Wolf’s Eternal Love (Chapter 2)

Wolf’s Eternal Love

Untitled-1 edit copy

A Storyline Present By:

@diantrf & @ferrinamd

 

Wolf’s Eternal Love

(She’s mine)

 

Cast:

Huang Zitao, Oh Sehun (Exo) | Park Cheonsa, Zhen Yilyn (OC)

 

Genre: Fantasy, School-life, Romance | Rating: T | Length: Chaptered

 

Prev:

Teaser | Part-1

 

0o0

 

Jam pelajaran sudah berakhir semenit yang lalu. Cheonsa membereskan buku yang berada di atas mejanya. Sehun menatap gadis itu dalam diam. Bahkan sejak pelajaran dimulai, yang ia lakukan hanya menatap Cheonsa. Seperti racun untuk Sehun, tanpa memandang Cheonsa dia seolah tidak bisa hidup. Abaikan orang-orang yang akan menganggap Sehun gila atau hilang akal. Toh, Sehun tetap mencintai Park Cheonsa seorang.

 

Cheonsa melirik ke bangku belakang. Tepat menjatuhkan pandangannya pada Tao. Tampak laki-laki itu merapikan bajunya. Sebelum ia berjalan hendak melewati meja Cheonsa.

 

Ya! Tao! Kau mau kemana?” Cheonsa melirik Tao yang tersenyum tidak jelas. Ia rasa ada yang salah dengan sikap anak ini. Tao menunjuk dirinya sendiri, dengan polosnya ia tidak menyadari apa yang dia tampakkan untuk orang-orang di sekitarnya.

 

“Aku? Tidak apa-apa. Aku pulang duluan, ya. Kamu bisa pulang bersama Sehun, seperti biasa.” Tao mengacak rambut Cheonsa seraya melirik Sehun yang mengedipkan mata padanya.

 

“Terima kasih, Tao.”

 

Gadis itu menggembungkan pipinya. Sahabatnya benar-benar sedang tidak beres. Apa yang akan Tao lakukan?

 

“Memangnya kamu mau kemana? Tidak biasanya kau pulang secepat ini.”

Tao tidak menjawab sama sekali. Ia hanya tersenyum misterius, menimbulkan tanda tanya besar pada Cheonsa.

 

“Tenang saja, my princess. Tao ingin bertemu cintanya.” Cheonsa mengerutkan dahinya ketika mendengar Sehun berbicara. Ketika ia hendak melihat Tao, anak itu sudah hilang di hadapannya. Berjalan secepat kilat, tanpa memberi salam perpisahan atau semacamnya untuk hari ini.

 

“Dasar anak aneh.”

 

0o0

 

Tao membuat langkah besar menuju ruang kelas tak jauh dari kelasnya berada. Senyuman masih tergambar jelas dari raut wajahnya. Ia pun berhenti di depan kelas. Tepat saat seorang gadis berambut panjang telah berdiri menunggunya. Mereka saling melempar senyum termanis yang mereka miliki. Lyn tahu jika sekarang Tao berhasil membuktikan janjinya. Sekarang pria itu sudah berdiri tepat di hadapannya.

 

“Tao,” gumam Lyn menatap Tao sudah berada di dekatnya.

 

“Ayo, kita pergi. Aku ingin mengajakmu jalan-jalan.” Lyn menundukkan kepala. Dia masih bingung, apa dia harus menerima ajakan Tao atau dia lebih baik pulang.

 

“Kamu tenang saja. Aku pasti mengantarmu pulang ke rumah. Bagaimana?” Tanya Tao meyakinkan Lyn. Gadis ini terlihat masih ragu untuk menerima tawarannya. Padahal Tao ingin menunjukkan sesuatu untuk Lyn.

 

“Baiklah, aku ikut denganmu.” Jawaban Lyn tak ayal mengundang senyum sumringah dari Tao. Dia langsung menggenggam tangan Lyn, mengajaknya pergi dari sekolah ke tempat yang sudah ingin ia datangi.

 

0o0

 

Tao menghentikan motornya di tepi perbukitan cukup jauh dari sekolah. Ia tahu bahwa Sehun mengajak Cheonsa kemari. Sahabatnya sendiri yang mengadu padanya. Tao sendiri cuma bisa menggeleng tak percaya, Sehun berani membawa anak manusia ke tempat seperti ini. Sayangnya, Tao tergoda untuk mengikuti jejak Sehun. Dia ingin menunjukkan jati dirinya. Ini memang terlalu cepat. Tapi baru langkah awal bagi Tao untuk menyelami pikiran dan reaksi Lyn terhadapnya. Tidak berlebihan dan sangat sederhana.

 

Lyn telah turun dari motor. Dirinya menghadap ke sisi perbukitan menghadap ke kota yang tampak indah pada sore hari ini. Tao berjalan, mengikuti arah pandangan Lyn di dekatnya.

 

“Kamu menyukainya?” Lyn mendengar, namun ia terlalu takjub pada keindahan sederhana dalam lingkup kecil ini. Mungkin jika Tao bisa mengajaknya ke puncak yang lebih tinggi, Lyn dapat melihat dengan jelas hiruk pikuk kota yang tampak kecil layaknya miniatur kota.

 

“Lyn,” gadis itu tersadar. Mengalihkan pandangannya pada wajah Tao sangat dekat dengan dirinya. Berjarak beberapa senti sudah membuat jantung Lyn berdegup kencang. Perasaan aneh yang baru saja ia alami. Entahlah, ia belum pernah merasakannya—walaupun ia pernah beberapa kali dekat dengan beberapa teman prianya. Kali ini saja, Lyn mengalaminya. Bahkan kupu-kupu seolah berputar dalam perutnya, menimbulkan sensasi yang mengejutkan dalam tubuh Lyn.

 

“Iya,” gumam Lyn pendek. Dia tidak tahu harus berkata apa lagi. Tao tertawa mendapati reaksi polos yang Lyn keluarkan.

 

“Aku mau menunjukkan sesuatu padamu.”

 

“Apa?” Lyn mengerutkan dahinya. Ia penasaran, kejutan apa yang diberikan Tao padanya. Memberikan sesuatukah atau menunjukkan perasaan pria ini padanya. Lyn terlalu percaya diri. Ia terlalu berharap pada pria yang diam-diam ia sukai.

 

“Berbaliklah. Aku akan melakukan persiapan dan hitunglah dalam waktu sepuluh detik.” Lyn mengangguk paham. Lantas ia berbalik, setelah Tao berjalan sedikit menjauhinya dan Lyn mulai menghitung mundur.

 

“…..4, 3, 2, 1.” Lyn menurunkan kedua tangan yang menutup matanya. Suasana menjadi hening. Tidak ada suara Tao ataupun gerakan yang menunjukkan bahwa Tao ada di dekatnya.

 

‘Kemana dia?’

 

Karena rasa penasarannya semakin memuncak. Lyn langsung membalikkan tubuhnya. Raut wajahnya menjadi pucat. Di hadapannya tidak ada Tao—pria yang tadi menyuruhnya untuk berbalik. Melainkan seekor serigala besar berbulu cokelat dengan mata tembaga menyorot dirinya tajam. Binatang sangat menakutkan berdiri tepat di depan Lyn. Napas gadis itu mulai tak beraturan, lidahnya terasa kelu dan kakinya tidak dapat ia gerakkan.

 

Serigala itu berjalan perlahan mendekatinya, hembusan napas serigala tersebut sangat terasa di dekat Lyn. Ia berjalan mundur, tapi Lyn tidak kuat. Ia terlalu takut, ingin rasanya berlari. Namun tidak bisa, tubuhnya seolah terpaku dan membiarkan dirinya terkurung dalam tatapan tajam seekor serigala yang bisa saja menerkamnya saat itu juga. Tubuhnya terjerembab di atas rerumputan hijau. Sepasang mata Lyn terpejam erat, sudut matanya mengeluarkan air mata ketakutan.

 

“Ku-kumohon jangan dekati aku. Tao, kamu dimana?” Bibir Lyn berucap pelan, sangat pelan. Tapi bisa terdengar jelas di telinga serigala tersebut. Tiba-tiba cahaya melingkupi binatang buas itu. Lalu berubah menjadi sosok manusia normal lainnya.

 

“Lyn, aku disini. Lyn,” ucap Tao khawatir. Ia merasa bersalah sudah membuat Lyn ketakutan. Tao tidak bermaksud menjadikan gadis itu dihampiri mimpi buruk setelah ini.

 

‘Maafkan aku, Lyn.

 

Tao pelan-pelan memegang kedua pergelangan tangan Lyn yang bergetar. Gadis itu sangat ketakutan.

 

“Lyn, Buka matamu.” Tao berusaha meyakinkan Lyn bahwa tidak ada serigala, yang ada hanya dirinya. Kedua mata Lyn terbuka, tampak bola matanya berair. Ia menangis. Lyn menghamburkan pelukan pada Tao. Lyn memeluk leher Tao sangat erat—tidak ingin melepaskannya kali ini. Ia sangat ketakutan. Bersumpah tidak ingin melihat serigala lagi. Ini pengalaman menakutkan baginya.

 

“Tao aku takut. Tadi ada serigala, dia ingin menerkamku.” Tao mengelus punggung Lyn lembut, berusaha menenangkan Lyn yang masih diliputi ketakutan.

 

“Aku disini, tenanglah. Aku pasti melindungimu.” Tao menempelkan bibirnya di leher Lyn. Mencium ceruk leher Lyn dalam. Berniat membuat gadis ini agar tidak ketakutan lagi. Tao bersalah, Tao merasa berdosa telah membuat orang yang dia sukai merasa terancam karena ulahnya. Kemudian ia mencium puncak kepala Lyn.

 

Kamu jangan khawatir. Aku akan melindungimu, aku mencintaimu. Jangan takut lagi padaku. Kumohon.’

 

“Tao, aku takut.” Lyn masih memeluk leher Tao lama. Tangan kokoh Tao mengusap kepala Lyn.

 

“Kamu aman bersamaku. Tidak usah takut. Aku tetap di sampingmu.”

 

Berangsur-angsur deru napas Lyn kembali normal. Dia masih memejamkan mata dalam pelukan Tao. Sampai ia tersadar, sudah melakukan tindakan tidak sopan. Memeluk seseorang yang baru ia dekati hari ini. Lyn menjauhi tubuhnya, melepas tautan tangannya dari leher Tao. Sedangkan pria itu menatap sendu dirinya.

 

“Maaf tadi aku memelukmu.” Lyn menundukkan wajahnya. Tangan kanan Tao terulur menyentuh pipi Lyn, demi menghapus air mata yang masih membekas. Lyn terdiam menatap perlakuan Tao padanya. Kenapa rasanya senyaman ini? Di sisi Tao, Lyn mulai merasakan kenyamanan. Apa mungkin..ia mulai mencintai Tao?

 

“Justru aku minta maaf karena membuatmu takut karenaku,” ucap Tao bersalah. Sangat bersalah.

 

“Tidak. Kau tidak perlu minta maaf, Tao. Aku jadi merepotkanmu.” Lyn kembali menundukkan kepalanya, menghindari tatapan Tao terhadapnya.

 

“Lebih baik kita pulang. Hari sudah mulai malam. Aku antarkan kamu pulang.” Tao memegang pergelangan tangan Lyn dan membantu Lyn berdiri. Gadis itu hanya mengikuti perintah Tao tanpa berkutik sedikitpun.

 

0o0

 

Tiba di depan gerbang rumah, Lyn turun dari motor Tao. Ia berdiri menghadap Tao. Laki-laki itu melepas helmnya demi melihat wajah cantik Lyn.

 

“Maafkan aku, jalan-jalan kali ini gagal,” kata Lyn. Tersirat rasa bersalah. Tao tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.

 

“Tidak apa-apa. Kamu tidak perlu minta maaf.” Lyn tidak berkata apapun lagi.

 

“Kemarilah,” perintah Tao padanya. Lyn menurut, ia maju selangkah mendekati Tao. Wajah Tao semakin dekat padanya. Mata Lyn tertutup tanpa mau melihat dengan jelas. Hingga sentuhan lembut mendarat di pipi kanannya. Lyn terperanjat, membuka kelopak matanya. Dan melihat Tao tersenyum lebar, kedua matanya mengecil mengikuti lekukan senyuman di bibirnya.

 

“Sampai ketemu besok. Aku pulang. Bye.” Tao melambaikan tangan pada Lyn tanpa mendapat balasan dari gadis itu yang tetap bergeming. Tao mengenakan helmnya dan melajukan motor besarnya memasuki jalanan yang ramai kendaraan.

 

0o0

 

Sehun bergegas melangkah menuju kelasnya. Melewati beberapa siswa-siswi yang menghalangi jalannya. Tinggal satu kelas lagi yang harus ia lewati. Hingga ia menyadari seorang gadis berdiri tepat di depan kelas bersama temannya. Melihat sebuah Wolf-print tersemat manis di leher gadis yang sejak tadi menarik perhatiannya.

 

“Jadi dia sudah ada yang memiliki,” gumam Sehun berlalu tanpa memperhatikan gadis itu lama-lama.

 

Tiba di kelas, ia sudah melihat Cheonsa mengobrol bersama Tao. Ia menatap laki-laki yang kini mencuri perhatiannya. Berkaitan dengan gadis yang ia lihat barusan. Seolah Tao menyadari ada orang lain menatapnya. Segera mengalihkan pandangannya dari Cheonsa. Mendapati Sehun memandangnya misterius. Hanya sepasang mata kecilnya yang berbicara.

 

‘Aku ingin berbicara denganmu di jam istirahat nanti, Tao. Kutunggu kau di taman belakang sekolah.’

 

“Ada apa, Tao?” Cheonsa mengikuti arah pandangan Tao. Tepat pada Sehun yang masih berdiri menghadap padanya dan Tao.

 

“Sehun? Ada apa dengan Sehun?” Tanya Cheonsa penasaran. Tao cepat-cepat menggelengkan kepalanya. Bersamaan dengan bel sekolah yang berbunyi nyaring menandakan jam pelajaran sudah dimulai.

 

“Tidak, tidak ada apa-apa. Sudah sana, lebih baik kamu pergi ke tempatmu,” suruh Tao dengan melambaikan tangannya untuk mengusir gadis itu pergi dari bangkunya. Cheonsa melengos tak percaya, walau ia tahu Tao hanya bercanda. Dia langsung bangkit dari tempatnya. Dan menghampiri bangkunya, telah ada Sehun sudah menunggunya sedaritadi.

 

“Apa yang kamu bicarakan dengan Tao?” Tanya Sehun. Cheonsa menggelengkan kepala. Dia tidak mau apa yang ia bicarakan pada Tao terdengar oleh Sehun. Seprotektif Sehun padanya, Cheonsa juga tidak ingin privasinya terganggu. Sebenarnya bukan pembicaraan sensitif, hanya saja gadis itu tidak ingin siapapun tahu hal yang berhubungan dengan dirinya dan Tao—termasuk Sehun.

 

“Tidak ada.”

 

0o0

 

Kedua pria melirik ke kanan-kiri. Takut-takut jika ada seseorang mengikutinya. Taman belakang memang jarang dikunjungi siswa, hanya ada beberapa diantara penghuni sekolah ini yang datang sekedar untuk menikmati istirahat dan jam pulang sekolah di taman asri ini.

 

Sehun menghentikan langkahnya, diikuti Tao juga berhenti berjalan. Lantas Sehun berbalik menghadap Tao. Menatap pria sebangsanya dengan pandangan tajam dan rasa ingin tahu yang besar untuk segera dijawab dari bibir Tao.

 

“Kau sudah memilikinya bukan?” Tanya Sehun tanpa perlu basa-basi. Ia tidak mau berlama-lama sebelum jam istirahat berakhir. Beruntung Cheonsa tidak menanyai mereka macam-macam. Ketika Sehun keluar bersama dengan Tao. Di sisi lain, Tao menghembuskan napasnya. Ia bingung apa yang dikatakan Sehun.

 

“Kau memilikinya, Tao. Jangan berpura-pura bodoh. Aku sudah melihat Wolf-print di leher gadis itu,” jelas Sehun. Sedangkan Tao berusaha meyakinkan apa yang dibicarakan laki-laki di hadapannya.

 

Siapa yang dibicarakannya? Lyn?

 

“Ya, Lyn. Gadis itu. Kau menyukainya dan kau berpikir untuk memilikinya, melindunginya dan kau mencintainya. Ternyata nyalimu besar juga, Huang Zitao.” Ucapan Sehun membuat Tao geram. Ia sudah lupa tanpa disadari sudah membuat tanda kepemilikan itu pada Lyn.

 

Tao tahu, sangat tahu bahwa dirinya menyukai Lyn. Tidak—lebih dari itu—dia mencintai Lyn. Gadis berambut panjang terurai yang sudah mencuri hati Tao sejak pertemuan pertama yang tak disengaja itu. Tatapan mata sejuknya, hidung mancungnya, bahkan bibir mungilnya mampu membuat Tao terlena akan sosok gadis pujaan hatinya. Terdengar tertawaan meledek dari Sehun.

 

“Berhenti Tao, jangan coba-coba membayangkan gadis itu di depanku. Aku bisa saja melakukan hal itu pada Cheonsa. Sahabatmu juga telah membuatku jatuh ke dalam kepolosannya yang berbeda dari gadis lainnya.” Tao menghembuskan napasnya kasar mendengar celotehan Sehun yang hanya membuatnya mual.

 

“Ya..ya, aku mencintainya. Kau pun merasakannya pada Cheonsa. Dan aku mengalaminya kali ini. Aku bersumpah tidak akan meninggalkan gadis itu. Aku akan selalu melindunginya, tanpa ada yang boleh mencelakainya.” Sehun memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam saku. Ia paham yang dirasakan Tao. Sama dengan Tao, Sehun juga akan selalu melindungi Cheonsa. Sikap protektifnya bisa beratus kali lipat lebih tinggi, jika ada sesuatu yang mengancam Cheonsa.

 

“Aku percaya dengan keberanianmu. Lindungi dia semampu yang kau bisa. Aku rasa gadis itu juga menyukaimu.” Sehun mengeluarkan senyum misteriusnya. Tao menatap Sehun datar tanpa berminat melanjutkan permbicaraan lebih lanjut dengan Sehun.

 

“Ayo, kita ke kelas. Sebentar lagi bel berbunyi.” Sehun berjalan meninggalkan Tao seorang diri. Beberapa langkah berjalan, Sehun menangkap sosok gadis tengah duduk tak jauh dari tempatnya dan Tao berbicara.

 

Apa dia mendengarnya?

 

Gadis itu menatap Sehun dengan pandangan penasaran. Sehun berbalik menatapnya tajam. Lyn tidak menghindari tatapannya.

 

‘Berani juga gadis ini. Pantas Tao menyukainya.’

 

“Apa tadi kau mendengar kami berbicara?” Lyn menggeleng pelan, dua buah buku dalam genggamannya dicengkram kuat melalui jari-jari tangannya.

 

“Lyn, sedang apa kamu disini?” Rupanya Tao sudah berdiri di antara Sehun dan Lyn. Menatap Sehun dan Lyn bergantian. Lantas mengacu penglihatannya pada gadisnya.

 

“Lyn,” panggilan namanya menyadarkan Lyn dari tatapannya terhadap Sehun. Mengingat ia baru pertama kali menatap sosok misterius dari Sehun. Entah perasaannya saja—atau memang kenyataannya—menurutnya Sehun bukanlah manusia seutuhnya. Instingnya terlalu kuat mengatakan Sehun adalah sosok lain. Lyn menggelengkan kepalanya, berusaha mengaburkan imajinasinya sendiri.

 

“Jangan terlalu berkhayal, Nona Lyn. Aku tidak akan menerkammu.” Sehun menunjukkan smirk-nya, setelah membaca pikiran gadis ini. Lalu pergi meninggalkan dua orang yang sedang kasmaran.

 

Beralih pada Tao, menatap kepergian Sehun dengan kebingungan. Kalau benar pikiran Lyn menganggap Sehun bukanlah manusia. Apa gadis ini juga menganggapnya sebagai sosok menyeramkan?

 

“Lyn, kamu tidak apa-apa?” Pertanyaan Tao kembali menyadarkan gadis itu dari pikiran semunya. Memandang kedua mata Tao dan berkata,

 

“Aku tidak apa-apa. Kebetulan aku tidak sengaja lewat sini. Melihatmu dan laki-laki itu berbicara, aku jadi berhenti. Tampaknya kalian berbicara serius. Apa yang kalian bicarakan?”

 

Tao melebarkan kedua matanya. Gawat jika Lyn tahu yang sebenarnya.

 

Setidaknya tunggu waktu yang tepat untuk berkata sebenarnya. Tao tidak mau gegabah—lagi.

 

“Tao, kamu mendengarku?” Lyn mengulurkan tangannya, mengguncang-guncangkan bahu Tao.

 

Ah ya, ada apa?” Hanya itu tanggapan singkat dari Tao. Lebih baik Lyn tidak melanjutkannya. Mungkin kedua laki-laki ini tengah memperbincangkan sesuatu yang rahasia.

 

“Lupakan, Tao. Aku mau ke perpustakaan. Kamu mau menemaniku?” tawar Lyn. Dibalas anggukan kepala Tao. Lalu mereka berdua berjalan bersama menuju perpustakaan.

 

0o0

 

My Princess, apa kamu sudah tahu wanita yang telah merebut hati sahabatmu?” Cheonsa mengernyitkan dahi, menatap heran pada Sehun yang masih fokus mengemudikan mobilnya. Saat ini Cheonsa berada di mobil Sehun. Seperti biasa laki-laki itu mengantar Cheonsa sampai ke rumahnya.

 

“Jangan menatapku seperti itu. Aku ingin bertanya saja padamu.”

 

“Maksudmu, Tao?”

 

“Iya, siapa lagi teman priamu yang selalu kamu banggakan, Park Cheonsa?” Gadis itu menggembungkan pipinya, tak ayal mengundang gelak tawa dari Sehun.

 

“Aku tidak tahu. Dia menyukai seorang gadis. Ah, apa mungkin dia menyukai gadis itu?”

 

“Jadi, sebelumnya Tao pernah bertemu dengan Lyn?”

 

“Lyn? Jadi gadis itu bernama Lyn?” Sehun menganggukkan kepalanya. Karena dia sudah pernah menanyakan hal ini pada Tao.

 

“Lyn, Lyn. Masa iya dia menyukai gadis yang baru beberapa kali sudah jatuh cinta padanya. Padahal pertemuan mereka cuma karena insiden kecil.” Sehun menganggukkan kepala lagi. Dia mendengar serius apa yang dibicarakan Cheonsa. Sehun sudah menduganya sejak awal. Pasti laki-laki itu tengah menyukai seorang gadis. Ternyata tebakannya benar.

“Tidak jauh berbeda denganku, My princess. Bukankah awal pertama jumpa aku sudah menyukaimu, bahkan mencintaimu. Hingga aku memberikan Wolf-print di leher putihmu itu, sayang.” Cheonsa kaget mendengar pernyataan Sehun. Tentu menimbulkan semu merah di pipi chubby Cheonsa. Lantas kembali menegakkan kepalanya, setelah mengingat sesuatu yang terlewat.

 

“Apa mungkin Tao memberikan Wolf-print pada gadis itu?” Tanya Cheonsa. Ini hanya dugaannya saja. Sehun menjentikkan jarinya cepat.

 

“Betul sekali. Tao sudah memberikan Wolf-print itu pada Lyn. Kurasa bangsa kami tidak pernah bermain-main dengan rasa cinta kami pada gadis yang dicintainya. Jadi jangan ragukan lagi cintaku padamu, My Princess.” Cheonsa terdiam. Tebakannya disambut positif oleh Sehun. Telebih penjelasan Sehun cukup masuk akal. Dan kejadian ini kembali terulang. Setelah Cheonsa, sekarang Lyn memiliki Wolf-print dari Tao di waktu yang berdekatan.

 

0o0

 

Cheonsa berlari kecil meninggalkan Sehun yang berada di belakangnya. Setelah Sehun berangkat bersama Cheonsa. Gadis itu malah berlalu meninggalkannya di belakang. Tanpa menghiraukan panggilan Sehun. Siswa-siswi melihat mereka berkejaran seperti anak kecil. Sehun memperlambat langkahnya. Menunduk malu mendapati tatapan heran dari teman sekolahnya.

 

‘Awas kau, Park Cheonsa.’

 

Cheonsa sendiri sudah tak sabar mendengar pengakuan dari Tao. Dia penasaran, sejak semalam dirinya memikirkan bagaimana mungkin seorang Huang Zi Tao yang cool, menjaga image-nya bisa langsung memberikan Wolf-print khusus untuk Lyn—yang menurutnya seorang gadis kutu buku dengan hobi datang ke perpustakaan dan membawa tumpukan buku dalam genggamannya. Namun, Cheonsa akui Lyn gadis yang cantik.

 

Dia gadis baik.

 

“Tao, Huang Zi Tao!” Pekik Cheonsa saat tiba di kelas. Teman sekelasnya memandang heran. Namun gadis itu tetap cuek, lebih memusatkan dirinya utnuk menghampiri Tao yang tengah mengobrol bersama teman sebangkunya.

 

“Ada apa?” Tanya Tao datar. Dia merasa terusik dengan panggilan Cheonsa yang tiba-tiba dan sepagi ini.

 

“Kamu menyukai Lyn, kan?” Tanya Cheonsa singkat. Gadis itu tidak sabar ingin mendengar jawaban dari mulut Tao sendiri.

 

“Ya, aku menyukainya,” jawab Tao pendek. Itu tidak perlu diperjelas lagi. Tao sudah menceritakan dirinya menyukai Lyn. Untuk apa gadis itu menanyakannya lagi? Lantas Cheonsa mencondongkan tubuhnya, mendekatkan bibirnya di depan telinga Tao.

 

“Dan kamu memberikan Wolf-print pada gadis itu?” Itu bukan pertanyaan, menurutnya pernyataan yang ditujukan untuk Tao.

 

Okay, untuk yang satu ini, Tao sama sekali belum menceritakannya pada Cheonsa. Ia butuh waktu untuk berbagi cerita dengan sahabatnya. Apalagi setelah Sehun dengan tepat mengatakan hal tersebut padanya. Tao harus lebih berhati-hati.

 

“Kau… bagaimana bisa tahu? Aku belum menceritakannya padamu,” bisik Tao tanpa berniat untuk menjadi pusat perhatian seluruh penghuni kelas.

 

“Aku yang memberitahunya.” Tiba-tiba di belakang Cheonsa sudah berdiri sosok Sehun. Telah mendengar pembicaraan singkat Cheonsa dengan Tao. Sedangkan Tao menghembuskan napas kasar. Bisa-bisanya Sehun menceritakannya sembarangan. Suasana hatinya menjadi buruk. Tao tidak ingin memulai pertengkarannya lagi dengan Sehun. Sudah cukup dirinya merasakan lelah akibat perselisihan menyangkut orang yang dia sayangi.

 

“Kenapa kau memberitahunya? Aku bisa menceritakan semuanya.” Ucapan Tao pelan namun penuh penekanan. Ia berusaha meredam emosinya agar tidak membuncah. Cheonsa memegang bahunya. Mencoba meredam emosi Tao yang memburuk.

 

“Aku yang bertanya pada Sehun. Kau tidak usah menyalahkan dia.” Tao mengangkat sudut bibirnya, tak percaya dengan apa yang dia dengar dari Cheonsa.

 

“Kamu tidak akan bertanya, kalau Sehun tidak memulai pembicaraannya. Benarkan?” Tanya Tao beralih memandang Sehun lekat-lekat. Cheonsa terdiam. Dia menarik tangannya. Seharusnya Cheonsa tidak menanyakan hal tersebut di pagi hari. Dia merasa bodoh membuat kedua laki-laki ini terpancing amarah hanya karena dirinya.

 

“Maaf, aku hanya memastikannya. Kumohon kalian jangan bertengkar.” Cheonsa menatap sendu Tao seraya tersenyum pada sahabatnya.

 

“Tenang saja, My Princess. Kami tidak akan bertengkar karena hal sepele. Lebih baik kita ke tempat duduk.” Sehun menarik pergelangan tangan Cheonsa. Menarik gadis itu untuk duduk di bangku mereka. Tao memejamkan mata berharap emosinya menurun pasca insiden kecil baru saja terjadi.

 

‘Maafkan aku, Cheonsa.’

 

 

 

TBC

 

 

@diantrf’s Note: Makasih buat readers yang terus ngikutin cerita ini. Maaf kalo ada yang ngebingungin atau ada yang kalian ga suka, Angel dan Fefe juga masih tahap pembelajaran dan saling menyesuaikan, hehe. Dan buat yang minta Tao-Cheonsa, hehe sepertinya itu tidak bisa. Staytune terus and jangan lupa baca juga cerita karya kami yang lainnya. Annyeong^^

 

@ferrinamd’s Note: Haiiii, sesuai janjiku. Ada beberapa bagian ceritaku dengan Angel. Yaa, aku berusaha buat agar HunSa dan TaoLyn moment berimbang. Semoga kalian menyukainya. Tunggu cerita kami berikutnya. Pyong~<3

Iklan

31 pemikiran pada “Wolf’s Eternal Love (Chapter 2)

  1. makin seru makin seruuuu
    asik asik
    tp kayanya tao oppa sama lyn ga berjalan lancar
    lyn takut sama tao oppa
    kalo aku jd lyn sih dinikahin saat itu juga pasti langsung mau
    hahaha

    ffnya sukses bikin aku senyum senyum sendiri unnie thoor
    keren !
    next chap next chap
    keep writing ya unnie thoor ! fighting !

  2. ohh yg ini..??
    aku pernah baca chapter ini hehe XD !
    ternyata ff ini bakal ada kelanjutannya toh!!
    yyya.. bersyukur dh aku nemuin chapter lanjutan nya.. hufth.. krna klo ga !
    bsa2 aku pnsaran gra2 gatau lanjutan critanya .. sukses ya thor ! fighting ^.^)9 !

  3. bingung sama tao kenapa dia emosi gitu yang pas cheonsa nanya ke dia ?
    apa ada rahasia yan dia sembunyiin ? *soktau-_-
    soalnya aku liat kayaknya sehun sama tao kayak ada sesuatu yang disembunyiin gitu wkwkwkk..
    oke aku lanjut ke chap 3 aja xD

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s