HIM

HIM

 him

Cast :  Baekhyun & (find by yourself)

Genre : Fluffy

Length : +/- 1,527

Author : @yosalee93

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

Aku melihatnya pertama kali di hari saat melamar kerja. Saat itu aku tengah  menggenggam map biru  yang telah tergulung seperti tabung  tanpa alas, lamaranku telah di tolak tiga kali, omong-omong. Aku memilih duduk di ujung bagian kursi lain, jauh dari sisi ia duduk. Aku meliriknya sesaat, seseorang itu mengenakan sweater rajut warna putih gading dan meskipun hari itu sedang hujan, namun hujan di musim panas tidaklah sedingin musim gugur, jadi seseorang yang memakai sweater di musim panas terlihat tidak biasa. Dia aneh, dan aku juga sedikit aneh. Aku menyukai bagaimana kami terlihat sama anehnya di bawah atap halte bus hari itu.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Aku sedang menyesap cone kedua ice cream vanilla ku di salah satu taman kota di suatu sore. Vanilla adalah satu-satunya rasa ice cream yang aku suka. Aku tak suka rasa lain. Tak ingin mencoba, karena aku benci coba-coba. Aku menarik ayunan kayu yang tengah ku duduki, menariknya jauh kebelakang dan mendorong kayu dengan tali itu kedepan dengan kuat. Aku tak perduli pada pandangan orang-orang yang mendengus melihatku menduduki satu-satunya ayunan di taman itu, karena anak-anak mereka tak bisa bermain disana. Aku tak perduli, juga pada map biru tua yang telah tertimbun tanah di bawahku. Ini kali kelima berkas lamaranku di tolak. Miris sekali.

Aku hampir saja menghabiskan 30 menit waktuku hanya untuk mengutuki si bapak tua- juga botak yang menolak berkasku mentah-mentah, namun irisku menangkap sosok itu lagi. Aku terdiam dengan cone ice cream yang tinggal seperempat, membiasakan bias seseorang itu memenuhi pandanganku. Dia terlihat menawan, mempesona dengan sweater hijau lumutnya. Aku tersenyum tipis saat seseorang dengan rambut brunette itu mendekat kearahku, bukan benar-benar kearahku. Karena nyatanya dia mendatangi penjual ice cream di sebelahku.

Ice cream rasa mint.”

Aku berjengit sesaat. Rasa mint? Rasa yang tidak akan pernah aku coba, aku benci apapun yang berhubungan dengan mint. Bahkan aku harus mengganti pasta gigiku dengan rasa buah-buahan yang kekanak-kanakan karena aku lebih sering muntah sebelum selesai menyikat gigiku.Ugh.

Aku memperhatikan bagaimana dia tersenyum kepada si penjual ice cream, dan bagaimana jemarinya meraih dompet kulit coklat tua dari saku celananya. Dia terlihat biasa saja mungkin, tapi aku merasa gerakannya agak istimewa. Karena dia melipat uangnya dua kali, entah mengapa.

Dia berjalan pelan kearahku, maksudku benar-benar kearahku. Duduk di sebelahku setelah tersenyum seadanya. Aku agak canggung sebenarnya. Untuk alasan yang tidak ku mengerti telapak tanganku mulai berkeringat. Dia menunjuk ice creamku dengan dagunya dan sesaat aku sadar bahwa ice cream itu telah mencair melewati sisi jemariku. Aku mendengus pelasn, benar-benar terlihat aneh sekaligus bodoh. Kesan pertama yang sangat buruk.

Aku tak menjawab, meskipun sebenarnya ingin mengatakan kalau aku tak benar-benar bodoh, namun pada akhirnya aku hanya tersenyum kecut sebagai jawaban. Aku melempar cone ice cream yang sudah melunak dengan ice cream yang meleleh bahkan ke celanaku dengan asal. Kemudian mengambil saputangan untuk membersihkan kebodohanku sendiri.

Aku merutuki diriku berkali-kali. Mungkin ini apa yang di lihat oleh semua perusahan tempatku melamar pekerjaan. Kesan pertama yang buruk. Kesan bodoh yang terpaku di dahiku.

Aku berdiri dengan canggung dan aku tahu jika seseorang itu mengikuti ku dengan matanya. Ini agak aneh untukku, karena kini dahiku mulai berkeringat. Aku mengusap dahiku sesaat, kemudian berjalan pelan kearah penjual ice cream untuk membeli satu cone ice cream lagi, rasa mint. Walaupun rasa yang mengalir di kerongkonganku seperti rasa pasta gigi yang di bekukan, namun tak masalah jika aku akhirnya bisa mengobrol dengan seseorang itu. Aku tak menyesal karena ternyata dia menarik dan aku fikir aku juga cukup menarik.

Aku menyukai bagaimana kami terlihat sama menariknya dengan cone ice cream rasa mint di masing-masing tangan dengan background matahari terbenam di ujung sana.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Aku benci memasak.

Aku tidak suka benda tajam dan aku benar-benar tidak bisa membedakan wortel dan jariku sendiri.

Aku juga tidak perduli jika pasangan hidupku kelak tidak bisa memasak, bahkan aku tidak perduli jika harus mengkonsumsi junk food seumur hidup. Agak mainstream memang, karena aku suka sesuatu yang berbeda. Aku fikir yang ku butuhkan adalah seseorang yang bisa diajak mendaki gunung atau menyelam 200 meter di bawah laut atau mungkin piknik berminggu-minggu di pulau tanpa penghuni. Seseorang yang tidak akan merengek hanya karena lengannya tergores bebatuan atau mengeluh hanya karena tidak makan dua hari.

Aku mungkin awalnya tidak se-mainstream ini, namun di tolak 5 kali oleh perusahaan membuatku berfikir hidup dengan aturan itu tidaklah menyenangkan. Mungkin terdengar seperti sebuah alasan.

Aku tidak suka memasak. Aku ulangi sekali lagi.

Namun malam itu aku tengah memegang keranjang belanja merah muda di salah satu market di daerah apartementku, karena untuk alasan yang aku tak tahu apa, market itu hanya menyediakan keranjang berwarna merah muda. Asal tahu saja, aku benci warna merah muda.

Aku mendengus kesal, karena Baekhyun –nama dari seseorang yang kutemui di halte dan di taman tiba-tiba saja menarik tanganku untuk menemaninya berbelanja. Dia tinggal di gedung apartement di sebelah gedung apartementku omong-omong. Dan aku terlihat semakin bodoh dan semacam anti sosial karena nyatanya Baekhyun sudah tinggal 2 tahun disana, dan 2 tahun lebih 3 bulan untukku.

“Apa kau tidak punya tampang yang lebih baik dari ini?”

Baekhyun menunjuk wajahku dengan sebuah wortel. Aku mendengus lagi, lebih keras dan berat. Baekhyun ternyata tipe orang yang talk-active. Cerewet, bawel, atau apalah sebutan lainnya. Namun tak mengurangi keanehan dan bagaimana menariknya ia.

“Cepat Baek, selesaikan ini karena aku harus pulang dan makan sesuatu.” Suaraku terdengar seperti rengekan anak 3 tahun. Agak memalukan.

Baekhyun tertawa melihatku, tawanya terdengar khas, namun dia tidak menjawab dan akhirnya kami membayar semua barang di meja kasir.

Aku tidak menyangka kalau Baekhyun akan melakukan ini. Membongkar isi kulkasku dan menggunakan dapur apartementku yang bahkan tak pernah kusentuh untuk memasak nasi goreng kimchi yang demi apapun terlihat sangat manusiawi untukku yang terbiasa makan fast food. Nasi goreng itu ternyata tidak hanya terlihat enak, namun benar-benar luar biasa. Aku menghabiskan piring ketigaku dan bersendawa hebat setelahnya.

Baekhyun tertawa dengan keras melihat tingkahku.

Kami menghabiskan malam itu dengan menonton film horror dan ditemani bergelas-gelas late untuk mengusir kantuk.

Aku tidak suka memasak, namun Baekhyun suka. Kami berbeda. Dan aku menyukai bagaimana kami yang berbeda duduk di satu sofa beludru besar di apartementku sampai subuh.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Cinta terkadang datang di waktu yang tidak tepat.

Mungkin waktunya saja yang tidak tepat karena cinta tidak punya waktu.

Cinta tak mengenal waktu juga tempat dan kepada siapa dia jatuh.
Cinta seringkali menjadi tidak masuk akal, sering kali diluar pemikiran logis orang-orang. Tapi percayalah, tidak ada yang lebih manis darinya.

Setiap orang boleh punya target, tujuan dan harapan pada cintanya kelak.

Namun, semua itu menjadi benar-benar tidak berarti saat seseorang ‘jatuh cinta tanpa alasan’.

 

Baekhyun adalah seorang penulis. Dia adalah penulis novel romansa. Aku tidak suka membaca novel romansa, jadi aku tak tahu jika Baekhyun ternyata penulis yang cukup terkenal di genre itu. Aku memang tidak pernah membaca novel-novel Baekhyun, namun Baekhyun adalah pembicara yang hebat dan aku fikir dia memang penulis yang handal.

Sore itu, di minggu ketiga pertengahan musim semi, Baekhyun mengadakan fan meeting. Aku tidak suka tempat ramai, maka dari itu aku hadir di 10 menit terakhir sebelum acara selesai. Lagipula, aku tak ingin terlihat seperti remaja belasan yang sedang tergila-gila pada kisah-kisah romansa. Demi Tuhan! Aku sudah 26 tahun. Dan aku bersumpah akan membuat diriku terlihat lebih baik setiap harinya.

Aku menyerahkan novel Baekhyun untuk di tandatangani olehnya. Aku tidak membeli novel itu karena Baekhyun memberikannya secara Cuma-Cuma tepat setelah launching.

Baekhyun hanya tersenyum, dia membubuhkan 2 sign, satu di lembar depan dan selebihnya di lembar penutup. Aku mengambil novel itu sekaligus menarik tangan Baekhyun dan memaksanya untuk mentraktirku.

Baekhyun selalu bisa membuatku terlihat bodoh, dia pencerita yang baik, juga pendengar yang setia. Tidak ada yang lebih menyenangkan saat mendengar seorang pemimpi sepertinya bercerita dengan semangat menggebu. Dia pemimpi yang out of the box , mimpinya terkadang tidak bisa dikatakan realistis. Namun, aku tak pernah tertawa untuk semua cerita dari sipemimpi itu.

Tak pernah ada waktu yang benar-benar cukup untuk cerita panjang Baekhyun. Dia terlalu menggebu, dia terlalu bersemangat untuk semua mimpinya. Sama seperti hari itu, karena akhirnya kami menghabiskan sepanjang senja dengan sepiring cookies dan coffee dengan banyak cream.

~~~~~~~~~~~~~

Sampai tengah malam-pun aku tak berniat membaca novel itu, aku hanya membaca lembar pengantar yang berisi rasa terimakasih Baekhyun untuk orang-orang yang mendukungnya dan entah mengapa aku tersenyum saat ada namaku disana. Tidak benar-benar namaku, karena dia menambahkan ‘si pemalas’ di sebelah namaku.

Selanjutnya aku membuka lembar terakhir dan mendapati semacam tempat untuk review pembaca di lembar itu. Pembaca bisa memberikan beberapa kata yang mendeskripsikan novel dan mengirimkannya ke alamat email Baekhyun yang tertera di sampul novel. Aku ingin menulis review, namun terlalu malas untuk membaca. Jadi aku mencoba menulis review tentang Baekhyun.

Dia tidak terlalu tinggi.

Dia memiliki rambut dengan warna madu yang manis.

Dia memiliki bentuk wajah yang lucu, semua hal di wajahnya kecil dan lucu.

Suaranya halus dan jemarinya lembut.

Ugh! Aku tidak tahu jika aku bisa benar-benar gombal seperti ini. Aku tidak pernah memikirkan siapapun sampai rasanya akar rambut dikepalaku berdenyut sakit. Tidak pernah. Namun, ketika Baekhyun datang di antara sisi redup diriku, aku mulai mendapati senyum tanpa alasan di wajahku saat Baekhyun ada disana. Berdiri di depan pintu apartemennya atau ketika ia mengomel dengan suara 2 oktafnya. Semuanya. Semua tentang ia menjadi alasan mengapa aku mulai mencintai hidupku.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

From   : Mr. Park Chanyeol

To        : Mr. Byun Baekhyun

 “Aneh.

Suka memasak.

Membuat Jatuh hati.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

“You’re not trying to be perfect, nobody’s perfect, but you are…to me.”

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

 

Note :  Setelah lama hiatus, akhirnya bisa nulis fiction lagi… Dan ini fiction dengan ‘sedikit’ yaoi yang pernah benar-benar aku publish.

Here too >> http://flowerislove.wordpress.com/2014/06/12/him/

Iklan

24 pemikiran pada “HIM

  1. aku kira fanficnya tentang seorang cewek yang jatuh hati ama baek ternyata chanyeol…. Aku suka ceritanya yang ada “surprise”nya,, alurnya juga nggak terlalu cepet, kisahnya juga nggak berlebihan ala drama gitu ,

Tinggalkan Balasan ke yosalee Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s