First Meeting

 first meeting

Krystal Jung x Kim Jongin

1000+words, vignette

Drama, Romance, Slight!Comedy

by: @lightxflame_ (prev: @beautywolfff)

.

.

Summary:

Selalu ada saja cara Tuhan untuk bisa mempertemukanku denganmu.

.

Pagi itu seperti layaknya pagi yang biasanya. Dingin dan berkabut. Tetesan embun jatuh satu persatu dari daun-daun yang tumbuh subur di kebun belakang rumahku. Matahari di luar sinarnya tidak terlalu terik. Ia lebih memilih untuk bersembunyi di balik awan berarak yang dapat terlihat samar-samar melalui kaca jendelaku yang buram.

Hari itu hari yang biasa, tidak ada tanda-tanda akan terjadi sesuatu yang istimewa. Tidak ada satupun firasat yang hinggap di benakku tentang pertemuan kita.

Aku selalu membayangkan bahwa aku akan bertemu denganmu di suatu tempat, dengan scene romantis yang seperti biasa kulihat dalam drama, atau seperti yang kubaca di roman-roman picisan. Mungkin kita akan saling bertabrakan di suatu lorong dan meminta maaf. Atau mungkin barangku jatuh dan kau akan mengambilkannya dengan sigap untukku, tak lupa dengan iringan backsound yang menambah kesan dramatis. Mungkin saja kita akan bertemu karena insiden serius yang berakhir dengan membuat kita saling jatuh cinta satu sama lain. Berbagai kemungkinan itu masih bertahan mengendap di otakku. Membuatku tersenyum sendiri membayangkannya.

Pagi itu masih menjadi awal hari yang amat sangat biasa untukku.

 

Kepalaku menyembul dari balik selimut. Mengerang perlahan saat telingaku mendengar suara ibu yang berteriak keras memanggil-manggil namaku mungkin sekitar dua belas kali. Aku bangkit dari kasur dan melangkah mendekati cermin. Terpantul disana bayangan seseorang yang berusaha membuka kedua matanya yang terasa lengket dengan mengucek-uceknya kasar. Kupandangi jam yang terletak tepat di atas meja rias. Jarum pendeknya menunjukkan pukul enam. Ya Tuhan. Ini jam enam pagi. INI MASIH JAM ENAM PAGI.

“Krystal!”

Ini mulai berbahaya, nada suara Ibu mulai meninggi rupanya.

Aku berlari keluar, mendekat ke arah dapur. Disana ibuku sudah bersiap, berkacak pinggang sambil memandangku galak. Aku balas tersenyum kecut. Sejujurnya aku masih ngantuk.

“Kau antarkan ini ke tempat Nyonya Kim!” Ibuku menyerahkan sebuah bungkusan yang rapi dibalut plastik transparan berisi berbagai makanan. Aku menelan ludah, mulai merasa lapar.

“Baiklah.” Aku menjawab lemah. Kugeret kakiku dengan paksa menuju rumah tetangga baruku yang jaraknya hanya sekitar dua blok dari rumahku itu. Sepanjang perjalanan, berkali-kali aku tersandung batu kerikil yang bertebaran di jalan. Sial, mengapa harus sepagi ini.

Sampai di depan rumahnya yang bercat biru, kutekan dua kali tombol bel yang berada di sisi kanan dekat dengan pintu masuk. Suara langkah kaki berderap mendekat dengan terburu-buru. Aku menunggu dengan sabar sambil menyenderkan tubuhku ke dinding.

“Hai.” Aku menyapa santai saat kulihat wajah laki-laki pemilik rumah ini berada tepat di hadapanku. Ia balas memandangku dengan dahi berkerut.

“Ada apa?” Ia bertanya ketus.

“Jahat sekali.” Aku melengos. “Ini dari ibuku untukmu.” Aku berusaha keras untuk tetap bersikap ramah. Sementara laki-laki itu kembali memandangku dengan tajam. Matanya menyipit, sepertinya terlihat curiga.

Welcome gift, tenang saja. Bukan racun.” Aku kembali menimpali. Rasanya ingin kutonjok wajah laki-laki tengil ini. Sudah baik aku mau repot-repot mengantarkannya. Padahal kurasa ia cukup tampan, tapi kesan pertamaku tentangnya sudah ternodai karena respon awal yang ia berikan padaku tadi. Ugh.

“Baiklah. Urusanku sudah selesai. Kalau begitu, selamat pagi.” Aku berbalik pergi. Meninggalkannya sendirian yang terbengong di depan gerbang rumahnya sendiri.

“Tunggu.” Suara itu menghentikanku lagi. Aku menoleh malas. Baru saja aku berjalan sekitar dua langkah menjauh dari pagar rumahnya.

“Ada apa lagi?” Aku bertanya dingin. Nada suaraku berubah seratus delapan puluh derajat.

“Um, yah. Terima kasih.” Ia mengucapkan dengan suara serendah mungkin. Wajahnya tertunduk, seperti merasa bersalah. Lalu ia cepat-cepat masuk ke dalam rumahnya dan menutup pintu begitu saja.

“Apa-apaan dia.” Aku menggumam. Laki-laki itu aneh. Sangat aneh.

.

.

Siapa yang dapat mengira? Scene romantis tentang pertemuan pertama yang kudambakan sedari dulu itu ternyata memang tidak akan ada dalam sejarah hidupku.

Pertemuan pertama memang tidak selalu seindah karangan fiksi ataupun arahan sutradara.

Dan sekarang kau, Kim Jongin, laki-laki kasar yang selalu memandangku dengan tatapan curiga setiap kedua manik mata kami bertemu, kini sedang berada disini bersamaku sambil membawa sebuah kotak kecil berisi cincin yang berkilauan yang disodorkan tepat di hadapanku. Wajahnya memerah padam. Ia tersenyum sedikit sebelum dengan malu-malu berkata,

“Hei, Soojung. Maukah kau menikah denganku?”

Sayup-sayup suara musik klasik terdengar memenuhi seisi ruangan tertutup ini.

“Apa?” Aku tergagap.

Sepertinya aku salah dengar. Rasanya makanan yang kutelan seperti tersangkut di tenggorokanku.

“Apa harus kuulangi lagi?” Kim Jongin mendesah. “Padahal aku sudah mempersiapkan semuanya dengan susah payah untuk kalimat sialan ini.”

“Sialan?” Aku memandangnya dengan tidak percaya. Nada suaraku meninggi. “Kau tidak niat ya melamarku?”

“Bukan begitu!” Kim Jongin balas menjawab, ia terlihat panik. “Kau tahu tidak? Aku berlatih kalimat ini sekitar seminggu. Ya Tuhan. Hanya untuk kalimat seperti itu.”

“Hanya?!” Aku kembali menuding wajahnya dengan garpu. “Kau memang tidak serius ya-”

“Aku serius.” Kim Jongin kembali menyela. “Aku super serius. Sangat amat serius. Sumpah. Kau tidak akan tahu betapa seriusnya aku saat ini. Saat ini aku bahkan lebih serius daripada saat mengerjakan soal matematika untuk ujian akhir di SMA. Sungguh, Jung Soojung. Aku serius melamarmu.”

Aku terdiam. Sepertinya memang lasagna ini benar-benar tersangkut di tenggorokanku sekarang. Sedikit-sedikit aku terbatuk. Suasana ini begitu canggung.

Ya ampun, seorang Kim Jongin melamarku.

“Dengarkan baik-baik oke? Aku akan mengucapkannya sekali lagi. Dan aku bersumpah demi apapun di dunia ini, aku tidak akan mengulanginya lagi. Tidak akan.” Jongin kembali bersuara.

“Memang seharusnya tidak akan kau ulangi lagi, Jongin. Kau memang seharusnya melamar orang hanya sekali-”

Sebelum aku menyelesaikan kalimatku, Kim Jongin sudah bangkit dari tempat duduknya dan mengunci bibirku dengan bibirnya.

“A-a” Aku membelalakkan mata, terkejut dengan aksi tiba-tibanya.

 

Untungnya kami menyewa ruangan private.

 

“Apa kau bisa mendengarkanku dulu?” Ia mengeluh. “Kau benar-benar berisik sekali. Sekarang aku mau mengucapkannya, jangan menggangguku atau aku akan membuatmu diam lagi seperti tadi.” Jongin menatap wajahku dengan tajam, nadanya mengancam.

“Jadi, Jung Soojung. Dengarkan aku.” Jongin mulai membuka mulutnya lagi. “Aku akan berpidato sedikit. Awalnya kukira kau orang yang menyebalkan, jadi aku membencimu. Tapi aku tidak tahu mengapa jika kau tidak ada, seperti ada yang kurang. Kusadari lama-kelamaan aku mulai menyukaimu. Kau tidak menyadarinya, sama sekali. Kau memang bodoh.”

Aku mendelikkan mataku mendengar kalimatnya yang terakhir. Jongin benar-benar menyebalkan.

“Akhirnya aku memberanikan diri menyatakan perasaanku padamu, kau kira aku bercanda. Kau memang selalu begitu, padahal semua yang aku katakan benar. Akhirnya kau menerimaku setelah aku memberimu penjelasan selama sejam tentang betapa jujur dan seriusnya aku sekarang. Seperti saat ini. Jung Soojung, kau memang istimewa.”

Rasa hangat mulai menjalar memenuhi setiap inci dari wajahku.

“Jadi sekali lagi, Jung Soojung. Untuk yang pertama dan terakhir kalinya aku meminta ini dari seseorang. Maukah kau menikah denganku?” Suara Kim Jongin terdengar begitu tenang. Ia tersenyum dan kembali membuka kotak kecil itu. Memperlihatkan cahaya kecil yang berkilauan. Sebuah cincin terpasang disana, menanti untuk dikenakan oleh pemiliknya.

 

Aku tidak tahu sejak kapan air yang bersumber dari pelupuk mataku tiba-tiba mengalir perlahan melewati pipiku. Kusadari aku mulai menangis.

“Hei, hei.” Melihatku menangis, Jongin mendekat. Wajahnya terlihat khawatir.

“Kim Jongin, kau lebih bodoh.” Aku mendorong dadanya menjauh. Kupukul-pukul pelan bahunya. Sesak sekali rasanya. Aku ingin berteriak. Rasanya menyenangkan sekali, begitu meluap-luap, tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

“Padahal itu adalah kata-kata terklise yang pernah kuucapkan sepanjang hidupku.” Kim Jongin berkata lagi.

Yeah, Kim Jongin juga orang yang pandai merusak suasana.

“Kau tahu jawabanku.” Aku mencari-cari tisu untuk membersihkan hidungku yang mulai dipenuhi ingus.

“Aku juga tahu kau akan menjawab begitu.” Jongin membalas dengan santai.

“Kim Jongin, kau serius apa tidak sih-”

Sebelum kalimat protesku selesai, ia kembali menciumku lagi. Lama sekali.

.

.

Terimakasih untuk ibuku, karena sudah memanggilku tiga belas kali hanya untuk sekedar mengantarkan kue pagi-pagi buta ke rumah Kim Jongin.

FIN

a/n:

read my another stories, you should give it a try! 😉

HEIR & HEIRESS [completed]

https://exofanfiction.wordpress.com/2013/09/07/heir-heiress-chapter-1/

100 PAPER CRANES [completed]

https://exofanfiction.wordpress.com/2013/12/27/100-paper-cranes/

SILHOUETTE [ongoing]

https://exofanfiction.wordpress.com/2014/01/26/silhouette-prologue/

visit wordpress:

http://www.beautywolfff.wordpress.com

there are new story for HEIR&HEIRESS if you craving for more!

kamsahamnida<3<3

 

mind to leave a comment? 😉

13 pemikiran pada “First Meeting

  1. wahhh keren banget walaupun pendek… tapi tetep bagus, bagus banget malah… Ditunggu karya-karya selanjutnya, duh udah nggak bisa ngomong lagi nih… Eh satu lagi, untuk kai oppa ternyata bisa romantis juga ya. walaupun agak nggak niat gimana gitu nglamarnya… Pokoknya TOP deh buat biasku… Hehehe

    Keep writing and Fighting ^^

  2. ahkk 가이 nya romantis bgt . sumvah ini ff simple yg paling greget . aku sih bayanginnya bkn krstal yg jadi lawan main kai . tapi aku ngebayangin aku yg jadi lawan main kai . di ff ini wkwskwks #dont bash

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s