Complete

Complete

poster Complete

 

Judul               : Complete

Author             : truwita

Rating             : PG-15

Length             : Oneshoot

Genre              : romance (maybe)

Main Cast        : Oh Sehun, Jung Soojung

Support Cast   : Exo K

Disclaimer       : ini cuman fic iseng juga fic pertama kali yang aku kirim ke sini, dan dikarnakan saya masih sangat baru dalam menulis, jadi mohon dimaklum xD
pernah di posting di blog pribadi saya, di sini.
Happy Reading ^^/

 

“Kau tak perlu menjadi sempurna untukku.
Lantas, jika kau sudah sempurna, apa gunaku disampingmu?”

 

Sehun sudah menunggu lebih dari sepuluh menit di depan pintu kantin. Teman-temannya sudah silih berganti menyapa dan mengajaknya masuk untuk makan siang. Tapi Sehun tetap bergeming, ia masih menunggu seseorang. Jung Soojung. Pacarnya.

Normalnya, Soojung akan datang ke kelasnya dan menyeretnya pergi ke kantin. Tetapi tidak untuk hari ini. Bahkan gadis itu sudah berangkat sekolah ketika Sehun menjemputnya di rumah. Saat Sehun membuka mata pagi-pagi dan memeriksa ponselnya pun, tak ada pesan singkat berisi ucapan selamat pagi dari Soojung seperti yang kerap kali gadis itu lakukan. Ini aneh. Pasti ada yang tidak beres dengan gadis itu.

Maka dari itu Sehun memutuskan untuk menunggu Soojung. Karena ia yakin, gadis itu tak mungkin melewatkan makan siangnya. Karena begitu-begitu juga, makan adalah hobi seorang Jung Soojung.

“Kau menunggu siapa sih? Mau makan atau tidak?” Tanya Jongin.

“Ah, kau duluan saja.”

Jongin mengangkat bahu sambil melenggang memasuki kantin, “Ya sudah.”

“Hey man, tumben kau tidak bersama Soojung. Biasanya ia akan bergelayut manja di lenganmu setiap saat. Haha” goda Baekhyun sambil berlalu.

“Kau menunggu Soojung? Sepertinya ia tak akan datang.” Ujar Kyungsoo.

“Tunggu,” Sehun menahan bahu Kyungsoo saat lelaki itu hendak melangkah masuk. “Kenapa?”

Kyungsoo tersenyum samar. “Sepertinya sedang sibuk mengerjakan tugas.”

Hey, sejak kapan gadis itu peduli dengan tugas? Di jam makan siang? siapapun yang berhasil membuatnya mengerjakan tugas dan melewatkan makan siang harus diberi reward.

“Sebaiknya kita masuk. Atau kita tidak akan medapat jatah makan.”

Sehun mengangguk dan melangkah memasuki kantin dengan Kyungsoo di belakangnya.

 

***

 

Keesokkan harinya keanehan itu kembali terulang. Bahkan hingga beberapa hari ke depan. Soojung sulit sekali ditemui. Bahkan di rumahnya sekalipun. Sehun bahkan sudah lima kali mengiriminya pesan dan tiga kali mencoba meneleponnya selama beberapa hari terakhir. Oke, itu memang bukan jumlah yang banyak, karena biasanya gadis itu akan dengan sendirinya mengabari Sehun tanpa diminta. Jadi, Sehun pikir gadis itu hanya sedang sibuk sampai tidak sempat mengabarinya. Ia hanya tak ingin menganggu aktivitas Soojung.

Namun, pemikiran itu berubah seketika. Saat ia dan teman-temannya berpapasan secara tidak sengaja di koridor kelas. Gadis itu sama sekali tidak melihat kearahnya, mengabaikan kehadirannya. Bahkan cenderung menghindar darinya. Sapaan dari teman-teman Sehunpun tak ditanggapinya. Soojung hanya melewatinya begitu saja. Seolah mereka tak saling mengenal.

Sehun berusaha berpikiran positif, mungkin Soojung sedang buru-buru hingga tidak menyadari keberadaanku.

Namun, lagi-lagi pemikiran itu berubah seketika. Saat jam makan siang di kantin, mata mereka tak sengaja bertemu dan Soojung langsung memalingkan wajahnya menghindari tatapan Sehun.

“Soojung kenapa sih? Aneh.” Komentar Baekhyun menyuarakan pemikiran Sehun.

“Kalian bertengkar?” Tanya Suho.

Sehun menggeleng.

“Lantas?” kini kelima pasang mata teman-temannya itu menatap penuh ingin tahu ke arah Sehun.

“Kalian putus?” celetuk Chanyeol yang langsung mendapat sikuan dari Jongin. “Aku kan hanya menebak saja.”

Sehun menatap satu-satu wajah teman-temannya secara bergantian. “Tidak. kami masih pacaran, tapi…” Sehun menghembuskan nafasnya “Entahlah, beberapa hari terakhir ini ia sulit dihubungi.”

“Datangi saja rumahnya.”

“Sudah. Tapi selalu tidak tepat. Setiap aku datang, dia pasti sedang tak di rumah.”

“Soojung menjauh! UWOO! Aku pikir Soojung akan mati jika tak berdekatan dengan uri Sehun,” seru Chanyeol yang kali ini mendapat tatapan tajam dari yang lainnya. “O..Oke, calm sob. Aku hanya bercanda, wajah kalian terlihat sepuluh tahun lebih tua jika sedang serius seperti itu.”

“Aku punya rencana!” ujar Baekhyun dan meminta teman-temannya mendekat.

 

***

 

“Kau dimana? Ini sudah malam, kenapa belum juga pulang?”

“Aku di jalan Bu, baru saja mau pulang. Dari rumah Sulli, mengerjakan tugas.” Bohong Soojung. Tidak, ia tidak berbohong sepenuhnya, ia memang dari rumah Sulli, tapi bukan mengerjakan tugas.

“Yasudah, hati-hati di Jalan. Nak Sehun baru saja ibu suruh pulang. Ia menunggumu sejak tadi sore disini. Tapi kau tak kunjung pulang.”

“Sehun ke rumah? Untuk apa?”

“Tentu saja mencarimu. Tapi dia melarang ibu untuk memberitahumu. Dia bilang mau menunggu saja. Tapi ibu tak tega. Ya sudah ibu suruh dia pulang saja.”

Soojung menghela nafas berat. “Baiklah, sudah dulu yaa Bu.”

Soojung memutus sambungan begitu saja tanpa menunggu jawaban dari ibunya. Ia memandang fotonya dan Sehun yang menjadi wallpaper ponselnya. Lelaki itu tetap tampak sangat menawan meskipun hanya tersenyum samar (sangat-sangat samar. Kau pasti akan berpikir bahwa ia sedang tidak tersenyum jika tidak memerhatikannya dengan seksama), berbeda dengan dirinya yang tersenyum lebar menghadap kamera.

Soojung melangkah dengan pikiran melayang memikirkan lelaki yang kurang dari tiga jam lagi genap 100 hari menjadi pacarnya. “Dasar muka lantai ! datar! dingin! Tak berperasaan! Uuugghh… tapi kenapa kau selalu terlihat tampan?” Gerutunya.

Tanpa ia sadari, sedari tadi langkahnya sedang diikuti. Baru ketika seseorang menutup hidungnya dengan saputangan yang dibubuhi obat bius dan menggendongnya menuju sebuah mobil SUV, ia menyadari bahwa ia dalam bahaya. Ia bersaha berontak, tapi apalah daya tenaganya melawan dua orang laki-laki dengan wajah tertutup topeng… spongebob dan patrick?

Soojung tak memiliki cukup waktu untuk berpikir mengapa si penculik mengenakan topeng konyol itu, karena dengan cepat obat bius itu bereaksi dan membuatnya limbung juga kehilangan kesadaran.

 

***

 

“Ya Tuhan, apa yang kalian lakukan pada Soojung? Kenapa ia tak sadarkan diri?” panik Sehun saat melihat Soojung dibopong memasuki restoran milik Kyungsoo.

“Hehehe..” Baekhyun hanya cengir mendapat pertanyaan seperti itu.

“Baringkan ia di sini,” titah Kyungsoo sambil menumpuk bantal di sofa.

“Tenang sob, jangan emosi dulu. Dia akan baik-baik saja. Sebenetar lagi juga sadar.”

“Oke, oke. Tapi jelaskan padaku. Kenapa dia sampai tak sadarkan diri. Ini sama sekali tidak sesuai rencana.”

“Sebelumnya maafkan aku, tapi coba kau pikir. Jika kita menjalankan semuanya sesuai rencana, membawa Soojung baik-baik, apa dia akan dengan sukarela menuruti kita? Tentu saja tidak Hun-ah, Jadi…”

“Jadi?”

“Aku dan Baekhyun sepakat berperan sebagai penculik dan memberinya sedikit obat bius.” Chanayeol melanjutkan ucapan Baekhyun yang menggantung, dan di akhiri oleh cengiran lebar keduanya.

Sehun menghela nafas berat. Memang ada benarnya perkataan Baekhyun. Mengingat bagaimana gadis itu selalu menjauhinya akhir-akhir ini, belum tentu juga gadis itu mau menuruti ucapan Baekhyun.

Sehun mendekat dan duduk di celah sofa yang tersisa disamping tubuh Soojung. Sehun menyentuh tangan Soojung dan terkesiap saat merasakan suhu dingin dari sana. Dengan cekatan Sehun meraih ranselnya, mengeluarkan jaket dan menyelimutkannya di tubuh Soojung.

“Tak perlu cemas Hun-ah, ia akan baik-baik saja.” Kata Kyungsoo sambil menaruh segelas teh hangat di atas meja. “Jika ia sudah sadar, suruh ia meminumnya.”

“Terimakasih, Hyung.

Kelima sahabatnyapun bergegas meninggalkan Sehun dan Soojung sendiri. Sambil berlalu mereka mengucapkan kata-kata penyemangat dan menepuk bahun Sehun. Restoran Kyungsoo sengaja di tutup lebih awal dari hari-hari sebelumnya. Katanya special untuk memberikan privasi pada mereka. Sehun hampir menangis haru mendengar hal itu.

Tak hanya Kyungsoo, tetapi Suho, Baekhyun, Chanyeol, dan Jongin juga tak luput membantunya, membawa Soojung (meski dalam keadaan tak sadarkan diri) dan mendekor restoran Kyungsoo agar terlihat jauh lebih romantis dengan lilin-lilin juga kelopak bunga mawar merah dan putih yang di tata sedemikian rupa.

Sebenarnya, ini semua sama sekali bukan gayanya. Tapi Jongin bilang, jika seperti ini kemungkinan besar Soojung akan menyukainya lalu luluh dan kembali pada pelukkan Sehun. Gadis mana yang tak akan tersanjung oleh candle light dinner?

Sehun sudah hampir muntah mendengar penjelasan Jongin. Namun, tak ada salahnya berbuat seperti ini untuk Soojung sesekali. Ia juga sudah menyiapkan hadiah untuk Soojung.

Pikirannya buyar saat ponsel Soojung yang Chanyeol letakan di atas meja bergetar. Sehun memberanikan diri meraih ponsel itu, barangkali itu pesan dari ibu Soojung yang khawatir menunggu Soojung pulang.

Sedikit tertegun saat mengetahui ponsel Soojung bukan bergetar karena sebuah pesan masuk, melainkan sebuah alarm pengingat. Disana tertulis ‘2 hours again to 100 days anniversary S&S’.

S&S? Soojung-Sehun? Ah ya, hubungan kami memng sudah menginjak tiga bulan. Tapi aku tidak tahu bahwa Soojung menghitung setiap harinya.

Sehun tersenyum geli memikirkannya. Ia menoleh dan menatapi wajah damai Soojung sambil berkata dalam hati, “Hei, kau masih menyukaiku kan?”

Ragu-ragu Sehun beringsut mendekat. Wajahnya kini tinggal beberapa senti dari wajah Soojung, sial. Kau pengecut Oh Sehun!

Akhirnya lelaki itu mendaratkan sebuah ciuman hangat cukup lama di kening gadisnya. Mencoba menyampaikan apa yang selama ini tak pernah tersampaikan.

“YAK!! MESUUUUUM! APA YANG KAU LAKUKAN!” Soojung sadar dan menyadari posisi sehun yang sedang mencium keningnya dengan tubuh mereka yang berdekatan. Gadis itu dengan sekuat tenaga mendorong tubuh Sehun hingga terjungkal ke lantai dan kepala bagian belakangnya membentur pinggiran meja.

“AU !”

“SEHUUNN?!!”

Lelaki itu meringgis sambil mengusap-ngusap kepalanya yang terbentur. “Tenagamu seperti tenaga kuda, kau tahu?”

Soojung mendengus. “Lagi pula apa yang kau lakukan?”

“Menciummu.”

“Iya, Oke.” Soojung membenarkan posisi duduknya. “Hah? Apa? Menc—apa kau bilang?” kedua bola mata gadis itu membulat sempurna bahkan mengalahkan mata besar Kyungsoo.

“Menciummu.” Ulang Sehun santai.

“Menc—mencium? Mencium KATAMU?” seketika wajah Soojung menjadi merah padam. “Oh my God, aku pasti bermimpi. Sial, kenapa harus bermimpi seindah ini? Ditempat yang sangat romantis? Berdua? Banyak lilin dan kelopak bunga mawar. Oh, tidak. Tidak. Sepertinya aku sudah gila. Bagaimana bisa… aku..?” Soojung berkata tanpa jeda. Ekspresi frustasi dan panik terlihat jelas di wajahnya. Gadis itu mengibas-ngibaskan tangannya seperti kipas. Bahkan sesekali menjambak rambut panjangnya yang sudah kusut.

Sehun tak kuasa menahan senyum gelinya melihat tingkah Soojung. Apa dia masih terpengaruhi obat bius? Tak sadarkah Soojung bahwa aku masih disini mengawasinya?

Entah mendapat intruksi dari siapa Sehun beringsut mendekat dan meraih pinggang Soojung. Melingkarkan kedua tangannya ditubuh gadis itu dan mencium kilat dibibirnya. Membuat gadis itu diam seketika.

Mata mereka bertemu, senyum lebar tersemat di wajah Sehun. Sedangkan Soojung masih bertahan dengan ekspresi yang menurut Sehun sangat menggemaskan. Dan lagi-lagi sehun mencium kilat bibir Soojung. Tak hanya sekali bahkan berkali-kali, sampai mata Soojung mengerjap dan kembali meraih kesadarannya.

“YAK! NAPEUN!” Soojung melepaskan diri dari pelukkan Sehun.

Sehun terkekeh. “Aku hanya membantu tuan putri untuk bangun,”

“Iiisssshh…” Soojung mendorong tubuh Sehun (lagi) tapi Sehun jauh lebih cekatan meraih pinggang gadis itu.

“YA!”

“Aku merindukanmu Jung Soojung,” bisik Sehun di teliganya. “Biarkan seperti ini, sebentar saja.” Sehun semakin mengeratkan pelukkannya dan menghirup aroma gadis itu sebanyak yang ia bisa. Sehun baru menyadari bahwa ia sangat-sangat merindukan gadisnya ini.

“Sehun… kau baik-baik saja?”

“Hm,”

“Kau yakin,”

“Hm,”

“HEIII, jawab pertanyaanku dengan benar !”

Sehun kembali terkekeh, dan menciptakan sedikit jarak antara tubuhnya dan Soojung. “Kenapa?”

“Kau aneh!”

“Aneh?”

Soojung mengangguk, “Menjijjikan,”

“Yahh—”

“Huaaaa makanan!” Soojung berlari menuju sebuah meja yang penuh dengan makanan. Menarik kursi dan duduk tanpa permisi. Ia juga memposisikan garpu dan pisau di kedua tangannya. Siap menyantap hidangan.

Sehun menghela nafasnya dan menyusul Soojung ke meja makan.

“Untukku? Semua? Huaaaa gomawo Hun-ie,” dan tanpa ba-bi-bu Soojung langsung menyantap hidangan itu. Dalam hati Sehun bersyukur bahwa gadisnya telah kembali. Meski rencana candle light dinner yang direncanakan jauh dari kenyataan yang terjadi, apa pedulinya? Yang penting Soojung kembali.

“Kau suka?”

Soojung mengangguk.

“Syukurlah,”

 

 

“Soojung,” Sehun bertanya setelah beberapa saat diam dan memerhatikan gadis itu makan. “Kenapa kau menghindariku akhir-akhir ini?”

“Uhuk, uhuk.” Soojung tersedak makanannya. Ia menepuk-nepuk dadanya dan meraih segelas air putih yang disodorkan Sehun.

“Kau baik-baik saja?”

“Uhuk, uhuk.” Soojung mengangguk sambil terbatuk-batuk.

“Pelan-pelan saja makannya, aku tidak akan mengambilnya darimu kok,”

Soojung menatap tajam Sehun. “Aku bercanda,”

 

“Sehun,” Setelah batuknya reda, dan mengelap bibirnya dengan tisu, Soojung menegakk

an tubuhnya dan memulai berbicara dengan nada serius. “Aku ingin.. aku.. aku ingin… kalau kita… kalau kita…”

Uuhh, kenapa suit sekali mengatakannya? Padahal aku sudah berlatih selama beberapa hari!

“Kau ingin, kalau kita apa?”

“Emmmh.. aku.. itu..mmhh..”

“Katakan saj—”

“Putus,” Soojung berkata sambil menutup matanya. “Aku. Ingin. Kalau. Kita. Aku. Dan. Kau. Putus.”

Soojung membuka matanya takut-takut. “i-iya. Seperti itu. Jung Soojung dan Oh Sehun putus.”

 

“Kau sedang memberiku kejutan yaa?” Sehun mencoba berpikir positif. “Aku juga punya kejutan untukmu,” lalu Sehun mengeluarkan sebuah kotak berpita biru dari saku celannya, dan menyodorkannya ke hadapan Soojung.

“Apa ini?”

“Buka saja,”

Dengan tangan bergetar dan mata mulai berkaca-kaca, Soojung membuka kotak itu perlahan. Jangan tanyakan bagaimana terkejutnya Soojung saat melihat sebuah kalung cantik berbandu huruf S.

“Selamat hari jadi yang ke 100, Jung Soojung.” Seru Sehun yang membuat butiran air mata itu terjatuh dari pelupuk matanya. “Aku tahu itu memang bukan kalung asli, hanya imitasi. Tapi aku janji, akan menggantinya dengan yang asli nanti.”

Soojung menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Air matanya mulai deras keluar. “Se-sehun,”

“Aku mencintaimu, Jung Soojung. Sungguh.” Sehun menggenggam tangan Soojung yang ada di atas meja. “Maaf, karena aku baru mengatakannya sekarang.”

Soojung menarik tangannya dari genggaman Sehun. “Tidak Sehun, aku tidak bercanda. Kumohon, aku ingin hubungan kita berakhir. Sampai di sini.”

Tepat setelah kalimat itu selesai, Sehun merasa seseorang baru saja menjatuhkan tubuhnya dari gedung tertinggi. Setiap sendi ditubuhnya terasa nyeri. Bedanya, bukan tubuhnya yang terasa hancur dan remuk, melainkan hatinya. Iya hatinya.

Saat Sehun sadar, Soojung sudah hampir mencapai pintu keluar restoran. Sehun bangkit tidak lupa meraih jaketnya di atas sofa yang ditanggalkan Soojung begitu saja dan mengejar Soojung yang melangkahkan kakinya semakin cepat.

Sekacau apapun pikirannya sekarang, Sehun tetap mengutamakan kesehatan Soojung. Gadis itu alergi dingin.

“Soojung!” Sehun berhasil meraih jemarinya dan memutar tubuhnya. Mengenakan jaketnya di tubuh kurus Soojung. “Pakai ini, setidaknya bisa mengurangi rasa dingin.” Sehun berusaha mati-matian untuk menyembunyikan perasaannya yang kacau saat mengucapkan hal itu. Ia harus terlihat baik-baik saja di depan gadis itu.

Soojung masih memalingkan wajahnya. Enggan menatap Sehun yang sedang mengenakan jaket di tubuhnya.

“Aku antar pulang yaa? Ini sudah malam.”

Soojung tak mengiyakan dan juga tak menolak, ia hanya membiarkan Sehun berjalan di sampingnya.

 

***

 

Mereka baru saja turun dari bus, dan berjalan menuju rumah Soojung yang berjarak 100 meter dari halte bus. Keduanya masih tak saling bicara. Tanpa sepengetahuan Sehun, sepanjang perjalanan pulang Soojung menangis dalam diam.

 

“Mmh, Soojung.” Sehun bertanya ragu-ragu. “Beri aku satu alasan kenapa kau ingin hubungan kita berakhir?”

 

 

“Setidaknya, biarkan aku tahu apa kesalahanku sehingga kau memilih untuk berpisah denganku.”

 

 

“Soojung!” kali ini Sehun menahan bahu Soojung dan memutar tubuhnya agar menghadap ke arahnya. Sehun juga meraih dagu Soojung agar mata mereka bertemu. Anehnya, Sehun sama sekali tak terkejut saat mendapati mata Soojung yang sembab dan jejak air mata di kedua pipinya.

Dengan mata menatap tajam di manik mata Soojung, Sehun berkata tegas. “Jawab pertanyaanku Jung Soojung.”

“Cukup. Cukup Oh Sehun.” Ujar Soojung dengan suara bergetar. “Aku sudah muak menjadi kekasihmu! Aku lelah. Oke? Jadi biarkan aku pergi.”

Sehun menggeleng. Merasa tak puas dengan jawaban Soojung. “Katakan bahwa kau sudah tak meyukaiku lagi. Tak mencintaiku lagi.”

 

“Soojung! Ayo katakan!”

 

“Aku.. aku… “

“Katakan yang sejujurnya Jung Soojung! Kenapa kau ingin berbisah denganku?” ujar Sehun dengan nada memohon.

 

 

“Baik, jika kau tak mau bicara. Maka jangan harap aku akan melepaskanmu begitu saja.”

Soojung menggeleng. “Tidak Sehun, biarkan aku pergi. Kumohon. Kau akan jauh lebih bahagia jika tidak bersamaku.” Isak Soojung dengan kepala menunduk.

“Tahu apa kau tentang kebahagiaanku? Demi tuhan Soojung, kau sama sekali tidak berhak bicara seperti itu!”

 

“Sekarang, berhenti menangis dan katakan padaku. Sejujurnya. Apa alasanmu?”

Soojung mendongak dan menatap manik mata sehun yang menanti jawabannya penuh harap.

“Aku.. aku lelah Sehun. Aku bosan mendengar para fans fanatikmu mengoceh tentang hubungan kita. Tentangku terutama.”

“Mereka selalu mengejekku! Menjelek-jelekkanku! Membicarakanku secara terang-terangan dihadapanku!”

“Mereka bilang aku ini jelek, ga modis, bodoh, miskin, suka makan, dan lain sebagainya. Mereka bilang aku sama sekali tak cocok bersanding denganmu yang tampan, fashionable, pintar, kaya.”

“Mereka bilang bahwa Park Jiyeon lebih pantas menjadi kekasihmu!”

“Mereka bilang aku tak tahu diri!”

“Mereka bilang kau berpacaran denganku hanya karena kasihan,”

“Mereka bilang—”

“ssssssttttt…” Sehun tersenyum lembut, lalu menangkupkan kedua tagannya di pipi Soojung. “Sejak kapan kau peduli dengan apa yang mereka katakan, hmm?”

“Tentu saja sejak aku memutuskan untuk menjauh darimu.”

“Kalau begitu, jangan dengarkan mereka. Dan kembali padaku.”

“Tidak bisa!” sanggah Soojung cepat.

“Kenapa?”

“Aku lelah Sehun. Aku bosan di hina. Lagi pula, apa yang mereka katakan itu benar. Aku sama sekali tidak cocok besanding denganmu. Aku jauh sekali dari kata sempurna.”

“Dengar.”

 

 

“Bukan karena kau sempurna aku cinta. Justru, aku mencintai ketidak sempurnaanmu Jung Soojung.”

“Kau tak perlu menjadi sempurna untukku. Lantas, jika kau sudah sempurna, apa gunaku disampingmu?”

“Maka dari itu, tetaplah di sampingku. Agar kelak, kita saling melengkapi untuk menjadi sempurna dikemudian hari.”

“Aku tak membutuhkan Park Jiyeon atau siapapun. Aku hanya membutuhkanmu.”

 

***

 

 before END

END

Nah, pic apa itu?

Coba karang sendiri aja yaa maunya gimana akhir cerita ini. HAHA *tendang*

Maaf buat feel romance-nya yang ga dapet, kebetulan pribados bukan spesialis romantic genre, dan kurang menyukai cerita bergenre seperti ini, tapi nekat bikin cerita kaya gini. Hihi

Thanks for reading this absurd fic J

See u ^^//

Don’t forget leave comment and like yaaaw 😀

 

48 pemikiran pada “Complete

  1. huaaaa ,, seru bangett. apalagi sehunnya sabar banget ,, mau nungguin sojung di rmahnya padahal jelas2 sojungnya lagi gak ada d rumah.
    ohhh so sweet banget

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s