Hug?

Title: Hug?

Author: @naysmdn | http://kisekinofairy.wordpress.com

Casts: Lu Han | Jeon Yoonji

Genre: Romance

Rate: T

Length: Ficlet (900+)

Disclaimer: Please do not copy any of the fanfiction’s content or more without the owner’s permission. The casts belong to one and only God and the casts themselves.

 

Copyright 2014 © Naysmdn

HUG?

 

Could you please carry this thing out of my sight?”

Seorang pria jangkung berambut pirang terpaku, membeku di tempatnya. Terdengar agak sombong dan angkuh. Namun sebenarnya, dia sedang menahan rasa takutnya yang meluap-luap.

Seseorang yang mendengar perkatannya hanya menaikkan sebelah alisnya. Heran. “Ya, sampai kapan kau akan takut pada tikus mati?”

Pria tadi menutup kedua matanya dengan telapak tangan. Menghindari pandangan terhadap sebuah kotak berisi benda yang tadi disebutkan lawan bicaranya.

“Hei,” ujar lawan bicaranya tadi, “apa kau benar laki-laki?”

Pria jangkung itu mendelikkan matanya, “Tentu saja! Kau pikir aku ini apa?!”

“Payah.” sahutnya seraya beranjak memindahkan kardus berisi makanan hewan ke rak di bawah tangga lantai dua. “Percuma kau punya tubuh tinggi besar.”

Ya!” bentak pria itu. Ia tidak terima dirinya dilecehkan oleh orang―tepatnya perempuan―yang lebih pendek darinya. “Tolonglah. Kumohon.”

Perempuan itu membungkukkan badannya, merapikan kardus lainnya yang tadi sudah diangkutnya ke situ. Setelah selesai, ia membersihkan kedua tangannya dengan menepuk-nepuknya, kemudian berdiri menegakkan badanny― DUK!

“Oh shit!” umpatnya sambil memegangi kepala belakangnya yang terantuk tangga kayu di atasnya. “Aish!”

“Hahaha!” pria jangkung yang melihat kejadian itu tertawa terbahak, melupakan seekor tikus mati yang tergeletak naas di depannya. Menurutnya, gadis di hadapannya kini lebih naas kondisinya daripada tikus mati itu.

Gadis itu menoleh pada sumber suara dan memelototi penyuaranya. Segeralah ia berlari menuju pria jangkung itu dan menendang kakinya, memukul kepalanya, meninju perutnya.

“Haha― uhuk! Hahah― uhuk uhuk!” pria itu tersungkur ke belakang, menekuk tubuhnya, sembari memegangi perutnya. Matanya terpejam, antara ia masih tertawa atau memang ia merintih kesakitan.

“Sial― ampun!” mohon pria jangkung itu. Menyerah, tubuhnya yang lemas karena tertawa tidak akan kuat jika ditambahi dengan hantaman-hantaman dari teman gadisnya. Gadis itu jelas kesal padanya.

Ia menghela napasnya, kemudian menyibakkan rambut panjangnya yang berwarna hitam. Kesal. “Hei, Lu,” ia menatap kepala pria yang dipanggilnya Luhan itu tajam. “hati-hati.”

Luhan yang masih agak terbatuk pun membalasnya dengan tatapan seolah bertanya ‘hati-hati-dengan-apa?’. Gadis tadi hanya menunjuk ke bagian atas kepala Luhan. Sambil beranjak dari kegiatan pemutilasian-sekilas-terhadap-Luhan, ia kembali melanjutkan kegiatan merapikan kardus-kardus wadah makanan hewannya yang tadi sempat tertunda.

Luhan hanya menatapnya heran, kemudian mengangkat dagunya―supaya terlihat apa yang harus diwaspadainya.

Seekor. Tikus. Mati.

FUCK!” ia terkesiap dan langsung bangkit dari posisinya yang berbaring tragis. Sambil mengumpat tidak jelas, ia berlari dan memeluk tubuh gadis tadi dari belakang seperti anak kecil yang takut dimarahi ayahnya. “SINGKIRKAN ITU! KUMOHON! SEKARAAANG!” rengeknya sambil terus mengeratkan pelukannya pada punggung gadis itu.

“Lu,” ucap gadis itu dingin. Tampangnya berubah jadi malas. Ia berpikir bahwa Luhan sangatlah merepotkan. “berhentilah, tolong.”

“Tidak sebelum kau menyingkirkannya!” rengeknya makin keras, kemudian membenamkan kepalanya ke leher sebelah kiri milik gadis itu. Sekilas, aroma aqua dari parfum gadis itu tercium oleh hidung Luhan. Namun ia tidak menghiraukannya, dan terus memeluk manja tubuh kecil gadis itu.

Please.” Wajah gadis itu makin kesal, rasanya seperti bukan temannya saja. “Kau bukan anak kecil.”

“Tidak mau! Itu menjijikkan!” racaunya tanpa melihat bangkai tikus yang tergeletak di lantai itu. “Kumohon!”

Tangan gadis itu menepuk pelan tangan―agak―kekar yang mendekap tubuhnya dengan malas tanpa menoleh pada Luhan. Matanya menyiratkan sebuah kesebalan yang mendalam terhadap teman prianya itu. “Manja sekali….”

Malas. Kesal. Sebal.

“Kumohon, ya?” Luhan menekankan kata terakhirnya dengan sedikit suara sok imut yang dibuat-buatnya. Masih dengan kepala bersembunyi di leher gadis itu, ia merinding karena bangkai hewan―sialan―itu.

Gadis itu kembali menepuk-nepuk punggung tangan Luhan, berharap semoga Luhan melepaskannya. “…. baiklah.”

Ia kemudian berjalan, meraih sarung tangan plastik yang biasa ia gunakan untuk bersih-bersih―masih dengan Luhan menggelayuti punggung dan tangannya di leher gadis itu.

Ya,” tegurnya dengan tampang yang makin sebal, “bagaimana aku akan membersihkannya kalau kau terus seperti ini?”

Luhan menggeleng sambil terus mengeratkan pegangannya. “Aku tidak akan melepaskanmu.”

Let me do it properly.” kata gadis itu dingin. Kemudian perlahan, ia melangkahkan kakinya yang rasanya berat karena tubuhnya ditumpangi oleh Luhan.

Luhan tidak mendengarkannya. Ia makin menyandarkan tubuhnya pada teman gadisnya itu dan memejamkan matanya―terus menikmati harumnya aroma aqua dari tubuh gadis itu.

Gadis itu menghela napasnya. Hal-hal seperti ini membuat dirinya terlatih untuk selalu sabar. Seorang Luhan sangatlah menyebalkan.

Ia berjongkok, diikuti Luhan yang membungkuk sambil masih memeluknya. Tangannya yang biasa bekerja itu dengan cekatan memasukkan kembali bangkai tikus itu ke dalam kardus yang tadi sempat dijungkirbalikkan oleh Luhan sendiri. Diam-diam, ia menerima perlakuan Luhan yang seperti ini. Luhan menyisipkan anak rambutnya ke belakang telinganya. Sesekali, ia juga bisa merasakan deru napas Luhan yang teratur. Terlebih saat Luhan mengucapkan empat kata yang sanggup membuat seluruh peredaran darahnya mengalir drastis. Seolah-olah dirinya hanyalah milik Luhan. Padahal mereka…… hanya teman.

Gadis itu kemudian beranjak, masih dengan Luhan bergelayutan di belakangnya.

“Sudah, kan?” ucapnya seraya memasukkan kardus itu ke tempat sampah bersama sarung tangan plastiknya.

Tidak ada jawaban dari Luhan.

“Lu?” panggil gadis itu, mencoba menoleh pada Luhan yang masih menyandarkan kepalanya di pundak kirinya.

Luhan makin mengeratkan pelukannya. Ia kemudian memejamkan matanya. Menghirup napas sebanyak mungkin, dan aroma itu kembali terasa.

“Jeon Yoonji.” ucap Luhan pelan, seperti berbisik dan nyaris tak terdengar.

“Hm?”

“Sejak kapan kau ganti parfum?”

Gadis yang dipanggil Yoonji itu terkesiap. Mulutnya sedikit terbuka, bingung harus menjawab apa. Namun ada sebersit kebahagiaan yang muncul dalam benaknya.

“……. eh?”

“Aku suka yang ini.” katanya masih dengan mata terpejam. “Teruslah dekat-dekat denganku, biar aku bisa mencium aromanya.”

  1. Blush.

“L-Lu―”

Omongan Yoonji dihentikan dengan aksi Luhan yang makin mempererat pelukannya, membawa Yoonji lebih dalam padanya.

“Terima kasih.” Luhan berbisik di telinga kirinya, membuatnya sedikit merinding. “Aku sayang padamu.”

Yoonji hanya tersenyum tipis. “Sebagai teman?”

Luhan menggeleng pelan, namun ia tidak menjawabnya.

Yoonji tahu. Ia juga menyayanginya.

Kini dirinya ikut-ikutan beraksi; menggenggam tangan Luhan yang melingkar mendekap tubuhnya.

Dan mereka membiarkan beberapa menit berlalu hanya untuk saling mendekap satu sama lain―tidak rela untuk melepasnya.

 

FIN

 

Thank you for reading, hope you like it ^^

Don’t be a siders ne~ and please if you mind to see another kinds of my fics just visit http://kisekinofairy.wordpress.com ~

Iklan

13 pemikiran pada “Hug?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s