Chanyeol Appa! [Chapter 6]

part 6

Tittle   : Chanyeol Appa!

Part 6 : “Eomma and Appa’s Day!”

Lenght : Chaptered

Rating                                    : PG 13+

Genre : Comedy, Romance and Family

Author : deeFA (Dedek Faradilla)

Twitter : @JiRa_deeFA

Main Cast : ChanYeol EXO-K (Park Chan Yeol)

                   Hwayoung (Ryu Hwayoung)

                   Baek Hyun EXO-K (Byun Baek Hyun)

                   Ara Hello Venus (Yoo Ara)

                   Suho EXO (Kim Joon Myun)

                   Krystal f(x) (Kim Soo Jung)

                   Aleyna Yilmaz Ulzzang Baby (Park Shin Hye)

Salam kenal dari author di Aceh. Ini FF kedua setelah FF ‘100 Ducks’ rampung di selesaikan. Author amatiran ini ingin berterima kasih bagi yang sudah baca di part sebelumnya. Tinggalin jejak setelah baca ya ^^, baik itu berupa kritik maupun saran, atau yang lainnya. Don’t be Silent Reader. Thank you. *deep bow*

Read and Comment.

====================================================================

            Shin Hye memandangi kedua orang tuanya yang bertengkar. Ia hanya dapat menggelengkan kepalanya. Tidak percaya bahwa orang tuanya masih bersikap seperti anak TK yang sedang bertengkar. Perlahan-lahan langkahnya mundur, ia tidak ingin appa dan eommanya sadar ia pergi dari tempat itu. Senyuman Shin Hye penuh makna. Ia berlari menuju mobil Joon Myun.

            “Ahjusshi…” panggilnya.

            Joon Myun lalu membuka pintu mobilnya.

            “Ayo masuk…”

            “Gamsahamnida. Tapi, eomma ingin tidur di rumah appa malam ini. Terima kasih telah mengajakku hari ini ahjusshi. Ahjussi hati-hati di jalan ya. Sampai jumpa lagi!. Annyeong-hi…”

            “Kalau begitu ahjussi pulang dulu ya. Annyeong Shin Hye-ya…”

            Joon Myun menurunkan sedikit jendela mobilnya, ia melambaikan tangan pada Shin Hye. Shin Hye pun membalas lambaian tangannya dengan senyuman. Ia pun meninggalkan tempat itu dengan penuh pertanyaan di batinnya.

            Shin Hye lalu menghampiri ayah dan ibunya yang masih saja berdebat.

            “Kau tidak perlu banyak bicara. Sekarang siapa suamimu?, aku atau dia?” Chanyeol masih saja mempermasalahkan hal itu.

            “Kau memang suamiku. Tapi dia managerku. Aku bisa kehilangan pekerjaan kalau aku bersikap tidak sopan padanya”

            “Tidak sopan?. Jadi kalau dia minta apa saja kau akan turuti?”

            “Otaknya tidak cabul sepertimu. Sudahlah aku mau pulang!”

            “Eomma mau pulang dengan siapa?” tanya Shin Hye polos, lalu menunjuk ke arah tempat mobil Joon Myun tadi diparkir.

            “Joon Myun ahjussi kemana?” tanya Hwa Young pada putrinya. Shin Hye tidak menjawab, ia hanya menganggkat bahunya.

***

Kyeowo~” gumam Baek Hyun melihat Ara yang tertidur sambil membuka mulutnya.

            Ia mengeluarkan handphone di dalam sakunya. Dan…

            “1,2,3…Cheese….” Ia memotret dirinya dan Ara.

            Baek Hyun melintasi jalan menuju rumah Ara. Sesekali ia melihat layar navigasi di mobil, dan sesekali ia menatap Ara yang tertidur. Ia tampak seperti orang yang habis meminum lima botol soju dalam sekali duduk. Wajahnya merah padam, ia juga tertawa sendiri saat melihat Ara. Tidak salah lagi, ia sudah terjangkit penyakit cinta.

            Ia menurunkan jendela mobilnya. Ia berhenti di sebuah rumah yang besar berdesign rumah tradisional korea. Ia tidak terlalu yakin apakah ini rumah Ara atau bukan. Berkali-kali ia memencet bel, tidak ada yang keluar.

            “Sepertinya tidak ada orang.” Gumamnya.

            Saat ia hendak ingin kembali masuk ke dalam mobil, pintu pagar terbuka.

            “Wae?” tanya seseorang di belakangnya.

            “Annyeonghashimnika Halmoni (nenek), benarkah disini rumah Yoo Ara?” tanyanya sopan.

            “Ne!. Tapi dia sedang keluar!”

            “Ah…ne, tadi dia menemui saya. Kalau begitu saya akan membawa dia masuk.” Baek Hyun menuju mobilnya dan mengangkat Ara yang tertidur. Kakek Ara yang keluar untuk mencari cucunya Ara yang belum pulang terkejut melihat seorang laki-laki menggendongnya.

            “YA!!!” teriak kakek Ara yang membuat Baek Hyun terkejut sehingga membuat Ara didalam gendogangnnya jatuh ke tanah.

Wajah seram kakek Ara terus mendekatinya. Tanpa basa-basi ia menampar pipi kiri Baek Hyun. Dan langsung memukul dan menendangnya.

            “Wae?, wae?, wae?” teriak Baek Hyun yang tidak mengerti apapun.

            Kakek Ara terus memukuli Baek Hyun, kekuatannya tidak usah diragukan lagi. Ia mantan seorang jendral. Pemegang sabuk hitam dan pernah memenangkan kejuaraan karate sebanyak 10 kali pada masa mudanya.

            “Omo…omo…” Nenek Ara tidak tahu harus berbuat apa.

            “Ya…ya…Ara…bangun…bangun…” Nenek mengguncang-guncang tubuh Ara agar bangun.

            Sementara Baek Hyun terus berteriak, “Harabeoji!. Harabeoji!. Waeyo?. Waeyo?. Aku salah apa?. Salah apa?”

            Mendengar keributan diluar ibu Hwa Young dan adik laki-lakinya keluar.

            “Appa!. Hentikan!. Hentikan!” Dong Gu berusaha menghentikan ayahnya.

Saat itu juga Ara terbangun dan melihat kakeknya memukul seseorang. Ia mengucek-ngucek matanya dan sadar bahwa yang dipukuli kakeknya adalah Baek Hyun.

            “Harabeoji!. Hentikan!. Hentikan!. Dia temanku!” Teriak Ara yang berusaha melindungi Baek Hyun dari pukulan kakeknya.

            “Benar dia temanmu?. Si brengsek ini temanmu?” tanya kakek yang badannya sudah di pegang oleh Dong Gu.

            Ara mengangguk.

***

            Dong Gu membopong Baek Hyun masuk ke dalam rumah. Ia merasa kasihan melihat teman keponakannya harus babak belur seperti ini. Ayahnya adalah tipe orang yang mudah terpancing emosinya. Dong Gu mendudukkan Baek Hyun di ruang keluarga. Ia mengambil bantal sebagai sandaran untuknya. Sementara Sunye, nama dari ibu Hwa Young, sedang menyiapkan air hangat dan obat untuk mengobati lukanya. Nenek juga sangat merasa bersalah atas sikap suaminya. Ia menuju dapur dan menyiapkan beberapa makanan untuk Baek Hyun.

            Ara yang duduk di samping Baek Hyun menatap kakeknya dengan wajah kesal.

            “Appa, lihat wajahnya. Untung saja tidak ada tulangnya yang patah. Seharusnya di umur appa yang sudah tua ini, appa semakin bijak dan dapat mengontrol emosi” kata Dong Gu sambil membersihkan luka di wajanya Baek Hyun.

            “Ini minum dulu…” Sunye membawa teh hangat yang dicampur madu untuk Baek Hyun.

            Baek Hyun meminumnya secara perlahan, karena luka di samping bibirnya. Bulu kuduknya naik, ia dapat merasakan tatapan kakek yang tajam terus tertuju padanya.

            Nenek datang dari dapur dan membawa beberapa makanan yang baru saja dibuat, ada egg roll, doenjang jjigae, gamjatang, dan pajeon. Semua makanan masih panas, karena baru saja dimasak. Nenek mempersilahkan Baek Hyun untuk makan.

            “Ayo silahkan dimakan” kata Dong Gu.

            Baek Hyun lalu duduk di depan meja makan. Di depannya telah ada kakek Ara yang wajahnya menyeramkan.

            “Masitge deuseyo! (Selamat menikmati!)” ucap Sunye yang menaruk beberapa potongan kimchi.

            “Jal Meokgesseumnida!” kata Baek Hyun sambil memegang sumpit.

            Ara lalu meninggalkan Baek Hyun dengan kakeknya di ruang makan. Ia menuju dapur untuk mengambil beberapa buah di dalam kulkas.

            Suasana menjadi sangat menegangkan, saat hanya ada dirinya dan kakek Ara. Aroma makanan yang disajikan di atas meja sangat menggoda dan membuat air liurnya bergejolak. Tangannya tak tahan lagi untuk menyantap semuanya. Masakan rumah yang sangat jarang didapatnya. Tangannya gemetaran saat ingin mengambil pajeon, kekuatan tatapan mata orang di hadapannya dapat dirasakan walaupun ia tidak menatapnya langsung.

            “Istriku susah payah sudah menyiapkannya. Mengapa tidak di makan?. Tidak tahu cara menghargai orang lain ya?” Kata Harabeoji.

            Baek Hyun, jadi serba salah. Ucapannya terbata-bata, membuat harabeoji tambah emosi.

            “Mau bilang apa?” tanyannya.

            “A…ani…anio. Jal..m-m-meok-gesseumnida!”

            Tangannya mulai meraih satu persatu makanan yang telah di buat oleh halmeoni. Saat gamjatang masuk ke dalam mulutnya, matanya terbelalak, rasanya begitu enak. Ia bergumam di dalam hatinya, ternyata beginilah rasa bagaimana memakan makanan yang dibuat oleh keluarga.

            “Bagaimana kau bisa mengenal cucuku?. Kau menyukainya?. Berapa umurmu?. Apa pekerjaanmu?. Siapa orang tuamu?. Bagaimana Ara bisa tidur di mobilmu?. Sudah kau apakan dia?.” Pertanyaan yang bertubi-tubi terlontar, membuat makanan yang berada di kerongkongannya tidak dapat tertelan. Ia bingung harus menjawab yang mana.

            “Mengapa tidak menjawab?. Jelaskan asal-usulmu!”

            Kakek bersikap demikian, bukan tidak ada sebabnya. Ia tidak ingin apa yang Hwayoung rasakan juga dirasakan oleh Ara. Dia masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa cucu kesayangannya menikah karena suatu kejadian. Hal ini yang tidak ingin terulang. Ia akan merasa bersalah untuk kedua kalinya, dan tidak akan dapat memaafkan dirinya sendiri.

            Baek Hyun lalu menaruh sumpitnya dan meneguk segelas air putih. Ia lalu berdiri dan melakukan ‘bungkuk hormat’ kepada harabeoji.

            “Annyeonghaseyo. Je ireumen Byun Baek Hyun imnida. Saya berumur 24 tahun. Saya tamatan dari Seoul University, jurusan Teknik Arsitek. Sekarang pekerjaan saya sebagai asisten dosen dan designer bangunan di sebuah perusahaan apartemen. Tetapi saya bukan pegawai tetap disana. Mmmm…lalu, saya adalah anak tunggal.”

            “Orang tuamu siapa?”

            Baek Hyun tertegun dengan pertanyaan itu, ia tidak ingin mengatakan identitas orang tuanya. Namun, ia juga takut apabila tidak jujur dengan kakeknya Ara. Disisi lain, ia tidak ingin terlihat seperti Chanyeol, yang bergantung pada orang tuanya. Ia ingin terlihat sebagai laki-laki mandiri.

            “Soal itu, mmm…, sebenarnya ayahku, Byun Chul Moo”

            “Byun Chul Moo?. Mentri keuangan itu maksudmu?”

            Baek Hyun menunduk, lalu mengangguk kecil.

            “Ah, jinja?. Ibumu pemilik Byun Residence kan?. Komplek apartemen mewah di Gangnam. Kau bekerja disana?. Dibawah ibumu?”

            “Ani…aniyo…harabeoji. Aniyo!. Aku sama sekali tidak bekerja di perusahaan ibuku. Dan aku sama sekali tidak ada sangkut paut dengan ibuku. Aku bekerja di perusahaan apartemen lain di daerah Busan, itupun hanya sebagai freelance.”

            “Jinja?” tanya harabeoji yang raut wajahnya berubah menjadi ingin tersenyum.

            “Baguslah. Setidaknya kau tidak seperti si manja Park Chanyeol”

            Kakek tidak mengetahui bahwa Baek Hyun mengenal Chanyeol. Setidaknya bagi Baek Hyun ini langkah yang bagus untuknya.

***

@Chanyeol’s Apartement

            Dengan berat hati Hwa Young menginap di apartement Chanyeol. Jika bukan karena putrinya yang memaksanya, ia tidak akan pernah mau menginap disini. Sesampainya di dalam, gambarannya adalah ‘berantakan’. Ia sampai kehabisan kata-kata.

            “Eomma, wae?” tanya Shin Hye yang melihat Hwa Young diam terpaku.

            Hwa Young tak menjawab pertanyaan Shin Hye, ia malah menuju dapur dan mendapati piring-piring bekas makanan yang kelihatannya sudah berhari-hari tidak dicuci.

            “Ya!. Park Chanyeol!. Kau menyuruh putriku untuk tinggal di tempat seperti ini?. Kau kira Shin Hye apa?, anak tikus?. Apa kau sangat sibuk, hingga tidak sempat membersihkan apartemen ini?. Sebenarnya kau sadar tidak sih?, kau ini seorang ayah!”

            “Ya?. Itu sebabnya aku tidak ingin serumah denganmu. Sikapmu itu membuatku muak. Tidak bisakah kau bersikap manis?, setidaknya di depan Shin Hye.”

            Ditengah pertengkaran mereka, Shin Hye terlihat sedih. Walaupun kelihatannya dewasa, bagaimanapun ia tetaplah anak-anak yang butuh kasih sayang kedua orang tuanya.

            “Aku mau pulang ke rumah nenek…” Isak Shin Hye yang meneteskan air matanya.

            Chanyeol mendekati Shin Hye, ia menghapus air matanya dan menggendongnya. Ia mencoba untuk menenangkannya.

            “Bagaimana kalau kita membersihkan apartemen bersama-sama?” ide Hwa Young untuk membujuk Shin Hye.

***

            Setelah lelah bersih-bersih, Hwa Young mengganti baju putrinya dan menemaninya untuk sikat gigi dan mencuci muka. Kemudian, ia menyisir rambut panjangnya. Malam itu Shin Hye ingin tidur dengan eomma dan appanya. Mau tidak mau, ia harus menurutinya. Lagi pula, ia sudah sangat merindukan putri sematawayangnya.

            Hwa Young menyanyikan nina bobo sambil membelai rambutnya. Setelah mengganti baju, Chanyeol lalu tidur di samping Shin Hye, agak canggung baginya untuk tidur bertiga seperti ini. Ia menatap wajah Hwa Young di balik cahaya lampu tidur, malam itu ia baru sadar ternyata istrinya cantik.

            “Aku teringat ibuku” Hwayoung berbicara dengan suara yang kecil.

“Kalau begitu besok kita pergi kesana” sahut Chanyeol.

“Kau bercanda?”

“Tidak!”

Ditengah percakapan, Hwayoung berkali-kali menyium pipi Shin Hye yang sudah tertidur. Chanyeol tertawa kecil, lalu berkata “Apakah dia secantik itu?”.

“Tentu saja. Setiap malam aku selalu mengingatnya. Sedetik saja pisah dengannya seperti setahun bagiku. Apalagi berhari-hari tidak jumpa dengannya”

“Lalu apa aku setampan itu?”

MWO?”

“Kau tahu sendiri kan, semua orang mengatakan Shin Hye sangat mirip denganku. Jadi artinya dia cantik, karena aku tampan”

Hwa Young jadi kesal dengan perkataannya.

“Tapi…aku terlalu tampan untuk menikah pada usia 19 tahun. Ah…masa mudaku…”

“Ya!. Aku khawatir.” Sambung Chanyeol.

Mwoga?” tanya Hwa Young yang tidak mengerti arah pembicaraannya.

“Bagaimana kalau dia sepertimu?.” Chanyeol balik bertanya.

“Memangnya kenapa denganku?”

“Maksudku, bagaimana jika dia bertemu dengan laki-laki sepertiku?”

“Syukurlah kau tahu diri!” tungkas Hwa Young.

“Aku tidak bisa mebayangkan, kalau dia jatuh cinta dengan laki-laki sepertiku. Akan kubunuh laki-laki itu!”

Raut wajah Hwayoung biasa saja saat Chanyeol berkata demikian. Namun, hatinya tertawa mendengar kalimat yang terucap di mulutnya. Setidaknya, ia lega bahwa Chanyeol masih sadar bahwa dirinya seorang ayah yang harus melindungi putrinya.

***

            Esok paginya, Hwa Young bangun pagi-pagi buta untuk menyiapkan sarapan untuk Chanyeol dan Shin Hye. Ia melihat ada beberapa roti, telur, daging dan sayuran. Ia memilih makanan kesukaan Shin Hye yaitu nasi goreng dan sandwich.

            Shin Hye pun terbangun menyium aroma masakan kesukaannya. Tanpa mencuci muka ia langsung bangun dan mengahmpiri Hwa Young di dapur.

            “Hmmm…kelihatannya enak” katanya yang memeluk ibunya dari belakang.

            “Anak eomma yang manis, sekarang cuci muka dulu ya. Setelah itu, kita bangunkan appa sama-sama. Ok?”

            “Araseo eomma

            Hwa Young tidak ingin ribut di depan Shin Hye, ia sudah berjanji pada Chanyeol tadi malam. Demi Shin Hye mereka akan berusaha bersikap manis.

            Shin Hye keluar dari kamar mandi, ia memanggil ibunya untuk membangunkan ayahnya.

            “Appa, appa. Ireona…” Shin Hye mengguncang-guncang tubuh appanya.

            “Chanyeol oppa, ireona…ireona…” Hwa Young ber-aegyo di depan Shin Hye. Sebenarnya, sangat menjijikkan baginya harus memanggil ‘oppa’ untuknya.

            “Chanyeol oppa, ireona…, jagiya ireona” Emosi Hwa Young hampir memuncak, namun Shin Hye memberikan ide yang gila untuknya.

            “Eomma, aku lihat bagaimana cara halmeoni membangunkan harabeoji. Ketika aku liburan tahun lalu”

            “Maksudmu ketika berada dirumah ibu dan ayahnya appa?”

            “Ne!. Aku melihat halmeoni menyium pipi harabeoji. Lalu, harabeoji bangun dan memeluk Shin Hye dan halmeoni.”

            Tanpa sepengetahuan Shin Hye dan Hwa Young, ternyata Chanyeol telah bangun saat Hwa Young memanggilnya dengan sebutan ‘oppa’. Ia memilih pura-pura tidur untuk melihat reaksinya. Apakah ia akan menyiumnya atau tidak.

            “Eomma…ppali, cium pipi appa!”

            “Umm…ne!”

            Chanyeol yang masih berada di balik selimutnya menjadi deg-degan. Bagaimana bisa, dengan gampangnya ia berkata ‘ne’.

            Hwa Young mendekatkan wajahnya ke pipi kanan Chanyeol. Tak henti-hentinya senyuman terpapar di wajah Shin Hye. Ia tidak mungkin merusak kebahagiaannya.

            Dan, bibir Hwa Young menyentuh pipi kanan Chanyeol. Sementara yang dicium tidak tau harus berbuat apa. Ia bimbang, apa ia harus bangun lalu memeluknya atau ia biasa saja.

            “Eomma…cium lagi!. Appa belum bangun!” pinta Shin Hye.

            “Laki-laki kurang ajar. Kau benar-benar tidur atau pura-pura tidur?. Lihat saja, aku akan melakukan perhitungan padamu” Hwa Young bergumam dalam hatinya.

            “Kalau begitu Shin Hye, sepertinya appa tidak akan bangun kalau hanya dicium di pipi. Bagaimana kalau eomma cium di bibirnya saja?” Kata Hwa Young yang lalu menuju dapur untuk mengambil satu buah cabai berwarna hijau di dalam kulkas. Lalu, ia kembali ke dalam kamar dengan senyuman setannya.

            “Shin Hye-ya…lihat ini”

            Shin Hye menutup mulutnya, ia tidak percaya bahwa ibunya ingin memasukkan cabai ke dalam mulut ayahnya.

            “Jagiya…..” panggil Hwa Young manja.

            Bulu kuduk Chanyeol bangun, ia merasakan ada aura yang tidak beres. Saat Hwa Young ingin memasukkan cabai tersebut ke dalam mulut Chanyeol, tiba-tiba…

            “Eommaaaaaaaaa…….andwaeeeeeee…..” Shin Hye mendorong tubuh eommanya, sehingga bibir Hwa Young benar-benar menyentuh bibir Chanyeol.

            Mata Chanyeol terbelalak menatap Hwa Young.

            “Eomma, appa, popo (kiss)?????”

To Be Continued…

51 pemikiran pada “Chanyeol Appa! [Chapter 6]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s