Seonsaengnim (Chapter 4)

Title: Seonsaengnim

 

Author: @diantrf

 

Cast:

Xiao Luhan, Park Chanyeol, Kim Junmyeon/Suho, Kim Jongdae/Chen (Exo)

Park Cheonsa (OC) | Others

 

Genre: Fantasy, School-life, Romance, Mystery | Rating: T | Length: Chaptered

 

Prev:

Part-1 | Part-2 | Part-3

 

0o0

 

“Bisa tolong buka bajunya sebentar?”

 

Mwo?! Andwae!”

 

Sontak aku menutup tubuhku dengan kedua tanganku—ya walaupun aku tahu itu sama sekali bukan tindakan berarti. Bayangkan saja, aku baru terbangun dari pingsan lima menit yang lalu dan tiba-tiba saja Luhan dengan seenak bicaranya menyuruhku untuk membuka bajuku. Apa-apaan itu?! Dasar pria mesum!

 

Aku semakin menarik selimutku yang semula berada sejajar dengan kakiku kini hampir menutupi seluruh tubuhku sampai leher. Luhan menatapku dengan jengah, ia semakin mendekat dan aku tentunya semakin merapatkan tubuhku ke kepala ranjang.

 

 

Oh ayolah, Cheonsa. Luhan hyung hanya ingin melihat bekas pukulan yang ada di bahumu.”

 

 

Tiba-tiba suara Chanyeol terdengar oleh telingaku. Sang empunya suara kini sedang berdiri menyandar daun pintu, tak lupa dengan tatapan kesalnya padaku. Ja-jadi, hanya ingin melihat lukaku? Bukan untuk macam-macam? Ya Tuhan, kenapa tak bilang daritadi?!

 

 

Ya! Makanya bicara yang jelas! Luhan tadi hanya menyuruhku untuk buka baju tanpa menjelaskan apapun lagi. Wajar kan jika aku panik?!”

 

 

Luhan malah tertawa tanpa dosa sedangkan Chanyeol tertawa jahat seperti biasanya. Aku memasang wajah kesalku—membuat pipiku yang mulus ini mendapat serangan menyebalkan dari Luhan. Entah mengapa semua orang senang sekali mencubit pipiku. Memangnya pipiku ini bakpao?

 

Akhirnya setelah tawa semuanya reda, Chanyeol menghampiri aku dan Luhan yang kini sedang duduk di ranjang. Chanyeol membawa sebuah kaca ukuran sedang dan mangkuk berisi air. Aku mengerutkan keningku. Apa yang akan mereka lakukan padaku?

 

Mereka menyuruhku untuk membuka bajuku sampai bahuku terlihat. Tenang saja, hanya bahu—karena aku menutupi tubuh bagian depanku dengan selimut. Aku sempat menangkap ekspresi aneh dari mereka berdua. Sebenarnya ada apa di bahuku?

 

 

Hyung, apakah bekasnya bisa hilang?”

 

“Mungkin. Tapi sepertinya akan lama.”

 

 

Bekas apa? Lama apa? Walaupun banyak pertanyaan yang hinggap di otakku, namun aku hanya diam dan memperhatikan kegiatan mereka. Chanyeol dengan tiba-tiba mengeluarkan sebuah pisau lipat dari kantung celananya. Untuk apa benda itu? Bukan untuk menyayat bahuku, kan?

 

 

“Luhan!”

 

 

Aku memekik kaget dan mataku membulat sempurna saat Luhan dengan cepat menggoreskan pisau itu di tangannya. Darah Luhan berwarna hitam, dan itu menetes bercampur dengan air yang berada di mangkuk tadi. Setelah selesai, bekas sayatan itu langsung Luhan tutup dengan kekuatannya, seolah tak terjadi apa-apa dengan tangan itu.

 

Luhan tersenyum kearahku dan mengacak poniku. Sepertinya ia ingin bilang jika ia baik-baik saja. Aku pun masih terus diam saat Luhan dengan perlahan mengusapkan air itu di bahuku dengan handuk. Rasanya dingin. Sangat dingin. Tapi bukan berarti airnya dingin atau apa. Dingin ini hampir sama dengan aura dingin vampire. Oh, bahkan darah mereka terasa dingin olehku.

 

 

“Kau tahu? Hanya orang yang dipukul yang bisa mengetahui siapa pelakunya.”

 

 

Aku menatap Luhan dengan heran. Sebenarnya tujuan mereka melakukan ini apa? Dan.. Seingatku kemarin aku sedang berjalan di koridor lalu tiba-tiba saja aku sudah terbangun lagi di kamarku. Aku sama sekali tak mengingat apapun tentang kejadian kemarin, dan mereka berdua dengan jahatnya tak memberitahukan apapun padaku.

 

 

“Baiklah Cheonsa, kau sudah dengar sendiri kan? Aku akan menaruh cermin ini berhadapan dengan bahumu, dan kau harus melihat siapa orang yang tergambar disana. Paham?”

 

 

Hanya anggukan yang aku jadikan sebagai jawaban. Luhan telah selesai mengusapkan handuk itu di bahuku. Chanyeol kini mulai menyesuaikan cermin itu dengan pandanganku. Aku menggunakan sebuah cermin kecil lagi untuk membantuku melihat pantulan gambar di belakang.

 

Dan betapa terkejutnya aku..

 

 

See? Jangan dekat-dekat dengan dia lagi, oke? Dan jangan pernah kemana-mana sendiri tanpa ditemani aku atau Chanyeol.”

 

 

Aku terdiam. Sungguh, benar-benar di luar nalar. Dia.. sebenarnya apa salahku padanya? Apa yang ia inginkan dariku? Dan apa tujuannya melakukan semua ini padaku? Aku bingung. Sungguh.

 

 

“Bolehkah aku pakai bajuku lagi sekarang? Disini dingin.”

 

“Biar aku hangatkan-“

 

“Luhan!”

 

0o0

 

Hari ini adalah hari terakhirku sekolah untuk sementara. Yap, besok aku dan Luhan akan melangsungkan acara pernikahan. Huh, waktu sangat cepat berlalu. Mungkin karena hidupku belakangan ini yang selalu dihantui vampirevampire aneh sehingga aku tak menyadari pergantian waktu dari hari ke hari.

 

Aku berangkat sekolah bersama Chanyeol karena Luhan harus mengerjakan segala tugasnya sebelum mengambil cuti pernikahan, ya seperti membuat soal tambahan atau menyiapkan tugas untuk murid yang lain. Dan dari detik pertama kami memijakkan kaki di sekolah sampai sekarang hendak sampai di kelas, Chanyeol sama sekali tak berminat untuk melepaskan genggaman tangannya dariku.

 

Mungkin banyak yang mengira jika Chanyeol adalah seorang sister complex. Namun sebenarnya Chanyeol hanya ingin melindungiku dan membuatku merasa aman. Dan mungkin karena Luhan yang selalu memperingatkan Chanyeol agar selalu menjagaku bagaimanapun caranya.

 

Jam pertama nanti adalah pelajaran Sastra. Aku sudah berhasil menginjakkan kakiku dengan selamat sampai kelas. Ketika aku masuk, seluruh teman kelasku memberikan ucapan selamat dan berjanji akan datang besok. Pasti besok akan ramai mengingat banyaknya tamu yang hadir. Satu sekolah ini diundang, belum lagi rekan-rekan bisnis dari keluargaku dan Luhan. Dan pastinnya akan sangat lama. Kakiku sudah siap-siap pegal untuk esok.

 

Chanyeol dan aku duduk di tempat kami masing-masing, dan tepat lima menit kemudian bel jam pertama berbunyi. Junmyeon seonsaeng telah memasuki kelas dengan tampilan seperti biasanya. Tak ada yang aneh. Setelah memberi salam, ia menuliskan dua judul lembaran sastra luar di papan tulis.

 

 

“Hari ini kita akan coba membandingkan penggunaan bahasa dari roman lama Represalii Dragost Vampiri dan sastra legenda Fo̱názei i̱ Theá Tou Ouranoú.”

 

 

Senyum lima juta watt itu menerangi kelas kami. Jangan salahkan aku, tapi teman-teman perempuanku yang selalu mengatakan kalau senyum Junmyeon seonsaeng jika diukur menggunakan satuan watt maka akan menunjukkan angka lima juta. Oke, itu terlalu berlebihan.

 

Teman-teman yang lain langsung menguap malas. Entah mengapa kali ini wajah tampan Junmyeon seonsaeng tak mampu membuat semua murid semangat. Bayangkan saja, betapa membosankannya membahas materi sastra seperti itu.

 

Namun berbanding terbalik denganku. Aku sangat semangat jika sudah membicarakan sastra rumit seperti ini. Rasanya seperti kita kembali ke masa lalu dan memerankan peran sang tokoh utama dalam cerita. Apalagi sastra lama itu memiliki seni penulisannya tersendiri, seakan kata-kata yang tertuang disana adalah berdasarkan pengalaman pribadi sang penyair itu sendiri.

 

Oh iya, Represalii Dragoste Vampiri adalah sastra yang dibuat tahun 1063 oleh sastrawan asal Rumania yang tinggal di daerah Konstantinopel, bertepatan dengan dimulainya Perang Salib. Namanya masih dirahasiakan sampai saat ini, namun yang membuatku tertarik adalah penggunaan bahasanya. Jika diterjemahkan, lembaran ini berisikan tentang pembalasan cinta seorang vampire terhadap gadis bangsawan. Dan aku sangat menyukai salah satu rama tulisannya.

 

 

“Aku menghisap jiwanya, bukan darahnya yang mengalir. Aku mencintai raganya, bukan dirinya yang tunduk kepadaku.”

 

 

Sudah puluhan kali aku menerjemahkan maksud kalimat itu, tapi selalu buntu. Bahkan aku sudah sering bertanya pada kakek ataupun Chanyeol. Huh, jangan mengandalkan Chanyeol dalam acara pemecahan sastra seperti ini. Ia hanya akan tertawa karena melihatku yang terlalu terobsesi dengan kalimat itu.

 

Dan Fo̱názei i̱ Theá Tou Ouranoú adalah sastra yang ditulis oleh seorang sastrawan asal Yunani. Ia tinggal di Athena dan dibesarkan disana. Sastra ini menceritakan tentang Nyx—dewi malam—yang dikhianati oleh Zeus. Dan jika diartikan, sastra ini berarti Tangisan Dewi Langit. Sampai saat ini, air mata Nyx dipercaya menjelma menjadi butiran bintang di langit. Lihatlah mana rasi bintang yang paling bersinar di barat daya khatulistiwa, dan kau akan menemukan keberadaannya. Dan aku paling menyukai kalimat ini.

 

 

“Tiap butirannya adalah pecahan langit yang menghilang.”

 

 

Oke, aku memang sering lupa waktu jika sudah membicarakan tentang sastra. Kita kembali ke kelas. Murid-murid diminta untuk mencari sastra-sastra ini di internet. Oh iya, kelas-kelas di sekolah ini dilengkapi dengan komputer masing-masing di setiap mejanya. Sangat canggih, hehe.

 

Junmyeon seonsaeng membagi kami dalam dua kelompok, dan aku mendapat tugas untuk mengamati pola sastra Represalii Dragoste Vampiri. Aku sekilas melihat Chanyeol di tempat duduknya. Ia juga mendapat tugas yang sama denganku, dan entah kenapa wajahnya terlihat sangat serius. Tak lama, ia menoleh kearahku. Sepertinya sisi serius Chanyeol sedang keluar saat ini.

 

 

Psstt, Cheonsa. Coba perhatikan halaman 522 paragraf pertama.”

 

 

Aku mengerutkan keningku. Saat ini aku sedang membandingkan percakapan antara înger dengan Diavol. Tapi baiklah, jarang-jarang kan Chanyeol serius seperti ini. Mungkin ia hanya penasaran dengan maksud dari paragraf itu. Aku pun me-minimize halamanku dan beralih mencari paragraf yang Chanyeol maksud.

 

 

“Dikatakan bahwa aku adalah iblis berhati malaikat. Cintaku abadi. Bagaimanapun ia pergi, aku pasti akan tetap menemukannya di kehidupan yang lain. Keabadian ini menyiksaku, seakan aku hidup hanya untuk diperbudak oleh hal yang tak pasti. Namun cinta tak pernah berpijak di satu tanah, ia akan selalu berpaling ke arah mata angin yang lain. Darahnya selalu menghantuiku. Dan suatu saat nanti darahnya akan tersegel sedangkan aku menanti waktu untuk pembalasan cintaku.”

 

 

Kini aku bingung. Tak ada yang aneh dengan kalimat ini—kurasa. Chanyeol menunggu komentarku, dan kini ia semakin mendekatkan kursinya denganku. Mungkin ada sesuatu yang ingin ia sampaikan padaku. Junmyeon seonsaeng masih betah duduk di kursinya, kurasa kami tak akan ketahuan. Ia bisa mengira bahwa kami sedang saling mencontek jika seperti ini.

 

 

“Junmyeon seonsaeng pernah berkata padaku bahwa ia adalah iblis berhati malaikat, ya walaupun hanya bercanda. Dan kau tahu kan jika dia itu vampire yang hidupnya abadi? Apakah kau bisa membaca apa yang sedang aku pikirkan?”

 

 

Oke, mari kita pecahkan teka-teki dari Chanyeol. Iblis berhati malaikat—anggap saja itu Junmyeon seonsaeng. Keabadian yang menyiksa—aku yakin jika itu ungkapan lain untuk vampire yang hidupnya abadi. Ia yang dimaksud disini pastilah sang gadis dalam cerita. Cintanya tak pernah berpijak di satu tanah? Oh, mungkin gadis yang sang vampire cintai selalu bereinkarnasi di tempat dan waktu yang tak pasti. Darahnya selalu menghantuiku—mungkin darah sang gadis mengandung sesuatu yang istimewa bagi si vampire. Dan suatu saat nanti darahnya akan tersegel

 

 

Deg!

 

 

Jika werewolf punya wolf-print, aku juga punya vampire-print.

 

 

Aku teringat dengan kata-kata Luhan. Ia memberikanku vampire-print-nya agar tak ada vampire lain yang menggangguku. Mungkinkah.. yang dimaksud darah yang disegel itu…

 

 

“Kurasa sastra ini buatan Junmyeon seonsaeng berabad yang lalu, mengingat ia sangat lancar menjelaskan tentang perang salib padaku beberapa hari yang lalu. Aku memang sudah curiga padanya karena ia selalu berusaha untuk mencelakakanmu. Kau masih ingat kan siapa yang tergambar di bekas lukamu kemarin?”

 

 

Itu benar. Aku sangat shock saat melihat ternyata wajah Junmyeon seonsaeng yang terlihat. Dan walaupun aku tak mengingat kejadian kemarin, namun aku masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana tatapan mata Junmyeon seonsaeng padaku. Bagaimana aura dinginnya yang sangat menusuk, dan bagaimana cara ia tersenyum padaku.

 

 

“Sastra ini adalah kisah hidup sekaligus ramalan Junmyeon seonsaeng tentang masa depan, dan semakin diperkuat karena nama penulisnya tidak diketahui sampai saat ini. Dan menurutku kau adalah reinkarnasi gadis yang ia cintai pada masa itu. Cheonsa, kau harus lebih hati-hati. Ia tak akan membiarkanmu menikah dengan Luhan hyung begitu saja.”

 

 

Chanyeol menatapku prihatin, dan aku hanya bisa terdiam sambil menutup mulutku—takut nanti mengeluarkan pekikan histeris secara tiba-tiba. Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Jika benar sastra ini buatan Junmyeon seonsaeng dan gadis dalam cerita itu adalah aku..

 

Dan aku baru menyadari satu hal lagi. Tokoh cerita itu. Diavol—sang vampire—jika diterjemahkan berarti iblis. Dan înger—sang gadis—jika diterjemahkan berarti malaikat. Angel—Cheonsa. Aku. Dari masa ke masa, nama sang gadis selalu berarti ‘malaikat’—walaupun dengan penggunaan bahasa yang berbeda-beda. Dan di Korea ini, namaku berarti malaikat. Sang gadis itu ternyata memang benar aku. Dan kulihat saat ini Junmyeon seonsaeng tengah menatapku dengan senyum manisnya, yang bagiku terlihat mengerikan.

 

0o0

 

Jongdae sunbae memanggilku untuk menemuinya di ruang Majelis—ruangan yang berisikan mantan pengurus OSIS kelas tiga. Mereka-lah yang mengawasi jalannya kepengurusan OSIS yang dipegang oleh Sehun beserta yang lainnya. Setelah pelajaran Sastra tadi, aku mendapat pesan dari Jongdae sunbae untuk menemuinya saat jam istirahat.

 

Dan disinilah aku, duduk diam di bangku yang berada di depan ruang Majelis. Ada perlu apa dia denganku? Sudah sekitar lima menit aku menunggunya disini. Untung saja sekarang aku sedang tak nafsu makan dan mengabaikan ajakan Chanyeol untuk pergi ke kantin.

 

Luhan juga hari ini sama sekali tak terlihat. Apakah ia benar-benar sibuk? Mengingat tugasnya di sekolah ini sebagai guru Matematika, Bahasa Inggris, guru Konseling, sekaligus menjadi wali kelasku. Mengapa kakek memberikan Luhan tugas sebanyak itu? Kasihan juga melihatnya yang kurus itu mengerjakan tugas yang lumayan banyak.

 

 

“Hei, maaf membuatmu menunggu. Tadi Jinyoung meminta agenda acara kelulusan padaku dan aku dengan terpaksa harus menggeledah laptop-ku untuk mencarinya.”

 

 

Seperti biasa, Jongdae sunbae tersenyum dengan manis dan gaya bicaranya yang riang. Ia membuka ruangannya dan menyuruhku untuk duduk. Ruangannya terpisah dengan ruang rapat—tentu saja karena ia mantan ketua OSIS. Dan katanya ruangan ini kedap suara sehingga orang yang di luar tak dapat mendengar percakapan di dalam. Bagus.

 

Ia mengambilkanku sekotak jus jeruk. Ruangan ini sepertinya sudah seperti kamar pribadinya. Memang sudah menjadi rahasia umum jika pengurus OSIS dan Majelis mendapatkan fasilitas yang sangat memadai dari pihak sekolah. Tapi tetap saja aku sama sekali tak tertarik dengan iming-iming itu. Menjadi pengurus OSIS sangat merepotkan.

 

 

“Kurasa aku harus jujur padamu mulai sekarang.”

 

 

Wajah ceria itu kini berubah menjadi serius. Entah mengapa perasaanku selalu mendadak tak enak jika seseorang sudah berkata ‘aku harus jujur’. Kalimat itu terasa mengerikan di telingaku. Dan kenapa akhir-akhir ini orang-orang di sekitarku selalu bertampang serius?

 

 

“Sebenarnya aku berasal dari zaman yang sama dengan Junmyeon seonsaeng, namun aku hanya lebih muda beberapa ratus tahun darinya.”

 

 

Oke, kejutan lainnya di hari ini. Belum hilang rasa terkejutku akan fakta saat pelajaran Sastra tadi, dan sekarang ada fakta mengerikan lagi yang harus aku ketahui. Mengetahui sekolah ini berisikan banyak vampire saja aku sudah ketakutan dan tak tenang, kini ditambah lagi dengan kenyataan ada vampire yang mencoba untuk mencelakakanku.

 

Dan apa yang ingin Jongdae sunbae sampaikan sebenarnya? Memangnya mengapa jika ia berasal dari zaman yang sama dengan Junmyeon seonsaeng? Apakah itu suatu hal yang buruk? Atau jangan-jangan.. Ada rahasia tersembunyi lagi di balik kedekatan mereka.

 

 

“Aku sahabat dari înger. Waktu itu aku menjadi penasihat raja yang merupakan ayah dari înger, dan ayahnya juga mempercayaiku untuk menjaga puterinya. Bahkan aku sampai dijodohkan dengannya.”

 

 

Benar kan dugaanku, banyak fakta tersembunyi yang sama sekali tak terpikirkan oleh nalarku. Semuanya terlalu semu dan menyebalkan seperti fairytale. Aku hanya diam, antara takut mendengar kalimat selanjutnya atau terlalu larut dalam dongeng menyebalkan ini. Dan sayangnya dongeng ini adalah sebuah kenyataan.

 

 

“Aku mencintai înger, namun dia hanya menganggapku sebagai sahabatnya. Aku menerima keputusannya dan mulai bisa mengikhlaskannya. Dan setelah aku selidiki, ternyata înger mencintai seorang pemuda yang ternyata adalah vampire juga sepertiku. Padahal awalnya aku mengira hanya aku vampire yang hidup di daerah itu, ternyata tidak.”

 

 

Yap, vampire itu adalah Junmyeon seonsaeng—yang nama aslinya adalah Diavol. Jongdae sunbae tidak berbohong. Semua yang dikatakannya sangat persis dengan apa yang kubaca dalam sastra buatan Junmyeon seonsaeng. Aku mulai memahami apa yang terjadi sebenarnya, namun masih ada beberapa fakta yang kabur dan belum tertangkap jelas olehku.

 

 

“Ini akan panjang jika diceritakan, jadi aku hanya akan memberitahukanmu intinya saja. Bahwa kamu adalah reinkarnasi dari sahabatku, untuk itulah aku selalu mengawasimu. Dan Junmyeon tak akan berhenti sampai ia mendapatkan apa yang ia cari-”

 

 

  1. .Tok..

 

 

Sial, pintu ruangannya ada yang mengetuk. Jongdae sunbae bangkit lalu berjalan menuju pintu. Saat pintu terbuka, aku sempat melihat sosok Sehun berdiri disana. Ada perlu apa Sehun datang kemari?

 

 

  1. .

 

 

Dan mereka berdua hilang. Oh tidak, aku sedang di ujung rasa penasaran dan sekarang Jongdae sunbae menghilang tiba-tiba bersama Sehun. Apa sebenarnya yang terjadi? Mengapa semua ini semakin rumit? Dan mengapa harus aku? Mengapa înger harus bereinkarnasi dalam diriku? Baiklah, sudah aku putuskan. Jika tak ada seorang pun yang mau menceritakan tentang sejarah itu, maka aku akan mencari tahu sendiri. Tak peduli bagaimana nantinya—apakah aku masih bisa hidup dengan tenang atau tidak—aku akan menguak semuanya sampai lapisan terdalam. Lihat saja.

 

0o0

 

Saat aku sampai di rumah, Luhan telah duduk manis di ruang tamu dan memarahiku karena aku pulang sendiri dan tak menunggu Chanyeol. Bukannya bagaimana, Chanyeol sedang rapat dengan anggota tim basket lain dan akan sangat lama jika aku menunggunya. Maka dari itu aku pulang bersama Myungsoo tadi—yang baru kuketahui bahwa rumahnya hanya berbeda beberapa blok dari rumahku.

 

Aku sama sekali tak mempedulikan ocehan Luhan dan langsung menaiki tangga menuju kamarku. Aku mengunci pintu dan mengganti bajuku lalu langsung duduk di ranjang dengan laptop menyala di depanku. Aku juga sempat mengambil beberapa buku Historical Vampire milik kakek dan tentunya lembaran sastra Represalii Dragoste Vampiri.

 

Dan betapa bodohnya aku. Untuk apa repot-repot mengunci pintu jika Luhan memiliki kekuatan teleportasi? Ia kini tengah menatapku dengan kesal di daun pintu. Aku pura-pura tak melihatnya dan kini sedang mencoba mencari sumber-sumber buku dan bagaimana sejarahnya. Bahkan sampai kini Luhan duduk di pinggir ranjang pun aku masih sibuk dengan laptop-ku.

 

 

“Ada perlu apa kamu dengan semua buku ini?”

 

 

Dasar Luhan. Ia memainkan buku Historical milik kakek di tangannya. Aku ingin sekali memukul wajahnya yang kini menampilkan ekspresi sok cool menyebalkan itu. Tapi otakku masih waras dan lebih memilih untuk tetap mengabaikannya dan fokus dengan apa yang aku cari.

 

Seingatku, jika Jongdae sunbae adalah sahabat dari înger, berarti nama aslinya ialah Păzitor. Aku terus membaca dan memahami seluk-beluk cerita itu, mulai dari buku aslinya sampai sumber cerita aslinya di internet. Dan saat aku sudah hampir menemukan titik terang..

 

 

Ya! Luhan, kembalikan!”

 

 

Luhan mengambil laptop-ku dan langsung menutupnya tanpa belas kasih. Oke, semua data yang aku cari tadi hilang—kecuali back-up otomatisnya tak lupa aku nyalakan. Semoga saja datanya tak hilang. Dasar Luhan menyebalkan!

 

 

“Luhan, kembalikan..”

 

 

Aku merajuk seperti anak kecil. Ini memalukan, aku tak suka memohon seperti ini pada siapapun—kecuali Chanyeol. Luhan menghilangkan laptop-ku begitu saja—seenaknya saja menggunakan kekuatannya. Kini ia duduk bersila di ranjang menghadapku, menatapku dengan kesal. Lebih kesal mana denganku? Seenaknya saja mengganggu pekerjaan orang lain.

 

 

“Luhan, ayolah jangan seperti anak kecil. Aku butuh laptop itu-“

 

“Aku juga butuh untuk bicara denganmu. Besok kita akan menikah, tolong jangan lupakan hal itu.”

 

 

Egoku sangat besar saat ini. Aku takut jika hari ini aku belum menemukan titik terang kebenaran, maka besok aku tak siap jika Junmyeon seonsaeng benar akan mengacaukan pernikahanku dan Luhan. Aku harus tahu kelemahannya—walau hanya setitik debu sekalipun. Aku tak mau hidupku hancur hanya karena takdir masa laluku yang kejam.

 

 

“Luhan.. bisakah jika kita menunda pernika-mmpphh..”

 

 

Bagus. Sudah seenaknya menghilangkan laptop-ku dan kini ia dengan tiba-tiba menarik tengkukku lalu mencium bibirku. Ia pasti tak ingin aku meneruskan kalimatku tadi. Iya, entah mengapa aku ingin agar pernikahan kami ditunda. Bukannya aku ragu atau apa. Aku hanya perlu sedikit perpanjangan waktu untuk mengungkap semua misteri ini. Aku terlalu bingung dan takut. Walaupun banyak yang melindungiku, namun tetap saja ketakutan itu menggerogotiku sampai ke tulang.

 

Ia menciumku sedikit kasar, mungkin karena sedih dan kecewa. Aku bisa merasakan apa yang Luhan rasa. Pasti rasanya sangat sakit saat orang yang kau cintai tiba-tiba merasa ragu denganmu. Aku jadi penasaran, apakah Luhan termasuk dalam sejarah kejamku ini? Siapa tokoh Luhan dalam cerita terdahulu? Aku hanya diam memikirkan semua ini disaat Luhan masih terus menciumi bibirku.

 

 

Akh!

 

 

Oh tidak, apa lagi ini? Mengapa bahuku terasa terbakar dan sangat sakit? Ini semakin sakit dan aku tak kuat lagi. Aku mencoba untuk mendorong tubuh Luhan agar menjauh dariku, namun sepertinya ia masih tak ingin melepasku. Tapi demi Tuhan ini sungguh sakit. Dan beberapa detik setelahnya, akhirnya Luhan melepaskan dirinya dariku.

 

 

“Lu..i-ini..sakit..”

 

 

Aku terus memegangi bahuku dan Luhan kaget seketika. Ia membaringkanku dengan posisi menyamping dan melihat apa penyebab kesakitanku. Dapat kulihat ia membulatkan mata karena terkejut dengan apa yang ia lihat di bahuku. Ada apa lagi? Mengapa masalah seperti tak ada ujungnya di hidupku?

 

Bukannya menolongku, Luhan justru menghilang dengan tiba-tiba. Aku masih memegangi bahuku  karena rasa sakit ini belum hilang. Tak selang lama, Chanyeol langsung mendobrak pintu kamarku yang terkunci. Tentu saja, Chanyeol tidak bisa teleportasi. Ia langsung duduk di sampingku dan membuka bajuku sampai bahuku terlihat. Dan ajaibnya, rasa sakit ini langsung hilang saat ia mengusapkan tangannya di bahuku.

 

Aku langsung memeluknya, menangis sejadi-jadinya dalam pelukannya. Aku tak mengerti, mengapa Luhan meninggalkanku begitu saja? Kenapa ia tak menolongku? Chanyeol mengusap kepalaku untuk menenangkanku. Sungguh, aku tak mengerti dengan jalan pikiran Luhan.

 

 

“Luhan jahat..hiks.. Kenapa ia meninggalkanku?”

 

 

Chanyeol masih terus menenangkanku. Ia hanya diam, dan ekspresinya datar. Bukan ekspresi konyol saat ia tertawa. Bukan ekspresi serius saat di kelas. Bukan pula ekspresi panik seperti saat ia kehilangan hamster kesayangannya. Seolah-olah aku ini sangat mengenaskan di matanya.

 

 

“Cheonsa, kebenaran itu akan terungkap perlahan. Dan jangan terlalu sering melihat situasi hanya dari satu sudut pandang.”

 

 

Inilah yang selalu membuatku merasa nyaman saat bersama Chanyeol. Suara bass-nya yang terdengar menenangkan bagiku. Dan walaupun ia senang bercanda, tapi ia selalu menasihatiku dengan kata-kata bijak yang berguna untukku. Mungkin karena terlalu nyaman berada di pelukannya, tanpa sadar aku tertidur. Melupakan sejenak segala permasalahan dalam hidupku. Hanya untuk sejenak, sebelum aku kembali lagi menjalani hidup yang menyedihkan ini.

 

 

TBC

 

 

Entah mendapat ilham dari mana, Angel ngerjain chapter ini dengan sangat lancar. Ide seakan ngalir gitu aja. Dan Angel udah menemukan titik terang di ff ini dan mau dibawa kemana ff ini nanti #gilabahasanyakerenhehe. Ngerti ga sama cerita chapter ini? Yang soal sastra itu, ribet ga menurut kalian? Atau susah dipahami? Maaf ya kalo bingung, emang ide itu yang muncul, hehe.

Dan jangan terlalu anggap serius ya. Semua unsur yang ada di ff ini cuma khayalan Angel aja. Kalo kalian penasaran sama sastra itu, mau dicari kemana pun juga ga akan ada karena cuma ada di otak Angel hehe. Jadi jangan coba-coba nyari di search engine ya, karena ga akan ketemu.

Cast cerita ini juga akan nambah terus. Walaupun Angel cuma nulis Luhan-Chanyeol-Cheonsa sebagai castnya, tapi sebenernya masih banyak banget cast di dalamnya. Gila, capek banget ngetiknya kalo harus dipampang semua castnya.

Dan antagonisnya disini adalaaaahh Kim Junmyeon, leader mempesona yang asik banget buat dibully, wkwk. Karena pembullyan adalah tanda cinta yang bermakna tersembunyi.

Biarin deh ya kali-kali promosi, hehe. Jangan lupa terus ikutin HunSa seriesnya. Jangan lupa ikutin The Twelve Mission-nya. Dan Angel ada ff baru lagi yaitu Wolf’s Eternal Love—kolaborasi bareng penulis lain.

Terakhir nih, tenang aja. Buat yang suka nanyain WP pribadi Angel => klikdisini maaf baru bisa ngasih tau karena emang baru selesai dirombak. Annyeong^^

Iklan

159 pemikiran pada “Seonsaengnim (Chapter 4)

  1. Sebenernya kenapa lagi sama bahu cheonsa? Terus luhan apa apaan main ngilang aja kan cheonsa jadi salah paham dan mikir dia jahat ckck. Okay aku next yaa

  2. Jadi yg melukai cheonsa itu adl joonmyeon toh krn cheonsa itu gadisnya di beberapa tahun yang lalu, wahhhhhh cheonsa sm luhan hrs berhati hati dunk biar nnt pernikahannya ttp berjalan…itu knp luhan meninggalkan cheonsa kyk gt hbs kiss kiss cheonsa kasar bgt lagi, pas cheonsa kesakitan itu ditinggallin begitu aja….luhan kau tega sekali….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s