Innocent Things (Chapter 5)

Innocent Thing Poster

Author            :

LDA/Pitz (@tariganms17)

Main Cast      :

  • Kim Tae In (OC)
  • Oh Sehun (EXO’s Sehun)
  • Jung Soo Jung (F(x) Krystal)

Other Cast     :

Find by yourself

Genre             :

Romance, Family Life, Angst, Sad

Length            :

Chaptered

Rating             :

PG -17

 

DISCLAIMER

Annyeong~ LDA kembali membawa lanjutan cerita epik Oh Sehun, Jung Soo Jung, dan Kim Tae In. Kalian bisa join ke tumblrku tariganms.tumblr.com ^^ Kalau dari kalian baca cerita ini tapi authornya bukan ‘LDA’ atau ‘Pitz’, dipastikan itu “fans” aku hahaha. Namanya juga Fiction, ini hanya fiktif belaka. Cerita ini terinspirasi dari beberapa novel dan drama yang digabungkan sedemikian rupa berdasarkan imajinasi aku sendiri. cast EXO dan artis SMEnt adalah milik Tuhan, Orangtua, dan agensinya. Selebihnya adalah milikku. Thanks for EXOFanFiction’ Admins and all of you^^ Perhatikan Rating sebelum membacanya, karena ada konten dewasa di beberapa bagian. Don’t be Secret Readers, Please. WARNING! Typo Everywhere~ R C L, Please!!^^

Don’t copy this story without any permission!

HAPPY READING©©

Hye Ri membekap mulutnya—matanya terbelalak, syok. Ia masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar. ‘mereka masih hidup?’ ’15 tahun berlalu?’ ‘Pembunuh bayaran’? Apa yang sebenarnya Jong Hyun lakukan 15 tahun yang lalu?!

*****

Jong Hyun terduduk kesal di kursi dekat kamarnya. Ia memukul dinding sesekali. Ia terlihat sangat syok karena percakapan itu. Ia mengacak-acak rambutnya yang sudah terlihat memutih.

“Mana mungkin mereka berdua masih hidup? Park Yoo Ri dan anaknya tidak mungkin bisa lolos dari kecelakaan itu. Itu sudah berlangsung 15 tahun yang lalu. Aku harus mencari keberadaan Park Yoo Ri dan anaknya sebelum semuanya yang telah aku lakukan di masa lalu terbongkar. Andwae!!!

Ia lalu pergi ke kamar mandi di lantai bawah rumahnya untuk mengurangi stresnya. Ia harus terlihat baik-baik saja di depan Hye Ri.

“Hye Ri tidak boleh tau tentang hal ini. Ini masa laluku. Aku harus menghabisi Park Yoo Ri dan anaknya karena merekalah yang tau tentang apa yang aku lakukan selama ini. Anaknya mungkin seumuran dengan Hye Ri sekarang. Bisa saja ia akan membantu ibunya mencari tau dan akan—Ah andwae!!” Jong Hyun membasuh mukanya dengan air—kasar. Pikirannya benar-benar kacau sekarang.

*****

aku mendengar kabar tentang mereka berdua dari seorang teman yang dulu membantuku mensabotase kendaraan Man Soo. Kita berdua sedang berada di posisi terdesak. Aku menyesal menyetujui perjanjian kita dulu. Aku yakin jika mereka berdua sedang mempersiapkan diri untuk melaporkan kejadian itu pada polisi. Jika itu sampai terjadi, aku sudah tidak mau berurusan dengan hal dan aku akan melarikan dari Korea Selatan, bahkan sekang pun aku sudah berkemas untuk melarikan diri. Jika kau sampai menyeretku juga, kau yang akan merasakan akibatnya. Aku pikir kau masih ingat dengan peristiwa 6 bulan yang lalu itu, Jong Hyun-ssi.

Kau mengancamku?! Beraninya kau, kepar*t?!

Aku tak mengancam, hanya ingin mengingatkanmu saja. Kau terlalu serakah, Jong Hyun-ssi. Selamat tinggal

Tunggu kau, pengecut–Halo? Sial!!

*****

Sehun sampai di rumahnya yang masih diberi garis polisi. Ia melihat ke sekitarnya—ia tidak ingin seorangpun melihatnya masuk kedalam rumahnya sendiri.

Sehun menutup pintu masuk perlahan. Ia bergegas mencari petunjuk untuk mempercepat proses penyelidikan kasus pembunuhan yang terjadi pada orangtuanya. Ia masuk ke ruang kerja ayahnya yang masih terlihat rapi. Sehun mulai mencari di tumpukan berkas kantor ayahnya. Ia menemukan berkas berisi perjanjian jual beli saham perusahaan ayahnya. Ia memisahkan berkas itu dengan berkas lain. Ia menelisik ke seluruh sudut ruangan itu, namun tak ada yang bisa ia bawa pulang selain berkas jual beli saham yang ia temukan tadi.

PREKK

Sehun—secara tidak sengaja—menyenggol figura foto yang ada di meja ayahnya. Ia mengambil foto dari figura yang sudah pecah itu. 2 orang pria saling merangkul 1 sama lain—itulah yang Sehun lihat dari foto itu. Ia membalikkan foto itu. Di sudut kanan bawah belakang foto itu, terdapat tulisan “Oh Yun Ho & Jung Man Soo, 14 September 1992.”

“Foto ini diambil 1 tahun sebelum appa  menikahi eomma. Jung Man Soo—aku harus mencari tau tentang orang ini. Mungkin saja jika aku bisa menemukan informasi tentang orang ini, misteri pembunuhan appa dan eomma akan ikut terungkap,” Sehun melipat foto itu dan memasukkannya ke saku celananya. Dengan membawa berkas jual beli saham itu, Sehun bergegas pergi dari rumah itu.

*****

Tae In menikmati suasana sore di taman rumahnya. Duduk sendiri di bangku taman membuatnya didera rasa kesepian. Lagi-lagi ia memikirkan ibu dan kakaknya. Ia begitu merindukan mereka. Ia tidak betah berlama-lama di rumahnya karena ia tidak memiliki seseorang yang bisa diajak berbicara dan bersenda gurau selain ibu dan kakaknya.

“Aku sangat merindukan masa-masa indah saat eomma dan oppa menemaniku di rumah ini. Hidupku seperti tidak berarti jika kalian tidak ada di sampingku. Aku tidak bisa menunggu lagi, aku akan mencari Oppa sekarang,” Tae In bergegas mengganti baju dan mencari ide bagaimana ia bisa pergi tanpa kawalan pengawalnya yang semakin memperketat penjagaan terhadapnya.

“Semoga rencanaku berhasil kali ini,” rambutnya dikuncir kuda—dengan menggunakan pakaian olahraga berwarna jingga miliknya dan melingkarkan handuk kecil di pundaknya, ia bergaya seperti akan berolahraga di sekitar rumahnya.

Agasshi, kau mau kemana? Agasshi tidak boleh pergi kemana-mana, tidak aman untukmu,” Seorang pengawal menghalangi jalan Tae In. Tae In mendengus kesal.

“Kau lebih memilih untuk melihatku minum ketimbang olahraga untuk kesehatanku? Aku ingin jogging di sekitar sini saja, masih tidak boleh juga, hah?” Tae In mendongak ke pengawalnya itu, berusaha meyakinkan pengawalnya itu kalau ia hanya keluar di sekitar rumahnya.

Agasshi, rumah anda kan luas. Sebaiknya anda berolahraga di dalam rumah saja,”

“AKU TIDAK MAU. JIKA KAU TETAP TIDAK MEMBUKAKAN PINTU UNTUKKU, AKU AKAN BILANG PADA SAJANGNIM KALAU KALIAN MELARAGKU UNTUK BEROLAHRAGA!!!” Tae In berteriak pada pengawal itu—mengancamnya agar ia membukakan pintu untuknya.

“Jangan, agasshi! Baiklah, kau boleh keluar asalkan kami ikut menemani agasshi.” Ujar pengawal itu.

“Boleh saja. Asalkan kalian ganti pakaian kalian dengan pakaian sepertiku. Aku tidak mau disebut sebagai gadis sombong oleh orang-orang yang melihatku nanti jika aku bersama kalian yang berpakaian seperti ini. Aracchi?” Pengawal itu mengangguk dan meninggalkan Tae In di depan gerbang yang tidak dijaga oleh siapapun untuk berganti pakaian.

“Walaupun melenceng dari rencana awal, tapi kelihatannya ini berjalan lancar,” Tae In menyunggingkan senyum liciknya dan membuka gerbang perlahan lalu ia berlari sekecang-kencangnya menjauhi rumahnya—atau yang biasa ia sebut neraka—itu.

“TAE IN AGASSHI!! JANGAN KABUR!!” para pengawal yang merasa dibodohi oleh Tae In langsung mengejar Tae In yang sudah berlari sangat jauh sampai mereka kehilangan jejak anak majikannya itu.

“BODOH!! Bisa-bisanya kita dibohongi gadis 18 tahun itu!” Pengawal itu kembali ke rumah Tae In karena mereka terlambat mengejarnya.

*****

Detak jantung Tae In berdetak sangat cepat.  Ia mengatur nafasnya yang terdengar lelah karena berlari sangat cepat untuk menghindari kejaran para pengawal yang sudah ia bodohi agar kembali normal. Ia mengusap keningnya yang basah dengan lengan bajunya. Ia bersembunyi di sebuah gang sempit yang lumayan jauh dari rumahnya. Dengan melihat kearah sekitar, ia keluar dari gang itu dan mulai melakukan pencarian.

Hari sudah mulai malam. Tae In terlihat sangat kehausan. Ia tidak membawa dompet atau uang sepeserpun untuk membeli minuman untuk sekedar mengurangi rasa hausnya. Perutnya pun mulai bersuara karena lapar. Ia terduduk di trotoar, memegang perutnya yang sakit karena lapar. Ia terlihat sangat lelah.

Tae In memutuskan melanjutkan pencarian terhadap kakaknya. Ia menyebrangi jalan yang sangat ramai. Kepalanya sudah mulai terasa pening dan pandangannya mulai kabur sehingga ia tidak bisa melihat dengan jelas lampu penyebrangan. Ia terus berjalan tanpa menghiraukan suara klakson kendaraan yang melintasinya. Ia terjatuh di zebra cross—mencoba bangkit namun badannya sangat lemas. Sebuah mobil sport berwarna hitam nyaris menabrak tubuhnya yang tergolek lemas tanpa seorangpun menolongnya. Si pengemudi itu keluar untuk melihat kondisi gadis itu. Ia menggendong gadis itu—menidurkannya di kursi belakang mobilnya dan langsung membawa gadis itu pergi.

*****

Tae In terbangun di sebuah ruangan yang terlihat asing baginya. Ia melihat sebuah gelas berisi teh hangat di taruh di sebelahnya. Ia berusaha untuk bangun untuk meminumnya karena ia kehausan, tapi kepalanya masih terasa pusing. Ia memegangi perutnya yang masih saja meronta minta untuk diberi makanan. Seorang wanita masuk dan menghampirinya. Tae In yang takut—meminggirkan tubuhnya ke sisi lain tempat tidur untuk menghindari wanita  itu.

“Kelihatannya kamu sudah bangun. Ada apa dengan perutmu? Kamu pasti lapar. Tunggu sebentar ya, Tae In-ya” Tae In kaget. Bagaimana bisa wanita itu tau namanya dan memanggilnya ‘Tae In-ya’, panggilan dari kakak dan ibunya untuknya? Wanita itu keluar meninggalkan Tae In. Tae In yang melihat tangannya masih memegangi perut—tersenyum kecut.

Beberapa menit kemudian, wanita itu masuk sambil membawa nampan berisi makanan. Wangi makanan itu merangsek masuk ke indra penciumannya, membuat perutnya bersuara sampai suaranya terdengar oleh wanita itu.

“Suara perutmu lucu sekali. Makanlah. Kamu pasti sangat lapar sampai perutmu bersuara seperti itu,” wanita itu tersenyum ramah padanya, membuat rasa takutnya pada wanita itu seketika hilang.

Kamsahamnida, ahjumma,” Tae In langsung menyerbu mangkok berisi bubur dan langsung memakannya dengan lahap—membuat wanita itu tersenyum kecil.

“Pelan-pelan saja makannya, nanti kamu terse—“ baru saja wanita itu akan mengingatkan, Tae In terbatuk karena tersedak. Dengan rasa keibuan, Wanita itu memberikan teh hangat padanya.

*****

ahjumma, terimakasih atas makanan dan minumannya. Maaf sudah merepotkan anda. Saya harus segera pergi karena urusan saya belum selesai. Kamsahamnida,” Tae In membungkukkan tubuhnya sebagai ucapan terimakasihnya. Wanita itu memegangi tangan gadis itu—mencegahnya untuk pergi.

“Jangan pergi. Tinggallah disini. Kondisimu belum begitu sehat. Berbaringlah lagi,” Wanita itu tersenyum dan mendudukkan gadis itu di tempat tidur. Tae In merasa ada sesuatu yang ia rasakan saat wanita itu memegang tangannya, tapi ia tidak tau perasaan apa itu.

“Saat ini aku sedang mencari seseorang. Maka dari itu, aku harus pergi dari sini. Jika ahjumma mau, aku akan berkunjung kesini lain kali. Tolong izinkan aku pergi—“ belum selesai Tae In berbicara, seorang pria tinggi menghampiri mereka berdua.

“Kau anak dari Kim Jong Hyun, kan?” Tae In terbelalak saat pria itu bertanya padanya—ia tidak menyangka jika pria itu mengenalinya, sedangkan ia tidak mengenal pria itu.

“Bagaimana Ahjussi tau tentang itu?” tanya Tae In—bingung.

“Tinggallah disini. Aku mengenal appamu. Dan aku tau sedikit tentang keadaan keluargamu. Perkenalkan, Shim Changmin imnida. Dan yang kau sebut ahjumma ini noonaku, Shim Jimin.” Tae In kaget. Marga kedua orang ini sama dengan marga ibunya, Shim Minra

ahjussi dan ahjumma mengenal appaku dan tau namaku juga. Dan marga ahjussi dan ahjumma pun sama seperti marga eommaku. Apakah kalian berdua adalah keluargaku? Mengapa aku tidak mengenal kalian sama sekali?” Tae In masih terlihat kebingungan. Ia pikir, bagaimana bisa 2 orang ini mengenalinya dan keluarganya seolah-olah mereka sangat dekat dengan keluarga Tae In tapi Tae In sendiri tidak mengenali mereka sama sekali.

“Kau kabur dari rumah pasti karena ingin mencari keberadaan Jong In, benar begitu?” Changmin berusaha mengalihkan pertanyaan Tae In. Tae In kembali dibuat terkejut saat pria bernama Shim Changmin itu menanyakan soal tujuan kepergiannya dari rumah. Tae In hanya bisa mengangguk—pikirannya masih berusaha untuk mencerna apa yang terjadi padanya hari ini.

“Tae In-ya, belum saatnya untukmu mengetahui semua ini. Tapi yang jelas, kami berdua akan membantumu dan juga oppamu agar kalian bisa hidup bahagia lagi,” perkataan wanita itu sontak membuat air mata Tae In pecah—bagaimana tidak? Walaupun nanti ia akan berkumpul bersama kakaknya lagi, rasa kehilangan ibunya membuatnya sedih karena itulah sesungguhnya kebahagiaan baginya, hidup damai bersama ibu dan kakaknya.

Uljimayo, Tae In-ya,” wanita itu membawa Tae In ke pelukannya—mencoba menenangkan gadis itu. Entah kenapa, Tae In merasakan kehangatan yang ia rindukan dari pelukan seorang ibu saat wanita bernama Shim Jimin itu memeluknya.

“Beristirahatlah. Aku akan mengurus cuti kuliahmu mulai hari ini. Jadi, kau tidak usah khawatir. Kami akan berusaha menjagamu agar tidak dijemput paksa oleh pengawal pribadi suruhan appamu.” Pria yang terlihat lebih muda dari ayahnya ini tersenyum lalu meninggalkannya bersama Shim Jimin.

“Ohya, mulai hari ini, aku akan memberikan ponsel sekaligus nomer baru untukmu. Jangan sampai mereka tau tentang keberadaanmu. Pakailah,” Pria itu kembali ke kamar dengan membawa sebuah kotak ponsel untuknya.

Kamsahamnida, ahjussi.

“Bukankah mulai hari ini kita adalah keluarga? Berhenti memanggilku seperti itu. Anggap saja aku ini pamanmu dan Jimin noona adalah bibimu,” Shim Changmin tersenyum lalu pergi sambil mengenakan jas berwarna putih yang sedari tadi dibawanya.

“Kamu tenang saja. Kami tidak akan berbuat jahat padamu. Kami ingin membantumu karena sekarang kita adalah keluarga. Keluarga itu harus saling menyayangi dan saling membantu anggota keluarganya jika mereka memiliki masalah, bukan begitu, Tae In-ya?” wanita yang sekarang menjadi bibinya itu mengelus rambut Tae In—lembut, membuat Tae In merindukan ibunya yang selalu melakukan hal yang sama setiap ibunya menasihatinya dulu.

“Bibi benar,” Tae In tersenyum lebih lepas dibandingkan beberapa saat lalu

“Bibi tinggal, ya. Istirahatlah agar tubuhmu bisa fit lagi,” Jimin mencium kening Tae In, membuatnya tertegun beberapa saat lalu keluar meninggalkan Tae In yang tersenyum padanya.

“Untuk pertama kalinya ada yang mencium keningku seperti yang biasa eomma lakukan. Rasanya tidak jauh berbeda. Mungkin karena aku merindukanmu, eomma,” Tae In mengusap kening yang dicium Shim Jimin, tersenyum lalu merebahkan diri di ranjang.

TO BE CONTINUED

 

Author tunggu kritik dan sarannya di bawah ini ya readers yang paling author cintai /dadah dadah/. Kalau respon kaliannya bagus, aku bakal berusaha buat melanjutkan FF ini sampai chapter terakhir. Hwaitinggg!!!!

25 pemikiran pada “Innocent Things (Chapter 5)

  1. kya kya~ itu seru banget… gimana lanjutannya?? lanjutiiiin…panjangin jugaaa…. aku jadi suka OC tae il deh, ga tau kenapa -_-

  2. Lanjut thor, penasaran ada hubungan apa antara changmin jimin sma tae in
    mian y d chap sebelumnya ak gak komen krn ada masalah pas mau kirim komennya 🙂
    hwaiting terus thor ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s