A Twist in My Story (Chapter 4)

ATIMS

Title : [Chapter 4] A Twist in My Story

Author : seijurossi

Cast : Cho Soyeon (OC), Byun Baekhyun, Kim Jongin, Park Chanyeol

Other Cast : Seo Sangmi (OC)

Genre : AU, School Life, Romance, Comedy, Friendship, Family

Length : Chapter

Disclaimer : Pure of her imagination. Casts are belong to God and themselves. She doesn’t own and surely not claiming them as hers.

Summary : Setiap orang pasti memiliki lika-liku dalam hidupnya. Bagaimana jika dalam sehari muncul dua orang yang membuat kehidupanmu berubah drastis?

http://hellosillo.wordpress.com

Enjoy reading. And please, have much respect on her story by not be a silent readers 🙂

A Twist in My Story © Seijurossi

Chapter Four

I Don’t Know He Has A Good Side, Too

 

Normal Point of View

Tidak biasanya hujan menghiasi siang hari ini di Seoul.

Soyeon yang sudah dari awal mengantuk, ditambah dengan hujan, tentu saja dia merasa semakin mengantuk. Sewaktu pelajaran terakhir, tidak tanggung-tanggung Soyeon langsung mengambil posisi yang paling nyaman untuk tidur. Untung saja tempat duduknya termasuk di deretan belakang, jadi dia tidak perlu khawatir akan seonsaeng yang sedang mengajar.

Rasanya nyaman sekali bisa beristirahat dari segala kelelahan yang Soyeon alami. Semenjak kehadiran Kim Jongin serta Byun Baekyhun, Soyeon tidak sempat untuk bisa beristirahat dengan santai karena dua orang itu kerap mengusik kehidupan Soyeon. Kim Jongin dengan segala keisengannya di rumah, serta Byun Baekhyun dengan segala kelengketannya di sekolah. Sewaktu Soyeon bilang ‘lengket’, memang benar itu adanya. Sejak Baekhyun pindah ke kelasnya, dia hampir selalu menempel pada Soyeon kapanpun. Tidak heran diam-diam banyak yang merasa envy pada Soyeon karena mempunyai dua teman kecil yang terbilang sangat menarik perhatian, Baekhyun dan Chanyeol.

“Psst Soyeon-ah…”

Dari suaranya Soyeon sudah tahu bahwa itu adalah suara Sangmi, tetapi Soyeon tidak mengangkat kepalanya dari lipatan kedua tangannya. Dia terus membenamkan kepalanya di atas meja. Merasa malas untuk menanggapi Sangmi saat ini.

“Soyeon-ah, bangun…” Sangmi masih saja terus berbisik.

Karena Soyeon merasa terganggu akan hal itu, lantas dia langsung mengangkat kepalanya. “Apa sih, kau mengganggu tidurku—“ perkataan Soyeon langsung terhenti karena sosok yang seharusnya berada di depan kelas sudah berada di hadapannya, melipat kedua tangannya, dan menatap Soyeon tajam.

“Maaf saja kalau saya mengganggu tidur Anda, Cho Soyeon-ssi,” Lee seonsaeng mengucapkan kata demi kata dengan penuh penekanan. Kali ini kaki kanannya mengetuk-ketukkan lantai dengan irama yang bisa membuat Soyeon mengalami mental breakdown sekarang juga.

Soyeon hanya bisa menelan ludah dan hanya bisa pasrah menghadapi sesuatu yang buruk setelah ini.

~A.T.i.M.S~

Teng. Teng. Teng

Bel pulang berdentang, tetapi tidak membuat Soyeon bisa bebas dari penderitaan sama sekali. Setelah disuruh berdiri di pojok kelas dengan mengangkat satu kaki selama pelajaran Lee seonsaeng berlangsung, Soyeon langsung dipanggil oleh Lee seonsaeng ke ruang guru.

Soyeon tahu, semua murid di kelasnya tahu, kalau sampai dipanggil oleh Lee seonsaeng pasti akan mendapat tugas tambahan darinya. Entah itu tugas yang sangat konyol seperti membuat essay mengenai alasan menyukai pelajaran matematika sebanyak dua lembar penuh, atau mengerjakan setumpuk tugas dan harus dikumpulkan hari berikutnya.

“Jadi, kamu tahu alasan saya memanggilmu disini?” Lee seonsaeng membetulkan kacamatanya seraya menatap Soyeon penuh intimidasi.

“Erhm… karena saya tidur di kelas?” Soyeon tidak bisa berpikir jernih karena dia benar-benar ingin segera pulang dan melanjutkan tidurnya.

Lee seonsaeng mendelikkan matanya. “Hukuman untuk tidur di kelas sudah cukup yang kamu lakukan tadi. Kamu tahu kesalahan lain yang sudah kamu lakukan?”

Soyeon benci jika dipojokkan dengan pertanyaan yang tidak bisa dia jawab. Jadi Soyeon hanya bergumam-gumam kecil sambil memainkan jari-jari tangannya.

“Jadi kamu tidak merasa bersalah karena pernah kabur dari tugasmu?” nada suara Lee seonsaeng meninggi. Soyeon tersentak kemudian mengerutkan keningnya, mencoba berpikir, kemudian tak lama dia sadar akan sesuatu.

Tugas tambahan yang Lee seonsaeng berikan padanya dulu, Soyeon tinggal kabur karena akan bertemu dengan keluarga barunya. Dan Soyeon masih ingat jelas dia belum selesai mengerjakan semua soal.

Lagi-lagi Soyeon menelan ludah. Dia hanya bisa tersenyum gugup serya menundukkan kepalanya.

Lee seonsaeng menaruh satu buku di hadapan Soyeon. “Saya beri tugas baru, kali ini hanya 25 soal. Tapi kali ini tingkat kesulitannya dipertambah. Besok sudah harus ada di meja saya. Tidak ada alasan apapun.”

~A.T.i.M.S~

Dan hujan pun tambah deras. Sederas air mata frustasi yang ingin Soyeon keluarkan saat ini.

Soyeon tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi soal yang ia pegang. Bisa saja dia meminta bantuan duo otak encer di kelasnya—Sangmi dan Chanyeol, tetapi hari ini mereka berdua sedang ada urusan dengan pelatihan OSIS jadi sudah jelas tidak bisa membantu Soyeon.

Jadi Soyeon hanya bisa membuka payung lipatnya dan berjalan pulang. Yeoja itu sudah pasrah dengan segalanya. Yang tepenting begitu sampai rumah dia harus segera mengerjakan tugas sialan itu.

“Soyeon-ah!”

Soyeon berbalik dan menemukan Baekhyun sedang berlari-lari kecil menghampirinya. Soyeon mendesah. Lagi-lagi dia.

“Mau kemana?” tanyanya. Soyeon mengangkat bahu. “Seperti yang kamu lihat, aku mau pulang.”

“Tidak mau mampir ke suatu tempat dulu? Aku dengar ada kafe yang baru dibuka di sekitar sini. Mau coba kesana?”

Soyeon tersenyum miris lalu menggeleng. She’d loved to, kalau saja tidak ada soal yang harus dia kerjakan saat ini.

Baekhyun terlihat kecewa namun berusaha menjaga raut wajahnya. “Kenapa? Jangan bilang kamu tidak mood karena hukuman dari pelajaran Lee seonsaeng tadi ya?”

Memang benar Soyeon sedang tidak mood. Tetapi alasannya karena tugas sialan itu makanya dia jadi tidak mood untuk pergi kemanapun. Termasuk meladeni Baekhyun kali ini. Jadi daripada Soyeon justru melampiaskan rasa frustasi dirinya ke namja itu, lebih baik dia segera pulang saja.

Soyeon hanya tersenyum simpul. “Kira-kira seperti itu. Aku pulang dulu, ya,” tanpa menunggu respon dari Baekhyun, Soyeon langsung berbalik dan berjalan cepat menuju stasiun MRT yang tinggal berjarak 5 meter darinya.

Samar-samar, Soyeon mendengar Baekhyun berteriak, “Tapi lain kali kamu harus mau ya, Soyeon-ah! Aku tunggu!”

‘Ya, apapun lah, Baekhyun. Asal soal ini selesai dulu’ Soyeon mendengus kesal.

 

Cho Soyeon Point of View

Akhirnya sampai rumah juga setelah berdesak-desakan di MRT. Itu sebabnya aku benci hujan ketika waktu jam pulang sekolah, karena pasti banyak sekali yang menggunakan MRT. Mana aku harus setia berada di MRT selama 10 menit karena dari sekolahku menuju rumahku butuh melewati empat stasiun.

Aku melepas sepatuku dan menetengnya menuju rak sepatu. Merasa aneh karena tidak ada suara satupun di rumah. Biasanya begitu aku pulang, Eomma sedang berada di dapur untuk mempersiapkan makan malam. Aku tidak heran dengan Appa karena dia selalu kerja sampai sore dan sekarang bukan waktunya Appa pulang.

“Eomma kemana, ya?” gumamku sambil berjalan menuju dapur. Pandanganku tertuju ada sebuah notes kecil berwarna mencolok yang ditempel di lemari es. Aku mendekatinya dan membaca isinya:

Anak-anak…

Tadi Appa menelpon Eomma, katanya dia ada urusan kantor di Busan. Karena Eomma kasihan dengan dia, makanya Eomma menemani Appa. Tenang saja, makanan sudah kusiapkan & kalau ada apa-apa sudah kutinggalkan uang. Kami akan pulang larut malam sekali jadi jaga diri ya.

Saranghae~ ^^

Jadi itu artinya aku sendirian di sini sementara hujan masih turun dengan deras? Bagaimana aku bisa mengerjakan tugas Lee seonsaeng dengan tenang kalau situasinya seperti ini?!

Sebersit ide tiba-tiba muncul di kepalaku. Hm, sepertinya ide itu bisa kupakai. Aku mengambil ponselku dan mengetik sebuah pesan.

Tidak lama terdengar suara seseorang di pintu depan. Itu pasti Jongin.Waktunya sangat tepat sekali. Jadi aku melepas notes dari lemari es yang ditempel Eomma kemudian segera menarik Jongin yang baru saja menampakkan diri di ruang dapur. Dia nampak terkejut karena kehadiranku yang tiba-tiba.

“Ya, kamu ngapain hmph—” Jongin tidak menyelesaikan kalimatnya karena sudah kujejelkan wajahnya dengan notes dari Eomma.

“Baca,” perintahku singkat. Jongin menarik notes itu lalu menatapku kesal. “Apaan sih? Kenapa tiba-tiba menarikku lalu menjejeliku dengan kertas ini?” Jongin melihat isi tulisan di notes tersebut. Aku menunggu reaksinya.

Setelah seleai membaca, Jongin menatapku heran, “Lalu kenapa kalau Appa dan Eomma pulang malam?” Dari ekspresinya sepertinya dia sedang tidak mood hari ini. Tetapi memangnya aku peduli?

Aku menatapnya tajam. “Itu artinya kamu harus menemaniku.”

“Menemani apa?”

“Menemaniku mengerjakan tugas.”

“Hah? Kamu bercanda? Shireo!”

“Kalau begitu aku akan bilang pada Eomma kalau Op-pa-ku tidak mau kumintai tolong,” aku tersenyum penuh arti seraya menunjukkan pesan di ponselku kepada Jongin.

From : Eomma

Baiklah, ajak saja Oppa-mu. Kalau bisa minta ajari beberapa bagian yang tidak kamu mengerti. Eomma senang kamu sudah bisa mulai akrab dengan Oppa-mu~^^

Jongin nampak shock dengan pesan Eomma. Dia semakin kesal menatapku.  “Memangnya kamu sebodoh apa sampai butuh bantuan segala?”

Aku mengangkat bahu. Tidak akan jatuh dalam perkataannya. Walaupun dalam hati mulai kesal karena Jongin mulai mengataiku.

“Dengan menemanimu juga kamu nggak akan dapat apa-apa, karena aku nggak akan membantumu.”

Aku memutar mataku. “Aku tak peduli. Yang penting kamu harus temani aku.”

“Ck. Terserah lah. Aku mau ganti baju dulu,” Jongin melenggang pergi. Ha! Kalah kau!

Aku tidak bisa menahan senyumku lagi. Dalam hati aku bersorak ria. Rasanya tuh puasssss sekali bisa memanfaatkan Jongin untuk pertama kalinya. Asal tahu saja, alasan sebenarnya aku minta ditemani itu karena aku tidak berani mengerjakan tugas sendiri selagi hujan turun. Makanya aku tak peduli dia membantuku atau tidak.

Setelah aku mempersiapkan peralatan tempurku hari ini, Jongin masuk ke kamarku. Dia mengedarkan tatapannya ke setiap sudut kamar. “Tidak kusangka kau mempunyai kamar yang cukup rapi,” komentar pertama yang meluncur darinya.

Aku mendecak sebal. “Memangnya selama ini kau kira aku apa, hah?”

“Kasar, tidak anggun, serta jorok.”

“Setidaknya perkiraanmu yang ketiga itu salah.”

“Tapi tetap saja kasar dan tidak anggun.”

Belum apa-apa tetapi rasanya aku sudah ingin mencekik leher Jongin sekarang juga. Tetapi karena dia sudah berbaik hati menemaniku—dan aku tidak mau mengambil resiko dia pergi dari sini—jadinya aku menahan segala keinginan terpendamku itu.

“Duduk,” kataku. Aku menggunakan meja kayu berbentuk lingkaran sebagai tempat untuk mengerjakan tugas serta alas duduk. Jongin mengambil tempat di depanku persis. Duduk sambil menopangkan kepalanya di tangan kirinya.

Entah kenapa posisi duduk Jongin membuatku sedikit tidak nyaman karena dia bisa menatapku kapan saja. Tapi aku memutuskan untuk menghiraukannya dan mulai mengerjakan soal.

Baru saja aku mengerjakan selama 5 menit, Jongin sudah mengomentari macam-macam.

“Itu tugas apa?” tanyanya, lebih kearah basa-basi karena aku tahu dia tidak peduli dengan jawaban yang kulontarkan.

“Matematika.”

“Seonsaeng-mu memang memberikan tugas itu ke semua murid?”

“Nggak. Cuma aku saja.”

Jongin menatapku heran. “Otakmu separah apa sih sampai-sampai dikasih tugas khusus sama seonsaeng sendiri?”

Aku mendesis. “Kayak otakmu nggak parah aja. Pasti kamu juga lemah dalam hal matematika kan?”

“Ya kali. Sekolahku nggak belajar matematika sampai macam-macam seperti sekolahmu, tahu. Wajar kan.”

Ketika aku baru ingat lagi kalau sekolah yang Jongin pelajari itu sekolah seni… Ya jelas, lah!

Aku mulai mengerjakan soal lagi. Terkadang Jongin mengomentari sesuatu lagi, tetapi aku menghiraukannya. Bisa-bisa soalku tidak selesai karena terlalu banyak meladeni omongan Jongin.

Setengah jam berlalu. Hujan masih saja turun. Sepertinya akan bertahan sampai seharian. Kulirik sekilas namja yang berada di depanku. Jongin nampak sangat bosan. Daritadi dia hanya bermain dengan PSP miliknya setelah lelah mengomentariku macam-macam.

Kemudian Jongin bangun dari duduknya, meregangkan sejenak tubuhnya kemudian duduk kembali. Hm, walaupun dari tingkahnya terlihat sekali bahwa dia sangat malas untuk menemaniku, tetapi kenyataannya dia tidak mengutarakan hal itu padaku.

Ternyata Jongin cukup baik juga.

Lewat 45 menit. Sayup-sayup aku mendengar suara lagu dari ponsel Jongin. Awalnya pelan, tetapi makin lama volum suaranya semakin keras jadi aku berdehem kemudian menatap Jongin. “Volumenya bisa dikecilkan?” pintaku.

Jongin menjawab sambil menguap pelan. “Kalau tidak keras, aku bisa tidur. Memangnya kamu mau aku tidur?”

Aku terdiam. Aku sudah dengar dari Appa, kalau Jongin sudah tidur, pasti akan sangat susah untuk membangunkannya—sama persis denganku—dan kalau sampai Jongin tidur, nanti tidak ada bedanya dengan sendirian di kamar.

“Tetap saja, aku tidak bisa konsentrasi,” kataku berusaha mencari alasan lain.

“Masih mau ditemani atau tidak?”

Aku mengerucutkan bibir kesal. Kenapa namja itu jadi mengancam seperti ini, sih? Kan jelas aku tidak bisa melawan perkataannya!

Ah, coba saja tidak turun hujan. Pasti aku tidak perlu meminta Jongin menemaniku dan aku bisa lebih konsentrasi dengan tugasku.

Tiba-tiba seisi ruangan menjadi gelap.

“Hyaaaaaaa!!!”

Aku meraba-raba meja lingkaran, panik, mencari tangan Jongin supaya aku tahu bahwa dia masih ada di kamarku. Ketika aku menemukan tangan yang kucari, tiba-tiba wajah Jongin nampak di hadapanku dengan ekspresi yang membuatku langsung membanting tangannya yang baru saja kupegang. Jongin mengaduh kesakitan. “Kau ini, benar-benar kasar,” katanya seraya mengelus-elus pergelangan tangannya yang aku yakin pasti mulai memerah.

“Salah sendiri kau menakutiku,” aku menjulurkan lidah.

“Ck. Ngomong-ngomong ada sesuatu yang bisa digunakan untuk penerangan?” tanya Jongin setelah menaruh lampu ponsel miliknya di tengah meja lingkaran.

Aku berpikir sejenak. “Sepertinya ada lilin di lemariku, tapi tidak ada lampu emergency.”

“Hmm,” Jongin langsung berdiri. “Di sekitar sini?” dia menyentuh salah satu rak lemari kecilku. Aku mengangguk. Jongin mengambil beberapa lilin dan menaruhnya di beberapa tempat meja lingkaran.

Aku mendesah berat. Meski kamarku sudah lebih terang, tetap saja tidak cukup terang untuk bisa mengerjakan tugas. Aku mengacak-acak rambut kesal. Sejauh ini aku baru mengerjakan 15 soal. Apa memang takdirku untuk kembali diceramahi oleh Lee seonsaeng?

Seolah mengerti yang aku pikirkan, Jongin bertanya. “Harus besok?” aku mengangguk lemah. Frustasi. Sepertinya hari ini memang hari penuh sial bagiku.

“Terus kamu mau ngapain? Menunggu listrik menyala?”

“Mollayo. Tapi yang jelas tugasku harus selesai kalau tidak aku mati.”

“Sudahlah, menyerah saja. Kurasa ini masih sangat lama menyalanya.”

Aku menatap Jongin sebal. “Tapi bagaimana dengan nasibku besok? Coba sekarang kamu yang berada di posisiku!”

“Kalau aku jadi kamu, sih, sudah pasti akan kutinggal.”

Aish namja ini. “Tapi kan—!“

  1. CTARRR. Tiba-tiba petir menyambar dengan keras sekali. “HYAA!!” teriakku. Saking terkejutnya aku tidak sadar bahwa tanganku telah bergerak memeluk Jongin yang berada di sampingku. Baru setelah suara petir itu mulai mereda, aku sadar dengan yang telah aku lakukan. Secepat mungkin aku langsung melepaskan pelukanku dari Jongin. “Maaf,” kataku seraya menundukkan wajah saking malunya.

Kulihat Jongin membuang wajahnya. Dia tidak mengatakan apapun. Apa jangan-jangan dia juga malu?

Sempat terjadi keheningan selama beberapa saat. Kemudian Jongin akhirnya berbicara. “Lebih baik kamu tidur saja. Daripada menunggui listrik yang tidak jelas kapan akan menyala kembali.”

Apa katanya? “Tapi tugasku—“ Jongin tidak mendengarkanku karena seketika dia sudah mendorongku ke tempat tidur. Aku yang sedari tadi berusaha tenang jadi merasa sebal kembali. “Ya!” protesku karena Jongin mendorongku dengan kasar.

Lagi-lagi Jongin tidak mau mendengarkan. “Tidur. Kalau listrik menyala, nanti kamu akan kubangunkan,” katanya.

“Di-ba-ngun-kan?” Aku menatapnya tidak percaya.

Jongin memutar mata. “Tidak ada air kali ini. Atau kamu lebih suka dengan air?”

Aku melempari kepalanya dengan boneka kecilku sebagai jawaban. Tidak akan kubiarkan kejadian dulu terulang lagi, dimana di dengan tega membangunkanku dengan air.

Aku berpikir sejenak sebelum akhirnya mengiyakan perkataan Jongin. “Tapi jangan sampai kamu kabur dari kamarku,” ancamku.

“Memang kenapa kalau aku kabur? Kau takut?”

“Ti—tidak kok!”

“Dari awal aku sudah berpikir kenapa tiba-tiba kau memintaku untuk menemanimu disini dan tidak melakukan apapun. Itu karena sebenarnya kau takut mengerjakan sendiri ketika hujan kan?”

“I—itu kan—“

“Sekarang pun juga, hm.. kau benar-benar penakut, ya, Cho Soyeon,” Jongin menatapku sambil tersenyum menyebalkan.

“Ya! Aku bukan penakut!”

“HYAA!!” aku meringkuk di atas kasur seraya menutup kupingku dengan kedua tangan.

Jongin melihatku meringkuk di tempat sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Dan katamu kau bukan penakut? Kau memang tidak jujur, Cho Soyeon-ssi,” katanya, menahan tawa.

“Diam kau.” aku langsung mengambil posisi tidur secepat mungkin. Aish, benar-benar sangat memalukan!

Jongin terkekeh pelan lalu mengambil kursi dan duduk di samping tempat tidurku persis. Petir masih setia mengeluarkan kilatnya, yang membuatku beberapa kali tersentak karenanya.

Sebenarnya aku ingin teriak tapi takut kalau Jongin akan meledekku lagi. Geez. Kalau begini aku tidak bisa tidur dengan tenang…

Tiba-tiba saja kurasakan sesuatu yang hangat menelusuri tanganku. Aku kaget karena kehangatan itu berasal dari tangan Jongin yang terpaut di jemari-jemari tangan kananku. Jongin tidak berbicara apapun. Tetapi aku tahu itu semata-mata supaya aku tidak terganggu dengan suara petir lagi.  Aku terlalu malu untuk membuka mataku, jadi aku membiarkan genggaman tangan Jongin.

Aku tidak menyangka Jongin bisa mempunyai sisi baik juga. Tadi dia menertawakanku, sekarang dia justru berusaha menenangkanku.

Tanpa sadar aku tersenyum.

Huh. Kau sendiri juga tidak jujur, Kim Jongin-ssi.

 

Iklan

20 respons untuk ‘A Twist in My Story (Chapter 4)

  1. eh bentar jangan bilang kalo entar jong in suka sama seoyeon???
    mereka kan sodara???? walaupun gak sedarah sih
    lah masih penasaran gw, kenapa seoyeon bsa gak inget sama baekhyun??
    ditunggu lah next chapternya

  2. Omo~ jgn katakan nanti mereka berdua terlibat perasaan 😮
    oh aigoo spertinya baekkie akan mendapat saingan hahaha :v

    and kalau menurutku bhasanya terlalu berlogat indo bgt chingu jadi agak gmna gtu hehe
    tapi alurnya tetap ok(y) ko

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s