Werewolf (Chapter 9)

Werewolf

 

Title : Werewolf [Chapter 9]

Author : gabechan (@treshaaruu)

Genre : Fantasy, Tragedy, Thriller, and maybe Romance?

Length : Chapter (on going)

Rate : T

Main Cast : Park Chanyeol, Lee Hyejin, Wu Yifan (Kris), Oh Sehun

Support Cast : Ken (VIXX), Suho (Kim Junmyeon)

FF ini terinspirasi dari lagu VIXX “Hyde” dan EXO “Wolf”

 

Chapter 9 is up hehe~ Makasih atas komen kalian di chap 8 dan tentunya di chap sebelumnya juga. Di komen kemarin, ada yang bilang Ken disini itu pacarnya barbie. Hahaha aku ngakak waktu baca komennya, tapi ini bkn Ken yg ada di film barbie. Ken disini itu Ken VIXX. Kalau belum tau orangnya kayak apa, bisa cari di Google.. Ohya, sedikit penjelasan, hutan yang digambarkan di sini itu mirip dengan hutan yg jadi latar film Hunger Games. Jadi kalau masih bingung ngebayangin hutannya, coba liat cuplikan film itu di yutub.

Aku minta maaf karena gak bisa bales komen kalian satu-satu, tapi semua komen dari prolog sampe chap kemarin udah aku baca semua. Sekali lagi, makasih buat yang setia baca ff ini walaupun updatenya bisa sampe berbulan-bulan, hehe.. Semoga chap 9 ini gak mengecewakan dan ngebuat kalian tambah penasaran~ I’ll always do my best ^^

Happy reading! Don’t forget to leave comment or like!

 

NO PLAGIARISM, THIS IS PURE MINE!

 

***

Jadi, apa rencanamu? Kau sudah tahu orang-orang yang harus kau lawan. Membunuh kau bilang mudah, kan?”

 “Apa yang akan kau lakukan setelah aku mati?”

“Mungkin kau harus belajar untuk mengontrol emosimu. Dan kusarankan kau menyimpan tenagamu karena kau akan memerlukannya sebentar lagi. Tidak ada gunanya kau melampiaskan amarahmu padaku, Chanyeol. Karena kau akan selalu kalah.”

 

***

 

“Jangan melihatku terus!”

“…..”

“Apa?!”

“…..”

“Sudah kubilang jangan melihatku terus!!”

“Ba, baiklah, baiklah… Aku tidak akan melihat ke belakang lagi! Huh, menyebalkan!”

Jaraknya dengan Ken terpaut dua meter, namun Chanyeol masih bisa mendengar gerutuan lelaki itu. Perjalanan yang dilalui dengan kaki telanjang ini terasa lebih menyiksa dari yang Chanyeol bayangkan. Lelaki bersurai hitam itu terkadang bergumam sendiri, seperti wanita, dan seringkali menengok ke belakang untuk mengecek apakah Chanyeol masih berada di belakangnya. Dan yang membuat Chanyeol sangat tak nyaman, Ken kadang terkikik geli sendiri, tanpa alasan.

Ken tidak memborgol, mengikat, atau bahkan memberikan pengaman apapun padanya. Saat Chanyeol bertanya apa alasannya, lelaki itu mengatakan kalau hal itu adalah bagian dari perintah yang diterimanya.

Firasat Chanyeol sudah buruk saat Ken menemukan dirinya. Dan bertambah buruk di saat Ken menyebut nama Kris dalam gerutuannya sepanjang perjalanan. Semua ini sudah direncanakan oleh lelaki itu, dan mungkin sesuai perkiraannya. Chanyeol mengakui, Kris semakin pintar menyusun rencana.

“Hoi, Park Chanyeol! Ngomong-ngomong, kita sudah sampai, lho.”

Chanyeol menjauhkan kedua tangan Ken yang sibuk melambai-lambai di depan wajahnya sedikit kasar. Ia menyipitkan mata, menyesuaikan diri dengan cahaya terang yang menerobos penglihatannya. Ken menuntun Chanyeol masuk lebih dalam sambil menyingkirkan tanaman liar yang menghalangi jalan.

Dan pada langkah terakhir, lelaki itu berhenti dengan senyum miring, “Kita sampai.”

Sebuah bukaan lainnya, tapi yang ini lebih luas, mirip seperti bukaan yang ia pilih sebagai tempat peristirahatan sementaranya. Pepohonan lebih banyak tumbuh di sini, mengelilingi bukaan ini seperti lingkaran. Setelah Chanyeol amati, cabang pepohonan yang berdaun lebat itu mencegah sinar mentari masuk terlalu banyak. Membuat udara sedikit lebih sejuk.

Pandangan Chanyeol beralih pada Ken, “Dimana kita?”

Ken menoleh, menatap lelaki itu dengan tatapan kau-pikir-kita-ada-dimana-lagi dan jangan-bercanda-bodoh.

“Selamat datang, Park Chanyeol.”

Tubuh Chanyeol menegang. Lelaki itu mengepalkan tangan dan menarik napas dalam-dalam sebelum menatap ke depan, menyambut pemilik suara bass itu.

“Kris.” Mata Chanyeol menatap dingin sosok Kris yang berdiri tak jauh darinya. Bahkan menatap matanya saja sudah membuat Chanyeol geram.

“Sudah lama kita tidak bertemu. Sejak pertemuan kita yang terakhir, aku tidak bisa melacak keberadaanmu,” ekspresi Kris berubah lunak, “ dan itu membuatku sedikit putus asa, kau tahu.”

Chanyeol bagaikan robot, tak berekspresi. Lelaki itu tahu Kris sedang menarik simpatinya. Karena itu, ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak meledakkan emosinya saat ini.

“Apa maumu?”

Kris memasang wajah pura-pura terkejut, namun sedetik kemudian lelaki itu tertawa keras seolah apa yang Chanyeol tanyakan adalah sebuah lelucon. Kris berhenti tertawa. Raut wajahnya mengeras. Kedua matanya menatap tajam manik mata Chanyeol. “Kau akan mengetahuinya sebentar lagi.”

Dengan aba-aba yang Kris berikan, Ken menjalankan tugasnya dengan cepat. Tangan kanannya mencengkeram ubun-ubun Chanyeol, sedangkan jemari kirinya menekan punggung lelaki itu dengan keras.

Chanyeol tidak sempat berteriak ataupun mengelak, karena setelahnya, pandangannya menghitam.

______

 

“Oh Sehun.”

Suara tegas itu mampu menghentikan langkah kaki Sehun yang terkesan buru-buru. Dicarinya sang pemilik suara dengan was-was.

“Namamu benar Oh Sehun?” Lelaki itu menyipitkan mata, lalu menghela napas. “Baguslah, kalau begitu.”

Manik mata Sehun terkunci pada tiap gerakan yang dilakukan lelaki asing di hadapannya. Ia tak mau mengeluarkan sepatah-dua patah kata sampai orang asing itu menyatakan dirinya bukan musuh.

Lelaki itu kini mengambil beberapa langkah, sehingga Sehun mampu melihat sosoknya dengan jelas. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, wajah tampan namun berbahaya, rambut kecoklatan yang dibiarkan menutupi dahinya serta kulit seputih susu. Well, Sehun merasa lega menyadari lelaki itu sedikit lebih pendek darinya. Lelaki itu tersenyum sombong di dalam hati.

Aku masih lebih tampan, batin Sehun, berbangga diri.

Sehun masih mengamati lelaki di hadapannya dengan was-was. Tampaknya objek yang Sehun amati tidak merasa risih dengan tatapan menusuk yang ditujukan padanya. Lelaki itu malah melangkah dengan santai, meminimalkan jarak diantara dirinya dan Sehun, lalu berhenti tepat di atas tanah yang sedikit lembap.

Sebelah alis Sehun terangkat ketika lelaki asing itu mengayunkan kedua tangan pada masing-masing sisi tubuhnya dari bawah ke atas dengan penuh penghayatan. Kalau dalam situasi lain, Sehun akan menertawai apa yang dilakukan lelaki itu. Sehun mengira lelaki asing itu sedang mempersembahkan sebuah tarian untuknya.

Namun, saat bola-bola air sebesar bola kasti keluar dari dalam tanah, tawa Sehun kembali tertelan.

Bola-bola air itu melayang sesuai dengan gerakan tangan lelaki itu. Untuk beberapa saat, Sehun memandang takjub akan apa yang ia lihat. Namun, pandangan takjub itu langsung hilang saat bola-bola air itu masuk ke dalam mulut sang pengendali.

“Ah.. air memang selalu menyegarkan. Kau mau? Aku bisa mengambilkannya untukmu.”

“Tidak, tidak perlu.” Sehun berdeham, merasa tak nyaman diperlakukan dengan sopan seperti itu. “Sepertinya kita belum pernah bertemu.”

“Tentu saja! Kris baru merekrutku seminggu yang lalu. Kita bahkan baru bertemu hari ini.” ucap lelaki itu dengan nada riang. “Oh ya, panggil aku Suho. Tanpa embel-embel –ssi atau yang lain. Aku tidak suka orang-orang memanggilku terlalu formal.”

Sehun mengernyit, berpikir kenapa lelaki bernama Suho ini terlalu banyak bicara. “Dan alasan kau menemuiku?”

“Oh, kau pasti sudah tahu.”

Sehun menyipitkan matanya, “Kris… laki-laki itu  

“Ya, dia yang menyuruhku menemuimu. Ah, mencarimu, lebih tepatnya. Laki-laki itu selalu saja menyuruh, minta ini-itu. Merepotkan.” gerutunya.

Maaf, tapi Sehun tidak sedang ingin mendengar curhatan seseorang. Walaupun ia menertawakan nasib Suho dalam hati.

“Apa yang dia katakan?”

Suho mengerutkan keningnya, tampak berpikir. “Tidak banyak, seingatku. Kris hanya memintamu untuk ikut denganku. Sepertinya ia ingin memberimu tugas baru.”

 

Tugas baru?

 

“Bagaimana kau tahu hal itu?!” Sehun meninggikan suaranya, marah.

Seringai langsung menghias wajah Suho. Lelaki itu tidak menjawab pertanyaan Sehun, namun tatapannya membuat Sehun mengerti. Sehun memutar otak, mencari-cari alasan logis apa yang Kris pilih sehingga ia mau merekrut lelaki bawel ini.

 

Tunggu. Sehun tahu.

 

Suho berarti guardian    pelindung. Kris tidak main-main, rupanya. Lelaki di hadapannya ini adalah tangan kanan Kris. Ia akan melakukan apapun yang diperintah lelaki brengsek itu, termasuk melindunginya. Yeah, sangat sesuai dengan nama panggilan yang Kris berikan.

Ada rasa takut membuncah dalam tubuh Sehun. Lelaki itu memaki dirinya sendiri berkali-kali agar tidak menunjukkan rasa takutnya itu di hadapan Suho. Sehun dengan susah payah menarik napas dan mengambil langkah mundur dengan hati-hati.

“Pergilah. Aku akan menyusul. Kau bisa membuat alasan apapun pada Kris.”

Suho mendengus, tidak setuju dengan keputusan Sehun. “Dan kalau kau tidak muncul?”

“Tenggelamkan aku di laut manapun yang kau mau!” jawab Sehun cepat, tak ingin berlama-lama berada di dekat lelaki itu.

Kedua sudut bibir Suho terangkat, membentuk seringai lebar. Lelaki itu memunggungi Sehun, lalu menjentikkan jarinya. Seketika tubuhnya melebur menjadi air, meresap ke dalam tanah.

_____

 

07.10 AM

 

“Hyejin, tolong buang sampah ini. Hati-hati, ada pisau patah di dalamnya.” Kyungsoo menyerahkan kantong plastik hitam yang terlihat cukup berat. Hyejin mengurungkan niatnya untuk protes dan hanya mengangguk.

Sebelum keluar, gadis itu menarik napas dalam-dalam. Ia harus menahan dinginnya udara luar. Hyejin mempercepat langkahnya menuju tempat sampah besar di samping restoran. Dua telapak tangannya memerah karena harus memegang erat kantong plastik berisi sampah itu. Gadis itu berulangkali memaki Kyungsoo yang seharusnya membuang sampah ini sendiri.

Hyejin berhenti di depan tempat sampah besar itu sambil terengah-engah. Dalam hati, ia ingin menarik telinga lelaki malas itu. Laki-laki macam apa dia, batinnya.

Gadis itu mengangkat kantong plastik berisi sampah itu sekuat tenaga. Namun, kecerobohannya membuatnya menjatuhkan kantong plastik itu. Seluruh aspal tempatnya berpijak dipenuhi dengan berbagai sayur busuk yang tercecer. Begitu pula dengan patahan pisau yang dikatakan Kyungsoo.

“AAKH!” Hyejin terkejut melihat luka sayatan di telapak tangan kanannya. Darah mulai mengalir keluar seperti cairan yang tumpah dari wadahnya.

Hyejin jatuh terduduk. Ia hanya bisa menatap telapak tangannya itu dengan ngeri. Ia berusaha berteriak, tetapi suaranya seperti menghilang di udara. Rasa takut seakan menelannya bulat-bulat.

Tiba-tiba, seseorang mengangkat tangannya yang terluka dengan hati-hati. Hyejin yang masih ketakutan langsung berdiri dan memandang orang di hadapannya itu dengan bingung.

“Apa   

“Lukanya tidak dalam.” Lelaki itu tampak berkonsentrasi dengan apa yang tengah dilakukannya. Ia mengelap luka gadis itu dengan sapu tangannya. Lelaki itu tersenyum, “Lain kali hati-hati. Sebaiknya, kau dengarkan apa yang dikatakan temanmu.”

Lelaki itu mendekatkan bibirnya ke telinga Hyejin, kemudian berbisik. “Aku peka terhadap rasa takut. Sekali lagi kuingatkan, kau harus berhati-hati. Bahaya bisa menangkapmu kapan saja.”

Ketika membuka mata, Hyejin masih mendapati lelaki itu berdiri di hadapannya. Lelaki itu menyeringai, membuat Hyejin kembali mundur.

 

“Kusarankan kau menahan rasa takutmu, Nona Lee Hyejin.”

 

LEE HYEJIN!!

 

Ini sudah ketiga kalinya Hyejin tersentak ketika bangun dari tidurnya. Kepalanya langsung berdenyut-denyut diakibatkan bangunnya yang tiba-tiba itu. Kalau saja ia tidak mendengar teriakan keras itu, Hyejin akan melanjutkan tidurnya.

Di sisi lain, Hyejin lega karena mimpi buruknya terputus. Well, akhir-akhir ini Hyejin mengalami mimpi buruk dalam tidurnya yang tanpa disengaja itu. Dan ketika bangun, ia selalu mendapati kepalanya berputar-putar. Anehnya, gadis itu merasa mimpinya kali ini pernah ia alami sebelumnya. Ketika ia masih menjalani hidup sebagai seorang pelayan restoran ramen.

Mata Hyejin mencari pemilik suara yang tega-teganya mengganggu ketenangan tidurnya. Sungguh, Hyejin kesal. Itu adalah tidurnya yang paling nyenyak dalam beberapa hari ini dan berani-beraninya orang itu berteriak keras untuk membangunkan tidurnya?! Minta dihajar, batinnya.

Hyejin menghela napas pelan, lalu memfokuskan pandangannya ke depan.

Satu detik. Dua detik. Tiga detik.

Hyejin ingin berteriak, namun kain tipis yang menutup mulutnya membuatnya tak bisa membuka mulut. Ia panik, sangat panik.

Matanya bergerak-gerak liar, menatap horor pemandangan di sekelilingnya. Ini tempat lain. Entah di bagian mana hutan, tetapi tetap saja ini bukan bukaan yang menjadi tempat peristirahatan mereka. Hyejin mendongak, memandang pepohonan yang seolah-seolah memayungi tempat ini dari sinar mentari.

Tempat ini indah, namun atmosfer jahat yang memenuhinya membuat Hyejin ingin cepat-cepat kabur. Gadis itu pun menggerakan tubuhnya ke kiri-kanan berulangkali. Rasa nyeri langsung menjalar di kedua sisi tubuhnya akibat eratnya ikatan tali yang melilit tubuhnya. Hyejin mengabaikan rasa nyeri itu dan kembali menggerakan tubuhnya, berusaha melepaskan diri.

 

“Berhentilah. Kau membuang-buang tenaga saja.”

 

Suara ini…

 

“Tidak usah sedramatis itu. Ini aku, Park Chanyeol.”

 

Tak ingin mengakui dirinya gila, Hyejin mencari sumber suara. Kepalanya menoleh ke kiri-kanan dengan cepat. Merasa melihat sesuatu, gadis itu kembali menoleh ke arah kanannya.

Di sana, Park Chanyeol tengah memandangnya dengan pandangan malas. Keadaannya mungkin sama dengannya saat ini, tubuh terikat erat pada batang pohon oleh tali serta mulut yang tertutup kain kumal. Well, setidaknya kali ini ia tidak sendirian. Tidak seperti pertemuan mengerikan waktu itu. (baca chapter 6)

“Kau lagi.” Hyejin berucap di pikirannya dengan nada malas.

“Menurutmu siapa lagi, huh?”

“Apa kita sedang bertelepati?”

Tahu Hyejin mengalihkan topik, Chanyeol memberikan tatapan kesal di seberang sana. “Jangan pura-pura bodoh! Aku terpaksa, kau tahu. Menurut perkiraanku, kita akan menemui maut sebentar lagi.”

Alih-alih menggunakan kata ‘mati’, Chanyeol memilih kata ‘menemui maut’. Menurutnya, terkesan lebih halus daripada ia harus mengatakan kata ‘mati’ lagi pada gadis itu. Mengingat pembicaraan mereka tentang persepsi kematian beberapa jam lalu tidak berjalan menyenangkan.

“Jadi, karena itu kau sengaja membangunkanku dengan berteriak?”

“Aku tidak punya pilihan lain.”

“Padahal aku sedang bermimpi..”

“Apakah aku menggunakan telepati kali ini untuk mendengarkan curhatanmu?”

“Bukankah kita sedang bicara melalui pikiran? Kau juga bisa mendengar suaraku?”

Dari posisinya, Hyejin bisa mendengar dengusan kesal Chanyeol yang disertai hentakan kaki lelaki itu ke tanah beberapa kali. Gadis itu tidak mampu menahan senyumnya melihat tingkah Chanyeol. Well, Hyejin tidak bodoh. Ia hanya ingin mengerjai Chanyeol sesekali, mengetes apakah lelaki itu memiliki selera humor, meskipun kenyataannya sangat sedikit.

Chanyeol pulih dari kekesalannya dan kembali membuka pembicaraan, “Siapa yang menculikmu?”

Jelas sekali ada sindiran dalam kalimat tanya lelaki itu, jadi Hyejin menjawab, “Kau juga diculik, kalau begitu,” lalu menunggu tanggapan lelaki di seberangnya. Chanyeol ternyata tak mau berbelit-belit. “Aku tidak kenal dia. Wanita itu bertampang seram dengan make-up memenuhi wajahnya. Sangat kuat dan ia bisa berubah menjadi anak kecil. Kalau kau?”

“Laki-laki bernama Ken. Sangat suka menggerutu. Ia suka tertawa sendiri, jadi kusimpulkan kalau dia setengah gila. Tinggi    tapi aku masih lebih tinggi darinya    dan bertubuh atletis.”

Hyejin mengangguk-angguk sendiri, mengabaikan fakta tingkat kepercayaan diri Chanyeol yang terlalu tinggi. “Jadi, apa rencanamu? Kau sudah tahu orang-orang yang harus kau lawan. Membunuh kau bilang mudah, kan?”

Chanyeol ingin mengeluarkan protes, tapi kemunculan dua orang lelaki bertampang tidak bersahabat mengalihkan fokusnya. Tak terkecuali Hyejin.

Kalau Hyejin bertemu dengan dua lelaki ini di tempat lain, gadis itu bersumpah ia akan histeris. Wajah tampan itu, tubuh atletisnya, seringainya    yang mungkin dalam situasi menyenangkan bisa membuat tiap gadis meleleh.

Nah, itu terjadi kalau hidup sedang berjalan normal.

“Halo lagi, Park Chanyeol.” Kris memaksakan senyum pada Chanyeol, lalu memandang Hyejin, “Dan selamat datang untukmu, Lee Hyejin.”

Tubuhnya menegang. Bukan, bukan karena ia terlalu bahagia disapa oleh orang tampan itu. Suaranya. Hyejin sudah mendengar suaranya di kepalanya ketika ia tidur, ketika ia bermimpi.

Kenapa ia baru menyadarinya sekarang? Bahkan mereka sudah dua kali bertemu, dalam situasi yang mirip. Mata penuh kelicikan itu. Seringai itu. Astaga, bagaimana bisa ia tidak mengenalinya?

“Kau…” Saking takutnya, Hyejin tidak menyadari kain kumal yang menutup mulutnya sudah menggantung di lehernya, membuatnya bisa bebas bicara.

Chanyeol yang juga berhasil menyingkirkan kain kumal yang menutup mulutnya langsung memotong apa yang ingin gadis itu katakan, “Lakukan! Lakukan dengan cepat!”

“Lakukan apa?”

“Jangan berpura-pura, kau brengsek! Kau akan membunuhku juga, kan, setelah membunuhnya?” Chanyeol melirik Hyejin, “Lalu, setelah terbebas dari masalah yang menghambatmu, kau akan mengangkat dirimu sendiri untuk jadi pemimpin mereka! Itu rencanamu?!”

Kris tertawa terbahak-bahak cukup lama, membuat Ken yang ada di sampingnya ikut tertawa. Menyadari hal itu, Kris berhenti, lalu menatap Ken yang langsung terdiam dan menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Tidak, tidak. Jalan cerita yang kau buat terlalu klise. Kalaupun aku harus membunuh kalian, aku tidak akan melakukannya dengan tanganku sendiri.”

Chanyeol ingin membasahi wajah Kris dengan ludahnya ketika ia mengumpat nanti.

“Kau hebat, Chanyeol, bisa bertahan dengan tubuh lemah itu. Bahkan untuk bertarung saja kau butuh banyak jeda. Tenagamu akan habis dan kau akan kesulitan untuk berubah. Menyedihkan sekali.”

“Dan karena itu pula, kau mengambil keputusan yang buruk. Sangat buruk untuk kelangsungan hidupmu, kau tahu.”

Kata-kata yang sangat menusuk, batin Hyejin. Gadis itu memandang Chanyeol, bertanya-tanya apakah lelaki itu akan berulah atau diam saja. Atau yang lebih buruk, lelaki itu pasrah akan apa yang terjadi pada dirinya. Sama seperti apa yang ia lakukan ketika Kris hampir membunuhnya beberapa hari lalu.

Helaan napas lolos dari bibir gadis itu. Kali ini ia harus percaya pada apa yang akan Chanyeol lakukan. Namun, ia ingin memastikan sesuatu. Hyejin memejamkan matanya.

 “Chanyeol, boleh aku bertanya satu hal?”

Tidak ada jawaban. Hyejin menoleh untuk melihat Chanyeol. “Kalau itu tidak mengganggu konsentrasimu.”

“Apa?”

Hyejin menghentikan kegiatannya memandang Chanyeol, lalu kembali menutup matanya. “Apa yang akan kau lakukan setelah aku mati?”

“Aku   

“Wah, wah.. Tak kusangka kalian akan seromantis ini.” Interupsi Kris berhasil membuat Chanyeol dan Hyejin kembali pada kenyataan. Lelaki beriris abu-abu itu melipat tangannya di depan dada, masih dengan seringai khasnya. “Chanyeol, kau belum mengatakan padanya kalau aku bisa membaca pikiran, ya? Kau ceroboh sekali.”

 

Laki-laki lain yang sama menyebalkannya.

 

“Apa kalimat itu ditujukan untukku, Hyejin? Kalau ya, aku hanya ingin memberitahumu, semua orang yang ada di sini akan sangat amat ‘menyebalkan’.”  Kris memberikan intonasi khusus pada kata ‘menyebalkan’.

Oh, tentu saja Hyejin menyesali perkataannya. Kalau seperti ini, hanya ada dirinya. Ia tidak bisa menyusun rencana untuk melarikan diri bersama. Atau bisa saja Chanyeol saat ini sedang menyusun rencana, sehingga sejak tadi lelaki itu diam saja, membiarkan Hyejin bergulat sendiri dengan pikirannya yang sudah berantakan seperti pecahan gelas.

Hyejin memandang sekelilingnya yang mulai dipenuhi beberapa orang yang tidak dikenalnya. Gadis itu bahkan sempat-sempatnya berpikir kalau tempat ini sebenarnya adalah tempat berkumpulnya para manusia serigala tampan dan… cantik. Well, mata Hyejin tak sengaja menangkap sosok wanita yang tengah berdiri anggun dibalik bayang-bayang pohon. Ya, wanita yang menculiknya ke sini.

“Kris! Lihat itu!” seru Ken antusias, menarik perhatian Kris sepenuhnya.

Lelaki itu mengikuti arah pandang Ken.Salah satu sudut bibir Kris tertarik ke atas, membentuk senyum miring. Ternyata taktiknya berjalan dengan sangat baik.

“Mungkin kau harus belajar untuk mengontrol emosimu. Dan kusarankan kau menyimpan tenagamu karena kau akan memerlukannya sebentar lagi.” Kris mengangkat bahunya, “Tidak ada gunanya kau melampiaskan amarahmu padaku, Chanyeol. Karena kau akan selalu kalah.”

Sosok lelaki bertubuh tegap dengan pandangan dingin keluar dari persembunyiannya sesuai dengan isyarat yang ia dengar. Langkahnya perlahan, namun sukses membuat Hyejin tercekat. Api-api kecil yang muncul di dekat kaki Chanyeol seketika padam seiring dengan meningkatnya keterkejutan lelaki itu.

“Tidak mungkin….”

 

 

Sehun?

 

 

 

“Merindukanku, hm?”

 

 

 

[To be Continued]

 

Iklan

18 pemikiran pada “Werewolf (Chapter 9)

  1. Wah baru baca..Nan reader baru…genre.nya sih mainstream,tapi ceritanya ngga’ gampang di tebak, dan pastinya bikin penasaran di tiap akhir part.nya ..author DAEBAK ,bikin cerita kayak gini susah loh -_- menurutku… Semangat ya thor buat next chap..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s