Cynicalace (Chapter 13)

cyc baru jpeg

Title : Cynicalace

Author : NadyKJI & Hyuuga Ace

Length : Chaptered

Genre : Romance, Comedy, Friendship

Rate : G

Main Cast :

Jung Re In (OC)

Geum Il Hae (OC)

Park Chanyeol (EXO)

Kim Jong In (EXO)

Disclaimer: Annyeong, ff ini adalah murni hasil pemikiran author yang kelewat sangat tinggi, dilarang meniru dengan cara apapun, don’t plagiator. Gomawo #deepbow.

Summary :

Aku tidak membencimu. Aku hanya tidak ingin berurusan lagi denganmu. Tapi mengapa kau selalu hadir di sekitarku layaknya modul akuntansi yang selalu kubawa setiap hari. Wajahmu mengangguku tapi aku mulai merindukannya ketika wajah itu menghilang dari keseharianku. Oh, menyebalkan.

–Jung Rein–

Aku tidak sudi, aku tidak sudi, aku tidak sudi! Dia menyebalkan, cuek, dan dingin. Tapi… terkadang dia baik juga walau dengan muka datar, terlihat tulus, dilihat-lihat juga ia lumayan.. bukan, tampan… Argh! Aku menyerah, sepertinya karma itu berlaku.

–Geum Ilhae–

Sama seperti panggilannya, yeoja itu memang kelewat bodoh. Sialnya, karena terbiasa menjadi dampak dari perilakunya, aku menjadi terbiasa untuk selalu hadir di sisinya. Namun entah mengapa aku merasakan keberadaanya bagaikan pelangi dalam keseharianku yang hanya dihiasi dua warna – hitam dan putih.

–Kim Jong In–

Melihat wajah seriusnya, merasakan kesinisannya padaku. Itulah makanan keseharianku karena ulahku sendiri. Well, kau memang bodoh dan gila jika bersangkutan dengan yeoja itu. Kau terlalu gila Park Chanyeol.. tapi, aku tidak keberatan gila untuknya. It’s a pleasure.

–Park Chanyeol–

Author’s Note:

ANNYEONG SOBAT READERS!!!! AkhirnyaCycupdatelagi!! Asik-asik ganti poster juga yeay!!!

Mari kitamulaicuap” authors’a, di chapter sblm’aChanyeolilang, knpdiailanggituajh? Nah itusngajakok, soal’achanyeolkyklgpundungama rein.. Di chapinidianongolkok. Smgalbhbnykporsi’a..Hehehe

Dan Kaihaesedangmemulaikemunculannya!! Wkwkwkwkwksemoga readers suka.. Btw Ilhaelagikasian-kasiaannyalho!! (?) Iyahdialagi random bgtwakakkamohonmaklum yah, krnainipertamakali’ailhaengerasain feeling smcamituhihihi…
Baiklahbagiygsudah comment terimakasihbnyk, maafblmdibalesinsatu”,kalaubegitu!! Sekiansajadari kami!! GOMAWO! Comment juseyo!

HAPPY READING!

___

-:Author’s PoV:-

Ilhae memilih untuk mengambil kuliah sore hari ini, sehingga Rein akan berangkat ke kampus sendirian. Well, kurang menyenangkan karena biasanya selalu ada Ilhae yang ceria dan berisik di sampingnya.

Semenjak kejadian tempo hari, Ilhae bertingkah semakin aneh dan menghawatirkan. Dia terlihat frustasi – mengacak rambutnya sendiri ketika dia hanya bengong melihat makan malamnya, banyak menggerutu sendiri, dan lebih banyak diam di waktu siang namun menjadi orang yang sangat berisik di waktu malam. Belum lagi kebiasaan barunya; menyanyi seperti orang kerasukan pada jam-jam malam – bayangkan saja dia menyanyikan lagu BEAST Fiction di dalam kamarnya, plus dengan gerakannya pada jam 1 malam!

“YA! Ige fiction-iya!!! Ini semua hanya fiction! Ilusi dan delusiiii.. Ahhhh aku bisa gilaaaa… Ya! Jantung! Wae geurraeee?!”

Haishhhh Rein menggeleng cepat, mengingat teriakan Ilhae suatu malam. Dia ingin memarahi yeoja yang lebih tua 3 bulan darinya itu, tapi dia tidak sampai hati karena Ilhae benar-benar terlihat frustasi!

Akhirnya dia hanya bisa terbaring di kamarnya sambil berusaha memejamkan matanya untuk tertidur. Tapi gagal total, karena ‘lagu-lagu Ilhae’ terus berlanjut sampai jam 3. Dan setelah itu sunyi senyap, kelihatannya Ilhae kelelahan fatal dan bisa saja dia tersungkur di lantai kamar.

Untung saja pagi ini ia tidak telat. Sekarang Rein melangkahkan kakinya melewati koridor samping yang menghubungkannya dengan koridor fakultas Akuntansi.

Yang membuat matanya terbelalak adalah seseorang yang berdiri menjulang di depan pintu kelasnya. Seseorang yang berhasil ia lupakan dalam beberapa hari karena tingkah Ilhae. Seseorang yang akhirnya ia jumpai setelah waktu yang cukup panjang.

Rein tidak bisa memungkiri jika jantungnya merasakan getaran aneh ketika melihat orang itu.

Sosok itu akhirnya menyadari keberadaan Rein yang hanya mematung melihatnya. Matanya menemukan mata Rein yang terlihat kaget.

Wajah orang itu terlihat jauh berbeda dengan biasanya, dengan wajahnya yang selalu ia perlihatkan ketika ada Rein di sekitarnya.

Orang itu, sosok itu, adalah Park Chanyeol yang memandang datar ke arah Rein.

Chanyeol mempertahankan posisi itu dalam satu menit penuh, matanya sarat akan emosi yang sangat beragam. Dia terlihat kecewa, marah, sedih, dan terluka. Sehingga Rein bertanya-tanya apa yang ia lakukan pada Chanyeol sehingga kini namja itu melihatnya dengan cara itu? Hatinya makin berdenyut nyeri ketika Chanyeol menutup matanya perlahan dan berbalik meninggalkan tempatnya, meninggalkan Rein dengan tanda tanya besar.

Sakit, hatinya terasa sangat sakit karena perlakuan Chanyeol. Dia ingin mengejar namja itu dan menanyakan apa masalahnya. Tapi kakinya seakan tidak mau bekerja sama dengan keinginannya. Sehingga ia hanya terpaku di tempatnya berdiri sambil memandang kosong ke lorong yang baru saja ditinggalkan namja yang harus ia akui. Ia nantikan keberadaannya saat ia berada di rumah sakit.

Tapi bukankah Chanyeol tidak pernah datang?

“Rei..”

Sebuah suara membuat Rein akhirnya menoleh dan menemukan Sehun memandanganya dengan sorot dalam yang ingin sekali Rein hindari. “Ada apa?”

Rein menggeleng pelan dan mengubah mimik wajahnya menjadi jauh lebih ceria. “Ani. Ayo masuk kelas.”

Lalu dengan langkah perlahan, Rein beranjak dan melangkah masuk ke dalam kelasnya.

Sehun disisi lain, tahu apa yang terjadi. Karena ia berada tidak jauh dari Rein saat yeoja itu melihat Chanyeol dan Chanyeol melihatnya. Sebuah interaksi yang membuat hatinya pilu.

Tidak, Rei. Jangan padanya.

*-*-*

“Soo-ya, apakah kau punya nomor ponsel Ilhae?”

Kyungsoo yang tengah meminum jus jeruk nyaris saja memuntahkan lagi cairan penuh vitamin C itu ke meja makan.

“Wae?” Kyungsoo berkata setelah berhasil minum tanpa kecelakaan apapun.

Sebuah senyum bermain di bibir Kim Jongin dan itu membuat Kyungsoo was-was. “Aku hanya ingin menanyakan kenapa yeoja itu menghindariku.”

“Kim Jongin, kau masih waras?” Kyungsoo menatap Kai serius – jika saja ada Kyungah yang belum berangkat sekolah ini adalah hal paling fatal – bayangkan saja Kai menanyakan nomor ponsel Ilhae!

“Aku? Tentu saja.”

Sementara itu kembali ke apartemen milik Rein dan Ilhae.

Ketika semua orang mulai menjalani harinya dengan kegiatan bermutu Ilhae malah baru membuka matanya dengan malas. Seumur hidupnya mungkin ini adalah hal paling frustasi yang dialaminya setelah kelas 3 Junior High School – di mana Ilhae mengurung diri seharian untuk belajar matematika karena rata-rata nilainya selama satu semester kembar identik dengan standar nilai terendah.

Dengan malas Ilhae mengambil ponselnya dan membuka riwayat berkirim pesan dengan ibunya. Saking frustasinya seorang Geum Ilhae, yeoja itu nekat menanyakan apakah ada riwayat berpenyakit jantung pada silsilah keluarganya yang jelas saja tidak ada – untunglah ibunya hanya menganggapnya sambil lalu – kalau tidak Ilhae pasti berada dalam masalah besar.

“Micheosseo?!” Ilhae tidak bisa melupakan kejadian di Paulo’s ketika jantungnya kerja rodi hanya karena dia dekat-dekat dengan Kai dan itu jelas mengganggunya.

Andai saja ia tidak repot-repot bergumam ingin tahu rasanya menyukai seseorang atau paling tidak ia tidak perlu iseng mengambil buku Rein dan membuat Chen membacanya dan seterusnya dan seterusnya. Daftar penyesalan Ilhae sudah mencapai puncaknya dan bagaimanapun itu ia hanya bisa memasukkan kata SEANDAINYA.

Sekarang sisa riwayat hidupnya mungkin hanya penyesalan.

Ketika sedang kusyuk dengan jalur pikiran yang sama saja dari kemarin, ponsel Ilhae bergetar dan menunjukkan sebuah pesan dari nomor asing. Ilhae membuka pesan tersebut bermaksud memaki siapapun yang mengirimkan pesan iseng padanya.

Tapi niat hanyalah niat.

Tidak ada jarak satu meter dalam kamusku Geum Ilhae.

KENAPA KAI MENGETAHUI NOMOR PONSELNYA?!

“Sial, sial, sial!” Ilhae mengumpat pelan dan mengetikkan pesan balasan dengan sadis.

JANGAN PERNAH MENGIRIMKAN PESAN PADAKU! APALAGI MENELEPON NOMORKU! HAPUS NOMOR PONSELKU DARI KONTAKMU, SEKARANG!

Kai yang tengah berjalan menyusuri lorong kampus berhenti setelah ia selesai membaca pesan balasan dari Ilhae. Reaksi yeoja ini benar-benar menarik untukknya. Karena Ilhae menyebutkan kata menelepon, Kai malah menelepon yeoja itu – mungkin karena moodnya yang sedang senang.

“YA!” Ilhae yang melihat layar ponselnya menunjukkan panggilan masuk dari nomor yang sama dengan yang mengirimnya pesan. Batinnya menangis karena siapapun yang memberikan nomor ponselnya pada Kai sangatlah jahat. Setelah menolak panggilan masuk dari Kai, Ilhae dengan resmi menambahkan nomor itu dalam daftar kontaknya dengan nama ‘Terror Reject’. Jadi jika Kai berani meneleponnya lagi Ilhae bisa dengan mudah menekan tombol merah dan tidak membaca pesan dari nomor itu.

*-*-*

Dengan langkah gontai Ilhae berjalan memasuki lingkungan kampus, hari sudah sore dan sebenarnya yeoja bermarga Geum ini berbohong pada Rein – ia tidak mungkin mengubah jadwalnya tanpa mengurus administrasi terlebih dahulu – ia hanya sedang menjadi orang tidak jelas di sini.

Sore ini ia harus ke kampus karena profesor Han sudah pulang – pria tua itu yang membalas pesan Ilhae kemarin malam dan menyuruhnya datang menemuinya sore ini.

“Ilhae ke mana saja kau?”

Dasar kampus yang sempit. Kenapa dari sekian banyak murid dan puluhan fakultas berbeda dia harus bertemu dengan gerombolan si berat lagi?!

“Aku? Mencari suasana baru.” Jawab Ilhae seadanya pada Baekhyun.

Ilhae sedang mengamati ketiga namja gila tersebut tetapi ia merasakan hal yang aneh – Chanyeol. Ia baru menyadari kalau namja raksasa itu baru ia temui lagi sekarang sejak insiden Paulo’s.

Chanyeol yang merasa dipandangi oleh Ilhae merasa agak risih. “Mwo? Bahumu sudah sembuh?”

“Sudah terima kasih, tapi… Tunggu..” Ilhae mengerutkan dahinya. Ia rasa ia belum bilang kalau ia kecelakaan atau cedera sebelumnya, tapi kenapa Chanyeol tahu? Dan kenapa pertanyaan Chanyeol amat sangat garing?

‘Fiction, in fiction..’

“Sejak kapan kau memakai ringtone?”

Sial! “Hanya bosan itu saja, wae?”

Baekhyun yang sudah biasa mendapatkan bentakan tidak ramah dari Ilhae sama sekali tidak terpengaruh. “Tidak kau angkat?”

Ilhae hendak mereject panggilan tersebut tapi ponselnya keburu raib dari tangannya.

“Nugu? Terror reject?” Baekhyun mengamati ponsel Ilhae.

“YA! JANGAN DIANGKAT ATAU AKU AKAN MEMBUANG PONSEL ITU BYUN BAEKHYUN!”

“Kau diterror?” Chen menaikkan alisnya.

“Yep, sudah 3 kali nomor itu menelepon!”

SUDAH TIGA KALI SI KIM JONGOUT – OUT OF MY LIFE – GILA ITU MENELEPONKU! Batin Ilhae karena tidak mungkin ia menceritakannya kronologis aslinya.

“Block saja kalau begitu.”

“Tidak-tidak!” Ilhae memotong usulan paling logis dari Chanyeol.

“Aku ingin melaporkannya pada polisi.” Tambah Ilhae sebelum ketiga namja dihadapannya itu menganggap dirinya aneh.

“Baiklah kembalikan padaku!”

Baekhyun malah menarik ponsel Ilhae menjauh dari sang empunya.

“Ish! Kembalikan!! Aku harus bertemu dengan profesor Han! Atau kalau tidak nilaiku akan merah begitu saja, dan ini semua gara-gara teman psikopatmu!”

Kali ini Ilhae berhasil merebut kembali barang kepemilikannya tersebut karena Baekhyun sudah berkonsentrasi mengejek Chen dan Ilhae bisa melanjutkan perjalanannya ke ruang profesor Han.

“Kenapa lama sekali?”

“Jeoseonghapnida.” Ilhae membungkukkan badannya.

“Baiklah, ini tugasmu. Aku berhasil mendapatkan ini, saat masih muda dulu aku yang memecahkan kasus ini.”

Ilhae melotot melihat satu kardus disodorkan padanya lengkap dengan satu clearfile berisi tulisan kecil-kecil. Ini akan sulit, ia mencoba mengontrol nafasnya sendiri.

“Clearfile ini berisi ringkasan latar belakang kasus ini dan alibi setiap orang, di dalam kardus ada barang bukti juga catatan apa yang ditemukan di sana. Tugasmu adalah membuat cerita bagaimana kronologis kejahatan terjadi juga prosedur kau bisa mendapatkan bukti dari barang-barang yang ada di dalam situ. Pada akhirnya aku ingin kau menebak siapa tersangka sebenarnya di sertai alasan yang logis. Batas waktu sampai sebelum kau ujian akhir kimia semester ini.”

Mwo?! Ini gila! Ilhae ingin menangis saat itu juga tapi ada hal lain yang membuatnya menahan air matanya – artinya ia akan sibuk dan otakknya tidak akan sibuk memikirkan soal Kai!

“Terima kasih profesor.”

Ilhae lalu mengambil kardus itu dan membawanya keluar ruangan. Langkahnya membawa dirinya ke kantin untuk membeli minum. Ponselnya berbunyi lagi dan Ilhae menyimpan kotak tugasnya di meja kantin dan mengangkat telepon tersebut.

“Ada apa Kyungah?”

“Eonni! Maafkan aku, beberapa minggu ini tugas sekolahku banyak sekali dan aku hampir saja lupa memberitahu eonni.”

Ilhae menunggu Kyungah menarik nafas di sebrang sana.

“Appa akan mengadakan pesta amal untuk panti asuhan yang di kelolanya di Korea, karena itu ia sempat ke sini saat eonni kecelakaan – untuk meeting tentang acara ini – dan aku ingin eonni dan juga Rein eonni datang.”

“Kami? Aku dan Rein bukanlah orang penting.”

“Karena aku yang membantu eomma untuk menyusun daftar tamu, Tidak semuanya harus orang penting, kata eomma aku boleh mengajak beberapa teman untuk meramaikan pesta. Ayolah eonni harus datang, pestanya pesta topeng, arra? Oh aku harus pergi dulu eonni! Annyeong!”

Terdengar suara Kyungsoo yang memanggil Kyungah sebelum sambungan terputus sempurna dan Ilhae benar-benar terkejut. Apa yang sebenarnya dilakukan anak-anak berlebih seperti Kyung bersaudara di masa remaja mereka? Belajar mengatur bisnis?

Pikiran melayang Ilhae terputus secara kasar karena ponselnya kembali berdering. Dengan decakan kesal Ilhae menekan tombol hijau – menerima panggilan.

Ilhae menarik nafas banyak-banyak. “JANGAN MENELEPONKU! AKU TIDAK ADA URUSAN DENGANMU KIM JONGOUT! AKU PHOBIA PADAMU JADI TAMBAHKAN SATU METER DALAM KAMUSMU!”

Kim Jong… Phobia? Pada dirinya? Kai terkekeh setelah telepon dengan teriakan ngos-ngosan itu diputus Ilhae.

Rein yang baru selesai mengantarkan pesanan penasaran dan menghampiri meja bar dan menopangkan siku. “Ada apa Kai?”

“Ani, temanmu itu otaknya miring ya?”

Temannya? Rein hanya bisa memikirkan satu nama. “Hae-ya?”

“Geurrae.”

Ini adalah kabar baru yang ia yakinin pasti datang tapi tidak secepat ini. “Kau menyukainya?”

Kai hanya mengedikkan bahu dan berbalik untuk menyiapkan beberapa pesanan lagi,

EONJE?! Itulah kata-kata tidak bersuara yang terbentuk di bibir Rein.

DAEBAKKK.. Lalu ia mengangguk-angguk puas. Ini akan menarik

*-*-*

Ilhae berjalan ke arah kantin sambil mengedarkan pandangannya ke segala penjuru. Mencari 2 sosok menyebalkan yang anehnya menjadi temannya. Ya, Chen dan Baekhyun. Semenjak pertemuannya kemarin dengan gerombolan si berat, ada suatu hal yang menganggu hatinya. Ada apa dengan Chanyeol?

Nihil. Dia tidak menemukan 2 kepala itu, sehingga Ilhae berbelok dan menanyakan keberadaan mereka pada ibu penjual dumpling di kantin yang sudah menjadi langganan duo ChenBaek itu.

“Ahjumma, kau melihat Chen dan Baekhyun?”

Ahjumma itu terlihat berpikir sebentar, tapi melihat dari gerak geriknya ia mengenali siapa nama yang tadi Ilhae sebutkan. Ilhae tersenyum puas.

“Tadi mereka sempat kesini, tapi setelah itu mereka kelihatan berjalan ke arah koridor itu.” Ahjumma menunjuk salah satu koridor, dan Ilhae menjentikan jarinya. Ia rasa ia tahu di mana mereka berdua.

“Gomapseumnida, ahjumma.”

Lalu Ilhae berjalan ke arah koridor yang tadi ditunjuk. Dia berharap duo ChenBaek sedang tidak bersama Chanyeol.

Dan doanya terkabul karena Chen dan Baekhyun yang sedang duduk-duduk santai di kursi panjang di taman di dekat fakultas Biologi-Kelingkungan. Chen tampak sedang mengetik sesuatu di ponselnya, sementara Baekhyun sedang bermain di tabnya.

“Oi!!!” Mereka berdua tampak terkejut dengan panggilan Ilhae dan yeoja itu yang seenaknya duduk di antara mereka.

“Tumben sekali kau mencari kami.” Ejek Chen yang mulai melepas ponselnya.

“Di mana Chanyeol?” Ihae rupanya menggubris ejekan Chen dan fokus pada sesuatu yang membuatnya merasa ganjil.

“Ah, dia sudah pulang.” Jawaban Baekhyun yang terdengar tidak bersemangat menambah kerutan di dahi Ilhae.

“Ada apa dengan Chanyeol sebenarnya? Kalian pasti menyadarinya kan kalau dia terlihat aneh dan ‘bukan Chanyeol’?”

Baekhyun memfokuskan matanya pada langit yang sangat cerah hari ini. “Ada hubungannya dengan Rein.”

Chen mengangguk. “Benar, dia terlihat seperti itu berbarengan dengan Rein yang masuk rumah sakit waktu itu.”

“Dia marah pada Rein karena masuk rumah sakit?” Ilhae merasa tidak terima jika asumsinya benar.

“Bukan bodoh! Masa ada orang marah pada orang yang disukainya gara-gara dia masuk rumah sakit.”

“Terus apa?”

Baekhyun menghela napasnya. “Sepertinya Chanyeol sedang kecewa pada Rein.”

“Tapi Rein belum menerima Sehun kok. Untuk apa dia kecewa?” Ilhae rupanya tidak sadar apa yang sedang ia bicarakan, dan tentu saja maksud Chen dan Baekhyun akan kecewa itu tidak ada hubungannya dengan Sehun.

“Menerima?”

“Eung. Sehun mengutarakan perasaannya pada Rein.” Aku Ilhae polos. Dia tidak menyadari apa yang ia ucapkan berhasil membuat ekspresi kalut di wajah Chen dan Baekhyun.

“Sebenarnya maksudku bukan itu, sepertinya Chanyeol merasa kecewa karena Rein seakan tidak menganggapnya. Entahlah itu hanya asumsiku. Tapi kalau Sehun benar-benar menembak Rein, Chanyeol dalam masalah besar.”

“Hmm.. Arasseo, pantas saja aku tidak menemukan Chanyeol di rumah sakit. Dia tidak menjenguk Rein, dan itu adalah keganjilan yang sangat besar. Baiklah.. Akan kubicarakan dengan Rein karena sepertinya yeoja itu terlihat aneh belakangan hari ini. Well kita semua memang terlihat aneh.”

Ilhae terkekeh dan bangkit berdiri. “Tapi bukankah bukan sepenuhnya salah Rein kalau yeoja itu tidak menghubungi Chanyeol atas insidennya? Seharusnya namja tinggi itu tahu sendiri bagaimana Rein padanya. Apa mungkin karena keberadaan Sehun juga? Aigoo. Sepertinya Chanyeol sedang cemburu besar pada Rein dan Sehun.” Lanjutnya sambil berjalan meninggalkan Chen dan Baekhyun yang melongo.

“Benar. Chanyeol cemburu.”

“Dan dia akan semakin cemburu kalau tahu Sehun sudah mengambil langkah lebih jauh untuk menjadi namjachingu Rein.”

“Ingin melaporkannya?”

“Harus!”

Dengan itu Chen dan Baekhyun berkemas barang- barangnya dan berjalan tidak sabar ke arah parkiran. Bahan kuliah yang harus mereka siapkan untuk 1 jam ke depan pun mereka abaikan. Dahsyat.

-:Ilhae’s PoV:-

Baiklah. Korban seorang dokter muda yang sukses bernama Oh Jinhee. Tersangka, Oh Rihee: saudara kandung yang mencintai pacar Jinhee dan perebutan harta, Park Junghyun: kekasih Jinhee, Nam Baekjoon: anak dari seorang pasien Jinhee yang tidak selamat dan pernah hampir memukul Jinhee karena marah, dan yang terkahir Han Aerin senior Jinhee yang merasa terkalahkan oleh Jinhee.

Seluruh kronologis pembunuhan sudah terlukis di otakku ketika melihat barang-barang bukti. Tentang cara pemeriksaan setiap barang bukti malah sudah selesai. Tapi inilah kesulitannya menyambung-nyambungkan semua fakta, barang bukti, dan alibi untuk menemukan pembunuhnya yang memang sudah di ketahui beberapa ciri-cirinya. Hash! Ini dia kelemahanku – menebak tersangka pembunuh.

DIN!! DIN TIN!!!

Aku terlonjak tepat di depan tiang listrik. Omo! Sejak kapan aku berjalan mendekati bahu jalan begini?! Baiklah… Aku tahu, ini pasti karena tugas sialan! Aigoo! Aku benci sekali tugas essay!!!!

DIN!!!

Apa masalah mobil ini?! Bukankah aku sudah berhenti dan mengambil langkah menuju trotoar?!

Jangan… Jangan? Tidak-tidak! Tidak mungkin dan tidak boleh!! Memikirkan namanya saja seharusnya aku tidak melakukannya! Andwae!

“GEUM ILHAE! HELO!! Sepupu?!”

Aku menoleh dan menemukan mobil yang menglaksoniku menepi dengan jendela terbuka menunjukkan wajah Jangmin.

“Apa?!” Nyaris saja kau membuatku jantungan!

“Ayo naik!” Perintahnya.

DUH! Dia masih bersikeras?!

“Aku tidak akan ikut lagi! Aku memiliki tugas.” Dan tentu saja tidak ingin bertemu Kai demi kesehatan jiwaku!

“Tidak mau! Kau harus ikut selama aku ikut! Lagipula aku sudah bilang pada ibumu.”

Di umurku yang ke-21 ini adalah periode tersial sepanjang sejarah hidupku! Kurang apa lagi?! Aku harus mengenal Kai dan selalu bertemu dan dipaksa keadaan untuk bersamanya! Bahkan Eomma dan Jangmin seperti mengambil andil dalam hal ini – selain Rein, Kyungsoo, dan Kyungah – besok-besok aku harus ingat untuk memberitahu eomma kalau ia harus berhenti mendengarkan Jangmin!

“Eomma sudah bayar?” Aku menatapnya malas.

“Sudah!”

Telah diguratkan oleh takdir aku harus ikut! Payah!

Tanpa perlawanan aku memasuki kursi penumpang dengan wajah seperti akan menghadiri eksekusi – itulah yang aku lihat dari pantulan wajahku di kaca spion. “Sepupu, kau harus mengantarkan aku sampai apartemen.”

Jangmin lalu menganggukkan kepalanya bahagia.

*-*-*

“Diamlah Jangmin!” Aku membalasnya.

“Kau itu tidak serius ya? Ayo! Semangat!”

Aku memberengut padanya dari posisi nyamanku – duduk bersandar pada dinding kaca dan memainkan ponsel. “Kau membawaku dengan paksa.”

“Ayolah Ilhae, ikut pemanasan. Kai penari yang baik.”

Ini dia! Dia mulai lagi! Jangmin sangat ngefans dengan Kai atau menyukai namja itu mungkin – sampai pada titik di mana dia akan selalu berada dekat dengan namja itu. Menyebalkan sekali karena sepertinya sepupuku itu butuh sekali aku disampingnya sedangkan aku tidak ingin berdekatan denganNYA!

“Sepupumu itu tidak akan mau. Dia phobia padaku.” Mataku melotot ketika Kai menyela kalimat yang akan Jangmin katakan berikutnya. Astaga!

Jangmin melotot padaku seketika. “Mwo? Kau bercanda ya? Kau baik-baik saja dengan Kai dari kemarin juga!”

Yeah, tapi aku mendadak alergi padanya, rutukku dalam hati sambil menghadiahinya tatapan paling dingin.

“See?” Kai menatapku dengan tatapan yang.. MAMPUS! Aku ingin sekali mencolok matanya itu dan melakban mulutnya yang mendadak tersenyum usil ketika bertatapan denganku.

Aku bersekedap dan memalingkan wajahku menuju pintu yang tidak lama kemudian terbuka

“Maafkan atas keterambatanku, hari ini kita akan belajar koreo baru, Couple…”

Kai langsung mengacungkan tangan dan membuat Baram seperti dipause bahkan sebelum menyelesaikan kalimatnya. “Aku menawarkan diri berpasangan dengan dia.” Tangan Kai menunjuk padaku.

“Sirheo!!”

Maka dari itu Baram terdiam bingung karena aku dan Kai – singkatnya kami tapi aku tidak sudi menggunakan kata kami untuk menjadi kata ganti.

“Kalau Ilhae tidak mau kau bersama denganku saja.” Jangmin menyela.

“Sepupumu itu phobia padaku, bukankah cara terbaik untuk menyembuhkannya adalah dengan belajar dekat denganku?”

Sepertinya Baram mulai bingung dengan percakapan yang memiliki bahasan pribadi ini dan akhirnya ia yang memutuskan. “Jangan membuat kekacauan di kelasku. Kai kau boleh bersama siapa saja yang kau mau asalkan tidak menimbulkan perpecahan, tidak ada aturan khusus.”

Senyum congkak itu keluar dari wajahnya dan dia berjalan menghampiriku. Dengan santai ia mengambil tempat di sebelahku.

“Minggir!”

Dia menjawabku. “Kau tidak bisa melakukan apa-apa seenaknya Hae-babo.”

Sementara aku benar-benar membuang tatapanku, nampaknya semua penghuni kelas telah menemukan pasangannya. “Baiklah, ayo mulai. Ikuti aku dan Jangmin.”

Aku tersenyum puas melihat ternyata Jangmin tidak mendapat pasangan dan cemberut menjadi pasangan Baram.

“Kenapa Jangmin? Baram tidak seburuk itu, dia hanya lebih tua sedikit. Perbedaan usia tidak menjadi masalah kok.” Aku berucap mengajak perang.

“Mungkin karena aku memilih bersamamu.” Aku membatu berusaha menenangkan detak jantungku karena Kai baru saja berbisik di telingaku, sepertinya dia tidak suka aku berkata kalau Baram tidak seburuk itu kalau mendengar dari nada bicaranya.

Ketika mencoba gerakan pertama, sudah dibuktikan Jangmin sama sekali tidak bekerja sama dengan Baram sementara aku nyaris tidak bergerak sama sekali.

“Berhadap-hadapan, yang yeoja mundur 4 langkah yang namja maju. Lalu 4 langkah lagi sebaliknya.”

Aku berjalan mundur sesuai instruksi, langkahku sudah seperti robot.

Satu… Dua… Tiga… Empat.. Maju..

“Hei..hei!!” Aku berkata panik karena bukannya mundur Kai malah terus maju sampai akhirnya punggungku menempel tembok. Dia benar-benar menguji kesehatan jantungku yang sudah mulai kerja rodi dan ini sama sekali tidak bagus. Aku mendongakkan kepalaku dan menyesal. Baru kali ini aku benar-benar bertatapan dengan Kai. Iris matanya yang berwarna gelap semi coklat itu mengunci mataku. Ini masalah! Aku tidak bisa berpaling! Seluruh sel otakku sudah membunyikan alarm.

“Kai ada apa?” Baram berjalan mendekat? Molla!

“Sepertinya dia sakit.” Ucap Kai sambil berbalik.

“Benar! Geum Ilhae wajahmu merah sekali!” Dari arah panggung pelatihnya, Jangmin berteriak mengklarifikasikannya pada seluruh umat. Sekalian saja pakai pengeras suara!

“Ilhae-ya, kau bisa istirahat dulu jika mau.” Kali ini Baram menatapku dengan tatapan – kau boleh pulang.

“Sepertinya.”

Aku langsung mengambil langkah seribu ke arah pintu kayu yang tertutup itu dan menghilang di baliknya. Sebelum melangkah menuju ruang ganti dan berniat mengguyur diri dengan air dingin, aku menyandarkan punggungku pada pintu – mengontrol nafas, dan jantungku serta memulihkan kakiku yang seperti jelly.

NAMJA SIAL!

-:Author’s PoV:-

Chen dan Baekhyun mengetuk – lebih tepatnya menggedor pintu kamar Chanyeol dengan gerakan tergesa-gesa. Seakan-akan kalau Chanyeol tidak membukakan pintunya sekarang juga, mereka berdua akan lenyap dibawa fenomena El Nino.

Bahkan peraturan tentang menjaga keheningan pada malam hari sama sekali tidak mereka gubris.

“Chanyeol! Keluar! Gawat!!!!”

Chanyeol yang sedang tenang membaca sebuah novel di dalam kamarnya sampai harus beberapa kali mengumpat ketika mendengar kerusuhan yang diciptakan 2 sahabatnya sebelum dia menyeret kakinya menuju pintu kamarnya untuk membuka pintu bagi si 2 bocah idiot itu.

“Apa-apaan kalian?!”

Tidak menjawab pertanyaan sahabatnya, Chen dan Baekhyun langsung menyeruduk masuk ke dalam kamar. Barulah Chanyeol bisa menutup pintu kamarnya dan bersiap memaki Chen dan Baekhyun.

Tapi terlambat, karena Baekhyun sudah terlebih dahulu membuka mulutnya. “Tolong Yeol, jangan frustasi. Tetap tenang. Apapun berita yang kami bawa tolong jangan langsung gila setelah mendengarnya, oke?”

Chen mengangguk di sebelahnya. “Maja. Kau harus tetap tenang dan penuh percaya diri.”

“Kami akan mempersiapkan kelas yoga untukmu kalau tiba-tiba kau kehilangan kontrol.” Tambah Baekhyun.

“Atau kami akan mencarikan dokter psikolog kalau kau tiba-tiba desperate lebih dari beberapa hari ke belakang karena mendengar hal ini.”

Chanyeol menutup matanya sementara kedua temannya masih berceloteh. “Apa yang kalian bicarakan sebenarnya?”

“Jadi begini Yeol! Ini perihal Rein.” Duo BaekChen tentu saja melihat perubahan ekspresi ketika nama Rein disebut. Wajah Chanyeol lebih terlihat was-was ketika mendengarnya.

“Tenang oke? Tenang.”

“Cepat katakan.” Chanyeol melangkahkan kakinya kembali ke arah kasur dan duduk di pinggiran kasur sambil menarik kembali novelnya.

“Wow sejak kapan kau membaca novel?” Perhatian Baekhyun beralih pada novel yang sedang dipegang Chanyeol.

“Sejak aku menemukan bahwa tokoh utama di novel ini bernama Rein.” Jawab Chanyeol singkat sambil menyimpan novelnya di nakas. Chen dan Baekhyun menatap prihatin pada sobatnya. Chanyeol benar-benar terobsesi dengan yeoja bernama Rein. Dan itu sudah terjadi lebih dari 3 tahun!! Benar-benar setia, Park Chanyeol. Tapi kesetiaan itu sedang di ambang batas sekarang.. Karena..

“Yeol, Sehun menembak Rein!!!!!!” Heboh Chen dan Baekhyun hampir bersamaan.

Chanyeol sempat melirik sekilas dengan pandangan kaget, tapi dia bisa menutupinya di detik selanjutnya.

“Oh.”

Hanya itu yang keluar dari mulut Chanyeol dan OH nya itu berhasil membuat Baekhyun juga Chen menganga parah.

“Hanya OH?!”

“Kau sudah menyerah soal Rein?”

“Astaga Yeol! Ini benar-benar out of character sekali tahu!!”

“Man.. Atau ini karena kau sangat frustasi perihal Rein belakangan hari ini?”

“Bro, yeoja masih banyak. Kau harus bisa move on, ne?”

“Kami akan menyanyikan lagu Move On dariBruno Mars, setiap hari untukmu!”

“Heh bodoh! Itu kan artinya malah lelaki yang tidak bisa move on dari seorang perempuan!!”

“Jinjja?”

Dan serangkaian perdebatan lainnya. Chanyeol hanya bisa menghela napas. “YA! ‘Oh’ ku disini adalah OH karena aku tidak perduli.”

Baekhyun merasa tidak puas. “Kenapa kau tidak peduli?”

Chanyeol tersenyum mencurigakan. “Karena Rein tidak akan menerima Sehun.”

“Wow! Kau dapat keyakinan darimana, man?”

“Kenapa aku harus ragu. Rein menyukaiku.”

“HAH?!” Serempak Baekhyun dan Chen lagi-lagi menganga.

“Aku hanya sedang menunggunya menyadari hal itu.” Chanyeol tersenyum misterius lagi. Dan itu berhasil membuat kedua sahabatnya merinding melihatnya.

*-*-*

”Eonnideul! Di sini!”

Rein dan Ilhae menoleh secara bersamaan dan menemukan sosok Kyungah yang tengah duduk di meja cafe paling pojok. Dongsaeng mereka itu tampak keren dengan dress denim dan boots coklat semata kakinya.

Satu hari ini, Ilhae dan Rein tengah memenuhi panggilan Kyungah karena adik dari Kyungsoo ini merengek minta bertemu.

“Bogoshipoyo, eonnideul!” Senyum cerah mengembang manis di bibir Kyungah memperlihatkan lengsung pipit yang membuat Ilhae iri.

Rein tersenyum singkat lalu mengelus sayang puncak kepala yeoja yang sudah ia anggap sebagai adik kecilnya sendiri. “Apa kabarmu?”

“Baik! Sangat baik, eonni. Hehehe.. Bagaimana kabar eonnideul? Apa sudah ada perkembangannya dengan Kai dan Chanyeol oppa?”

Ilhae yang kala itu sedang meneguk air di botol minumnya, sampai tersedak dengan pertanyaan Kyungah yang sangat… Tiba- tiba?

“Geum Ilhae! Bernafaslah!” Rein yang pada awalnya hampir memikirkan Chanyeol beralih pada Ilhae. Yeoja yang diketahuinya sedang dalam keadaan labil itu nyaris tidak menghembuskan nafasnya. Tangannya menepuk-nepuk punggung Ilhae.

“Uhuk.. Huk..”

“Eonni gwaechana?” Kyungah menyerahkan tissue pada Ilhae.

“Ne, gwaenchana dan aku tidak ada hubungan apapun untuk ada perkembangan dengan Kai.” Tandas Ilhae yang langsung saja membuat Rein dan Kyungah curiga.

“Kalau Rein…” Ilhae yang merasa bagaikan tersangka yang hendak diinterogasi mencoba mengorbankan Rein.

Sementara Rein yang tampak tidak paham dengan ‘peralihan’ sahabatnya, mendengus keras. “Molla! Namja sialan itu malah menjauhi-“

“Menjauhiiiii?” Kyungah yang paham bahwa eonninya yang satu ini telah salah ucap, semakin semangat ‘mengompori’ keadaan.

“Eobseo. Kyungah-ya, kau sudah pesan makanan?”

Lalu di sudut matanya Rein melihat Kyungah terkikik sementara Ilhae tersenyum puas.

“Aku sudah memesan, eonni.” Kyungah menunjuk cup kopinya.

“Oho! Rein merasa dijauhi seseorang rupanya.” Ilhae melanjutkan aksi jahilnya.

“Apa kau tidak merasa Chanyeol berubah? Atau cuman feelingku saja? Ckk…”

Hahaha. Kena kau, Jung Rein! Pasti yeoja ini juga memikirkan tentang Chanyeol. Batin Ilhae.

Kyungah melihat adanya perubahan ekspresi yang tumbennya, tidak ditutup-tutup oleh eonninya yang biasanya terkesan sangat jaga image. Dia tersenyum misterius sebelum mengalihkan topik pembicaraan antara Ilhae dan Rein.

“Eh eonnideul..”

“Ne, Kyungah?” Entah bagaimana Ilhae merasa terancam dengan suara Kyungah yang terkesan sangat lembut.

“Kalian tentu akan datang ke pesta, bukan?”

Ilhae baru saja akan menjawab tetapi Rein telah selangkah lebih cepat. “Entahlah Kyungah, aku sudah terlalu banyak merepotkan di Jeju. Gaun, make up , dan mabuk.”

Kyungah memang tidak merasakan beban apapun, tapi Rein benar-benar merasa telah merepotkan semua orang.

“Tapi aku tidak keberatan. Kalau eonni mau eonni bisa mengurus make up dan segalanya sendiri. Hanya tinggal datang.” Kyungah tengah menunjukkan wajah memelasnya.

Rein tengah bergulat dengan batinnya sekarang. Walaupun belum lama mengenal Do bersaudara Rein sudah merasa dekat dengan yeoja dihadapannya itu, terkadang bahkan Kyungah dan dirinya saling berkirim pesan. Maka dari itu Rein menoleh ke arah Ilhae untuk mencari bantuan.

“Uhm… Sebenarnya aku juga agak takut menjadi orang asing tidak diundang…” Ilhae berkata dan ditengah ketegangan Kyungah tiba-tiba Ilhae menambahkan senyum. “Tapi kita tidak mungkin bukan menolak uri Kyungah? Gaun ayo kita mencarinya bersama, eotte?”

“Eung. Akan diusahakan! Kau tenang saja, Kyungah-ya. Kami akan datang. He he he.” Walau sedikit tidak setuju dengan opini ‘mencari gaun bersama Ilhae’ tapi Rein tetap memajang senyum manisnya agar Kyungah tidak kecewa. Haishhh.. Gaun? Astaga gaun itu mahal! Budget… Budget… Oh! Apa aku minta eomma kirim saja gaun miliknya dari Incheon untuk kugunakan nanti? Ah tapi jangan pasti gaunnya tidak cocok denganku.

Ditengah kemelut pikiran mereka berdua tentang gaun dan party thingy lainnya, tiba-tiba suara Kyungsoo mengagetkan mereka. “Hei!”

Ilhae berdiri dari tempatnya dan berlari untuk memeluk sahabat kecilnya itu. “Soo-ya! Lama tidak jumpa!”

Setelahnya Rein yang menyalami Kyungsoo dan menanyakan kabar namja itu sedangkan Ilhae sedang merogoh ponselnya dari tas karena merasakan getaran di sana. Kyungsoo yang melihat ponsel yeoja itu jadi teringat akan satu hal.

“Hae-ya –“

Tetapi kata-katanya terpotong karena Ilhae langsung menunjukkan wajah aneh dan mengangkat telepon yang baru saja masuk itu.

“JANGAN – Mwo?! YA!” Ilhae langsung gelagapan dan menutup teleponnya segera sehingga Kyungsoo benar-benar khawatir.

“Hae-ya..” Sekali lagi namja itu memanggil sahabatnya.

“Ne?” Ilhae terlihat seperti anak ingin kabur dari tempat itu.

“Aku tidak tahu yang baru saja meneleponmu siapa, tapi itu mengingatkanku akan satu hal. Beberapa hari yang lalu aku memberikan nomor ponselmu pada Kai.”

“JADI ITU KAU?” Ilhae terbelalak.

“Kerja bagus, Kyungsoo. Hahaha…. EH!” Wajah puas yang awalnya dipajang Rein luntur karena death glare yang Ilhae berikan padanya.

“GAH! Kau jahat Soo-ya! Tidak tahukan impact apa yang dia berikan padaku?! Aku pulang! Aku tidak mau bertemu dengannya!” Dengan gerakan secepat kilat Ilhae langsung menyambar tasnya dan berlari menuju pintu keluar membiarkan ketiga orang tersebut menganga takjub.

Di sisi Ilhae ketika yeoja itu tengah mendorong pintu kaca Kai berada di sisi satunya dan menahan agar pintu kaca tersebut tidak bisa di dorong oleh Ilhae. Tumben sekali tenaga seorang Geum Ilhae bisa ditandingi karena Kai tengah mendorong pintu kaca dan menyeret Ilhae kembali masuk.

Sesampainya kembali ke kerumunan Kai dengan wajah tersenyum berkata. “Maaf Soo-ya, aku lama. Ada apa?” Tanyanya tanpa dosa.

Sementara itu Ilhae tengah memberontak dengan wajah yang bisa dibilang merah merona, membuat beberapa asumsi aneh di pikiran Kyungah, Kyungsoo, dan Rein.

“Aigoo.. pasti ada sesuatu yang terjadi, hmm..” Dengan pandangan menyelidik, Rein melemparkan pandangannya pada kedua tersangka yang terlihat menunjukan ekspresi yang sangat kontras. Ilhae dengan wajah kesal dan Kai yang acuh tak acuh tapi terlihat mencurigakan karena seakan dia sedang menutupi sesuatu.

“Pada suatu hari… ada seorang dengan gangguan mental yang meminta nomor telepon seorang gadis cantik, dan orang itu meneror si gadis cantik. Tidak hanya itu… Orang itu juga mulai menjadi ilblis yang bersikap usil pada si gadis cantik yang begitu polos nan anggun. Itulah yang terjadi Jung Rein.” Ilhae memutar bola matanya dan berguman kecil. “Peneror.”

“Such a bad story, woman~” Komentar Rein sambil menatap Ilhae ilfeel.

“Nah! Betul, kan? Cerita yang sangat menyeramkannn.. si peneror sialan!”

“Bukan kasus penerornya yang membuat ceritanya begitu buruk, kawan. Kenyataan bahwa kau bukanlah gadis cantik –baiklah mungkin kau cantik, tapi kau SAMA SEKALI tidak polos dan anggun.”

“HEY! Aku tidak menceritakan tentangku sama sekali…”

Kai yang berada di sebelahnya hanya bisa menyeringai. “Orang idiot pun tahu kau sedang menganalogikan tentang dirimu dan diriku. Apalagi Rein –yeoja cerdas, lulusan terbaik dari jurusan sosial di High Schoolnya.”

Rein tersenyum puas. “YEOKSI URI KAI!” Lalu mereka melemparkan tatapan ‘bangga’ satu sama lain.

Sementara di sisi lain, Ilhae menganga lebar – syok. Baiklah.. kenapa Kai dan Rein tampak bekerja sama?!

“Kenapa kau bangga akan hal itu Jongout?!” Ilhae mendorong Kai untuk melepaskan diri dari genggaman Kai dengan jengkel.

“Karena menjahilimu adalah hal menyenangkan, anak keciiiiiil.” Dengan gemasnya Kai mencapit hidung Ilhae dan menariknya sampai mata Ilhae membelalak sempurna. Wajah Kai yang terlihat sangat senang dengan momentnya sekarang membuat Kyungah yang sedari tadi berdiam diri –menahan gejolak fangirl nya – tidak mampu lagi.

“KYAAKKKK!!! PUBLIC DISPLAY AFFECTIOOON!!!” Lantas mendengar histerisnya Kyungah, Kai dan Ilhae mengambil langkah mundur. Sementara Kyungsoo refleks menutup mulut adiknya sebelum yeoja itu berhasil menarik perhatian seluruh pengunjung tempat itu yang sedang nyaman menikmati hidangan yang tersedia di mejanya masing-masing.

“YAK! AKU SUDAH SELESAI UNTUK HAL INI!” Ilhae menggeram sembari mengacak-acak rambutnya dan benar-benar berjalan pergi.

“Y-ya, Geum Ilhae! Geurrae, geurrae.. berhubung Kyungah masih dalam keadaan ‘sakaw’ nya. Biar aku yang menjelaskan. Kalian tinggal datang ke hotel D’soo dua minggu lagi, jam 6. Pakaiannya formal, dan lebih baik jika kalian membawa pasangan. Pesta topeng, ingat.” Kyungsoo menghentikan Ilhae dengan menarik tali tas yeoja itu.

“Soo-ya, Kyungah tidak menjelaskan sebelumnya kalau kami harus membawa pasangan…” Rein kelihatan ragu. Dan tidak ada satu pun di tempat itu yang berencana untuk menjawab keraguan yeoja itu. Tidak Ilhae yang terlihat badmood, maupun Kai yang senang melihat wajah ‘sebal’ Ilhae, Kyungsoo yang tersenyum kecil, maupun Kyungah yang mulutnya masih dibekap oppanya.

“Pasangan? Mwoya? Aku dengan Rein saja ya?” Kata Ilhae kemudian dengan pemikiran sederhana yang tidak menyangka kalau maksud pasangan dalam konteks ini adalah pasangan namja-yeoja, bukannya teman untuk menemani kebosanan di pesta.

“Seperti biasa, Geum Ilhae yang ‘SANGAT CERDAS’.” Komentar Kai –lagi, berhasil meletupkan perang dunia yang awalnya sempat sedikit mereda karena tema pasangan.

“KAIIIIII!!”

To Be Continue…

17 pemikiran pada “Cynicalace (Chapter 13)

  1. Suka chap ini, moment Kai-Ilhae makin banyak dan seru ngebaca part Kai yang terus ngegoda Ilhae..hhe
    kayaknya Kai udah suka duluan sama Ilhae tapi Ilhae keburu dongkol tuh..
    Oh, ternyata alasan Chanyeol ngejauhin Rein biar dia sadar..bakalan berhasil tuh kalau liat sikapnya Rein yang kehilangan..
    Ok, next chap ditunggu…makin banyakin ya moment mereka..fighting!!

  2. ah kak sumpah ya moment kai-ilhae bikin aku ngakak terus. Cople favorit.ku 🙂
    good job kak dan cpet di lanjut ya 🙂 di tunggu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s