Chandelier

Chandelier

chandelier

 

Title                 : Chandelier

Author            : @syarevimizani

Main Cast       : Kim Jongin (EXO)

Genre              : Mystery, Hurt, Horror

Rating             : PG + 15

Length            : drabble

Disclaimer     : Halo, ketemu lagi sama saya. Bwahahaha/(_-. Author kali ini membuat lagi satu ff drabble(yang sedikit gaje) yang mendadak aja jalan ceritanya muncul begitu saja. Kim Jongin milik SM, orangtuanya, dan para cumi(?) dan plotnya adalah milik saya. Judulnya sendiri diambil dari judul lagu Sia-Chandelier. Tapi plot cerita dan lagunya sendiri benar-benar beda. Oke, happy reading!(jangan lupa komennya readers:D)

 

 

Tempat lilin itu masih saja selalu sama. Dia selalu menemaniku di kesepian kastil ini. Dia selalu menggantung dengan kokohnya di langit-langit untuk menahan lilin yang memberi penerangan pada sekitarku. Masih tetap sama. Tidak ada bedanya.

Semburat cahaya lilin yang sama setia menemaniku yang ringkih ini. Menemaniku yang tidak bisa apa-apa. Hanya bisa tertidur di atas ranjang ini. Cahaya lilin yang di tahan oleh tempat lilin itu, bercahaya dengan angkuhnya. Mengalahkan kegelapan yang ada di sekitarku.

Pintu besar yang ada di depanku tiba-tiba terbuka dengan kasar.

“Si… siapa anda? Mau apa…?” tanyaku lemah.

Aku melihat sebuah bayangan hitam besar mendekatiku.

Apa ini akhir hidupku?

Apa aku hanya akan mati begitu saja?

Hidup sia-sia, hanya dengan ditemani sebuah tempat lilin dan cahaya lilin yang bersinar angkuh di dalamnya.

Dan mati dengan keganasan monster yang akan membunuhku ini.

Ya, dia adalah monster.

Monster jahat yang sudah membunuh seluruh keluargaku.

Monster yang sangat aku takutkan.

“Ternyata kau ada di sini rupanya. Appamu sangat pandai menyembunyikanmu ternyata. Tapi pada akhirnya, aku akan menemukanmu, Kim Jongin.”

Suara berat itu. Aku sangat takut.

Pada akhirnya aku akan dimangsa juga olehnya, sama dengan semua anggota keluargaku yang lain.

“Sebenarnya maumu apa?” tanyaku, entah mendapat keberanian dari mana. “Kenapa kau memangsa seluruh anggota keluargaku?! Dasar monster!”

“Hei tenang. Aku tidak memangsa mereka. Aku hanya membutuhkan mereka. Mereka masih hidup. Tenang saja.”

Apa katanya? Mereka masih hidup? Kedua orang tuaku masih hidup?

“Dan satu lagi, aku bukan monster, aku hanya drakula yang haus darah.”

Tiba-tiba dia menerjang ke arahku.

Dia menggigit keras leherku. Semburat darah merah entah kenapa mengucur kemana-mana.

Dia, melepaskan gigitannya, dan membiarkanku bergeliat di atas kasur dengan luka di leher yang sangat dalam. Sangat sakit. Aku tidak bisa merasakan tubuhku lagi.

Perlahan aku kehilangan kesadaran.

Aku masih bisa mendengar tertawanya yang sangat keras.

Mendadak aku merasakan tubuhku sangat panas. Benar-benar panas. Bukannya segera mati, tubuhku malah terasa sangat panas.

“ARRGGHHHH!!!!”

Kali ini aku tidak kuat. Aku melepaskan teriakan sekuat-kuatnya untuk melepaskan rasa panas dan sakit yang menyiksa ini. Tapi nihil, aku masih bisa merasakan semua sakit itu.

Aku melihat ke arah tempat lilinku itu.

Hei tempat lilin? Kenapa aku jadi begini? Kenapa semua ini harus terjadi padaku?

Aku berharap, aku dikutuk mejadimu saja. Yang kerjanya hanya menahan sebuah lilin. Sebuah tempat yang mampu menahan rasa panas, dan memberikan lilin tempat penopang untuk memancarkan cahayanya.

“Bagaimana? Sakit kah rasanya?” aku mendengar si monster – oh tidak, drakula itu – sedikit tertawa di dalam kesakitan ku.

“Arrgghh….” Aku hanya bisa mengerang. Aku benar-benar sudah tidak sanggup lagi.

Aku memejamkan mataku…

Satu detik…

Dua detik….

Rasa sakit itu, hilang?

Ya hilang, tapi kesadaranku belum bisa pulih. Aku benar-benar lemah…

“Hm, sepertinya sudah menjalar ke tubuhmu. Baiklah, ayo pergi ke tempat yang seharusnya.”

Dengan kasar, dia mengangkat tubuhku, dan sedikit menyeret tubuhku di belakang tubuhnya.

Tubuhku terasa kaku. Sungguh. Ada apa denganku. Apa aku, sudah menjadi kaumnya? Sebuah kaum monster?

Dengan sisa tenagaku, aku melihat ke arah tempat lilin itu.

Selamat tinggal, tempat lilinku.Kau tau, aku sangat berharap untuk jadi dirimu. Yang hanya menggantung dengan angkuh di langit-langit itu. Memandang sesuatu dalam diam, dan menjadi saksi bisu atas semua yang kau lihat. Dan tidak merasakan sakitnya hidup ini…

 

-FIN-

 

Iklan

11 pemikiran pada “Chandelier

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s