CLOISONNE CROWN: THE CROWN OF THE QUEEN

DISCLAIMER:

This is a work of fan fiction using characters from EXO owned by SM ENT., KOREA.

I do not claim any ownership over them or the world of EXO.

The story is my own imagination, and it is not purported to be part of  EXO real life. This story is for entertainment only and I am not profiting financially from the creation and publication of this story.

PLEASE READ PREVIOUS CHAPTERS

CLOISONNE CROWN: THE FIRST ENDING

CLOISONNE CROWN: THE BEGINNING

cloissoncrown-violetkecil

CLOISONNE CROWN: THE CROWN OF THE QUEEN

Pengadilan telah memutuskan bahwa ia tidak berhak atas Cloissone Company. Seluruh jerih payahnya untuk mempertahankan warisan almarhum ayahnya menguap begitu saja. Sehun begitu cerdik. Ia telah membujuk beberapa pemilik saham untuk menjual sahamnya dengan iming-iming insentif pembagian saham dari perusahaan induk Sehun Corp. Lima pemegang modal setuju, dan Sehun sanggup membayar dengan harga tinggi untuk setiap lembar saham, siapa yang akan menolak? Apalagi Sehun Corp selalu menempati posisi peak di setiap bursa saham selama beberapa bulan ini. Menjual saham Cloissone yang tengah digoncang isu pailit menjadi pilihan yang tepat, terlebih janji Sehun yang akan memberi mereka porsi kepemilikan di perusahaannya yang beromset trilyunan dollar.

Apa yang dilakukan Sehun telah menikam Cloissone dari belakang. Ia sendirian menghadapi raksasa besar Sehun Corp yang terus menggerogoti eksistensinya di perusahaan itu. Posisi CEO-nya goyah, saham Sehun Corp mendominasi Cloissone Company. Pembengkakkan biaya kegagalan produksi karena kebakaran dan insiden demonstrasi lalu membuatnya terpaksa menjual saham untuk melunasi hutang perusahaan ke bank.

Cloissone hanya mendapat setengah persen kepemilikan perusahaan itu pun karena murni belas kasihan Sehun. Hanya karena namanya secara hukum masih tercantum dalam akta perusahaan itu, Sehun masih ‘berbaik hati’menyisakan saham untuk dimilikinya. Tapi bagi Cloissone, kebaikkan pria itu adalah penghinaan. Pewaris Cloissone hanya mendapatkan kurang dari satu persen saham seperti mempermalukan diri sendiri. Cloisonne telah gagal total menjaga warisan keluarga.

Gadis itu berjalan lemah menyusuri trotoar. Ia pailit, bangkrut, asetnya hilang. Chanyeol telah menawarinya tempat tinggal tapi ia menolak. Cloissone terlalu angkuh untuk menerima kebaikkan hati seseorang. Sejak kecil ia dididik dengan keras, hal itu membuatnya harus terlihat tegar. Tapi siapapun bisa menebak bahwa jauh dalam lubuk hatinya, gadis itu tengah menangis. Tidak ada seorangpun yang sanggup bertahan atas kehilangan yang begitu besar seperti ini.

Perutnya berbunyi, ia kelaparan tapi tidak ada satu koinpun di saku dan dompetnya. Padahal beberapa hari lalu, ia masih duduk dan menikmati hidangan lezat di kursi VIP restoran mewah disekitar tempat dia berdiri sekarang.

Gadis itu jatuh miskin. Cloissone sama sekali tidak menerima uang sepeserpun dari hasil penjualan sahamnya. Seluruhnya habis digunakan untuk membayar hutang bank karena jika mangkir ia akan masuk bui. Pengacara bank sudah mengancamnya sedemikian rupa jika ia lalai membayar kewajiban.

Mengapa hidupku tidak pernah bisa normal seperti yang lain, desah Cloisonne dengan sedih. Chanyeol memang pernah menawarkan bantuan finansial tapi lagi-lagi ia menolaknya. Pengalamannya dengan Sehun mengajarkannya supaya jangan terlalu menggantungkan hidup pada pria siapapun bahkan pada Chanyeol yang baik hati.

Cloissone tidak dapat menahan rasa perih di perutnya. Ia terduduk lemas di salah satu bangku taman. Tanpa sadar, air matanya jatuh. Ia menangis terisak. Sudah lama ia tidak menangis, terakhir sejak kematian naas kedua orangtuanya sepuluh tahun yang lalu saat usianya berumur sebelas tahun.

Andaikata kalian ada di sini, mungkin aku mampu bertahan, bisik Cloisonne berharap angin membawa pesan itu pada mendiang orangtuanya.

Aku bodoh sekali, kalian mungkin menyesal memiliki anak sepertiku, gadis itu masih berbicara dengan angin.

Harusnya aku sudah bisa memperkirakan ini, tapi mengapa aku begitu ceroboh. Aku bodoh!

Saat pamannya Park Ho Ji memperkenalkan Sehun beberapa bulan lalu, ia sudah tahu dirinya sedang berhadapan dengan singa haus mangsa. Cloissone mencoba bersikap hati-hati tapi ia kalah pintar. Sehun memang bukan tandingannya. Seharusnya ia tidak bermain-main dengan pemuda itu, tapi semua sudah terlambat. Hartanya, perusahaannya, bahkan dirinya ikut terjual.

Dengan nanar, ia menatap mobil-mobil mewah yang terparkir di jalan. Beberapa orang berpenampilan mewah berjalan menyusuri trotoar menuju restoran-restoran ekslusif di sepanjang area Gangnam. Cloissone terkesiap melihat beberapa kenalan bisnis sedang berjalan ke arahnya. Sontak ia berdiri dan bersembunyi di balik pohon. Cloissone tidak mau dicemooh karena kondisinya sekarang. Penampilan sederhana, sedikit kumal tampak kontras dengan lingkungan high class di sekitarnya.

“Kau tahu apa yang terjadi pada Cloisonne?”

“Si bodoh itu? Entahlah kupikir dia sedang menyembunyikan diri karena malu.”

Kedua wanita berpenampilan mencolok itu duduk tidak jauh dari posisi Cloissone berada. Gadis itu semakin menyembunyian dirinya, tapi dipasangnya indera pendengaran kuat-kuat ketika namanya disebutkan.

“Sudah kuingatkan pada pamannya yang haus harta itu jangan pernah mengijinkannya bertarung dengan Sehun.”

“Bertarung? Kau naif sekali. Si Bodoh itu merayunya berharap Sehun masih berbaik hati memberikan posisi CEO padanya setelah sahamnya habis. Beberapa kenalanku pernah melihat bagaimana mereka sering menghabiskan waktu berdua setelah kekalahan itu.”

“Menjijikan.”

Hati Cloissone terluka tapi ia tidak bisa mengelak karena hal itulah yang terlihat di depan publik. Apapun ia lakukan untuk mempertahankan perusahaannya, warisannya! Hanya Tuhan yang tahu kebenarannya dan ia tidak butuh orang mengetahui hal yang sebenarnya.

“Cloissone tidak sesuci yang kita kira. Ia sangat bodoh berharap Sehun akan jatuh cinta padanya. Ia pikir Sehun akan mudah takluk. Mungkin pria lain iya, tapi yang kita bicarakan adalah SEHUN!”

“Oh Sehun yang tampan. Dia malaikat juga iblis, bagaimana seseorang bisa berkepribadian seperti itu.”

“Dia berbahaya. ”

“Tapi juga menggoda dan menantang. Aku tidak masalah melewatkan satu malam bersama dengannya.”

“Kau pikir Sehun akan tertarik denganmu? Ia tidak pernah berkencan dengan wanita dua puluh tahun lebih tua dari umurnya.”

“Menurutmu begitu? Kelemahan Sehun adalah wanita, mari kita lihat apakah ia mampu menolak pesona wanita berpengalaman sepertiku.”

Terdengar suara gelak tawa dari kedua wanita yang lebih pantas menjadi Ibu Sehun daripada teman kencan. Mereka adalah golongan sosialita yang terangkat derajatnya karena bersuamikan pria-pria kaya. Bukan rahasia lagi jika mereka dan sejumlah wanita golongan elite lainnya sering mengadakan pesta jetset rahasia. Hiburannya pria-pria yang menari tanpa busana dan hadiahnya pria-pria-pria tampan yang bisa ditiduri. Cloissone mencibir. Jika ia dianggap menjijikan, kedua orang itu juga tak jauh menjijikan dari dirinya.

Hari semakin gelap, seharian ia luntang lantung tak tentu arah. Penampilannya lebih acak-acakkan dari pagi tadi, bahkan bisa dibilang seperti gembel. Tapi kecantikkannya tidak dapat tertutupi, beberapa pejalan kaki dibuat terheran-heran dengan pengemis ‘cantik tapi gila’ karena terus mondar-mandir sepanjang jalan sambil menggumam tak henti.

Kelelahan membuatnya kembali terduduk. Ia merintih sambil memijit-mijit perutnya yang kosong. Kehancuran ini telah membuat badannya remuk dan otaknya beku. Mungkin ia sudah gila seperti anggapan para pejalan kaki yang melewatinya tadi. Tapi jika mereka dalam posisinya sekarang, ia berani bertaruh mereka akan melakukan hal yang lebih buruk daripada ini. Hanya satu yang diyakini Cloisonne, ia tidak boleh bunuh diri, walaupun beberapa kali pikiran itu melintas di benaknya.

Diingatnya hari-hari yang dilaluinya setelah kehadiran Sehun. Cloisonne sadar walaupun terlambat, ia telah menantang bahaya dengan memancing Sehun ‘keluar dari kandangnya’. Ia dengan kepercayaan diri yang tinggi yakin bahwa sekaliber Sehun pun bisa ditandingi.

Ketika posisi Sehun sudah mulai mengancam perusahaannya, Cloisonne malah bermain-main dengan membuat taruhan berbahaya. Diingatnya kisah klasik India Mahabarata dari buku teologi agama yang dibacanya, ketika Yudhistira dan Duryudana berjudi dengan kerajaan Hastinapura sebagai taruhannya. Kekalahan Yudhistira membuat Pandawa terusir dan istrinya Drupadi mengalami hinaan seksual oleh kaum Kurawa. Persis seperti itulah yang terjadi pada hidupnya kini.

Apa yang aku harus lakukan, aku sudah kalah telak, jerit Cloissone. Pandangannya mulai kabur, mungkin mati adalah pilihan yang baik baginya kini. Air matanya kembali berurai, ia tidak bisa berbohong berpura-pura tegar. Cloissone sangat rapuh dan ia sendirian. Pamannya yang bertahun-tahun menjadi walinya ternyata memihak Sehun. Teman-teman dan kolega bisnis serentak menjauhinya. Tidak ada teman yang abadi, tidak ada yang bisa dipercayai.

Seseorang tiba-tiba berdiri dihadapannya. Cloissone mendongak sambil menghapus air matanya.

“Chanyeol? Kau?”

Pria yang dipanggil Chanyeol mengangguk. Gadis itu tersenyum, kehadiran pria itu sedikit menenangkannya.

Chanyeol berjongkok menghadap Cloisonne. Butuh waktu lama untuk bisa mencari gadis itu dan ia terkejut melihat apa yang dilakukan gadis itu seharian ini.

Diraihnya wajah Cloisonne dengan kedua tangannya. Pandangannya yang selalu tajam kini lemah dan kosong seolah tidak ada roh di dalamnya. Chanyeool tidak mengira ambisi Sehun telah merusak jiwa Cloisonne sedalam ini. Spontan Chanyeol memeluknya, gadis itu membalas dengan tangisan pelan.

“Kau akan aman Cloi. Tak akan kubiarkan ia menggangumu. Aku berjanji.”

Gadis itu mendongakkan kepalanya. Ia tahu Chanyeol akan selalu menolongnya. “Antarkan aku ke tempat yang jauh, kumohon.”

Chanyeol menggelang lemah. “Tapi kau masih memiliki properti dan harta berharga di sini. Sehun akan mengambilnya jika kau pergi.”

“Biarlah jika itu yang diinginkannya. Aku hanya ingin pergi.”

“Tapi di luar sangat tidak aman, ”tolak pria itu. “Tetaplah di sini, bersamaku.”

Kalimat terakhir diucapkannya sangat pelan sehingga Cloisonne tidak dapat mendengarnya. Chanyeol mengutuk mulutnya yang lancang.

Mereka saling bertatapan. Chanyeol menatap keyakinan di dalam kedua mata bulat Cloissone. Tapi ia sangat khawatir Sehun dapat menemukan keberadaan gadis itu. Karena jika itu terjadi Chanyeol tidak yakin dapat melindunginya lagi.

“Kumohon Chanyeol, aku bisa mati di sini. Semua yang kuterima terasa berat, aku butuh menenangkan diri.”

Pemuda itu mendesah dengan suara berat. Rintik salju pertama di musim dingin tiba-tiba jatuh perlahan mengenai kepala dan mantelnya. Ia mempererat pelukannya. Nalurinya berkata bahwa setelah hari ini ia tidak memiliki lagi hak atas Cloissone. Entah kenapa Chanyeol tiba-tiba merasa waktu perpisahan dengan gadis itu semakin dekat. Ia memeluk Cloissone lama kemudian melepasnya pelan.

Chanyeol berdiri dan membuka mantelnya. Tanpa banyak bicara ia memasangkan mantel itu pada tubuh Cloisonne yang ringkih.

“Kau lapar?”

Gadis itu mengangguk malu.

“Apakah kau sudah makan seharian ini?”

Cloisonne menggeleng lemah.

Tiba-tiba Chanyeol menggamit tangan gadis itu. “Kita akan bahas soal rencanamu nanti yang penting sekarang kau harus makan dulu.”

Cloissone tidak beranjak ketika Chanyeol menarik tangannya untuk pergi.

“Chanyeol, besok adalah acara konferensi pers. Semua orang akan tahu bahwa aku bukan lagi pemilik perusahaan itu.”

Pria itu memandang Cloissone yang berdiri tegak di tengah dinginnya salju yang menusuk.

“Ia pasti akan mengatakan berapa saham yang kupunya dan alasannya.”

“Yah, dia pasti akan mengatakan itu.”

Cloissone memandang Chanyeol. “Aku tidak peduli berapa banyak harta yang dia ambil dariku tapi aku peduli dengan apa yang akan dikatakannya pada orang-orang tentangku.”

“Maksudmu?”

“Aku tidak bisa hidup di sini dengan menanggung malu, hidup dengan saham yang hanya belas kasihan dari pemilik baru. Tidak mengapa aku miskin asal masih punya harga diri. Tapi aku sudah tidak memilikinya kini. Jadi kumohon bawalah aku pergi jauh malam ini, mungkin ke luar Korea, atau negara antah berantah.”

Jika gadis itu sudah membuat keputusan, tidak ada seorangpun yang dapat mencegahnya.

“Berpikirlah sekali lagi, pergi begitu saja dari negara ini tidak mudah.”

“Aku tahu kau bisa. Kau pintar dan aku bisa mengandalkamu.”

Chanyeol tersenyum pendek. Ia merangkul bahu Cloisonne.

“Aku tidak bisa memastikan tapi sekarang kau harus mengisi perutmu dulu dan kita akan bicarakan soal itu nanti.”

“Aku tidak akan makan jika kau tidak mau membantuku.”

Itulah Cloisonne, gadis paling keras kepala yang pernah Chanyeol temui. Tapi mungkin itulah yang membuatnya berbeda.

“Ya ampun Cloi, kau tidak makan seharian dan kau masih bertahan tidak mau makan? Baiklah jika itu memang maumu. Tapi aku tidak yakin bagaimana kau bisa pergi tanpa terdeteksi mata-mata Sehun.”

Ketika nama Sehun terucap dari mulut Chanyeol, ada perasaan gelinyar aneh dalam hati Cloisonne. Ada yang berubah pada dirinya kini. Semua karena malam itu, malam dia melunasi semua hutang taruhannya.

“Cloi?”

Chanyeol mengguncang bahunya. Gadis itu terkesiap.

“Kau melamun?”

“Tidak.”

Chanyeol tersenyum. “Pembohong!”

Gadis itu ikut tersenyum melihat gurat senyuman di bibir tipis Chanyeol. Ia memandang raut muka pemuda yang ada di sebelahnya. Chanyeol tidak kalah tampan dari Sehun, tapi sayangnya ia kalah popular dari sahabatnya itu. Chanyeol cenderung menarik diri dari pergaulan dan sibuk dengan pekerjaannya sebagai ahli statistik di sebuah perusahaan asing. Tapi jika kita mengenalnya lebih dalam, siapapun dapat menemukan ketulusan dari pribadinya.

Sungguh beruntung gadis yang memilikinya, desis Cloisonne. Walaupun ia memuji Chanyeol setinggi langit tapi ditepisnya pikiran bahwa mungkin mereka akan menjadi sepasang kekasih.

Tampaknya setelah kejadian di malam itu, Cloisonne harus melupakan ide bahwa dia dapat memiliki pasangan. Ada suatu rahasia yang akan terus disimpannya rapat-rapat. Dia pikir, ia bisa melupakan peristiwa itu dengan mudah tapi ternyata tidak. Cloisonne akan terus membawa kejadian itu dalam pikiran dan mimpinya sampai mati. Benar kata dua wanita tua yang tadi bergunjing tentangnya, Cloisonne Park adalah gadis bodoh yang menjijikan. Tapi jika mereka menganggap motivasinya adalah untuk mempertahankan perusahaan, justru alasan sebenarnya lebih bodoh daripada itu. Alasan sebenarnya hanya untuk membayar hutang janji karena kalah bertaruh!

“Kau melamun lagi.”

Cloisonne menoleh dan tertunduk malu. Chanyeol rupanya sedang memperhatikannya.

“Ada yang kau pikirkan?”

Gadis itu menggelang. Mereka sudah sampai di restoran dengan aroma makanan yang sangat lezat.

“Aku sedang memikirkan makanan tadi. Aku lapar, ayo kita makan.”

Ia menarik tangan Chanyeol masuk ke dalam restoran. Mukanya berseri-seri dan bersemangat persis ketika Chanyeol pertama kali bertemu dengannya beberapa bulan lalu. Pemuda itu terperangah, pada saat itu ia bisa melihat Cloisonne hanyalah seorang gadis kecil biasa yang lugu tapi juga ceria. Sayangnya Chanyeol tahu, sikap yang ditunjukkannya barusan itu hanyalah pura-pura. Cloisonne terlalu pintar menyembunyikan perasaannya. Chanyeol tidak mau menebak karena apapun tebakkannya hanya akan berujung pada fakta yang membuatnya terluka.

 

TO BE CONTINUED

Author’s Note:

This story uses a flashback point of view sometimes from Chanyeol, Cloi, or Sehun side. In the first & second story you can read a statement that the ownership of Cloisonne Company now belonged to Sehun. You also will find that the real heir of the company has been missing and the relationship among 3 casts here. In the third story now you can read A DAY before Cloisonne disappeared and her reason to move from the city. We don’t know where Chanyeol placed her then, whether in Korea or foreign countries? Please guessing and we’ll see in the next-next chapter a story DAYS DAYS DAYS BEFORE all things happen

Please enjoy read mine. As I told you, I didn’t put anything information about genre, cast, etc except DISCLAIMER. But I will tell you when readers with age under 17 prohibited reading this. Or maybe I will upload the scene only in my private blog (hyeahkim.wordpress.com). Again I really appreciate for those who left comments here. Thank you very much. I really appreciate it. Your comments support me a lot

Lastly, I d like to say Happy Ied Mubarak 1435 Hijriyah. May God bless us with pureness heart before and after Ramadhan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

36 pemikiran pada “CLOISONNE CROWN: THE CROWN OF THE QUEEN

  1. Postingan anda sangat bagus, saya sering mampir kesini.
    Dan sering kali saya share ke facebook dan teman-teman saya juga
    suka dengan artikel dari blogmu ini. Keep spirit ya untuk terus update konten kerenmu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s