The Red Tear Gun And The Doll’s Eye (Chapter 3)

TRTGATDE Poster

The Red Tear Gun And The Doll’s Eye (Chapter 3)

Title: The Red Tear Gun And The Doll’s Eye (Chapter 3)

Author: tigeryongguk

Co-author: rapperdobi

Genre: Angst, Fantasy, Romance, School-life

Rating: PG-15

Length: Multichapter

Cast: Kai, Mina, EXO’s members etc.

***

“Maaf bisa kau ulangi?” kataku.

“Kim Jongin.” katanya lagi sambil melihat ke arahku.

“Oh.” kataku sebelum mengalihkan pandanganku pada buku catatan biologi lagi. Aku menggigit bibirku, apakah dia orangnya?

“Kenapa? Kau terlihat tegang saat aku menyebut namanya.” kata Chanyeol, melihat ke mataku yang menghindari matanya.

“Tidak, bukan apa-apa.” kataku sebelum menghela nafas, setelah mengalihkan tatapannya ke papan tulis lagi.

“Ms. Jeon.”

“Ya, Teacher Lim?” aku langsung melihat ke guru dengan buku di tangannya.

“Mr. Zhang dari kelas 3-C, ingin menemuimu.” katanya dan aku melihat ke arah pintu. Seorang laki-laki dengan rambut black silk hair dan poni yang menutupi dahinya berdiri tegak.

“Sekarang?” kataku hati-hati.

“Ya.” guru itu menganggukan kepalanya dan aku menaruh pulpenku dari genggamanku ke meja sebelum berjalan melewati Mr. Lim ke pintu kelas.

Aku berjalan melewati orang yang bernama Mr. Zhang. Dia menutup pintu sebelum berjalan di depanku.

“Ikuti aku.”

Aku berjalan mengikuti dia dengan percaya diri, dia tidak bisa melihatku seperti ini. Takut dan ketakutan. Dia berbelok sebelum keluar dari gedung SMA dari pintu belakang. Kami tetap berjalan sampai sebuah mobil sport hitam terlihat di depan mataku. Aku melihat sekelilingku. Ini halaman parkir. Kenapa dia membawaku kesini?

“Silahkan masuk, heiress.” Ketua Kedisiplinan Siswa keluar dari mobil itu dan membuka pintu penumpang untukku.

I don’t go to school to skip classes.” kataku padanya dalam bahasa inggris, karena aku tahu dia adalah orang Kanada.

“Ini disebut dispensasi.” katanya padaku. Pintar.

“Kita perlu membawamu ke suatu tempat.” Oh, laki-laki lainnya berjalan ke arah kami dari pintu belakang sekolah.

“Dan boleh kutahu siapa kau?” kataku bertanya padanya dengan dagu ditengadahkan padanya. Uh, heiress yang sombong.

“Suatu kehormatan bisa bertemu denganmu, Ms. Jeon. Namaku Byun Baekhyun.” katanya dan mengambil tanganku dengan tangannya dan mencium punggung tanganku dengan lembut. Aku merasa terbang ke langit ke-tujuh.

“Apa yang kau inginkan?” aku menatap mereka dengan curiga. Sungguh, mereka bertiga mengelilingiku dan melihat kearahku, it’s hella hot.

“Untuk melakukan ‘bisnis rahasia’ denganmu.” Mr. Zhang memperlihatkan padaku sebuah kertas yang kusut. Aku mencoba membaca isinya sebelum mataku membelalakan mataku. Aku mencoba mengambil kertas itu saat dia dengan cepat menjauhkannya dari jangkauanku.

“Kembalikan itu! Itu bukan milikmu dari awal dan itu bertentangan dengan hukum.” aku berteriak marah pada mereka. Mereka hanya terkekeh satu sama lain.

Heiress. Haruskah kita menandatangani ‘bisnis rahasia’ ini?” Mr. Byun bertanya padaku dengan seringai.

“Kita harus.” kataku menghela nafasku.

***

Heh, wassup?” Chanyeol menepuk pundak sahabatnya.

“Apakah kau melihat Kris di jam pelajaran ke-enam?” Kai bertanya pada laki-laki yang lebih tinggi setelah dia duduk di sebelahnya.

“Nah, mungkin hanya bisnis komite kedisiplinan lagi.” Chanyeol mengangkat bahunya.

Hey, kau mewarnai rambutmu hitam lagi.” Suho mencibir padanya sambil memakan makan siangnya.

“Minsu tidak menyukai itu merah.. jadi dia mewarnainya.” katanya terkekeh sebelum berterima kasih kepada pelayan.

“Ahh~ pasti menyenangkan mempunyai cinta masa kecil.” kata Chen, berangan-angan.

“Kau punya Sojin. Bukankan dia cinta masa kecilmu?” kata Luhan dan tertawa melihat ke arah gadis gendut di depan mereka.

“Ew, no. Berhentilah berbicara tentang dia.” Chen melihat ke arah gadis gendut di belakangnya dan mengalihkan wajahnya saat gadis itu melambai padanya.

“Tapi, untuk seseorang dengan tinggi 155 cm dan berat 60 kg bukan masalah besar.” kata Xiumin.

“Yeah, kupikir dia terlihat manis.” kata Luhan lagi, membuat Chen dan yang lainnya melihat ke arah dia.

“Tadi kau menjadi rasis dan sekarang kau bilang dia manis?” Tao bertanya padanya tidak percaya.

“Oh, ayolah itu cuma bercanda. Tapi, serius Chen. Pipi chubby nya itu lucu dan dia sangat cantik dari awalnya.” kata Luhan lagi pada Chen dengan mulut yang penuh nasi. Chen mengerutkkan hidungnya melihat ke arah Luhan dan dia bertanya kepada Tuhan mengapa dia punya sahabat yang menjijikan. Chen melihat sekali lagi ke gadis dibelakang dirinya, dan memperhatikan dirinya. Meskipun mereka dulu adalah teman masa kecil, dari kelas lima SD dia berubah.

“Dia manis.”

***

“Kalian punya markas?” Mina melihat ke sebuah bangunan di depannya dengan mulut terbuka.

Yeah.” Baekhyun menganggukan kepalanya dan mengunci mobilnya setelah semuanya sudah keluar dari mobilnya.

Mina terlihat bingung dengan bangunan di depannya. Banyak pertanyaan yang terlintas di pikirannya. “Katakan padaku kalian itu siapa? FBI? CIA? Apa?”

“Ayo masuk, heiress. Pertama aku akan menjelaskan siapa kami.” kata Lay dan membuka pintu dengan kunci di tangannya.

Mereka masuk ke dalam rumah yang memperlihatkan ruang tamu. Kris berjalan melalui Mina dengan tangannya tiba-tiba memegang tangannya.

Dia duduk di sofa kulit hitam yang ada di depannya.

“Duduk.” dan Mina menurut seperti anak anjing yang penurut.

“Aku akan menjelaskan. Kita adalah EXO. Atau disebut E-X-O. Kita adalah 12 laki-laki yang akan memimpin Korea di generasi selanjutnya. Kita adalah yang paling kuat dan mungkin memiliki pengaruh besar untuk Korea suatu hari nanti. Kim Junmyeon Ketua Dewan Murid adalah anak dari Ilmuwan terkenal di Korea. Dia leader kami. Kris disini, atau disebut Wu Yifan adalah anak dari CEO Wu Corporation. Yes, the rich Wu Corp. Teman sebangkumu, Lu Han. Anak dari Sekolah Korea-China Olahraga-“

“Aku pikir dia anak dari Lu Xang, pemilik dan penemu dari Lu’s Beauty Product.” kata Mina terus terang membuat Baekhyun tertawa.

“Tolong lanjutkan.”

“Ya, Lu Xang adalah Ibunya. Kim Minseok anak dari pemilik Kim Furniture Group. Ya, satu-satunya yang membuat funiture dan peralatan dengan style Eropa. Aku, Zhang Yixing. Aku anak dari pemegang data Pemerintahan Korea. Kim Jongin, anak dari-“

“Lay!” Kris mendesis padanya. Lay terkesiap dan menutup mulutnya dengan tangannya.

“Aku akan melanjutakan.” kata Kris.

“Kim Jongdae, anak dari Kim Ambassador Korea Selatan. Park Chanyeol, anak dari dokter dengan bayaran tertinggi di seluruh dunia. Do Kyungsoo, Do Corporation yang membuat fasilitas publik. Huang Zitao, anak dari Huang Ambassador China. Ayahnya adalah pemilik sekolah ini. Byun Baekhyun, laki-laki disitu adalah anak dari Pemimpin Pertahanan dan Keamanan Korea. Terakhir Oh Sehun. Anak dari pembuat Oh Financial Group. Semua orang akan meminjam uang pada mereka dan mengembalikannya tiga kali lipat saat mereka sukses.”

“Kau tidak menjelaskan Kim Jongin.” Mina protes.

“Tidak, tapi kita akan.” Kris menyeringai padanya.

“Tapi kapan?”

“Suatu hari nanti.” Baekhyun menjawab.

“Jadi, ayo kita berbisnis, heiress. Tanda tangani kertas perjanjian rahasia ini.” Baekhyun menyodorkan Mina sebuah kertas dan pulpen. Mina membacanya dengan hati-hati dan menyeletuk.

“Kalian sangat siap.”

“Tentu saja.” kata Lay dan terkekeh pada kedua temannya saat dia menandatangani kertasnya.

“Ini rahasia.” kata Lay dan memegang kertas itu padanya.

“Beritahu kami, heiress.” Lay berkata dengan nada yang sangat sangat sangat serius.

***

“Lihat, itu heiress dan…. what the fu- LAY, BAEKHYUN, KRIS?!” Suho hampir tersedak makanannya melihat ke arah heiress berjalan ke gedung kantin dengan sahabatnya mengikutinya dibelakangnya seperti bodyguards.

8 orang lainnya melihat ke arah yang sama dan membelalakan mata mereka. Dagu luhan hampir jatuh, mata D.O seperti akan keluar kapan saja.

“Apa yang terjadi di jam pelajaran ke-enam?” Chen menggumam.

Hey.” Lay menyapa mereka dengan santai setelah mengucapkan sampai jumpa pada Mina.

“Bagaimana kau membuat dia berbicara dan tersenyum padamu setelah dia sudah menolakku dikelas?!” Chanyeol berteriak padanya.

Chill. Dia sangat mudah terbujuk.” kata Lay sambil menggigit rotinya. Ada tendangan kecil di lututnya, membuat dia melihat ke pelakunya, Baekhyun.

Mulut Baekhyun bergerak “Ini rahasia.” Oh, Lay baru ingat dan terkesiap dan keringat dingin mengalir.

“Terbujuk? Maksudmu?” D.O bertanya padanya.

“Kau tahu.. Umm- Jadi—ah, pesta itu!” katanya. Kris melihat kearahnya tidak percaya dan Baekhyun menutup wajahnya dengan telapak tangannya.

“Maksudmu ‘pesta’ itu? The party with masquerade?!” Xiumin mendesis padanya. Lay hanya menganggukan kepalanya sementara dia merutuki diri sendiri karena membuat alasan yang bodoh.

“Wow. Bloody hell, apa yang kau lakukan padanya sampai dia berkata ‘iya’? Luhan menghela nafas dan matanya berkeliaran.

***

“Ms. Jeon.”

“Mr. Zhang, apa lagi yang kau inginkan?” kata Mina melihat ke laki-laki yang sedang bersandar di pintu kelasnya. Kelas sudah kosong dan hanya dia yang ada di kelas, membereskan barang-barangnya.

“Suatu bantuan.” katanya. Menyilangkan tangannya.

“Kau mengancamku, dan sekarang meminta bantuan? Lucu sekali.” Mina tertawa sarkastik.

“Aku suka tawamu. Singular not plural. Aku menerima informasi bahwa kau butuh bantuan juga.” katanya, berjalan ke meja Mina.

“Bantuan apa?” kata Mina melihat ke Lay menggoda.

“Mencari Kim Jongin-mu.” katanya datar melihat ke arah matanya yang membelalak karena perkataannya.

Mina menelan ludah dan melihat ke Lay lagi.

“Maukah kau membantuku, Lay? Kumohon..” Mina melihat ke Lay memohon dan Lay kaget nama panggilannya keluar dari mulutnya.

“Tentu. Tapi dengan kesepakatan. Aku akan membantumu mencari dia dan kau menjadi pasanganku di pesta minggu depan. Kau tahu pestanya, bukan?” kata Lay, menunjuk ke wajahnya. Mina menganggukan kepalanya semangat. Lay tersenyum puas dan mengacak-acak rambut Mina sebelum meninggalkan dia dengan annoyed huff.

Mina tersenyum pada dirinya sendiri sebelum menenteng tasnya dan berjalan keluar kelas. Tapi saat dia akan berjalan keluar, sebuah tangan menahannya keluar kelas. Dia melihat ke seorang gadis gendut dengan tatapan tajam dan wajah marah, sebelum mendesis.

“Apa yang kau inginkan?”

Gadis itu melipat ujung rok nya dan bergumam. “Bolehkah aku menjadi temanmu?”

“Aku tidak butuh teman.” kata Mina dan melipat tangannya di depan dadanya.

“Kumohon… Aku tidak mempunyai teman satupun. Karena aku satu-satu gadis gendut di akademi ini.” katanya, melihat ke bawah ke lantai. Mina merasa sedih, melihat keadaan gadis itu. Putus asa dan rentan. Dia mendesah dan menganggukan kepalanya bermaksud ‘iya’.

“Benarkah?! Kau mau??” kata gadis itu semangat. Mina melihat ke arahnya dan tersenyum hangat UNTUK PERTAMA KALINYA. Catat itu.

“Yeah. Siapa namamu?” kata Mina, dengan senyuman lebar di wajahnya.

“Soojin. Nam Soojin.” Soojin tersenyum balik padanya.

“Apa kau punya orang yang kau sukai?” Mina mengalungkan tangannya pada tangan Soojin. Sekarang, mereka terlihat seperti B-F-F.

Yeah, Chen. Dia cinta masa kecilku.” kata Soojin malu. Dia melihat ke arah 12 laki-laki dekat mereka berdiri di depan loker.

“Laki-laki itu?” Mina menunjuk dan tangannya langsung ditarik ke bawah oleh Soojin.

“Jangan menunjuk ke arahnya!” Soojin membisik. Mina hanya tersenyum pada dirinya sendiri sebelum melihat lagi ke grup 12 laki-laki itu. Dia melihat ke seorang yang memakai red cap di kepalanya sedang tertawa dengan teman-temannya. ‘Dia terlihat familiar.’

“Oh lihat. Heiress dan- What the fudge?! Soojin?! Lihat Chen, itu Soojin-mu.” Luhan tertawa dan menyenggol tangan Chen. Chen memukul dia dan menatap Soojin dingin.

“Senang melihatmu, Heiress.” Lay menyapa Mina dengan senyum tulusnya dan melambai ke Mina. Mina melambai balik dan membalas senyumannya.

Heiress, ini Chen, Tao, Xiumin, Suho, Sehun, Kai. Well, jika seandainya kau tidak tahu temanku. Oh tunggu- coret itu. Sahabat.” satu tangan Baekhyun melingkar di pundak Mina dan menunjukkan orang yang dia panggil sahabat.

“Senang bertemu dengan kalian semua.” dia membungkukan badannya dan mereka membungkuk balik.

Heiress, kau sangat menyebalkan.” Chanyeol berjalan dan berhenti tepat di depan dia, menggembungkan pipinya. Mina tertawa lepas sebelum kembali pada pendiriannya.

“Kenapa?”

Chanyeol mendesah dan berbicara dengan nada sedih. “Kau menerima tawaran Lay, sedangkan kau menolakku.”

“Maafkan aku Chanyeol.” kata Mina dengan senyuman di wajahnya. Semuanya kaget. Dia melihat ke arah mereka, kenapa mereka semua kaget?

Heiress, k kau tersenyum,” Baekhyun tergagap dan dia menatap Baekhyun.

Well.. aku harus mengubah sikapku.” Mina mengangkat bahunya. Lay dan Kris memberinya senyuman hangat.

“Hei, aku Kim Jongin. Senang bertemu denganmu, Jeon Mina.” Kai memegang tangan Mina dengan tangannya dan mencium punggung tangannya. Sebuah cahaya merah menyetrum badan mereka. Mereka tercengang. Apa yang tadi itu?

“Kalian baik-baik saja?”

“Yeah, s semuanya baik-baik saja,” Kai menjawab dengan grogi. Mina hanya menaruh rambutnya di belakang telinganya.

“Ayo pulang.”

***

“Selamat malam, Heiress.” suara laki-laki di seberang telepon menyapa dia. Mina tersenyum pada penelepon.

“Malam juga Mr. Zhang. Ada yang bisa kubantu?”

“Aku tadi sedang berpikir. Apa pekerjaan orang tuamu?” kata Lay, dia sedang melipat tangannya di kamarnya sambil memakan apel dengan tangan kanan dan memegang handphonenya dengan tangan kiri.

“Kenapa?” tanya Mina. Tidak ada seorang pun yang bertanya soal itu padanya,

“Bagian dari mencari dan kesepakatan yang kita punya.” Lay menyeletuk dan menggigit apelnya. Lagi.

“Ayahku Jeon Hoseok, ilmuwan pintar namun juga gila. Sementara Ibuku Nam Gayoung, CEO Korea International Hospital.” kata Mina menggigit bibirnya. Dia sedang di kamarnya, sendirian. Dia berjalan dari kasur ke meja belajarnya, mengambil sebuah bingkai foto.

“Begitu. Itu sebabnya mengapa kepala sekolah menyembunyikan hal itu.” kata Lay lagi, melempar apelnya ke tempat sampah. Dia berjalan ke laptopnya dan menulis informasi yang benar tentang Mina.

Well, Heiress-“

“Mr. Zhang? Bisakah aku memanggilmu dengan namamu?” Mina menggigit bibirnya saat mengatakan hal ini.

“Apa? Kenapa-“

“Aku hanya ingin. Kumohon. Yixing-ssi?” Mina membujuk dia, dengan suara yang dibuat imut membuat Lay terkesiap dan menelan ludahnya.

“T tentu saja.” kata Lay, dia mengucapkan sampai jumpa sebelum menutup teleponnya.

***

 

Flashback On

 

“Kai….” Seorang gadis kecil menangis semakin kencang dan keras saat petir menyambar langit lagi. Dia menenangkan gadis itu sambil melingkarkan tangannya pada gadis itu.

“Aku disini, Mina.” dia mengelus tangan gadis itu untuk membuatnya tenang. Gadis itu tetap menangis dengan kepalanya disenderkan pada dada bocah laki-laki itu.

“A aku takut.” gadis itu menelan ludah, kedua tangannya dipakai untuk menutup kedua telinganya.

“Tidak apa-apa. Aku akan selalu ada disini. I’m your hero!” dia mengangguk mantap pada gadis itu dan memberinya senyuman. Gadis itu membalas senyumannnya, sambil terus meringkuk dalam kehangatan Kai.

You’re my hero. You will always be.” Gadis itu memeluk pinggangnya dan tersenyum dengan kenyamanan yang diberikan bocah laki-laki yang memeluk dirinya balik.

 

Flashback Off

 

I will always be your hero, Mina.”

Iklan

16 pemikiran pada “The Red Tear Gun And The Doll’s Eye (Chapter 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s