Unbroken (Chapter 4)

Title: Unbroken – Chapter 4

Author: V (@violarosaliya)

Main casts: Kim Jong In a.k.a Kai | Kim Hyo Jae (OC)

Supporting casts: Find it out through the stories

Genre: Romance | school life | friendship

Rated: PG 13

Length: Chaptered

Disclaimer: Fanfiction ini murni hasil karya author tanpa plagiat dari fiksi manapun.

Author’s note: I hope you enjoy reading this fan fiction. Please leave comments after that. Every comment is so valuable for me. Thank you very much.

I also post this story on my blog phiyongg.wordpress.com

Summary:

Unbroken. Nothing will be broken.

Neither the precious relationship nor the old feeling.

Nothing should be broken in the middle of this triangle love.

(Author POV)

                   Detik jam terdengar begitu jelas di ruang tunggu di depan sebuah ruangan bertuliskan kamar operasi di atasnya. Tiga orang namja duduk tegak dengan gelisah hampir tiga puluh menit lamanya sejak operasi dimulai. Ketiganya memberikan ekspresi wajah yang nyaris sama yaitu khawatir. Salah seorang diantara mereka akhirnya memutuskan untuk beranjak dari bangku menuju mesin kopi terdekat ketika dua orang berlari di lorong rumah sakit yang sepi. Bisa dikatakan sangat sepi mengingat sekarang hampir menunjukkan pukul tiga pagi. Seorang yeoja yang baru saja datang bersama seorang namja itu masih menyeka air matanya ketika Ia menghampiri dua orang yang masih setia menunggu. Ia kembali menangis tanpa suara saat mendengar penjelasan lebih rinci mengenai apa yang terjadi pada adiknya itu. Namja yang datang bersamanya mencoba menenangkannya kini.

                   Di tempat berbeda

                   Di sebuah kamar tidur besar bergaya shabby chic terlihat seorang yeoja yang masih terjaga padahal sebentar lagi pagi akan datang. Ia belum berganti pakaian meski sudah hampir satu jam lalu tiba dirumah setelah selesai menonton festival musik. Entah kenapa Ia malah sibuk memandangi dua benda yang berada di hadapannya. Sebuah ponsel yang dayanya sudah habis dan sebuah jaket kulit berwarna hitam yang tergantung di depan lemari besar. Bukan hal yang penting yang harus dilakukan di pukul tiga pagi, kan?

                   Perasaannya terganggu, lebih tepatnya gelisah. Tapi kenapa harus tentang namja itu? Bukankah Ia sudah melihatnya hampir dua jam tadi? Apa ia kecewa karena tidak sempat mengobrol dengan namja itu walaupun sebentar? Tapi seharusnya namja itu kan yang seharusnya minta maaf padanya sekarang? 

                   Yeoja itu mengacak-acak rambutnya sendiri mencoba menghilangkan pertanyaan-pertanyaan absurd yang memenuhi isi kepalanya. Ia berjalan bolak-balik di kamarnya yang luas. Memandangi sebuah tulisan besar di kaos hitamnya di depan sebuah cermin. Tidak seperti biasa Ia malah merindukan namja itu. Dan sangat ingin bertemu dengannya saat ini juga. Entah kenapa. Ia juga tidak tahu alasannya.

                   Ia membasuh wajahnya yang masih dibalut sapuan make-up tipis. Lalu naik ke tempat tidur dan membaringkan dirinya disana. Di tengah ruangan yang sekarang hanya di terangi lampu tidur Ia ternyata masih terjaga. Wajah namja itu masih membayanginya. Ia menutup wajahnya yang memerah saat membayangkan senyum bahagia namja itu tadi saat menabuh drum. Lalu berhenti melakukannya saat sadar tidak seorangpun akan melihat perubahan ekspresi wajahnya itu. Ia menyingkapkan selimut bergambar bunga mawarnya lalu duduk di tempat tidur dan kembali memandangi jaket kulit itu dari jauh.

                   Ia akhirnya kenakan jaket kulit yang ternyata sedikit kebesaran itu, lalu memandangi dirinya kembali di depan cermin besarnya. Ia memeluk tubuhnya sendiri membayangkan dirinya memeluk Kai sekadar untuk mengobati kerinduannya. Kemudian terbesit sebuah ide. Diambilnya ponsel yang sudah habis dayanya itu lalu menyambungkannya ke listrik agar baterainya terisi kembali. Sudah lama hal ini ingin Ia lakukan. Namun, ia masih belum memiliki alasan berarti untuk melakukannya.

                   Ia menghidupkan ponsel sepuluh menit setelah baterai ponsel telah tiga puluh persen terisi. Ia lagi-lagi tersenyum malu saat melihat sebuah foto yang menjadi wallpaper ponsel. Nampak seorang namja tanpa kaos yang menampakkan tubuh kurusnya sedang khusyuk bermain drum dengan latar belakang dinding berlatar hitam putih. Foto itu semakin nampak natural karena diambil secara tidak sengaja oleh seseorang.

                   Setelah cukup puas memandangi foto yang Ia anggap sebagai harta karun itu, hal yang pertama kali Ia lihat adalah menekan sebuah ikon bertuliskan kontak. Dengan sedikit tergesa Ia mengetik tiga suku kata yang diawali dengan nama keluarga Oh. Namun Ia tidak menemukan nama yang Ia cari. Kemudian Ia menghapus nama Oh dan seketika matanya berbinar saat memandangi sebuah kontak dengan informasi nama Sehun lengkap dengan nomor ponselnya. Ia baru saja akan menekan tombol panggil saat sadar jam weker bulat di samping tempat tidurnya masih menunjukkan pukul tiga empat puluh pagi.

                   Kurang sopan sepertinya jika aku menelepon sekarang. Dia pasti sedang tidur kan?

                   Wajahnya tak menyiratkan kekecewaan. Ia tahu Ia hanya perlu menunggu beberapa jam lagi.

                   Ia menggeser daftar nama di kontak ponsel sekadar ingin tahu apa ada nama teman lama yang mungkin Ia kenal. Ia melihat nama So Ra noona tertulis di sana yang membuatnya mengingat hari disaat namja itu terkena kram perut. Ia kembali men-scroll layar sentuh itu dengan pelan dan tertegun saat melihat sebuah nama yang Ia kenal berada di deretan kontak yang tertulis kata Hyung di sampingnya. Tangannya bergetar. Matanya mengerjap.

                   Apa maksud ini semuanya?

                   Siapa mereka?

                   Kenapa semuanya terhubung seperti ini?

                   Siapa Kai sebenarnya?

♪♪♪

                   (Author POV)

                   Pukul 06:00 AM

                   KIM JONG IN. 17 TAHUN.

                   Dua informasi ini tertulis dengan huruf besar di ujung tempat tidur Kai di sebuah ruangan VVVIP rumah sakit. Uap dari mesin pemanas ruangan terlihat mengepul menghangatkan ruangan. Terlihat seorang yeoja setengah tertidur di samping Kai. Di salah satu sofa besar seorang namja baru saja bangun dan menyingkap gorden kamar untuk memantau suasana di luar kamar. Dengan malu-malu matahari bersinar di ufuk timur. Sinarnya yang masih tertutup sedikit awan membuat suasana di hari minggu pagi ini menjadi lebih teduh. Ia bangkit dari sofa dan mengelus lembut pipi yeoja itu dengan punggung tangannya. Yeoja itu tersentak lalu tersenyum. Terlihat matanya merah dan bengkak setelah menangis hampir semalaman. Ia bangkit dari tempat duduknya lalu mencium kening adik laki-lakinya itu yang kondisinya masih membuatnya begitu sedih. Ia sedih melihat Kai yang mendapat hampir 30 jahitan dan membuat kepala dan tubuhnya penuh perban. Tangan kanannya juga harus di pen karena patah. Hal yang samapun terjadi pada kaki kiri Kai yang tulang pahanya retak. Ia juga harus menggunakan alat bantu pernapasan.

                   Walaupun Ia seorang dokter yang terbiasa dengan situasi gawat darurat sekalipun, namun Ia juga tidak sanggup saat seorang yang Ia sayangi menderita seperti ini. Namja itu memeluknya dari belakang, mencoba menenangkannya.

  1. Drap. Drap.

                   Terdengar suara seseorang berlari dengan cepat menuju ruangan dimana Kai di rawat. Ia mengatur napasnya yang turun naik saat berdiri di depan pintu kamar. Setelah napasnya kembali normal Ia menggeser pintu dengan perlahan sambil menyiapkan dirinya untuk melihat kondisi Kai saat ini. Dua orang di dalam ruangan mengalihkan pandangan pada seorang namja yang kaos dan kemejanya sudah penuh keringat. Ia juga hanya mengenakan sandal menandakan Ia datang dengan tergesa. Ia memasuki ruangan dengan raut wajah menyesal dan terluka.

                   “Noona. Waee?” tanyanya seketika masuk ke ruangan.

                   “Mian. Sehun-ah. Noona juga kalut saat teman-temannya memberitahu kondisi Kai tadi malam. Dan itu juga masih dini hari, noona hanya tidak ingin merepotkan” jawab So Ra dengan suara serak pada protes Sehun yang baru mendapat pesan setengah jam lalu. Ia mencoba menahan tangis, namun kembali mengingat kejadian tadi malam membuatnya sedih. Sehun sadar protesnya itu tidak begitu penting lagi saat ini. Hal yang terpenting sekarang adalah Kai sudah melewati masa kritisnya dan mendapat perawatan terbaik di sini.

                   “Ne, noona. Maaf. Aku hanya terbawa emosi” kata Sehun memeluk noona Kai yang disambut anggukan lemah.

                   “Noona bisa pulang bersama Kris hyung. Aku akan menjaga Kai sekarang”

                   “Baiklah, Sehun. Tolong jaga Kai, ya”

                   “Langsung telepon aku bila ada apa-apa”

                   So Ra dan namja bernama Kris itu beranjak dari ruangan sambil sebelumnya mengelus tangan Kai.

                   (Sehun POV)

                   Aku mengelap keringatku yang ternyata mengalir deras di sekitar wajah. Tidak heran. Memang seperti itulah seharusnya reaksiku. Reaksi paling cepat yang bisa aku lakukan saat mendapat telepon dari Kris hyung mengenai apa yang terjadi pada Kai beberapa puluh menit lalu. Sontak aku yang baru saja bangun kaget bukan main dan menganggap ini semua bohong. Kemudian aku berpikir, mana mungkin noona meminta Kris hyung menghubungiku hanya untuk berbohong, kan? Setelah itu aku hanya berpikir dimana aku meletakkan kunci mobil dan dengan hanya menggunakan sandal meluncur di pagi buta yang masih cukup dingin menuju rumah sakit.

                   Aku menyesali protesku pada noona tadi. Tidak seharusnya aku marah seperti itu hanya karena aku menjadi orang yang terakhir tahu mengenai kondisi Kai. Walaupun hampir sebelas tahun berteman dan merasa sangat khawatir pada apapun kejadian buruk yang terjadi padanya. Tapi, noona pasti seratus kali lebih khawatir dari pada aku. Dan kekalutan noona pada kondisi Kai itu sangat wajar meskipun ini bukan pertama kalinya Kai masuk rumah sakit karena berkelahi.

                   Aku memandangi wajah temanku yang sedang tertidur itu. Seketika aku merindukan teriakan tidak pentingnya saat kami sedang bertengkar. Tawanya saat menertawaiku dan hal-hal lain yang hanya Kai yang bisa melakukannya.

                   “Cepat sembuh, Kai. Aku tahu kau pasti kuat” aku terdengar menyemangati diriku sendiri. Mataku berkaca-kaca. Aku berusaha keras agar tidak ada air mata yang jatuh. Aku juga harus kuat saat menguatkan Kai, kan?

                   “Aku tidak menangis, Kai. Aku senang kau sudah disini sekarang. Cepat sembuh, Kai” aku menghapus air mata yang ternyata keluar dari mata kiriku.

  1. Kring.
  2. Kring.

                   Aku meraih ponselku yang berdering nyaring sambil bertanya-tanya siapakah gerangan yang menelepon aku sepagi ini? Apa eomma yang sadar anaknya sudah tidak ada dirumah? Dan pasti akan terkejut karena aku sudah berada dirumah sakit di pagi buta. Kemudian akan semakin kaget saat mengetahui kondisi Kai. Sejenak aku ragu untuk membalik ponsel. Aku tidak tahu harus berkata apa pada eomma. Aku memberanikan diri membalik ponsel. Namun, ternyata aku yang kaget setengah mati saat melihat nama yang tertera di layar ponsel. Bukan nama eomma yang muncul tapi nama orang yang sedang terbaring di depanku.

                   “Apa ini? Kai meneleponku?” aku berbicara pada ponsel yang masih berdering.

                   Tapi kemudian aku menyadari ternyata itu nomor Kai di ponselnya yang hilang beberapa waktu lalu.

                   (Hyo Jae POV)

                   Dengan jantung yang berdegup cepat aku menunggu sambungan telepon diangkat. Tanganku berkeringat menandakan sedikit merasa gugup. Baru saja aku akan menutup telepon ketika terdengar suara seorang namja di seberang. Aku memperkenalkan diri saat namja di ujung telepon menanyakan siapa aku dan kenapa bisa menggunakan nomor ini untuk menghubunginya. Lama kami terdiam setelah aku menjawab pertanyaannya.

                   “Apa kau benar Hyo Jae?” namja itu kembali bertanya. Dan kali ini pertanyaannya sedikit di luar ekspektasiku.

          (Sehun POV)

                   “Apa kau benar Hyo Jae?” tanyaku sedikit ragu.

                   “Mwo?” jawabnya dari seberang telepon.

                   “Aku tanya apa kau benar Kim Hyo Jae?” tanyaku sedikit memaksa kali ini. Ia menjawabnya beberapa detik kemudian dengan terbata. Setelah mendengar penjelasannya entah kenapa semua hal yang pernah Kai ceritakan padaku sepertinya saling bertautan dan mengungkap fakta di baliknya tanpa sensor. Semuanya terpapar begitu nyata. Dan semua yang Kai yakini selama ini ternyata tidak salah kecuali satu hal yang belum terkonfirmasi. Aku merasa harus memberitahunya kondisi Kai saat ini.

                   (Hyo Jae POV)

                   Aku terduduk lemas setelah mematikan telepon. Seperti semua energiku bahkan seluruh rasa bahagiaku diserap habis oleh Dementor. Rasa cemas merambat begitu cepat membuatku kembali gugup. Tanganku berkeringat dingin.

                   Aku harus bertemu dengannya sekarang

                   Hanya itu yang ada di dalam pikiranku saat ini. Tanpa babibu aku langsung meluncur ke rumah sakit yang Sehun katakan tadi. Ini pertama kalinya aku menyetir sendiri di jalanan Seoul yang membuat aku semakin gugup. Tapi semoga jalan di Minggu pagi tidak begitu ramai.

                   Aku menyetir dengan tangan bergetar. Mataku mencoba membagi fokus antara layar GPS dan jalan yang ada di hadapanku. Mobil berjalan lambat di jalanan yang cukup lengang. Tidak berapa lama kemudian GPS menunjukkan lokasi yang aku tuju hanya tersisa beberapa meter di depan. Mobil berdecit saat memasuki halaman parkir rumah sakit. Aku meraih ponsel dengan cepat lalu keluar dari mobil. Aku berlari memasuki rumah sakit yang cukup luas. Memperhatikan denah untuk mencari tahu dimana ruangan VVVIP. Namun sepertinya itu tidak berguna karena aku sama sekali tidak fokus. Akhirnya aku putuskan untuk bertanya pada bagian informasi. Lalu menuju lift untuk naik ke lantai tiga. Aku berdiri memandangi diri di pantulan lift. Aku tersadar ternyata aku belum berganti pakaian. Aku bahkan tidak sempat merapikan rambutku dan masih mengenakan sandal kamar. Akhirnya aku merapikan sedikit rambut blondeku dengan jari. Membiarkannya terurai.

                   Lift berdenting. Pintunya terbuka.

                   Aku disuguhi pemandangan asri lantai tiga yang merupakan kawasan VVVIP. Dengan tergesa aku melangkah mencari kamar bernomor sembilan. Namun kemudian terpaku di depannya saat terbesit sedikit keraguan apa aku sanggup melihat kondisi Kai.

          (SEHUN POV)

  1. Pintu di geser. Nampak seseorang berdiri disana. Yeoja berpostur tubuh tinggi dengan rambut coklatnya yang panjang. Ia mengenakan kaos berwarna hitam bertuliskan KAI dan rok panjang yang juga berwarna hitam.

                   Apa dia yeoja yang Kai ceritakan padaku?

                   Apa dia benar Hyo Jae?

                   Apa dia yang datang di festival tadi malam?

                   Ia masih mengenakan sandal kamar. Mungkin sama tergesanya denganku. Ia berjalan pelan dalam diam menuju tempat tidur Kai lalu berdiri mematung di sisinya tanpa melakukan apapun kecuali memandangi wajah Kai yang sedang tertidur. Ia meremas ponsel putihnya sambil menahan air matanya yang bisa jatuh kapan saja.

                   “Aku belikan kopi sebentar, ya” aku mencari alasan agar bisa meninggalkannya bersama Kai.

                   (Hyo Jae POV)

  1. Pintu di tutup.

                   Suara langkah Sehun perlahan menghilang di balik pintu meninggalkan aku dan Kai. Aku memandangi wajahnya dalam diam. Entah sejak kapan aku tidak tahu harus mengatakan apa-apa. Mungkin terlalu banyak yang ingin aku katakan padanya hingga tidak ada satu katapun yang bisa keluar. Lagi pula Ia tidak akan mendengar. Walaupun mendengar, kondisi Kai sangat lemah hanya untuk sekadar mengangguk. Ia tertidur. Wajahnya terlihat tenang namun penuh perban. Kaki dan tangannyapun demikian. Aku terduduk di sebelahnya. Memandangi tangan kirinya dengan haru. Terakhir melihatnya tadi malam, Kai masih begitu sehat dan bisa tersenyum. Tapi sekarang Ia hanya bisa terbaring dengan keadaan seperti ini. Aku memegang jari-jarinya tidak di perban. Dengan tangan dan jari-jari ini Kai bisa menabuh drum. Akhirnya aku menggenggamnya dengan kedua tanganku dan menundukkan wajahku disana. Air mata mengalir di sela-sela jari. Aku tidak bisa membayangkan bagaiman keadaan Kai tadi malam. Tubuhnya pasti penuh darah.

                   Aku bangkit dari tempat duduk memilih untuk memandang jauh keluar jendela. Matahari sudah bersinar terang saat ini. Cahayanya masuk menembus jendela memberikan sensasi hangat bersamaan dengan rasa sejuk dari angin semilir yang berhembus. Aku menghembuskan napas sambil menyeka air mata yang masih menetes.

                   Aku duduk di salah satu sofa di depan tempat tidur Kai. Tidak sengaja aku membaca papan informasi di ujung tempat tidur. Tertulis KIM JONG IN dengan huruf besar di samping tulisan nama dan 17 TAHUN di samping kata umur. Mendadak aku terserang vertigo. Seperti sulit untuk berpikir saat aku mencoba mengaitkan beberapa hal yang sepertinya memang bertautan.

  1. Kim Jong In. 17 Tahun.

                   Oh Sehun.

                   Mereka berdua berteman sejak SD.

  1. Apa maksud ini semua?

                   Apa benar Kai adalah Kim Jong In?

                   Kim Jong In teman SD ku? Satu-satunya anak laki-laki di sekolah yang pernah membuatku menangis? Apa benar itu dia?

                   Aku juga melihat nama Taemin oppa di daftar kontak Kai tadi malam. Aku dan Kai bertemu di SOPA hari itu. Ia bilang ingin menemui seseorang, kan?

                   Kenapa Taemin oppa tidak memberi tahuku padahal dia tahu yang sebenarnya? Kenapa dia seperti merahasiakan semuanya dariku?

                   SOMEONE PLEASE ANSWER ME.

♪ ♪ ♪

                   (Author POV)

                   Sehun berjalan dengan santai sambil membawa dua gelas kopi menuju kamar rawat Kai. ia menggeser pintu menggunakan bahunya karena kedua tangannya tengah memegang gelas kopi seperti yang Ia janjikan tadi. Baru saja Ia hendak menyapa teman lamanya itu, Ia akhirnya sadar bahwa ruangan itu sudah kosong dengan Kai sendirian yang tersisa disana. Hyo Jae sudah pergi tanpa pamit, tanpa jejak, dan tanpa alasan. Sehun duduk di sofa lalu meletakkan gelas ke atas meja. Ia memandangi papan informasi Kai yang tertempel di ujung tempat tidur.

“Aku bertemu dengannya. Aku tahu siapa dia. Tapi dia tidak tahu kalau aku Kim Jong In. Dan itu membuatku tidak tenang”

“And then?”

                   “Sehun, kami tidak seharusnya berteman kan? Reaksi yang aku tunggu saat Ia bertemu denganku setelah enam tahun adalah memaki, menampar, atau melakukannya sekaligus mungkin. Bukan malah menolong dan menjadi temanku”

                   Sehun menopang wajahnya dengan tangan kanan, ia kembali teringat pembicaraannya dengan Kai tentang Hyo Jae beberapa waktu lalu di sekolah. Kai merasa tidak tenang jika Hyo Jae belum tahu siapa dia sebenarnya. Kai merasa tidak seharusnya dia berteman dengan yeoja itu. Tidak seharusnya yeoja itu menolongnya saat itu. Tapi ini semua bukan salahnya, kan? Dia bahkan sama sekali tidak tahu. Dan sekarang sepertinya dia sudah tahu. Dan sepertinya dia sudah mengambil keputusan.

                   “Dia sudah melakukan apa yang seharusnya, Kai. Dia sudah melakukan permintaanmu” gumam Sehun.

to be continue

6 pemikiran pada “Unbroken (Chapter 4)

  1. Atuhlah… Kenapa pendek thor 😦 jadi penasaran nih. Jadi, hyojae marah? Sebenernya yang ngehajar Kai siapa? 😦 keren thor, next chap jangan lama lama 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s