Our Relation (Chapter 1)

Our Relationlu

Title : Our Relation ( Ch 1 )

Author : Kim Shin (@_ShinVIP)

Cast :

  • Xi Luhan
  • Kim Hye Mi
  • Oh Sehun
  • Han Hyo Sun

Genre : Romance, comedy (?)

Rate : PG + 16

Length : Multichapter

Diclaimer : Luhan dan Sehun ciptaan Tuhan. Tapi sudah saya tandai dengan tanda kepemilikan(?), jadi sekarang mereka sah milik saya. Sedangkan ff ini, murni lahir dari otak bebal saya. Dan ini bukan ff jiplakan, contekan, plagiat(?)an ataupun curian. Sekian!

Summary : Mereka, si kembar yang hobi bermain-main dengan uang. Sedangkan mereka, Hye Mi si gadis baik serta Hyo Sun si gadis monster harus mau mengikuti permainannya.

-oOo-

“Hye Mi-ah, handphoneku mana?”

“Hye Mi-ah, sepatuku dimana?”

“Hye Mi-ah, maskaraku habis!”

“Hye Mi-ah, aku telat!”

Beginilah kehidupan mereka sehari-hari, dimana setiap pagi akan selalu ada teriakan menyebalkan dari Han Hyo Sun, si gadis pemalas yang selalu menghancurkan kamar, meletakkan barang dengan sesuka hati dan bahkan meneriaki Hye Mi dengan suara singanya. 

“Handphonemu didalam laci,”

“Sepatumu aku taruh di rak sepatu,”

“Pakai maskaraku saja,”

“Tenanglah, masih 20 menit lagi.”

Dan inilah Kim Hye Mi, gadis manis yang akan selalu menjawab semua teriakan-teriakan bringas sahabatnya itu. Mereka gadis-gadis cantik yang selalu hidup mandiri, jauh dari orang tua, melakukan kerja paruh waktu, menyewa apartement kecil dan bahkan menabung untuk kelangsungan hidup mereka.

“Hye Mi-ah, Baekhyun oppa titip salam padamu,” ucap Hyo Sun si gadis menyebalkan, berjalan menghampiri Hye Mi yang saat ini sedang menata sarapan pagi  mereka.

“Baekhyun?”

“Siapa?” tanya Hye Mi mengerutkan alis, menatap bingung kearah Hyo Sun.

“Astaga! Kau tak tahu?” kaget.

“Mahasiswa semester 8, jurusan teknik, si anak jenius yang tampannya diatas rata-rata, kau tak tau?” tanya Hyo Sun lagi, bingung dengan sahabatnya ini, apa sih yang sebenarnya dia tau?

“Tidak…” ucap Hye Mi kalem.

“Aku baru semester 6, mahasiswi jurusan Seni, jadi mana tau,” ucapnya lagi, duduk sambil mengambil potongan sandwich yang barusan ia hidangkan diatas meja makan.

“Jadi yang kau tau itu apa?” ujar Hyo Sun sewot, juga mengambil sandwich yang terlihat begitu menggiurkan dimatanya.

“Lee Soo Man seonsaengnim,” jawab Hye Mi polos, memikirkan kejadian kemarin, dimana ia yang dimarahi habis-habisan oleh dosen killernya itu hanya karna salah judul dalam pembuatan makalah, sampai-sampai ia dikatai budek oleh dosennya sendiri.

“Uhuk!”

“Hyo Sun-a, kau tak apa?” tanya Hye Mi khawatir seraya menyodorkan segelas air putih pada Hyo Sun, dan dengan senang hati Hyo Sun pun mengulurkan tangannya untuk mengambil gelas dan meminum isinya hingga kandas.

“Kau… kenapa menyebutkan nama dosen bangkotan itu?” horror, Hyo Sun benar-benar horror saat Hye Mi menyebutkan nama dosen genit nan tua nan keriput nan menyebalkan itu, bagaimana tidak, bayangkan saat kuliah dan sudah masuk waktunya pulang, si dosen malah menyodorkan tangannya padamu -minta disalami- dan setelahnya tanganmu akan dielus-elus oleh tangan kasarnya, bagaimana? Horror atau menyenangkan?

“Memangnya kenapa?” lagi, Hye Mi menanyakan dengan tampang polosnya.

‘Astaga!’ pekik Hyo Sun dalam hati.

“Kau tak tau dia itu dosen genit?” tanya Hyo Sun agak memelototkan matanya.

“Tidak…”

Dan jawaban Hye Mi tadi sukses membuat Hyo Sun terjungkal kebelakang, ‘Astaga… dia manusia planet mana sih?’ inner Hyo Sun, menghina sahabatnya sendiri.

-oOo-

Mobil Lamborghini Reventon hitam, berdiri gagah di halaman parkir bawah tanah Doulos Hotel. Menunggu sang tuan yang bertempat tinggal di apartemen bernomor 2230 datang, lalu melajukannya dengan kecepatan penuh.

“Hyung, cepatlah. Kau lama sekali,” Sehun yang sedari tadi pegal menunggu di depan pintu, akhirnya buka suara.

“Hn,”

“Hyung, cepatlah. Para fansku telah menunggu,” Sehun memang tampan, tapi siapa sangka kalau dibalik ketampanannya ternyata ia menyimpan sejuta kenarsisan. Astaga Sehun!

“Diamlah, kau mau aku terjunkan ke jurang?” dan saat Luhan, kakak kembarnya -yang katanya kembar tapi memiliki wajah yang sedikit berbeda- mengeluarkan kata-kata kejamnya dengan suara dingin serta aura mematikan, maka Sehun akan diam, benar-benar diam.

“Jalanlah!” perintah sang kakak, saat mereka telah masuk kedalam mobil dengan tas yang menyampir dipundak masing-masing.

Sehun, ia benar-benar menuruti perintah kakaknya. Menjalankan mobil mewahnya, dengan mulut yang masih bungkam. Enggan berbicara…

Sehun itu cerewet, tapi kalau sang kakak sudah mengeluarkan tatapan mematikannya, maka Sehun pun diam, ia akan diam bagaikan patung pajangan toko. Bukankah dia adik yang berbakti? Atau malah adik yang… penakut?

“Hyung, kau masih ingat pesan ibu? Ibu pernah bilang, saat kita sudah berumur 21 tahun, menikahlah,” ucap Sehun, memecahkan keheningan diantara mereka. Saat ini mereka telah berusia 22 tahun dan mereka belum memenuhi keinginan ibu mereka. Ibu… betapa Sehun, terlebih Luhan sangat merindukan kehadiran sang ibu. Menjadi yatim piatu diusia yang terbilang masih muda itu cukup berat untuk dijalani. Saat mereka berumur 14 tahun, kecelakaan mautpun terjadi, tak dapat ditolak. Mereka yang awalnya hanya ingin menghabiskan liburan musim panas bersama keluarga malah dihadapkan dengan suatu kenyataan pahit. Mobil yang dengan senang hati mereka tumpangi malah mengalami kerusakan dibagian rem, blong, tak berfungsi sama sekali. Hingga, demi melindungi keluarga, sang ayah membanting setir agar mereka tak menabrak truk yang entah kenapa bisa tiba-tiba berada didepan mereka. Tapi takdir tak dapat ditolak, mobil malah menabrak pohon besar yang ada disamping jalan, dan sepertinya Tuhan begitu sayang dengan orang tua mereka, hingga ayah dan ibu mereka dipanggil menghadap Tuhan detik itu juga.

“Aku ingat…” singkat, padat dan… sarat akan kesedihan. Luhan melihat keluar jendela, menatap langit. Berharap dapat melihat lengkungan manis yang tercipta dari bibir ibunya dari atas langit.

“Lalu bagaimana? Kita belum punya pacar hyung,” hening… Luhan tak menyahut, masih terlalu focus dengan objek pandangannya–Langit.

“Apa perlu aku menikahi para fansku?” pikir Sehun, membayangkan fans-fansnya datang dengan baju pengantin, seraya membawa bunga dengan berbagai macam warna dan dengan mata yang berbinar-binar mereka berteriak, ‘Marry me please,’ ‘You are my husband’, ‘I’m yours’. ‘Astaga!’

“Tidak, tidak, tidak!” teriak Sehun keras sembari menggelengkan kepalanya, sadar dari khayalan absurdnya.

“Itu horror hyung,” ucapnya lagi sambil menoleh kearah Luhan, yang sedari tadi tak mendengarkan sedikitpun celotehannya.

Ck!

“Hyung, lebih baik mulutmu itu kau sumbangkan saja pada orang tunarungu,” ujarnya asal.

Sehun benar-benar kesal. Tak habis pikir, dari mereka kecil sampai mereka tumbuh menjadi pria tampan, hyungnya ini selalu saja berbicara seadanya, seperti, ‘Hn’ ‘Ooh’ ‘Hmm’ ‘Iya’. Terkadang Sehun berpikir, apa hyungnya tidak bosan hidup dengan ketergantungan mental seperti itu? Benar-benar malang nasibmu hyung~

-oOo-

Membawa tumpukan buku tanpa ada yang menolong itu benar-benar suatu hal yang menyebalkan, terlebih hampir seluruh wajahmu tertutupi oleh tumpukan buku tersebut. Jika saja yang disuruh Kim seonsaengnim itu Han Hyo Sun, dapat dipastikan, buku-buku tersebut akan dibiarkan terkapar dikoridor lantai kampus, tapi untungnya Kim seonsaengnim tidak salah dalam memilih orang, sepertinya ia tau kalau Han Hyo Sun itu gadis malas dan juga serampangan, makanya ia lebih memilih Kim Hye Mi yang notabene adalah gadis baik dan pastinya dengan senang hati Kim Hye Mi akan membantunya, atau lebih tepatnya menuruti segala perintahnya. Hhh~ benar-benar dosen yang licik sekaligus malas.

BRUKK!

“Aw…” karena buku yang benar-benar hampir menutupi seluruh wajahnya yang otomatis cara pandangnya juga ikut terganggu, akhirnya Hye Mi tanpa sadar malah menabrak seorang pria, dan sialnya lagi, sang pria tersebut adalah Xi Luhan, pangeran kampus yang terkenal akan sikap dinginnya.

“Ck!” bukannya membantu Hye Mi berdiri, Luhan malah berdecak sambil memandang tajam kearah Hye Mi yang saat ini terduduk tepat dihadapannya.

Risih mendapatkan tatapan tajam seperti itu, akhirnya Hye Mi memilih buka suara dan mengeluarkan kalimat ‘Maaf’ berkali-kali.

“Ma-maaf, aku tak sengaja,” lagi, Hye Mi terus-terusan meminta maaf, berharap akan ada sahutan dari orang yang berada dihadapannya. Sekedar kalimat ‘Iya’ mungkin.

“…”

“Ma-maaf, aku benar-benar tak sengaja,” dengan rasa bersalah ia masih menyebutkan kata ‘Maaf’ sambil terus menundukkan kepalanya dan itu sukses membuat Luhan jengah.

“Berisik!”

Satu kalimat tersebut sontak membuat Hye Mi mendongakkan kepala. ‘Aku anggap itu kalimat iya,’ pikirnya. Tersenyum, lalu dengan sigap ia bangkit berdiri, dan setelahnya, dengan senyum yang masih terpampang indah diwajah cantiknya, Hye Mi mengulurkan tangannya kearah Luhan seraya berkata, “Ayo, aku bantu,”

Bukannya marah, kesal atau apa, Hye Mi malah menunjukkan kebaikan hatinya, mengulurkan tangannya dan berkata dengan sangat sopan, padahal jelas-jelas ia baru saja dibentak dengan tidak berkeprimanusian. Ckckck, benar-benar baik hatimu nak~

Luhan yang kaget mendapatkan uluran tangan seperti itu, malah menatap kesal kearah Hye Mi. Mengabaikan uluran tangan dari Hye Mi, ia pun berdiri dengan sendirinya.

“Aku tak menerima bantuan, dari gadis bodoh!” ucapnya pedas, berlalu pergi meninggalkan Hye Mi.

“…”

SRAKK

Dengan pelan Hye Mi menyusun kembali buku-buku yang semula berantakan dilantai kampus, “Aku kan hanya berniat menolong. Ya sudah kalau tidak mau ditolong.” Tak ambil pusing, ia pun melanjutkan perjalanannya, meletakkan buku-buku tersebut diruangan Kim seongsaenim.

-oOo-

“Kau lama sekali Hye Mi-ah,” ucap Hyo Sun sambil mengunyah permen karetnya,  sekaligus mempersilahkan sahabat manisnya itu untuk duduk disampingnya.

“Tadi disuruh Kim seonsaengnim sebentar,” ujar Hye Mi lembut, tersenyum seraya mengambil tempat duduk  disamping Hyo Sun.

“Cih! Selalu saja,” decih Hyo Sun.

“Ramen mu melar,” tambahnya cepat, menunjuk ramen yang tadi sudah ia pesan sekitar 15 menit yang lalu.

“Tak apa, masih bisa dimakan.” Ujar Hye Mi kalem sambil mengosokkan sumpitnya dengan tangan, tanda ia akan memakan ramennya.

Hening… Tak ada percakapan. Hye Mi lebih memilih diam dan focus memakan ramennya dengan pelan, sedangkan Hyo Sun, ia sibuk memainkan permen karet yang ada didalam mulutnya, sambil sesekali melihat kearah sekeliling kantin, siapa tau ada adegan menarik yang wajib ditonton.

Selang beberapa menit, apa yang dipikirkan Hyo Sun kini benar-benar terjadi, ‘Adegan yang menarik,’ pikirnya. Kantin yang semula ramai karena makhluk-makhluk yang kelaparan, kini berubah haluan menjadi jerit tangis para gadis karena melihat sang kakak-beradik, atau lebih tepatnya dua pangeran kampus datang memasuki area kantin.

“Kyaaaaa~”

“Luhan Oppa~”

“My Prince Sehun~”

“Kyaaaa~ tampan~”

Kantin benar-benar berubah menjadi bising, suara gadis-gadis tersebut sangat memekakkan telinga. Para pria yang merasa wajahnya dibawah rata-rata akhirnya memilih menyingkir dari kantin, mereka merasa agak risih, termasuk Hye Mi. Ia yang sedari tadi diam dan menikmati acara makannya, terpaksa harus menolehkan kepalanya kearah objek yang menjadi sumber dari kegaduhan tersebut.

“Hyo Sun-a, aku selesai. Ayo pergi,” ucap Hye Mi sambil menepuk pelan pundak sahabatnya itu,

“Nanti dulu, ada adegan menarik. Kau tak mau menonton?” ujar Hyo Sun, matanya menatap tajam kearah Luhan dan Sehun.

“Menonton apa? disini bising, telingaku bisa sakit,” menarik lengan Hyo Sun, mengajak sang sahabat untuk segera pergi dari kantin yang berubah menjadi gedung konser dadakan.

“Cih, dua-duanya bermuka datar. Seperti papan saja,” bukannya menggubris perkataan Hye Mi, ia malah terus memperhatikan objek yang menurutnya sangat menarik.

“Hye Mi-ah, bagaimana pendapatmu tentang mereka?” Hyo Sun bertanya, tapi pandangan matanya masih saja focus melihat kearah pangeran kampus, sambil menopangkan dagunya, tanda ia sedang meneliti objek pandangannya.

“Jangan mendekati mereka jika kau tak mau mendapatkan masalah besar, hanya itu.” akhirnya Hye Mi mau juga meladeni sahabat gilanya ini. Menurut Hye Mi memang begitu, dilihat dari wajah mereka yang datar seperti triplek, sepertinya dua kakak beradik itu tidak bersahabat dan tidak bisa diajak membuat sebuah lelucon, wajahnya terlalu kaku.

“Tepat sekali! Kau pintar Hye Mi-ah,” ucap Hyo Sun, membenarkan perkataan jujur Hye Mi tadi.

“Kajja–”

“Tunggu!” memotong perkataan Hyo Sun.

“Hyo Sun-a, sebenarnya aku baru saja menabrak pria itu,” ucap Hye Mi sambil menunjuk pelan kearah Luhan, pria yang saat ini sedang memesan makanannya. Mengingat kejadian naasnya beberapa menit lalu.

“Yang mana? Jaket biru atau kemeja putih?” tanya Hyo Sun, menatap penasaran kearah Luhan dan Sehun.

“Kemeja putih. dia itu… menyeramkan,” jawab Hye Mi, pelan sekali ia mengatakan kalimat ‘Menyeramkan’, ia takut terdengar oleh si objek rumpian mereka dan ia tak mau mencari masalah.

“Sangat menyeramkan,” tambah Hyo Sun santai.

“Eh, tunggu dulu. Menyeramkan? Apa dia membentakmu?” tanya Hyo Sun cepat dan juga tepat.

“Ti-tidak…” Hye Mi berbohong, ia takut jika ia berkata jujur dan menjawab ‘Iya’, maka sahabatnya ini akan marah dan kejadian tak terduga selanjutnya adalah Hyo Sun yang menghampiri Luhan dengan teriakkannya yang menggemparkan, dan Hye Mi tak mau itu terjadi. Sudah dibilangkan kalau ia tak mau mencari masalah?

“Tapi kenapa kau bilang kalau dia itu menyeramkan?”

“Wajahnya.” Jawab Hye Mi cepat.

“Oh… ya sudah, ayo pergi,” ucap Hyo Sun sambil menarik tangan Hye Mi.

“Emm.”

-oOo-

Hal fatal yang pernah Luhan lakukan adalah, tidak sarapan pagi hanya karna risih mendengarkan teriakan menyebalkan dari Oh Sehun, dan akibatnya ia yang ditarik-tarik oleh Sehun masuk kedalam kantin yang menurutnya lebih seperti pasar ikan, karna sang adik mengaku lapar.

“Ck! Tau begini aku tak kan sudi makan dikantin,” Luhan berucap sambil menatap malas kearah makanannya. Ia jengah setiap kali melihat tatapan memuja dari para fansnya, ia bosan setiap kali menerima berbagai hadiah aneh dari para fansnya dan ia juga benci setiap kali mendengar teriakan menyebalkan yang terlontar dari mulut bebal para fansnya. Apa orang tampan selalu diperlakukan seperti itu?

“Makan saja hyung, aku tak mau melihatmu jatuh pingsan dan digotong oleh beribu-ribu fans,” ucap Sehun ngasal. Ia makan dengan santainya, lain Luhan, lain lagi Sehun. Menurutnya memiliki banyak fans itu suatu anugrah dari yang maha kuasa, diperhatikan, ditatap dengan tatapan memuja, diteriaki dengan kalimat yang membuatnya bangga diri, serta diberikan hadiah yang menurutnya bukanlah barang-barang murah, tapi ber-me-rek. Hidup ini indah kan?

“Hyung, kau suka gadis yang seperti apa?” tanya Sehun, penasaran juga. Belasan tahun hidup dengan Luhan tak pernah sekalipun ia melihat kakak tercintanya itu mendekati seorang gadis. Apa hyungnya seorang gay?

“Tidak berisik dan bodoh,” jawab Luhan singkat.

“Selain itu?”

“Seperti ibu…” dan akhirnya Luhan pun menyantap makanannya, yang semula hanya dipandangi malas olehnya.

“Seperti ibu?” ulang Sehun, menerawang, mengingat masa lalu bersama ibu mereka, memutar ulang memori yang tersimpan diotaknya, bagaimana sikap ibu mereka kala ia masih hidup.

“Cantik,” ucapnya.

“Manis, baik hati, lembut, sopan, pendiam, pemalu, penyayang, berbudi luhur tinggi, pandai memasak, pintar merajut, telaten, penuh kesabaran… Aish hyung! Mana ada gadis sempurna seperti ibu.” ucapnya kesal, Ibunya terlalu sempurna untuk dijadikan wanita idaman. Dan kalau dipikir-pikir, ayah mereka benar-benar hebat dalam memilih seorang istri.

“Kalau begitu, kau nikahkan saja tengkorak ibu,” tambah Sehun lagi, tak habis pikir, kenapa hyungnya memiliki selera yang sama seperti mendiang ayah?

“Kalau boleh, akan ku nikahkan.” Ujar Luhan santai.

“Hah?” dan perkataan Luhan sukses membuat Sehun kehilangan wajah cool-nya. Dan fansnya pun hanya bisa tertawa sambil membidikkan kamera-kamera mereka kearah wajah Sehun yang menurut mereka sangat imut.

“Aigoo~ kyeopta~”

-oOo-

Siapa bilang jadi mahasiswa itu menyenangkan? Semua jurusan yang kau ambil akan terasa membosankan saat kau tau bahwa ada dosen menyebalkan yang mengajar di kelasmu. Seperti Hyo Sun…

Pengulangan makalah!

Astaga, Hyo Sun tak pernah berpikir kalau makalah yang ia buat selama dua hari dua malam, tanpa tidur dan tanpa makan /berlebihan/ ditolak mentah-mentah oleh dosennya dengan alasan, salah dalam penulisan judul, salah dalam memberikan tanda kutip, salah dalam membuat footnote dan juga salah dalam kalimat kata pengantar. Aigoo~ apa itu semua penting? Yang penting kan isinya. Dosen itu memang suka sekali mempersulit mahasiswanya, itulah kenapa dari dulu Hyo Sun sangat membenci guru dan juga dosen. Mereka tak bermanfaat, selalu berceloteh.

“Dasar dosen menyebalkan! Kalau aku anak presiden, sudah ku usir kau dari Negara ini,” Hyo Sun mengumpat kesal, meremas-remas tas punggungnya dengan gemas.

“Apa dia tak pernah menghargai usaha orang lain?”

“Menyebalkan kau Lee Sang Hyuk!” Hyo Sun meneriaki nama dosennya tersebut tanpa embel-embel seonsaengnim. Dia kesal, dia marah, rasanya dia ingin menonjok Lee Sang Hyuk–dosen seninya, dia ingin meremukkan tulang rusuknya, mematahkan gigi-giginya, menyumpal mulut besar dosennya dan…

BRUKK

“Adaw…”

… dan Hyo Sun tidak sadar kalau ia telah benar-benar menonjok seseorang. Mampuslah kau Han Hyo Sun!

“Kau!” teriak pria yang tadi ia tonjok -secara tak sengaja-

“Beraninya kau menonjok seorang Oh Sehun!” ucap Sehun dengan tatapan nyalang.

Ternyata, yang ditonjok barusan oleh Hyo Sun adalah Oh Sehun, pria yang baru beberapa jam lalu jadi objek rumpiannya dengan Hye Mi. Mungkinkah ini karma?

“Aku tak sengaja,” bukannya meminta maaf, Hyo Sun malah mengucapkan kalimat dengan nada datar, membuat Sehun mengepalkan tangannya bersiap hendak memberikan pembalasan.

“Untung kau wanita, kalau pria sudah ku patahkan tulang lehermu!” ucap Sehun kesal, menggertakkan giginya.

“Pria atau wanita itu sama, kalau kau mau membalas, balas saja.” bukannya takut, Hyo Sun malah menantang, menyodorkan pipi mulusnya kearah Sehun.

“Ck! Tunggu pembalasanku gadis sial!” Sehun tak kan mau memukul seorang gadis, meskipun gadis tersebut ahli karate sekalipun. Karna ia ingat pesan ibunya, ‘Memukul seorang perempuan, berarti mengakui bahwa ia adalah seorang banci.’ dan Sehun, sampai sapi berubah warna pun, ia tak kan mau disebut banci. Menjijikkan!

Malas meladeni gadis bebal seperti Hyo Sun, akhirnya Sehun pun lebih memilih pergi, ketimbang ia semakin darah tinggi dan lepas kendali?

“Kau yang sial!” teriak Hyo Sun kesal, seraya melayangkan tonjokkan keudara.

-oOo-

“Hari sial!” umpat Hyo Sun saat ia tiba diapartement mungil mereka, meninggalkan sepatu didepan pintu tanpa menaruh dirak sepatu, dan melempar asal tas punggungnya.

“Hyo Sun-a, kenapa?” bertanya sambil menyodorkan sepiring nasi serta sebutir apel pada Hyo Sun, “Makanlah,” ucap Hye Mi.

“Lee Sang Hyuk! Dosen menyebalkan, bergigi ompong, bermata sipit, berjidat lebar, bertubuh pendek, berotak udang, mati saja kau!” mengambil piring yang disodorkan Hye Mi, memakannya dengan ganas serta melontarkan kalimat-kalimat kasar untuk dosennya yang menyebalkan.

“Hyo Sun-a, jangan berucap seperti itu. Dia itu dosenmu,” sabar, saat Hyo Sun sedang dalam mood seperti ini, Hye Mi pasti akan bersikap sabar. Mengelus pundak sahabatnya.

“Persetan dengan dosen, aku bahkan ingin memakannya saat ini juga,”

“Hey, jangan berkata seperti itu. Kalau ia tau kau menghinanya seperti ini, dia akan memberikan nilai E padamu,” Hye Mi mencoba membuat lelucon, agar sahabat cantiknya ini dapat meredam sedikit amarahnya.

“Terserah, mau E, D, F atau Z sekalipun aku tak peduli. Aku benar-benar akan membunuhmu Lee Sang Hyuk!”

“Astaga, kau menyeramkan Han Hyo Sun. Kemana sahabatku yang manis itu? Hey, iblis… keluarlah dari tubuh sahabatku,” ucap Hye Mi, mengelus-ngelus kepala Hyo Sun bahkan ia sempat memutarkan kepala Hyo Sun, kekiri dan kekanan.

“Hey, kau mau membunuhku? Mati kau Kim Hye Mi!”

“Hahahaha,”

Dan aksi saling kejar-kejaran pun terjadi. Inilah mereka, penuh canda-tawa… Disaat Hyo Sun dalam keadaan murka, maka Hye Mi lah yang akan meredamkannya, dan disaat Hye Mi sedang dalam keadaan terdesak, maka Hyo Sun lah yang akan membantunya. Mereka saling melengkapi.

Indah bukan persahabatan mereka ?

TBC

FF pertama saya… Disini baru menceritakan kehidupan sehari-hari mereka aja, masih belum jelas apa inti/cerita dari ff ini *padahal emang kagak jelas* #pedih.

Saya tau ini ff yang bener-bener aneh dan gak enak banget dibaca /nyadar/ apalagi alurnya yang udah biasa /makin nyadar/

Tapi, adakah reader yang mau meriview ff ini? Yah, buat ngasih saya sedikit kekuatan untuk ngelanjutin ff abal ini…

Yang baik RCL ya ^^

Gumawo chingudeul^^

36 pemikiran pada “Our Relation (Chapter 1)

  1. haaaahh jdi iri sma persahabatan mrka -_- haaahhh aku pngn pnya shbat kya gtu -_- bkn shbt yg muncul klo btuh ajh huhuhu -__- 😦 heehh mlah curhat heheh .. ngomong” soal ffnya serubngt!! daebak!! dan kocak, hahah ngocok perut thor 😀 haduhh pkonya +++ dehh heeheh 🙂 aku mau lnjut baca yyya thorr aku udh gasabr buat kelnjutannya hehehe 🙂

  2. yahhh..aku ketinggalannnn,.haduuuhhhh…
    ..untuk chap 1 ini tuhhh menariiikk bgt,.buatt readers itu tertarikk jadi pengen baca lagi baca lagii..kekee..apalagii ini kisahnya 2 pasang kan..??? jadii tiap pasang beda cerita dong..ahihihiii
    aku lanjut yaaa..keburuuu niihh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s