Seonsaengnim (Chapter 5)

Seonsaengnim

Title: Seonsaengnim

 

Author: @diantrf

 

Main Cast:

Xiao Luhan, Park Chanyeol (Exo) | Park Cheonsa (OC)

Other Cast:

Kim Junmyeon/Suho, Oh Sehun, Kim Jongdae/Chen, Kim Minseok/Xiumin, Zhang Yixing/Lay, Wu Yifan/Kris (Exo) | Kim Myungsoo/L (Infinite) | Jung Jinyoung (B1A4) | Lee Gikwang (Beast)

 

Genre: Fantasy, School-life, Romance, Mystery | Rating: T | Length: Chaptered

 

Prev:

Part-1 | Part-2 | Part-3 | Part-4

 

0o0

 

Mataku terasa sangat berat saat ini, mungkin karena aku terlalu banyak menangis sejak siang tadi. Aku mencoba menggerakkan tubuhku, namun seperti ada yang menahan tubuhku. Mataku telah terbuka sempurna dan aku dapat melihat Chanyeol tepat di hadapanku dengan mata tertutupnya. Ternyata aku tertidur di pelukan Chanyeol. Ah, aku baru ingat jika Chanyeol yang menyuruhku untuk tidur dan akhirnya kami benar-benar tertidur. Dapat kurasakan juga mataku yang sedikit perih karena membengkak. Separah itukah tangisanku?

Jika diingat, terakhir kali aku tidur bersama Chanyeol adalah beberapa bulan yang lalu—sebelum aku mengenal Luhan dan mengetahui segala fakta mengerikan di hidupku. Chanyeol dan aku tak pernah terpisahkan. Pergi sekolah bersama, jalan-jalan bersama, tidur satu kamar dan selalu memainkan suatu permainan sebelum tidur. Hidupku dulu sangat tenang bagai air yang mengalir mengikuti arusnya, bukan seperti sekarang yang bagaikan ikan salmon yang berenang melawan arus air. Dan tanpa aku sadari, entah mengapa aku sangat merindukan Chanyeol.

 

Ia akhir-akhir ini menjadi terlalu serius dan sibuk, jarang sekali ada waktu untukku. Walaupun aku lebih tua darinya tapi tetap saja aku yang selalu manja padanya. Ia memang sosok kakak bagiku, dan aku sangat merindukan Chanyeol yang ceria dan penuh tawa seperti dulu. Tanpa sadar aku kembali meneteskan air mata, ini semua terlalu berat bagiku. Pelukan hangat Chanyeol ini bagaikan kekuatan untukku menghadapi semuanya. Menghadapi takdir menyebalkan seperti film-film hitam-putih zaman dulu.

 

Aku melihat jam di dinding kamarku ini. Jam tujuh malam? Mengapa tak ada yang membangunkan kami? Apakah eomma sudah datang lalu pergi lagi karena tak mau membangunkan kami? Dan, bukankah besok adalah hari pernikahanku dengan Luhan? Mengapa semuanya berjalan seolah tak akan ada acara penting keesokan harinya? Mengapa rumah ini damai-damai saja? Segala pikiran aneh berlalu-lalang di otakku. Aku ingin bangun, namun tangan besar Chanyeol mengurungku. Aish, mengapa para pria ditakdirkan lebih besar dan tinggi?

 

 

“Chanyeol, ayo bangun.” Aku mengguncangkan tubunya, namun ia malah semakin mengeratkan pelukannya padaku. Ya! Kau ingin membuat saudaramu yang cantik ini mati muda?

 

“Chan-chan—“

 

Aish nuna, kau ini mengapa sangat cerewet? Biarkan seperti ini dulu, lima menit lagi..”

 

 

Chanyeol malah meracau tak jelas. Tumben sekali ia mau memanggilku nuna. Ia hanya akan memanggilku nuna jika ia tengah merajuk tentang suatu hal padaku. Dengan sifatnya yang kekanakan seperti ini ia ingin agar aku memanggilnya oppa? Yang benar saja, aku tak akan mau. Aku kembali mengguncangkan tubuhnya. Hey, besok hari pernikahanku dan walaupun aku masih marah dengan Luhan tetap saja besok aku akan menikah dengannya. Aku ingin mencari Luhan dan meminta penjelasan darinya, serta kembali menggali informasi soal Junmyeon seonsaeng itu.

 

 

“Chanyeol, kumohon bangun—“

 

“Baiklah.”

 

 

Ia menatapku malas lalu langsung bangkit dari tidurnya dan duduk di ranjang dengan pandangan lurus ke depan. Rambutnya acak-acakan dan wajahnya sungguh menggelikan. Chanyeol seperti bayi besar yang baru saja bangun tidur. Tapi ia terlihat keren juga jika seperti ini. Mungkin jika beberapa penggemar Chanyeol melihat keadaan Chanyeol sekarang mereka akan berteriak histeris, membuat telingaku berdengung seperti lebah.

 

 

“Cheonsa, eomma dan appa sedang pergi ke Roma. Hanya ada harabeoji di rumah bersama dengan kakek Xi. Oh ya, aku keluar sebentar ya. Jangan kemana-mana!”

 

Apa-apaan itu? Mau mengancamku untuk tidak keluar? Sayang sekali, aku tak akan menurut. Dan tadi Chanyeol memperlihatkan ponselnya padaku—pesan dari eomma. Jadi mereka meninggalkan kami disini dengan kakek tua menyebalkan itu? Dan bagaimana bisa mereka pergi sedangkan besok anak gadisnya yang cantik ini akan menikah? Mengapa mereka setega ini padaku? Baiklah, lebih baik sekarang aku pergi menyusul Chanyeol saja keluar. Dan aku ingin bertemu dengan kakek, ya hanya untuk sekedar melihat wajahnya saja. Hari ini aku sama sekali belum melihat wujud kakek tua itu.

 

Aku keluar dari pintu kamar, dan entah mengapa instingku berkata bahwa aku harus pergi ke perpustakaan—tempat kakek biasanya minum teh sambil membaca buku atau hanya sekedar duduk bersantai. Aku terus berjalan membelah lorong ini. Rumahku memang seperti mansion yang luas dengan dua lantai dan banyak ruangan serta beberapa tangga di setiap sudutnya, itulah yang membuatku kadang menjadi ketakutan sendiri. Dan ini aneh, kemana seluruh pelayan rumah yang biasanya aku temui sedang bersih-bersih? Mengapa rumah ini sepi sekali? Chanyeol cepat sekali menghilangnya.

 

 

“Saya tak mau melakukan hal itu! Itu akan menyakiti Cheonsa, saya tak mau!”

 

 

Benar dugaanku, ada orang di perpustakaan. Tadi itu seperti suara Luhan. Jadi Luhan ada disini? Dan, apa tadi yang ia katakan? Luhan tak mau melakukan apa? Dan kenapa ada namaku disebut? Pintu perpustakaan sedikit terbuka, jadi aku bisa cukup jelas melihat siapa saja yang ada disana. Ada kakek Xi—kakeknya Luhan—dan juga kakekku. Ada Chanyeol juga, sepertinya tadi ia masuk dan lupa untuk menutup rapat pintunya. Aku tak melihat Luhan, tapi aku yakin Luhan ada di dalam sana. Mungkin Luhan berada di sisi yang tak dapat aku lihat dari sini.

 

 

“Itu semua karena kecerobohanmu, Luhan—dan kau juga Chanyeol—yang tak dapat menjaga Cheonsa dengan baik. Aku sama sekali tak menduga jika Junmyeon adalah salah satu dari Strămoș. Jika sudah begini tak ada yang bisa kita lakukan selain menghapus tanda itu dari tubuh Cheonsa.”

 

 

Kalau yang itu adalah suara kakek Xi. Suaranya lebih rendah daripada suara kakek, karena kakekku jika berbicara suaranya lebih lantang—apalagi jika ia marah, berkali lipat menyeramkan. Hal ceroboh apa yang Luhan dan Chanyeol lakukan, dan apa hubungannya denganku? Lalu, Junmyeon seonsaeng adalah Strămoș? Oke, setahuku Strămoș adalah vampire terkuat di dunia ini. Mereka seperti para pemimpin, atau bisa disebut juga creator vampire. Mereka yang menciptakan vampirevampire kuat. Dan hanya mereka yang bisa memusnahkan vampire. Vampire biasa tak dapat saling memusnahkan, hanya Strămoș yang bisa melenyapkan vampire lain.

 

Strămoș terdiri dari delapan orang pria yang memiliki ciri-ciri paling mencolok dari vampire lain. Kulit mereka sangat berkilau, putih seperti susu. Mereka sangat misterius. Dan yang kutahu dari buku juga, Strămoș hidup berdampingan dengan manusia. Mereka menyamar menjadi manusia biasa seumur hidupnya. Mereka berpindah tempat dan berganti pekerjaan beberapa tahun sekali agar manusia tak ada yang curiga. Dan Junmyeon seonsaeng adalah salah satu dari delapan Strămoș itu? Aku sama sekali belum bisa mempercayai hal ini.

 

Mereka abadi, hanya hari akhir yang bisa membunuh mereka. Tapi, aku mendapat pembaharuan informasi beberapa tahun lalu. Bahwa Strămoș bisa saling membunuh. Jadi hanya ada dua penyebab kematian mereka. Hari kiamat dan Strămoș yang membunuh salah satu diantara mereka. Aku jadi takut, jika Junmyeon seonsaeng itu adalah Strămoș, tak menutup kemungkinan jika tujuh yang lainnya berada di sekitarku juga. Mungkin mereka menyamar menjadi guru di sekolahku atau jangan-jangan temanku. Ya Tuhan, kenapa ini semakin menyeramkan bagiku? Tadi kakek Xi juga mengungkit tanda yang ada di tubuhku. Tanda apa? Apakah vampireprint yang Luhan berikan untukku? Oh tidak, jangan-jangan..

 

 

“Tapi harabeoji, setahuku jika Strămoș sudah menandai seseorang tak ada yang dapat mengganggunya.” Chanyeol bicara dengan suara bass-nya, namun terkesan sangat serius.

 

“Bisa. Kita hanya harus menghapus tanda itu—“

 

“Kakek, kau tak boleh egois! Menghapus tanda dari Strămoș sama saja dengan melukai orang itu. Cheonsa bisa sekarat jika tidak kuat menahan rasa sakitnya! Pikirkan itu atau—“

 

“Luhan! Jika kau tak mau melakukannya, maka kami yang akan melakukannya.”

 

 

Shock, tentu saja aku sangat shock. Benar dugaanku. Tanda yang kakek Xi maksud adalah bekas luka yang disebabkan oleh Junmyeon seonsaeng. Dan ternyata bekas luka itu adalah sejenis vampireprint seperti milik Luhan. Ada satu fakta yang aku ketahui, bahwa Luhan bukanlah Strămoș. Luhan hanya vampire biasa. Ia tadi bilang jika menghapus tanda dari Strămoș sama saja dengan melukai sang pemilik tanda. Itu artinya kedua kakek itu secara tidak langsung ingin melukaiku? Aku tak mau merasakan kesakitan lagi. Rasa sakit atas hawa kehadiran vampire saja rasanya sudah membuatku tak kuat lagi untuk hidup. Mereka ingin aku mati, ya? Aku tak mau, tak mau!

 

Aku mundur perlahan dari posisiku, dan sialnya..

 

 

PRANG!

 

 

Aku menabrak meja dan membuat salah satu guci indah itu jatuh. Bagus Cheonsa, bagus. Mereka menyadari kehadiranku. Kulihat dari celah pintu Chanyeol menoleh ke arahku. Aku harus kabur, aku tak mau hidup seperti ini lagi. Ini terlalu berat bagiku. Aku tak mau merasakan sakit lagi. Aku tak mau diatur oleh para vampire tua yang menyebalkan itu. Aku berlari untuk keluar dari rumah ini. Dapat kudengar suara pintu terbuka. Pasti mereka akan mencegahku.

 

 

“Cheonsa!”

 

 

BRUK!

 

 

Luhan meneriakkan namaku, dan aku menabrak seseorang. Hawa dingin seketika aku rasakan. Aku membuka mataku dan sangat terkejut saat mendapati orang ini yang ternyata berada di hadapanku.

 

 

“Se-Sehun?”

 

 

Ia memelukku dengan protektif. Untuk apa Sehun tiba-tiba datang kemari? Aku menghadap dadanya sehingga tak bisa melihat wajah Luhan. Aku masih mengatur napasku—antara karena kaget dan sesak karena hawa kehadiran Sehun ini. Aku bisa merasakan hawa horor di belakangku. Sepertinya Luhan dan Sehun saling menatap tajam satu sama lain. Ada apa diantara mereka?

 

 

“Luhan, aku menciptakanmu untuk melindunginya. Aku mengiklaskannya padamu karena bagaimanapun aku tak akan bisa memilikinya. Mengapa kau seperti ini?”

 

“Sehun, a-aku tidak bermaksud—“

 

“Aku akan membawa Cheonsa pergi.” A-apa? Sebenarnya apa yang dua orang ini bicarakan?

 

 

Tiba-tiba aku langsung merasa pusing dan berkunang-kunang. Aku seperti merasakan jet-lag. Oh, ternyata Sehun baru saja berteleportasi. Pantas saja. Sekarang di hadapanku ini terdapat sebuah mansion yang sangat luas. Apakah ini rumah Sehun? Ia lantas menarik tanganku untuk mengikutinya masuk ke dalam rumah ini. Semuanya mulai terlihat jelas, namun masih kabur oleh pandanganku. Aku juga masih memikirkan kalimat Sehun tadi. Bahwa ia yang menciptakan Luhan. Feeling-ku mengatakan suatu fakta menyedihkan lain berada tepat berada di hadapanku.

 

Jangan-jangan Sehun itu salah satu Strămoș? Dan ini adalah tempat berkumpul para Strămoș itu? Semoga saja feeling-ku ini salah. Semoga.

 

0o0

 

Terkutuklah dewi langit dan bumi. Ternyata mansion ini benar-benar tempat tinggal para Strămoș. Sehun langsung membawaku ke ruang tengah mansion ini. Sangat megah, bahkan sepertinya lebih megah daripada ruang tamu rumahku. Aku sangat shock saat pintu besar nan tinggi itu terbuka dengan sendirinya, menyuguhkan pemandangan abad Renaissance dengan berbagai kristal yang tergantung di langit-langit serta dinding yang disana tergantung berbagai macam lukisan khas Da Vinci. Last Supper, Madonna of The Rock—serta lukisan-lukisan yang kuketahui sebagai sejarah atau silsilah vampire. Tapi sayangnya bukan dekorasi menawan ini yang membuatku terkejut.

 

Disana, di sofa klasik berwarna putih gading itu. Aku tak percaya ini. Pasti ini mimpi. Mereka semua orang-orang yang sangat aku kenal. Kris seonsaeng, Minseok seonsaeng, Myungsoo, Jongdae sunbae dan temannya yang setahuku bernama Jinyoung sunbae. Oh tidak, ini benar-benar mimpi buruk. Sehun kembali menarik tanganku untuk berjalan mengikutinya, tapi aku justru diam membatu. Dingin, dan aku sedikit merasa sesak. Belum lagi rasa shock-ku yang tak kunjung reda. Semua ini terlalu mengerikan bagiku. Sehun yang menyadari diamnya diriku langsung menoleh dan menatapku. Ia..ia menatapku dengan sangat lembut.

 

 

“Tenanglah. Akan kami ceritakan semuanya disini. Jangan takut.”

 

 

Aku menghela napas dalam sekali lagi. Aku balas tersenyum pada Sehun lalu kembali mengikutinya dari belakang. Orang yang pertama menyadari kehadiran kami adalah Jongdae sunbae dan Myungsoo. Mereka seperti sedang mengerjakan sesuatu—seperti menulis di atas kertas dan memindahkan catatan itu di kertas satunya. Jongdae sunbae berjalan ke arah kami—atau lebih tepatnya melesat seperti vampire pada umumnya—dan langsung memelukku. Sepertinya ia sangat mengkhawatirkanku.

 

 

“Cheonsa, aku sangat mengkhawatirkanmu.”

 

 

Lagi-lagi hanya senyum paksa yang bisa aku tunjukkan. Walaupun aku tahu jika Jongdae sunbae ini di pihak yang baik, tetap saja aku masih merasa takut. Satu ruangan ini berisikan vampire, apalagi mereka adalah vampirevampire yang diagungkan. Ibaratnya, mereka-lah raja dari seluruh vampire yang ada di dunia. Sehun sudah meninggalkanku yang masih bicara dengan Jongdae sunbae. Ia bergabung dengan Kris seonsaeng. Jongdae sunbae membawaku untuk duduk dengannya dan juga Myungsoo. Myungsoo seperti biasa selalu tersenyum manis padaku. Tak lama, Jinyoung sunbae ikut bergabung dengan kami.

 

 

“Hei Cheonsa, kita sepertinya jarang bertemu di sekolah. Jung Jinyoung imnida.”

 

Annyeong, sunbae.”

 

 

Sedikit banyak rasa takutku berkurang. Mereka mungkin memang baik sungguhan padaku. Jadilah sekarang aku memperhatikan bagaimana Jongdae sunbae dan Jinyoung sunbae mengajarkan Myungsoo tentang pelajaran yang tak ia mengerti. Oh, itu kan pelajaran semester depan dan Myungsoo telah mempelajarinya. Hebat.

 

 

“Umurmu ini sudah ratusan tahun, masa pelajaran manusia ini saja kau masih tak mengerti? Untuk apa kau sekolah berkali-kali jika ini saja tak mengerti?”

 

 

Jinyoung sunbae tertawa melihat Myungsoo yang dimarahi oleh Jongdae sunbae. Myungsoo malah senyum-senyum tak jelas karena merasa malu. Wah, jika hidup vampire abadi, berarti mereka mungkin sudah merasakan bangku sekolah ratusan kali. Hihihi, bagaimana ya rasanya mengoleksi seragam sekolah atau toga kelulusan universitas? Pasti akan sangat lucu.

 

 

“Myungsoo, kau ini sudah sarjana ratusan kali. Apa kau tak malu dengan ratusan toga kelulusanmu yang terpajang di kamar itu? Masa pelajaran sekolah menengah saja tak bisa?”

 

 

Kali ini aku ikut tertawa mendengar omelan Jinyoung sunbae. Ternyata apa yang aku pikirkan adalah realisasi hidup Myungsoo. Pantas saja vampire sangat pintar, bahkan jenius. Mereka tentunya telah belajar segala macam ilmu dunia dan selalu memperbaharui informasi yang berubah dari tahun ke tahun, masa ke masa.

 

 

“Cheonsa, aku tahu kau haus. Ini, minum dulu.” Sehun tiba-tiba saja sudah datang di hadapanku dan memberiku segelas air putih. Ia lalu langsung duduk di sampingku.

 

“Myungsoo pabo. Masa pelajaran Sejarah saja tak bisa.” Ujar Sehun untuk memanasi Myungsoo.

 

“Hei, sejarah ini salah. Aku-lah yang membunuh kesatria Korea tua bangka itu tiga ratus tahun lalu saat penyerangan Inggris. Aku sangat benci pelajaran Sejarah. Kita hidup berpindah tempat dan harus mempelajari seluruh Sejarah mereka. Wajar kan jika aku tak tahu?”

 

 

Akhirnya semuanya tertawa mendengar pembelaan Myungsoo itu. Tak lama, Kris seonsaeng dan Minseok seonsaeng menghampiri kami semua. Tak ada yang berani bersuara setelah mereka dengan resmi duduk di samping kiri sofa ruang tamu ini. Jika aku tak salah tebak, mungkin mereka berdua adalah yang dituakan dan lebih dihormati. Suasana ruangan ini hening. Tatapan mereka menelisik ke segala arah. Aku merasakan aura-aura aneh disini.

 

 

“Kalian jangan bersenang-senang sementara ada gadis yang bingung disini. Jelaskan padanya yang sebenarnya.” Minseok seonsaeng membuka suara terlebih dahulu. Sedangkan semua mata seperti mengalihkan pandangannya ke arah Jongdae sunbae. Ada apa? Apakah dia disini berperan sebagai sang pembicara?

 

“Baiklah. Cheonsa, sebagai cucu dari Alexander Park kau pasti sudah sangat tahu hampir seluruh sejarah vampire dan bagaimana seluk-beluknya.”

 

 

Jongdae sunbae memberatkan suaranya, berusaha untuk serius. Aku hanya diam sambil memperhatikan kalimat apa yang mungkin akan ia bicarakan. Semuanya bersikap biasa saja, hanya diam dan masih terus memandangi Jongdae sunbae. Oh ayolah, cepat katakan apa yang harus aku ketahui.

 

 

“Tentunya kau pasti sudah menduga, atau bahkan sudah tahu jika semua yang ada disini adalah Strămoș. Semuanya, kecuali aku.”

 

 

Sepertinya aku tak terlalu kaget, karena dugaan dan instingku selalu benar. Dan benar, kan? Aku sekarang tengah berada dalam ‘sangkar emas’ para Strămoș. Apa lagi setelah ini? Apakah aku akan dijadikan santapan makan malam mereka? Tapi rasanya itu tak mungkin. Tunggu, jika tadi Jongdae sunbae bilang jika ia tak termasuk dari Strămoș, berarti hanya ada lima disini. Setahuku Strămoș berjumlah delapan. Kemana yang tiga lagi? Oh, yang satu sudah jelas yaitu Junmyeon seonsaeng—guru gila yang mengejarku. Berarti aku hanya belum melihat yang dua lagi. Kemana ya mereka bertiga? Oh tidak, jangan sampai aku bertemu dengan Junmyeon seonsaeng.

 

Jongdae sunbae kembali menjelaskan. Setiap Strămoș memiliki kekuatannya tersendiri—diluar konteks kekuatan umum mereka seperti teleportasi atau kekuatan umum lainnya. Dimulai dari Kris seonsaeng. Ia bisa mengendalikan pikiran makhluk apapun—binatang, manusia, tumbuhan, vampire dan yang lainnya. Mind controller, ya sejenis itulah. Maka dari itu Kris seonsaeng bisa mengendalikan rasa lapar para vampire saat dulu tanganku berdarah di aula. Ia juga bisa mengatur seseorang untuk merasakan rasa sakit, senang atau apapun sesuai kehendaknya.

 

Kedua, Minseok seonsaeng. Ternyata Minseok seonsaeng hanya bisa membedakan warna menjadi dua di matanya—hanya hitam dan putih. Ia memiliki pengelihatan yang membentang sangat jauh. Misalnya, ia bisa melihat apa yang orang di belahan bumi barat sana lakukan. Biasanya Minseok seonsaeng memegang andil dalam pengintaian dan searching daerah jika para Strămoș akan berpindah tempat. Minseok seonsaeng-lah yang akan melihat apakah tempat itu aman atau tidak. Dan ia juga bisa membekukan segalanya menjadi bongkahan es—dan menghancurkannya hanya dengan sekali kedip.

 

Jinyoung sunbae bisa mengeluarkan api dari tubuhnya. Itu dikarenakan adanya organ tubuh tersendiri dalam tubuhnya yang tidak dimiliki Strămoș lain. Ia adalah yang paling berbahaya saat marah, untuk itulah Jongdae sunbae diciptakan. Mereka adalah sahabat, dan Jongdae sunbae-lah yang selalu meredakan amarah Jinyoung sunbae. Ia bisa membakar satu negara bahkan dunia ini jika ia mau. Api akan dengan otomatis keluar dari manapun di tubuhnya—bisa tangan, telapak kaki, bahkan mata.

 

Myungsoo, dengan senyum manisnya itu ternyata adalah pesulih wujud. Bahkan aku baru tahu jika ada vampire yang bisa merubah wujudnya menjadi apapun yang ia mau. Jangan percaya dengan film animasi yang bilang jika vampire bisa berubah menjadi kelelawar, karena itu tidak benar. Myungsoo adalah satu-satunya vampire yang bisa berubah wujud—entah itu menjadi binatang atau bahkan menjadi orang lain yang ia kehendaki. Myungsoo-lah yang selalu berperan sebagai pengintai musuh dan menyusup lalu menyamar saat terjadi perang di zaman dulu. Myungsoo pernah bekerja sebagai tentara militer dan menjadi pimpinan di perang salib bahkan perang dunia.

 

Sehun mungkin yang paling kejam disini—menurutku. Ia pengatur takdir. Heran? Aku juga lebih heran. Jika Sehun menghendaki seseorang untuk mati, maka hanya dengan satu ucapan ‘mati’ dari mulutnya, maka orang itu akan benar-benar mati. Sebaliknya, jika ia berkata ‘hidup’ maka orang itu akan hidup. Sehun bisa menghidupkan kembali vampire yang sudah lebur menjadi abu. Menakjubkan, tapi sangat kejam menurutku. Hidup dan mati adalah kehendak Tuhan, dan Sehun bisa hampir menyamai hal itu.

 

 

“Ada tiga orang lagi. Dan salah satunya adalah Junmyeon. Kekuatannya hampir mirip dengan Kris, bedanya adalah Junmyeon lebih merujuk pada jiwa seseorang. Junmyeon mengendalikan jiwa orang itu sehingga menjadi gila dan penuh rasa sakit serta penderitaan yang mendalam lalu akhirnya memohon untuk mati.” Aku tercekat mendengar ucapan Minseok seonsaeng. Bagaimana nasibku? Apakah Junmyeon seonsaeng akan membuatku menjadi gila dan akhirnya mati mengenaskan?

 

 

Setelah diam beberapa lama, akhirnya Jongdae sunbae kembali melanjutkan penjelasannya. Selanjutnya ada Yixing. Dia tak ada disini. Mereka bilang tiga Strămoș yang lain tinggal terpisah dengan mereka karena berbeda tujuan dan pemikiran. Mereka bertiga lebih sadis dan masih sering membunuh manusia. Namun Sehun dan yang lain bingung karena sebenarnya Yixing adalah vampire baik, namun lebih memilih untuk mengikuti Junmyeon dan satu orang lainnya. Yixing adalah pengendali darah—blood controller—atau istilah lainnya Imprelize. Hanya dengan tatapan matanya yang lembut namun tajam dan menusuk, ia bisa menghentikan peredaran darah seseorang.

 

Dan terakhir adalah Gikwang. Aku seperti pernah mendengar nama itu. Ia bisa mengeluarkan semacam radiasi atau gelombang elektromagnetik mematikan dari tubuhnya. Persis seperti radiasi nuklir yang dapat menghancurkan apapun yang disentuhnya. Hanya dengan sekali sentuh atau tatapan saja, dan Blam! Benda atau orang itu akan meledak. Bahkan dulu ia pernah meledakkan bongkahan es di puncak Everest.

 

 

“Aku mencium aroma darah seseorang. Siapa yang kalian bawa?”

 

 

Semua menoleh ke arah pintu dan mendapati seorang pria berkulit putih itu tersenyum, dan seketika itu juga aku tercekat. A-aku mengenalinya. Ia sangat dekat dengan keluargaku. Dokter kepercayaan kakekku.

 

 

“Dokter Zhang?!”

 

Eoh, Cheonsa? Kenapa bisa ada disini?”

 

 

Ia tersenyum lalu berjalan santai ke arah kami. Entah apa alasannya, tapi Sehun yang berada di sampingku tiba-tiba langsung menarik pinggangku dan merangkulnya. Hanya perasaanku saja atau dua kubu ini sepertinya saling berselisis paham? Tak lama, ada satu orang lagi yang masuk. Langkah kakinya menggema di ruangan ini. Dan lagi-lagi—ya Tuhan ada apa dengan takdirku?!—aku terkejut atas siapa yang datang itu.

 

 

“Cheonsa?”

 

“Gikwang oppa?! I-ini tak mungkin..”

 

 

Lee Gikwang. Ternyata memang benar aku pernah mendengar nama itu. Ia adalah mantan kekasihku. Kami berpisah karena suatu kejanggalan. Ia meninggalkanku begitu saja tanpa kabar dan tak lama aku mendengar kabar bahwa ia mengalami kecelakaan pesawat dan tubuhnya tak diketemukan. Ia telah meninggal. Namun apa ini? Ia berdiri disini dalam keadaan sehat dan ternyata selama ini ia adalah vampire?! Belum sempat rasa kagetku sirna, satu orang lagi datang melewati pintu itu dan tersenyum padaku.

 

 

Junmyeon seonsaeng. Dan entah kenapa senyum manisnya itu selalu terlihat mengerikan di mataku.

 

 

TBC

 

 

Semakin menjadi tidak jelas ternyata hehe. Haaaaa kebanyakan ngayal jadi gini nih. Ribet ga ceritanya? Atau ada yang ga ngerti? Atau jangan-jangan Angel ngayalnya ketinggian? Semoga semuanya suka yaa. Kalo bahasanya ada yang ribet bilang aja nanti sebisa mungkin diturunin biar ga ribet lagi hehe. Luhan disini partnya dikit, emang sengaja sih. Kan super hero datengnya belakangan alias telat terus, hihi. Castnya banyak banget, semoga ga ngebingungin. Kan castnya makhluk tampan mempesona semua jadinya ya gitu. Doakan selanjutnya lancar. Annyeong^^

128 pemikiran pada “Seonsaengnim (Chapter 5)

  1. Omonaa jinyoung dan gikwang oppaa :’)
    Hmm ada yang aneh sama relationship mereka semua *curiga
    Makin bagus thoor, jempol buat author

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s