A Longlast Happinnes (Chapter 3)

A Longlast Happinnes

Title: A Longlast Happinnes (Chapter 3)

Author: Jung Rae Mi

Cast: -EXO’s Sehun

-OC’s Se Ra

-etc

Genre: Angst, Sad, Romance

Rating: PG-17 (naik dikit)

Length: Chapter

A.N: Author mau bilang, MOHON MAAF LAHIR BATIN EAAAA~!! ^^ Author mau minta maaf karena males banget ganti judul. Malas banget. Sumpah. Nggak tau kenapa.

BETEWE, ITU AKASHI SEIJURO BERHASIL MENGALIHKAN PERHATIANKU DARI MIDORIMA SHINTAROU YANG MIRIP SEHUN ITU!!! Padahal dari tahun ke tahun hanya suka Midorima, eh akhirnya suka si dewa gunting itu juga. *curhat lu thor?*

Happy Reading!! ^^

.

.

.

Salah satu perkataan Suho Oppa yang paling kuingat adalah,

“Se Ra, di dunia ini, ada yang disebut ‘takdir terindah hingga akhir hidup’. Itu akan terasa secara langsung olehmu. Ketika kau bertemu dengan takdir terindahmu, kau akan segera tahu itu adalah takdirmu. Meskipun jalan untuk bersamanya berliku-liku, tapi kalian telah terikat benang merah sejak pertama bertemu, dan akan bersama di akhir hidup. Tapi jika ia bukan, maka kau tidak akan yakin jika dialah takdir terindahmu. Bahkan jika kau telah hidup bersama orang yang tidak kau yakini sebagai takdir terindahmu itu, kau akan menemukan orang yang merupakan takdirmu suatu saat nanti. Dan kau adalah orang yang paling beruntung jika takdir terindahmu ada di saat pertamamu.”

Dan aku menemukannya.

Oh Se Hun.

.

.

.

Se Ra kini berdiri di sisi pantai. Ia merentangkan kedua tangannya, tersenyum riang. Tubuhnya membelakangi Sehun. Rambut coklatnya diterbangkan angin.

Hazel Sehun tidak bisa berhenti menatap sosok Se Ra. Sehun segera membidik Se Ra lagi dengan kameranya. Entah sudah berapa ratus foto yang dia ambil hari ini hanya untuk mengabadikan Se Ra.

Sehun segera mendekat ke arah Se Ra dan memeluknya dari belakang dengan erat. Se Ra menggenggam tangan Sehun yang melingkar di perutnya.

Tu seras toujours la part de lumiére dans le clair obscure.” Bisik Sehun lalu mengecup puncak kepala Se Ra lembut.

You’ll always be the golden object beneath the golden hour.

Se Ra akan selalu menjadi golden object-nya. Yang tidak akan dia lepaskan.

Mereka lalu melakukan hitungan mundur pada matahari terbenam. Menikmati saat-saat golden hour.

Se Ra menyukai golden hour saat musim dingin. Karena ia menyukai sun pillar. Dan ia menyukainya ketika bersama Sehun.

Hanya mereka berdua.

.

.

.

Selimut? Checked.

Sofa? Checked.

Cemilan? Checked.

Dan mereka siap untuk kencan musim dingin malam ini.

“Oke, sepertinya semalam ada seseorang yang berjanji akan memperlihatkan sesuatu yang spesial padaku.” Ucap Se Ra sembari menatap Sehun.

“Ahaha. Araesso. Baiklah, ini.” Sehun mengulurkan sebuah kotak pada Se Ra.

“Apa ini?” Tanya Se Ra sembari membuka kotak itu. “Kaset Glee season 5? Tiap hari selasa selalu main kok.”

“Bukan begitu. Aku pernah cerita jika mendiang ayahku seorang sutradara, ‘kan? Dua hari yang lalu aku meminta kaset ini pada salah satu rekannya. Itu memang Glee season 5, tapi berbeda dengan yang kau nonton saat ini. Karena itu adalah shooting pertama season 5.” Jelas Sehun.

Mata Se Ra seketika berbinar-binar, “maksudmu… ini rekaman yang dimainkan Cory Monteith?”

Dan anggukan dari Sehun sudah cukup untuk membuat Se Ra memekik girang dan memutar kaset itu dengan cepat di DVD Player.

Setelah memastikan perapian menyala, Sehun segera duduk disamping Se Ra, membuka selimut, dan memakaikannya di tubuh mereka berdua.

Ia ingin menikmati momen ini, sebelum harus terpisah lagi karena sebuah dinding tebal bernama pernikahan.

.

.

.

Kai menatap langit malam Busan yang dipenuhi bintang. Ia kini sedang duduk di atap rumah kakeknya sembari menikmati saat-saat sendiri. Ia bersyukur Sehun juga tidak diundang. Karena ia tahu adiknya itu sedang butuh saat-saat bersama dengan kekasihnya.

Tuk!

“Aaaw!” Ringis Kai sembari mengusap kepalanya dan menoleh ke belakang, ke arah jendela yang merupakan satu-satunya jalan menuju atap.

“Dasar nakal.” Omel sang pemukul.

“Aiish… halmeoniwaeyo? Jongin salah apa?” Tanya Kai dengan tatapan mata polos.

“Karena kau tidak bicara jujur pada Min Ah.” Balas nenek.

Sang nenek pun kini menaikkan kakinya ke sisi jendela dan berhasil keluar ke atap. Sampai sekarang Kai kagum karena neneknya cukup kuat.

Wanita tua itu duduk disamping Kai. “Apa susahnya jujur pada kembaranmu sendiri?” Tanyanya.

“Jangan salahkan Jongin. Salahkan Eomma. Dia tidak ingin Min Ah tahu.” Jawab Kai.

“Aku tidak tahu apa yang ada dipikiran anakku itu. Kenapa ia sangat tega. Dia memang turunan Ji Hwan.” Tuturnya.

Halmeoni… kenapa harabeoji keras sekali tentang kekurangan yang dimiliki? Kenapa harus selalu sempurna?” Tanya Kai.

“Ketika Ji Hwan kecil, ia adalah anak kesayangan ayahnya. Ia adalah seorang anak yang menggemari olahraga. Ayahnya sangat menyayanginya, melebihi saudara perempuannya.” Sang nenek memulai cerita. “Lalu, ketika akan mewakili Korea Selatan untuk kompetisi sepak bola tingkat junior dulu, dia mengalami kecelakaan. Kakinya patah dan tidak bisa lagi berolahraga.” Nenek tersenyum tipis mengingat itu. Sedangkan Kai menatap neneknya terkejut.

“Ayahnya sudah tidak peduli lagi padanya. Ia tidak pernah memperhatikan Ji Hwan lagi. Itu sebabnya ia selalu mementingkan kesempurnaan. Karena, ia tidak ingin adanya lagi perasaan seperti itu. Tapi…, ibumu salah. Dia melakukannya dengan salah.” Lanjut nenek.

“Maksudnya?” Tanya Kai lagi.

“Ibumu berpikir, Se Ra adalah kegagalan terbesar. Tapi dia salah, kakekmu justru sangat suka pada Se Ra, hanya saja dia menyembunyikannya. Kau mungkin tidak tahu, tapi Tae Kyung pernah membawa Se Ra kesini ketika dia kelas dua sekolah menengah atas.” Jawabnya.

Mwo? Jadi, Tae Kyung Ahjumma pernah membawa Se Ra kesini? Tanpa sepengetahuan kami semua?” Sang nenek tersenyum melihat wajah terkejut Kai.

“Ya. Awalnya Ji Hwan sudah curiga ketika Se Ra menolak untuk mencarikannya berita baru di koran. Ia awalnya terkejut. Tapi lebih terkejut lagi ketika Tae Kyung menceritakan prestasi yang diraih Se Ra di Prancis.”

“Ah, ya. Prestasi yang dimaksud itu, memenangkan concours 3 tahun berturut-turut dengan memainkan Transcedental Etude no. 10 karya Franz Liszt, Petrouchka karya Igor Stravinsky, dan Piano Concerto no. 2 karya Sergei Rachaminoff.” Kata Kai.

“Yah. Karena itulah kakekmu kagum pada Se Ra. Meskipun gadis itu memiliki kekurangan, tapi dia berhasil mencoba untuk membuat sesuatu yang lebih spektakuler lagi. Dan itu luar biasa. Tapi sayang, ibumu adalah orang yang keras. Dan dia tetap menganggap Se Ra adalah aib memalukan yang harusnya tidak pernah ada.”

Kai mengangguk pelan. Ia terlihat berpikir sejenak sebelum berkata, “Halmeoni…”

.

.

.

Sehun menatap lembut Se Ra yang sudah jatuh tertidur dengan mata sembab karena menangis. Kenapa? Karena menonton adegan pernikahan antara Lea Michelle dan Cory Monteith. Sehun segera mengalungkan tangan Se Ra dipundaknya dan menaruh tangannya di belakang dengkul Se Ra kemudian menggendong gadis itu, membawanya ke kamarnya dan memeluknya disana.

Ia hanya bisa tersenyum mendengar deru nafas lembut Se Ra, melihat wajah polos tidur Se Ra. Yang membuatnya ingin menangis.

“Kenapa kau melakukan ini, eoh?” Tanya Sehun sambil mengusap kepala Se Ra lembut.

“Kenapa kau tega menyakiti dirimu sendiri?”

“Aku jelas melihat senyuman di wajahmu. Tapi itu bukanlah senyumanmu.”

“Berhentilah Se Ra… kumohon.”

“Aku mencintaimu…”

.

.

.

“APA?!”

Halmeoni! Tarik nafas! Rileks! Jangan sampai halmeoni terkena penyakit jantung dadakan lalu mati dan-“

Tuk!

“Aawww…” Ringis Kai lagi sambil mengusap kepalanya dan dipukul oleh tongkat neneknya.

“Jangan sembarangan bicara Jongin! Kau mau halmeoni mati, ya?” Tanya neneknya kesal.

“Bu-bukan begitu. Hanya saja tadi halmeoni terlihat sangat kaget, dan Jongin pikir halmeoni bisa saja terkena serangan jantung…” Jawab Kai polos.

“Aku hanya kaget. Kau serius? Kapan?” Tanya nenek lagi.

“Bulan Januari nanti.” Jawab Kai pelan.

Sedangkan sang nenek hanya bisa tersenyum tipis. “Baiklah. Bagaimanapun juga, ia harus mendapatkan perawatan yang baik.”

.

.

.

“Mmmh… Nggh… Ya! Nafasku habis!” Se Ra menjitak kepala Sehun.

Sehun tertawa lalu menenggelamkan wajahnya di lekuk leher Se Ra membuat gadis dibawahnya mendesis lirih merasakan hembusan nafas Sehun yang semakin memberat.

“Sehun… Sehun…” Tidak ada yang bisa Se Ra lakukan selain menyebutkan nama Sehun. Ia kehilangan kosa katanya jika berada di bawah lelaki ini. Tidak ada lagi yang bisa ia lakukan.

Erangan panjang itu lolos dari bibir Se Ra. Sehun segera meraih bibir itu dan kembali menguasainya. Membuat Se Ra kewalahan di awal namun membiarkan rasa bibir Sehun yang disukainya mengeksplorasi bibirnya.

Ketika pasokan udaranya habis, Se Ra mendorong pelan dada Sehun lalu terengah. Ia memejamkan mata pelan. Membuat Sehun refleks tersenyum lalu mengecup kening Se Ra pelan.

“Aku mencintaimu.” Bisiknya sebelum memulai penyatuan tubuh mereka yang membuat lenguhan tertahan Se Ra mengalun di pagi hari itu.

.

.

.

To Be Continued

.

.

A.N:

ITU APAAAAA?! *nunjuk yang di atas*

YA TUHAAAAN! BARU LEBARAN UDAH BUAT BEGITUAN!! OTAK POLOSKUUUU!!! *Sehun: polos apanya, udah sering buat FF YAOI gitu -_-* *diem lu, Hun, jangan bocorin aib*

Ini author yadongnya lagi kumat atau galau karena dompet lagi kosong jadi nggak bisa beli Blind Film, action figure Akashi, Kuroko, ama Midorima, ya? *nangis ingat semua itu*

Eh, coba kalian dengerin lagi Blind Film-nya bapak author, Yiruma, kalau diperjalanan. Enak banget.

Dan jujur, author nggak tau kenapa, tiap dengar lagu Blind Film, pasti author ingat Kris Wu Yi Fan, dan nangis.

Oke,

KOMEN EAAAPS~! *alay kumat*

19 pemikiran pada “A Longlast Happinnes (Chapter 3)

  1. ah,,,pusing nih, autornya kebanyakan kasih pertanyaan di kepala reader nih.
    itu dialognya jangan dipotongin donk,,,jadi penasaran kan yg mereka omongin apa aja??
    kenapa halmonie-nya kai kaget begitu,,

  2. ichhhh sedih yh klo liat kisah crta mrka y tragis,,,cieee tragis heheheh mank iyaa hehhehe dn nenek add apa???? wahhh add y d sembunyikan yahhhhh,,,,,, wahhh y akhir kurng tuh hahhaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s