Cynicalace (Chapter 14)

Cynicalace

 Title : Cynicalace

Author : NadyKJI & Hyuuga Ace

Length : Chaptered

Genre : Romance, Comedy, Friendship

Rate : G

Main Cast :

Jung Re In (OC)

Geum Il Hae (OC)

Park Chanyeol (EXO)

Kim Jong In (EXO)

Web : cynicalace.wordpress.com

Disclaimer: Annyeong, ff ini adalah murni hasil pemikiran author yang kelewat sangat tinggi,  dilarang meniru dengan cara apapun, don’t plagiator. Gomawo #deepbow.

 

Summary :

Aku tidak membencimu. Aku hanya tidak ingin berurusan lagi denganmu. Tapi mengapa kau selalu hadir di sekitarku layaknya modul akuntansi yang selalu kubawa setiap hari. Wajahmu mengangguku tapi aku mulai merindukannya ketika wajah itu menghilang dari keseharianku. Oh, menyebalkan.

–Jung Rein–

Aku tidak sudi, aku tidak sudi, aku tidak sudi! Dia menyebalkan, cuek, dan dingin. Tapi… terkadang dia baik juga walau dengan muka datar, terlihat tulus, dilihat-lihat juga ia lumayan.. bukan, tampan… Argh! Aku menyerah, sepertinya karma itu berlaku.

–Geum Ilhae–

Sama seperti panggilannya, yeoja itu memang kelewat bodoh. Sialnya, karena terbiasa menjadi dampak dari perilakunya, aku menjadi terbiasa untuk selalu hadir di sisinya. Namun entah mengapa aku merasakan keberadaanya bagaikan pelangi dalam keseharianku yang hanya dihiasi dua warna – hitam dan putih.

–Kim Jong In–

Melihat wajah seriusnya, merasakan kesinisannya padaku. Itulah makanan keseharianku karena ulahku sendiri. Well, kau memang bodoh dan gila jika bersangkutan dengan yeoja itu. Kau terlalu gila Park Chanyeol.. tapi, aku tidak keberatan gila untuknya. It’s a pleasure.

–Park Chanyeol–

Author’s Note:

Annyeong readers!!

Btw btw, kedua authors mw ngucapin maap skli lg karena msh blm bs balesin komen kalian ㅠ.ㅠ sbnrnya ngerasa bersalah bgt… Maapin authors yahh..

Jebal ya? Please?? *nyodorin momment kaihae reyeol *eh? Wkwkwkwkwkw

Oh ya! Makasih bangetbuat yg udh RCL FF ini, bagi yg msh blm bisa comment jg gpp. Udh dibaca jg udh seneng bgt.. Baiklah mari kita sudahi menuh”in word yg udh penuh ini dgn satu kata…

HAPPY READING!!

NB : gomawo buat admin EXO FF yg udah ngepost FF ini~ ^^

___

 

-:Author’s PoV:-

“Geum Ilhae! Ayolah! Ikut! Ne?”

Ilhae menoleh dari posisinya. “Ikut apa?”

“Daehyun akan mentraktir kita di bar hari ini. Pembukaan bar baru kakaknya.” Reya – teman satu fakultasnya – menjelaskan.

“Baiklah….” Ilhae berpikir tidak ada salahnya pergi karena pikirannya juga sedang butuh refreshing.

“Arra! Hari ini jam 6 ya?”

“Call!’ Ilhae menggangguk sebelum melangkahkan kakinya keluar dari ruang rapat dan memanggul tasnya. Ia biasanya tidak akan pergi dengan teman-teman satu fakultasnya terlalu sering, tapi ia benar-benar butuh pengalih perhatian. Tugas membunuhnya, dan orang tolol tidak berhenti menganggunya dengan kiriman pesan dan telepon.

Ilhae berjalan menuju halte terdekat dan segera menaikki bus yang kala itu baru saja sampai – ia masih menggunakan kendaraan umum untuk mencapai destinasinya -perpustakaan tempatnya bekerja karena SIM-nya masih ditahan, sedangkan mobilnya yang sudah selesai direparasi itu menunggu di garasi bengkel.

Sesampainya di perpustakaan Ilhae mendapati tempat itu sepi sekali sesuai dugaannya kemarin. Sebuah senyum kemenangan terlukis di wajah yeoja itu dan ia langsung mengambil tempat duduknya dan membuka tas selempangnya. Di keluarkannya stetoskop, tali, figura pecah dalam kantong plastik, buku notes Oh Jinhee, dan beberapa lainnya – benda yang dianggapnya penting untuk menyelesaikan tugasnya dan muat ke dalam tasnya.

Ilhae lalu mengeluarkan kertas coretannya dan sebuah pensil. Kemudian ia membuka buku notes Oh Jinhee dan melihat jadwal pertemuan dalam hari pembunuhannya – dokter muda itu memiliki jadwal tugas dari siang sampai malam, pagi hari ia pergi makan pagi dengan kekasihnya, dan malam merencanakan untuk mengunjungi kakaknya yang ulang tahun. Setelah beberapa kali mengulang Ilhae akhirnya berakhir mengusir nama Nam Baekjoon dan Han Aerin.

Seketika Ilhae bergidik karena orang terdekat yang seharusnya menjadi tempat berlindung paling aman sering sekali menjadi orang yang bisa membunuhmu.

“Hoy! Orang aneh.”

Ilhae mendongakkan kepalanya yang sedari tadi tengah memelototi kertas-kertasnya.

“Kau bilang apa?” Ilhae berkata dengan mata nyaris keluar dari rongganya.

Kai tersenyum tipis. “Kau tentu mendengarnya.”

“Kenapa kau begitu yakin?”

“Sederhana. Gestur tubuhmu menegang sedetik setelah aku mulai menyapamu – itu artinya kau berkonsentrasi dan mendengarkanku.”

“Aku tidak.” Ilhae masih mengelak walau pada kenyataanya Kai benar. Karena segala yang berhubungan dengan namja itu berhasil membuatnya menjadi awas seketika beberapa minggu ke belakang. Bahkan ketika ada hal yang mengejutkannya membuatnya berasumsi yang tidak perlu – seperti Jangmin yang mengklaksonnya – malah membuatnya otaknya membunyikan alarm ‘Kai’.

“Apa yang kau lakukan?” Kai menyambar kertasnya ketika Ilhae sedang lengah.

“Hei! Kembalikan! Aku sedang mengerjakan tugas.”

Kai membolak-balik kertas berisi rangkuman yang sudah dibuat Ilhae. Namja itu membacanya cepat dan mengembalikkannya kemudian. “Park Junghyun.” Katanya singkat.

“Tapi –”

“Riwayat hubungan mereka tidak begitu baik, banyak bertengkar dan ketika makan pagi namja itu bilang kalau ia bertengkar dengan Jinhee dan dikatakan bahwa yeoja itu menangis.”

Ilhae memutar bola matanya. “Tidak begitu! Tidak mungkin semudah itu.”

Kai mengedikkan bahunya. “Melihat setiap alibi yang kau tulis itu aku yakin. Kata-katanya berubah-ubah -tidak stabil. Ia berkata kalau ia benci Jinhee lalu kalimat berikutnya ia berkata menyayangi yeoja itu, juga perhatikan ‘Aku mencintainya walaupun ia menyuruhku pergi ke psikolog.’. Ia sakit dan sangat mudah baginya untuk membunuh – Jinhee tidak bicara karena marah, tapi karena kenyataanya begitu – namja itu perlu psikolog.”

“Jadi… Jinhee menjadi kekasihnya karena kasihan? Jinhee menjadi kekasihnya untuk membujuk namja itu, tapi tidak berhasil dan malah terperangkap idenya sendiri. Hanya… kakaknya – ah! Kakaknya tidak suka dan sering mengunjungi Junhyun bukan karena menyukainya tapi untuk menyadarkan Junhyun secara kasar. Hanya saja cara itu tidak berhasil dan Junghyun meledak pada hari kejadian itu ketika Jinhee juga berkata kasar dan menyinggung psikolog. Jadilah.. begitu…” Ilhae menjentikkan jarinya.

“Majja. Kau pintar, jangan memperumit yang sudah seharusnya seperti itu.” Kai menganggukkan kepalanya sembari mengacak-ngacak puncak kepala Ilhae.

Tanpa memperdulikan Kai yang sudah menghilang ke balik rak-rak buku Ilhae mulai menulis dengan giat. Ketika jari-jarinya yang hyper telah menghentikan pergerakannya, “Gomawo Kai…” Ilhae tanpa sadar mengucapkannya tanpa beban lalu tertegun. Tertegun karena Kai memang tidak ada di sana dan karena perasaannya sendiri. Detik itu – ketika ia tidak mencoba untuk membenci namja itu – ia menganggapnya menyenangkan. Sama seperti ketika Kai menemaninya saat ia kalut soal Rein.

Ini benar-benar! Ilhae mengacak-acak rambutnya sendiri dan mengambil stetoskop yang ada di mejanya membuka kantong ziplocknya – kalau saja ia bisa memikirkannya sendiri tentu ia tidak perlu membawa kembali barang-barang bukti tersebut dan… dan mendapatkan ide gila ini – tapi sekarang seorang Geum Ilhae tidak akan mendapatkan ketentraman jiwanya jika tidak melaksanakan idenya itu.

Ck?! Kim Jongdae telah meracuninya.

Ilhae setengah berlari menyusuri rak-rak buku dan menemukan Kai tengah membaca buku di rak psikologi. Dengan nafas yang memburu keberadaan Ilhae dengan sangat mudah disadari oleh Kai. Namja itu menoleh hendak menghampiri Ilhae yang tiba-tiba muncul.

“Tunggu. Diam saja di tempatmu.” Ilhae berkata.

Yeoja itu meneguk salivanya sendiri dan berjalan maju dengan stetoskop di tangannya – membuat Kai bingung.

Langkah yang diambil yeoja itu mempersempit jarak diantara mereka dan pada jarak terjauh minimal dari Kai – yang Ilhae tetapkan – yeoja itu berhenti. Perlahan yeoja itu menjulurkan tangannya dan memasangkan stetoskop di telinga Kai.

Kai tidak berani bergerak ketika suara detak jantung Ilhae terdengar karena yeoja itu menempelkan ujung stetoskop di mana letak jantungnya berada.

“Ini tidak adil kau tahu.” Ilhae mengambil satu langkah kecil mendekati Kai.

Degh, degh, degh.

Suara yang semula tenang itu menjadi lebih cepat.

“Setiap aku berada dekat denganmu…” Semakin dekat Ilhae semakin cepat pula detakan jantungnya, “… Ini terjadi dan tidak nyaman, jauh dari zona amanku. Ka…karena itu aku tidak ingin kau mendekat.”

Kai tertawa kecil mendengar penuturan Ilhae dan ketika itu terjadi ia menyadari ritme detakan yang semakin cepat. Kai menyangka yeoja dihadapannya ini akan marah-marah tapi tidak – Ilhae malah memejamkan matanya.

Kai tidak tahu apa yang ada dipikiran yeoja itu tetapi detakan yang semula terdengar cepat dan kasar itu kembali pada asalnya tenang meski lebih cepat dari normal.

“Terkadang juga bisa seperti ini…”

Hati Kai menghangat melihat ekspresi ragu campur malu campur takut Ilhae. Jika saja ada jaminan kalau yeoja dihadapannya ini tidak akan meloncat lari, Kai mungkin akan mengacak-acak puncak kepala yeoja itu – hal yang paling suka ia lakukan pada Ilhae.

“Eung.. mung..mungkinkah…”

Ilhae menarik nafasnya. “Aku… benar suka padamu?”

Kai menarik stetoskop dari telinganya dan menyerahkannya kembali pada Ilhae. “Apa yang kau rasakan? Kukatakan sekali lagi, jangan membuat sesuatu yang sederhana menjadi rumit.”

Kim Jongin benar-benar mengerti – sejak di Jeju. Ketika ia tidak bisa benar-benar marah pada yeoja bernama Geum Ilhae ini, ketika ia merasa senang karena Ilhae mengusir Taecyeon, dan ketika ia benar-benar peduli walaupun yeoja itu tengah meneriakkinya. Kai mengerti, ia menyukai yeoja ini.

Menjadi murid fakultas psikolog ada gunanya – ia bisa menyadari perasaannya.Tapi mungkin itu juga yang menahannya selama ini, hal yang ditekuninya itu membuatnya berpikir memakai logika.

Lalu kenapa ia mengganggu Ilhae belakangan ini?

Karena ketika Ilhae mau berinteraksi dengannya hatinya luluh, ia tidak pernah tega untuk hanya sekedar memalingkan muka dan pergi.

Pada akhirnya Kai menyerah pada hatinya ketika insiden kecelakaan tersebut. Ia tidak suka dengan pikiran Ilhae menyukai Taecyeon. Ia tidak suka ketika Taecyeon yang terlihat lebih khawatir bahkan menolong Ilhae agar tidak jatuh di rumah sakit – memang kekanak-kanakan dan sangat tidak seperti Kai – mungkin Geum Ilhae telah menularkan virus kekanak-kanakannya.

Singkat kata Kai cemburu.

Pada hari di mana Ilhae membentaknya untuk menjaga jarak satu meter ia merasakan ada yang berubah dan benar saja – pembuktiannya adalah di Paulo’s. Kerusuhan dan wajah paling merah yang pernah ia lihat – Kai masih ingat ia kesulitan untuk menghentikan tawanya setelah yeoja itu membanting pintu staff yeoja. Kai merasa sangat senang, ia tidak bisa menyembunyikan senyumnya kala ia mengetahui kalau Ilhae salah tingkah.

Geum Ilhae benar-benar menambahkan warna dalam hidupnya.

*-*-*

“YA! GEUM ILHAE! BERHENTI!” Im Reya mengambil gelas yang sudah diacungkan Ilhae untuk ke-4 kalinya.

“Waeyo?” Ilhae terkikik.

“Kau yang kenapa!” Reya menghentakkan tangan Ilhae yang masih berusaha menggapai gelas bening darinya.

“Aniya~” Ya. Geum Ilhae tidak apa-apa. Ia hanya sedang ‘berpikir’ dan agak kesal karena Kai meninggalkannya begitu saja setelah mengembalikan stetoskop padanya. Kenapa namja itu membiarkannya untuk berpikir sendirian? Ilhae lebih suka kalau Kai membantunya seperti namja itu membantunya mengerjakan kasus Oh Jinhee. Aha! Sekarang dirinya bahkan menyukai keberadaan Kai.

“Ahaha~”

Im Reya menatap Ilhae yang dianggapnya sudah gila.

Ilhae tidak menghiraukan tatapan apa-kau-gila dari Reya. Yang ia hiraukan adalah otaknya yang tengah memberikannya proyeksi wajah Kai – wajah Kai yang tengah tertawa. Pikirnya ketika Kai sedang tertawa namja itu tampan.

Tapi… tapi…

Ilhae menyadarinya dengan jelas.

“Omona~” Kali ini Ilhae bertopang dagu merasa bodoh dengan dirinya sendiri.

Melihat Ilhae, Reya memberikan kode pada Daehyun kalau ia akan ijin pulang duluan bersama Ilhae dan Daehyun mengganggukkan kepalanya setuju. Reya kemudian menyeret Ilhae. Yeoja itu sudah minum smirnof green apple bite 1, smirnof ice lemon 2 – keduanya adalah minuman dengan kadar alkohol 4.5%, tapi ketika 1 vodka orange, 1 vodka cranberries, juga 1 gelas lagi minuman paling ampuh yang di pesan Ilhae – yeoja itu harus dihentikan walaupun toleransi alkoholnya tinggi.

Tepat jam 1 pagi akhirnya Reya berhasil mengantarkan Ilhae.

“Ilhae-ya, kau yakin bisa naik?”

Ilhae yang masih merasakan dirinya sadar kecuali kepalanya yang terasa agak aneh juga emosinya yang mendadak bahagia, menganggukan kepala dan langsung menaiki tangga lobby – meninggalkan Reya yang menatap kepergiannya khawatir. Sepanjang jalan menuju lift Ilhae nyaris tertawa tetapi ia masih berhasil menahan dirinya.

Setelah menaikki lift dan berjalan di lorong apartemen Ilhae merasakan kepalanya menjadi agak berat dan ketika Ilhae hendak berbelok ke kanan menuju pintu sebuah perintah aneh dari otaknya membuatnya berbelok terlalu cepat dan menabrak pintu.

“Yah! Jalanku semakin tidak benar saja.” Ilhae menekan pin dan merangsek masuk.

Ilhae berjalan menuju sofa untuk menyimpan tasnya di sana tetapi kepalanya berputar dan membuatnya jatuh ke sofa.

“Omo! Ada apa ini? Ahahaha, lucu sekali kepalaku berputar.” Ilhae meletakkan tasnya sembari terkikik.

“Ah! Rein…. ah! Dia pasti sudah tidur. Baiklah mana ponsel?”

Yeoja yang tengah sadar tidak sadar itu merogoh ponselnya dan mengetikkan pesan untuk Rein:

JUNG REIN!!! AHAHAHAAH! GEUM ILHAE SUKA PADA KIM JONGIN! LUCU SEKAI I HAHAHAHHA jADI INI YAnG NAMNYA MABUK? LUCU YAA? KEPALamu BERAT DAN MEBMAWAMU BERpuTAR AHA AHA

Di dalam kamar Jung Rein yang hampir terlena ke alam mimpi terbangun karena bunyi ringtone ponselnya. Rein menggosok matanya dan bersyukur karena ponselnya berbunyi – ia hampir saja tertidur padahal Ilhae belum pulang.

Ternyata Ilhae mengirimkan pesan.

Yeoja ini ke mana? Kenapa baru mengabariku?, rutuk Rein sembari mencoba membaca pesan Ilhae yang makin akhir makin kacau dia bukan hanya menyebar berbagai typo dalam penulisannya. Huruf besar-kecil yang dia gunakan juga membuat mata Rein sedikit berakomodasi lebih dalam membacanya.

Tapi ketika dia membaca ulang pesan Ilhae, senyuman cerah terkembang di sudut bibirnya. Like finally, akhirnya yeoja itu menyadari juga bahwa ia menyukai seorang Kim Jongin!! Huahhhhh! Rein senang sekali, semenjak kejadian Paulo’s dan ditambah dengan tingkah aneh Ilhae belakangan hari ini. Rein makin yakin bahwa sahabatnya ini sedang mengalami dilemma untuk mengarah pada pengakuan bahwa dirinya itu menyukai Kai! Hahaha.. Menarik. Kira-kira bagaimana kelanjutan kisah mereka? Di satu sisi Ilhae sudah menyadari perasaannya sendiri. Rein penasaran, dan dia hanya bisa menunggu progress pasangan yang berawal dari hate relationship itu.

Lalu Rein tergerak untuk membalas pesan yeoja yang kelihatannya sedang mabuk itu.

“YA! JUNG REIN! KENAPA KAU TIDAK BANGUN SAJA DAN MEMBALAS PESANKU~”

Rein yang baru saja ingin membalas pesan Ilhae terlonjak kaget.

“Dia sudah di rumah?! Aigoo.. andwae – andwae. Lebih baik pura-pura tidur saja atau si pemabuk Ilhae akan menghancurkan malamku.”

Sementara Ilhae dengan mata yang memerah menatap geram pintu kamar Rein yang bercat putih.

“JUNG REIIIIINNNN!!!” Bagai hulk yang sedang diambang batas, Ilhae menggedor pintu kamar Rein dengan tenaga super.  Kalau saja dia sedang tidak mabuk, Ilhae mungkin dapat berpikir jernih dan mengetahui kalau tindakannya masuk dalam penyimpangan sosial -berencana merusak property ketika sedang mabuk berat-. Tapi berhubung dia sedang mabuk, dia hanya bertindak sesuai akal irasionalnya.

Tapi balasan yang didapat Ilhae dari sahabatnya hanyalah suara dengkuran yang sangat keras seakan-akan menandakan bahwa yeoja itu sudah tidur lelap. “PAYAHHHH!!!”

Di sisi lain, Rein setengah mati menahan tawanya. Ilhae terlihat bodoh sekali, sekali lagi Rein membuat suara-suara dengkuran palsu untuk mengelabui sahabatnya

 

-:Author’s PoV:-

Geum Ilhae berjalan bagaikan berada di atas angin – santai tanpa beban – untuk pertama kalinya sejak insiden Paulo’s. Langkah yeoja itu membawanya menyusuri taman kampus menuju tangga yang mengarahkannya rooftop. Sejenak Ilhae memberengut karena memikirkan berapa puluh anak tangga yang akan menyiksa kakinya bahkan membuat betisnya membesar. Namun, karena keinginannya untuk mendapatkan semilir angin dingin di hari yang menurutnya sangat panas ini, ia mulai mengambil langkah pertamanya.

Setelah berupaya menaiki tangga gedung utama berlantai 4 tersebut – memang terlalu niat yeoja bermarga Geum ini – akhirnya dengan nafas yang pendek-pendek Ilhae mendorong pintu rooftop.

Pemandangan pagar besi sepinggang yang terpasang di sekeliling tepian rooftop menyambut Ilhae – seolah menjaga setiap orang yang datang agar tidak terjun bebas begitu saja. Yeoja itu tampak puas mengetahui kalau tidak ada orang lain selain dirinya.

Ilhae menempelkan bokongnya pada lantai yang dingin dan menyadarkan punggungnya pada pagar besi – menikmati semilir angin yang berhembus membelai tengkuknya.

Hari ini adalah hari yang baik untuk Ilhae. Saat mengumpulkan tugasnya, Profesor Han tampak puas dengan hasil kerjanya – walaupun laki-laki paruh baya itu agak kesal karena Ilhae dengan seenaknya mengeluarkan barang bukti – stetoskop – yang dipinjamkannya dari kantong ziplocknya. Tapi itu tidak terlalu dipikirkannya.

Dengan mata nyaris tertutup karena terbuai hembusan angin Ilhae mengambil ponselnya dan nyaris meledakkan tawanya ketika kejadian dua hari lalu kembali menghantuinya. Penuh dengan nostalgia Ilhae membuka folder pesan terkirim – membuka satu pesan yang dikirimkannya pada Rein. Matanya menyisir layar ponsel jernih tersebut dan kali ini beberapa tawa lolos dari bibirnya.

Kalau dipikir-pikir ulang Ilhae merasa sangat bodoh malam itu. Ilhae sepenuhnya sadar dan mengingat setiap detailnya. Jadi ini rasanya jika si tipe ke 2 akhirnya mau mengakui perasaannya eh?

Pegal dengan posisinya Ilhae bangkit berdiri dan menghadap ke arah pagar – menikmati pemandangan kampus dari atas. Perlahan kelopak mata Ilhae menggeletar tertutup. Sekali lagi, angin semilir selalu berhasil membuatnya tunduk pada rasa kantuk.

“WOY! HOI! GEUM ILHAE JANGAN BUNUH DIRI!”

Mwoya?! Ilhae yang mendengar teriakkan tersebut nyaris saja terjungkal ke depan karena kaget.

Geram Ilhae membalas teriakan dari Byun Baekhyun barusan. “YA! KAU YANG HAMPIR MEMBUATKU MATI! AKU HANYA SEDANG BERSANTAI IDIOT!”

Ilhae berdecak pelan karena melihat hampir seluruh mahasiswa-mahasiswi yang berada di halaman kampus menilhat was-was ke arahnya bahkan beberapa yang berada di dalam gedung sudah melongokkan kepalanya dari jendela. Syukurlah tidak berapa lama kemudian Chanyeol dan Chen berhasil memaksa Baekhyun untuk membungkuk minta maaf akan kesalahannya dan Ilhae dapat melihat ketiga namja itu berjalan memasuki gedung.

Selang beberapa menit kemudian pintu rooftop dibuka dan ketiga namja itu masuk menyusulnya.

“CK?! Kenapa hanya kalian bertiga saja yang selalu muncul sih?! Aku bosan.” Ilhae bersedekap.

“Memang kau memiliki teman lain?” Baekhyun membalas sengit karena nampaknya namja itu agak kesal dengan insiden tadi.

“Geez. Kau tidak boleh marah padaku Byun Baekhyun, kau yang mencari masalah sendiri karena berasumsi yang tidak-tidak. Lalu.. tentu saja aku punya teman lain – teman satu fakultasku dan ada Rein, Kyungah, dan Kyungsoo.”

Baekhyun tahu kalau perkataan Ilhae benar, tetapi ia tetap tidak terima karena berkat yeoja yang berpose seperti mau bunuh diri ia harus menanggung malu. Baekhyun sempat yakin kalau Ilhae akan bunuh diri berdasarkan pengamatannya: Ilhae uring-uringan beberapa hari belakangan ini karena ponselnya yang terus berdering. Baekhyun sangka Ilhae mungkin stress dan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

“Siapa tau kau ingin cari sensasi. Lalu  apakah Kai bukan temanmu? Dia temannya Kyungsoo juga Rein.” Sahut Baekyun.

Briliant!

“Mungkin.” Jawab Ilhae tidak mendukung.

“Ada yang aneh Geum Ilhae.” Chanyeol yang belakangan ini jarang sekali bicara akhirnya membuka mulut.

“Maksudnya? Tentu aku tidak tahu apakah aku berteman dengan namja itu. Jelas sekali aku selalu bertengkar dengannya.”

“That’s the point. Chanyeol benar.”

Ilhae melirik Chen. “Diamlah psikopat!”

Ilhae bersumpah ia ingin sekali melakban bahkan memukul masing-masing kepala anak-anak itu agar lupa dengannya dan Kai.

“NEO MICHEOSEO GEUM ILHAE.”

Sekarang apa?! Ilhae melihat horror ke arah Rein yang tengah ngos-ngosan di ambang pintu.

“Wae, Rein-ah?”

Rein berjalan dengan langkah dihentak mendekati Ilhae – kalau saja Rein mempunyai kekuatan super bumi pasti sudah gonjang-ganjing saat ini. Yeoja raksasa macam Rein tidak boleh menghentakkan kakinya – FIX! – karena itu membuat Ilhae takut.

“Bunuh diri? Orang- orang membicarakan nama ‘Geum Ilhae’ dan ‘ingin bunuh diri’ dan hal itu terdengar sampai telingaku. Kau tahu kau membuatku berlari dari gedung fakultasku yang jauh dari gedung utama ini untuk memastikan kau masih hidup?! Untunglah lututku tidak ‘error’ lagi di tengah jalan!”

“Itu hanya salah paham Rein! Baekhyun yang aneh-aneh!” Ilhae menunjuk-nujuk Baekhyun seperti anak kecil, tetapi perhatian Rein malah tertuju pada Park Chanyeol yang berada di sebelah Baekhyun.

Saat mata Rein bertubrukan dengan arah pandang Chanyeol, saat itulah ia merasakan kerja jantungnya yang begitu cepat sehingga sirkulasi darahnya seakan-akan terkumpul di wajahnya. Menyebabkan wajahnya panas.

Tanpa disangka-sangka, interaksi kecil antara Chanyeol dan Rein dipahami betul oleh 3 sosok lainnya di tempat itu.

Dengan aba-aba Chen, yang langsung disetujui oleh Ilhae dan Baekhyun. Mereka bertiga berangsur-berangsur berjalan keluar melewati pintu rooftop.

Chanyeol menyadari hal itu, tapi dia mengabaikannya. Sementara Rein, dia tidak bisa memfokuskan dirinya pada hal lain selain Chanyeol yang berdiri tegak dan menatapnya tajam. Tepat di hadapannya.

“Lama.. tak berjumpa, Chanyeol.” Rein gugup ketika ia menyapa Chanyeol. Dia merasa sangat merindukan namja ini di satu sisi, tapi dia merasa Chanyeol berubah padanya. Terutama setelah melihat Chanyeol berdiri di depan pintu kelasnya saat itu.

Tak bisa dipungkiri bahwa Rein memikirkan Chanyeol lebih sering sejak saat itu. Dia seakan-akan merasa bersalah akan sesuatu. Sesuatu yang tidak ia ketahui apa itu.

“Apa lututmu sudah baik-baik saja?” Namja bermarga Park ini menunjuk lutut Rein dengan matanya.

“Eoh. Gwaenchana. Gomawo sudah menanyakannya.”

Lalu pembicaraan terputus begitu saja. Mereka hanya bisa saling melempar pandangan tanpa bisa berujar apapun. Chanyeol dengan segala kemelut di hatinya, dan Rein yang tidak mengetahui kenapa Chanyeol berubah padanya.

“Bisakah kau membahas sesuatu? Menanyakan sesuatu?” Tanpa diduga, Rein menyuarakan pemikirannya. Sehingga matanya membelalak di ujung kalimatnya.

Dasar bodooooh! Rein kau bodoh sekali!

“Mian, mian.” Salah tingkah, Rein melempar pandangannya ke arah lain dan menemukan bahwa rooftop yang kini hanya berisikan dirinya dan Chanyeol. Sejak kapan Ilhae, Baekhyun, dan Chen menghilang?

Aigoo! Tanpa pikir panjang – juga di dorong kesalting-annya karena ucapannya sendiri. Rein melangkah dan mencoba berjalan ke arah pintu keluar sebelum sebuah tangan menariknya dan melingkari pinggangnya dengan tangan itu.

DEGGG

Rein yakin wajahnya sangat absurd kali ini. Apalagi setelah ia mendongakan kepalanya dan menemukan Chanyeol menatapnya dalam dari sisi belakangnya. Dengan satu tangannya melingkar di pinggangnya.

“Apa arti diriku bagimu, Jung Rein?” Wajah Chanyeol terlihat sedih ketika ia bertanya, sehingga Rein merasa jantungnya mencelos.

“C.. C-chanyeol-ah.”

“Aku menyukaimu, apakah kau tidak tahu hal itu?”

Seakan diserbu pasukan Sparta, Rein hanya bisa mematung karena dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Jantungnya mulai berdebar secara lebih cepat, lebih cepat dari sebelum- sebelumnya.

Apa.. Apa? Chanyeol menyukainya?! CHANYEOL MENYUKAIMU REIN!

Dan dia mengatakan hal itu dengan tatapan tersedih yang pernah Rein lihat muncul di wajah tampan seorang Park Chanyeol!!

“Kau…”

“Ya. Aku menyukaimu.”

“Tapi kau terlihat bersedih..” Rein menunduk, hatinya sakit. Apa mungkin Chanyeol menyesal karena menyukainya?

Chanyeol menggeram frustasi. Tangannya yang bebas menyentuh dagu Rein dan mengangkat kembali wajahnya agar matanya bisa melihat mata Chanyeol yang sarat akan kefrustasian. Ketika tangannya yang ia gunakan untuk memeluk Rein terlepas. Dia membalikan tubuh Rein dan menyentuh Rein di pundaknya.

“Kenapa kau tidak memberi tahuku kalau kau kecelakaan dan masuk rumah sakit tempo hari? Kenapa kau sekali pun tidak bisa melihat betapa aku sangat menyukaimu?”

Rein terdiam. Apa mungkin Chanyeol terlihat berbeda padanya karena hal ini. Jujur saja, Rein tidak pernah terpikir bahwa Chanyeol menyukainya. Tidak pernah. Apakah itu kesalahannya?

“Chanyeol-ah, aku tidak tahu.” Rein menatap lurus Chanyeol ketika namja itu hanya bisa memandangnya dalam diam.

“Sekarang kau tahu, Rein-ah. Apa kau masih akan membiarkan Sehun yang selalu berada disisimu?”

“Sehun? Kena-”

“Aku cemburu padanya.” Dengan tegas Chanyeol memotong ucapan Rein.

“Mwo?”

“Kau menyukaiku tapi yang selalu berada di sisimu adalah namja itu.”

APA?!!!!

Kalau Chanyeol berniat membuat Rein terkena serangan jantung bertubi-tubi, ia berhasil. Bahkan kini dengan gamblang Chanyeol mengatakan bahwa Rein menyukainya.

“Aku menyukaimu?”

Dan bodohnya Rein kembali menyuarakan pemikirannya!

“Ckkkk… Butuh berapa lama lagi sampai kau mengerti sih? Kau menyukaiku! Kau sudah pernah mengakuinya!” Frustasi. Chanyeol mengacak rambutnya. Yeoja yang ia sukai sejak lama ini adalah yeoja terpolos dan terbodoh dalam urusan hatinya sendiri. Itu merepotkannya.

“Kenapa kau tahu bahwa aku menyukaimu? Bahkan aku pun sendiri masih belum mengerti.” Aku Rein sambil memasang wajah bingung, tapi itu hanyalah kedok. Karena sesungguhnya hatinya sudah jumpalitan karena perkataan Chanyeol. Perkataan yang membuatnya merasa begitu asing.. Dia berbunga- bunga dan senang bukan kepalang. Karena Chanyeol baru saja mengatakan bahwa ia menyukainya.

“Kenapa kau memberi nama kura-kuramu dengan namaku?” Skakmat. Rein membelalakan matanya untuk kesekian kalinya. Ketika ia mendongak ia melihat wajah Chanyeol lebih terlihat frustasi daripada sebelumnya. Setidaknya Chanyeol sudah tidak bersedih lagi, dan Rein sedikit bisa bernapas karena hal itu.

“Jawab Rein.”

“Karena kau mirip kura-kura?”

Chanyeol menggeram – lagi. “Tidak lucu.”

“Karena kulitmu berwarna hijau.”

Ckk.. Rein mau bercanda rupanya.

“Karena kau suka makan pelet ikan.”

Oh.. Kkaebsong.

“Atau karena kau berarti bagiku?”

Ekspresi Chanyeol berubah drastis dengan penuturan terakhir Rein. Namja itu tersenyum saat Rein mengangkat satu alisnya padanya. Dan ketika Rein tesenyum padanya.

“Aku bisa menjawab pertanyaanmu. Karena kau menyukaiku. Kau menyukai seorang Park Chanyeol, Jung Rein.”

“Mungkin?”

Dengan gemas Chanyeol mencubit pipi yeoja di hadapannya. Hatinya terasa ringan, seakan beban yang ia tahan dalam dirinya selama berhari-hari menguap begitu saja.

“Kau menyukaiku!”

“Itu belum pasti.” Rein mengerling. Ya, mungkin sudah saatnya bagi Rein untuk mengakuinya. Ya, dia menyukai Chanyeol. Entah sejak kapan. Yang terpenting, dia menyukai sosok namja yang selalu berhasil membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Mungkin karena itulah, sampai sekarang Rein tidak bisa menjawab pengakuan Sehun saat di rumah sakit.

Karena ia menunggu Chanyeol. Di alam bawah sadarnya, ia menunggu Chanyeol.

“Mau ku pastikan bahwa kau benar-benar menyukaiku?”

“Maksudmu?” Rein mengerucutkan bibirnya ketika secara tiba-tiba Chanyeol memajukan wajahnya, dan tanpa ragu dia mencium Rein yang hanya terdiam.

Di antara ciuman itu, Rein merasakan sesuatu yang familiar. Seakan-akan dia pernah melakukan hal semacam hal ini.

Dan dalam hitungan detik, siluet kejadian di Jeju menguap dari sisi otaknya yang selalu melupakan hal itu. Dapur. Chanyeol. Ciuman. Mabuk.

ANDWAEEEEEEE!!!!!!!!!!

Dengan sekuat tenaga Rein mendorong tubuh Chanyeol, juga menjauhkan wajahnya. Dia menatap Chanyeol dengan pandangan horor.

“Kau pernah menciumku sebelumnya yah?!”

Chanyeol menyeringai jahil. “Ralat, kau yang menarikku dan menciumku.”

“YA!!!!!!” Rein menutup mukanya yang sudah merah padam dengan telapak tangannya.

“Sudah ingat kejadian saat kau mabuk? Sudah ingat apa saja yang kau katakan saat itu?”

Rein bergerak mundur. “TIDAK! Aku hanya ingat di mana kita pernah berciuman!!!”

Chanyeol tersenyum jahil. “Otakmu mesum juga ternyata.”

“Bukan itu bodoh!!!! HAAAAAAAAA!!!!!!” Dengan itu Rein berlari pontang-panting meninggalkan Rooftop tempat di mana Chanyeol hanya bisa tersenyum senang.

“Benar, kan? Rein menyukaiku. Kenapa dia harus dipancing dulu baru mau mengakuinya? Ckk.. Gadis merepotkan yang sangat kusukai.”

Chanyeol benar- benar bersyukur dia pernah melihat isi hati Rein walau cuman sekali -saat Rein mabuk. Yang selama ini membuat Chanyeol kecewa pada Rein ialah fakta Chanyeol tidak bisa berada di sisi Rein ketika Rein kesulitan, terlebih Rein tidak mencarinya sama sekali. Dia selalu mempertanyakan ‘kenapa?’ selama masa di mana ia seakan menjauhi Rein. Tapi di banding rasa kecewanya saat itu, Chanyeol malah merasa sangat merindukan yeoja itu. Sehingga ia ingin bertemu Rein di depan kelasnya beberapa hari yang lalu.

Tapi yang membuat langkah Chanyeol mundur saat itu adalah ketika retinanya menangkap keberadaan Sehun tidak jauh dari tempat Rein.

Sehun lagi. Dia benci kenapa Sehun selalu berada di sekitar Rein. Walaupun Chanyeol sering berpikir bahwa Sehun adalah rivalnya untuk mendapatkan hati Rein. Tapi sekalipun ia tidak pernah goyah karena ia tahu Rein memberi kesempatan pada dirinya untuk menyukai Chanyeol.

Setidaknya Chanyeol bersyukur hari ini tiba. Dia bisa mengutarakan perasaannya pada yeoja itu dalam keadaan yeoja itu sepenuhnya sadar. Walaupun caranya sangat amat tidak romantis, sepertinya dia harus mengulangnya lagi dengan cara yang lebih romantis.

*-*-*

Sepertinya Ilhae memang sudah dikutuk untuk terus bersama dengan Chen. Buktinya yeoja ini sudah berjalan lagi dengan namja itu, tadinya ada Baekhyun tapi namja itu tiba-tiba menerima telepon lalu menghilang kemudian tanpa memberikan alasan apapun.

“Cuh! Aku bosan bersama denganmu.” Ilhae berjalan malas menyusuri lorong.

“Memang hanya kau saja? Tidakkah kau memiliki love life untuk dijalani? Atau peneror untuk dilaporkan?”

Ilhae tiba-tiba berhenti begitu saja membiarkan Chen mengambil dua langkah mendahuluinya sebelum berhenti dan berbalik. “Ada apa?”

BUK!

Sebuah buku tebal telah menjadi alat bagi Ilhae untuk memukul Chen. Rupanya yeoja itu berhenti untuk mengambil buku diktatnya.

“What the –” Chen ingin protes tidak terima tapi Ilhae yang sudah mengambil ancang-ancang ingin memukulnya lagi membuatnya berhenti.

“Apa yang kau lakukan jika menyukai seseorang? Jawab aku karena kau bertanggung jawab akan hal ini.” Ilhae memberengut sedangkan Chen mengeluarkan senyum jahilnya.

“Nugu? Eonje? Kau melakukan tipsku bukan~”

Entah bagaimana Ilhae merasa kesal dengan namja bernama Chen ini sehingga tanpa aba-aba Ilhae berbalik dan menghentakkan kakinya kesal. Ceh! Lebih baik ia bertanya pada Rein atau Kyungah, sepertinya teman yeoja lebih menyenangkan daripada namja.

“Eh! Kenapa Kai dan Kyungsoo ada di sini?”

DEGH! Ilhae langsung berhenti dan berbalik untuk mengklarifikasikan kebenaran ucapan Chen tetapi nihil – tidak ada orang.

“Aku memutuskan hubungan pertemanan denganmu! Psikopat!” Gerutu Ilhae.

“Ketahuan!”

“Kenapa aku harus selalu berakhir dengan curhat padamu sih?!”

Senyum sombong mengembang di wajah Chen. “Karena aku tidak pernah menceritakannya pada orang lain dan apa yang kusarankan selalu benar bukan?”

“Terkadang aku bingung kenapa kau bisa bijaksana dan gila secara bersamaan.”

“So, spill it Geum Ilhae.”

“Kapannya aku tidak tahu. Kau tahu tidak berapa banyak hal sial yang harus aku alami karena saranmu?!”

“Aku tidak tahu.” Tantang Chen.

“Penerorku itu adalah Kai dan itu karena kau!” Lalu Ilhae menceritakan kejadian naas di Paulo’s juga aksi teror dari Kai.

Di akhir cerita Chen bertepuk tangan seperti Ilhae baru saja menceritakan hal paling keren yang pernah ia dengar.

“Langkah selanjutnya adalah kenc – UHUK!”

Ilhae menonjok perut Chen sebelum namja itu berhasil membuatnya melakukan hal gila lainnya.

“Kasar sekali. Tidakkah kau berterima kasih pada love expert ini?” Protes Chen.

Di balik pilar tanpa Ilhae ataupun Chen sadari seseorang bermarga Ok tengah mengepalkan tangannya kuat-kuat.

 

-:Rein’s PoV:-

“Agassi, jadi kau akan memilih gaun yang mana?” Aku menghela napasku. Tidak begitu menyimak kalimat-kalimat persuasi seorang pelayan yang sedari tadi mencoba menarik minatku untuk membeli gaun-gaun yang dia promosikan.

Gaun- gaun yang sedari tadi dia promosikan adalah gaun-gaun berenda, berwarna merah mencolok, atau mini dress yang begitu ketat. Astaga menurutnya gaun semacam ini sedang menjadi trend di kalangan para yeoja.

Oh my God! TREND? Bagaimana bisa gaun kekurangan bahan, gaun yang tercelup kelamaan di pewarna, dan gaun yang manisnya melebihi satu kilo permen menjadi trend?!

Baiklah Rein, semua karena pemikiranmu yang jauh berbeda dengan yeoja di usiamu. Jadi kau tidak mengerti apapun tentang selera mereka.

“Agassi?” Sialnya! Pelayan ini benar-benar merongrongku, seakan memaksaku untuk segera menentukan pilihanku terhadap gaun-gaun di hadapanku.

“Ah, sebenarnya aku sedang mencari gaun dengan lengan panjang dan bagian bawahnya menjuntai jatuh ke bawah. Apa ada yang bagus?” Aku mencoba mengingat gaun terakhir yang hanya selutut dengan lengan terbuka yang kugunakan di Jeju dan itu membuatku merinding karena ketidaknyamanan. Terutama karena rasa dingin yang menerpa lutut dan pundak terbukaku. Aigooo… Jadi sekarang aku mau mencari aman dengan menggunakan gaun yang serba tertutup.

Pelayan yang kulihat dari name tagnya bernama Jimin ini mengangguk mengerti. “Ah, tunggu sebentar nona.”

Ya, aku menunggu… Gerutuku dalam hati sambil melemparkan pandanganku keluar kaca etalase toko yang kumasuki. Mall tampak cukup lengang hari ini. Mungkin karena tanggal tua sehingga orang-orang memilih untuk diam di rumah dan tidak menghambur-hamburkan sisa uang mereka yang mungkin hanya tinggal beberapa lembar. Ya, tentu saja ini berlaku untuk orang-orang sepertiku, yang uangnya terbatas.

“Bagaimana dengan yang ini agassi?” Aku menoleh cepat ke arah Jimin yang sudah membawa gaun panjang – seperti kriteriaku tadi – berwarna biru langit yang membuatku sedikit puas.

Geurrae! Yang seperti ini maksudku.

Aku tersenyum dan mengambil gaun yang masih terbungkus plastik bening itu dari tangannya. Tampak depan, gaun ini memuaskan. Tapi ketika aku memutar viewku untuk melihat tampak belakangnya. Aku menganga dahsyat.

WHAT?! Bagian belakangnya bolong?! Aku terkesima – tapi bukan kagum sama sekali – membayangkan diriku yang dibalut gaun ini yang tampak sopan dan tertutup sisi depan. Namun sisi belakang tubuhku terkespos kemana-mana dari pundakku sampai pinggangku.

Man, tidak bercanda!

“Ahh. Mianhae, tapi aku tidak akan mengambil gaun ini.” Aku menggeleng cepat – terlalu cepat sepertinya, sambil memasang wajah ketakutan dengan bayanganku sendiri.

“Waeyo agassi?”

Dan si Jimin ini masih bertanya, ‘Waeyo?!’ Ckkkk..

“Aku bisa masuk angin.” Jawabku datar dan anehnya berhasil membuat si Jimin tertawa kecil. “Sepertinya aku harus mencari di toko lain. Terima kasih karena sudah membantuku.”

Lalu aku melangkah keluar dari toko ini tanpa berkeinginan lagi untuk melihat wajah si Jimin karena kutahu aku pasti mengecewakannya.

Aku melangkah menjauh dan menaiki eskalator, kepalaku berdenyut. Tapi aku tidak sakit kepala, melainkan pusing. Ya, pusing memikirkan perihal gaun yang serba tidak cocok dengan seleraku sama sekali.

Ilhae beruntung, dia bisa menunda acara membeli gaunnya karena jadwal kuliahnya yang sedang padat sampai satu minggu ke depan. Sementara aku kebalikannya, jadwalku kosong satu minggu ini dan mulai memadat minggu depan -terlebih karena kegiatan itu. Sehingga kami harus terpisah dalam mencari gaun. Lagipula Ilhae bukan yeoja yang akan khawatir soal budget harga gaun yang bisa mencekiknya.

Berbicara soal budget. Aku tidak matrealistis atau mengharapkan seseorang membelikanku gaun. Sama sekali tidak. Tapi perihal pengeluaran dan uang selalu menjadi topik sensitif bagiku.

Kalau saja bukan karena permintaan Do bersaudara, aku tidak akan pernah mau menghabiskan waktuku untuk berputar-putar selama lebih dari 3 jam di Mall yang sangat luas untuk mencari gaun. Melelahkan sekali. Sepertinya aku harus mencari foodcourt untuk sekedar mengistirahatkan kakiku dan membeli semangkuk pat bing soo untuk mendinginkan otakku. Tapi sebelum aku sampai di foodcourt, aku melewati sebuah toko yang sepertinya belum kumasuki sedari tadi dan mendapati sebuah gaun berwarna putih yang melekat indah di tubuh manequin. Gaun itu berhasil menarik perhatianku.

Warnanya putih pucat dan motifnya, renda -tapi tidak semanis renda- renda di toko sebelumnya- berundak, dan gaun ini sangat panjang sehingga aku bisa menjamin lututku tidak akan kedinginan. Kelebihan lainnya adalah, apapun sepatu yang kugunakan rasanya tidak akan kelihatan jika aku memakai gaun ini karena panjangnya yang menyentuh lantai jika aku memakainya. Memakai gaun ini membuatku tidak khawatir dengan sepatu yang kugunakan! Tidak ada tambahan budget untuk membeli heels ‘layak’ ala pesta besar. Ide bagus!

Aku masuk ke dalam untuk melihat gaun itu, dan tambah dekat aku melihatnya. Aku semakin jatuh cinta. Ya, walau aku akan menanggung resiko kedinginan lagi -terutama di bagian pundak. Tapi motifnya benar-benar membuatku suka. Sederhana, simple, dan unik bagikku.

Aku ingin gaun ini! Mungkin mataku sudah membiaskan perasaan excited yang tiba- tiba saja muncul dari dalam diriku. Gaun pertama yang membuatku sangat tertarik. Applause untuk perancangnya!

Tanganku bergerak untuk melihat label harga yang tergantung dari gaun ini. Dan ekspresiku mungkin sudah sangat jatuh ketika melihat angka 1 juta won. Bahkan mungkin saja daguku sudah menyentuh lantai. Hiperbola memang.

Hiksss.. Dengan perasaan sedih aku berjalan keluar toko. Mataku masih terarah pada satu titik. Gaun putih panjang itu.

Budget! Budget! Jangan lupakan budget Jung Rein. Kau hanya boleh mengeluarkan uang sampai 400ribu won untuk acara pesta itu. Tapi gaunnya…. HIKS!!!

Langkahku lunglai dan terlihat seperti orang habis kalah perang. Dengan semangat hancur seperti ini. Tidak mungkin aku masih berkeinginan untuk mencari-cari gaun lainnya, sehingga sekarang aku memilih untuk pulang saja. Dan menangguhkan perihal mencari gaun di lain hari.

Huh…

*-*-*

TOK TOK TOK

Aku menggeliat di kasurku dan susah payah membuka mataku, ketika aku menyadari bahwa hari sudah sore dan sebentar lagi matahari akan turun dari peraduannya.

Tanpa pikir panjang aku langsung loncat dari kasurku dan menyalakan lampu. Seseorang yang mengetuk pintu apartemenku  masih terus melanjutkan aksinya. Tidakkah ia tahu dia telah membangunkan seseorang dari tidur nyenyaknya?

Dengan langkah malas-malasan aku keluar dari kamarku untuk membukakan pintu. Awas saja kalau di luar sana adalah Ilhae yang melupakan pin apartemennya sehingga ia harus mengetuk pintu untuk masuk – percayalah, walaupun nyaris tidak mungkin tapi itu pernah terjadi.

Jujur saja, aku lelah sekali hari ini. Menghabiskan hariku di mall ternyata bisa menguras tenagaku sama seperti bekerja di Paulo’s. Untung saja hari ini aku tidak mempunyai mata kuliah dan mengambil cuti di Paulo’s.

TOK TOK TOK

“Tunggu!!”

Aku melihat siapa seseorang diluar sana dari interkomku dan menemukan seorang namja dengan topi yang menutupi mukanya berdiri tegak. Dia bukan penjahat atau penguntit, kan?

“Siapa?”

“Anda mendapat kiriman barang, nona.”

Tunggu-suaranya sangat familiar. Bukankah dia…

Aku membuka pintu dan mendapati sosok itu masih menunduk.

“Selamat sore. Terima kasih karena sudah membukakan pintu, Nona. Kau mendapat kiriman paket dari seseorang. Semoga kau menyukai isinya.”

“Chen, apa yang kau lakukan?” Tanyaku datar. Bingung dengan tingkah aneh teman Ilhae yang satu ini.

“Wah? Kau mengetahui identitasku secepat ini? Huuu tidak asik.” Dia menengadah dan cengiran idiotnya menyapaku. Oh man…

“Apa yang kau lakukan disini?”

“Mengantar barang. Igo..” Chen menyerahkan kotak yang dihiasi pita cantik itu padaku. Dan aku menerimanya dengan perasaan bingung.

“Apa ini?”

“Saya tidak tahu, nona. Dan saya pamit harus pergi mengantarkan paket lainnya. Selamat sore, nona.”

Aku mendengus. “Chen, PLEASE!”

Dia tertawa. “Geurrae. Geurrae. Aku pulang dulu, Rein-ah. Semoga kau suka dengan paketmu. Annyeong.”

“HEY CHEN! Ini dari siapa?”

Tapi Chen tidak menggubrisku, dia malah mengambil langkah mundur dan berbalik. “Adios, Nona!” Sebelum hilang di belokkan.

Ckkk.. Awas saja kalau si raja troll itu menjahiliku dengan memasukkan kadal mati di dalam sini. Bisa kupastikan hidupnya tidak akan aman setelah ini.

Masih bertahan di posisiku di depan pintu, aku membuka kotak itu hati-hati dan menemukan gaun putih panjang yang sangat kuinginkan tadi siang!

Aku terperangah beberapa detik sebelum mencerna apa yang terjadi. Siapa yang mengirimkan gaun ini? Dan kenapa dia tahu aku ingin-

CHEN!!

Ah! Sekarang aku mengerti, ini pasti ulah Park Chanyeol! Jangan bilang dia membuntutiku di Mall? Tunggu. Kenapa aku bisa berpikiran sampai sana?

Tanpa pikir panjang, aku masuk ke dalam dan mencari ponselku yang tergeletak entah di mana. Setelah menemukannya – berada di atas meja makan – aku langsung menekan angka 5 -aku tidak mengerti mengapa memasang namanya di angka favourite-ku sebagai speed dial- untuk menghubungi seseorang.

“Ya! Park Chanyeol!” Geramku seketika setelah panggilan tersambung. “Apa-apaan kau?! Kenapa kau membelikanku gaun?”

Aku mendengar suara tawa kecil sebelum ia menjawab. “Kalau ada yang ingin kau bicarakan padaku, kau bisa menemuiku.”

“Apa maksudmu?”

“Kau tahu di mana apartemenku bukan? Datang kesini.”

Aku membelalakan mataku. Kenapa namja ini tiba-tiba kurang ajar sekali!

“Aku tidak tahu! Sekarang kau jelaskan saja mengapa kau membelikanku gaun?!”

“Shirreo. Cari tahu di mana apartemenku, Rein sayang. Datang kesini dan aku akan menjelaskan semuanya.”

R-rein sayang?!

“YA!! Kenapa aku harus repot- repot melakukan hal itu?”

“Karena aku ingin kau mencariku, mencari tahu sesuatu tentangku.” Chanyeol terdiam, dan sekarang suaranya jauh terdengar lebih berat dan serius. “Karena selama ini aku yang selalu mencarimu.”

To Be Continue…

22 pemikiran pada “Cynicalace (Chapter 14)

  1. sumpahh aqu suka ceritanya engga alay dan engga membosankan,,pemakaian kata” nya juga bener” menggambarkan caracter cast nyaa dan menurut qu caracter nya pass sama pemain cast nya. aqu udahh baca darii chapter 1 sampe 14 dan baru di chapter 14 aqu ninggalin coment pendapat aqu.. aqu suka sama caracter-caracter cast nya jadii aqu bener” nunggu kelanjutan ceritanya. semangaaatt yaa buat kelanjutan critanya.. ^_^ (y)

  2. Woaaahh makin daebak aja nih duet author…. sumpah aku ngebut banget baca 4 chapter tg twrtinggal daaaan sangat memuaskan… u know i love haehae kai couple and they’re absolutely so sweet hahah salut sm si kai yg terus ngejahilin ilhae, salut juga sm chanyeol dg keberaniannya untuk mengajari rein menyadari perasaannya sendir. Terus aku juga suka couple baekchen sumah mereka konyol bin aneh. Setiap chapnya bikin aku ngakak even now i exactly still on my office. Saluuut… two thumbs. 🙂

  3. najis najis najisssssss CHANYEOL KENAPA SIH SENENG BIKIN ORANG JUMPALITAN TERKUTUK KAU (maaf maaf aouthornim kelepasan. maaf.)
    rein kamu beruntung sayang punya kekasih macam chanyeol /nangis di pojokan/ usil banget hihhhhh chanyeolnya sweet huhuheee
    author bisa aja bikin chanyeolnya kayak gini /gegulingan/
    seneng liat part ilhae sama chen xD chennya sante aja nanggepin reaksi ilhae yang hyper banget.
    semoga tu anak bisa cepet jadian sama kkamjong :33
    next chap ditunggu authornim♥♥♥♥

  4. Huwaaaaaaa … greget tau ga baca ini ToT perbanyakin rayeol momentnya thor :3 aku suka aku suka … ohya maap thor bru bisa coment di chap ini … soalnya bacanya ngebut hehe ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s