berdiri untuk mengumumkan nama peserta yang diberikan kesempatan menuju final. Akan ada sepuluh yang terbaik dari empat puluh band dan akan kembali beradu kemampuan minggu depan. Satu persatu nama finalis disebutkan, merekapun maju beberapa langkah di depan panggung. Tinggal dua posisi yang tersisa namun nama Buzz Lightyear belum juga disebut membuat para penonton merasa gugup juga.

“Hyo” seorang namja mengagetkan yeoja itu yang masih serius menunggu pengumuman.Ia menoleh kebelakang saat namanya disebut.

“Oppa.Waee?Sedang apa disini?” tanyanya kembali terkejut karena menemui seseorang yang tidak seharusnya berada disini.

“Hyo.Seharusnya aku yang bertanya begitu padamu.Kenapa kau nekat datang kesini? Coba lihat sekarang sudah jam berapa?” tanya namja itu pada Hyo yang melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan hampir pukul dua malam.

“Ne, oppa.Sebentar ya.setelah nama terakhir, oke?” pintanya. Namja itu mengangguk. Namun, Ia sudah berdiri di belakang yeoja itu berusaha menjaganya. Matanya juga awas memperhatikan keadaan sekitar dan menatap tajam seseorang di atas panggung.

“Sudah tidak sabar untuk nama terakhir?” juri itu membuat penonton kembali berteriak tidak sabar.

“Siapa?”Ia kembali memprovokasi penonton.

“Buzz Lightyear. .  .” penonton berteriak keras.

“Finalis ke sepuluh adalah BUZZ LIGHTYEAR” juri tersebut akhirnya menyebut nama terakhir yang pantas menuju final. Penonton bersorak-sorai tanda puas dengan hasil penjurian yang menurut mereka sangat subjektif sekali.

Empat personil Buzz Lightyear bergabung bersama sembilan finalis lainnya di depan panggung. Namun tidak sampai disitu ternyata, mereka masih harus menunggu hasil untuk battle terakhir tadi.

“Congratulations for the finalist. Now, let’s find out who are the best vocalist, guitarist, bassist, and drummer?”

Penonton terus saja dibuat deg-degan dengan hasil yang akan segera diungkap.

MC akhirnya meneriakkan beberapa nama sebagai vokalis, gitaris, bassis, dan drummer terbaik. Dan dua diantaranya adalah personil Buzz Lightyear yaitu Kai dan sang gitaris.

“Okay, Congratulations, guys. And for our beloved audiences don’t forget to see their best performance on next Saturday in Final Stage” si pembawa acara menyelamati mereka lalu mengingatkan penonton untuk kembali menyaksikan final stage minggu depan sebelum menutup acara. Kesepuluh finalis masih berdiri diatas panggung sekedar menyapa penggemar mereka.

Dari jauh Kai melihat seseorang yang menatapnya. Entah apa maksudnya, Kai juga tidak tahu. Yang ia tahu namja itu bersama seorang yeoja yang Ia kenal dan yeoja itu melambaikan tangan padanya. Ia tidak bisa menghampiri karena masih harus menyapa penggemar mereka yang ingin memberikan selamat. Namun, Ia masih melihat namja itu sepertinya membujukyeoja itu dengan sedikit memaksa untuk keluar bersamanya. Ia mengangguk dan meninggalkan kafe bersama namja itu. Ia memandang Kai yang tidak membalas lambaian tangannya dengan wajah kecewa.

Kai akhirnya minta izin untuk keluar sebentar pada tiga temannya.Ia berlari menjajari langkah dua orang yang Ia kenal itu. Namun ketika sampai di depan Ia hanya menemukan sebuah Porsche yang baru saja menderu berlalu. Ia tahu siapa pemilik mobil itu dan berniat menanyakannya nanti.

Kai memandangi mobil yang sudah makin jauh itu.Ia berencana akan kembali masuk ke dalam kafe sebelum sebuah mobil yang berada tepat di depannya, menyalakan lampu mobil persis kearah wajah Kai. Terkena sorot lampu yang sangat terang Iapun sulit melihat dengan jelas empat sampai enam orang namja keluar dari mobil itu dan satu persatu menghujaninya dengan pukulan tiba-tiba yang sangat keras.Ia tidak tahu apa alasan keenam orang yang tidak dikenalnya ini mengeroyoknya di tengah malam buta. Ia ingat semua wajah yang pernah bermasalah dengannya. Kai sama sekali tidak mengenal mereka bahkan satu orangpun. Tidak mungkin ada seseorang yang rela membayar mereka hanya untuk mencederainya.Kai menganggap orang seperti itu sebagai pengecut.Kalau memang berani lebih baik bicara baik-baik atau adu jotos satu lawan satu.

Satu-satunya yang Ia bisa lakukan adalah mencoba melawan mereka. Pertarungan yang sangat tidak seimbang sebenarnya.Tapi, mungkin memang inilah maksud semua ini.Mereka memang berniat untuk membuat Kai babak belur.Di tambah lagi dengan suasana jalan pukul dua pagi yang cukup sepi adalah saat yang sangat tepat.

Kai harus melawan enam orang sekaligus setelah mengalami beberapa cedera di tangan dan kakinya juga wajahnya yang sudah berlumuran darah.Dan itu menghabiskan energinya.Ia berusaha untuk bangkit tapi sepertinya Ia sudah tak sanggup dan akhirnya terjatuh di jalan.

Namun, tidak sampai disana, salah satu dari mereka dengan tanpa beban menginjak tangan kanan Kai hingga berdarah.Kai sempat menjerit kesakitan.Kemungkinan besar tangannya patah.Keenam namja itupun langsung kabur meninggalkan Kai yang kesakitan begitu saja saat beberapa orang mendapati tingkah anarki mereka.

Hampir seluruh orang dari dalam kafe akhirnya keluar dan berdesakan ingin tahu apa yang terjadi pada Kai. Salah satu pengunjung yang pertama kali menemukan Kai menelepon ambulans dan teman-teman band Kai mencoba untuk menyadarkannya. Terlihat wajah mereka mengeras menahan amarah dan emosi yang meluap-luap. Si vokalis yang berusia paling muda hampir saja akan menyusul orang yang mengeroyok Kai bila tidak dicegah oleh dua hyung-nya itu. Seakan tidak percaya akanyang baru saja terjadi beberapa orang yeoja menangis tersedu melihat keadaan Kai yang tidak sadarkan diri dengan tubuh yang berlumuran darah menambah suasana haru diantara mereka.

Mereka sama sekali tidak menyangka hal ini bisa terjadi sesaat setelah Kai menjadi drummer terbaik dan bersama bandnya menjadi salah satu finalis sebuah event bergengsi.

Lima menit kemudian, ambulans dari salah satu rumah sakit terdekat sampai.Empat orang perawat meletakkan Kai ke atas sebuah tandu lalu membiarkan Kai mendapat pertolongan pertama di dalam ambulans ditemani tiga orang temannya itu.

Ketiga hanya bisa terdiam memandangi Kai yang kini tak sadarkan diri.Mereka tidak menghiraukan bau darah menyengat yang menempel di kedua tangan dan pakaian mereka.Si vokalis memilih untuk memalingkan wajahnya saat seorang perawat menginfus lalu membersihkan noda darah dari wajah, tangan, dan kaki Kai.Menyelamatkan Kai sampai ruang unit gawat darurat adalah satu-satunya hal yang mereka pikirkan saat ini.

 

to be continue

13 pemikiran pada “Unbroken (Chapter 3)

  1. Keren thor. Next. Kai 😦 tidak!!! *berlebihan* siapa sih ‘oppa’ yang dimaksud Hyojae? Apa oppa itu yang membayar keenam lelaki tak dikenal (?) ? Ahh penasaran 😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s