Dream Or Survive

Dream or Survive

photo

Author: Anno

EXO Kim Jongin

Family, Sad

General ǁOneshot

 

Summary:

“ Jonginhanyapunyaduauntukhidupnya, yaitumimpidanbertahan,                                                                

tetapiiahanyadapatmemilihsatu di antaranya”

 

berhentimenari,berartitakadaalasan lagiuntukbertahan―Kim Jongin

***

 

Jongin merasa tubuhnya melayang terbang di bawah atap putih yang panjang. Dia yakin kalau terbang rendah seperti ini rasanya akan jauh lebih menyenangkan andai saja tidak disertai suara-suara yang sangat mengusik kedua telinganya. Suara gesekan roda dengan lantai, suara banyak langkah kaki yang terdengar begitu buru-buru, suara seorang laki-laki yang memberi berbagai perintah dengan cepat, suara napas berat dan satu-satu yang nyatanya adalah napasnya sendiri.

Jongin…

Jongin…

Dan suara rintihan ibunya yang paling mendominasi dari seluruh suara di indera pendengarannya.

Jongin menolehkan wajahnya perlahan ke samping di tengah kesadarannya yang semakin menipis.Pada sosok ibunya yang berdiri―dan berlari―di sampingnya. Ia melihat wajah wanita itu basah dan kedua matanya merah.

Ibunya menangis lagi.

 

***

 

Jongin terbangun dengan suasana yang lebih familiar dari kamarnya sendiri. Sesak di dadanya sudah menghilang, menyisakan sedikit kebas yang tak ia hiraukan. Ini sudah biasa. Justu masker oksigen itu yang hingga kini masih tetap membuatnya tak nyaman. Dan ketika ia hendak menyingkirkan masker itu dari mulutnya, sebuah tangan lebih dulu mencegahnya.

“ Jangan nak, kau masih memerlukannya” suara sang ibu menghampiri telinganya dengan lembut. Menarik sebelah tangan Jongin kembali terkulai di samping tubuhnya. Jongin menurut tanpa kata.

“ Hei, jagoan kecil ayah” kali ini berganti suara berat sang ayah menyapanya. Jongin membenci sebutan itu. Hey, dia sudah 20 tahun! Seolah-olah ayahnya tidak sadar bahwa umur Jongin bahkan sudah melewati masa remaja dan siap menginjak tahap untuk menjadi laki-laki yang sebenarnya. Mungkin ayahnya yang gila pekerjaan itu tidak memperhatikan pertumbuhan Jongin selama ini, karena ayahnya lebih banyak menghabiskan waktu di tempat lain selain rumahnya. Dan itulah yang sebenar-benarnya membuat Jongin menaruh amarah pada pria paruh baya itu.

Masih bungkam, Jongin memalingkan mukanya lurus ke depan. Tak menghiraukan tatapan cemas dari ibu, ayah dan Jongdae kakak lelaki satu-satunya. Memandangi langit-langit kamar dalam diam sebelum kemudian orangtuanya keluar untuk menemui dokternya, menyisakan ia bersama Jongdae di dalam kamar rawat.

“ Seharusnya kau tak melakukan itu, Jongin” Kim Jongdae berkata dengan suara rendahnya. Ia menduduki kursi di samping tempat tidur Jongin yang tadi digunakan ibunya.

Jongin tahu benar apa maksud itu yang dikatakan oleh kakaknya.

“ Kau tidak tahu betapa cemasnya kami saat mendengar kau kolaps lagi, terutama ibu”

Kolaps lagi.

Nada suara Jongdae sarat akan kelelahan dan putus asa di balik usahanya agar terdengar tajam, seakan ingin mengancam adiknya. Jongin tahu itu. Sangat mengerti. Sehun sahabat karibnya juga sudah melarangnya keras. Akan tetapi Jongin tidak bisa menang dari egonya. Ego untuk mempertahankan keinginannya. Mimpinya.

Jongin hanya bermimpi. Dan ia berhak memperjuangkan mimpinya. Hanya itu. Tak bolehkah?

 

***

 

Jongin cinta menari. Menari adalah harta satu-satunya yang ia punya. Jongin membangun mimpi itu bahkan sebelum ia lancar menyelesaikan soal perkalian pada pelajaran matematika. Jongin tidak peduli pada apapun selain menari.Ia sudah menghabiskan sebagian besar waktu dalam hidupnya untuk itu. Hingga akhirnya Miss Hwang sang pelatih memberikan tawaranuntuk melanjutkan studi ke sekolah tari ternama di Jerman, sebab Jongin adalah murid kebanggaan. Satu langkah lagi untuk Jongin meraih mimpi terbesarnya. Impian menjadi penari ballet profesional. Namun, satu penghalang pula sempurna menghancurkan impian Jongin.

Satu penghalang itu adalah jantungnya sendiri. Jantung yang tak pernah sependapat dengan sang pemilik. Dan Jongin tak mampu berbuat apa-apa bila si jantung sudah menentangnya keras untuk tidak menari lagi. Karena hal itu pula semua orang yang semula mendukung penuh atas mimpinya kini berbalik arah ikut menentangnya juga.

Sungguh, Jongin tidak berharap selain hanya agar dia bisa menari di sepanjang sisa hidupnya.

 

***

 

Sore itu Jongin mencoba nekat untuk pergi ke taman rumah sakit seorang diri, selagikedua orangtua dan hyung-nya belumdatang.Biasanya ibu dan Jongdae kembali sekitar pukul lima sore, sementara ayahnya hanya berkunjung saat matahari sudah benar-benar tenggelam. Di taman, Jongin memilih bangku panjang tepat di bawah pohon ek yang besar. Di depannya tersaji sebuah kolam ikan kecil yang ramai anak-anak balita beserta beberapa suster yang setia mengawasi.

Jongin memperhatikan mereka dalam diam. Mereka begitu ramai penuh tawa, sementara Jongin butuh ketenangan. Ia pikir taman adalah tempat yang tepat untuk merefresh otaknya dari kepenatan. Tapi nyatanya tidak, Jongin salah tempat. Tak ada yang bisa membuatnya tenang selama masih terkungkung di dalam tempat ini. Jongin membenci rumah sakit.

Dan sepertinya Jongin mulai membenci banyak hal yang ada di dunia ini. Termasuk hidup tak berguna-nya sendiri.

Ketika Jongin hendak kembali ke kamarnya, sesosok gadis muncul bersama kursi rodanya dan berhenti tepat di samping bangku yang Jongin tempati. Jongin tidak akan mempedulikannya kalau saja gadis itu tidak memberinya sebuah note kecil.

Ya, gadis itu langsung meletakkan note kecil kepunyaannya di pangkuan Jongin tanpa sepatah kata.

‘Hallo..’

Satu kata itulah yang Jongin baca pada halaman pertama note itu. Ditulis dengan huruf berukuran penuh sehalaman menggunakan tinta biru tua. Gadis itu menyapanya dengan tulisan. Jongin segera melarikan tatapannya pada sang gadis. Melihat kaki kirinya yang dibungkus gips dan beberapa luka yang masih baru di kulitnya Jongin menebak gadis ini adalah korban kecelakaan.

Si gadis tersenyum ramah menampilkan seluruh deretan gigi depannya pada Jongin. Satu tangannya kembali meraih notenya yang belum Jongin sentuh sama sekali. Ia menulis lagi beberapa saat lalu memberikannya kembali pada Jongin yang masih terpekur di tempatnya.

‘ Salam kenal, Kim Jongin. Apa kau pasien baru di sini? Karena aku baru melihatmu’

Jongin mengernyitkan dahi. Bagaimana dia bisa tahu namanya bahkan dengan lengkap? Namun begitu si gadis mendaratkan tatapannya pada gelang identitas di pergelangan kiri Jongin, laki-laki itu mengerti.

Bicara tentang pasien baru, bukankah seharusnya Jongin yang bertanya seperti itu? Jongin hendak menjawab dengan ‘Kalaurumah sakit ini sudah menjadi rumah kedua bagiku, menurutmu siapa yang pasien baru?’, tetapi sebuah pikiran yang melintas dengan tiba-tiba lantas mengurungkannya. Ia justru menjawab,

“ Apa kau punya impian?”

Jongin tahu jawaban berupa pertanyaan yang terlontar dari bibirnya baru saja terdengar sangat aneh. Ia bahkan tidak tahu nama si gadis yang kini menatapnya bengong,tapi bisa-bisanya dia melontarkan pertanyaan seperti itu. Jongin sendiri merasa aneh, jadi ia pikir wajar jika gadis itu tidak menjawabnya. Akan tetapi di luar dugaan si gadis berlaku sebaliknya. Meski tampak terkejut beberapa saat, gadis itu kemudian mengambil lagi note dari pangkuan Jongin untuk memberikan jawabannya.

Kali ini ia tak lagi menaruh note itu di pangkuan Jongin. Hanya mengangkatnya di hadapan Jongin agar lebih mudah terbaca.

‘Punya’

Hanya satu kata itu yang tertulis. Namun entah mengapa Jongin justru menjadi ingin tahu.

“ Apa impianmu?”

Tidak seperti sebelumnya, gadis itu kali ini terlihat ragu. Ia berpikir beberapa saat. Mungkin menimbang keputusan apakah ia harus memberi tahu atau tidak kepada orang asing yang bahkan tak tahu namanya di hadapannya sekarang. Dan cukup mengejutkan bagi Jongin saat melihat gadis itu kembali menulis dan menunjukkan jawaban di notenya pada Jongin.

‘ Bernyanyi’

Jongin hampir tersedak ludahnya sendiri. Untung saja jantungnya yang malang tidak menunjukkan reaksi yang berlebihan.

“ K-kau bisa bernyanyi?” tanyanya dengan suara tercekat, dandetik itu juga Jongin agaknya menyesal. Seharusnya dia bisa lebih mengontrol reaksinya. Ini sudah jauh dari batasnya. Bukan hal yang benar mengorek privasi seorang gadis yang bahkan tidak bisa disebut kenalannya karena nama gadis itu masih tersimpan dari Jongin.

‘ Aku bisa bernyanyi sebelum sebuah kecelakaan membuat pita suaraku kehilangan fungsinya’

Jongin menahan napas.Gadis ini kehilangan fungsi pita suaranya. Gadis ini tidak bisa bernyanyi lagi.

Gadis ini… kehilangan impiannya.

Jongin tidak tahu bagaimana takdir seakan mempermainkan hidupnya. Ia kehilangan segala mimpinya. Dan kini ia dipertemukan seseorang yang bernasib sama sepertinya. Mengapa? Untuk apa? Agar Jongin merasa terhibur setelah mimpinya direnggut dan merasa bahwa ia tidak menderita seorang diri di dunia ini? Oh, kalau memang benar begitu Jongin tidak pernah merasa lebih baik.

‘ Kau?’

Jongin membaca note yang kembali berada di pangkuannya. Lalu sejenak irisnya beralih pada sosok gadis dengan senyum tersungging di bibirnya. Senyum yang tulus karena kedua mata si gadis ikut menyipit tersenyum. Bagaimana? Di saat ia kehilangan segalanya bagaimana gadis itu masih bisa tersenyum untuk dunia yang kejam ini?

Jongin kembali pada note mungil itu. Menarik pena biru dari tangan si gadis, ia memutuskan untuk memberi jawaban melalui tulisan yang cukup panjang. Setelah selesaiJongin menyerahkannya kembali pada si gadis.

‘ Aku suka menari. Menari adalah hidupku. Dua tahun yang lalu aku jatuh dari panggung tariku dan kecelakaan itu melukai katup jantungku. Mereka semua menyuruhku untuk berhenti. Karena jantungku, tak lagi suka aku menari.’

Satu menit kemudian, si gadis mengangkat wajahnya untuk menatap Jongin. Senyumnya memudar dan hilang sempurna. Membuat Jongin tertegun. Bagaimana gadis ini justru bersedih untuk Jongin sementara ia seharusnya menangisi mimpinya yang pergi?

‘ Jongin suka jenis tarian apa?’

“ Ballet, kau? Kau suka musik apa?”

‘ Ballad’

Jadi Jongin suka ballet, dan si gadis suka ballad.

 

***

 

‘ Namaku Kim Eunmi’

Saat Jongin kembali ke taman di jam yang sama keesokan harinya, ia sudah melihat si gadis berada lebih dahulu di sana bersama kursi rodanya. Gadis itu kembali menyodorkan notenya begitu Jongin duduk di bangku yang sama.

‘ Marga kita sama-sama Kim. Kebetulan sekali’

Kebetulan sekali. Banyak kebetulan sekali yang terjadi di antara mereka. Dan Jongin tak percaya dengan yang namanya kebetulan. Segalanya sudah diatur. Seperti yang ia pikirkan dari awal. Pertemuan mereka sesungguhnya telah tertulis dalam catatan si takdir, yang Jongin masih tak mengerti mengapa dia―si takdir―menghadirkan Kim Eunmi dalam hidup Jongin saat ini.

Jongin hanya tersenyum tipis menanggapi antusiasme gadis bernama Kim Eunmi ini. Kalau dilihat-lihat, Eunmi sepertinya lebih muda darinya. Sekitar satu sampai dua tahun.

‘ Jongin, aku sudah bertanya tentang jantungmu pada dokterku. Dokter Han bilang, Jongin masih bisa mempertahankan impian Jongin kalau Jongin mendapatkan donor jantung. Jongin bisa sembuh kok’

Jongin terkesiap membaca deretan tulisan rapi itu di note milik Eunmi. Tulisan yang sudah dipersiapkan Eunmi sebelum bertemu dengannya, sehingga Jongin bisa langsung membacanya tanpa perlu menunggu Eunmi menulis terlebih dahulu.

Lelaki itu kehilangan kata-katanya. Sama sekali tidak menyangka Eunmi akan melakukan hal ini untuknya. Mereka baru berkenalan satu hari. Tapi Eunmi, mengapa dia―?

Eunmi membalikkan kertas memperlihatkan tulisan baru di notenya. Masih dengan senyum yang sama seperti kemarin, gadis itu menyerahkan notenya untuk dibaca kembali oleh Jongin.

‘ Aku juga, masih punya kesempatan. Kalau aku rajin terapi pita suaraku akan kembali normal. Jadi Jongin, bagaimana kalau kita sama-sama berusaha? Aku akan rajin terapi dan Jongin harus bersabar menunggu malaikat pendonor jantung untuk Jongin. Lalu kita lihat nanti siapa yang lebih dulu meraih impiannya, hmm?’

“ Bagaimana kalau aku bosan menunggu pendonor jantung itu datang?” Jongin bertanya tanpa sadar. Kim Eunmi juga tampak cukup terkejut mendengar pertanyaannya. Namun gadis itu tetap kembali menuliskan jawabannya.

‘ Kalau Jongin mau, aku akan menemani Jongin. Menunggu sendiri mungkin akan bosan tapi kalau bersama-sama pasti akan terasa lebih cepat.’

“ Aku tidak mau” sahut Jongin ketus. Jongin tidak suka Kim Eunmi memberinya harapan.Sama seperti kedua orang tua dan kakaknya. Setahun yang lalu mereka bilang Jongin akan sembuh. Tapi nyatanya tidak begitu. Sampai tahun berikutnya. Keadaan Jongin justru semakin hari semakin tambah parah.

‘ Aku tidak akan memaksamu. Tapi kalau untuk bertahan, Jongin harus. Kalau bukan demi impian Jongin, bertahanlah demi orang-orang yang menyayangi Jongin. Ayah dan ibu Jongin, saudara Jongin, dan teman-teman Jongin’

Jongin menatap Kim Eunmi lurus. Tak mengerti bagaimana jalan pikiran gadis di hadapannya ini. Lalu ketika Eunmi memberikan notenya untuk terakhir kali sebelum meninggalkan taman, Jongin membeku di tempatnya untuk waktu yang cukup lama.

‘ Jongin, kau yang paling tahu bagaimana rasanya kehilangan. Jadi jangan biarkan orang-orang yang menyayangi Jongin merasakan hal yang sama karena harus kehilangan Jongin’

 

***

 

Tak ada hentinya Jongin memikirkan kata-kata Kim Eunmi tadi sore. Jongin tentu saja tahu kalau ia masih punya kesempatan untuk sembuh dengan jantung baru dari pendonor. Tapi Jongin sudah menunggu selama dua tahun. Mereka menanti dengan begitu sabar, Jongin dan keluarganya.

Namun hingga saat ini mereka seakan masih jauh dari kepastian. Kabar bahagia tak kunjung tiba. Harapan tak jua dikabulkan. Sementara tubuh Jongin tak kuasa menunggu lebih lama lagi. Jongin menjadi lebih banyak sakit daripada masa sehatnya. Jongin lebih banyak tinggal di rumah sakit daripada di rumahnya. Dan Jongin benar-benar harus menghapus kecintaannya terhadap dunia menari.

Lalu bagaimana dengan keluarga Jongin? Mereka selalu berusaha, pantang menyerah untuk yang terbaik. Untuk kesembuhan Jongin. Ibu yang selalu menitikkan air mata setiap kali Jongin lagi-lagi kolaps, Jongdae dengan amarahnya untuk kebaikan Jongin, dan ayah yang selalu memanggil ‘jagoan kecil’ untuk menunjukkan kasih sayangnya.

Jongin tak pernah memikirkan hal itu. Selama ini pikirannya terlalu pelik hanya berputar pada mimpinya yang telah hilang. Selalu memaksakan tubuhnya untuk terus menari dan menyingsingkan kekhawatiran mereka yang Jongin anggap menghalangi mimpinya.Sampai pada akhirnya ia jatuh lagi dan lagi.

Dari kata-kata Kim Eunmi, Jongin akhirnya menyadari bahwa ia harus bertahan. Bukan untuk bisa menari lagi, tapi demi mereka yang menyayanginya. Mereka yang akan bersedih kalau Jongin harus pergi. Dan Jongin paling benci melihat ibunya menangis.

Akan tetapi, bagaimana caranya bertahan? Kalau bertahan itu seperti Jongin yang terus menari dengan dadanya yang sesak, atau Jongin yang berusaha membuka mata karena ibumemintanya untuk tetap sadar saat kolaps, Jongin mungkin masih bisa mengatasinya. Tapi, apakah cara bertahan hidup yang dimaksud Kim Eunmi juga seperti itu? Jongin tidak tahu.

“ Tidurlah, nak. Ini sudah larut malam” suara sang ibu memecah lamunan Jongin.

Jongin menurut. Ia hanya memandangiwajah ibunya saat wanita itu merapikan selimutnya dan mengecup keningnya singkat. Jongin tahu, wanita ini tidak pernah merasa lelah untuknya.

“ Ibu, aku ingin sembuh” Jongin bergumam sangat pelan sebelum obat membawanya ke dalam tidur yang nyaman.

 

***

 

Baru semalam Jongin merasa teramat antusiasmengetahui esok harinya ia akan meninggalkan rumah sakit.Baginya cukup satu minggu terkurung di tempat ini. Dokter Lee sudah memberikan ijin untuk pulang dengan persyaratan Jongin tidak boleh melakukan aktifitas yang berat, termasuk menari. Jongin sudah tak masalah. Menari bukan lagi menjadi prioritas.

Malam itu Jongin yang bersemangat sudah mempersiapkan semuanya. Namun,betapa sayang dia harus menelan kebahagiaan kecilnya itu saat pagi di hari yang seharusnya menjadi hari kepulangannya, sistem kerja jantung Jongin justru menurun drastis.

Ketika pertama kali Jongin kembalimembuka mata, yang ia dapati adalah tubuhnya yang mati rasa, dadanya yang lebih berat dari biasanya dan sebuah kamar yang suasananya jauh lebih mencekam. Kamar yang ia tahu memiliki singkatan ICU, adalah kamar untuk orang-orang yang sekarat.

Jadi kesimpulannya, Jongin sekarat? Tapi bagaimana bisa? Baru dua malam yang lalu ia bertekad untuk bertahan meski tidak tahu bagaimana caranya. Jongin sungguh tidak mengerti. Begitu pula ia tak tahu bagaimana caranya bertahan di saat kondisi sekarat. Apakah Jongin harus membuka mata terus untuk meyakinkan bahwa dirinya masih bisa melihat dunia? Tapi ini sulit. Jauh lebih sulit daripadasaat setiap kali ia kolaps. Setiap detik Jongin merasa matanya terus mengantuk butuh dipejamkan.

Dan ibunya menangis di sampingnya. Tidak, bukan hanya ibunya. Jongdae dan ayahnya, hari ini Jongin melihat wajah mereka basah dan sepasang mata mereka yang merah.

Jongin, bagaimana agar dia bisa bertahan?

 

***

 

Tak ada yang bisa ia lakukan selain membuka mata dan bernapas dengan segala bantuan peralatan medis. Saat Kim Eunmi datang menjengukpun, Jongin tak mampu berbuat apa-apa. Jongin hanya bisa melihat bibir kecil Eunmi yang bergerak, mengucapkan kata tanpa suara.

‘ Jongin.. bertahan.. Jongin harus bertahan..’

Kim Eunmi meraih tangan Jongin yang mati rasa. Jongin tak bisa merasakan sentuhan Eunmi. Namun Jongin bisa melihat punggung tangan miliknya itu, dikecup beberapa kali oleh Eunmi.

‘ Jongin harus bertahan, untuk diri Jongin sendiri..’

Eunmi sekali lagi mencium tangan Jongin dengan lembut,

‘ Untuk ayah dan ibu Jongin..’

yang ketiga kalinya,

‘ Untuk Jongdae Oppa, kakak Jongin..’

dan yang terakhir,

‘ Dan untuk Kim Eunmi..’

Lalu Kim Eunmi menangis keras dengan punggung tangan Jongin yang menempel di dahinya. Saat itu Jongin tersadar dengan sesuatu yang seakan mencekat kerongkongannya. Jongin seharusnya tahu dari awal, bahwa penyebab sosok Kim Eunmi yang berbuat banyak hal untuknya adalah karena gadis itu menyimpan rasa sayang untuknya. Kim Eunmi menyayanginya.

Jongin bodoh. Ia membuat satu orang lagi menangis untuknya.

 

***

 

3 years later

 

“ Jadi, siapa yang lebih dulu meraih mimpinya?”

Si pemuda tak bisa menyembunyikan senyumnya ketika pertanyaan itu terlontar dari bibir si gadis. Tangannya terangkat mengacak-acak rambut gadis itu yang dengan kesal langsung ditepis oleh si gadis sambil memasang wajah cemberut. Si pemuda malah tertawa semakin lebar.

“ Tentu saja aku. Aku dua tahun lebih dulu darimu”

Si gadis mengerutkan dahinya tak mengerti.

“ Bukankah Jongin tidak menari?”

  1. Jongin..

Si pemuda tertawa mendapati pemikirannya sendiri. Sampai umur dewasa mereka, gadis di hadapannya ini masih tidak berubah. Masih seperti gadis kecil. Tapi Jongin menyukainya. Hal itulah yang membuatnya tertawa sendiri.

Bicara tentang tidak menari. Kembali pada tiga tahun yang lalu dengan singkat cerita.Jadi ketika Jongin berpikir ia sudah berada di ambang ujung kehidupannya, akhirnya malaikat pendonor jantung untuk Jongin datang. Jongin melakukan operasi transplantasi jantung saat itu juga, lalu menjalani pemulihan di rumah sakit Jerman agar jantung baru Jongin benar-benar diterima oleh tubuhnya.

Dua tahun masa pemulihan di Jerman, ia memikirkan banyak hal. Tentang mimpi, tentang keluarga dan tentang Kim Eunmi. Pada akhirnya Jongin mampu mengikhlaskan mimpinya yang pergi. Jongin tidak mau menanggung resiko terburuk dengan memforsir jantung barunya untuk menari. Sebagai gantinya Jongin sedang dalam proses membangun sekolah ballet bersama pelatihnya Miss Hwang, untuk mengobati kalau-kalau nanti ia rindu menari.

Dan tentang Kim Eunmi…

“ Kim Eunmi, memangnya aku bilang mimpiku itu menari?”

Ya, Kim Eunmi. Gadis tanpa suara itu akhirnya mampu menggenggam mimpi terbesarnya. Suara emasnya telah kembali. Ketika pertama kali mendengarnya, Jongin yakin ia menahan napas selama suara lembut itu bersenandung lagu ballad untuknya.Sangatmenenangkan.

“ Lalu?”

Jongin tersenyum simpul pada sosok yang menjadi pertama kali Jongin temui sekembalinya dari Jerman. Sosok yang berhasil merubah mimpi terbesar Jongin dalam sekejap. Mencurahkan kekuatan saat Jongin berada di titik terendahnya. Dan saat itu juga, Kim Eunmi menjadi sosok berharga dalam hidup Jongin.

Memperbaiki suaranya, Jongin berdehem. Sekali lagi tersenyum pada Eunmi kemudian dengan percaya diri ia berkata,

“ Mimpi Kim Jongin adalah bertahan hidup untuk Kim Eunmi”

 

It doesn’t matter i can’t dancing anymore,

As long as i’m still alive, i just need to make a new start then i can do better

Iklan

7 pemikiran pada “Dream Or Survive

  1. Wahhh daebak….
    Aku pikir jongin bakal mati tor,, eh taunya ada malaikat penolong buat dia..
    And nggak nyangka impian mereka berdua bisa jadi kenyataan.. pokoknya keren thor
    Keep writing..:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s