Werewolf Beside You (Chapter 2)

Werewolf Beside You

 

 

chankj

 

 

늑대 인간, 당신 옆에 (Chapter 2)

by Ayeolaa Park

Cast: Lee Sara (OC), Park Chanyeol (as Werewolf), Park Chanyeol (as Human), Kim Jongin, Wu Yifan, and other cast || Length: Multichapter || Genre: Fantasy, Tragedy, Thriller, and Romance.

Ratting: PG

Inspiration: Novel/Movies: Werewolf Boy

Disclaimer:

PURE CREATED BY ME! NO PLAGIARISM!

DO NOT COPY-PASTE WITHOUT MY PERMISSION!

Maaf, typo bersebaran dimana-mana. Bahasa dan penggunaan kata mungkin jauh dari kata bagus. Masih amatir dan mainstream karena baru pemula. Well, happy reading!

Pertemuan singkat antara 2 makhluk yang berbeda… Dan terasa seperti ‘dejavu’.

“Perkenalkan… Aku… Aku Lee Sara. Penghuni baru rumah sebelah.”

“Aku Park Chanyeol.”

 

Rasa ‘cinta’ adalah perasaan yang baru ia rasakan membuatnya merasa lemah.

“Chanyeol… Bolehkah aku mencintaimu?”

“Kupikir… Aku tidak pantas untuk kau cintai, Sara.”

“Tapi… Aku rasa… Aku mencintaimu, Park Chanyeol.”

“Aku juga mencintaimu, Lee Sara.”

Namun, mereka harus berpisah karena adanya perbedaan.

 

 

 

CHAPTER 2…

 

“Aku Park Chanyeol.”

 

Ucap sang pemilik rumah dengan nada yang agak bergetar. Ternyata, pemilik rumah tua ini adalah seorang pemuda yang mungkin sebaya dengan Sara. Namun, hati Sara masih bertanya-tanya.  Apa hanya halusinasi atau imajinasinya saja yang ia alami tadi malam? Tapi, suara lolongan dan makhluk itu sangat jelas sekali diingatannya.

Tapi, Sara mencoba menghilangkan rasa penasarannya. Ia menatap pemuda itu tanpa berkedip selama 5 detik. Makhluk kumal yang ia lihat tadi malam sangat berbeda kontras dengan makhluk yang ada di depannya kini. Satu kata yang keluar dari mata hati Sara yang pertama untuk pemuda itu adalah ‘tampan’.

“Ehm.” Pemuda itu berdeham karena merasa tidak nyaman diperhatikan terus seperti itu.

Cepat-cepat Sara menunduk dan membuka keranjangnya, mengambil sebuah toples berisi kue kering musim dingin yang ibunya buat. Kemudian menyerahkan pada pemuda itu takut-takut. Takut-takut tidak diterima oleh pemuda itu. Pemuda itu memerhatikan tangan Sara yang terulur di depan dadanya dengan ekspresi terkejut. Untunglah, sang pemuda itu menerima toples itu masih dengan ekspresi  yang bertanya-tanya.

“Ini dari ibuku, semoga kau menyukainya. Permisi.” Ujar Sara dan segera berbalik. Meninggalkan pemuda yang berdiri mematung menatapnya.

Saat Sara sudah melangkahkan kaki sekitar 2 langkah, pemuda itu melirik toples itu dan lengkungan kecil terlukis di bibirnya. Tepat pada 2 langkah kaki Sara, Sara merasa pening yang luar biasa. Kedua rongga hidungnya terasa bau hanyir seperti darah. Ia segera mengeluarkan sapu tangan yang selalu ia bawa di saku roknya. Dan menutup hidungnya dengan itu. Mencoba memastikan apa yang terjadi dengan hidungnya, ia menarik sapu tangannya. Betapa terkejutnya ia melihat noda merah pekat di sapu tangannya.

Dia mimisan. Pening kembali mengutuk kepalanya dan rasanya ia ingin segera tumbang dari tempat dimana ia berdiri. Ia belum melewati pagar rumah sang pemilik rumah. Tiba-tiba semua pandangan Sara menjadi redup dan menghitam. Semuanya pudar perlahan. Ia pun jatuh, terkulai lemas di halaman rumah milik pemuda itu.

 

 

 

 

Mata Sara membuka perlahan. Rasa pening masih ia rasakan sampai saat ini. Rasa empuk yang pasalnya tanah keras tergantikan. Sara dimana? Ia berpikir, kini ia berada di rumah sakit. Namun tidak, dia berada di sebuah kamar tidur. Bukan kamar tidur yang ada di rumahnya. Ia tahu betul rumahnya tak sekotor ini karena debu, ia yakin tidak ada cermin berbentuk oval dan berukuran besar di rumahnya. Ia sama sekali tidak tau dia ada dimana ia sekarang.

Sara pun bangkit. Melemaskan punggungnya di lengan ranjang yang berukuran besar ini. Apa dia tidur panjang disini? Sepertinya tidak. Rambutnya masih sepinggang, kukunya masih pendek, dan pakaiannya masih dalam keadaan baik.

“Kau sudah bangun rupanya.” Suara rendah mengalihkan pandangannya dari cermin oval yang besar itu ke asal suara. Itu sang pemilik rumah.

Secara tidak langsung, Sara gagal meyakinkan dirinya takkan pernah mau masuk ke dalam rumah tua bercat putih yang ia takuti kemarin. Pemuda itu mendekat sambil membawakan segelas air putih bersih dan meletakkannya di meja sebelah ranjang. Menatap Sara dengan muka datar.

“Uhuk… Uhuk…” Suara batuk disertai degungan keras keluar dari mulut Sara menggema ke seluruh ruangan, bahkan seisi rumah. Menambah suasana ‘menyeramkan’ di rumah ini. Dan juga, membuatnya sedikit bergidik ngeri.

Gwaechana?” Tanya pemuda itu lembut. Lembut sekali. Kini, posisi pemuda itu duduk di samping Sara. Pemuda itu segera menyodorkan air putih yang ia letakkan di meja sebelah ranjang.

Untungnya, tidak ada darah keluar dari mulutnya. Dan hanya batuk biasa. Masih dengan tangan yang mengepal menutup mulut, Sara menerima gelas berisi air putih yang pemuda itu berikan. Secara tidak sengaja, Sara menyentuh jari-jari besar pemuda itu yang menempel di gelas. Otomatis, mata mereka kini bertemu. Untuk kesekian detik, Sara menatap dalam kedua bola mata pemuda itu. Mata pemuda itu tidak hitam sempurna, cahaya merah terpancar dari matanya. Membuatnya sedikit takut.

Sebenarnya, Sara tak ingin melepas momen indah ini. Sara masih dalam kesadarannya. Ia berdeham dan menarik pelan gelas dan meneguknya lembut. Menyisakan setengah gelas air. Sebenarnya, rasa batuknya sudah hilang saat mereka saling bertatapan lama.

Gomawo.” Ucap Sara malu-malu sambil mengusap pelan bibirnya yang basah.

“K-kau… Yang membawaku kemari?” Sara angkat bicara. Pemuda yang bernama Park Chanyeol itu pun mengangguk sembari meletakkan kembali gelas di meja.

Sara kira, Jongin-lah yang akan menolongnya dan membawanya ke rumah sakit. Dan Jongin-lah yang menjadi orang pertama yang ia lihat dan seharusnya yang memberikannya segelas air kepadanya. Ia salah, tak dipungkiri, pemuda yang memiliki rumah tua ini yang membawanya kemari, menjadi orang pertama yang ia lihat, dan menyodorkan segelas air kepadanya.

Chanyeol mengangkat tubuh jangkungnya dan berdiri membelakangi Sara. Melirik Sara sejenak dan kembali dalam posisinya. Ia menghirup udara dan membuangnya berat. Kemudian kepalanya tertunduk, masih membelakangi Sara. Sara menatap punggung lebar Chanyeol dengan perasaan yang masih bertanya-tanya, siapa pemuda ini sebenarnya? Chanyeol pun mengangkat tubuhnya tegak.

“Sebaiknya, kau pulang sekarang. Kalau perlu, jangan pernah kembali kemari…”  Ujar Chanyeol tegas. Mata Sara membulat seketika melihat punggung itu. Seakan bola matanya akan keluar.

“K-kau… Kau makhluk yang… semalam?” Sara bertanya dengan nada bergetar. Takut-takut makhluk yang ada di depannya akan membunuhnya kapan pun makhluk ini mau.

Jantung Sara berdebar, matanya memanas, hati dan bibirnya makin bergetar hebat. Bilamana jawaban dari bibir Chanyeol berkata iya atau bisa mengangguk singkat dan segera menyergap Sara.

 

Oh” (ya)

 

Jawab Chanyeol singkat dengan punggung yang menekuk.

Sara menggigit bibir bagian bawahnya cukup kuat. Ia takut dengan makhluk yang ada di depannya ini. Ia takut dibunuh dengan cara yang tidak wajar oleh makhluk yang ada di depannya ini. Ia tau betul, serigala. Bagaimana ia menghabisi mangsanya dan bagaimana ia memakan mangsanya.

Karena pikirannya tentang serigala yang menakutkan, ia menggeleng pelan kepalanya. Ia tidak percaya, bahwa Chanyeol adalah jelmaan makhluk menyeramkan yang ia lihat tadi malam. Karena itu sangat tidak mungkin. Chanyeol terlihat seperti manusia biasa dengan tubuh yang sempurna di mata Sara. Namun disisi lain, Chanyeol adalah jelmaan pembunuh yang menyeramkan. Sara takut.

“Itu tidak mungkin…” Lirih Sara sambil menutup mulutnya dengan tangan kanannya.

Chanyeol menghembuskan nafasnya berat. Kaki jenjangnya melangkah keluar ruangan. Meninggalkan suara jejak tapak kaki yang bergema. Membuat Sara bergidik ngeri.

Sara pun bangkit dari ranjang. Dan melangkahkan kakinya yang bergemetar untuk pulang. Ia menggigit jarinya keluar ruangan dan melihat interior rumah tua milik Chanyeol ini, gelap. Tirai-tirai yang ada di setiap jendela tertutup rapat. Ia menjejakkan kaki mungilnya di tangga yang berdebu tebal dan megah ini. Ia melihat Chanyeol duduk di sebuah sofa dengan muka yang tertutup tangan.

Setelah turun dari tangga. Otak Sara mengatakan untuk berlari dan meninggalkan Chanyeol, namun hatinya berkata untuk mendekat dan menyentuh tangan bersih Chanyeol. Entah mengapa, kakinya berjalan sendiri mendekati Chanyeol. Ia menatap Chanyeol dengan tubuh yang bergetar. Tangannya terayun, namun tak memegang tangan Chanyeol sedikit pun.

Ia ingin berteman dengan Chanyeol, karena ia tidak meiliki teman saat ini. Tapi, disisi lain, dia siap untuk menanggung masalah, jika Chanyeol akan membunuhnya. Toh, Sara juga ingin segera menyelesaikan hidupnya.

Perlahan, tangan Chanyeol pun turun dan menampakkan setengah wajahnya. Tubuh Sara makin bergetar, ia melihat mata Chanyeol yang kini berwarna merah menyala. Ia mundur satu langkah, dan beberapa langkah sampai punggungnya mengenai tembok.

Kini, tangan Chanyeol sudah turun. Memperlihatkan wajah tampannya. Chanyeol menatap datar Sara yang menatapnya tanpa ekspresi. Ia semakin mendekat. Tangan Chanyeol kini sudah mengunci tubuh Sara yang bergemetar hebat. Wajahnya semakin dekat dengan Sara.

Sara menyadari, sedaritadi Chanyeol memerhatikan lehernya. Ia sudah membayangkan, taring keluar dari mulut Chanyeol dan mencabik-cabik lehernya.

“Kau… ingin membunuhku?” Tanya Sara polos. Namun tak mendapat respon dari Chanyeol.

Karena, wajah mereka terlalu dekat, Sara pun memalingkan mukanya ke samping. Makin tereksposlah leher Sara di mata Chanyeol. Sehingga Chanyeol ingin segera menggigit leher Sara.

Mata Sara menutup erat, seakan takkan merasa apapun saat makhluk yang dihadapannya menghabisi dirinya. Sara tak dapat berkata apapun, inilah ajalnya. Dihabisi manusia serigala. Nafasnya makin memburu saat nafas hangat Chanyeol menyentuh halus permukaan lehernya. Hanya secenti meter lagi, Chanyeol bisa menghabisi lehernya. Namun, tangan Chanyeol tiba-tiba menurun dan menundukkan kepalanya. Mata merah Chanyeol pun memudar perlahan.

Kepala Chanyeol semakin menjauh dari kepala Sara, Sara pun menoleh menatap Chanyeol yang ternyata tidak jadi menghabisinya.

WaeWae… kenapa kau berhenti?” Sara bertanya. Rambut hitam Chanyeol adalah pemandangannya. Ia ingin mengangkat wajah Chanyeol agar menatapnya, tapi ia masih takut berkontak mata dengan Chanyeol. Hening seketika.

“Aku… Aku tidak bisa…” Rintih Chanyeol dengan penuh penyesalan.

“Park Chanyeol…” Sara memanggil Chanyeol, lengkap dengan marganya. Chanyeol pun menatap manik mata indah milik Sara. Sara menelan salivanya berat karena tatapan Chanyeol yang kini hanya untuk Sara. Sehingga Sara dapat melihat pantulan dirinya di bola mata Chanyeol.

“Jadilah temanku…” Tanya Sara takut-takut, ia ingin sekali mendapat jawaban ‘ya’ dari mulut Chanyeol.

“Te-teman?” Chanyeol malah bertanya balik dan menatap Sara tidak percaya. Seorang manusia mengajaknya menjalin hubungan sebuah tali pertemanan. Apa ini mimpi indah bagi Chanyeol?

“Ya, aku percaya padamu.” Ujar Sara meyakinkan dengan matanya yang berbinar-binar.

“Kau… percaya denganku?” Tanya Chanyeol kembali meyakinkan apa yang baru Sara ucapkan untuknya. Sara berkata bahwa ia percaya padanya. Seorang manusia percaya pada makhluk seperti Chanyeol.

Sara pun mengangguk mantap dan mendaratkan telapak tangan kanan halusnya di pipi kiri Chanyeol. Pipinya sangat hangat. Kenapa makhluk ini sangat hangat? Ingin sekali Sara memeluk Chanyeol yang berkemungkinan besar memiliki suhu tubuh yang hangat. Jika boleh, ia akan memeluknya erat dan tidak ingin melepasnya sedikit pun. Sara ingin sekali merasakan itu, namun mungkin lain kali. Karena mereka masih belum saling mengenal betul.

Bola mata Chanyeol turun ke bawah dengan perasaan pilu. Namun, lengkungan manis telah menghiasi bibir Sara yang mungil. Secara tidak langsung, Chanyeol menerima ajakannya untuk berteman. Hanya saja, ia tau. Chanyeol belum sepenuhnya yakin bahwa ia akan memiliki teman seorang manusia, yang berbeda dengan dirinya sekarang.

Jika Chanyeol ‘masih berstatus sebagai seorang manusia biasa’ seperti Sara, Chanyeol tidak akan melakukan hal tadi kepada Sara dan menerima ajakan pertemanan Sara tanpa berpikir panjang. Hanya saja, kini dia bukan lagi seorang manusia biasa. Dia bukan manusia sepenuhnya, dia adalah manusia serigala.

Dan kini… Hati Sara mulai terbuka… Hatinya kembali…

 

 

 

 

Pagi yang bersalju kembali melingkupi lingkungan pegunungan Gangwon-do Yanggu. Dengan keadaan sedikit menggigil, Sara membuka kedua matanya. Ia menghilangkan rasa malasnya jauh-jauh dan segera mengambil handuk putih yang menggantung di sisi lemarinya. Ia segera membilas tubuh dan wajahnya dengan air hangat. Setelah mandi, tak lupa ia memakai pakaiannya dan merangkep dengan sweaternya yang lain, berwarna hijau.

Segera ia menuju meja makan dan disambut hangat oleh ibu dan adiknya. Mereka sedang mengolesi roti dengan selai kacang. Ia menduduki dirinya di salah satu kursi. Dengan sigap, ibunya menyodorkannya secangkir cokelat panas. Ia meneguknya berbarengan dengan adiknya. Walaupun rasanya pahit, tapi rasanya sedap dan dapat menghangatkan tubuh.

Ia tersenyum menatap pantulan wajahnya di genangan air berwarna cokelat pekat itu. Tiba-tiba ia berinisyatif ingin membagi cokelat panasnya pada seseorang. Seseorang yang kini ia anggap sebagai teman pertamanya di lingkungan barunya. Siapa lagi, kalau bukan Park Chanyeol. Manusia serigala yang menurutnya memiliki paras sempurna layaknya malaikat.

“Ibu… Bolehkah aku membagi cokelat panas ini pada temanku?” Tanya Sara pada ibunya. Ibunya tersenyum dan mengangguk senang.

“Siapa temanmu itu?” Tanya ibunya lembut sambil menyodorkan sepotong roti isi selai kacang ke piring Sara.

Sara terdiam, mengingat status temannya itu yang bukan manusia. Mana mungkin, ia berkata pada ibunya bahwa temannya itu bukan manusia. Bisa-bisa, ibunya melarangnya untuk berteman dengan Chanyeol. Entah, Sara tidak ingin hal itu terjadi.

“Temanku, si pemilik rumah sebelah selatan rumah kita. Namanya Park Chanyeol.” Jawab Sara menghilangkan rasa khawatirnya. Ibunya menyambut dengan senyuman lembut.

“Apa dia yang membuatmu selalu tersenyum hari-hari ini?” Tanya ibunya dengan nada menggoda. Adiknya—Aera ikut-ikutan tersenyum jahil pada kakaknya.

Sara terdiam dengan ekspresi datarnya. Dia tidak mau ambil pusing. Dia tidak menghiraukan tatapan jahil dari ibu dan adiknya.

“Ibu hanya bercanda, sayang. Pakailah termos alumunium yang ada di lemari.” Ujar sang ibu yang ikut mengigit sepotong roti berisi selai kacang kesukaannya.

Dengan semangatnya, Sara mengambil termos alumunium yang ada di lemari dan mengisinya penuh dengan cokelat panas. Pasti Chanyeol menyukai ini. Batin Sara dengan senyum menghiasi bibirnya. Sedaritadi, ibunya memerhatikan Sara. Ibunya berpikir, orang yang dimaksud Sara dapat menghidupkan kembali kehidupannya yang kosong. Barukali ini, ibunya melihat Sara tersenyum secara terus-menerus. Terakhir ibunya melihat senyum manis itu, adalah saat Sara bersama ayahnya dulu.

“Perkenalkan ibu dengan temanmu itu ya, ibu penasaran.” Kata ibunya tiba-tiba.

“Dia tinggi… Dan tampan…” Gumam Sara pelan saat menutup tutup termosnya, diselingi senyuman manis di bibirnya. Dan ternyata ibunya mendengar pernyataan Sara.

Oh? Jinjjayo? Ibu makin penasaran.” Ujar ibunya membuat Sara membelalakkan matanya mendengar pernyataan ibu. Berarti ibu mendengar gumamannya tadi.

Sara tak mengubrisnya, dan pasti pipinya sudah memerah merona. Ia segera keluar rumah dan berniat kembali ke rumah Chanyeol. Ia ingin sekali bertemu dengan Chanyeol kembali dan segera melihat ekspresi Chanyeol yang selalu tampan saat menerima sesuatu darinya.

Senyum manis terus terlukis di bibirnya saat menyusuri jalan yang tertutup salju tipis. Sesampai di depan pagar rumah Chanyeol, ia segera masuk ke halamannya dan berdiri tepat di depan pintu cokelat rumah tua milik Chanyeol ini. Ia mengetok pintu pelan, siapa tahu Chanyeol belum bangun.

Sang penghuni rumah pun membukakan pintu untuk Sara. Si pemilik rumah mengenakan kaos putih polos. Menambah kesan ketampanannya. Dengan senyum kecil Sara menyerahkan termos alumunium itu kepada Chanyeol. Chanyeol membalasnya dengan tatapan datar.

“Kau datang lagi?” Tanyanya datar. Senyum perlahan pudar dari bibir Sara. Sara memberengut kesal dengan respon yang Chanyeol beri.

“Kau tidak mengenal adat? Ini masih pagi.” Protes Sara dengan tatapan datar balik kepada Chanyeol. Chanyeol menghembuskan nafasnya malas dan menatap Sara.

Joheun… achimieyo.” Sapa Chanyeol yang akan menutup pintunya.

Joheun achimieyo, annyeong Park Chanyeol! Jadi, kau tidak mau cokelat panas dariku?” Tanya Sara, sontak menghentikan aktifitas Chanyeol yang akan menutup pintu rumahnya. Chanyeol menerima termos itu dari genggaman Sara.

“Boleh berkunjung?” Tanya Sara lagi.

Entah apa yang Chanyeol pikirkan, ia membuka pintunya kembali dan mempersilahkan Sara masuk ke dalam rumahnya. Saat Sara sudah masuk ke rumahnya, ada perasaan aneh yang Chanyeol terima. Dengan mudahnya ia menerima seorang manusia masuk ke dalam rumahnya. Ia tak mengerti apa yang ia rasakan sekarang. Gadis itu membuatnya luluh dan menerima apa yang gadis itu katakan dan apa yang gadis itu berikan, Chanyeol selalu menerimanya.

Ada yang salah dengan dirinya.

Sara pun berjalan ke arah dapur rumah Chanyeol dan duduk di kursi ruang makannya yang sedikit berdebu. Chanyeol mengekorinya dan ikut duduk berhadapan dengan Sara. Tepat di meja makan terdapat cangkir. Sara menuangkan isi termosnya ke dalam cangkir itu dan menyodorkannya untuk Chanyeol. Chanyeol menatap aneh air berwarna cokelat pekat yang sudah ada di cangkir miliknya.

Sara makin menyodorkan cangkir berisi cokelat panas itu, bagaikan isyarat agar Chanyeol segera meminumnya. Seakan menunggu, Sara melipat kedua tangannya manis di meja makan. Chanyeol pun menggenggam gagang cangkir tersebut dan meminumnya ringan. Rasa hangat menyirami kerongkongan Chanyeol. Chanyeol pun tersenyum menatap Sara dan Sara ikut tersenyum menatap Chanyeol.

“Johaeji…?” (Kau menyukainya?) Tanya Sara dengan senyum masih mengembang di sudut bibirnya. Chanyeol pun mengangguk.

Joha. Gomawo, Lee Sara.” Ucap Chanyeol dengan senyum juga. Sara memekik kaget dalam diam, karena Chanyeol masih mengingat namanya, lengkap dengan marganya.

“Ada apa? Apa aku salah bicara?” Tanya Chanyeol kemudian, Sara menggeleng dan kembali tersenyum kembali untuk Chanyeol. Kemudian, Chanyeol menyesap kembali cokelat panasnya. Chanyeol pun mengangguk.

Perhatian mata Sara pun menatap sekitar rumah milik Chanyeol. Rumah ini tidak kotor, hanya saja sangat berdebu. Tangan Sara seakan gatal ingin membersihkan rumah Chanyeol yang berdebu ini. Chanyeol menatap Sara dengan mata yang sendu, ia berpikir Sara tidak nyaman berada di rumahnya yang menurutnya kotor ini.

“Chanyeol, rumahmu sangat berdebu. Bolehkah aku membersihkannya untukmu?” Tanya Sara takut-takut.

Takut Chanyeol memang menyukai tempat yang berdebu seperti ini. Takut Chanyeol marah dan akan memperlakukannya lebih dari kemarin saat Chanyeol menyergapnya dan hampir menggigit lehernya. Chanyeol pun tersenyum ke arah Sara yang masih menunduk. Tangan kekar Chanyeol memegang dagu Sara agar menatapnya. Entah mengapa, Chanyeol suka cara Sara menatapnya dan ingin Sara terus menatapnya, sebagaimana ia menatap Sara lekat.

“Boleh. Asal…” Ucap Chanyeol menggantung.

 

“…aku membantumu.” Lanjutnya, Sara pun tersenyum ke arah  Chanyeol kembali dengan malu-malu akibat perilaku Chanyeol yang masih memegang dagunya.

Mereka pun beranjak dari meja makan dan segera membersihkan rumah milik Chanyeol. Sara mengambil kemoceng dan lap yang berasal dari ruang kecil yang berisi peralatan bersih-bersih yang Chanyeol beri tahu sebelumnya.

Jendela-jendela yang ada di rumah ini besar-besar dan tinggi-tinggi. Sehingga Sara sulit membersihkannya. Mula-mula Sara membuka lebar tirai besar yang terdapat di semua jendela. Tiba-tiba, Sara melihat Chanyeol yang kelihatan ketakutan melihat cahaya matahari. Chanyeol menutup arah penglihatan matanya dengan lengannya. Sara lupa, Chanyeol bukanlah manusia sepertinya.

“Kau terganggu dengan cahaya matahari?” Tanya Sara lembut mendekat ke arah Chanyeol.

A-aninde. Hanya saja… Sudah lama, aku tidak berkontak langsung dengan cahaya matahari.” Jawab Chanyeol menunduk.

Sara menatapnya sedih dan menggenggam tangan Chanyeol hangat. Sara terdiam menggenggam tangan Chanyeol yang sangat hangat. Sebagaimana kemarin, saat ia meletakkan telapak tangannya di pipi Chanyeol. Sara kembali di alam sadarnya dan menarik pelan Chanyeol ke arah jendela.

Chanyeol berjalan takut-takut ke arah jendela. Silau sekali. Itulah yang keluar dari benak Chanyeol. Sara tersenyum ke arah Chanyeol dan mendiaminya lama di depan jendela, agar Chanyeol terbiasa dengan cahaya matahari. Jika Chanyeol tidak terbiasa dengan cahaya matahari, ia tidak bisa memperkenalkan Chanyeol dengan ibunya.

Eottokhae? Menurutku, cahaya matahari itu hangat.” Ujar Sara. Perlahan, Chanyeol menurunkan lengannya dan merasakan kehangatan cahaya matahari.

Sara pun tersenyum melihat Chanyeol yang sudah menurunkan lengannya. Kelihatannya, Chanyeol sudah tidak terganggu oleh cahaya matahari. Chanyeol pun menoleh ke arah Sara dan ikut tersenyum. Tangan mereka masih mengait satu sama lain, saling memberi kehangatan satu sama lain. Chanyeol tersenyum hangat ke arah Sara. Membuat Sara salah tingkah dan pipinya memerah karena Chanyeol kini menggenggam kedua tangan Sara.

“Sara eonni!”

Suara kecil Aera membangunkan lamunan mereka berdua. Tangan mereka yang asalnya mengait kini terlepas. Tepat di depan jendela, Aera berteriak memanggil kakaknya. Rasa canggung akibat tadi mulai memasuki suasana manis Sara dan Chanyeol.

Sara pun meletakkan telunjuknya di depan bibir mengisyaratkan Aera untuk diam. Jika ibunya tau, ibunya akan menggodai Sara habis-habisan. Aera pun mengangkat telunjuk dan jari tengahnya bersamaan membentuk huruf ‘v’ ke arah kakaknya itu dan pergi. Chanyeol yang memerhatikan kakak-beradik itu tersenyum.

“Adikmu?” Tanya Chanyeol. Sara menoleh dan mengangguk ke arah Chanyeol.

“Kita jadi bersih-bersih, kan?” Tanya Sara kemudian, dan mendapat anggukan kecil dari Chanyeol.

Kini Sara sedang berdiri di atas kursi membersihkan jendela dengan lap. Sebenarnya ia takut sekali bilamana ia jatuh. Namun, ia buang jauh-jauh rasa takutnya itu. Sara memekik dalam diam karena ia kini sudah berjinjit di atas kursi yang sedikit goyang-goyang.

Dugaan Sara benar, kini ia terjatuh dari kursi dan untungnya… Chanyeol dengan sigap menolongnya. Entah Chanyeol darimana sampai bisa menolong Sara, Sara tak mau banyak tanya saat ini. Karena kini ia mengalami momen-momen yang sangat indah baginya. Ditolong seorang malaikat tampan. Lagi-lagi mata mereka bertemu satu sama lain tanpa kedipan sedikitpun di mata mereka.

“Gwaechana?” Tanya Chanyeol lembut. Sara pun menarik tubuhnya berdiri. Dan mengangkat kedua tangannya yang pasalnya terulur di kedua pundak kokoh Chanyeol.

“Sebaiknya, aku yang mengelap jendela.” Ujar Chanyeol dan mengambil alih lap dan pembersih kaca.

Sara pun memilih untuk menyapu kemudian mengepel ruangan. Tangannya bergerak lincah saat mengepel, tapi pandangannya sering kali mencuri-curi pandang ke arah Chanyeol. Chanyeol terlihat tampan sekali walau hanya memakai kaos putih polos dan celana panjang. Dengan wajahnya yang serius saat mengelap jendela.

Semuanya pun beres, dan terlihat bersih. Tidak seperti awalnya yang ditutupi debu tebal. Dan tak terasa pula, hari semakin sore. Pasalnya, Sara ingin mengenalkan Chanyeol kepada ibunya. Karena waktu tak memperbolehkan, Sara pun memilih untuk langsung pulang ke rumahnya. Ia terdiam di kamarnya dan memandang langit kamarnya sambil tiduran. Membayangkan waktu yang ia habiskan penuh bersama Chanyeol.

Tiba-tiba, ibunya menyuruhnya untuk makan malam. Saat makan, Sara hanya mengaduk-aduk jajangmyeon yang ibunya buat sambil tersenyum-senyum membayangkan kejadian saat ia terjatuh dari kursi dan Chanyeol-lah yang menyelamatkannya. Tidak sadar, ibunya dan Aera memerhatikannya.

“Sara, makanlah. Jangan di aduk-aduk saja.” Perintah ibunya. Sara pun melahap sesendok jajangmyeon masih dengan senyum di bibirnya.

Eonni, siapa pemuda yang tinggi bersamamu tadi pagi?” Tanya Aera tiba-tiba. Mata Sara pun melotot ke arah adiknya yang kini terkekeh geli melihat ekspresi kakaknya yang cantik itu. Sara pun menyuapkan jajangmyeonnya tanpa menatap adiknya dengan ekspresi datar.

“Apa itu Park Chanyeol?” Tanya ibunya dan tatapan Sara kini beralih kepada ibunya.

“Sepertinya iya, bu!” Teriak Aera penuh semangat.

“Apa dia tampan, Aera?” Tanya ibu lagi.

“Ya, ibu! Sangat! Dia sangat tinggiii… dan sangat tampan! Seperti aktor film! Aera-lah yang akan menjadi pacarnya.” Rengek Aera dan menatap sinis ke arah Sara.

Aish jinjja.” Umpat Sara.

Eonni cemburu, bu.” Goda Aera.

Suasana hangat memenuhi suasana malam di keluarga kecil Lee. Sedangkan Chanyeol kini sedang terdiam di sofa ruang tamunya. Ia menatap sekitar. Rumahnya kini sangat bersih tidak seperti tadi pagi. Ini semua karena teman barunya, atau teman pertama selama menjadi manusia serigala.

Air mata menetes di pipi Chanyeol yang mulus. Ia ingin kembali ke masa lalunya yang menyenangkan. Masa lalunya sebagai seorang manusia biasa yang memiliki banyak teman dan memiliki keluarga yang bahagia dan utuh. Dulu dia bersekolah dan mempunyai teman yang banyak. Dulu sifatnya yang mudah bergaul dan banyak di senangi teman.

Ia sangat menyesal, apa yang telah ia lakukan. Semuanya telah berubah seiring berjalannya waktu. Sehingga ia dikucilkan di masyarakat. Mengapa ini semua terjadi padanya? Mengapa tidak orang lain saja? Kenakalannyalah yang membuatnya menjadi fatal. Sehingga hidupnya tak tau harus bagaimana lagi.

Ia sangat merutuki dirinya yang pada awalnya tak dapat mengendalikan emosinya sehingga membunuh orang yang sangat ia sayangi. Ya, Chanyeol membunuh keluarganya. Dan itu bukan karena dirinya, tapi karena egonya. Bagaikan sesuatu telah merasuki dirinya, sehingga ia tidak dapat memegang kokoh pendiriannya.

Rumah tua ini sebenarnya bukanlah rumah yang terlihat tak terurus. 5 tahun yang lalu, rumah ini adalah rumah sebuah keluarga yang hangat dan penuh kasih sayang. Keluarga yang mempunyai mimpi yang amat tinggi. Keluarga yang mempunyai seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan yang bercita-cita tinggi. Keluarga dengan seorang pemimpin yang berakal tinggi—seorang professor terkenal. Keluarga dengan seorang wanita yang kuat dan lemah lembut. Namun, semuanya telah sirna. Impian keluarga itu telah pupus. Dan hanya menjadi kenangan pahit yang takkan pernah tercapai.

Ia sangat membenci dirinya. Dirinya yang tidak dapat mengendalikan dirinya sendiri. Dirinya yang kini dikucilkan di masyarakat. Dirinya yang bukan manusia lagi.

Tapi, yang ia bingungkan adalah. Mengapa seorang manusia seperti Sara mau menerimanya bahkan mengajaknya sebagai seorang teman? Tak di pungkiri, masih ada manusia yang berhati cantik secantik wajahnya mau menerima perbedaan. Entahlah, Sara sangat berbeda.

Dan yang ia rasakan saat ini adalah, perasaan yang juga berbeda. Jujur, Chanyeol juga berpikir bahwa Sara adalah gadis yang dimatanya sempurna seperti malaikat. Hatinya sangat baik dan berparas cantik layaknya seorang malaikat Tuhan yang turun dari surga. Dan kini, malaikat itu turun untuknya, turun menjadi temannya, turun sebagai orang yang diam-diam telah mencuri pandangannya yang tak dapat berkedip lebih dari 5 detik saat menatap wajahnya.

Ia bingung. Bingung dengan perasaannya yang berubah menjadi tenang dan hangat layaknya ia dulu menjadi seorang manusia biasa. Ia merasa membutuhkan kehadiran seorang malaikat, seorang teman, seorang Lee Sara.

Ia bingung. Dengan mudahnya ia mendapatkan senyum dari seseorang dan hanya untuknya. Dengan mudahnya ia memberikan senyum untuk orang yang telah memberikannya senyum. Dengan mudahnya ia membukakan pintu masuk ke rumahnya untuk orang itu. Dengan mudahnya orang itu mencuri hatinya pula.

Ia bingung. Mendeskripsikan apa yang ia rasakan saat bersama Sara. Sebuah kata yang ia tau apa artinya dan kini mulai menggerogoti perasaannya untuk Sara. Tapi, dia lupa apa kata itu. Rasa itu adalah rasa kali pertama yang ia rasakan.

Selama menjadi manusia biasa, ia belum merasakannya. Tapi, temannyalah yang merasakannya dan mengatakannya padanya. Tapi itu dulu, ia lupa dengan nama dari rasa itu. Rasa yang berarti bagi setiap orang.

Dan sekarang, ia merasakannya.

 

Chanyeol merasakannya.

 

Dia ingat… Rasa itu adalah…

 

 

 

 

 

 

 

 

To Be Continue

 

 

 

A/N:

Ternyata ff ini low responds dari para readers, apa karena kurang panjang disetiap chapternya? Oleh karena itu, chapter ini diperpanjang. Sebenernya author sudah menyelesaikan ff ini sampai chapter5, kalau gaada peningkatan mungkin ga bakal dipost lagi. Padahal aku bikin ff ini seriusL Ada bahasa yang kurang dimengerti? Romance di ff ini mungkin cuma ini dan chapter 3, seterusnya bakal fokus ke thriller. Leave comments for next chapter! No siders~

Thanks for reading!

 

Iklan

28 pemikiran pada “Werewolf Beside You (Chapter 2)

  1. huahh…jadii ngebayangin yeoll cakepppnyaaa,.apalagi klo waktu matanya berubah jadi merahh..aku ngerasa kok keren bgt gtuu,.haha..tambah tampannn,,
    ..makin cinta sama yeoll..
    huhh..irri nihh sama sara,.pengen punya temen yg kek yeoll..gmna yaa rasanya..haha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s