Dauntless One (Chapter 1)

BtZhtEvCMAE_-Zm

Judul:

Dauntless One (Chapter 1)

Author :

isanyeo

Main Cast

Oh Sehun ; Lim Hansun

Genre:

Romance ; Angst

Rating :

PG13

A seat of mine. Only mine.

            Rumah bukanlah yang ia tuju. Masih dengan seragam menutupi tubuhnya. Dengan sarung tangan tebal yang membuat dirinya merasa bahwa kedua telapak tangan membengkak. Atau setidaknya, mecegah tangannya untuk tak mati rasa karena musim dingin mulai datang di awal November.

Rumah bukanlah tempat yang membuatnya nyaman, apalagi merasa hangat di musim dingin. Dia menempatkan dirinya di depan seorang wanita dewasa muda, dengan senyum yang mencapai mata dan sapaan lembut kepadanya.

“Hari ini kau terlambat. Studio 4 sudah dimulai 30 menit yang lalu. Kau ingin tetap sekarang? Kursimu, seperti biasa tetap kosong.”

Dia. Gadis itu menimbang-nimbang sejenak. Kemudian menggeleng pelan. “Aku ambil yang tengah malam saja.”

“Kau tak sekolah besok?”

“Aku masih akan berangkat sekolah. Hanay saja, bukankah disini lebih lama lebih nyaman?”

Wanita di depannya hanya tersenyum kecil. Tangannya menggerakkan mouse dan bunyi klik-klik terdengar beberapa kali.

“Tapi tidakkah bosan setiap hari kemari? Dan menghabiskan kurang lebih 3 minggu dengan film yang sama?”

Hansun. Lim Hansun. Dia hanya tersenyum tipis sebagai jawaban. Berharap, Nona Hwang di depannya itu tak bertanya apapun lagi.

“Sepertinya jika suatu saat kau tak datang. Gedung bioskop ini akan merindukanmu, Hansun.”

            Hansun menempatkan dirinya di kursi paling depan dan tepat di tengah. Duduk dengan mata menatap layar besar di depannya. Menyajikan beberapa trailer film yang menangkap perhatian Hansun. Didengarnya beberapa orang memasuki studio. Hansun tak menyusahkan dirinya untuk sekedar menoleh ke belakang melihat siapa saja yang masuk. Bukan urusannya, pikirnya.

            Beberapa menit sebelum film dimulai. Hansun menghembuskan nafas lega. Sepi dan tak banyak orang. Hansun menyukai itu. Setidaknya dia menikmati bagaimana dialog peran utama tersampaikan, atau bagaimana indahnya lokasi yang diambil, atau mungkin sesuatu yang akan membuatnya tertarik. Namun di sekian banyak alasan, Hansun menyukai hal seperti ini, dia memiliki sebuah alasan yang Hansun pikir tak akan ada orang yang mengerti.

            Sebuah suara keras menangkap perhatian Hansun. Hansun mengerutkan kening dan ia merasa terganggu dengan suara itu. Namun Hansun hanya mengabaikan itu dan kembali memfokuskan diri pada layar. Hingga sebuah bayangan tertangkap di sudut matanya. Hansun menolehkan kepalanya dan mendapati seseorang duduk tepat di sebelahnya. Matanya menangkap sosok lelaki muda dengan rambut coklat gelap serta jaket parasut tebal hingga menutup lehernya. Hansun menaikkan alisnya.

            “Bagaimana adegan awalnya?”

            Hansun hanya diam dan menatap wajah lelaki itu dengan tatapan bingung. Lelaki itu masih menatap layar dan sebuah nafas panjang keluar dari mulutnya. Hansun memilih untuk mengabaikan lelaki itu dan menatap ke layar.

            Belum pernah dan belum ada seorangpun yang duduk di sebelahnya. Barisan kursinya selalu kosong dan menyisahkan hanya dirinya saja. Karena mungkin orang-orang menemukan bahwa duduk di barisan paling depan adalah hal yang tak begitu menyenangkan. Mereka harus sedikit mendongakkan kepala agar bisa menatap layar, atau mungkin tak suka karena orang-orang dibelakang akan melihat mereka dan segala yang mereka lakukan akan terlihat. Dan selama 2 tahun terakhir Hansun selalu menempatkan dirinya setiap hari di sini, di kursi yang sama, dia tak pernah menemui orang-orang di barisannya. Meskipun film yang dimainkan merupakan film yang dinanti-nanti, orang-orang akan membatalkan niatan mereka jika mereka mendapatkan 2 baris kursi paling depan.

            “Kau tak mendengarku?” suara lelaki itu terdengar kembali dan sekali lagi Hansun merasa terganggu.

            Hansun hanya mengeluarkan nafas panjangnya, berharap lelaki itu akan mengerti bahwa Hansun tak ingin diganggu sekarang, dia ingin merasa tenang, dan selama ini hanya di sinilah dia merasa tenang dan melupakan segalanya.

            “Nona, aku tak bisa menikmati sebuah film jika aku ketinggalan cerita awalnya.” Lelaki itu menyenggol siku Hansun yang menopang di lengan kursi. Hansun mengeluarkan gumaman kecil dan menatap lelaki di sebelahnya. Menatap lelaki itu dengan tatapan tak sukanya, dan berharap lelaki itu paham bahwa untuk sekian kalinya Hansun merasa terganggu dan dia tak suka itu. Lelaki itu membulatkan matanya dan mengalihkan pandangannya dari Hansun. Menatap layar dan terdiam seketika. Hansun mengeluarkan nafas lega. Akhirnya dia mengerti.

Lim Hansun. Kakinya melangkah melalui koridor utara gedung sekolah. Sepi. Sunyi. Dia menemukan bahwa itu merupakan hal yang biasa, karena kelas usai 3 jam yang lalu. Membersihkan ruang perlengkapan bukan hal yang ia kehendaki, namun atas keterlambatannya hari ini, dia tak memiliki hak untuk menolak.

Penjaga sekolah mengisyaratkan agar segera keluar dari wilayah sekolah. Mengatakan bahwa pintu gerbang akan segera ditutup. Hansun tahu persis bahwa sekolah tak mengizinkan murid tinggal di sekolah setelah kegiatan belajar-mengajar usai, kecuali untuk beberapa siswa berkepentingan: organisasi sekolah dan klub.

Hansun mempercepat langkahnya keluar dari sekolah. Pergi ke pemberhentian bus dan menaiki bus 22. Pikirannya melayang akan berapa lama waktu durasi film baru kali ini.

Gedung bioskop. Untuk sekian kalinya Hansun mencoba membawa dirinya terhibur oleh adegan pemeran utama.

            Hansun tesenyum kecil melihat Nona Hwang di depannya. Namun kali ini Nona Hwang tak melakukan sebaliknya dan Hansun menaikkan alisnya untuk itu. Karena untuk pertama kali, seorang Nona Hwang tak tersenyum, padahal menurut Hansun, senyumannya manis dan membuat hatinya hangat ketika senyumnya mencapai mata. Hansun menyukai sosok Nona Hwang, banyak alasan mengapa Hansun menyukainya, dan yang paling utama untuk pertama kalinya semenjak kejadian-kejadian datang di hidupnya, Nona Hwang yang mampu mengerti dirinya dan seseorang yang tak akan menilai atau berkomentar tentang Hansun dan hidupnya.

            “Seseorang mengambil kursimu.” Nona Hwang menunjuk ke layar yang berada di bawahnya. “Dan untuk tengah malam.”

            “Bukankah kau juga? Karena tak seperti biasanya kau datang di jam seperti ini.”

            Hansun mengerutkan alisnya. Apakah ada orang yang tertarik duduk di depan selain dirinya?

            “Aku tak bisa bilang tidak, Hansun.”

            Hansun hanya menganguk kecil. Meskipun dia sudah begitu terbiasa dengan kursinya, namu tetap saja dia paham bahwa hak seseorang untuk duduk dimana saja sesuai pilihannya.

            “Aku mengambil di seberangnya saja. Sebelah kanan.”

            Nona Hwang akhirnya tersenyum begitu mengetahui Hansun tak keberatan. Hansun melirik arlojinya. Sekitar 20 menit sebelum film tengah malam. Akhirnya Hansun memutuskan untuk menunggu di depan studio 4.

            Hansun bersandar di tembok. Melihat beberapa orang yang juga sudah menunggu dan kali ini lebih ramai daripada biasanya. Matanya menangkap sosok lelaki tinggi dengan rambut coklat gelapnya. Membawa 2 box popcorn di kedua tangannya dan mulutnya menggigit pinggiran cup soda. Hansun mendengus. Mengingat figur lelaki itu, lekaki yang kemarin menganggunya. Matanya masih mengamati lelaki itu dan tak lama kemudian lelaki itu menatapnya. Terlihat kaget dan canggung tiba-tiba. Hansun memutar bola matanya tanda ia tak suka dan mengalihkan pandangan dari lelaki itu.

            Lalu 20 menit berlalu dengan cepat dan Hansun menempatkan dirinya di kursi biasanya. Mencoba untuk nyaman di tempatnya lalu kemudian seseorang menepuk punggungnya. Hansun menoleh dan mendapati lelaki itu lagi. Hansun hanya menatap lelaki itu datar. Membuat lelaki itu lagi-lagi hanya diam sembari.

            “Maaf, tapi ini tempatku.” Lelaki itu menunjuk ke arah kursi tempat Hansun duduk.

            Seketika Hansun mengingat bahwa ini bukan kursinya. Untuk hari ini. Hansun mendengus kecil dan pergi ke kursi seberang kanan. Hanun menoleh lelaki itu untuk sekian kalinya. Lelaki itu hanya diam dan mengambil satu box popcorn yang diletakkannya di kusi samping, menyodorkannya pada Hansun. Hansun hanya menaikkan alisnya.

            “Sebagai permintaan maafku kemarin,” ujarnya.

            Hansun tak terbiasa dengan camilan saat menonton film. Menurutnya itu mengganggu perhatiannya, Hansun pernah beberapa kali membawa camilan dan pada akhirnya dia melewatkan adegan penting karena membuka saus nacho, atau karena mengambil cup soda yang tumpah di bawahnya.

            Namun kali ini Hansun mencoba membuat pengecualian. Hansun mengulurkan tangannya untuk menerima popcorn dari lelaki asing itu. Hansun melirik lelaki itu dan senyuman terlukis di wajahnya. Lelaki itu tersenyum lega dan duduk di tempatnya seraya memandangi Hansun yang duduk di seberang miliknya.

            “Namaku Sehun. Oh Sehun. Sekali lagi aku minta maaf karena kemarin aku menganggumu.”

            Hansun. Hanya menganguk atas ucapan lelaki itu.

            Oh Sehun. Terdengar seperti tak asing lagi.

            Hansun bisa melihat di sudut matanya, lelaki itu masih memandangnya. Hansun teringat akan sesuatu, “Dengar.”

            Sehun tersenyum kecil melihat Hansun bersuara. “Aku tak tahu kapan kau akan kemari lagi. Tapi tolong, film apapun yang kau tonton atau studio berapapun atau jam kapanpun, jangan memilih untuk duduk di kursi itu.”

            Sehun menaikkan alisnya. “Mengapa?”

            Hansun menghela nafas panjang. Menatap Sehun tajam, seolah memberi penekanan lewat tatapan matanya.

            “Karena kursi itu milikku, Sehun. Hanya milikku.”

            2 jam berlalu sangat singkat bagi Hansun. Namun Hansun sempat mengeluh karena duduk di tempat yang ia duduki tadi terasa agak tak nyaman. Hansun memegang tengkuknya sembari berjalan menuju halte. Namun pikiran itu hilang seketika Sehun menepuk pundaknya. Lagi. Sehun berdiri di sebelahnya dengan senyuman yang terpasang jelas di wajahnya.

            “Kau kemana?” tanya Sehun.

            Hansun mengerutkan keningnya. Bertanya-tanya mengapa Sehun berdiri disampingnya dan bertanya seolah mereka sudah mengenal satu sama lain.

            Hansun hanya diam. Dia tak bisa menjawab pertanyaan orang yang baru dikenalnya dengan mudah, dia hanya tak bisa dengan mudahnya berinteraksi dengan orang baru. Lalu dia juga tak mungkin menjawab bukan ursanmu atau mungkin yang lebih tak enak didengar dari itu. Karena meskipun dia ingin berkata demikian, perasaan orang lain masih dipikirkannya.

            Sehun terlihat sedikit kecewa karena Hansun tak meresponnya. “Kalau begitu, aku pulang dulu, hati-hati di jalan, Hansun.”

            Hansun hanya menganguk pelan. Kemudian membiarkan Sehun berjalan cepat melewatinya. Dan hilang di tikungan jalan. Hansun melangkahkan kakinya lebih cepat ke arah halte. Duduk di bangku panjang sembari melirik arlojinya.

            Hingga ketika bus datang. Hansun terkesiap mengingat sesuatu. “Bagaimana dia tahu namaku?”

            Sehun. Lelaki itu tak pernah diberitahunya tentang namanya. Ini adalah kedua kalinya dia bertemu dengan Sehun, namun Hansun bertanya-tanya bagaimana lelaki itu tahu namanya.

Hansun masuk begitu saja dan memutuskan untuk tak memikirkannya. Tak ada gunanya, pikirnya dan dia masuk tanpa menoleh ke belakang. Karena tanpa Hansun sadari, seseorang tengah memperhatikannya di sana, melihat Hansun dengan penuh senyum.

Hansun berlari menuju kelas Fisika. Dia merutuki jam beker yang rusak dan ponsel yang mati. Dan untung saja dia tidak terlambat untuk hari ini. Dia tidak bisa membersihkan ruangan-ruangan yang sangat kotor untuk kedua kalinya.

Hansun melihat teman-temannya sedang berkumpul di depan loker miliknya. Kemudian melambaikan tangannya singkat dan tersenyum ke arah mereka.

“Hansun, bagaimana hukumanmu kemarin? Kau tidak apa-apa kan mengerjakan semua sendiri kemarin?” Lyn, temannya mengguncang pudak Hansun pelan.

“Tidak apa-apa,” jawab Hansun.

Hansun masihlah murid dengan status normal. Dia bukanlah seseorang anak pengusaha kaya raya yang orangtuanya selalu berpergian, atau yang tengah dijodohkan dengan seseorang, atau si kutu buku yang selalu duduk di pojok kelas, atau si pendiam dan dingin yang selalu duduk di sebelah jendela, atau murid sombong peringkat teratas, atau mungkin murid centil dengan permak tubuh dimana-mana, atau bahkan tukang onar yang selalu diberi tatapan benci oleh semua orang. Hansun adalah Hansun, murid normal dengan beberapa teman. Karena dia sangat suka menjadi biasa, dia menjadi penengah antara segala kondisi, dan tak menjadi sorotan utama. Dengan itu, Hansun masih bersyukur karena masih ada hal yang membuatnya bahagia.

Hansun masuk ke kelas dengan Lyn dan teman-temannya yang lain. Mengambil duduk di tengah-tengah kelas. Membiarkan kursi di sebelahnya kosong. Semuanya berebut untuk mengambil kursi belakang, termasuk Lyn dan temannya yang lain, karena mungkin mereka tak suka dengan subjek yang satu ini. Beberapa sudah mengambil kursi di depan sendiri, mereka adalah murid-murid dengan peringkat atas-atas, 10 besar.

Hansun mengeluarkan catatannya. Hingga decitan suara meja terdengar di telinganya. Hansun menoleh dan mendapati seseorang tengah duduk di sebelahnya. Menempati kursi yang kosong. Hansun tidak akan membelakkan matanya jika itu adalah murid kelas fisika yang sudah beberapa kali dijumpainya.

“Selamat pagi, Hansun.” Murid lelaki itu tersenyum ke arahnya. Tersenyum hingga mencapai mata. Sedangkan Hansun hanya terdiam berkedip berkali-kali.

“Sehun?” Hansun membuka suara pada akhirnya.

-TBC-

Well. Ini ff chaptered kedua saya setelah “Den”, buat reader “Den” mohon tunggu ya, soalnya saya nggak begitu bagus buat menulis beberapa adegan di chapter selanjutnya. Terus, tiba-tiba ada ide ini, jadi saya tulis deh hehe. Please leave comment or like J

22 pemikiran pada “Dauntless One (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan ke Fanfictions | Saudade Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s