Unpredictable You (Chapter 8)

Unpredictable You (Chapter 8)

unpredictable you

 

Title                        :               Unpredictable You

Author                  :               Mee-icha

Length                   :               Chapter

Genre                     :               School LIfe, Friendship

Main Cast              :               Nam Ji Hyun, Kris , Kai

Support Cast         :               Min Young, and others (find when you read it ^_^)

Author Note       :               Annyeonghaseyo chingudeul, yorobeun…#melambai-lambaipohonkelapa… loh??? Akubaliklagimembawachapter  8. Maafkarena update yang terlalu lama bagi yang masihsetiamenunggu. KarenauntukbeberapawaktusayamengbulanRamadhan, maaflahirbatinyakalauakuadasalahdansempatmenyinggungperasaanpara reader. Well, selamatmenikmaticeritaini. Enjoy ya .

 

~Lanjut ya ~

Ji hyun berjalan menuju salah satu café yang terletak diantara deretan toko yang berada dikawasan Apgujong. Saat kakinya melangkah memasuki café tersebut, Kai sudah duduk dengan segelas orange juice dihadapannya sambil menatap kosong kearah jalan raya yang masih disibukkan dengan lalu lalang berbagai jenis kendaraan.

Sunbae, sudah lama?” Sapa Ji hyun saat tiba didepan Kai.

Kai langsung tersadar dari lamunan yang menghanyutkannya sejak beberapa menit yang lalu. “Oh, kau sudah sampai. Duduklah. Mau pesan apa?” Tawar Kai.

“Mmm… Jus mangga saja.” Ujar Ji hyun saat waiters datang menghampiri meja mereka.

“Bagaimana kabarmu, sunbae?” Kali ini Ji hyun bertanya dengan sedikit basa-basi. Wajah sunbae yang menjadi idola sekolahnya ini, terlihat payah. Bohong jika Ji hyun mengatakan bahwa dia tidak tahu penyebabnya.

Well, better than ever.” Jawab Kai dengan senyum getir diwajahnya.

Ji hyun hanya mengangguk pelan. “Kapan kau berniat kembali masuk sekolah?”

“Entahlah. Aku sedang malas ke sekolah. Apalagi kalau harus bertemu dengan gadis itu.” Ujar Kai sambil membuang pandangannya keluar jendela.

“Kurasa kau tidak perlu khawatir tentang masalah itu. Semenjak kau tidak masuk sekolah, gadis itu juga tidak pernah masuk sekolah. Kudengar ada rumor kalau dia akan pindah sekolah.”

“Oh ya?” Ujar Kai terperanjat dan langsung mendapatkan anggukan singkat Ji hyun sebagai jawabannya. Kai terlihat menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, sangat kontras menjelaskan suasana hatinya yang sedang galau.

Ji hyun hanya memandang sunbae didepannya ini dengan pandangan prihatin. Selama beberapa menit selanjutnya tidak ada perbincangan diantara mereka hingga sang waiters datang untuk mengantarkan segelas minuman segar yang telah dipesan Ji hyun beberapa menit lalu. Ji hyun sedang menyeruput pelan jus mangga yang dipesannya saat Kai bersuara. “Ada perkembangan apa disekolah?”

Bagi Ji hyun pertanyaan itu terlalu out of topic. “Ne?Kenapa tiba-tiba menanyakan perkembangan sekolah?”

“Hanya ingin tahu.” Balas Kai asal.

“Kalau begitu masuk sekolah saja besok.”

“Aku masih ingin sendiri.”

“Kalau ingin sendiri, kenapa menyuruhku kesini? Kau seharusnya bertapa disebuah gua atau melakukan tour keliling hutan. Dan kau akan mendapatkan arti kesendirian.” Tukas Ji hyun, heran.

“Perlukah kau mengatakan hal seperti itu?” Tanya Kai yang terlihat sedikit keki.

Ne.” Balas Ji hyun cepat. “Waeyo?Ada yang salah dengan kalimatku?” Ujarnya lagi saat Kai menatapnya kesal.

“Kau benar-benar menyebalkan.”

“Seharusnya yang berada dihadapanmu saat ini adalah Kris sunbae bukan aku. Dia lebih mengenalmu. Dia tahu apa yang harus dilakukannya saat untuk menghiburmu, tidak seperti aku.” Ujar Ji hyun sambil melipat tangan didepan dadanya.Jihyuntahukalausikapnyaitumemangmenyebalkantapimauapalagi, diabingungbagaimanaharusbersikapdengansunbae-nya yang sedanggalauini.

Kai hanya tertawa miris mendengar hal tersebut. Jauh dilubuk hatinya, dia membenarkan kaimat Ji hyun barusan. Tapi saat ini, dirinya masih terlalu malu untuk memunculkan dirinya dihadapan Kris. Kris adalah salah satu daribanyakalasan kenapa Kai tidak ingin muncul disekolah sampai saat ini. Kai merasa bodoh dengan sikapnya yang memperebutkan hati Hana yang malah berimbas pada persahabatan dengan salah satu pria paling jangkung disekolahnya.

“Kenapa ekspresimu seperti itu. Kalimatku benar ‘kan?” Ujar Ji hyun percaya diri.

Kai hanya mendelik kesal mendengar kalimat Ji hyun barusan. Untuk sesaat dia merasa menyesal bertemu dengan gadis ini.

Sunbae, bukan maksudku untuk menghakimimu atau menyalahkanmu. Toh tidak ada yang salah antara kau dan Kris sunbae. Aku hanya merasa kalian berdua terlalu egois untuk mengakui posisi masing-masing dalam hidup kalian. Suka atau tidak Kris sunbae adalah orang yang tumbuh bersama denganmu. Bersikap seakan kalian berdua orang asing satu sama lain adalah sikap paling bodoh menurutku. Aku hanya pernah berteman paling lama dengan seseorang, tidak lebih dari satu atau dua tahun. Saat aku harus pindah dan kehilangan kontak, rasanya seperti tidak ada orang lagi yang peduli denganku. Benar-benar pikiran yang bodohkan.”…“Tapi bagaimana kalian bisa bersikap seperti sekarang padahal kalian masih bertemu setiap hari. Oh, ayolah, Hana tidak seberharga itu dan kau juga sudah tahu siapa dia sebenarnya. Sekarang buktikan pada gadis itu bahwa dia tidak berhasil menghancurkan dirimu atau Kris. Bersahabatlah seperti dulu. Aku jugaingin membuktikan sendirisehebat apa persahabatan yang selalu digaung-gaungkan masyarakat sekolah terhadap kalian.” Tutur Ji hyun panjang lebar.

Kai hanya diam mendengarkan kalimat demi kalimat tersebut tapi hatinya mengakui dengan jelas bahwa apa yang dikatakan gadis dihadapannyaadalahbenar. Dia harus membuktikan pada Hana bahwa gadis itu gagal merusak persahabatannya. Bahwa gadis itu tidak lebih dari sekedar ujian dari persahabatan yang telah dibangunnya lebih dari lima tahun itu.

“Apa Kris ada mencariku?” Tanya Kai

“Mana aku tahu. Telpon saja dia dan tanyakan langsung apakah dia mencarimu.” Balas Ji hyun asal.Entahlah, gadisinimerasakesaldenganpertanyaan yang terdengarcukupchildishditelinga.

“Yah, sama saja bohong kalau aku bertanya langsung. Memangnya kau tidak ada bertemu dengan sejak hari itu?” Kai terlihat ingin tahu.

“Tadi saat kau menelponku, aku sedang bersamanya.” Jawab Ji hyun enteng.

“Kau bersamanya? Memangnya kalian sedang apa?” Balas Kai cepat.

“Aku baru selesai menonton pertandingan basket kemudian saat pulang tidak sengaja bertemu dengannya. Kenapa?” Kali ini Ji hyun balik bertanya.

“Ji hyun-si, apa kau menyukai Kris?” Kalimat Kai satu ini terdengar sangat serius.Diamenatapgadisitudengancukupintens agar bisamendapatkansebuahkejujurandalamjawabannya.

Ne?” Ujar Ji hyun yang mendelik kaget.

“Kurasa Kris menyukaimu.” Tukas Kai masih menatap Ji hyun dengan pandangan yang sulit diartikan.

Ne?” Ulang Ji hyun masih dengan keterkejutan yang jelas tergambar dari wajahnya. “Apa maksud sunbae?

“Aku hanya ingin mengatakan padamu bahwa kemungkinan besar Kris menyukaimu. Aku tidak pernah mendengar atau melihat Kris dekat dengan yeoja, yah selain Hana. Aku cukup dekat dengannya, sehingga bisa yakin dengan kalimatku ini.” Jelas Kai

Sunbae, kenapa kau tiba-tiba mengatakan hal ini padaku?” Tanya Ji hyun penasaran.

“Karena aku merasa bahwa kau juga tertarik padanya.” Balas Kai cepat.

Ji hyun sedikit tertegun akibat kesimpulan yang diambil oleh sunbae-nya tersebut. Untuk sesaat Ji hyun terlihat terdiam. Dia sedang berpikir akan kalimat Kai tersebut. Beberapa minggu belakangan ini, pertanyaan yang sama juga dia tujukan untuk dirinya sendiri. Apakah dia mulai menyukai namja jangkung yang pernah diteriakinya itu saat pertama kali melihatnya tapi toh dia masih belum bisa memberi jawaban pasti pada dirinya sendiri, bagaimana mungkin dia bisa memberikan jawaban tersebut pada orang lain.

Tanpa sadar Ji hyun tersenyum bodoh. “Oh ya? Naega? Akan kupikirkan tentang hal itu, nanti.” Ji hyun berujarambigu.

“Ji hyun-si, apa yang kau sukai dari Kris?”

Sunbae, sepertinya kau sudah mengambil kesimpulan sendiri. Kapan aku mengatakanbahwa aku menyukai Kris sunbae?

“Berarti kau tidak menyukainya?”

“Aku juga tidak pernah mengatakanhal seperti itu.”

“Jadi sebenarnya apa yang kau rasakan padanya?”

“’Kan sudah kubilang aku akan memikirkan hal itu nanti.” Tegas Ji hyunterlihatmulaijengahataskeputusansepihakitu, “Sunbae, kenapa kau ingin tahu sekali tentang apa yang terjadi antara aku dan Kris sunbae?

Kai juga bingung saat menyadari dirinya begitu bersemangat mengetahui tentang hubungan Ji hyun dan Kris. “Karena mungkin suatu saat dia(Kris) bisa jadi sainganku lagi.” Gumamnya saat menoleh pada kesibukan yang terjadi diluar jendela café sore itu.

“Kau bilang apa, sunbae?

“Ah, aniya.” Balas Kai cepat. Tadi dia keceplosan tanpa sadar.

Ji hyun menatap tidak percaya padanya. “Aku yakin kau barusan mengatakan sesuatu.”

Eopseo. Kau mau memesan makanan? Aku yang traktir.” Tukas Kai sembari mengalihkan pembicaraan.

Ji hyun hanya menyipitkan matanya sambil memandang curiga. “Tidak usah. Aku harus pulang cepat. Aku banyak PR hari ini.”

“Oh.” Gumam Kai mengerti.

Sunbae, kau harus segera masuk sekolah. Aku yakin banyak PR dan pelajaran yang harus kau kejar. Kau tidak punya banyak waktu lagi disekolah itu. Yah, kecuali kau berniat untuk tidak lulus tahun ini. Pertandingan basket terasa kurang tanpamu. Kau tahu, salah satu alasan aku harus menonton pertandingan basket hari ini adalah karena temanku itu sangat ingin melihatmu. Kapan lagi kami bisa melihatmu bermain basket dengan Kris sunbae dan anggota tim basket lainnya. Meski aku tidak suka, tapi aku harus mengakui bahwa kau menjadi pemain andalan di tim basket bukan tanpa alasan.” Ujar Ji hyun berusaha mempengaruhi Kai untuk masuk sekolah secepatnya.

Untuk beberapa hari belakangan ini, Kai lupa kenyataan yang satu itu. Kenyataan bahwa dia adalah siswa tingkat akhir yang akan lulus dalam waktu kurang dari 3 bulan. Tapi saat ini dia malah sibuk dengan meratapi kebodohannya sendiri. Dia harus segera bangkit dari keterpurukan ini. Dia harus menunjukkan bahwa semua akan baik-baik saja bahkan lebih baik setelah Hana berpisah dengannya. Dan yang terpenting dia harus segera memperbaiki hubungannya dengan Kris. “Kita lihat saja besok.” Balas Kai sekenanya.

“Berarti kau akan masuk besok?” Ji hyun bertanya seakan minta penegasan.

“Kita lihat saja besok.” Ulang Kai lagi dengan nada menyebalkan.

“Terserahlah.” Tukas Ji hyun malas namun detik berikutnya mereka tertawa bersama, entah untuk alasan yang sama atau tidak. Hanya mereka yang tahu.

***

“Kai-ah, kau baik-baik saja?” Sapa Chanyeol saat melihat Kai berjalan dikoridor menuju kelasnya.

“Oh, Chanyeol-a. Tentu saja aku baik-baik saja.” Balas Kai saat Chanyeol sudah meletakkan tangannya dipundak Kai.

“Tiga hari belakangan ini kau kemana? Kenapa tidak ada berita sama sekali? Kau bertengkar dengan Hana?” Tanya Chanyeol beruntun.

“Kalau iya, kenapa?” Balas Kai enteng.

“Jadi itu bukan sekedar rumor. Kalian pu…tus?” Chanyeol terlihat sedikit ragu dengan pertanyaannya.

Majayo. Kami putus.” Tegas Kai santai.

“Tapi kau tidak terlihat menyesali atau sedih dengan hal ini?”

“Karena tidak perlu ada yang disesali dan disedihkan. Sudahlah. Jangan bertanya lagi masalah itu. Aku sedang malas untuk membahasnya.” Ujar Kai sambil berlalu begitu saja dari hadapan Chanyeol dan segera memasuki kelasnya.

Kris sedikit terperangah dengan kehadiran Kai. Dia pikir Kai mungkin akan menghabiskan sekitar seminggu untuk menata kembali hatinya. Apa mungkin kehadiran Kai hari ini ada hubungannya dengan pertemuannya dengan Ji hyun kemarin sore? Apa yang kira-kira mereka bicarakan? Apa mereka ada membicarakan tentangku?, pikir Kris saat melihat Kai meletakkan tas ranselnya.

Tidak banyak hal yang terjadi saat jam pelajaran dimulai. Kai dan Kris hampir tidak berbincang sama sekali. Kai terlihat sedikit serius dengan pelajaran yang dihadapinya. Tidak masuk sekolah selama tiga hari membuatnya benar-benar tertinggal apalagi beberapa hari sebelum ujian. Jadwal UTS sudah keluar sejak kemarin dan itu sempurna menimbulkan kekhawatiran bagi Kai.

“Kris, bisa aku bicara denganmu sekarang?” Ujar Kai yang menghampiri meja Kris tepat saat bel jam istirahat berbunyi.

Kris yang semula berniat menghabiskan waktu istirahat dengan tidur sejenak langsung berubah pikiran saat melihat Kai dihadapannya. Tidak ada kalimat yang keluar dari mulut Kris, hanya saja dia langsung berdiri untuk menunjukkan persetujuan atas pertanyaan Kai barusan.

Kris berjalan satu langkah dibelakang Kai. Kris berjalan santai dengan tangan kanan berada dalam saku celananya sedangkan Kai dengan sikap cool dan pandangannya yang tajam. Bukan hal aneh jika sepenjang koridor dua namja yang belakangan ini jarang terlihat bersama menjadi pusat perhatian, terutama bagi sebagian besar yeoja disekolah itu.

Disaat bersamaan Ji hyun dan Min young yang sedang berjalan menuju perpustakaan sontak menjadi tertarik untuk mengetahui apa yang terjadi. Mata Ji hyun berusaha menyusuri sumber utama kehebohan ini. Hanya butuh beberapa detik untuk mengetahui alasan utamanya. Ji hyun sedang tersenyum gelimelihathaltersebuttapi, saat matanya bertemu dengan mata Kai, sontak senyum tersebut hilang dari wajahnya. Kemudian dia berusaha mengalihkan perhatiannya, namun kali tatapan Kris sudah menguncinya. Ji hyun hanya bisa terdiam tak bergerak.

“Wah, Kai oppa sudah masuk sekolah.” Seru Min young yang membuat Ji hyun kembali meraih kesadaran. Kemudian secepat kilat dia membalikkan posisi tubuhnya. “Min young-a, kajja.” Tukas Ji hyun sambil mengambil langkah untuk meninggalkan tempat tersebut.

Waeyo? Aku ingin bertemu dengan Kai oppa.” Ujar Min young yang masih ingin bertahan.

“Ya sudah kalau begitu. Padahal aku ingin bercerita sesuatu padamu hari ini.”

Kalimat Ji hyun tersebut sukses membuat perhatian Min young sedikit teralihkan. “Apa?”

Ji hyun mendekatkan dirinya pada Min young dan membisikkan sesuatu padanya. “Tentang alasan kenapa Kai sunbae tidak masuk sekolah beberapa hari belakangan ini.”

Jinjja?” Tanya Min young masih terlihat ragu dan Ji hyun langsung mengangguk cepat membalasnya. “Tapi setelah pulang sekolah.” Tambah Ji hyun.

“Yaaaahhhh…” Protes Min young.

“Ya sudah kalau tidak mau.”

Aniya. Aku tidak ada bilang tidak mau. Kajja, kita ke perpustakaan dan selesaikan tugas ini secepatnya. Aku sudah tidak sabar ingin mendengar ceritamu.”

Kajja!” Seru Ji hyun sambil menarik tangan Min young. Namun beberapa detik setelahnya, entah kenapa dia mencuri pandang kearah dua namja yang sedang bergerak kearah halaman belakang sekolah. Apa yang mau mereka berdua lakukan dihalaman belakang sekolah? Ah, kenapa aku harus memikirkannya. Itu urusan mereka, pikir Ji hyun sambil menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran tentang kedua namja tersebut.

Kai dan Kris kini sudah berada dihalaman belakang sekolah. Tempat ini jelas lebih sepi dari koridor yang baru saja melewati tadi. Kai tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi. Dia khawatir keberaniannya akan menguap diudara cerah siang ini jika kembali menundanya. “Kris… Aku minta maaf atas sikapku selama ini.” Ujar Kai tanpa berani memandang Kris yang sedang menatapnya dengan heran.

Kris sempat mengerjap beberapa kali karena kebingungan bagaimana harus merespon kalimat yang begitu to the point ini. “Mmm… aku juga. Maaf, aku tidak memberitahumu sejak awal. Aku bingung bagaimana harus menyampaikannya padamu.”

Kemudian hanya ada diam diantara mereka. Bingung harus memulai kalimat dari mana. “Terus, bagaimana dengan gadis itu (Hana)?” Tanya Kris berusaha membuka pembicaraan.

“Entahlah, aku sudah coba menghubunginya tapi dia tidak pernah meresponnya.” Jawab Kai.

“Owh.” Gumam Kris mengerti. Sepertinya Kai belum mau menceritakan lebih jauh tentang apa yang terjadi pada dirinya dan gadis itu setelah pertemuan di café beberapa hari yang lalu. “Kemana saja kau beberapa hari ini?”

“Hanya dirumah atau sesekali keluar ke tempat-tempat tertentu untuk menjernihkan pikiranku.” … “Oh ya, kemarin aku bertemu dengan Ji hyun. Dia bilang padaku jika dia sedang bersamamu saat aku memintanya bertemu. Kau tidak akan marah padaku ‘kan karena hal itu?” Tanya Kai sambil mengecek perubahan ekspresi diwajah Kris.

“Tentu saja tidak. Kenapa aku harus marah?” Sahut Kris cepat, terlihat kaget.

“Karena menurutku kau…” Kai menggantungkan kalimatnya sembari berpikir sesuatu.

“Aku apa?” Tanya Kris tidak sabar.

“Kau menyukainya. Kau menyukai Ji hyun. Aku benar ‘kan?” Balas Kai dengan sangat jelas namun nadanya terdengar hati-hati.

Detik itu pula Kai bisa melihat jelas perubahan ekspresi Kris meski tidak signifikan. Kai mengenal Kris cukup lama untuk bisa menebak hal seperti ini. Sedangkan Kris yang semula berusaha mengontrol emosi dan ekspresi diwajahnya langsung ‘mati kutu’ karena kalimat Kai barusan seakan harga mati yang tidak bisa ditolaknya.

“Kalau kujawab ‘tidak’, apa kau akan mempercayainya?” Balas Kris namun memandang kearah lain.

Kai hanya bisa tersenyum getir mendengar jawaban tersebut. “Jadi benar dugaanku. Kau benar-benar menyukai gadis itu.” Kai menarik kesimpulan.

I think so. She’s got me.” Ujar Kris sambil mengangguk-anggukan kepalanya.

“Terus, apa gadis itu sudah tahu tentang hal ini?”

Kris langsung menggeleng atas pertanyaan Kai yang satu itu. Mengetahui jawaban tersebut, Kai memandang kearah lain dan tanpa sadar dia mengulas sebuah senyum tipis diwajahnya. Entahlah, tapi ada perasaan lega setelah menahan debar jantungnya yang tiba-tiba menggila saat dia membahas tentang Ji hyun.

“Tapi, kukira aku akan melakukan sesuatu agar gadis itu segera menyadari perasaanku.” Tukas Kris tiba-tiba yang membuat Kai langsung menoleh padanya.

“Kau akan melakukan apa?” Tanya Kai menyelidik.

“Entahlah, aku belum putuskan. Tapi yang jelas kali ini aku tidak mau kehilangan kesempatanku lagi.” Balas Kris sambil melirik singkat pada Kai.

Kai mengerti. Dia sungguh mengerti maksud Kris tersebut. Kris pernah kehilangan kesempatan untuk mendapatkan Hana karena dia duluan yang ‘menembak’ gadis itu. Tapi apa jadinya, ternyata gadis itu tidak lebih hanya ingin melampiaskan dendamnya saja dan merusak persahabatan mereka. Kai bingung. Dia sangat bingung saat ini. Jujur saja, dia memang merasa nyaman dengan keberadaan Ji hyun disampingnya. Meski gadis itu terkadang sering menyebalkan tapi entah kenapa Kai selalu merasa gadis itu bisa diandalkan. Lihat saja kejadian kemarin, dia sungguh tidak benar-benar berharap bahwa gadis itu akan datang saat dirinya mengajak bertemu. Dia dan gadis itu tidak terlalu dekat, tapi entah kenapa sosok gadis itulah yang muncul dikepalanya saat dia merasa kesepian. Dan akhirnya gadis itu benar-benar muncul dihadapannya sore kemarin.

Ji hyun, gadis itu tidak pernah menyadari bahwa dirinya telah memastikan posisinya dikehidupan Kris dan Kai secara bersamaan. Ji hyun masih terlalu cuek dengan keadaan sekitarnya untuk bisa menyadari ada hati yang berharap untuk disambut oleh tangannya. Ji hyun terlalu terlarut dengan tumpukan tugas untuk bisa memperdulikan bahwa ada tatapan tajam yang sedang menghujam jantungnya ketika dia melangkah pergi meninggalkan kedua namja tersebut saat dikoridor tadi siang.

***

Ji hyun berjalan sendiri menuju halte bus untuk segera pulang. Hari ini dia diminta bantuannya oleh wali kelasnya untuk beliau mengorganisir tugas-tugas yang baru saja dikumpulkan oleh seluruh siswa kelasnya sehingga dia harus pulang sore dan seorang diri. Bukan hal aneh jika Ji hyun yang terhitung masih siswa baru disekolahnya bisa mendapat perhatian lebih dari para songsaenim disekolah itu. Dia adalah siswa yang berprestasi dan cepat tangkap terhadap berbagai mata pelajaran sehingga membuatnya punya nilai lebih dimata para songsaenim tanpa harus dipaksa menonjolkan diri.

“Ouuchh…pegalnya.” Gumamnya sambil memijit-mijit pundak dan lengan tangannya. Mengorganisir tugas teman-temannya bukan hal yang menyenangkan untuk dilakukan seorang diri. Untung saja, besok tidak ada PR yang harus segera dikerjakan malam ini sehingga dia bisa langsung merebahkan diri saat nanti tiba diapartemennya.

Setibanya dihalte bus, Ji hyun langsung menduduk diri. Hanya ada dia disini. Karena halte bus terletak dekat dengan sekolahnya, jadi hanya ramai saat jam masuk dan pulang sekolah saja. Sore hari seperti ini bisa dipastikan akan selalu sepi.

Ji hyun sedang menunduk sambil memainkan game diponselnya saat bunyi klakson mengagetkannya hingga membuatnya tersentak. Dia berusaha mencari tahu siapa pembuat onar dari ketenangan yang baru didapatkannya. Pandangannya terlihat menyelidik kearah pria bermotor sport tersebut.

Si pengendara motor yang menyadari keanehan sikap Ji hyun barusan langsung melepas helm yang kenakannya. Entah atas dasar apa, senyum diwajah Ji hyun mengembang begitu saja dan tidak perlu menunggu waktu lama, namja tersebut langsung membalas senyum tersebut tidak kalah manisnya.

“Kenapa hanya sendiri?” Sapa si namja yang tidak lain dan tidak bukan adalah Kris.

“Aku baru selesai membantu Kang songsaenim untuk mengorganisir tugas teman-teman kelasku.” Ujar Ji hyun sambil melangkah mendekat kearah Kris berada.

Kris menggumam pelan sambil mengangguk mengerti. “Terus sekarang mau kemana?”

“Pulang. Memangnya mau kemana lagi.” Sahut Ji hyun cepat. Namun tepat disaat dia menyelesaikan kalimatnya, perutnya berbunyi cukup nyaring. Dengan cepat Ji hyun menekan perutnya sambil menunduk, malu. Dia mulai menggerutu sendiri didalam hati karena perutnya yang tiba-tiba menyuarakan ketidakadilan atas haknya. Ji hyun memang hanya menikmati sebuah roti isi saat jam makan siang jadi wajar saja jika jam segini perut sudah ‘berontak’.

“Bagaimana kalau makan dulu. Sepertinya perutmu sudah minta diisi lagi pula kau janji mau traktir aku ‘kan?” Kris berucap sembari melirik sesekali kearah Ji hyun. Dia tahu Ji hyun pasti malu karena ‘incident’ barusan makanya dia sengaja tidak memandang langsung ke wajah Ji hyun yang diduganya sudah mulai memerah karena malu.

“Mau makan dimana?”Tanya Jihyun yang sekaligusberartisebuahpersetujuanterhadaptawaran Kris.

“Kau mau makan apa?” Kris bertanya balik supaya dia bisa memberikan referensi tempat sesuai dengan menu yang ingin dinikmati gadis itu.

“Mmm…Aku mau nasi goreng kimchi. Kau tahu tempat yang enak?” Tanya Ji hyun bersemangat.

“Oke. Aku tahu. Ayo berangkat.” Tukas Kris seraya menyerahkan helm pada Ji hyun.

Ji hyun tersenyum tipis saat menerima helm tersebut. Tidak butuh waktu lama kini Ji hyun sudah duduk dibelakang Kris dan menikmati angin sepoi-sepoi sore hari yang menerpa wajahnya dari kaca helm yang tidak ditutupnya. Meski begitu Ji hyun masih terlihat canggung dengan keadaan seperti ini. Gadis ini sama sekali tidak berani meletakkan tangannya untuk melingkar dipinggang Kris.

Keadaan Kris juga tidak jauh berbeda. Jantungnya bahkan masih berdebar cepat bersaing dengan suara motornya. Ji hyun kini begitu dekat dengannya, berada dibelakangnya dan sedang menggenggam erat jaket yang dipakainya. Hari ini terasa menjadi hari yang paling indah dalam hidup Kris.

Saat Ji hyun tengah menikmati pemandangan yang terus berganti di hadapannya, Kris mulai membelokkan arah motornya memasuki sebuah parkiran dari café kecil didaerah Samchung-Dong.

“Disini? Kau yakin tempat seperti ini ada menu seperti nasi goreng kimchi?” Tanya Ji hyun ragu sambil memandang café mungil namun mempunyai suasananya yang sangat cozy.

“Tentu saja. Bahkan itu merupakan salah menu andalan disini. Percaya padaku.” Ujar Kris yakin. Namjaituterlihat sangat bersemangat. Tanpa dia sadari, dia telah menggenggam tangan Ji hyun untuk mengajak gadis itu segera memasuki café. Untuk beberapa saat, ada rasa khawatir dipikirannya jikalau Ji hyun merasa tidak nyaman atas perlakuannya yang tiba-tiba itu. Tapi setelah berjalan beberapa langkah, tidak ada tanda-tanda bahwa Ji hyun akan melepaskan genggamannya. Dan itu benar-benar memberikan sebuah kelegaan sekaligus menjadi kebahagiaan terbesarnya (lagi) hari ini.

Ji hyun? Tentu saja gadis itu sangat kaget dengan sikap sunbae-nya yang sangat tiba-tiba tersebut. Tapi toh dia tidak berusaha melepaskan genggaman tangan tersebut. Dia hanya melirik sekilas pada tangannya kemudian menatap punggung Kris yang sudah mengambil langkah mendahuluinya. Dan lagi-lagi dia tersenyum entah untuk keberapa kalinya hari ini. Sepertinya gadis ini telah lupa dengan lelah yang menggerogotinya beberapa menit yang lalu.

Mereka berdua berjalan menuju sebuah meja dengan tempat duduk berupa sofa yang berada diujung ruangan dan dinding kaca yang membuat mereka bisa melihat langsung kearah lalu lalang dijalan besar tersebut. Ada keengganan dalam diri Kris untuk melepas genggaman tangan tersebut saat mereka tiba didepan meja namun mereka tidak punya pilihan lain selain melakukannya.

“Tempat ini nyaman.” Ujar Ji hyun sambil memutar pandangannya ke sekeliling ruangan. Mendengar hal tersebut dari gadis dihadapannya membuat sebuah senyum bangga terukir diwajah namja jangkung tersebut.

Seorang waiters menghampiri mereka untuk memberikan daftar menu sekaligus menunggu pesanan mereka. Lagi-lagi senyum diwajah Ji hyun mengembang puas melihat daftar menu. Ternyata harga makanan disini tidak terlalu mahal, batinnya. Dengan cepat Ji hyun menyebutkan menu pesanan karena perutnya benar-benar tidak bisa menahan rasa laparnya. Setelah Kris selesai menyampaikan menu pesanannya dan waiters meninggalkan mereka, tiba-tiba suasana berubah menjadi awkward.

Sunbae, kenapa kau pulang sesore ini?” Ji hyun mengambil inisiatif duluan membuka pembicaraan.

“Ada tambahan jam pelajaran yang harus aku ikuti.”

“Oh, iya. Sunbae sebentar lagi mau ujian kelulusan yah?” Tanya Ji hyun. Ada sedikit nyeri dihatinya saat mengucapkan hal itu

“Yah, seperti itulah.”

Diam kembali mengisi udara diantara mereka. Ji hyun memutuskan untuk memandang keluar jendela atau sekedar memutar pandangan kearah ruangan atau sekedar menunduk untuk mengotak-atik ponselnya tapi tiap kali dia melirik pada Kris yang duduk lurus dihadapannya, yang didapatnya selalu saja pandangan namja itu terkunci padanya. Seakan tidak ada object lain disekitar mereka.

Sedari tadi Kris memang hanya memfokuskan pandangannya pada Ji hyun. Ya, hanya Ji hyun. Dia memandangi paras gadis tersebut sepuasnya. Kenyataan bahwa sebentar lagi dia akan lulus dari sekolah itu membuatnya menyadari bahwa dia tidak akan bisa lagi menatap wajah itu sesuka hatinya seperti saat ini. Dia ingin menyimpan memori tentang hari ini sebagai memori yang paling menyenangkan dalam hidupnya. Pandangannya memang lurus pada gadis itu tapi tatapannya terlihat begitu tulus dan sarat makna yang tersirat didalamnya.

Sunbae, bisakah kau tidak memandangiku seperti itu? Kau membuatku merasa tak nyaman.” Ujar Ji hyun hati-hati.

Kris sempat tertegun sebentar sebelum dia mengalihkan pandangannya kearah lain. “Maaf.”

“Kau biasanya kesini dengan siapa?” Ji hyun lagi yang kali ini mengambil alih suasana.

“Sudah lama aku tidak kesini. Terakhir kali aku kesini bersama… Kai” Jawab Kris sambil mengingat-ingat.

“Kai sunbaenim? Wah, kalian benar-benar dekat sampai bisa makan hanya berdua.” Tutur Ji hyun sambil tertawa geli karenamembayangkannya.

Kris hanya menanggapinya dengan senyum singkat. “Oh ya, aku penasaran. Apa yang kau bicarakan dengan Kai sampai dia mau masuk sekolah hari ini?”

“Hanya beberapa hal biasa. Waeyo?

“Hal biasa? Seperti apa?”

“Apa saja. Tentang masalahnya. Tentang bagaimana persahabatannya denganmu. Dan tentang… ah tidak. Itu saja” Tukas Ji hyun dengan sedikit ragu. Aneh rasanya jika dia harus mengatakan pada Kris bahwa Kai bilang Kris menyukainya.

Kris menyipitkan matanya seakan curiga ada hal yang tidak ingin diceritakan Ji hyun padanya. Tapi toh dia tidak bisa mendesak gadis itu jadi lebih baik dia pura-pura tidak peduli saja.

“Apa yang membuatmu memutuskan untuk masuk kesekolah ini?” Tanya Kris mengalihkan pembicaraan.

Waiters datang mengantarkan pesanan mereka. Fokus Ji hyun langsung tertuju pada nasi goreng kimchi yang sangat ditunggunya. Setelah waiters pergi, Ji hyun baru menjawab pertanyaan Kris dengan cuek. “Aku tidak tahu kalau aku akan masuk sekolah ini. Bukan aku yang mengurusnya.”

“Terus siapa yang mengurusnya?”

“Keluargaku.”

“Tapi aku tidak pernah melihat keluargamu. Di apartemenmu juga kau sendiri ‘kan? Terus dimana Keluargamu?”

Untuk beberapa saat Ji hyun menghentikan kegiatan makannya. “Oh, itu… mmm mereka tinggal masih tinggal di Seouljuga, hanya saja aku ingin mencoba untuk tinggal terpisah dari mereka.”

“Terpisah? Maksudmu?” Cecar Kris tanpa henti setiap kali gadis itu memberi jawaban. Seakan ada banyak hal yang ingin diketahuinya tentang gadis dihadapannya itu.

“Mmm… aku berencana untuk melanjutkan sekolahku ke Inggris. Jadi aku harus terbiasa hidup jauh dari orangtuaku ‘kan supaya aku bisa mandiri saat disana.” Tukas Ji hyun sambil melirik singkat pada Kris disela kunyahannya. Gadis ini berharap Kris tidak bertanya lebih jauh tentang masalah hidupnya. Dia belum siap memberitahu Kris bahwa orang tuanya adalah salah satu orang penting yang bekerja di Kedutaan Besar negaranya.

“Kau mau kul…”

“Bagaimana hubunganmu dengan Kai sunbae?” Sela Ji hyun cepat sebelum Kris menyelesaikan kalimatnya untuk kembali bertanya lebih jauh.

“Baik. Kenapa?”

“Tidak ada apa-apa”

“Terus kenapa tanya?”

“Hanya ingin tahu saja. Tidak boleh?”

“Bukan tidak boleh. Hanya sedikit aneh kau tiba-tiba bertanya seperti itu.”

“Oh. Aku hanya teringat saat melihat kalian berdua dikoridor tadi siang. Kalian terlihat saling cuek satu sama lain. Aku penasaran bagaimana awalnya kalian bertemu dan apa yang membuat kalian bisa berteman begitu lama?” Ji hyun beralasan. Setidaknya pikiran Kris sudahmulaiteralihkan.

“Kenapa kau sekarang jadi bertanya seperti itu?”

“Apa aku pernah mengatakan padamu bahwa aku iri dengan persahabatan kalian? Aku hanya ingin punya sahabat seperti antara kau dan Kai sunbae. Mungkin aku bisa belajar dari pengalaman kalian dan benar-benar bisa mendapatkan seorang teman yang baik. Rasanya menyebalkan tidak punya sahabat untuk bercerita saat kau sedang senang atau sedang sedih.” Jelas Ji hyun dengan ekspresi agak murung. Gadis itu benar-benar ingin punya seorang sahabat dekat. Seringnya berpindah-pindah sekolah sejak kecil membuatnya sulit berteman dengan siapapun.

“Kau pasti punya. Bukankah Min young sahabatmu?”

“Kupikir juga begitu. Tapi aku berani bercerita tentang semua hal padanya.” Ji hyun terlihat kembali berpikir.

“Memangnya apa yang ingin kau ceritakan? Sebuah rahasia?” Kris mulai penasaran. Gadis didepannya selalu berhasil menumbuhkan rasa penasaran dikepalanya.

Ji hyun menatap Kris untuk beberapa saat untuk menimbang-nimbang sesuatu dalam pikirannya. “Mmm… sebuah rahasia kecil.”

Kris mengangkat alisnya seakan meminta penjelasan lebih lanjut. “Apa itu?”

“Rahasia.” Ujar Ji hyun dengan senyum jahilnya.

“Kau tidak mau bercerita padaku?”

“Tidak untuk saat ini. Sekarang ceritakan tentang awal kau bertemu dengan Kai sunbaenim. Dia seperti apa saat kalian pertama bertemu. Kenapa kau mau berteman dengannya. Aku mau dengar semuanya.” Pinta Ji hyun. Kris terlihat seperti akan protes, makanya Ji hyun buru-buru menambahkan kalimatnya. “Aku tidak tugas untuk besok jadi aku bisa mendengarkan cerita panjangmu.”. Awalnya Kris akan menolak tapi kalau kenyataan jikadia bercerita tentang persahabatannya dengan Kai bisa membuat gadis itu lebih lama bersamanya, kenapa tidak?.

Menit berikutnya Kris sudah mulai menceritakan awal pertemuannya dengan Kai, bagaimana basket menyatukan mereka, bagaimana mereka bertengkar, bagaimana mereka kembali akur dan banyak hal lainnya. Ji hyun selalu merespon semua cerita itu dengan bersemangat. Terkadang dia tertawa lepas, terkadang jidad berkerut tidak mengerti dengan tingkah Kai dan Kris tersebut, terkadang dia hanya bisa menggeleng-geleng tidak percaya atau terkadang dia terkejut hingga membuat tersedak saat mengunyah makanannya.

Kris sungguh menikmati waktunya bersama gadis itu. Begitu pula dengan Ji hyun. Waktu terasa cepat berlalu saat mereka bercengkrama seperti ini. Namun begitu, mereka tidak menyadari bahwa ada mata yang menatap benci pada tawa yang sedang mengembang diwajah Ji hyun.

“Huh! Lihat saja nanti. Ini akan jadi terakhir kalinya kau bisa tertawa seperti itu dengan oppa-ku.” Gumam seseorang dengan pandangan sinis. “Dasar perempuan tidak tahu diri.”

 

To be Continued

 

I am back  again. Maafatas update yang begitu lama. Akusedangsibukdankenawriter block untuk FF inijadinggakbisaselesaicepatuntuk chapter kali. Dan akuharap chapter kali bisamengobati rasa penasaran kalian ataskelanjutan FF ini.

Well, buat kalian yang muslimMohonmaaflahirbatin yah. MarhabanyaRamadhan.

Well, please leave your comment, so I can know about your opinion. I’m still try my best to improve my skill in writing. Really, I’ve never miss to read your comment .  Don’t be a silent reader. Well, see you in next chapter.

9 pemikiran pada “Unpredictable You (Chapter 8)

  1. aku yg pertama coment kahh?? wahhhh 3:) bangga.. kkkk~~~ senyum evil ala kyu.. aku readers baru disini.. dan aku langsung baca ff kamu yg judulnya unpredictable you chapter 8 ! sebenernya menurut aku.. adegan romance kurang terlihat thor.. entah knpa! aku justru bingung. feelnya ji hyun lebih ke kai atau kris aku sndri gatau masa/? ya iyalah -.- secara kn yg pnya story kmu XD -.- yaudah saran aku sh sgtu aja ^^. maafkan comentan aku yg sepanjang jalan kenanga ini XD XD XD

    keep write & fighting authorniem ^.^)99 hwaiting hwaiting !!

  2. oke ini keren. keren banget. banget. banget. maaf baru comment di part ini. abis terlalu penasaran sama kelanjutannya. bahasanya bagus singkat tapi ngena ngestakstak gitu di hati /apaansihbego/ /hyaaaaaa
    pokoknya kerenlah ditunggu kelanjutannya :”’
    ah aku mau ke webnya ah~ nanti aku follow ya authornim xD
    authornim fighting!

  3. Author-nim, typo nya dikurangi lg yaaa. dan ada bbrp kalimat yg kurang kata2nya hueuehehe
    Btw itu siapa lagi yang mau jahat ke Jihyun ya Tuhan T_T *baca next chapter*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s