Cynicalace (Chapter 12)

CYC 3ilh

Title : Cynicalace

Author : NadyKJI & Hyuuga Ace

Length : Chaptered

Genre : Romance, Comedy, Friendship

Rate : G

Main Cast :

Jung Re In (OC)

Geum Il Hae (OC)

Park Chanyeol (EXO)

Kim Jong In (EXO)

Disclaimer: Annyeong, ff ini adalah murni hasil pemikiran author yang kelewat sangat tinggi,  dilarang meniru dengan cara apapun, don’t plagiator. Gomawo #deepbow.

Summary :

Aku tidak membencimu. Aku hanya tidak ingin berurusan lagi denganmu. Tapi mengapa kau selalu hadir di sekitarku layaknya modul akuntansi yang selalu kubawa setiap hari. Wajahmu mengangguku tapi aku mulai merindukannya ketika wajah itu menghilang dari keseharianku. Oh, menyebalkan.

–Jung Rein–

Aku tidak sudi, aku tidak sudi, aku tidak sudi! Dia menyebalkan, cuek, dan dingin. Tapi… terkadang dia baik juga walau dengan muka datar, terlihat tulus, dilihat-lihat juga ia lumayan.. bukan, tampan… Argh! Aku menyerah, sepertinya karma itu berlaku.

–Geum Ilhae–

Sama seperti panggilannya, yeoja itu memang kelewat bodoh. Sialnya, karena terbiasa menjadi dampak dari perilakunya, aku menjadi terbiasa untuk selalu hadir di sisinya. Namun entah mengapa aku merasakan keberadaanya bagaikan pelangi dalam keseharianku yang hanya dihiasi dua warna – hitam dan putih.

–Kim Jong In–

Melihat wajah seriusnya, merasakan kesinisannya padaku. Itulah makanan keseharianku karena ulahku sendiri. Well, kau memang bodoh dan gila jika bersangkutan dengan yeoja itu. Kau terlalu gila Park Chanyeol.. tapi, aku tidak keberatan gila untuknya. It’s a pleasure.

–Park Chanyeol–

Author’s Note:

ANNYEONG!  Baiklah pesan pribadi dari author ini adalah, semoga KaiHae momment cukup berkenan dihati pada readers oke? Percayalah edisi kali ini itu memakan banyak sekali words ahahhahah.

Yap! Chapter ini super panjang… biasanya Cyc itu cuman 5000-an kata, ini sampe 8000 kata, semoga ga pada bosen oke?

Oh ya, maaf karena authors ga bisa ngebalesin comment kalian satu- satuuuuu 😥

Baiklah daripada makin byk wordnya, mari kita langsung saja ke cerita. Jangan lupa commentnya, ditunggu banget komenan dari kalian!! GOMAWOOOOO~

HAPPY READING

___

 

-:Author’s PoV:-

“YAK! KIM JONGDAE! JAGA KECEPATANMU!” Ilhae sudah kehilangan laju nafasnya untuk yang ia lupa berapa kali. Dadanya nyeri sesekali ketika namja bernama panggilan Chen ini menggunakan rem mendadak.

Ouch! Kali ini Ilhae meringis, motor Chen yang menjadi tumpangannya – yap tumpangan karena efek obat penghilang sakit yang dimakannya tadi malam membuatnya kesiangan untuk mengikuti jadwal bus dan ia tidak bisa menunggu sekitar 30 menit lagi untuk bus berikutnya – berhenti dilampu merah.

“Kenapa kau menumpang motorku sih?!” Omel Chen pada Ilhae. 

“Karena Baekhyun bersama Choyi! Aku tidak mungkin mengusirnya bukan?” Ilhae menjawab seadanya sembari mengumpulkan dirinya yang merasa melayang-layang.

Chen menoleh kebelakang untuk memeriksa keadaan penumpangnya dan melihat bibir pucat Ilhae. “Apa yang terjadi?”

“Oh?” Ilhae mendongak dan mendapatkan tatapan menyelidik dari Chen – namja itu menyipitkan mata ketika melihat sesuatu berwarna putih terlihat dari balik kaus yang dikenakan Ilhae.

“Bisakah kita sampai ke kampus dengan selamat dulu?” Ilhae menambahkan.

Setelahnya dengan kecepatan yang lebih aman keempat orang tersebut sampai di parkiran motor Joonmyung dengan selamat sentosa. Ilhae turun dari motor dan menyerahkan helm pada Chen.

Mereka berempat – Baekhyun, Choyi, Chen, dan Ilhae – berjalan bersama menuju gedung utama. Ilhae tidak mengenal Choyi dengan baik karena sepertinya yeoja itu adalah kenalan Baekhyun dan Chen dari fakultasnya, yang pasti tuan Byun itu sepertinya sayang sekali pada Choyi.

“Hey, hey, jadi kenapa kau tiba-tiba menanyakan rute bus dan meminta kami menjemputmu?” Baekhyun bertanya – namja itu rupanya baru saja mengatakan seusatu yang membuat Choyi ingin menendangnya hidup-hidup dan mengalihkan pembicaraan pada Ilhae.

“Aku juga penasaran dengan perban di bahumu? Benar bukan?” Chen mengungkap kembali kejanggalan yang ia lihat di motor tadi.

“Well, kecelakaan. Mobilku menabrak bilik telepon umum kemarin malam.” Ungkap Ilhae yang langsung disambut dengan kernyitan tidak ramah.

“Lalu… mobilku rusak dan diperbaiki untuk waktu yang tidak ditentukan, makanya aku menanyakan rute bus. Aku juga masuk UGD – baru pertama kalinya lho.” Ilhae akhirnya menyadari kalau secereboh apapun dirinya baru kali ini ia menyempatkan diri masuk UGD dan di sisi lain tiga orang yang baru saja mendengar perkataan Ilhae memiliki perasaan yang berbeda-beda. Chen dan Baekhyun mungkin sudah siap membawa yeoja ini ke dokter lagi siapa tahu otakknya sudah bergeser, tapi Choyi hanya bisa terkejut sebagai orang luar.

Chen dan Baekhyun mencoba menahan mulut mereka dan menunggu lanjutan penjelasan Ilhae. “Bahuku cedera. Retak karena seatbelt, menjelaskan penahan – bukan perban – yang kau lihat Chen. Kemarin ketika membentur setir mobil kepalaku agak sakit tapi sekarang sudah baik-baik saja dan Rein…”

“Rein juga?” Baekhyun membelalak.

“Yap, karena saat itu kami baru saja dari Paulo’s dan tiba-tiba di perempatan ada motor yang melaju dari sisi kanan yang membuatku tidak siap, dan aku tidak melanggar lampu lalu lintas, lampunya hijau kok.”

“Kau sudah memberitahu Chanyeol?” Perkataan Chen membuat alarm di otak Ilhae berjalan.

“Oh belum. Aku tidak ingin dia histeris. Lagipula Rein hanya cedera ringan, tapi… dia memilih untuk menginap di rumah sakit, well, kalian mau ikut menjenguknya siang ini?” Tawar Ilhae.

“Tidak, kami memiliki kuliah sampai sore.” Baekhyun mengedikkan bahunya.

Ilhae menganggukkan kepalanya. “Oh baiklah, tapi apakah kalian tahu bus ke RS Eungsib?”

“Ah dari halte naik bus nomor 345, lalu berhenti di… kau tahu cafe Little garden? Berhenti di halte dekat sana, lalu naik lagi bus 788. Di halte berikutnya turun dan berjalanlah sekitar 1 block. Arra?” Baekhyun menjelaskan petunjuk jalannya.

“Ah baiklah! Gomawo!” Ilhae mencatat instruksi dari Baekhyun di ponselnya.

“Berbicara tentang transportasi, bagaimana kau sampai apartemen kemarin?” Chen meragukan Ilhae bisa mengetahui rute bus dan taxi malam hari itu jarang sekali.

“Dengan Kai.” Jawab Ilhae singkat.

“WOW!”

Ilhae berdecak begitu mendengar nada usil dari Baekhyun dan mencoba mempercepat langkahnya.

“Dia hanya mengantarku pulang, karena aku tidak boleh pulang sendiri. Catatan dia datang karena polisi menelepon Kyungah yang terakhir kali kutelepon – jadi otomatis Kyungah, Kyungsoo, dan Kai datang.”

“Lalu kenapa Kai yang mengantarmu? Bukankah Kyungsoo dan Kyungah juga bisa? Seharusnya malah mereka yang lebih dekat dengamu? Benar?” Kali ini kepintaran Chen bukanlah jalan keluar mudah bagi Ilhae.

“Karena Kyungsoo dan Kyungah ada acara keluarga dan dijemput supir ayahnya, itu juga Kai mengantar karena ia yang akan mengemudikan mobil Kyungsoo pulang.”

“Kuliah?”

Ilhae menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Katanya dia tidak ada kuliah.”

“Ohoo~ lalu apa yang dia katakan sebelum kau turun?”

“Kalian bawel sekali, sudah! Aku harus bergegas.”

Ilhae langsung berjalan ke gedung kampusnya. Pikirannya kemana-mana terutama setelah mendengar pertanyaan terakhir Baekhyun.

(Flashback Start)

“Well, gomawo tumpangannya.” Ilhae mengangguk dan membuka pintu di sebelahnya.

“Chamkan. Kau sendirian di apartemen?”

Ilhae berhenti, dia tidak jadi melangkah keluar. “Yep, wae?”

“Ani. Kau tidak takut sendirian bukan?” Kai menatapnya ragu.

“Tidak, aku akan baik-baik saja.”

Seketika Kai menyandarkan tubuh sepenuhnya pada kursi pengemudi. “Baiklah. Jaga dirimu baik-baik. Jika tidak bisa melakukan sesuatu sendiri minta bantuan tetangga atau bagaimana. Arra?”

Ilhae dengan enggan menganggukkan kepalanya.

“Berjanjilah padaku. Jangan membuat orang lain mengkhawatirkanmu.”

“Yaksok.”                   

(Flashback End)

*-*-*

Chen dan Baekhyun berjalan tergopoh-gopoh ke arah lapangan basket yang berada di dekat Fakultas Sains dan Teknologi. Sejak berpisah dengan Ilhae beberapa saat yang lalu hanya ada satu nama yang terlintas di benak mereka, Park Chanyeol. Namja tinggi yang seakan-akan menghabiskan waktunya hanya untuk memikirkan Jung Rein itu harus tahu bahwa yeoja yang sangat dicintai dan digilainya itu mengalami kecelakaan, dan menurut penuturan Ilhae, yeoja itu masih ‘menginap’ di rumah sakit. Chanyeol, namja itu pasti sangat kalut dan panik ketika mengetahui hal ini.

Setidaknya itulah yang ada di bayangan Chen dan Baekhyun, sampai beberapa menit kemudian mereka menemukan Chanyeol sedang bermain basket bersama teman-teman klubnya – yah, Chen dan Baek sangat tahu bahwa hari Jumat Chanyeol memiliki kegiatan dengan klubnya. Tapi ada sesuatu yang berbeda dengan Chanyeol hari ini. Dia tampak… marah dan kesal.

Tidak ingin berspekulasi lebih lanjut tentang alasan mood namja itu yang terlihat buruk sekali, Chen dan Baekhyun menghampiri Chanyeol yang masih di tengah-tengah permainan.

“TIME OUT! TIME OUT!” Layaknya pelatih, Baekhyun mengangkat tangan kanannya dan melirik pemain lainnya untuk menyetujui keinginan PRIBADI nya.

“Yah! Baek, kami sedang bertanding..”

“Well, berlatih Hyung.” Chen, membantu Baek untuk meminta time out untuk Chanyeol. “Kalian dari klub basket bertanding satu sama lain.”

“Jebal, ada sesuatu yang harus kami katakan pada Yeol.”

“Geurrae, 5 menit.” Lalu seseorang yang dipanggil Hyung oleh Chen tadi berjalan santai keluar lapangan, sepertinya dia adalah ketua klub karena sisa pemain lainnya ikut mengikuti namja itu di belakangnya. Salah satu pemain adalah Xi Luhan yang langsung melirik jahil ke arah duo Baek-Chen.

“Jangan cari masalah, man. Namja itu kelihatan kacau dan emosional hari ini.” Luhan melirik Chanyeol yang hanya bisa mendengus mendengar penuturan Luhan.

Baiklah, berarti bukan hanya Chen dan Baekhyun yang menyadari ada yang berbeda dengan Yeol hari ini.

Seperginya Luhan dan pemain tim lain ke sisi lapangan. Chen segera membalikan tubuhnya dan menatap Chanyeol dengan pandangan ‘apa yang terjadi padamu, bro?’.

Sepertinya Chanyeol mengerti arti pandangan Chen namun dia terlalu malas untuk menjelaskan. Karena jika dia bercerita alasan mengapa dia sangat kesal dan marah hari ini, dia harus mengingat-ingat kejadian itu.

“Bro, kau sudah tahu Rein mengalami kecelakaan dan masuk rumah sakit?” Baekhyun tampak terkejut karena Chanyeol terlihat makin keruh wajahnya ketika dia menyebutkan nama Rein.

Sementara Chen mengamati bahwa Chanyeol tidak terlihat terkejut apalagi panik seperti yang dibayangkannya. Sehingga dia menarik kesimpulan bahwa Chanyeol sudah tahu.

“Kau tahu?” Dengan nada takjub Chen bertanya. Matanya masih belum berpaling dari sosok Chanyeol yang terlihat sangat aneh hari ini.

“Aku sedang tidak ingin membicarakan nama itu sekarang.” Dengan suara yang datar dan dingin Chanyeol berjalan tenang ke sisi lapangan, mengambil tas basketnya dan berjalan keluar dari tempat itu.

“YA! Chanyeol! Kita masih harus berlatih.” Teriak salah satu teman seklubnya melihat Chanyeol yang bertingkah layaknya dia akan pergi dari tempat itu sekarang juga.

“Aku sedang tidak mood, Choi Minho.” Dengan itu Chanyeol berjalan lebih jauh keluar dari arena lapangan basket itu.

Di sisi lain, Chen dan Baekhyun hanya bisa membelalakkan mata dan menatap kosong punggung sobat mereka yang semakin jauh itu.

“DIA KENAPA?!” Chen dan Baekhyun berbarengan mengucapkan hal yang sama dengan muka takjub.

Bagaimana tidak? Selama mengenal dan berteman dengan namja bernama Park Chanyeol, tak pernah sekalipun mereka mendengar bahwa Chanyeol tidak ingin membicarakan Rein. Malahan yang ada Chanyeol yang selalu membicarakan Rein di setiap waktu tanpa mereka minta.

Apa ada sesuatu tentang Jung Rein yang membuat Chanyeol kecewa sehingga ia kelihatan kesal dan desperate seperti itu?

Chen dan Baekhyun harus mencari tahu!

Chanyeol di sisi lain hanya bisa berjalan lurus ke arah mobilnya yang ia parkir tidak jauh dari lapangan basket. Kini dia sudah berada di dalam mobil, ia melempar tas basketnya sembarang dan segera menghempas tubuhnya di jok mobil sambil memukul setir mobil.

BRUKKK

“Jung Rein! WAE?!”

Tidak bisa dipungkiri, Chanyeol merasa sangat marah dan kecewa pada Rein. Chanyeol selalu memikirkan Rein kapanpun dan di mana pun, selalu menghawatirkan apa yang sedang dilakukan Rein ketika tidak bersamanya. Sehingga dia selalu berusaha menghubungi yeoja itu – apalagi setelah liburan mereka di Jeju. Walau ia tahu Rein merasa terganggu olehnya, tapi apakah Rein sama sekali tidak tahu bahwa Chanyeol sangat memikirkannya.

(Flashback)

“Rein-ah! Kau ke mana?!” Chanyeol bergerak gusar di sofa apartemennya. Dia belum bisa menghubungi Rein lagi sejak pertemuan mereka yang kurang mengenakkan di Paulo’s.

Namja dengan tinggi 185cm itu melirik ke jam dinding hijau yang berada di ruangan itu. Jam sudah menunjukan pukul 08.00. Hari ini berbeda. Chanyeol merasa perasaan tidak enak dan sedikit tidak tenang tiap memikirkan Rein.

Dia berusaha menelpon atau sekedar mengirimi Rein pesan hingga beberapa jam kemudian panggilannya diangkat oleh seseorang yang tidak seharusnya menyentuh ponsel Rein.

“Sehun.”

“Chanyeol, bisakah kau berhenti menganggu Rein? Kau tidak punya jam? Sekarang sudah jam 1!”

“Di mana Rein?! Kenapa kau yang mengangkat teleponnya? OH SEHUN! Tidakkah kau tahu sekarang sudah jam 1?! Apa yang-“

Chanyeol bisa merasa darah mengalir ke wajahnya, wajahnya panas. Marah, dia hampir meledak di telepon. Apalagi setelah Sehun mengatakan..

“Rein sedang tidur.” Sehun terdiam sejenak. “Dia mengalami kecelakaan sehingga dia pasti merasa lelah, apalagi setelah oprasi pada lututnya. Jadi berhentilah menganggunya, sekarang sudah jam 1!”

Dengan begitu Sehun menutup panggilan, Chanyeol panik luar biasa ketika mendengar Rein-Kecelakaan-Oprasi. Sehingga amarahnya memudar dan digantikan dengan perasaan khawatir dan takut Rein kenapa-napa.

Chanyeol berusaha menghubungi nomor Rein sekali lagi dan berusaha mencari nomor ponsel Sehun. Tapi nihil, ponsel mereka berdua sudah dinonaktifkan.

Sehingga ia memutari Seoul untuk mencari di mana Rein berada, sehingga pada jam 3 subuh lah dia menemukan rumah sakit di mana Rein dirawat – dia menemukannya setelah mengetahui adanya kecelakaan di daerah Gangnam.

Seharusnya ia terpikirkan bahwa Ilhae pasti tahu di mana Rein berada karena ia yakin Ilhae pasti menemani Rein di rumah sakit. Tapi saat ini Chanyeol bahkan tidak bisa berpikir jernih sama sekali. Bahkan dia tidak mencerna penuturan salah satu polisi yang berjaga di pos yang memberi tahu bahwa ada 2 yeoja yang mengalami kecelakaan. Yang ada di benaknya hanya Rein, Rein, dan Rein.

Saat menemukan nama Rein di salah satu rumah sakit, dia langsung berlari ke kamar rawat yeoja itu. Chanyeol harus sampai mencari jalan belakang karena jalan utama sudah ditutup mengingat jam 3 subuh bukanlah jam besuk.

Tapi apa yang dilihatnya saat berada di depan pintu kamar Rein yang anehnya tidak terkunci adalah Reinnya yang terbaring di ranjang dan Oh Sehun yang masih terjaga saat itu. Namja itu melihat Rein dengan penuh cinta dan mencium lembut punggung tangan Rein yang sedang tertidur.

Saat itulah hati Chanyeol hancur, seharusnya dia yang berada di posisi Sehun sekarang. Seharusnya dia yang melindungi Rein saat ia tertidur. Dan menurut penuturan suster yang ia temui sedang berjaga di lobby, Rein mengalami dislocation akibat kecelakaan dan seorang namja menemaninya selama oprasi kecil itu dilakukan. Dan itu pasti Sehun, bukan dirinya.

Kenapa harus Sehun? Apakah posisi Sehun disisi Rein jauh lebih tinggi dan berarti dibanding dirinya? Kenyataan bahwa mungkin saja Rein yang menginginkan keberadaan Sehun disisinya membuatnya merana. Desperate.

Sehingga tanpa sadar Chanyeol mengepalkan kedua tangannya dan berjalan mundur meninggalkan tempat itu.

(Flashback END)

“Rein apakah kau tidak tahu juga sampai sekarang kalau aku sangat mencintaimu? Atau memang kau menolakku dengan cara seperti ini?”

Chanyeol menutup matanya, ketika dia membukanya kembali. Dia sudah tidak tahu harus melakukan apa, sehingga ia hanya memutar kunci mobilnya dan menjalankan mobilnya ke mana pun hatinya ingin membawanya.

*-*-*

“Geum Ilhae!”

Ilhae berhenti dari langkahnya yang terburu-buru ketika profesor Han memanggilnya.

“Ada apa?” Tanya Ilhae.

“Aku hanya ingin bertanya, bagaimana karakteristik orang di kasus yang aku minta untuk tugas liburan itu?”

Ilhae mengernyitkan dahinya. “Orang pintar yang mengamati tempatnya untuk melakukan kejahatan.”

“Tepat sekali, orang pintar, tapi… kau menuliskan pengandaianmu dengan karateristik psikopat. Apakah kau mencari refrensi yang tepat?”

Seketika tawa Ilhae sudah akan meledak mengingat Chen adalah psikopat yang dimaksudkan profesornya – ia masih ingat dengan ia yang menyeret namja tidak bersalah itu untuk menjadi referensinya.

“Maaf profesor. Aku benar-benar bertanya pada orang pintar… tapi sudah kukira… jawabannya memang seperti psikopat sih…” Ilhae menggigit bibir bawahnya khawatir – Chen memang pintar tapi dengan kombinasi otak terlampau kreatif menjadikannya psikopat?

“Hmm, sayang sekali, karena itu… kupikir kau harus melakukan tugas lain untuk nilaimu itu. Akan aku berikan di pertemuan berikutnya, ingatkan saja aku.”

Ilhae menggerutu dalam batin saat profesor Han memberikan kembali lembar tugasnya. “Baiklah profesor.”

Ilhae lalu memandangi nilai C- yang didapatkannya, sedih.. profesor Han memang terkenal sadis dalam memberikan potongan nilai cukup tinggi untuk penilaian ‘tidak mengikuti kriteria’ dan Ilhae baru saja menjadi korbannya. Kecewa Ilhae menjejalkan isi kertasnya ke dalam tas selempangnya dan berjalan keluar dari kawasan Joonmyung.

Tepat 45 menit perjalanan menaiki bus sesuai dengan instruksi Baekhyun, Ilhae dapat memandang gedung rumah sakit Eungsib dengan jelas. Kakinya melangkah menuju meja dengan suster yang sama dengan yang kemarin memintanya mengisi administrasi. Tersenyum ramah suster tersebut mengetahui maksud Ilhae.

“Kau pasti mau mengganti perban dan check up bukan?”

Ilhae mengangguk senang karena ia tidak harus menjelaskan kembali tujuannya, tapi memikirkan juga kenapa suster ini masih bekerja – tidakkah ia istirahat?

“Ngomong-ngomong… temanmu yang kemarin… Untunglah ia memilih tinggal, lututnya dislocation dan sudah menjalani operasi kecil.”

Ilhae tercekat. Rein. Operasi?! Sekali ini Ilhae bersyukur akan  keberadaan orang yang banyak bicara tanpa ia harus bertanya. “Dia sekarang ada di mana?”

“Ruang 67 lantai 3.”

Tanpa basa-basi dan menghiraukan suster yang tengah berteriak padanya karena ia pergi sebelum menjalani pemeriksaan. Ilhae menekan tombol lift berkali-kali dan masuk ke dalam lift begitu pintu terbuka – membuat beberapa orang terkejut. Dengan perasaan khawatir ia melihat B berangsur menjadi 1 lalu 2, dan 3.

BRAK!

Ilhae mendorong pintu dengan plat 67 dan menemukan Rein di sana – bersama dengan Sehun. Yeoja itu tengah tertawa sembari makan buah. Temannya itu terlihat baik-baik saja, berkebalikan dengan Ilhae yang sudah mendapatkan serangan jantung mendadak.

“JUNG REIN! Kenapa kau tidak bilang kalau lututmu sakit lebih awal? Dislocation? Operasi kecil?! Jung Rein kenapa kau tidak memberitahukannya padaku. Seharusnya aku tidak pergi kemarin.” Ilhae memberikan penekanan pada setiap kata yang ia ucapkan.

“Ilhae –”

Belum sempat Rein menyelesaikan kalimatnya pintu kembali terbuka dan muncullah Kai bersama dengan rekan-rekan kerjanya.

“Rein-ah! Kai bilang kau menjalani operasi… Apakah kau baik-baik saja?” Baekhee menghampiri Rein.

Ilhae merengut, Kai tahu? Kapan?

Sementara Rein tengah menghadapi rekan-rekan kerjanya yang mengerubungi dirinya Ilhae berbalik dan meninggalkan ruangan tersebut.

“Rein, operasimu lancar?” Kai berjalan mendekati Rein dan memberikan yeoja itu tepukan dibahunya.

“Ne.” Rein menjawab Kai tetapi matanya memandang ke arah pintu dan Kai juga melihat ke arah yang sama karena penasaran.

Apa yang dilihat Rein? Sekelebat siluet Ilhae yang menghilang di balik pintu.

-:Ilhae’s PoV:-

Jung Rein?! Kenapa dia tidak memberitahuku kalau dia harus menjalani operasi? Kenapa yeoja itu malah terkena vonis dislocation ketika aku dan yang lain sudah pulang?! Jung Rein mau tinggal di rumah sakit bukanlah hal wajar! Seharusnya aku tidak pulang! Kenapa ia menyembunyikannya? Kenapa ada Sehun di sana? Yang lebih penting lagi, kenapa Kai bisa lebih tahu lebih dulu daripada aku?!

Dengan perasaan campur aduk aku menggenggam botol minuman teh yang aku beli di minimarket rumah sakit. Aku tidak melakukan apapun selama 10 menit terakhir selain duduk di ruang tunggu rumah sakit sendirian – seperti orang yang sedang menunggu kerabatnya yang menjalani operasi berbahaya – gemetaran, frustasi, dan kusut.

Aku marah pada yeoja itu karena tidak memberitahukannya padaku langsung.

Aku meletakkan botol yang sudah setengah kosong itu dan memijat kepalaku yang berdenyut-denyut.

Tiba-tiba kurasakan kehadiran seseorang dan orang tersebut duduk tepat di sebelahku, sebenarnya aku tidak tahu siapa itu dan tidak mau menoleh untuk mengidentifikasikannya sampai orang tersebut bersuara.

“Aku tahu keadaan Rein ketika meneleponnya pagi ini – untuk membahas tentang shift kerjanya. Saat itu ia baru bercerita kalau ia tidak bisa ke mana-mana karena operasi dislocation itu.”

Aku menoleh dan menemukan Kai. “Tapi kenapa ia tidak memberitahuku? Setidaknya pagi ini ketika ia bangun?”

Kudengar Kai menghela nafasnya. “Lihat.. Rein sakit dan dia tidak akan sempat memikirkan hal itu.”

“Tapi dia cukup ingat untuk memberitahu Sehun dan membuat namja itu menemaninya. Juga memberitahumu, setidaknya setelah menerima telepon darimu dia ingat untuk memberitahuku? Aku ini sahabatnya!”

“Kau cemburu?”

Aku langsung melotot ke arah Kai. “Bukan seperti itu! Hanya saja…” Aku mengerutkan wajah.

“Hanya saja?”

“Kenapa aku harus menceritakannya padamu?” Aku mengernyitkan dahiku karena aku hampir saja meloloskan beberapa kalimat lagi.

“Kau gemetaran.” Mendengarkan penuturannya aku melihat tanganku yang terkepal memang bergetar.

“Apa yang kau khawatirkan? Menceritakan sesuatu lebih baik daripada memendamnya dan meledak sewaktu-waktu di saat yang tidak tepat.”

Aku terkekeh geli dan kulihat raut wajah bertanya di wajah Kai. “Kau seperti Chen.” Aku pernah mendengarkan ceramahnya yang serupa, hanya saja Chen lebih pintar membuatku berbicara – efeknya lumayan.

Kulihat Kai merengut dan aku membuka mulutku. “Lihat… Aku tidak pernah punya banyak teman yang benar-benar dekat denganku seperti Rein. Rein sudah seperti saudara bagiku dan… dan dia terluka parah karena aku.”

Ini dia… aku mengusap pipiku kasar. Aku tidak pernah pandai mengontrol perasaan, apalagi kefrustasian seperti ini. Sejujurnya aku lebih memilih terluka fisik daripada memiliki banyak pikiran.

“Aku lega ketika ia tidak menderita luka serius kemarin malam dan aku tidak menyebabkan cedera parah pada – ya kuanggap korban kecerobohanku – setidaknya aku berpikir memang seharusnya cukup aku saja. Tapi mendengar Rein harus menjalani OPERASI karena AKU. Kau tidak tahu betapa merasa bersalahnya aku, dan kenyataan dia tidak menceritakannya padaku itu membuatku lebih frustasi daripada yang bisa kupikirkan.”

Kurasakan tepukan halus dipuncak kepalaku dan aku melepaskan kedua tanganku yang sedari tadi menutupi wajahku.

Kai. “Kau tidak bisa menyalahkan siapapun dalam kasus ini. Rein hanya tidak ingin kau khawatir, dan kutebak jika kalian sangat dekat ia tidak ingin kau banyak pikiran.”

“Tapi aku mencelakakan seseorang dengan PARAH.”

“Di sini kau rupanya. Nona Geum, kau menghilang tiba-tiba.” Aku melihat suster yang sekarang aku tahu namanya Nam Gaeran – dari namtag yang absen aku lihat dari semalam.

“Ada apa?” Kai bertanya disebelahku.

“Nona ini harusnya menjalani pemeriksaan, tapi ia tiba-tiba lari.”

Aku menghela nafas. “Yeah, aku harusnya mengganti perban dan penahan – kau bisa sebut gips.” Kujelaskan pada Kai.

“Kalau begitu jangan menundanya lagi, setelah itu bertemulah dengan Rein. Kali ini dengan lebih baik dan jelaskan dengan benar bagaimana perasaanmu.” Kai bangkit dan memasukkan kedua tangannya ke saku jeansnya.

“Gomawo, Kai. Karena telah mendengarkanku.”

Ia tersenyum tipis. “Jagalah dirimu baik-baik.”

-:Rein’s PoV:-

Semua yang menjengukku sudah pulang. Merasa tidak enak karena membuat mereka khawatir – hal yang paling tidak kusukai. Sekarang hanya tersisa aku sendiri di kamar inapku. Aku memaksa Sehun untuk pulang, mencari makan, dan beristirahat. Dia sudah menemaniku dari kemarin. Berbicara tentang Sehun, aku masih belum bisa menjawab pernyataannya kemarin malam. Benar-benar tidak ada kata yang terlintas di benakku ketika dia mengatakan hal itu. Sehingga aku hanya bisa mengangguk. Semoga dia mengerti, bahwa aku mengangguk untuk menandakan bahwa aku mengerti apa yang dimaksudkannya. Tapi aku tetap tidak bisa memberi jawaban padanya dalam waktu dekat.

Sehun terlihat tulus menemaniku sepanjang pagi, sekalipun dia tidak menanyakan kembali perihal pernyataannya. Dan aku benar-benar bersyukur.

Keberadaan Sehun membuatku tenang, tapi jujur saja. Sepanjang malam dan pagi ini, ada sesuatu yang menganggu benakku dan semakin lama semakin jelas apa itu. Ada seseorang yang belum memunculkan dirinya dan aku berharap akan keberadaannya. Terlihat bodoh, sepertinya aku sudah menjadi yeoja bodoh sejak dari Jeju. Terlihat aneh, yah semenjak aku menerima keberadaan orang itu; tingkah laku dan pikiranku jadi aneh. Terlihat tidak masuk akal.. Well, benar. Aku yang seharusnya membenci orang itu mengapa sekarang jadi mempertanyakan keberadaannya? Ckkk.

“Apa yang kau pikirkan sahabatku yang menyebalkan?!” Aku tersentak dan nyaris membuat sisi bagian belakang kepalaku membentur tembok di belakangku.

Suara sinis sekaligus cempreng itu hanya milik satu orang, Geum Ilhae. Aku menoleh dan mendapatinya sedang menyender di pintu dengan kedua tangan saling bersedekap. Dia memandangku lurus-lurus.

“Berikan aku cerita yang menarik Jung Rein, sehingga aku tidak perlu menendangmu dari apartemen. Aku ingin detail.” Katanya dengan tatapan serius yang jarang sekali ada.

Kalau dalam posisi yang terlihat bersalah seperti ini, Rein sama sekali tidak bisa mendebat kata-kata Ilhae. Sehingga ia hanya bisa menunduk dalam. Padahal kalau ia mau berargumen, alasan bahwa ia juga membayar setengah dari biaya apartemen bisa digunakan.

“Sebenarnya aku sudah merasa sakit semenjak berada di ambulans, tapi aku menutupinya karena takut membuatmu khawatir. Saat kau pergilah aku sedikit bergerak, dan lututku sakit sekali sehingga aku harus memanggil dokter. Dan saat itu Sehun muncul. Dokter lalu memberi diagnosa bahwa lututku mengalami dislocation. Begitulah rinciannya.”

Ilhae berjalan mendekatiku dan duduk tepat di kursi Sehun – aku menyebutnya begitu mengingat Sehun selalu duduk disana dari kemarin malam.

“Ehem, kumohon jangan seperti itu Rein-ah. Kau hampir membuat temanmu ini terkena resiko stroke kau tahu. Lalu bagaimana bisa.. kau tahu, Sehun?”

“Cerita panjang, yang pasti bukan aku yang memberi tahunya. Mianhae, aku tidak bermaksud seperti itu. Sekali lagi mian, dan uhm.. Hae-ya…”

Aku berdeham kecil mengusir kegugupan yang terjadi. “Kau melihat gerombolan si berat hari ini?”

“Well, ini pasti ada ceritanya, tapi mungkin nanti. Sudah! Pagi ini aku berangkat bersama Chen dan Baekhyun. Baekhyun juga memberitahuku tentang rute bus. Wae?”

Yah, sebenarnya aku tidak bertanya tentang Chen dan Baekhyun. “Aniyo.” Ilhae menatapku seakan mengamati apa yang coba kusembunyikan. Bagaimana jika akhirnya ia paham apa maksud sebenarnya dari pertanyaanku?

“Rein-ah!” Aku menegang menunggu lanjutan kalimat Ilhae – apakah anak ini benar-benar tahu maksudku? Kuremas ujung selimutku.

“Kapan kau boleh pulang? Kau tahu di apartemen sendirian sangatlah menyebalkan. Apalagi dengan keadaanku sekarang…” Ilhae merengut.

Rasanya lega, karena tingkat kelemot-an sahabatku ini sepertinya cukup tinggi kali ini. Sehingga ia tidak paham maksudku – mungkin kepalanya terbentur ada gunanya. “Itu pasti menyakitkan, apa bahumu tidak apa-apa? Lebih baik kau tanyakan ke dokter apakah tidak ada efek samping, sejenisnya. Sementara aku, sepertinya aku akan mendekam disini sampai lusa. Dokter yang bilang begitu. Kalau lusa aku masih belum bisa jalan dengan baik tanpa terasa ngilu pada lututku. Sepertinya akan diperpanjang, atau aku berjalan memakai tongkat jika aku memaksa pulang.”

“Bukannya menyakitkan, tapi tidak praktis. Aku tidak bisa bergerak sesukaku dan aku sepertinya harus meminta bantuan Moon ajhuma untuk beberapa hal – kau kenal juga kan? Tetangga kita. Kata dokter dua  minggu lagi kemungkinanya sembuh karena hanya retak ringan, Tapi aku harus bolak-balik rumah sakit untuk check up seminggu ke depan. Kuharap kau cepat sembuh Rein-ah, ini gara-gara aku.” Ilhae merengut, tapi sebelum aku sempat menegurnya ponselnya berdering.

Ilhae mengeluarkan ponselnya sebelum terperajat. “OMO! Alarmku – pengingat jam kerja. Well karena perjalanan dengan bus lebih lama… Aku pergi dulu ya Rein! Untuk informasi, aku belum memberitahu Chanyeol – aku tidak ingin namja itu merongrongmu ketika sakit.”

Lalu Ilhae benar-benar menghilang sebelum aku sempat menyuruhnya untuk hati-hati. Jadi Park Chanyeol tidak tahu? Rasanya aneh.

Bukankah Chen dan Baekhyun sudah tahu? Tidakkah mereka mengatakannya pada Chanyeol? Tapi – HEY! Apa-apaan aku ini? Ah molla molla!

Aku melirik ke daun pintu yang menampilkan Ilhae yang memanggilku sekali lagi.

“Jangan banyak bergerak dan memikirkan perkara orang menghawatirkanmu atau tidak akan membuatmu merasa tidak enak. Lebih baik kau istirahat! Aku akan datang lagi kesini setelah pulang kerja.” Aku baru ingin protes, tapi.. “Tidak ada penolakan! Annyeong chingu.”

Dengan itu ia membuka pintu dan melangkah keluar dari ruang rawat inapku.

-:Kai’s PoV:-

“Ish, kau seharusnya tidak memaksaku untuk ikut mobilmu!” Aku ingin sekali menggilas namja bernama Minhyuk yang beberapa jam lalu menawarkan kami semua untuk menjenguk Rein dengan tumpangan mobilnya.

“Kai, aku hanya menawarkan kepraktisan. Daripada kau sendiri naik motor.” Bantah namja dengan mata sipit itu.

“Well, sekarang ini bukan kepraktisan lagi Kang Minhyuk.”

Namja itu menggaruk tengkuknya. “Mian Kai. Ini mendadak. Lagipula kalau kau mau kau tinggal naik bus ke Paulo’s menjemput motormu lalu pulang.”

“Tidak. Aku akan ambil besok saja. Shiftku sudah berakhir makanya aku memutuskan untuk menjenguk Rein.” Tandasku sebelum berjalan menuju halte bus yang terletak tidak terlalu jauh.

Sepanjang jalan menuju halte aku tidak henti-hentinya mengutuk Minhyuk. Dia mungkin teman yang baik, tapi karena dia bukanlah dari keluarga yang pas-pasan – bisa dibilang ia sederajat dengan Kyungsoo, anehnya aku tidak mengerti mengapa dia memilih untuk repot- repot kerja paruh waktu di Paulo’s jika dia adalah anak orang kaya – dia selalu dirancangkan kencan buta oleh ibunya – dan seperti kali ini, dia tidak bisa mengantar kami kembali karena kencan aneh itu.

Lalu soal motorku sebenarnya aku tidak terlalu khawatir karena aku masih memiliki Kyungsoo untuk menumpang kuliah besok. Setelahnya aku bisa menaikki bus ke Paulo’s dan mengambil motorku sekalian bekerja.

Aku sampai ke halte tepat pada waktunya – karena Bus baru saja berhenti dan aku langsung memanjat naik berbeda beberapa orang dari punggung seorang yeoja yang aku kenal. Ilhae, yeoja itu menaikki bus yang sama? Bukankah apartemennya menaikki bus yang berbeda?

Karena penasaran aku memutuskan untuk duduk tepat disebelah yeoja yang tidak menyadari keberadaanku itu. Dia sudah memusatkan pandangannya keluar jendela.

“Kau tidak salah bus?” Aku berkata seraya mendudukkan diri.

Ilhae menoleh dan nampak terkejut. “Ani, aku harus bekerja. Perpustakaan, kau? Ke mana motormu?”

“Arra…” Bisa juga aku lupa yeoja ini bekerja. “Sebuah kebodohan teman.” Lanjutku kemudian.

Yeoja itu kali ini benar-benar menoleh untuk menyipitkan matanya curiga. “Kebodohan teman?”

Aku menganggukkan kepala. “Ne.”

“Tunggu, tunggu! Kau tidak mencoba untuk memastikan aku selamat sampai tujuan, kan? Walaupun aku sakit aku tidak butuh hal seperti itu.”

“Mwo? Yeoja ini! Apa peduliku padamu? Sudah aku bilang ini karena kebodohan teman.” Aku bersikeras.

“Kebodohan apa?” Tanyanya.

“Kenapa kau harus tahu?” Aku tidak berniat memberitahukan detail apapun.

“Untuk memastikan kau benar-benar tidak mengikutiku secara sengaja.”

“Sudah aku bilang, aku tidak memiliki ketertarikan untuk peduli padamu.”

Ilhae nampaknya tidak akan mengalah. “Kau jelas-jelas duduk disebelahku.”

“Kau memang lihat kursi kosong lain?” Aku menyuruhnya mengedarkan pandangan kesetiap sisi bus.

“Tapi kau bisa berdiri kan?” Bantahnya.

Aku tidak mengerti isi kepala yeoja ini. “Dan menjadi orang bodoh ketika masih ada kursi tersisa?”

“Well, pokoknya tidak disebelahku. Jadi kau benar mengikutiku secara sengaja?”

Aku merasakan beberapa tatapan ke arah kami dan yeoja ini benar-benar menjadikanku seperti stalker. Kudengar beberapa was wes wos tanda berbisik curiga.

“Cih. Aku dan staff Paulo’s yang menjenguk Rein menumpang dalam satu mobil, dan tadi tiba-tiba pemilik mobilnya ada acara mendadak dan motorku tertinggal di Paulo’s. Puas?” Aku bersekedap.

“Kenapa –”

“Aku tidak mengambil motorku sekarang karena jarak ke Paulo’s lebih jauh daripada pulang ke rumah. Besok pagi aku akan pergi ke kampus bersama Kyungsoo dan dari kampusku yang lebih dekat dengan Paulo’s baru aku akan naik bus ke sana bekerja dan mengambil motor.” Aku menggerutu dan bertanya-tanya kenapa pada akhirnya aku harus menjelaskan rencana mengambil motorku sedetail-detailnya pada yeoja ini.

“Masuk akal, ya sudah. Duduklah di sini.” Lalu Ilhae mengalihkan pandangannya dariku menuju jendela bus yang sedikit terbuka dan memberikan semilir angin yang menyejukkan.

Sudah? Jawaban yang benar-benar menyebalkan. Aku merogoh ponselku dan bermain dengannya selama kurang lebih 10 menit sebelum merasa bosan dan berhenti. Aku bermaksud melihat keluar melalui jendela tapi malah melihat Ilhae.

Kelopak mata dengan bulu mata lentik itu perlahan menggelepar tertutup, terbuka lagi, lalu tertutup lagi sebelum pada akhirnya kepala yeoja itu naik-turun karena tertidur dalam posisi tidak praktis tersebut. Dapat aku lihat warna kehitaman di bawah matanya dan perlahan kepala yeoja itu semakin jauh dari sandaran kursi. Semakin turun kepalanya dan akhirnya yeoja itu terbangun karena kaget. Membuatku nyaris tertawa karena ekspresinya yang diluar kata normal.

“Ish!” Ilhae menggerutu sebelum menyandarkan kepalanya lagi dan menutup matanya.

“Kurang tidur?”

“Ne.” Jawabnya kesal.

“Wae?” Entah kenapa aku penasaran.

Lalu yeoja itu membuka matanya dan melihat ke arahku lagi. “Kenapa aku harus menceritakannya? Hah…”

Tanpa aku menjawab apapun ia langsung membuka mulutnya lagi. “Karena cedera aku terus memikirkan kalau tidurku harus terlentang dan itu tidak nyaman sama sekali. Seumur hidupku aku selalu tidur menghadap ke kiri yang berarti menepatkan bahu kananku dibawah – dan itu tidak bisa karena ini!” Ia menunjuk-nunjuk bahu kanannya jengkel.

“Belum lagi kepalaku masih berdenyut sedikit. Pada akhirnya aku harus minum obat penghilang sakit agar bisa tidur tanpa khawatir. Tapi menyedihkannya aku baru minum obat jam 2 kukira… dan bangun jam 9, padahal bus jam 8.45 sudah lewat sedangkan kuliahku jam 10. Menjengkelkan.”

“Kau selalu menceritakan sesuatu dengan detail ya?”

“Maksudmu?” Ia menaikkan alisnya tidak mengerti.

“Maksudku kau bisa saja langsung bilang kurang tidur karena bahumu membuatmu tidak nyaman daripada bercerita panjang lebar?”

Ilhae mengedikkan bahu kirinya yang sehat. “Molla, kebiasaan saja. Rasanya tidak benar jika kau memberitahu seseorang dan tidak jelas.”

“Jadi kau tidak berbohong?”

“Tentu saja aku bisa. Aku tinggal menambahkan detail yang memungkinkan. Aku tidak bilang kalau aku selalu menceritakan segalanya dengan jelas dan JUJUR.”

Aku tidak menjawab kembali pernyataannya dan kembali dengan pikiranku sendiri.

Seperti deja vu, mataku yang lelah dengan pemandangan lantai atau kakiku sendiri aku menoleh menuju jendela hanya untuk melihat Ilhae tengah tertidur dengan gaya yang serupa. Namun, berbeda dengan sebelumnya aku tidak membiarkan kepala itu jatuh tapi menahannya dengan tanganku. Agak bingung dengan apa yang harus aku lakukan berikutnya aku dengan canggung membuatnya menyeder pada bahuku.

-:Author’s PoV:-

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu seorang Geum Ilhae datang. Tepat dua hari kemudian Rein dinyatakan bisa pulang karena kakinya sudah sehat walaupun yeoja itu masih harus menggunakkan deker. Tapi bagi Ilhae setidaknya Rein tidak perlu memakai kruk atau tinggal lebih lama di rumah sakit.

“Rein-ah! Ppali!”

Rein mengikuti Ilhae dari belakang hanya dengan berbekal satu tas berisi tempat bekal sedangkan tasnya yang lebih besar dengan keras kepala dibawa Ilhae yang makhluk itu sendiri masih cedera.

“Kau pelan-pelan!” Rein mengomel ketika Ilhae sudah menyetop taxi lagi dan membuka pintu belakang lalu melempar tas Rein ke dalamnya.

Rein segera menyusul setelahnya, ia duduk di sebelah Ilhae. Karena keduanya terpisah oleh tas selempang Ilhae – Rein dapat merasakan getaran yang berasal dari ponsel yang berada di dalamnya. Yeoja ceroboh tersebut mengambil ponselnya yang bergetar dan Rein dapat mengintip dari jarak yang dekat itu.

Rein sangat mengenal ekspresi Ilhae saat ia mengucapkan ‘Yobseo’. Ekspresi yang ditujukan Ilhae untuk pengagum rahasia dengan nomor telepon yang tidak dikenal Ilhae yang belakang Rein tahu adalah seorang Ok Taekyeon.

Heishh.. Jika Ilhae merasa terganggu dengan namja itu. Kenapa kelihatannya Ilhae tidak bisa menolak Taekyeon? Gemas. Rein merebut paksa ponsel putih yang sedang Ilhae tempelkan di telinga kanannya.

Yeoja bermarga Geum itu melotot saat Rein merebut ponselnya dan berbicara pada Taekyeon.

“Hae-ya, jadi kau mau kan makan malam di restoran seafood nanti malam? Bersamaku?”

“Ya! Ok Taekyeon.” Ilhae menutup matanya ketika mendengar nada sangat amat tidak bersahabat yang keluar dari mulut sahabatnya. Samar terdengar suara terkesiap Taekyeon.

“Neo? Jung Rein?”

“Kau pikir? Siapa lagi memangnya yang bisa menyentuh ponsel Ilhae selain aku?”

Rein mendengar dengusan dari sambungan telepon. “Mana kutahu.”

“Benar, apa yang kau tahu memangnya? Apakah kau mengenal Ilhae dengan baik? Aku tidak yakin. Kau bahkan tidak tahu Ilhae tidak suka seafood dan paling anti diajak makan ke restoran seafood.” Cemoohan Rein membuat Ilhae merengut ke arahnya, tapi Rein sama sekali tidak mempedulikannya.

“Jangan ganggu Ilhae lagi. Jujur saja, aku tidak mengerti kau mendekati Ilhae untuk alasan apa. Kau tidak terlihat menyukai sahabatku secara tulus. Kau terlihat seperti terobsesi memilikinya.”

Percayalah, Taekyeon sedang mendapat serangan jantung di tempatnya berada. Gaya bicara Rein yang sangat to the point terkesan frontal membuatnya amat kaget.

Apalagi Rein langsung menutup panggilan secara sepihak dan begitu saja tanpa mengatakan apa-apa lagi.

Rein di sisi lain, memberenggut kesal ke arah ponsel Ilhae layaknya itu adalah Ok Taekyeon.

“Heol! Aku benar-benar tidak suka dengan namja ini!!”

Ilhae memandang Rein dengan tatapan yang campur aduk – lega, bingung, dan kaget.

“Wae?!” Rein membentak Ilhae.

“Apa yang kau lihat dari Taecyeon sampai kau sebegitu garangnya? Tetap aku berterima kasih padamu, kau menyelamatkanku. Aku bisa masuk rumah sakit lagi kalau makan kepiting sekali saja.”

Rein benar-benar tidak mengerti kenapa bocah di sampingnya ini repot-repot mengangkat telepon yang jelas-jelas tidak diharapkan sama sekali. Sepertinya ia harus ceramah?

“Geum Ilhae, sederhana saja. Saat kau punya pilihan. Mengapa kau harus melakukan hal yang tidak kau sukai? Aku sangat tahu dari matamu dan gerak gerikmu, saat kau bersama Taekyeon kau tidak menyukai keadaan itu. Berbeda dengan saat kau bersama Kai -“

“KAI?” Rein terlonjak dan menatap Ilhae dengan pandangan aneh. Kenapa reaksinya berlebihan sekali ketika mendengar nama Kai?

“Ya. Kai. Kim Jongin. Walau kau lebih banyak bertengkar dengan Kai daripada rukun. Tapi kau tidak terlihat tidak menyukainya. Got it? Jadi menurutku kau jauh lebih baik dengan Kai daripada si Taekyeon-Taekyeon itu.”

“Benarkah?” Ilhae mengerutkan dahinya dan Rein mendengus puas.

“Tidak lama lagi kau juga pasti mau mengakuinya, temanku yang terkadang suka sok pura- pura bodoh.” Rein tertawa dalam satu detik, ada makna yang tidak diketahui Ilhae dibalik tawanya.

“Yak! Apa itu? Kalau aku mau berdamai dengannya dan menjadi temannya seperti kau dan dia dan Kyungsoo dengannya? Atau seperti aku dengan Chen? Baekhyun? Chanyeol?” Ilhae menatap Rein sebal karena meninggalkannya dalam asumsinya sendiri.

“Jadi… Rein-ah, apakah kau akan mengakuinya juga? Suatu saat nanti? Berdamai dengan Park Chanyeol secara utuh? Seperti Sehun?” Kali ini daripada pusing dengan asumsinya sendiri Ilhae lebih memilih menyerang temannya yang langsung mendapat serangan jantung mendadak.

“Kau salah tingkah! Aku bahkan tidak mengerti apa yang kau ucapkan.. Aku dengannya, Kyungsoo dengannya. Kau dengan Chen. Mwo hae? Berbelit-belit sekali. Kkeut. Mari tidak kita bahas lebih lanjut! Dan satu hal, aku tidak perlu berdamai dengan Sehun. Memangnya aku pernah bertengkar dengannya. Ckk.” Dengan ‘pintar’ Rein mencoba melarikan diri dari pembicaraan yang tidak ingin dibahasnya.

“Baiklah jika itu maumu. Mari fokuskan pembicaraan hanya pada sosok Oh Sehun dan kau. Ayolah, aku penasaran kau tahu.. Namja bernama Oh Sehun terlihat menatikan sesuatu setiap aku memergokinya ketika melihatmu setiap aku menjengukmu – oke 3 kali.” Ilhae tidak bermaksud kalah walau otaknya tengah memproses kata ‘salah tingkah’.

Yeoja dengan tinggi 170 cm itu menghela napasnya. Sehun yah… Perlukah ia membicarakan tentang Sehun pada Ilhae? Tentang kejadian beberapa hari yang lalu, ketika Sehun mengungkapkan perasaannya padanya. Well, Sehun memang tidak pernah membicarakan soal itu lagi setelahnya. Tapi bahkan Ilhae pun tahu bahwa Sehun menantikan sesuatu, jawaban akan perasaannya.

“Sehun, dia menyukaiku.” Aku Rein dengan nada frustasi. Frustasi? Ya. Karena sampai sekarang Rein masih belum bisa menemukan jawaban apapun yang bisa menjawab perasaan Sehun.

“Seseorang akhirnya menyukai Jung Rein, selain si idiot. Jadi berjuanglah chingu! Aku tidak bermaksud ikut campur, hanya ingin tahu, tapi jika kau kesulitan kau bisa bicara denganku. Walaupun kau dan aku sama saja, setidaknya dua otak mungkin lebih efektif daripada hanya otak Jung Rein. Rambutmu bisa rontok kalau kebanyakan berpikir.”

Dalam sedetik, Rein sempat terpana dengan kalimat yang dilontarkan sahabatnya yang terasa sangat bijaksana dan dewasa. Dan yang pasti, itu bukan Ilhae sekali! Dia tersenyum dan… Dan ada sesuatu yang membuat keningnya otomatis berkerut.

“Si idiot?”

“Kau tahu Jung Rein.” Kalimat tersebut membuat Jung Rein berusaha memutar otak.

Lalu ditengah keheningan yang baru sebentar itu Ilhae bergumam. “Bagaimana ya rasanya menyukai seseorang?”

“Rasanya aneh.” Rein terdiam sejenak, sementara Ilhae melirik Rein dengan mata penuh kecurigaan. Tidak biasanya Rein menjawab pertanyaan secepat dan seyakin ini. Atau bahkan anak itu tidak berpikir untuk menjawab pertanyaan ini?

“Ada 2 tipe orang saat menyukai seseorang. Yang pertama; dia akan berusaha sedekat mungkin dengan orang yang dia suka dan berusaha mati- matian menarik perhatian orang yang dia suka. Dan yang kedua; yang akan selalu menjauhi orang yang dia suka karena alasan namja yang dia suka membuat hidupnya terasa aneh dan kacau balau. Well, Hae-ya. Menurutku jika suatu saat kau menyukai namja, kau akan masuk tipe orang kedua.” Rein mengangguk-angguk.

“Mwo? Kau belajar dari mana Rein-ah? Kalau begitu kau apa? Tipe kedua?” Ilhae menatap keluar jendela dan kembali pada pulau Jeju, Kai? Maldo andwae! Ilhae langsung menggeleng-gelengkan kepalanya. Kenapa ia jadi memikirkanya seserius ini hanya karena Rein bicara?

“Aku membaca dari buku psikologi tentang orang yang jatuh cinta. Tentu saja kau tipe kedua, aku mengenalmu dengan sangaaaat baik Geum Ilhae. Kau tipe orang yang menyangkal perasaanmu sendiri. Sementara aku? Entahlah.”

“Kau out of any type? Tipe campuran? Kenapa kau baca buku seperti itu pula? Aku jadi penasaran sendiri.” Ilhae setengah mengerutu pada kalimat terkahir.

“Tipe yang tidak peduli!” Dengan ini Rein mulai menutup matanya dan menyenderkan kepalanya pada kaca mobil, berniat ingin mengambil tidur siang. Mengingat jarak yang ia tempuh sampai ke apartemen cukup jauh.

Ilhae mengangkat bahunya melihat reaksi Rein.

*-*-*

Seorang yeoja bermarga Geum tengah menyendiri di sudut terpencil kantin, yeoja itu tengah merebahkan kepalanya di atas meja dengan sebuah buku yang terbaikan tidak jauh dari sikunya. Desahan nafas berat sudah lolos dari bibirnya sekitar 10 kali sore itu, bukannya khawatir dengan professor yang menjanjikannya tugas telah menghilang begitu saja, yeoja itu lebih resah hanya karena kalimat dari Jung Rein seminggu lalu. Percakapan tidak penting yang seharusnya hanya menumpang lewat di otakknya malah bercokol bagaikan benalu.

“Hoy! Kau masih di bumi?”

Ilhae berdecak sebal ketika telapak tangan seseorang telah melambai-lambai di hadapan mukanya dengan seenak jidat, tidak tahukah kalau dia melambaikan tangannya dengan hyper sekali sehingga Ilhae sangat takut kalau wajahnya kena tampar?

“Neo! Apa sih yang kau kerjakan di sini?!” Ilhae mengomel.

“Menyelamatkan seseorang agar tidak diculik.” Orang itu menjawab seenaknya dan mengambil tempat tepat di sebelah Ilhae.

“Tidak bersama si Kkaebsong?” Dengan berat hati Ilhae menegakkan kepalanya.

Chen mengedikkan bahunya. “Namja itu sedang pergi kencan.”

“Jadi itu sebabnya kau menggangguku sekarang?”

“Sebagian besar karena itu, lalu apa yang kau kerjakan sekarang?” Chen mengambil buku yang terbuka itu dan membacanya sekilas. “Buku psikolog? Orang jatuh cinta?”

Ilhae mengambil buku itu dari Chen. “Aku pinjam dari Rein.”

Pada kenyataannya sebenarnya buku itu tergeletak di meja ruang tengah dan Ilhae tergoda untuk membacanya.

“Apakah ini berhubungan dengan tugas perbaikanmu?”

“Tidak. Profesor yang akan memberikan tugas tambahan itu menghilang karena mendapat undangan kongres ke New York dan semuanya ulahmu psikopat! Aku sudah bisa merasakan freedom, kalau saja jawabanmu-“

“Berhentilah memanggilku begitu Geum Ilhae!” Buru-buru Chen memotong gerutuan Ilhae yang akan berakhir panjang jika tidak dicegah. “Jadi kenapa kau membaca buku seperti itu?” Lanjutnya sambil mendengus karena yeoja di sebelahnya itu sudah memanggilnya dengan julukan psikopat selama satu minggu penuh – belum lagi Baekhyun yang mengikuti jejak Ilhae tersebut.

“Karena penasaran.”

“Itu saja?” Chen tidak yakin, pasti ada alasan lain. Walaupun Ilhae adalah makhluk dengan tingkat keingintahuan paling tinggi yang pernah ia kenal, tapi melihat wajah yang kusut itu ia tidak yakin ini hanya sekedar penasaran.

“Ingin tahu Jung Rein tipe yang mana. Dia bilang dia tipe yang tidak peduli tapi aku tidak yakin.”

“Aku yakin bukan karena itu. Geum Ilhae kau orang yang mudah dibaca. Pasti setidaknya ada ‘seseorang’ yang menjadi alasan mengapa kau membaca buku semacam ini.” Chen ingin sekali menyebutkan nama tapi yakin Ilhae akan langsung melarikan diri.

“Ck?! Sekali saja jangan sok tahu Mr. Psikopat!” Decak Ilhae jengkel, dan yeoja itu menyerahkan kembali bukunya pada Chen dengan menunjuk sesuatu yang spesifik.

“Tipe kedua, tipe yang akan selalu menjauhi orang yang dia suka karena alasan namja yang dia suka membuat hidupnya terasa aneh dan kacau balau. Kalimat ini yang membuatku tertarik dengan buku psikologi semacam ini bukan karena seseorang!”

Rasanya Ilhae sudah ingin membakar buku sumber semua bencana yang menimpa batinnya itu. Bisa yah sebuah buku – berawal dari penuturan Rein – bisa menganggu ketentraman batinnya, selama lebih dari sehari? Sial!

“Tapi fakta bahwa kau belum pernah menyukai seseorang sebelumnya, membuat ini menarik Hae-ya.” Chen menambahkan.

“Tepat sekali, karena itu aku bingung.”

“Siapa yang ada di otakmu ketika kau pertama kali membaca kalimat ini?” Tembak Chen.

Ilhae membuang muka. “Aku tidak memiliki keharusan apapun untuk menjawab pertanyaanmu.” Ilhae dengan jengkel mengambil buku tersebut dari Chen.

“Apa yang kau rasakan ketika berdekatan dengan lawan jenis aka namja?” Sial! Chen sama sekali tidak menggubris penolakannya, namja yang tingginya sangat jomplang dengan Chanyeol itu malah ‘mewawancarainya’.

“Mwo?” Ilhae langsung menghentikan aktifitasnya sementara Chen malah mempersempit jarak diantara mereka. Tidak lama kemudian Chen merangkul Ilhae.

“Apa-apaan?!” Ilhae mendengus dan mendorong Chen jengkel.

“Jadi bagaimana?”

“Jijik! Terutama denganmu!”

Chen bangkit dari tempatnya. “Sederhana, jika kau menyukai namja itu, maka rasanya tidak seperti yang kau rasakan ketika berdekatan denganku. Itu cara memastikan yang paling ampuh, daripada kau menyama-nyamakan caramu memperlakukan namja itu dengan ciri-ciri buku.”

“Psikopat!” Ilhae mengumpat kesal.

“Itu kreatif. Aku bertaruh kau pasti tergoda untuk mencobanya. Dan jangan habiskan waktumu untuk marah-marah padaku, jam berapa sekarang?” Chen terkekeh puas ketika Ilhae merengut melihat jam tangannya.

“SIAL! AKU TERLAMBAT!”

“Terlalu berkonsentrasi untuk menyadari alarmmu yang sudah bergetar sejak 15 menit lalu.”

Melupakan keinginannya untuk menghajar Chen, Ilhae lebih memilih untuk berlari mengejar bus.

*-*-*

“Apa yang Ilhae lakukan? Jika dia belum sembuh seharusnya dia mengambil libur lagi saja,” Jangmin berhenti dari latihannya dengan Kai dan menatap Ilhae yang tengah memeluk lutut di sudut ruangan dengan wajah paling jelek yang pernah Jangmin lihat.

Sementara Jangmin sibuk dengan omelannya Kai memiliki hal lain yang perlu ditanyakannya pada Ilhae. Sudah sejak latihan mulai yeoja itu terlihat tidak ingin melakukan kontak apapun dengannya, tetapi berkali-kali pula Kai menangkap basah Ilhae yang tengah memelototinya dan ia benar-benar ingin tahu. Adakah yang ingin disampaikan oleh yeoja itu padanya?

“LATIHAN SELESAI.”

Dengan pengumuman dari Baram seluruh isi kelas membubarkan diri termasuk Jangmi yang sudah sibuk mengobrol dengan teman-teman yeojanya. Kai yang melihat Ilhae tidak bergerak berinisiatif untuk menyadarkan yeoja itu.

“Kelas sudah bubar.”

Ilhae yang tengah berada dalam dunianya terperajat ketika menyadari kalau Kai tengah berjongkok tepat di hadapannya.

“Cederamu sudah sembuh?”

Bukannya menjawab pertanyaan Kai seorang Geum Ilhae menciut di tempatnya. Matanya nyalang menatap Kai sementara otaknya kembali memikirkan ulang tips dari Chen.

Fix! Dia memilih untuk tidak menerima usul si Psikopat Chen. Ilhae memelototi Kai dan beranjak dari posisinya.

“YA! JANGAN DEKAT-DEKAT DENGANKU! SATU METER! JANGAN MENCOBA UNTUK MENDEKAT LEBIH DARI ITU!” Ilhae menunjuk-nunjuk Kai dengan telunjuknya tepat di depan wajah namja itu lalu Ilhae meninggalkan Kai dengan langkah cepat, membuat Kai kaget sendiri karena tidak memperkirakan reaksi tersebut yang Ilhae pilih untuknya.

*-*-*

“Kartu sialan.. Kartu sialan…” Bagai mantra. Ilhae menggerutu ketika bus menurunkannya tepat di halte di dekat Paulo’s. Ilhae lupa untuk membawa kartu apartemennya. Dan tanpa kartu sialan itu ia tidak bisa pulang, tentu saja dia tidak bisa menembus pintu lobby dan terjebak diluar sampai seseorang yang tinggal di gedung apartemennya menggesekkan kartunya pada alat pemindai kartu yang menempel dipintu. Tapi Ilhae tidak ingin mengambil resiko dicurigai sebagai yang tidak-tidak dan ia harus pulang bersama Rein kalau tidak mau menunggu seperti orang tolol didepan gedung apartemen.

Dengan tingkat keawasan paling tinggi Ilhae mendorong pintu Paulo’s dan memusatkan indra penglihatannya untuk mencari Rein.

“Baekhee, kau lihat Rein?” Ilhae langsung menghampiri meja yang sedang dibersikan Baekhee.

“Ilhae-ya, sepertinya Rein sedang beristirahat di ruang staff. Karena lututnya dia tidak bisa banyak bergerak hari ini. Kau mau menjemputnya?” Tanya Baekhee.

“Kurang lebih.”

Perhatian Ilhae yang hanya dipenuhi dengan kata mencari Rein secepatnya dan menggeret yeoja itu pulang– tidak bisa disangkal dia sangat berkeinginan untuk tidak berpapasan dengan Kai, sampai-sampai yeoja itu tidak menyadari kalau sejak ia masuk Kai tengah mengamatinya dari balik mesin pembuat kopi.

Kai adalah orang yang tidak suka jika seseorang bersikap tidak sopan padannya tanpa sebab dan itulah yang selalu dilakukan Ilhae padanya dan jujur saja ia merasa sangat tidak terima. Ia sekali lagi merasa berkewajiban untuk meminta penjelasan pada yeoja yang tengah mengobrol tidak santai dengan Baekhee dan sesekali menengok ke arah ruang staff dengan tidak sabar.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Detik itu juga Ilhae menoleh cepat.

“Heunggg.” Kata Ilhae lebih pada mencicit.

Kai melipat tangannya dan mengambil langkah mendekati Ilhae. “Apa yang kau maksud dengan tadi sore?”

Ilhae terlihat gelagapan dan mengambil langkah mundur. “Satu meter.”

“Jika tidak? Aku bukan virus!” Kai mengambil langkah maju dan tangannya berusaha mengapai tangan yeoja itu agar tidak kabur tapi Ilhae malah meloncat mundur – reaksi yang luar biasa dan tidak Kai perkirakan.

Ilhae dengan jantungnya yang berdegup cepat berbalik dan didepannya bertuliskan staff only. Tanpa membaca lebih teliti lagi Ilhae memutar kenop pintu dan langsung masuk dan membanting pintu dan menahan kenop pintu dengan tangannya.

“YA! HAE BABO!” Kai menggedor pintu dan berusaha memutar kenop pintu.

“Jangan mendekat!” Ilhae berteriak dari dalam.

“KELUAR! INI RUANG -“

Belum sempat kalimat Kai selesai didengar oleh Ilhae, yeoja itu sudah terfokus dengan hal lain.

“Apa yang kau lakukan?” Seorang namja yang sama sekali tidak menggunakan atasan menatap blank pada Ilhae.

“HAAAAAHHHH!” Ilhae langsung membuang muka dan menatap pintu. Ia salah masuk! Ia kira ini ruang ganti staff perempuan dan dia akan menemukan Rein.

“Buka pintunya bodoh!” Kai masih berusaha memutar kenop pintu tapi tidak berhasil karena pegangan Ilhae lumayan kuat dan Kai tidak ingin merusak properti cafe.

“Tidak!” Ilhae bersikukuh, dan yeoja itu nampaknya sudah melupakan keberadaan namja yang masih berada satu ruangan dengannya.

Sedangkan Minhyuk yang awalnya tengah membatu kali ini mulai bisa berpikir lagi. Tapi yang ada di otaknya adalah presepsi yang salah total.

“Kau pacarnya Kai? Kalian sedang bertengkar?”

Ilhae menoleh panik pada namja yang topless itu. “BUKAN!”

“GEUM ILHAE! KANG MINHYUK!” Kai berteriak dari balik pintu.

Sebuah senyum mencurigakan terlukis dari wajah Minhyuk dan namja itu mengambil langkah mendekati Ilhae.

“Jangan mendekat!” Ilhae menutup matanya panik.

“Jika kau memang tidak suka dengan Kai bagaimana kalau denganku saja?” Minhyuk memanfaatkan yeoja yang tengah menutup matanya itu untuk memakai kausnya.

“Jangan mendekat!” Ilhae masih menutup matanya rapat-rapat.

“Minhyuk!” Kai memperingatkan rekan kerjanya itu.

Minhyuk nyaris saja tertawa tapi karena ia adalah aktor yang baik ia dapat menahan tawanya itu. “Kenapa aku harus mendengarkan permintaanmu, cantik?”

Ilhae mendengarkan langkah kaki yang semakin mendekat sedangkan Kai tengah mengutuk rekan kerjanya, tangannya masih memutar kenop pintu yang tidak bergerak itu.

“Rambutmu indah.”

Kali ini Ilhae benar-benar takut setengah mati dan melepaskan genggamannya pada kenop pintu dan Kai dapat menarik pintu hingga terbuka namun namja itu tidak memperkirakan akan ada beban yang akan menyambutnya.

“Argh!” Kai terjatuh dengan Ilhae yang menimpanya.

“OMO!” Baekhee menutup mulutnya dengan kedua tangan. Lalu pandangannya beralih pada tamu Paulo’s yang serempak terfokus pada adegan aneh yang hadir di depan mata mereka. “Joesonghabnida, joesonghabnida..” Merasa perlu untuk meminta maaf pada para tamu yang mungkin saja merasa terganggu, Baekhee meminta maaf.

Sementara tokoh yang menyebabkan kegemparan kecil itu – Ilhae membatu ketika jarak antara wajahnya dan wajah Kai nyaris tidak memiliki jarak. Kai perlahan membuka matanya dan Ilhae merasakan perasaan kacau balau yang selalu dirasakannya ketika berasama Kai. Jelas saja! Apa yang ia rasakan ketika bersama dengan Chen dan Kai jauh berbeda.

“Berapa beratmu Hae-babo?!” Kai meringis.

“Lima puluh.”

“Kalau begitu cepat minggir! Kau ingin mematahkah rusukku?!”

Rein yang baru saja selesai mengganti baju cepat-cepat keluar dari ruang ganti perempuan karena khawatir dengan suara ribut-ribut yang didengarnya.

“Ada apa ini – EOH!” Belum sempat Rein dapat mengungkapkan keterkejutannya tangannya sudah ditarik oleh Ilhae. Yeoja itu menariknya ke ruang ganti perempuan dan mendorong Rein masuk.

“Pelan-pelan bodoh! Aigooo. Lututku berderak lagi!!!!!!” Jeritan kesakitan Rein membuat Baekhee dan Minhyuk melotot. Sementara Kai dia masih terpaku di tempatnya. Menatap punggung Ilhae yang menghilang di balik pintu staff dengan senyum yang terkembang di sudut bibirnya.

BRAK!

Pintu dibanting oleh Ilhae dan setelahnya yeoja itu langsung merosot memeluk lututnya sembari bersandar pada pintu.

“Ash!! Ceroboh sekali!! Apa yang kau lakukan Geum Ilhae?!” Awalnya Rein ingin ngamuk karena perbuatan Ilhae yang ‘sedikit menyiksanya’ tapi, melihat Ilhae yang terlihat seperti kalah perang Rein perlahan mendekati sahabatnya itu dan menunduk. Dan ketika itu Ilhae menengadahkan kepalanya.

Rein membelalakan matanya, wajah Geum Ilhae sangat merah seperti kepiting rebus.

“Hae-ya….”

To Be Continue…

Iklan

12 pemikiran pada “Cynicalace (Chapter 12)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s