The Arrogant Girl Fell in Love (Chapter 1)

| Title : The Arrogant Girl Fell in Love (Chapter 1) |

| Author : gishafz (@ginashafanm) |

| Main Cast : Jung Soo Hye (OC) &Lu Han (EXO) |

| Support Cast : Find by Yourself |

| Genre : School-Life, Friendship, Hurt (maybe), and Romance |

| Lenght : Multi Chapter (4.135 words) |

| Rating : PG-17|

| My Personal Blog : gishafz.wordpress.com|

| Credit Poster : AmmLaRT @ExoKingdomFanfiction|

Disclaimer : Luhan dan casting yang lain seutuhnya milik Tuhan Yang Maha Esa dan orang tuanya masing-masing. Cerita ini hanya fiktif belaka, imajinasi dan khayalan author sendiri. Jika ada kesamaan cerita dan ide itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.

A/N: Baca ajadah. Moga gak nyesel 😥

| DILARANG KERAS UNTUK COPY+PASTE FANFICTION INI TANPA SEIZIN AUTHOR |

~ Selamat Membaca ~

req-my_arrogant_girl

-^- Author’s POV -^-

Jung Soo Hye, seorang gadis yang pintar dan cantik di Sekolah Menengah Pertama. Tidak cukup dengan kepintarannya, ia terkenal akan kesombongannya. Tak hanya sombong, gadis itu sangat arogan dan selalu bertindak semaunya. Walaupun ia selalu terkena kartu peringatan, Soohye tidak pernah dikeluarkan dari sekolah. Dikarenakan, Ayahnya adalah bekas kepala sekolah SMAJong Hwa. Ayah Soohye sangat berjasa pada SMA Jong Hwa.

Karena kecerdasannya, ia selalu dikirim ke luar negeri untuk mengikuti kejuaraan terutama dalam bidang sains. Soohye sangat pintar di pelajaran bidang sains. Walaupun gadis itu pintar, ia tidak memiliki teman sekalipun. Hanya Song Mi Hee, adalah teman yang berteman dengan Soohye sejak kelas 10 SMA (sekarang kelas 12). Sebenarnya, Mihee agak tidak suka dengan perilaku Soohye.

Mihee seringkali dijadikan Soohye sebagai pembantunya. Ia selalu menyuruh Mihee dengan seenaknya. Mihe hanya bisa pasrah. Jujur, ia hanya kasihan pada Soohye. Gadis cantik nan pintar itu tidak memiliki teman sekalipun. Miris memang. Namun mau bagaimana lagi? Meskipun orang itu pintar namun sifatnya kurang ajar, pasti tidak ada yang mau berteman dengan orang tersebut.

Akan tetapi, semua itu bisa dirubah dengan kemauan Soohye sendiri. Hingga akhirnya seorang siswa baru di kelasnya, membuat Soohye tertarik dengan siswa baru itu. Lelaki tampan dengan wajah persis seperti perempuan.

~(˘▾˘)~***~(˘▾˘)~

 

Soohye terus mencari informasi tentang siswa yang memikat hatinya. Siswa itu sangat tampan walaupun wajahnya lebih pantas ke arah perempuan, wajahnya teduh, dan lelaki itu terlihat sangat kutu buku karena setiap diwaktu senggang atau istirahat ia selalu membaca buku sembari mendengarkan lagu melalui headset yang terletak di bolongan kedua kupingnya.

Entah apa yang membuat lelaki itu sangat istimewa bagi Soohye. Menurut Soohye, wajah lelaki itu seperti malaikat atau lebih tepatnya peri yang selalu berada disampingnya untuk menjaganya.

Disini tempat Soohye berada. Di dalam kelas yang luas. Gadis itu duduk dengan seadanya, tangannya diletakkan pada meja lalu menaruh dagunya diatas tangannya tersebut, menatap ke arah lelaki yang jaraknya dua bangku dari tempat duduknya. Soohye agak menutup wajahnya dengan jaket, ia letakkan jaket itu diatas kepalanya. Sekaligus sebagai alat menutupi wajahnya jika terjadi kontak mata antara dirinya dengan lelaki itu.

Keadaan kelas ini cukup lengang. Tidak banyak siswa yang berada disini. Ya, karena saat ini adalah jam istirahat. Soohye lebih memilih berada di kelas ketimbang pergi ke kantin. Karena ia memiliki temannya yang selalu ia jadikan pembantu. Soohye benar-benar keterlaluan. Sangat-sangat keterlaluan.

Soohye sedang menajamkan pengelihatannya kepada seseorang yang tengah ia lihat sejak tadi. Namun semua itu musnah karena Mihee mengagetkan Soohye, ia menepuk pundak Soohye. Membuat gadis itu –Soohye-, hampir terjungkal ke belakang.

“Soohye-ya, ini makanan dan minuman- Ya!!”

Mihee menarik kursi di sebelah Soohye, namun semua itu terhenti ketika Soohye menarik kasar lengan Mihee hingga ia berada di kolong meja.

Ya! Kau bodoh atau memang sengaja menghancurkan konsentrasiku, hah? Dasar wanita bodoh!”

Soohye mencengkram lengan Hyori kuat membuat Mihee tak sengaja melontarkan pekik kesakitan. Tidak terlalu keras karena dengan cepat tangan Soohye membungkam mulut Hyori. Sehingga pekikkan Mihee teredam.

“Aaah! Soohye, hentikan. Sa-sakit.”

Kalian merasa kasihan pada Mihee? Ini belum seberapa. Bahkan Soohye pernah menampar Mihee karena alasan yang tidak jelas. Karena kesabaran dan kekuatan yang terbangun di hati Mihee membuat gadis itu tetap kokoh menjadi teman Soohye. #kalau author sih, udah author tendang aja si soohye

Soohye terus mencengkram lengan Mihee dengan kuat. Sesekali mata elangnya melirik lelaki itu. Setiap Soohye meliriknya, lelaki itu masih terus di dalam posisinya, tak pernah berubah sama sekali. Hanya matanya yang selalu bergerak kesana-kemari.

Soohye melepas lengan Mihee dengan kasar. Hatinya sedikit gusar. Napasnya memburu akibat ia memarahi Mihee tanpa ampun. Ini sudah menjadi sifat buruk di dalam diri Soohye, jika tidak memarahi seseorang secara lisan, Soohye pun suka melakukannya secara fisik.

Mihee meringis sembari memegangi tangannya. Deretan gigi putihnya selalu menampakkan wujudnya ketika Mihee meringis. Mihee akhirnya duduk. Ia menatapi bekas cengkraman kuat tangan Soohye. Merah bercampur warna keungu-unguan terlihat disana. Semua rasa sakit itu selalu saja diabaikan Mihee, karena ia berpikir bahwa Soohye hanyalah sebuah ujian baginya.

“Soohye-ya, aku sudah tahu siapa lelaki itu.” Ujar Mihee dengan sangat pelan hampir tidak ada suara. Nadanya masih terselip suara meringis.

Mood Soohye langsung berubah drastis mendengar ucapan Mihee, ia refleks menengok dan memutar badannya berhadapan dengan Mihee. Senyuman dan sorot mata bahagia terpancar disana.

“Bagus, beritahu aku.” Balas Soohye.

Mihee mendekatkan mulutnya pada telinga Soohye sebelah kanan. Melihat gerakkan Mihee membuat Soohye mengernyitkan alisnya.

“Aku tidak akan menceritakannya sekarang. Dia masih ada disini. Jika ia pergi akan aku ceritakan.” Bisik Mihee dengan sangat pelan. Hyori kembali menarik kepalanya dari kuping Soohye.

 

~(˘▾˘)~***~(˘▾˘)~

 

Baru dua hari, ajar-mengajar berlangsung di sekolah. Nama lelaki itu adalah Luhan. Dia adalah seseorang yang sangat suka bermain bola basket, sangat suka membaca, sangat suka mengoleksi barang-barang klasik, dan sangat suka mendengarkan musik bergenrepop.

Soohye ingat benar bagaimana lekukan dan gambaran wajah Luhan. Semua tentang Luhan yang diceritakan oleh Mihee terus terngiang diotaknya. Bahkan, Soohye mulai belajar untuk bermain bola basket padahal ia sama sekali tidak tertarik dengan olahraga yang satu ini. Namun untuk mendekati Luhan, Soohye akan mencobanya.

Sudah kebiasaannya, Soohye berjalan angkuh di depan banyak siswa SMA Jong Hwa. Wajahnya yang sinis dan sombong membuat Soohye sangat dibenci oleh banyak siswa di SMA Jong Hwa. Mereka bangga akan prestasi Soohye, namun tidak untuk perilaku Soohye. Pengelihatan gadis itu selalu saja mendelik ke arah tertentu akibat terjadinya kontak mata antara dirinya dengan siswa tersebut.

Tujuan perjalanan Soohye adalah gudang penyimpanan bola basket. Ia ingin mengambil salah satu bola basket kemudian ia akan bermain di lapangan basket. Tak peduli jika orang tak mau bermain dengannya, ia bisa bermain sendiri.

Banyak siswa yang sekarang menangkap basah seorang Soohye berjalan lewat di depannya mulai berbisik-bisik. Tak lupa dengan pandangan tajam pada Soohye. Gadis itu –Soohye- tidak peduli jika dipandang seperti itu, ia anggap sebagai pandangan memuja dirinya.

Pipi sebelah kanan Soohye agak mengembung karena terdapat permen bulat bergagang disana. Akhirnya ia sampai tepat di depan pintu masuk ke dalam gudang. Soohye tampak berkacak pinggang terlebih dahulu, setelah itu dia menggeser  pintu gudang dengan kuat membuat pintu itu bersentuhan dengan besi dan menimbulkan suara nyaring yang memekakkan telinga. Tapi Soohye, ia tidak peduli dengan itu.

Soohye tetap berjalan angkuh dengan memasang wajah sinis dan angkuhnya. Ia menelusuri ruangan tersebut. Ia menyapu seluruh isi benda didalam gudang itu dengan matanya hingga akhirnya ia menemukan barang yang ia cari –bola basket-.

Soohye tak tahu bahwa ketika ia berjalan para siswa Jong Hwa dengan gesit menutup pintu itu dengan sangat pelan agar Soohye tak mengetahui gerak-gerik mereka. Hingga akhirnya pintu itu tertutup rapat, Soohye tidak menyadarinya.

Gadis itu mengambil satu bola basket. Ia membentur-benturkannya ke lantai untuk memastikan bola ini nyaman atau tidak. Soohye tersenyum karena ia mendapat bola yang nyaman. Ketika Soohye berbalik, ia mendapati pintu sudah tertutup. Gadis itu menatap dingin dan tajam ke arah pintu. Seketika hati Soohye menggebu-gebu dan berapi-rapi, ia memiliki dugaan bahwa pintu itu pasti sengaja dikunci.

Bola basket terjatuh dari tangan Soohye membentur lantai dan menggelinding tak tentu arah. Soohye berlari ke arah pintu. Gadis itu memegang gagang pintu kemudian mencoba untuk menggeserkannya ke kiri. Namun apa yang ia dapatkan adalah pintu tidak dapat dibuka. Dugaan Soohye benar, bahwa ia benar-benar dikunci di gudang ini.

Soohye menggeram kesal, ia menendang-nendang pintu dengan kuat tak lupa juga ia memukul-mukul pintu itu dengan kuat. Soohye merasakan pikirannya sudah mulai kaca balau. Katanya gudang ini adalah tempat yang menyeramkan. Banyak sarang laba-laba tercipta disini dan sudut ruangan itu sangat gelap memberi kesan bahwa tempat ini berhantu.

“BUKA PINTUNYA! SIAPAPUN! BUKA PINTUNYA!” teriak Soohye sembari terus menggedor-gedor pintu.

Soohye terus memukul-mukul dan menendang-nendang pintu itu tanpa ampun. Ia tak peduli jika pintu itu rusak, ia bisa menggantikannya karena ia adalah anak yang terlahir dari keluarga kaya raya. Gumpalan air yang menggenangi pelupuk mata gadis itu sudah siap untuk meluncur.

Soohye membalikkan badannya. Ia menyandarkan kepala dan punggungnya pada pintu. Awalnya ia ingin tetap berdiri namun lama-kelamaan tubuhnya semakin menurun ke bawah dan akhirnya ia duduk dengan tatapan yang kosong. Air mata yang sejak tadi mendiami pelupuk matanya sudah siap menghujani pipinya.

Sebelum ia menghujani pipinya dengan air tersebut, Soohye terlebih dahulu menjelajahi keadaan sekitar dengan indera pengelihatannya. Soohye sangat takut hantu sejak kecil. Ruangan ini hanya diberi penerangan oleh sinar matahari yang menerobos masuk melalui renggangan jendela. Hawa disini mendadak dingin ketika Soohye mulai berpikiran aneh tentang hantu.

Suasana semakin mencekam ketika Soohye mendengar suara berat tertangkap jelas di kedua telinganya. Akhirnya, butiran air itu pun lolos dan mulai menjatuhkannya pada pipi Soohye. Soohye menutup mulutnya dengan kedua tangannya diiringi juga matanya yang menutup karena saking takutnya.

Bunyi seseorang berjalan pun mulai menggema di telinga Soohye. Gadis itu hanya bisa menggigit bibirnya kuat dan semakin mengunci rapat matanya. Suara orang berjalan itu pun semakin mendekat ke arah Soohye membuat gadis itu semakin merasakan detak jantungnya mulai berdenyut dengan kencang.

Semakin mendekat dan mendekat hingga akhirnya suara orang berjalan itu berganti dengan orang yang sedang mengatakan sebuah kalimat.

Hey!” teriak orang itu dengan keras.

Karena saking takutnya, Soohye masih terus dengan posisinya. Ia tidak mau berkutik sama sekali. Karena gadis itu berpikir bahwa itu adalah hantu.

Hey! Cepat buka matamu! Aku bukan hantu.” Ujar orang itu dengan dingin.

Soohye akhirnya bernapas lega karena orang yang mengajaknya berbicara bukanlah hantu. Gadis itu membuka matanya perlahan dan mendapati sepasang kaki yang terbalut sepatu itu berdiri tepat dihadapannya. Soohye akhirnya membuka lebar matanya kemudian pengelihatannya naik dan semakin naik hingga tepat diwajah orang itu.

Orang tersebut tampak berkacak pinggang. Ia menghembuskan napasnya panjang.

“Kau! Kau orang yang tadi berteriak, ‘kan?” tanya orang itu dengan nada datar dan dingin.

Soohye mengernyitkan alisnya tak suka, dia menatap tajam orang tersebut. Ia baru pertama kali diperlakukan oleh orang seperti ini. Biasanya, ia yang selalu melakukan hal seperti ini kepada orang. Merasa tidak terima, Soohye akhirnya bangkit dan membalas tatapan orang itu dengan sengit. Sungguh, wajah orang tersebut sangat tidak jelas disini.

Soohye tidak tahu siapa orang ini yang jelas, ia sudah meyakini bahwa yang berhadapan dengannya saat ini seorang laki-laki lantaran orang tersebut menggunakan celana panjang hitam polos lengkap dengan almamater SMA Jong Hwa berwarna kuning.

“Ya! Aku yang berteriak tadi!” teriak Soohye tepat didepan wajah lelaki itu.

Lelaki itu akhirnya mundur beberapa langkah karena mendapatkan teriakan dari seorang gadis yang baru ia temui ini. Seberkas cahaya menerangi wajah lelaki itu, membuat gambaran wajah tersebut bisa dilihat jelas oleh Soohye.

Soohye terkejut ketika mendapati orang yang baru saja ia teriaki itu. Ini adalah lelaki itu, batin Soohye.

Gadis itu langsung menutup mulutnya karena tidak percaya. Bahwa kenyataannya, orang berada didepannya ini adalah orang yang sudah membuatnya tertarik akhir-akhir ini. Ya, dia Luhan. Soohye merutuki dirinya sendiri. Ia teramat malu atas sikapnya terhadap Luhan. Soohye hanya bisa memalingkan wajahnya. Soohye merasakan pikirannya sudah mulai pecah berkeping-keping.

“Lu-lu-lu.. Luhan?” gumam Soohye. Menatap tak percaya orang yang ada didepannya itu.

Luhan menguap, “Kau menggangu tidurku. Mengapa kau berteriak-teriak, huh?” ujar Luhan dengan datar.

Soohye mulai berpikir. Ia mendapatkan sebuah fakta baru jika Luhan mungkin suka tidur di gudang ini. Namun Soohye tidak habis pikir pada Luhan, bisa-bisanya ia tidur di gudang ini. Padahal gudang ini sangat menyeramkan.

Mata Luhan tampak menilik tubuh Soohye dari atas sampai bawah. Luhan rasa bahwa ia pernah bertemu gadis ini namun Luhan lupa dimana ia pernah bertemu dengan gadis itu. Luhan terlihat bersidekap dada menunggu jawaban dari gadis yang didepannya ini.

Gadis ini terlihat sangat angkuh, batin Luhan.

“Kau.. Luhan?” bukannya menjawab pertanyaan Luhan, Soohye justru balik bertanya membuat Luhan memutar kedua bola matanya sebal.

“Bagaimana kau tahu nama, ku?”

“Dari name tag.”

“Sekolah Jong Hwa tidak memberikan name tag.”

Tak! Sebuah batu besar menghantam otak Soohye. Gadis itu merasa bahwa dirinya sangat bodoh. Mengapa aku tak ingat bahwa sekolah ini tidak memberikan name tag, batin Soohye. Ekspresi wajah Soohye berubah menjadi datar namun masih tersisipkan raut tak mau kalah. Gadis itu sibuk mencari-cari jawaban paling tepat jika Luhan menanyakan hal itu lagi.

“Mengapa kau berteriak? Kau menggangu tidurku saja.” Ucap Luhan dengan dingin.

Demi menjaga image seorang Soohye di depan Luhan, Soohye pun menjawabnya dengan nada yang terdengar sangat manis. Jika orang tersebut bukan Luhan? Soohye sudah memaki dan menghujat orang tersebut tanpa ampun dan tanpa jeda sedikit pun.

“Pintunya terkunci.” Jawab Soohye.

Luhan menaikkan tinggi-tinggi alisnya. Lelaki itu akhirnya berjalan mendekat Soohye, tidak! Lebih tepatnya mendekatkan dirinya dengan pintu. Detak jantung Soohye kian menggila ketika Luhan melintas dihadapannya. Begitu mempesona dan tampan, batin Soohye.

Luhan menatap pintu geser tersebut. Kemudian ia memegang gagang pintu tersebut dan menggeserkannya ke kanan. Dan hasilnya adalah pintu itu dapat dibuka tanpa susah payah apapun. Soohye yang melihat itu membuka mulutnya lebar dan membelalakan matanya. Ia tak percaya bahwa pintu itu dapat dibuka.

Luhan menolehkan kepalanya ke belakang untuk melihat gadis itu.

“Lihat? Pintu ini tidak terkunci, Nona.”

Soohye terus menatap pintu itu. Ia terus menggerutu di dalam hati. Ini benar-benar memalukan, batin Soohye. Gadis itu menggeram sebal. Ia masih tak percaya bahwa pintu itu dapat dibuka. Ayolah, Soohye sangat malu. Soohye mengepal kedua tangannya, warna merah padam sudah mulai keluar dari sarangnya –wajah-.

“Sepertinya kau bodoh. Sampai-sampai menggeser pintu seperti ini saja tidak bisa, dan beralasan bahwa pintu ini terkunci. Hahaha, pabo yeoja!”

“Ta-tapi, pintu ini benar-”

Pabo yeoja.”

Setelah berkata seperti itu. Akhirnya, Luhan berjalan meninggalkan Soohye sendirian di gudang tersebut.

Perasaan Soohye mulai memanas dan sudah berapi-api. Baru pertama kali juga dirinya disebut bodoh oleh seseorang. Soohye menggeram kesal sembari menghentakkan kakinya. Ia menjambak rambutnya sendiri dan melepaskannya kasar, membuat rambutnya yang tertata rapih kini sudah tak beraturan. Sebelum pergi, Soohye mengambil bola basket terlebih dahulu.

Soohye membuang permen gagang miliknya ke lantai dan permen itu akhirnya terbelah 7 bagian, kemudian meninggalkan gudang tersebut.

 

~(˘▾˘)~***~(˘▾˘)~

 

Seorang lelaki berambut orange pucat sedang duduk di sebuah ruangan yang diyakini adalah sebuah kelas.  Keadaan ruangan ini terlihat lumayan ramai. Lelaki itu memasangkan sebuah headset pada kedua bolongan kupingnya. Kepala lelaki itu sedikit merunduk dan pengelihatannya bergerak ke kanan dan kiri. Tampak sebuah buku tebal berada dibawah kepala lelaki itu, menandakan ia sedang membaca sembari mendengarkan sebuah lagu.

Di sisi lain, banyak gadis-gadis di dalam ruangan itu tampak berbisik-bisik sambil memperhatikan lelaki itu dengan cermat. Entahlah apa yang mereka bicarakan namun semua itu membuat Luhan sedikit risih. Awalnya, Luhan hendak menengokkan kepalanya lalu menegur kepada para gadis yang sedang membicarakannya. Namun semua itu terhenti ketika segerombolan lelaki menghampiri lelaki itu.

“Luhan-ah, mengapa kau senang sekali membaca buku?” tanya seorang lelaki sambil menepuk pundak Luhan.

Luhan pun hanya tersenyum pada segerombolan makhluk laki-laki di depannya. Mereka bukan musuh Luhan, melainkan teman Luhan. Segerombolan lelaki itu terhitung hanya empat orang.

Empat lelaki itu dengan serempak mengambil kursi yang berada disekitarnya lalu mendudukinya. Alhasil, Luhan dan ke-empat temannya itu seperti orang yang sedang berdiskusi. Mereka memandang masing-masing secara bergantian.

Tak! Sebuah jitakan pelan mendarat sempurna pada kepala seorang lelaki yang bertuturan sebelumnya.

“Luhan itu rajin. Tidak sepertimu, Byun Baek Hyun!” ujar orang itu tegas dan dingin. Namun perkataan itu bukan bermaksud serius, itu hanya candaan belaka.

Baekhyun memandang tak suka terhadap lelaki yang sudah menjitaknya. Ia memasang raut wajah kesal dan dingin. Merasa tak terima karena dijitak seenaknya, Baekhyun membalas menjitak orang yang sudah menjitaknya sedikit kuat.

“Memangnya kau rajin, Park Chan Yeol?! Rasakan itu sebagai balasannya, hahahaha.” Tegur Baekhyun dengan garang.

Namun berselang tiga detik, Chanyeol langsung tertawa seperti orang tidak waras. Memang sudah kebiasaan seorang Chanyeol, jika tidak ada hal yang lucu, ia selalu saja tertawa dan itu membuat orang disekitar Chanyeol ikut-ikutan tertawa. Karena melihat raut wajah Chanyeol yang kelewat batas.

Baekhyun mengusap bagian permukaan kepalanya yang baru saja dijitak Chanyeol.

Melihat Chanyeol seperti itu, Baekhyun hanya bisa menatapnya aneh sekaligus jijik. Seberkas air sudah muncul disudut mata Baekhyun. Bukan karena ingin menangis, sejujurnya ia sangat ingin tertawa melihat ekspresi Chanyeol yang mulai terkuar dari wajahnya. Namun Chanyeol memaksa matanya untuk tidak mengeluarkan cairan bening tersebut. Tetapi karena tidak kuat menahannya, akhirnya Baekhyun ikut tertawa bersama Chanyeol dan seberkas cairan bening itu pun tumpah.

Serempak, Luhan dan kedua temannya itu tertawa melihat tontonan konyol gratis didepan mereka.

Suasana ramai yang sedang menyelimuti mereka berlima harus terhenti ketika seseorang menampakkan wujudnya di ambang pintu. Sebelum gadis itu berada di ambang pintu, gadis itu terlebih dahulu membuka pintu tersebut dengan kencang dan kuat sehingga membuat pintu terbuat dari besi itu berbenturan kuat dengan tembok dan membuat suara nyaring memekakan telinga.

Seluruh makhluk yang kebetulan mendengar suara itu secara bersamaan menghentikan kegiatannya untuk melihat ke arah pintu. Tujuannya untuk melihat, siapa orang yang membuat suara nyaring dan bising itu.

Seorang gadis dengan rambut hitam legam yang lurus dan menjuntai indah sampai batas punggung. Wajahnya sinis dan penuh sarat akan keangkuhan. Lengan kanannya menghimpit sebuah bola berwarna orange kecoklatan pada pinggangnya, sepertinya itu bola basket. Kalian tidak perlu berpikir terlalu lama untuk menebaknya. Tentu saja itu adalah Jung Soo Hye.

Seperti biasa, Soohye terlebih dahulu mengedarkan pandangannya pada seluruh orang yang berada dikelas itu dengan pandangan sinis dan delikkannya yang khas. Tampaknya Soohye tidak menyadari jika ada Luhan yang sejak tadi memperhatikannya. Jika Soohye mengetahui hal tersebut, dapat dipastikan Soohye akan menanggung malu seumur hidup.

Setelah mengedarkan pandangannya, Soohye berjalan dengan penuh kewibaan dan angkuh. Lir ibarat model yang sedang mempromosikan pakaian.

Raut wajah seluruh manusia yang ada disini berubah secara bersamaan. Hampir raut wajahnya melukiskan tidak suka dan tatapan merendahkan. Seluruh penghuni kelas termasuk Luhan melihat langkah gadis itu dengan detail. Melihat gadis itu membuat Luhan ingat sesuatu. Namun Luhan tidak ingat dimana ia bertemu dengan gadis itu. Gadis sinis dan angkuh.

Soohye akhirnya duduk beberapa bangku dibelakang tempat Luhan dan kawannya berada, dan setelah itu aktivitas para orang yang terhenti kembali berjalan seperti biasa. Termasuk Luhan dan kawan-kawannya.

“Gadis itu. Ya Tuhan, siapa yang sudi menikahinya? Lihat saja lagaknya seperti orang sok. Tak ada satu pun manusia yang mau dengannya.” Ujar Sehun dengan sangat pelan, hampir tidak ber-volume. Matanya sesekali melirik tak suka ke arah Soohye.

“Dia memang sangat pintar. Namun berbalik dengan kelakuan dan sifatnya.” Ujar Kyungsoo dengan pelan sama persis seperti nada yang terlontar dari bibir Sehun. Matanya secara bergantian menatap Luhan, Sehun, Chanyeol, dan Baekhyun.

Sebuah anggukan mantap dari Chanyeol dan Baekhyun pun terlihat sebagai tanda setuju atas perkataan Sehun dan Kyungsoo. “Aku setuju dengan kalian berdua.” Ujar Baekhyun sembari memberi acungan kedua jempolnya.

“Kita beri julukan yang pantas untuk gadis itu. Kira-kira apa?” tanya Kyungsoo sedikit tertawa.

The Arrogant Girl?” usul Chanyeol.

“Ya, ya, ya! Itu bagus! Kita pakai julukan itu untuknya, hahahah..” ucap Sehun, Baekhyun, dan Kyungsoo hampir bersamaan.

Tinggal Luhan yang belum memberikan sedikitnya pendapat atau apapun itu sejak tadi. Akhirnya, mereka berempat memandang Luhan dengan keheranan.

“Luhan-ah, apa yang kau pikirkan?” tanya Baekhyun dan Kyungsoo bersamaan.

Semua sudah memberikan respon namun tidak dengan Luhan. Ia terlalu sibuk dengan otaknya. Ia memerintahkan otaknya untuk mengingat kembali kapan ia dan gadis angkuh itu bertemu. Luhan terus menggerutu sebal. Ia sesekali mendesis dengan tatapan kosongnya ke arah buku sejarah perkembangan basket. Melihat buku basket itu mengingatkan Luhan akan sesuatu,

“Basket, ya basket! Gadis itu memegang bola basket. Sepertinya, aku bertemunya di.. Aha! Aku bertemunya di gudang penyimpanan bola basket!” batin Luhan.

Walaupun merasa gembira karena ia sudah mengingat kapan ia bertemu gadis itu. Namun Luhan berusaha bersikap biasa saja di depan temannya. Meskipun di depan temannya Luhan sangatlah pendiam, namun penilaian seperti itu sangatlah salah. Luhan anak yang tidak bisa diam.

“Aku pernah bertemu gadis itu sebelumnya,” ucap Luhan agak sedikit bergumam. “Di gudang penyimpanan bola basket.” Ujar Luhan kemudian.

Mendengar perkataan Luhan, mereka berempat langsung memandang datar ke arah Luhan. Baekhyun mengingat sesuatu, matanya langsung membulat dan mulutnya sudah siap untuk berkata tanpa jeda sedikit pun.

“LUH-”

Karena Baekhyun menggunakan suara sedikit berteriak, dengan cepat Sehun menutup lorong mulut milik Baekhyun dengan cepat. “Kurangi sedikit nada bicaramu, Baekhyun-ah.” Suruh Sehun sembari menajamkan matanya kearah Baekhyun. Dan Baekhyun hanya mengangguk pelan.

Mereka bertiga tahu apa yang akan Baekhyun ceritakan pada Luhan. Maka dari itu, Sehun berusaha memerintahkan Baekhyun agar mengurangi volume suaranya untuk antisipasi agar tidak bisa terdengar oleh Soohye.

 

~(˘▾˘)~***~(˘▾˘)~

Tik .. Tok .. Tik .. Tok ..

Suara nyaring dan lumayan keras dari sebuah jam dinding yang terpaku pada dinding sebuah ruangan. Jika diperhatikan lagi, ruangan itu lebih mirip seperti kelas karena ada seorang guru dan segelintiran murid disana.

Karena seorang guru sedang memberikan materi dan pelajaran membuat suasana kelas yang luas itu menjadi sunyi tak bersuara apapun. Hanya ada suara jam dinding dan suara guru yang sedang berbicara dengan muridnya.

Namun aneh tapi nyata. Suara jam dinding yang tadinya keras, sekarang menjadi tidak bervolume. Apa kalian tahu kenapa? Ini semua terjadi karena suara bel pulang sekolah sudah mulai bergema beberapa detik yang lalu dan itu membuat para murid bersorak gembira karena waktunya pulang sekolah sudah tiba.

“Baiklah, pelajaran hari ini selesai. Jangan lupa mengerjakan tugas yang Ibu berikan. Selamat sore.” Ujar seorang guru wanita beranjak keluar kelas.

Setelah guru itu keluar, serempak seluruh penghuni kelas membereskan alat tulis sekolahnya untuk dimasukkan ke dalam tasnya dan bersiap untuk pulang ke rumah. Dari sekian banyak murid di kelas itu langsung memilih keluar kelas sesudah membereskan alat tulisnya. Ada yang bergerombol dan ada juga yang sendiri.

“Luhan,  kau benar tidak akan pulang bersama?” tanya Chanyeol sambil menyikut pundak Luhan.

“Tidak. Aku masih ada urusan.” Jawab Luhan tanpa mengalihkan pandangannya pada sebuah rentetan angka tertera pada buku tulisnya.

Sepertinya, Luhan tengah memahami sebuah materi yang ia tulis dibukunya. Sudah menjadi kebiasaan Luhan sejak kecil, jika ia belum memahami sepenuhnya materi yang diberikan oleh guru, ia akan mempelajarinya sampai ia mengerti dan bisa. Mata Luhan tak henti-hentinya bergerak selagi keningnya yang berkerut samar.

Chanyeol menghela napas dan mengangguk paham. “Aku duluan, Bro!” sambil menepuk pundak Luhan. Tak ada jawaban apapun dari Luhan, karena ia sedang berkonsentrasi penuh.

Akhirnya, Chanyeol berdiri dari kursi yang ia duduki kemudian meninggalkan Luhan. Namun sebelum meninggalkan Luhan sepenuhnya, Chanyeol membalik badannya bertujuan untuk melihat Luhan. Betapa kagetnya Chanyeol ketika melihat sesosok wanita tengah duduk tepat beberapa meja dari Luhan. Chanyeol membelalakkan matanya karena mendapatkan sebuah kenyataan jika ia sedang bertatapan dengan Soohye.

“Mimpi apa aku semalam. Sampai-sampai dia menatapku seperti itu.” Gumam Chanyeol bergidik ngeri ketika ia mendapatkan kontak mata dengan Soohye. Akhirnya, Chanyeol meninggalkan Luhan sendirian—tidak, namun berdua dengan Soohye.

Entah apa tujuan Soohye tidak pulang lebih awal. Namun kelihatannya, ia mencoba mengajak Luhan untuk pulang bersamanya. Mengingat arah pulang Soohye dan Luhan searah.

Sejak tadi, Soohye memantau Luhan dari belakang. Ia penasaran, apa yang membuat Luhan tidak meninggalkan kelas. Soohye sangat ingin mendekati Luhan sekarang juga, namun ia rasa itu tidak pantas. Memikirkan, jika ia adalah seorang gadis sombong, angkuh, dan tidak mau kalah. Tapi tak selamanya Soohye seperti itu, jika gadis itu kelewat penasaran ia akan langsung bertanya.

Soohye sudah mulai menyusun strategi. Ia punya rencana tersendiri untuk mendekatkan dirinya dengan Luhan kemudian mendapatkan hatinya Luhan secara utuh. Soohye terkenal gadis yang tidak putus asa meskipun gadis itu tidak mau kalah. Sesuatu barang yang merasa harus menjadi miliknya—itu memang harus menjadi miliknya menurut Soohye walaupun orang yang memiliki barang itu tidak mau memberikannya.

Hingga akhirnya, Luhan menyudahi aktivitasnya—membuat Soohye langsung menyiapkan diri untuk berakting didepan Luhan, ia akan berpura-pura sakit didepan Luhan. Ia membenahi alat tulisnya lalu memasukkannya ke dalam tas. Soohye terus menatap Luhan dengan kilatan garang sekaligus teduhnya. Soohye menumpuk kedua tangannya diatas meja kemudian menjadikan tangan itu bantalnya yang nyaman. Tak lupa, Soohye memicu dahinya menjadi panas—seolah-olah ia benar-benar sedang sakit.

Luhan bangkit dari kursi yang didukinya saat itu juga, Soohye sudah mulai menghayati aktingnya. Ia menggendong tasnya dengan sangat keren—salah satu talinya saja yang ia letakkan pada dalam pundak #susahamatbuatkata-katanya-_-. Luhan berjalan dengan langkah kecil menuju pintu. Ketika sampai pintu, entah apa yang membuat Luhan berbalik ke belakang.

Pengelihatan Luhan menemukan seorang gadis yang sedang tertunduk lemas pada tangannya. Awalnya, Luhan tidak memperdulikan hal tersebut namun hatinya tergugah untuk mengetahui lebih lanjut mengapa gadis itu diam tak bergeming seperti itu. Luhan berjalan mendekat pada gadis yang sama sekali tak dikenalnya—karena wajahnya menunduk sehingga wajahnya tidak bisa dilihat.

Dengan sangat hati-hati, Luhan menepuk pundak gadis itu. Baru pertama kalinya, Luhan menyentuh seorang gadis. Dan baru pertama kalinya juga, Luhan berbicara pertama pada seseorang karena setiap berbicara pasti lawan bicara Luhan yang akan membuka topik.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Luhan memastikan sembari membungkukkan badannya.

Soohye tersenyum tipis karena aksinya ini sudah mulai berjalan. Dengan pelan, Soohye memperdalam aktingnya. Ia hanya menggeleng lesu sebagai jawaban atas pertanyaan Luhan. Namun Luhan tidak yakin karena Luhan rasa badan gadis itu terasa panas. Luhan mencoba meyakinkan dirinya untuk mencoba menyentuh kening gadis itu.

Luhan membungkukkan badannya agar bisa menggerakkan kepala gadis itu agar dapat menoleh kearahnya. Dengan perlahan, Luhan memutarkan kepala gadis itu. Dan betapa kagetnya, jika itu adalah Soohye. Luhan sudah mengetahui jika Soohye menyukainya sejak pandangan pertama dari teman-temannya tadi –Sehun, Kyungsoo, Chanyeol dan Baekhyun-.

Di pengelihatan kedua mata Luhan. Gadis yang tengah ia perhatikan ini wajahnya bercucuran keringat dingin, pucat pasi, dan bibirnya kebiru-biruan aneh. Luhan menyentuh kening Soohye, dan menurut Luhan, Ini benar-benar panas.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Luhan dengan panik sambil memegangi punggung Soohye.

“Tolong aku…”

.

.

.

(“¬_¬)TBC (˚☐˚!!)

Suratan kecil dari gishafz :

*Senyum nista bareng Baekhyun sama Chanyeol* Bagaimana Chapter satunya sis/bro? .__. Gue alay ye? Yaudahlah maklumin, jarang-jarang ada author alay kayak gue :V

Coba dong, saya minta pendapat kalian mengenai new project saya ini. Walau ceritanya emang mainstream, tapi aku buat si gadis yang arogan dan sombong—kan kadang2 suka laki-laki yang jadi arogan dan sombong. Intinya, gue minta kalian komentar yes?! Mau sepanjang jalur selatan juga boleh. Kritik dan saran sangat diterima dengan senang hati :*

Eh, aku mau nanya dong gais.. Kris itu sebenarnya udah out dari EXO atau belom seh? Aku masih rada bingung gituuh. Yang tau, coba kasih tau author nista ini .______.V

Serius nih guys, aku gak tau mau ngasih cuap apa di Author Note untuk FF ini. Otak aku lagi rada linglung gitu guys, soalnya aku mikirin kelasku –9L- okelah ini curhat namanya. Tapi rapopo, kan? Yang punya tips menjadi anak alim dan jaga image, bisa tolong kasih tau gak? .__.V serius aku ini anaknya humoris, bergaul sama siapa aja *Ceilaaah*, gak suka jaim sama siapapun, ketawa ya ketawa getooh.. Yang tau bagi tipsnya yes :””

Udah ah segitu aja, aku lagi males nulis suratan kecil bebs.. Bye~ Eh iya, mau di lanjut gak? Yang mao lanjooot silahkan komentarnya yes..

Oh yeah, aku lupa sesuatu. Kalau ketemu typo’s dan typing yang menurut kalian salah, tell me! ^^

Copyright © 2014 gishafz.  All rights reserved.

21 pemikiran pada “The Arrogant Girl Fell in Love (Chapter 1)

  1. nei authornya lebih tua aku nei …. kris udah resmi keluar kayaknya gak tau juga sih hehehe …

    jangan lama”” next nya …

  2. Wah.. Soo Hye pintr bnget bkin strateginy^^ cman syang.. Dianya sombong sma angkuh:( mungkin LuHan yg bkal ngubah skapnya^^ daebbak^^ next thor^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s