CLOISONNE CROWN: THE EMPEROR

CLOISONNE CROWN: THE EMPEROR

 

PLEASE READ THESE BEFORE READING THIS STORY

CLOISONNE CROWN: THE FIRST ENDING

CLOISONNE CROWN: THE BEGINNING

CLOISONNE CROWN: THE CROWN OF THE QUEEN

DISCLAIMER:

This is a work of fan fiction using characters from EXO owned by SM ENT., KOREA.

I do not claim any ownership over them or the world of EXO.

The story is my own imagination, and it is not purported to be part of  EXO real life. This story is for entertainment only and I am not profiting financially from the creation and publication of this story.

cloissoncrown-violetkecil


CLOISONNE CROWN: THE EMPEROR

Badannya tiba-tiba lemah, seseorang menyuntik lengannya dengan cairan yang membuat seluruh tubuhnya kaku. Bau formalin dan alkohol menyebar menusuk hidung. Sehun hanya bisa merintih pelan. Digerakkannya jari-jari tangan dan kakinya tapi syaraf tubuh Sehun telah mati. Ia benar-benar tidak dapat bergerak. Di dalam kesadaran bahwa tubuhnya tidak mampu bereaksi, ia hanya bisa mengingat seseorang telah menculik dan menyekapnya di sebuah kamar yang tampak seperti ruang operasi.

“Tolong aku, kumohon tolong.”

Bahkan mulutnya sendiri tidak mampu membuka dan bersuara. Sehun berteriak-teriak kencang memohon pertolongan tapi keriuhan itu hanya terjadi pada pikirannya.

“Lepaskan aku, tolong aku tidak dapat bergerak.”

Tiba-tiba seseorang mendekatinya, pemuda itu terkesiap. Desiran darah di urat nadinya bergerak cepat, bulu kuduknya berdiri. Ia tahu siapa orang itu dan ia memiliki firasat bahwa umurnya tidak akan lama lagi.

“Bukankah kau telah mati?”

“Kau heran? Aku tidak rela mati sebelum membalas dendamku. Bersiaplah!”

Tanpa basa-basi, sosok misterius itu menodongkan pistol dan menembakkan puluhan peluru ke tubuh pria itu yang memang sudah tak berdaya. Dalam hitungan sepersekian detik setelah peluru pertama menembus tubuhnya, Sehun kemudian terkapar mati berlumuran darah.

“Tidaaaaaaaak!”

Pria itu terbangun dengan peluh bercucuran, diraba seluruh tubuhnya. Tidak, ia tidak mati. Ia masih merasakan detak jantungnya yang bergerak cepat. Nafasnya tersengal-sengal, badannya basah dan dingin. Ini sudah kali ketujuh mimpi seperti ini datang mengunjunginya. Walaupun tiap mimpi memiliki perbedaan tempat dan suasana tapi ujungnya akan selalu berakhir sama, dirinya akan selalu mati dan pembunuh itu, Cloissone Park, wanita itu selalu berhasil membunuhnya sekeras apapun dia melawan.

Sehun masih bernafas terengah-engah. Tanpa sadar ia menjerit ketika terbangun dari mimpi buruknya. Sehun menutup kedua wajahnya karena frustasi. Apakah sebuah kebetulan jika mimpi serupa terjadi selama seminggu berturut-turut? Awalnya ia tidak terlalu peduli tapi lama-lama Sehun merasa ganjil. Ada sesuatu yang tidak beres, bunga tidur itu terlalu nyata untuk disebut mimpi. Entah apakah mimpi itu hanya pelengkap tidur atau pertanda, hati Sehun kini cenderung memilih yang kedua.

Elusan tangan dan jemari cantik pada punggung dan bahu menyadarkannya. Seseorang memeluknya dari belakang dengan hangat. Sehun dapat merasakan desah nafas wanita di dekatnya.

“Kau bermimpi buruk sayang?”

Sehun tidak menjawab dan juga tidak merespon sentuhan erotis yang dilakukan wanita itu. Tangan wanita itu bergerak lembut menyentuh hampir kulit tubuh Sehun yang terbuka.

“Aku bisa membuatmu memiliki mimpi indah.”

Pria itu diam terpekur, tidak bereaksi. Pikirannya masih kalut akan mimpi buruk yang baru saja dialaminya. Apakah Cloisonne Park akan membunuhnya suatu saat nanti ataukah ini hanya karena perasaan bersalah yang teramat besar? Tidak, tidak mungkin gadis itu berani melakukannya. Walau Cloisonne berusaha keras menyembunyikan karakter aslinya, Sehun tahu bahwa sebenarnya gadis itu sangat lembut, rapuh dan cenderung penakut.

Wanita asing yang mungkin teman kencan Sehun itu tidak menyadari bahwa suasana hati pria itu sedang buruk. Ia mempererat pelukan dan memperdalam sentuhannya. Dengan lembut, diciumnya bahu, leher dan dicarinya celah untuk mendapatkan bibir Sehun. Ditariknya kepala Sehun ke arah belakang, dan ketika kesempatan untuk mencium tiba Sehun tiba-tiba mengempaskan tubuh wanita itu.

“Oppa?”

Wanita itu terkejut karena Sehun menolak perhatiannya.

Sehun langsung berdiri dari tempat tidur tanpa banyak bicara. Ia mengambil baju dan celana panjang kemudian memakainya. Wanita itu menyusulnya dengan marah.

“Oppa kenapa denganmu?”

Sehun terdiam. Ada perasaan bersalah yang muncul tiba-tiba, ia merasa seperti telah melakukan pengkhinatan besar.

“Aku pergi.”

Wanita itu terkejut dengan ucapan Sehun.

“Kau pergi begitu saja setelah kita menghabisakan waktu bersama tadi?”

“Ada yang harus aku lakukan.”

“Aku tidak mau kau meninggalkanku.” Wanita itu menolak dan menarik kedua tangan Sehun tapi pria itu mengibaskannya begitu saja.

Tanpa banyak basa basi Sehun pergi begitu saja dari apartemannya. Itulah konsekuensi berkencan dengan Sehun, jangan harap kau bisa memilikinya untuk waktu yang lama. Kau masih bisa mendapatkannya untuk satu jam saja sudah untung. Bahkan sudah jadi rahasia umum, walaupun kau berkencan dengannya, Sehun belum tentu mengingat namamu saat itu.

Dengan ketampanan dan kekuasaan yang dimilikinya, Sehun entah kenapa lebih memilih melajang lama. Padahal wanita yang berusaha merebut hati Sehun juga tidak bisa dibilang enteng. Mereka umumnya cantik, terkenal dan kaya. Sayangnya sampai saat ini belum ada wanita yang mampu menaklukkan hatinya. Para wanita yang mendekati Sehun tampaknya harus tahu konsekuensi itu.

Sehun mengendarai mobil mewahnya dengan kecepatan tinggi. Jalanan kota Seoul sudah mulai sepi karena waktu sudah menunjukkan pukul satu pagi. Diterimanya panggilan dari earset yang terpasang di telinganya.

“Ia pergi ke luar negeri dengan kapal laut, mengikuti rombongan pencari suaka dari Korea Utara.”

Informannya tengah memberi laporan keberadaan terbaru Cloisonne Park. Sehun menepikan mobilnya pelan. Untuk urusan Cloisonne ia harus ekstra berkonsentrasi. Dirinya telah mengeluarkan biaya begitu besar hanya untuk mencari tahu dimana gadis itu sekarang. Mudah-mudahan informannya kali ini memberikan berita yang menyenangkan setelah sebelumnya tidak ada satupun laporan yang dapat menjelaskan keberadaan gadis itu.

“Kami belum bisa memastikan ia ke negara mana tapi mungkin Vietnam atau Kamboja, diantara kedua negara itu. Semua radar dan satelit sewaan telah kita kerahkan.”

Laporan yang masih mentah, desis Sehun tapi tak mengapa setidaknya kemungkinan pencarian kini lebih mengerucut.

“Carilah terus. Aku ingin minggu ini ia sudah ditemukan.”

Suara dari seberang tiba-tiba berhenti sejenak. Informan itu kini berbicara lebih pelan.

“Kami usahakan tapi seseorang selalu berhasil memutus kontak kami dengan objek. Sinyal navigasi kami pernah beberapa kali terkecoh. Seseorang juga telah meretas jaringan pencarian kami.”

Pria itu menutup matanya sambil mendesah lama, Ah Chanyeol, aku tahu itu kau!

Sambungan telepon terputus dan Sehun melanjutkan perjalanannya kali ini lebih lambat. Dari dulu Chanyeol terkenal jenius untuk urusan teknik informatika dan telekomunikasi. Rasanya tidak ada yang tidak dikuasai orang itu dan secara pribadi Sehun mengaguminya. Tapi kepentingan mereka kini saling berlawanan. Sehun dengan usahanya mencari Cloisonne dan Chanyeol berupaya mencegahnya untuk menemukan gadis itu. Ia pikir ancaman Chanyeol dulu hanya gertakan sambal, tak disangkanya Chanyeol benar-benar membuktikan perkataannya.

Apakah dia jatuh cinta pada Cloisonne? Sehun berpikir akan motivasi Chanyeol yang mati-matian melindungi gadis itu daripada berada di pihaknya.

Apakah harus seperti itu jika menyukai seseorang? Lagi-lagi Sehun bertanya tentang hal yang masih asing dalam pikirannya.

Sial, mengapa cinta itu begitu rumit. Sejujurnya ia tidak tahu arti dari kata ‘cinta’ temasuk turunan kata kerjanya seperti ‘jatuh cinta’, ‘mencintai’, ‘dicintai’. Cinta adalah konsep perasaan yang sulit dimengerti.

Dari kecil ia tinggal di panti asuhan dengan pemilik yang mengeksploitasinya untuk mencari uang bagi keuntungan pribadi. Ia telah kehilangan orang tua sejak kecil dan terbiasa diperlakukan dengan keji. Sehun belum pernah merasakan bagaimana rasanya dicintai dan wajar jika sampai sedewasa kini pengetahuannya tentang cinta masih sama seperti anak bayi.

Berbeda dengan Chanyeol yang datang dari keluarga utuh, kaya dan harmonis. Ia selalu dilimpahi perhatian dan kasih sayang bahkan kadang berlebihan. Ketika mereka menginjak bangku kuliah, Ibunya masih mengiriminya bekal makanan tiap hari, sedangkan Ayahnya selalu berpesta keluarga tiap minggu hanya untuk merayakan masa depan Chanyeol.

Saat itu, Sehun hanyalah pemuda miskin yang banting tulang supaya bisa hidup. Ia bekerja keras agar bisa kuliah di universitas ternama. Tidak ada kata istirahat dalam hidupnya karena waktunya selalu dipenuhi dengan kata bekerja dan bekerja. Orang-orang tidak mau bergaul dengannya karena ia miskin. Tapi ia tidak peduli karena tujuan hidupnya adalah segera bekerja dan lepas dari kemiskinan.

Sampai kemudian Chanyeol datang menawarkan persahabatan. Seumur hidupnya, ia belum pernah memiliki sahabat. Dan dari Chanyeol-lah ia bisa tahu apa itu kasih sayang keluarga. Kadang tersembul rasa iri melihat bagaimana dekatnya hubungan Chanyeol dengan keluarganya tapi diingatnya lagi tentang motivasi dia hidup.

Sejak itu, Sehun memilih fokus pada karir dan masa depannya. Ia belajar sangat keras agar bisa menguasai hampir semua ilmu. Sehun juga tidak ragu bekerja apapun untuk mendapatkan pengalaman dan mencari celah untuk bisa meningkatkan level kesejahteraannya. Dari mulai pelayan toko, pekerja bangunan sampai tukang sampah pernah dilakoninya. Sampai kemudian ia tahu bagaimana cara memutar uang melalui penjualan saham, obligasi, dan surat-surat berharga lainnya. Kemudian ia mengenal cara berinvestasi melalui bursa keuangan serta meraih keuntungan dengan menjadi financial advisor untuk klien-klien besar. Kemampuannya berdiplomasi membuatnya mudah mencari klien.

Padahal dulu, orang-orang pernah menganggapnya bisu karena saking ia tidak pernah berbicara. Tapi kelebihan Sehun adalah kerja kerasnya yang tinggi. Setiap hari berlatih sampai akhirnya berbuah manis. Ia bisa berbicara dengan lancar dan tertata. Sehun menguasai hampir 5 bahasa asing selain bahasa Korea. Kerja kerasnya bertahun-tahun akhirnya membuahkan hasil karena dalam waktu beberapa tahun saja Sehun telah memiliki perusahaan keuangan terbesar di Korea bernama Sehun Corp. Sejak itu ekspansi bisnisnya meluas, pengalamannya membuat ia tahu tips dan trik berbisnis dan sulit ditipu. Satu rahasianya yang pernah ia kemukakan saat diwawancari majalah bisnis adalah, berbisnislah dengan pikiran jangan dengan hati karena itu akan membuatmu lemah!

Orang-orang tidak akan pernah menduga bahwa untuk mencapai keberhasilannya yang seperti sekarang, Sehun sering tidak tidur berhari-hari. Jika ada istilah kepala di kaki, kaki di kepala, itulah yang dilakukan Sehun untuk bisa menjadi seperti ini. Itu jugalah yang membuatnya mengalami insomnia atau sulit tidur hingga sekarang. Setiap malam ia habiskan entah bersama teman wanitanya, bekerja atau belajar. Sehun memiliki gedung sendiri khusus untuk koleksi buku-bukunya dan ia bisa menghabiskan dua atau tiga buku setiap hari untuk dibacanya. Ditengah kesibukkan Sehun yang luar biasa padat, hal tersebut sangat mengagumkan tapi juga berat bagi siapapun yang ingin menjalani pola hidup seperti dia. Mungkin Sehun telah menjadi robot untuk dirinya sendiri tapi tidak jadi masalah karena ia menikmatinya.

Sehun kini sudah ada di dekat bandara Incheon. Terlihat jelas bahkan dari kejauhan arsitektur bandara yang sangat megah. Diingatnya kejadian hampir setahun yang lalu, pertemuan pertamanya dengan Cloisonne. Akhir-akhir ini, setelah menghilangnya gadis itu, Sehun merasa lebih sentimentil. Ia kini senang menyusuri setiap tempat dimana tersimpan kenangan bersama Cloisonne di situ. Tapi itu hanya akan menjadi rahasia terdalam seorang Oh Sehun karena sampai sekarang orang masih menganggap bahwa hubungan mereka tidak lebih baik dari kucing dan anjing.

Charles de Gaulle Airport, France, 2013

Telepon darurat dari vice president membuatku harus bergegas pulang. Ada yang harus kuselesaikan daripada sekedar menghadiri fashion show desainer ternama Yves St Laurent di sebuah klub elit Paris. Aku bukan tipikal yang gila mode atau pengikut setia desainnya tapi entahlah apa yang menjadi alasan mengapa dia bersuka hati mengundangku datang. Tapi apapun penyebabnya, aku tertarik ke sini untuk satu tujuan, ekspansi bisnis untuk yang kesekian kalinya.

Tim kami sedang mengavaluasi suatu perusahaan fashion dengan kinerja yang tidak terlalu bagus. Seperti Gucci sebelum kedatangan Tom Ford, aku melihat kondisi yang sama pada perusahaan itu. Jadi aku ke Prancis untuk belajar banyak, tentang industri fashion, mode terkini dan publikasinya. Kami berencana untuk membeli saham perusahaan itu. Pemilik saham mayoritas dan CEO-nya setuju untuk rencana akuisisi ini. Semuanya lancar dan berjalan baik sampai tiba-tiba aku diminta pulang secepatnya.

“Ada masalah internal di perusahaan itu, rencana pembelian bisa batal karenanya.”

Wakilku mengirim pesan teks singkat dan tanpa menunggu sampai acara fashion show itu selesai aku terbirit-birit pergi menuju Charles de Gaulle Airport. Selama beberapa tahun ini aku sangat mendambakan memiliki perusahan garmen itu, ketika kudengar ada kata kemungkinan batal segala upaya akan kukerahkan untuk mencegah kegagalan pembelian.

Bruk!

Tiba-tiba dokumen yang kupegang jatuh berhamburan. Sial seseorang menubrukku dan menjatuhkan lembaran surat yang tengah kubaca. Penabrak itu lari begitu saja tanpa merasa bersalah. Mungkin ia juga dikejar waktu untuk naik pesawat tapi ini bukan masalah kurang waktu atau tidak. Ini masalah tanggung jawab.

Sial, sial, apa aku terbiasa menggerutu seperti ini? Aku berjongkok mengumpulkan dokumen itu satu persatu. Untung petugas keamanan membantuku sehingga kurang dari semenit, lembaran kertas itu bisa dikumpulkan utuh.

Sosok penabrak tidak bertanggungjawab itu masih terlihat dalam radar pandanganku. Aku mengejarnya tapi seorang petugas imigrasi menghalangiku.

Cannot enter without passport Sir.”

Tuhan, apa lagi ini. Dengan cepat, aku berikan yang dimintanya. Orang itu masih bisa kulihat walaupun dari jarak yang cukup jauh. Ia wanita lebih tepatnya remaja dengan rambut panjang diikat ke belakang. Wajahnya kurang jelas tapi aku hafal baju yang dipakainya. Dalam lima menit aku mengikuti prosedur imigrasi dengan exit permit dari Prancis menuju Korea termasuk screening standar barang bawaan yang membosankan.

Dan akhirnya orang itu tepatnya gadis itu sudah ada di hadapanku. Ia berdiri membelakangiku sambil mendorong troli yang memuat tas travelnya yang kecil. Kutarik tangannya dan ia memandangku terkejut. Sebetulnya aku bisa saja menarik dokumen yang juga tengah dibawanya dan kujatuhkan begitu saja. Tapi itu bukan tujuan utamaku.

“Hey, apa yang kau lakukan!”

Dia berteriak dengan bahasa Prancis yang fasih.

“Kamu menabrakku sehingga dokumen pentingku jatuh dan kau berlalu begitu saja tanpa menyesal atau mengucapkan maaf. Aku hanya ingin mengatakan itu tindakan yang sangat tidak bertanggung jawab dari seorang wanita yang tampak terpelajar sepertimu.”

Aku menjelaskan dengan intonasi paling serius yang pernah kulakukan. Kulihat perubahan mimik gadis itu, dari terkejut, marah, bingung, sadar, dan kemudian merasa bersalah. Ia menatapku campur aduk dan menunjuk dokumen yang kubawa kini dengan pandangan ‘inikah dokumen yang jatuh itu?’ kemudian ia menunjuk dirinya sendiri seperti berisyarat ‘jadi aku yang menjatuhkannya?’.

Aku mengangguk. Mukanya memerah dan spontan menggaruk-garuk telinganya. Entah malu atau apa ia meringis di depanku. Alih-alih marah karena tidak segera minta maaf, tingkahnya yang polos membuatku geli.

“Tadi aku terburu-buru dan aku tidak tahu dokumenmu jatuh. Maafkan aku. Maafkan aku”

Ia membungkuk lama sehingga aku jengah karena beberapa orang jadi memperhatikan kami. Di Prancis, orang jarang membungkuk apalagi sampai berulang dan bermenit-menit seperti yang dilakukan gadis itu.

“Kau tidak usah membungkuk seperti itu, minta maaf saja sudah cukup.”

“Aku merasa bersalah tapi terima kasih karena mau memaafkanku.”

Dari aksen Bahasa Prancisnya aku pastikan ia juga orang Korea sama sepertiku.

“Korea?”

Gadis itu memandangku tergagap. “Eh, iya begitulah.”

“Pulang ke Seoul?”

Ia mengangguk bersemangat sehingga tasnya yang penuh dengan gantungan boneka bergemerincing di belakangnya.

“Biar kutebak Korean Airlines penerbangan pukul 8 malam ini.”

Ia membelalakkan matanya yang bulat tampak terkejut karena tebakanku benar. Dalam hati aku terkikik, remaja ingusan begitu mudah dibuat terkesima untuk sesuatu yang sangat biasa.

“Kalau begitu kita sama.” Aku menunjukan boarding pass-ku dan dia mengikuti sambil menunjukkan boarding pass-nya dengan gembira. Dia menunjukkan gerakkan Hi Five dan aku membalasnya spontan. Aku kembali terkikik, gadis yang menarik.

Ia kembali membungkuk dan berbalik menjauh tapi entah ide dari mana tiba-tiba aku mencegahnya.

“Aku belum makan malam dan ehm apakah kau mau makan malam denganku?”

Ia tampak terkejut dan melongo memandangku. Gadis itu terkekeh pelan seperti melihat orang aneh. Gantian aku yang menggaruk-garuk kepalaku sendiri. Sikapnya membuat aku merasa seperti remaja belasan tahun yang takut-takut ketika mengajak seorang gadis. Jika dia menolak ajakanku, mungkin akan kubenamkan mukaku ini ke tempat sampah.

Aku bukan tipe yang canggung dalam hal ini tapi entahlah menghadapi gadis itu aku merasa salah tingkah dengan alasan yang tidak jelas. Yang kuinginkan saat itu hanyalah makan malam dengan seseorang yang bisa kuajak bicara bahasa Korea tapi kenapa jadi memalukan seperti ini.

“Baiklah tapi aku vegetarian,” jawab gadis itu pendek.

“Tidak masalah.”

Dia berjalan terlebih dahulu dan aku menyusulnya dari belakang. Biar kutebak gadis ini mungkin berumur 15 tahun, agak tomboy dan bersemangat. Terlihat dari gaya pakaiannya yang casual dan cara berjalannya yang cepat. Beberapa menit memutari bandara Prancis ini akhirnya ada satu restoran Italia di pojok lift terminal A. Kurang nyaman karena terlalu ramai tapi tidak masalah daripada harus sendirian di executive lounge seperti yang biasa aku lalui jika bepergian ke luar negeri.

Akhirnya pesanan kami tiba dengan semangat ia melahap pizza sayur yang dipesannya.

“Sepertinya kau lapar sekali.”

Ia menatapku kemudian mengangguk-angguk dengan mulut penuh makanan. Setelah suapannya selesai ia bicara.

“Aku memutuskan jadi vegetarian baru-baru ini tapi kadang aku sering merasa lapar.”

“Kenapa kau memilih jadi vegetarian? Apa kau memiliki alergi atau pantangan?” tanyaku penasaran.

“Tidak badanku sehat dan aku tidak memiliki pantangan tapi melihat hewan-hewan itu dibunuh untuk ketamakkan manusia membuatku sedih. Rasanya tidak adil.”

“Setiap makhluk pasti mati bukan? Dan binatang itu mati dengan membawa manfaat.”

“Memang tapi bukan dengan cara disembelih. Seperti manusia, binatang itu juga layak untuk mati dengan damai. Mereka  masih bisa memberi manfaat tanpa harus menunggu  mati terlebih dahulu.”

Ia melanjutkan dengan semangat.

“Umumnya manusia yang terlalu banyak makan daging akan cenderung mengikuti karakter binatang karnivora yang cenderung rakus, tamak, dan gila kekuasaan. Aku tidak mau jadi orang seperti itu.”

Mulutku hanya bisa membentuk huruf O besar mendengar penjelasannya. Aku melanjutkan suapanku walau jadinya tidak terlalu bersemangat karena menyadari ada potongan daging sapi pada topping pizza yang kupesan.

Kulihat jam di pergelangan tanganku, masih ada waktu menunggu waktu boarding tiba. Tiba-tiba aku merasa tertarik untuk berbicara banyak tentang hal-hal lain bersama dengan gadis itu.

“Kau habis liburan ya?”

Dia menggelang. “Aku kuliah di sini dan aku baru saja lulus.”

Kuliah dan sudah lulus, ternyata aku salah tebak. Wajahnya yang masih bayi tampak menipu.

“Kau berencana bekerja di sini atau di Korea?”

Gadis itu terdiam dan berpikir lama, wajahnya yang ceria berubah muram.

“Entahlah, aku tidak tahu. Aku hanya ingin bekerja di tempat yang memang menginginkanku.”

“Jawabanmu sepertinya kau pernah ditolak bekerja ya?”

Ia tersenyum memperlihatkan kedua lesung pipitnya. Aku baru menyadari bahwa gadis itu begitu cantik, terlebih ketika dia melepas kacamata dan mengurai rambut panjangnya.

“Pamanku di Korea memanggilku, sepertinya ada masalah penting.” Dia menjelaskan maksud kepulangannya. “Lalu bagaimana dengan kau?”

“Sama sepertimu, seseorang di kantorku menyuruhku lekas pulang.”

“Dari nada jawabanmu, sepertinya kau tidak rela pulang.”

Aku tertawa terkekeh mendengar analisanya yang sok tahu. “Tentu saja, siapa yang tidak kesal disuruh pulang ketika kita ada di Prancis. Negara ini begitu indah, tidak cukup hanya menghabiskan waktu seminggu ketika kau ada di sini.”

Ia mengangguk. “Jika kita berwisata di sini, jawabanmu ada benarnya. Tapi jika kuliah dan tinggal di asrama sepertiku, itu bencana.”

“Begitu?”

“Kampusku terkenal karena disiplin yang tinggi dan asramaku lebih parah, semua penjaganya para suster yang galak seperti tentara. Mereka terlalu banyak aturan dan memaksakan bahwa aturan yang dibuatnya adalah benar. Kita tidak punya hak berbicara, jika membantah akan dihukum. Kadang aku kabur hanya untuk bisa jalan-jalan dan berbelanja. Lumayan, itu bisa membuatku sedikit nyaman.”

Aku melongo takjub dengan setiap ucapan yang keluar dari mulutnya. Tapi ia kembali tersenyum dan memperlihatkan lesung pipitnya. “Tapi yang penting sekarang aku sudah lulus. Aku bebas!”

Baiklah rasanya aku telah mengenal karakternya yang alami dari setengah jam acara makan malam ini. Gadis itu menarik, riang, penyayang binatang dan yang terpenting dia tidak mengetahui siapa aku sama sekali. Aku merasa bebas bicara tanpa terbebani pikiran mencari tahu maksud tersembunyi dari pembicaraan lawan bicara seperti yang biasa kulakukan.

Setelah makan malam selesai, kami keluar dari restoran penjual pizza itu menuju boarding keberangkatan. Kulihat tempat duduk di boarding pass-nya, kelas ekonomi seat 44 C. Cukup jauh dari posisiku.

Gadis itu berjalan masuk menuju pesawat mendahuluiku, tapi kemudian ia berbalik mendekatiku dan mengangsurkan tangan kanannya.

“Terimakasih untuk makan malam yang menyenangkan. Sudah lama tidak berbicara dengan bahasa kita sendiri.”

Kami berjabatan tangan, ia berbalik tapi tiba-tiba aku teringat sesuatu. Aku mengejarnya.

“Bolehkah aku tahu namamu?”

Dia tertawa.”Ya ampun, jadi kita belum berkenalan ya. Maaf aku lupa. Kenalkan aku Cloisonne Park dan kau?”

Aku mengangsurkan tanganku. “Dan aku Oh Sehun. Senang berkenalan denganmu.”

“Sama-sama.”

“Aku harap kita akan bertemu lagi,” ujarku tulus.

Ia mengangguk. “Jika kita bertemu lagi, aku akan mengajakmu ke restoran vegetarian di Korea.”

“Aku pegang janjimu.”

Ia melambaikan tangannya ke arahku. Dari situ aku yakin bahwa tidak lama lagi aku akan bertemu dengannya. Tapi satu yang tidak pernah kusadari bahwa pertemuan selanjutnya justru akan membawa hubungan kami pada suasana perang tak berkesudahan. Tapi apapun yang nanti terjadi setelah pertemuan pertama ini setidaknya aku merasa beruntung karena pernah melihat kepribadian asli dari seorang Cloisonne Park, gadis yang akan menjadi musuhku kelak.

TO BE CONTINUED

Author’s Note:

Welcome to the second story of Cloisonne Crown. This part is mostly talking from Sehun’s perspectives. We can see the reason behind his character. Now you see how hard his life. Poor Sehun 🙂

Kalian ngarepnya Cloi sama siapa sih? Sehun/ Chanyeol atau ga sama sekali. Penasaran terus lanjutin chapter2 berikutnya. Jangan lupa komen ya, isinya ga harus muji jg ga pa2. Author butuh masukan supaya cerita ini ke depannya lebih baik.

Kalo mo ngobrol bisa ke TWITTER @kimhyeah22 atau WORDPRESS hyeahkim.wordpress.com

Makaciiih

52 pemikiran pada “CLOISONNE CROWN: THE EMPEROR

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s