Wolf’s Eternal Love (Prodigium Besides You) [Chapter 3]

Wolfs Eternal

A Storyline Present By:

@diantrf & @ferrinamd

Wolf’s Eternal Love

(Prodigium Besides You)

Cast:

Huang Zitao, Oh Sehun (Exo) | Park Cheonsa, Zhen Yilyn (OC)

Genre: Fantasy, School-life, Romance | Rating: T | Length: Chaptered

DC:

Beberapa nama istilah diambil dari sebuah novel berjudul Hex Hall. Jalan cerita berdasarkan pemikiran kedua authors.

Prev:

Teaser | Part-1 | Part-2

 

0o0

 

Waktu terasa berjalan sangat cepat hari ini. Sehun menghela napas setelah Ahn seonsaeng resmi keluar dari kelas. Semua murid pun satu per satu meninggalkan ruang kelas, menyisakan Sehun dan Cheonsa—serta Tao yang tertidur dengan nyenyak di tempatnya. Sebenarnya Tao ini datang ke sekolah untuk belajar atau tidur?

 

Sehun melirik ke sampingnya. Gadis dengan pipi chubby itu kini sedang menulis sesuatu di atas secarik sticky-notes berwarna biru. Tidak apa yang Cheonsa tulis disana, Sehun tak mau terlalu ambil pusing. Setelah berkutat dengan pulpennya selama lima menit, Cheonsa akhirnya merapikan seluruh buku dan alat tulisnya lalu bangkit dari duduknya. Ia berjalan menuju meja Tao. Sehun yang semula mengira Cheonsa akan membangunkan Tao ternyata salah duga. Cheonsa hanya menempelkan kertas itu di kening Tao lalu melangkah dengan tergesa-gesa keluar kelas.

 

Penasaran, Sehun pun bangkit dari duduknya dan menghampiri meja Tao—mengambil sticky-notes itu dan membacanya. Senyum kecil terukir di wajah manisnya yang bak boneka porselen. Makhluk manapun pasti akan mengira bahwa Sehun itu Vampire, bukan Shifter.

 

 

-Tao, maaf ya. Nikmati tidur nyenyakmu^^-

 

 

Setelah membaca tulisan yang tertera disana, Sehun kembali menempelkan kertas itu di kening Tao lalu pergi menuju luar kelas—berniat mengejar Cheonsa. Berterimakasihlah Sehun atas kemampuan teleportasinya—hanya Shifter tingkat tinggi yang memiliki kekuatan lebih—kini ia telah sampai di depan mobilnya. Berdiri di depan kap mobilnya sambil menunggu kedatangan Cheonsa. Gadis itu pikir bisa dengan mudah menghindari Sehun? Jawabannya salah besar.

 

Tepat satu menit Sehun menunggu, terlihat sosok Cheonsa yang sedang berjalan sambil terus menatap ponselnya. Sebenarnya hal apa yang membuat gadis itu jadi sibuk sendiri dengan dunianya? Saat Cheonsa sudah berjarak beberapa meter dari Sehun, pemuda itu langsung menarik tangan Cheonsa dan mendudukkan Cheonsa begitu saja di jok depan mobilnya. Sehun langsung masuk ke tempat kemudi dan menjalankan mobilnya—mengabaikan teriakan keras Cheonsa yang meminta untuk keluar.

 

0o0

 

Seperti biasa, bukan Lyn namanya jika tidak membawa tumpukan buku yang sangat banyak. Ia berniat untuk mengembalikan buku ke perpustakaan dan meminjam yang baru lagi. Sekolah sudah cukup sepi, hanya terlihat beberapa murid yang sudah ingin pulang atau beberapa lainnya yang memakai baju untuk latihan basket. Lyn berjalan sedikit melamun. Ia seperti memikirkan sesuatu. Ya, sesuatu yang janggal tentang seseorang yang kemarin bersama Tao. Sehun. Entahlah, menurut Lyn ada yang aneh dengan pria itu.

 

BRUK!

 

Tubrukan keras dari arah belakang membuat Lyn sontak jatuh terduduk dengan buku yang berserakan dimana-mana. Huh, mengapa selalu saja terjadi kejadian seperti ini? Lyn jatuh dengan buku yang berhamburan kemana-mana tak tentu. Sangat menyebalkan. Mungkin lain kali Lyn harus mengikat bukunya jadi satu atau menaruhnya dalam sebuah tas khusus. Ide yang bagus.

 

Lyn menyadari sesuatu. Orang yang menabraknya kini sedang memunguti buku-bukunya yang berhamburan ke segala arah. Jika itu Tao, maka lengkaplah sudah cerita ini. Namun sayangnya, itu bukanlah Tao. Orang yang menabrak Lyn adalah seorang pria bertubuh tinggi dengan rambut golden-brunette-nya. Sangat tampan. Pria itu masih terus fokus dengan buku-buku di tangannya sampai matanya tak sengaja menangkap mata hazeld Lyn yang tengah menatapnya.

 

Cantik. Entah mengapa pria itu merasakan ada sesuatu yang membuatnya tertarik dengan gadis ini. Semacam perasaan yang telah terikat lama dan kembali menyatu. Seperti musafir yang putus asa tiba-tiba menemukan jalan keluar atas penantiannya. Menilik gadis ini, mata pria itu tak sengaja pula menangkap sesuatu yang membuatnya terkejut. Di leher gadis itu, terdapat sebuah gambar abstrak kecil berwarna ungu terang. Apa itu? Adakah sesuatu yang tak diketahui pria itu?

 

Eoh, maaf karena telah menabrakmu. Tadi saya berjalan terburu-buru.”

 

Senyum menawan layaknya pangeran negeri dongeng membuat Lyn diam untuk beberapa detik. Seakan tersihir pesonanya, Lyn hanya mampu menatap pria itu tanpa bisa bersuara sedikitpun. Pria itu tertawa kecil melihat ekspresi Lyn yang sangat lucu, lalu ia berjalan sambil terus memegangi buku-buku Lyn yang tadi ia rapikan. Sadar akan bukunya, Lyn pun berjalan menyusul pria itu dan menyesuaikan langkahnya. Dan kini Lyn dan pria itu berjalan beriringan.

 

Tak ada yang bersuara. Pria itu masih berjalan dengan santainya sedangkan Lyn bingung dengan apa yang harus ia ucapkan pada pria ini. Berterimakasih, meminta maaf, atau justru meminta bukunya dikembalikan? Entahlah, otak Lyn seakan tak dapat memikirkan apapun saat ini karena pria itu. Pria aneh yang baru saja menabraknya. Namun sialnya pria itu memiliki pesona yang tak dapat ditolak olehnya. Bukan pesona menggoda atau apapun itu, melainkan sebuah aura aneh yang tak Lyn ketahui apa dasarnya.

 

Oh ya, apa kau tahu letak ruang guru?”

 

Ucapan pria itu membuyarkan lamunan Lyn. Lagi, tatapan mereka bertemu. Lyn masih terdiam. Lidahnya tiba-tiba kelu untuk sekedar mengatakan bahwa ruang guru terletak setelah perpustakaan dari arah ini. Sebelum Lyn sempat menjawab, ternyata pria itu sudah terlebih dahulu melihat plang nama ruang guru tergantung di atas sebuah pintu yang berjarak beberapa meter dari posisi mereka saat ini.

 

Ah itu dia. Ini bukumu, jangan sampai terjatuh lagi.”

 

Ia berjalan dengan santai meninggalkan Lyn setelah mengembalikan tumpukan buku itu dalam genggaman Lyn. Sungguh, sepertinya ada yang aneh dengan suasana saat ini. Angin terasa berhembus dengan sangat dingin, mengelitiki permukaan lehernya. Lyn pun mengabaikan rasa dingin ini dan langsung memasuki perpustakaan. Dan tanpa sepengetahuannya, sebuah tanda di lehernya bersinar dengan terang.

 

0o0

 

Cheonsa tengah duduk dalam diam, menggembungkan pipi kesal serta tatapan mata tajamnya yang tak pernah lepas sedikitpun dari sosok Sehun tengah mengambil beberapa buku di rak kumpulan buku. Sehun membawa Cheonsa ke rumahnya, beruntung orang tua Sehun tidak ada di rumah. Sehun yang menyadari tatapan tajam Cheonsa hanya tertawa kecil. Cheonsa terlihat menggemaskan saat ini.

 

Sekitar tiga buku tebal kini berada dalam genggaman Sehun. Ia langsung menghampiri Cheonsa yang duduk di ranjangnya dan meletakkan ketiga buku itu di atas ranjang. Cheonsa mengerutkan keningnya. Apalagi rencana sinting yang dilakukan Sehun kali ini? Cheonsa mengambil salah satu buku dan membaca judulnya. Seketika matanya membulat sempurna melihat sebuah kalimat yang tertulis disana.

 

“Oke, aku ingin serius kali ini. Aku sedikit khawatir dengan Lyn. Ia seperti bukanlah manusia biasa.”

 

Benar saja, tak ada raut jahil khas Sehun saat ini. Yang ada hanyalah tatapan mata menandakan bahwa Sehun tengah serius. Dan, kenapa tiba-tiba Sehun jadi membahas soal Lyn? Apa ada yang aneh dengan gadis cantik pecinta buku itu?

 

“Ini aneh, aku tahu. Tapi Lyn terlalu peka untuk ukuran seorang manusia. Ia seperti memiliki sebuah insting yang kuat untuk merasakan sesuatu di luar nalar manusia. Ia mudah mengetahui jika aku terlalu mencurigakan untuk ukuran seorang manusia.”

 

“Lyn tahu bahwa kau Shifter?”

 

Sehun diam, ia malah langsung menyerahkan ketiga buku itu pada Cheonsa agar ia membacanya. Buku pertama adalah buku tentang sejarah terbentuknya kaum monster—Historical of Prodigium. Buku itu menjelaskan tentang awal mula lahirnya para monster di dunia ini. Shifter, Vampire, Fairy dan segala jenis monster yang lain. Cheonsa sedikit banyak mengetahui isi buku ini, karena Tao pernah menyuruhnya untuk membaca buku ini saat ia pertama kali tahu siapa Tao sebenarnya. Ternyata mereka—Prodigium—dibekali buku yang sama dengan pengetahuan yang sama.

 

Cheonsa beralih pada buku kedua—Recrotus Magicae. Menceritakan tentang kaum penyihir. Bahwa penyihir itu dibedakan menjadi empat kaum. Warlock—penyihir pria—dan Witch—penyihir wanita—serta dibagi lagi dalam dua klan hitam dan putih. Penyihir putih biasanya melakukan sihir sederhana dengan tujuan yang jelas, seperti menyembuhkan seseorang atau membuat ramuan penyembuh. Penyihir hitam lebih merujuk pada sihir-sihir hebat, seperti menghidupkan orang mati atau memanggil arwah, dan tak jarang pula digunakan untuk peperangan. Sepertinya Cheonsa pernah membaca buku ini, tapi ia lupa dimana dan milik siapa buku itu.

 

Ketiga—dan ini yang paling membuat Cheonsa terkejut. Klasmatikí̱ Ouranó—menceritakan tentang berbagai jenis manusia yang memiliki kekuatan lebih. Entah itu karena garis darah, titipan dewa, ataupun kecelakaan yang tak disengaja. Cheonsa mulai mengerti. Mungkin maksud Sehun adalah, apakah Lyn termasuk dalam kelompok ketiga ini?

 

 

“Kau pikir Lyn punya garis keturunan dewa atau semacamnya ya?”

 

“Siapa yang tahu? Menurutmu bagaimana?”

 

Cheonsa mengendikkan bahunya dan membuat Sehun kesal. Gadis ini ternyata tak bisa diajak bicara serius. Ia memutar bola matanya, dan tak sengaja menangkap suatu pemadangan yang aneh. Wolf-print yang ia berikan pada Cheonsa, Sehun baru sadar jika tanda itu berwarna biru terang. Oh tidak, Sehun teringat dengan sesuatu yang dulu sempat tak ia percayai.

 

My princess, kau..bisa bicara dengan binatang ya?”

 

Sehun memegang pipi Cheonsa, berusaha masuk dalam pikiran gadis ini. Cheonsa sempat kaget ditanya seperti itu, tapi kemudian ia seperti memikirkan sesuatu. Bagaimana Sehun bisa tahu jika dirinya bisa bicara dengan binatang?

 

“Tidak semua binatang. Aku hanya bisa berbicara dengan ular.”

 

“Sehun, jiwa Eurinome tersegel dalam sebuah raga. Cantik dengan pesona yang tak akan bisa kau tolak. Ialah yang nantinya akan membuatmu jatuh cinta. Hati-hati dengan takdirmu.”

 

Ia teringat dengan perkataan ibunya. Eurinome adalah dewi laut. Ia memiliki kecantikan dan pesona yang sangat kuat, namun tetap saja wujud aslinya adalah ular raksasa mengerikan yang dapat menggulung langit hanya dengan sekali kedip. Ia bisa menaikkan air laut hingga tingginya menyamai langit. Cheonsa sangat cantik dan dari jarak yang sangat jauh pun Sehun sudah tahu jika Cheonsa adalah takdirnya.

 

Dan Sehun juga mengingat-ingat bagaimana warna Wolf-print milik Lyn. Ia terus mengingat—mengabaikan Cheonsa yang kini memandangnya dengan khawatir. Sehun terlalu memikirkan hal ini secara serius. Memangnya apa yang mungkin terjadi dengan semua ini? Apakah Lyn memang benar memiliki garis keturunan dewa seperti yang Sehun kira?

 

“Ungu.. Selene? Mungkinkah?”

 

“Sehun, kau bicara apa? Aku tak menger—“

 

Oh tidak. My princess, sepertinya Tao harus lebih mengawasi Lyn.”

 

Sehun sudah larut dalam pikirannya sendiri, membiarkan Cheonsa penasaran setengah mati. Untuk apa Sehun menanyakan kemampuannya bicara dengan binatang? Dan apa yang Sehun pikirkan tentang Lyn? Apa itu tadi, ungu? Selene? Ada apa dengan warna ungu dan siapa Selene itu? Apa hubungannya dengan Lyn? Dan kenapa Tao harus lebih mengawasi Lyn?

 

Sehun benar-benar membuat Cheonsa penasaran. Namun Sehun dengan kurang ajarnya tak memberitahukan Cheonsa apapun. Sekarang semuanya terlihat jelas di mata Sehun. Lyn.. gadis itu memang bukan manusia biasa.

 

0o0

 

Terkutuklah jam perpustakaan yang mati itu. Lyn lupa waktu dan tak tahu jika sekarang sudah hampir pukul empat sore. Semua murid sepertinya sudah pulang, dilihat dari betapa sepinya koridor ini. Dan sialnya buku catatan Lyn tertinggal di laci mejanya, dan mau tak mau Lyn harus melewati lorong sepi ini untuk kembali ke kelasnya dan mengambil buku catatannya.

 

Aneh, Lyn merasa ia tidak sendiri disini. Seperti ada yang mengikutinya. Satu per satu kelas Lyn lewati, dan kini ia sampai di kelasnya. Ia langsung mengambil bukunya dan bergegas untuk pulang. Namun Lyn tersentak karena tadi melihat selintas bayangan yang lewat di depan pintu kelasnya. Tiba-tiba hawa ruangan ini berubah dingin dan mencekam. Siapa itu? Apakah hantu, atau semacamnya? Masa bodoh, Lyn langsung keluar dai kelas tanpa melihat sekeliling lagi.

 

Ia terus berjalan sambil menunduk. Lyn sangat benci keadaan ini. Bagaimana jika ada siswa nakal yang mengikutinya? Ah, jangan sampai hal itu terjadi. Lyn berjalan cepat sambil terus menundukkan kepalanya sampai tak sadar jika ada orang yang baru saja keluar dari kelasnya dan..

 

BRUK!

 

Lyn kira ia akan terjatuh dengan sangat tidak elit di lantai. Namun ternyata ada sebuah lengan kuat yang menahan tubuhnya, membawa tubuh mungil Lyn ke dalam sebuah pelukan hangat—yang entah milik siapa itu. Lyn perlahan membuka matanya dan mendapati Tao dengan wajah kagetnya, yang perlahan berubah menjadi senyuman saat tahu siapa gadis yang menabraknya.

 

Seperti dalam drama picisan lainnya, tatapan mereka bertemu untuk beberapa detik pertama. Tak ada yang bersuara. Mereka berdua terlalu terkejut dengan takdir yang bekerja saat ini. Tao baru saja bangun dan mengutuk Cheonsa karena sahabatnya itu hanya meninggalkan secarik sticky-notes tanpa berniat untuk membangunkannya. Namun memang begitulah seharusnya, sehingga kini Tao dapat bertemu dengan Lyn.

 

“Lyn, apa yang kau laku—“

 

“Tao!”

 

Tanpa disangka, Lyn dengan tiba-tiba memeluk Tao dengan sangat erat. Gadis itu memang ketakutan tadi. Bayangkan saja, apakah kalian tak takut jika menyadari ada hawa-hawa aneh di sekitar kalian? Tao hanya diam dan mengusap bahu Lyn untuk menenangkan gadis itu. Ternyata ada untungnya juga ia bangun sore seperti ini. Namun, apa ini? Lyn sepertinya sangat ketakutan. Apa hal yang membuatnya seperti ini?

 

Hey, sudahlah tak ada apa-apa disini. Ayo kita pulang, aku akan mengantarmu.”

 

Lyn perlahan melepaskan pelukannya dan menatap Tao yang kini tengah tersenyum manis ke arahnya. Tao menggenggam tangan Lyn dan mereka berjalan bersama membelah keheningan koridor sore ini. Namun sayangnya semua ini bukan hanya sekedar perasaan Lyn. Sosok tinggi itu masih terdiam memandangi kepergian sang gadis dengan seseorang yang belum ia ketahui siapa itu. Ia tersenyum lalu dengan tiba-tiba menghilang seiring angin yang berhembus lembut. Siapa itu?

 

0o0

 

Tao merebahkan dirinya di ranjang empuk kesayangannya setelah tadi sebelumnya mengantarkan Lyn pulang. Aneh, gadis itu tak seperti biasanya. Tatapan matanya kosong, entah apa yang gadis itu pikirkan. Apa gadis itu sakit? Tao menghela napasnya untuk yang kesekian kalinya. Semoga saja Lyn dalam keadaan baik-baik saja. Ah ya, Tao jadi teringat dengan Cheonsa. Apa yang sedang sahabatnya itu lakukan sekarang? Baru saja memikirkan gadis itu, ternyata Cheonsa langsung mengiriminya sebuah pesan. Ternyata ikatan batin mereka cukup kuat.

 

-Tao, aku sedang di rumah Sehun. Eum, apakah kau tahu tentang warna ungu? Atau kau tahu siapa itu Selene? Aku bingung dengan jalan pikiran Sehun saat ini. Dan ini ada hubungannya dengan Lyn.-

 

Entah mengapa kalimat Cheonsa terasa ambigu bagi Tao. Untuk apa Cheonsa di rumah Sehun? Dan, kenapa Cheonsa menanyakan hal-hal aneh itu? Lalu apa hubungannya dengan Lyn? Tao bangkit dari tidurnya dan kini sedang duduk diam, mencoba memikirkan apa yang Cheonsa sebutkan tadi. Tao terus berpikir, memulai semuanya dari awal dan menggali seluruh ingatannya. Selene.

Seingatnya Selene adalah nama dewi bulan, itupun menurut buku yang ia baca. Selene hidup untuk menerangi kegelapan malam, namun malam selalu menenggelamkannya dalam kegelapan itu sendiri. Selene terlahir untuk dikhianati, begitulah yang Tao ketahui.

 

Lalu apa hubungannya Selene dengan warna ungu dan Lyn? Tao terus membuat segala hipotesis yang menurutnya mungkin menjadi sebuah jawaban ilmiah. Selang beberapa menit berpikir, Tao seketika menyadari sesuatu yang aneh. Jangan bilang kalau..

 

-Apa ini ada hubungannya dengan buku Historical of Prodigium? Selene adalah dewi bulan, lalu apa hubungannya dengan warna ungu dan Lyn?-

 

Tao segera membalas pesan Cheonsa dan bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju rak buku. Tao mengambil buku Historical of Prodigium miliknya dan kembali duduk di ranjang. Pasti Sehun menunjukkan buku ini pada Cheonsa—Tao ingat pernah menunjukkan buku ini lebih dahulu pada Cheonsa ketika gadis itu tahu bahwa ia adalah Shifter. Tak lama, ponsel Tao kembali bergetar dan menampilkan ID Cheonsa sebagai sang pengirim pesan.

 

-Iya, tapi tak hanya itu. Ia juga menunjukkan padaku buku Recrotus Magicae dan Klasmatikí̱ Ouranó. Sehun menduga jika Lyn memiliki garis keturunan dewa. Atau mungkin Lyn ada hubungannya dengan dewi bulan itu? Eh, tapi apa hubungannya dengan warna ungu?-

 

Tak lama setelah pesan itu masuk, Sehun dengan tiba-tiba mengirimkan telepatinya pada Tao.

 

“Hei Tao, aku tahu Cheonsa sedang bertanya padamu. Aku memang menduga jika Lyn memiliki garis keturunan dewa. Ia keturunan dewi Selene, aku bisa tahu karena Wolf-print yang kau beri padanya itu berwarna ungu, perwujudan Selene.”

 

Sehun memang seorang Shifter yang peka. Tao kini mulai memikirkan semuanya. Apakah memang benar jika Lyn itu bukan manusia biasa? Tao memang belum menyadari apa warna Wolf-print yang ia berikan pada Lyn, namun memang Tao sangat tahu jika Wolf-print milik manusia biasa pasti berwarna merah. Dan Sehun bilang tadi jika milik Lyn berwarna ungu. Itu sudah sangat membuktikan bahwa Lyn memang bukan manusia biasa.

 

Tunggu, tapi apa maksud Sehun menunjukkan buku-buku itu pada Cheonsa? Akankah Sehun memberitahukan semua itu pada Cheonsa? Ya ampun, Sehun terlalu bodoh jka membiarkan Cheonsa mengetahui semua ini. Apalagi dengan buku Recrotus Magicae, itu kan sama sekali tak ada hubungannya dengan Lyn yang ternyata memiliki garis keturunan dewi Selene. Tao tak lagi membalas pesan Cheonsa dan juga tak membalas telepati Sehun. Tao terlalu lelah untuk mengetahui semua ini.

 

Pabo! Walaupun kau tak menjawabku tapi aku tahu pasti apa yang ada di pikiranmu. Hati-hati Tao, aku menunjukkan buku-buku itu pada Cheonsa bukan tanpa alasan. Dan Lyn berada dalam bahaya.”

 

Sial, Tao lupa jika Sehun itu adalah Shifter tingkat tinggi yang memiliki banyak kekuatan tambahan. Itulah yang membuat Sehun menjadi sangat menyebalkan—ia bisa mengetahui pikiran seseorang bahkan dari jarak yang sangat jauh sekalipun. Tapi, apa yang membuat Lyn dalam bahaya?

 

“Sehun, jangan bilang ini ada hubungannya dengan pengkhianatan Selene oleh Black Warlock.”

 

“Tepat. Akhirnya kau mengerti.”

 

Tao tersentak bangkit. Sejarah pengkhianatan Selene memang sangat kejam. Penyihir hitam yang dengan tega membunuh sang dewi demi kekuatannya untuk beberapa ratus tahun di masa depan. Selene yang disiksa habis-habisan oleh penyihir kejam itu. Tidak, ini tak mungkin kenyataan. Lyn…

 

Lyn pasti dalam bahaya. Ada Warlock yang akan mengincarnya. Apa ini ada hubungannya dengan ketakutan Lyn di lorong pulang sekolah tadi?

 

Huh, menyusahkan. Ternyata memang pesona seorang dewi selalu berhasil membuat Shifter jatuh cinta.”

 

Tao teringat dengan ayahnya yang bilang jika ibunya ternyata adalah seorang keturunan dewa. Ternyata semua kaum di dunia ini saling terikat satu sama lain. Shifter, atau apapun makhluk lainnya tak pernah bisa terpisahkan. Mereka berputar dalam satu lingkaran takdir. Tao jadi ingat dengan perkataan Cheonsa jika tetangga samping rumah gadis itu—seorang dokter muda yang sangat tampan—adalah seorang Vampire. Menjadi dokter hanyalah sebuak kedok agar ia dengan mudah mendapatkan darah tanpa harus membunuh. Cerdas.

 

“Tunggu, jika milik Lyn berwarna ungu dan ia adalah jelmaan dewi Selene, lalu bagaimana dengan Cheonsa yang memiliki Wolf-print berwarna biru? Eurinome, benarkah itu?”

 

0o0

 

Sehun tersenyum tipis melihat Cheonsa yang tengah tertidur sambil memeluk salah satu buku yang tadi ia baca. Gadis ini terlihat sangat menggemaskan. Sehun tak cukup bodoh untuk mengetahui jika Cheonsa tadi menanyakan beberapa hal pada Tao. Belum waktunya Cheonsa untuk mengetahui semua ini. Untungnya Sehun lebih cepat sebelum Tao mengirimkan balasan pesannya pada Cheonsa.

 

Agak kaget juga saat mengetahui jika Cheonsa ternyata juga bukan manusia biasa. Cheonsa terlalu menggemaskan untuk menjadi jelmaan dewi Eurinome yang cantik tapi mengerikan itu. Dunia memang berjalan sesuai rotasinya. Sehun jadi ingin tertawa jika mengingat apa yang Cheonsa ceritakan tadi. Bahwa gadis itu mempunyai seorang tetangga yang ternyata adalah Vampire yang bekerja menjadi dokter. Terlihat lucu karena Cheonsa sama sekali tidak takut mengetahui kenyataan itu.

 

Di sisi lain, Sehun jadi kasihan dengan Tao. Ia mencintai gadis yang jelas-jelas akan diburu mati-matian oleh para Warlock. Mengingat sejarah mengerikan dewi Selene membuat Sehun jadi iba dengan Lyn yang hanyalah seorang gadis polos, sama seperti Cheonsa. Tao harus berjuang mati-matian untuk melindungi Lyn. Sehun sudah bisa merasakan hawa kehadiran Warlock di waktu dekat ini.

 

“Sepertinya ini akan sulit bagi Tao. Warlock itu sudah sangat dekat dengan Lyn.”

 

Sehun menghela napasnya lalu merapikan semua buku-buku yang tergeletak di ranjang dan menaruhnya kembali di rak seperti semula. Setelah itu ia ikut berbaring di samping Cheonsa. Setidaknya Sehun sudah memiliki beberapa persiapan sebelum membantu Tao menghadapi Warlock itu nantinya.

 

 

TBC

 

 

@ferrinamd’s Note: Hai, Hai, sudah sampai part ketiga. Kalian masih penasaran kah? Aku harap terus penasaran sampai part selanjutnya hehehe. Apalagi di part ini, Sehun sudah mengetahui siapa Cheonsa. Begitu juga Tao dengan Lyn. Pasti penasaran kelanjutannya seperti apa. Persiapkan diri kalian untuk part berikutnya >///< See you~

 

@diantrf’s Note: Hey, entah kenapa fantasinya melayang jauh banget hehe. Ngerti kan ya sama jalan ceritanya? Sejarah atau apapun unsur di ff ini cuma khayalan semata ya, jangan coba-coba nyari di google atau search engine lainnya karena ga akan ketemu hehe. Dan kira-kira siapa warlock yang bakalan gangguin Lyn? See ya at next chapter^^

47 pemikiran pada “Wolf’s Eternal Love (Prodigium Besides You) [Chapter 3]

  1. wah maaf nih baru komen di chapter ini.terlalu asik baca ffnya.hehehe.bagus thor jalan ceritanya.alurnya bagus dan ceritanya ga di duga.ditunggu banget kelanjutannya thor.faighting! ^^

  2. cie lyn ada yang ngincer wkwk.. cheonsa gak ada yang ngincer juga thor? biar tambah seru hahaha xD.terus si cheonsa sama lyn itu cuman keturunan dewi gitu atau bereinkarnasi ya ? hehe aku binggung soalnya 😀

  3. cie lyn ada yang ngincer wkwk.. cheonsa gak ada yang ngincer juga thor? biar tambah seru hahaha xD.terus si cheonsa sama lyn itu cuman keturunan dewi gitu atau bereinkarnasi ya ? hehe aku binggung soalnya :D.

Tinggalkan Balasan ke jjangjifly Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s