Innocent Things (Chapter 6)

Innocent Thing Poster

Author            :

LDA/Pitz (@tariganms17)

Main Cast      :

  • Kim Tae In (OC)
  • Oh Sehun (EXO’s Sehun)
  • Jung Soo Jung (F(x) Krystal)

Other Cast     :

Find by yourself

Genre             :

Drama, Romance, Family Life, Angst, Sad

Length            :

Chaptered

Rating             :

PG -17

 

DISCLAIMER

Annyeong~ LDA kembali membawa lanjutan cerita epik Oh Sehun, Jung Soo Jung, dan Kim Tae In. Mianhaeyo, Readers, kalian harus menunggu cukup lama untuk chapter ini. LDA sempet buntu ide saat nerusin cerita ini, tapi beruntungnya LDA, komentar-komentar kalian berperan sangat penting buat ngelanjutin FF ini. Seneeeeeng banget liat respon positif dari Readers di chapter sebelumnya, bikin aku semangat buat nerusinnya<3<3<3. Mianhaeyo, Readers kalo setiap chapter yang aku suguhkan ke kalian ‘terlalu pendek’, soalnya LDA takut pada bosen kalo panjang banget. Tapi aku usahakan bakal lebih panjang dari chapter-chapter sebelumnya^^

@

Oh ya, Kalian bisa join ke tumblrku https://tariganms.tumblr.com atau wordpressku juga di https://pitzland.wordpress.com^^ Kalau-kalau ada yang pengen request dibikinin FF sama LDA bisa lewat email di smtarigan@yahoo.co.id, lewat ask fm di http://ask.fm/tariganMS, atau lewat twitter di https://twitter.com/JongKyungInSoo / https://twitter.com/TariganMS17 . Kalau dari kalian baca cerita ini tapi authornya bukan ‘LDA’ atau ‘Pitz’, dipastikan itu “fans” aku hahaha. Namanya juga Fiction, ini hanya fiktif belaka. Cerita ini terinspirasi dari beberapa novel dan drama yang digabungkan sedemikian rupa berdasarkan imajinasi aku sendiri. cast EXO dan artis SMEnt adalah milik Tuhan, Orangtua, dan agensinya. Selebihnya adalah milikku. Thanks for EXOFanFiction’ Admins and all of you^^ Perhatikan Rating sebelum membacanya, karena ada konten dewasa di beberapa bagian. Don’t be Secret Readers, Please. WARNING! Typo Everywhere~ R C L, Please!!^^

Don’t copy this story without any permission!

HAPPY READING©©

 “Yeoboseyo? Ada apa?”

“……”

Mwoya? Kalian bodoh! Bagaimana bisa dia kabur dari pengawasan—“

“……”

“Segera temukan dia atau kalian akan kupecat! Araseo?!”

Jong Hyun meletakkan ponselnya kasar. Hye Ri yang sedang duduk di sampingnya menatapnya bingung. Hye Ri mengelus lembut pundak suaminya. Jong Hyun menatap mata istrinya.

“Tae In kabur dari rumah tadi sore. Anak itu selalu membuatku sulit!” Jong Hyun mengusap wajahnya kasar. Hye Ri terus mencoba meredam emosi suaminya itu.

Sajangnim, walaupun aku belum pernah bertemu dengannya, tapi sepertinya aku mengerti perasaannya sekarang. Aku merasa ia sangat kesepian sehingga ia melakukan hal seperti ini—berada di rumah sebesar itu tanpa ada yang menemaninya.  Ia tinggal terpisah dari keluarganya. Bukankah keluarga yang ia punya saat ini hanya kita dan Jong In dan Jong In sudah diusir dari rumah 6 bulan silam? Berarti ia hanya memiliki kita, Sajangnim.” Hye Ri diam sejenak lalu kembali melanjutkannya.

“Jika aku ada di posisinya sekarang, mungkin aku akan melakukan hal yang sama,” Hye Ri menatap lurus kedepan—menatap ke arah televisi yang sedang menyala. Jong Hyun terdiam sejenak—mencoba mencerna apa yang dikatakan Hye Ri.

“Aku ingin ia menjadi gadis yang mandiri dan kuat, tidak larut dalam kesedihan kehilangan eommanya. Aku ingin ia bisa mempersiapkan dirinya untuk menggantikan posisiku di perusahaan,” Hye Ri kembali menatap suaminya, mencoba memberi pengertian pada suaminya.

“Aku tahu sajangnim sangat peduli pada masa depan Tae In dan perusahaan. Tapi kurasa, itu bukan cara yang tepat. Tolong, Sajangnim, izinkan aku bertemu dengannya setelah ia ditemukan nanti. Dan aku pun ingin menemaninya tinggal disana. Aku ingin mengenalnya lebih jauh supaya ia bisa menjadi gadis yang lebih baik. Bukankah ini tanggung jawabku sebagai eommanya meskipun aku hanya eomma tirinya?”

Chagiya, aku takut jika ia bertemu denganmu dan tau kalau usiamu sama dengan oppanya, ia akan bertindak kasar padamu. Aku tidak ingin hal itu terjadi,”

“Jangan khawatir. Bukankah kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi jika kita tidak mencobanya, Sajangnim?” Jong Hyun menyenderkan kepala Hye Ri ke pundaknya lalu mencium kepalanya lembut.

Chagiya, kau tidak mengantuk? Ini sudah malam, aku sudah lelah. Ayo kita tidur,” Hye Ri membantu Jong Hyun untuk berdiri lalu berjalan perlahan menuju kamar. Pikiran Hye Ri terus memikirkan percakapan suaminya di telepon siang tadi.

*

“Yeobo, ada apa dengan mobil ini? Matikan mobil ini segera!!”

“A..Aku tidak bisa mengendalikan mobil ini!”

“Bagaimana ini? Aku tidak ingin mati sekarang! Shireo!”

“Aku pun tidak ingin kau mati, Yoo Ri-ya! Keluarlah dan pergi dari sini dan bawa Soo-ah bersamamu! Sekarang!

“Aku tidak akan keluar dari mobil ini tanpamu, Yeobo!”

“Tak ada waktu lagi! Ppali!”

*

Hye Ri terbangun dari tidurnya. Ia bersandar pada sandaran tempat tidurnya. Ia memegang dadanya, merasakan detak jantungnya. Mimpi itu membuat detak jantungnya berdetak sangat cepat.

“Apa maksud mimpi itu?” Hye Ri bergumam sendiri. Ia bangkit dari tempat tidur dan perlahan berjalan mendekati pintu kamar mandinya—membasuh wajahnya dengan air.

“Aku terlalu memikirkan percakapan Jong Hyun-ssi siang tadi. Mimpi itu menggangguku. Aku harus mencari tau apa yang Jong Hyun-ssi sembunyikan dariku,” Hye Ri mengelap wajahnya yang basah dengan handuk merah muda miliknya. Ia keluar dan berjalan perlahan menuju tempat tidur untuk meneruskan tidurnya. Ia mengetik beberapa kata di ponselnya dan mengirimkannya pada seseorang.

*

From   :           Dr. Shim Changmin

Sehun-ah, mengapa kau tidak kerumah sakit? Apa kau baik-baik saja? Segera balas pesanku.

Sehun mengunci ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku celananya tanpa membalas pesan singkat dari Dr. Shim. Ia pergi dari rumah untuk ke rumah sakit, tapi ditengah perjalanan ia berhenti di sebuah kafe. Ia duduk sendirian sambil memandangi sebuah map berisi kertas perjanjian jual beli saham yang ia temukan di rumah lamanya. Ia terlihat gusar—berusaha memahami apa maksud dari surat perjanjian itu. Ia merasa ada sesuatu yang ganjil pada isi perjanjian jual beli itu namun ia tidak tahu apa itu.

“Apa seharusnya aku bertanya pada Kai?”

“Ah ani. Aku tidak ingin ia terlibat dalam masalah ini. Ia sudah banyak membantuku menjaga Nara.”

“Atau aku bertanya pada Dr. Shim saja? Tapi—“ Sehun melihat ke arah pintu kafe yang terbuka. Ia melihat seseorang yang sepertinya ia kenal. Ia sadar kalau seseorang yang ia lihat adalah gadis yang dijemput paksa di kafe nyonya Kang beberapa hari yang lalu. Seorang wanita yang berada di sebelah gadis itu melihat ke arahnya. Sehun tersenyum pada wanita itu.

Annyeonghaseyo, Sehun-ssi,” wanita itu menyapanya dari kejauhan dan menghampirinya bersama gadis itu. Pandangan Sehun dan gadis itu saling bertemu—bertatapan cukup lama sampai gadis itu tersentak dan menundukkan kepalanya malu.

Annyeonghaseyo, Shim ahjumma. Apa kabar?” wanita bernama Shim Ji Min dan gadis yang ada di sebelah Shim Ji Min duduk berhadapan dengan Sehun.

“Baik, bagaimana denganmu? Apa namdongsaengku menyusahkanmu, Sehun-ah?”

“Tidak, ahjumma. Malah sebaliknya, sayalah yang banyak menyusahkan Dr. Shim. Ia sangat membantuku menjalani hari-hari di rumah sakit. Aku beruntung memiliki guru seperti Dr. Shim,” pandangan Sehun beralih pada gadis yang ada di sebelahnya. Ji Min yang menyadari kebingungan Sehun pun tersenyum.

“Aku sampai lupa. Perkenalkan. Ini put..keponakanku, Kim Tae In. Tae In-ya, ini Oh Sehun, murid pamanmu yang saat ini sedang menjadi co-ass di rumah sakit tempat pamanmu bertugas.” Sehun tercekat saat Ji Min memperkenalkan gadis itu. Namanya langsung mengingatkannya pada nama selalu disebut Jong In dalam tidurnya.

“Kim Tae In imnida,” Tae In berdiri dan membungkukkan tubuhnya pada Sehun. Sehun pun melakukan hal yang sama. Mereka pun duduk bersamaan.

Pesanan Ji Min pun datang. Sehun yang melihat ke arah map merah yang ia letakkan di meja langsung di masukkan ke dalam ranselnya. Tae In memicingkan matanya ke arah map merah yang dipegang Sehun.

“Sehun, bukankah ini hari kerja? Mengapa kamu tidak ke rumah sakit?” Ji Min yang sedang menikmati tehnya bertanya pada Sehun yang sedang menatap ke layar ponselnya. Sehun meletakkan ponselnya yang masih menyala di meja—memperlihatkan foto yang menjadi wallpapernya.

“Ada hal yang harus saya selesaikan tadi. Tapi sekarang sudah selesai. Saya akan ke rumah sakit. Maaf jika saya tidak bisa menemani ahjumma dan Tae In-ssi lebih lama lagi,” wajah Sehun menyiratkan kegusaran, namun tak ada yang menyadarinya. Mata Tae In menatap ke arah ponsel Sehun—lebih tepatnya layar ponselnya yang masih menyala—memperhatikan foto yang terpasang di layar ponsel Sehun.

Ahjumma, Tae In-ssi, saya permisi. Sampai bertemu lain waktu,” Sehun berdiri lalu membungkukkan badannya pada 2 orang wanita yang terlihat seperti ibu dan putrinya. Mereka berdua berdiri beriringan dan membalasnya dengan hal yang serupa. Sehun menghampiri motor sportnya lalu berlalu dari pandangan Ji Min dan Tae In.

*

Sehun melirik jam tangannya. Ia baru sampai di rumah sakit pukul 12 siang. Ia gelisah karena ia pasti akan ditegur oleh Dr. Shim karena keterlambatan terparahnya ini. Setelah ia pergi dari kafe yang membuatnya bertemu dengan kakak Dr. Shim, ia tidak segera pergi ke rumah sakit, namun ia pergi ke sebuah taman untuk menjernihkan pikirannya sampai tertidur di bangku taman itu.

From: Dr. Shim

Kau tidak membalas pesanku sebelumnya. Segera ke ruanganku 5 menit dari sekarang.

Sehun mengusap punggung lehernya sedikit kasar. Ia ingat kalau ia tidak membalas pesan singkat dari Dr. Shim pagi tadi. Ia berlari menuju lift, pasrah dengan apa yang akan ia erima saat ia berhadapan dengan Dr. Shim.

*

Jwoseonghamnida, Shim seosangnim. Aku menyesal karena keterlambatan memalukan ini,” Sehun membungkukkan tubuhnya berulang kali pada Dr. Shim yang menatap kesal pada Sehun. Dr. Shim bangkit dari kursinya dan menampar pipi kanan Sehun. Sehun terkejut sambil memegang pipi yang baru saja terkena tamparan Dr. Shim. Dr. Shim berjalan menuju sofa. Sehun mengekor dan ikut duduk berhadapan dengan Dr. Shim sambil menundukkan kepalanya.

Mianhae, Sehun-ah. Aku sangat yakin jika kau sedang tidak dalam kondisi baik. Tapi tolong, bersikap professional. Tugasmu ini menyangkut keselamatan nyawa seseorang. Jadi tolong, kesampingkan dulu masalah pribadimu,” Sehun menunduk semakin dalam, ia benar-benar merasa rendah diri dan malu dihadapan gurunya itu.

“Jika kau tidak keberatan, aku siap mendengarkan ceritamu. Aku tidak ingin permasalahan yang kau pendam berpengaruh pada kinerjamu, Sehun-ah,” Sehun mendongakkan wajahnya perlahan dan menatap Dr. Shim sedih. Dr. Shim sedikit tersentak melihat keadaan muridnya yang terlihat kacau.

“Saya ingin berkonsultasi pada seosangnim, tapi hal yang ingin aku konsultasikan adalah hal yang bersifat pribadi. Apa seosangnim keberatan?” tanya Sehun hati-hati. Ia tidak berharap banyak bahwa Dr. Shim akan mengabulkan keinginannya itu.

“Itu yang ingin aku dengar darimu, Sehun-ah. Di kafe kamong jam 1 sesuai perjanjian kita kemarin, ne?” Sehun tersenyum kecil namun menyiratkan sedikit kelegaan pada dirinya. Dr. Shim membalas senyum itu dengan senyuman kebapakannya.

*

Tae In dan Ji Min berjalan beriringan. Tangan hangat Ji Min terus menggenggam tangan Tae In seolah-olah tak mau dilepaskannya. Tae In sama sekali tidak terlihat keberatan, ia terlihat sangat bahagia. Kesepian yang selalu menderanya 1 tahun belakangan ini sedikit terobati dengan hadirnya Shim Ji Min dan shim Changmin di hidupnya.

Ji Min menarik tangan gadis itu dan mengajaknya berlari. Tae In terkejut saat Ji Min menghentikan larinya di dekat sungai Han. Ji Min menarik tangan Tae In untuk duduk di bangku yang menghadap langsung ke arah sungai.

“Kamu suka dengan tempat ini?” Ji Min yang melihat Tae In kaget memulai pembicaraan. Tae In yang mendengar pertanyaan Ji Min hanya mengangguk—mengiyakan. Ji Min terkejut saat melihat mata Tae In mulai berkaca-kaca.

“Kamu merindukan eomma dan oppamu ya?” Tae In menatapnya nanar seolah-olah bertanya “bagaimana bibi bisa tau hal itu?”. Ji Min memeluk gadis itu erat, membuat air mata Tae In mengalir tak terbendung dan menenggelamkan wajahnya padaa pundak wanita itu. Ji Min semakin mengeratkan pelukannya pada Tae In setelah mendengar isakan gadis malang itu. Air mata Ji Min pun menetes perlahan. Tae In yang hanya diam—tidak memeluk—melingkarkan lengannya pada pinggang Ji Min dan membalas pelukannya sama eratnya dngan yang dilakukan oleh Ji Min padanya. Mereka seperti sedang melepas rindu satu sama lain setelah terpisah sangat lama.

Ji Min melepaskan pelukannya. Ia meraih pipi gadis malang itu dengan kedua telapak tangannya, membuat pandangan Tae In beralih padanya. Tae In menatapnya nanar. Ia masih terisak saat wajahnya diarahkan pada Ji Min. Ji Min menunjukkan senyum tulusnya pada Tae In. Ia kembali memeluk gadis itu seolah-olah ia tidak ingin terpisah darinya. Tae In pun memeluk Ji Min. Mereka tidak sadar jika mereka sudah berada di sungai Han berjam-jam sampai matahari nyaris tenggelam ke peraduannya. Ji Min yang merasa langit sudah mulai gelap, mengusap wajah Tae In yang basah karena air mata.

“Tae In-ya, kajja, kita pulang,” Ji Min menggenggam tangan Tae In dan mengajaknya pergi meninggalkan sungai Han yang memiliki banyak kenangan bagi mereka berdua.

*

 “yeoboseyo?

“……”

“Ya, Saya ingin anda mencari informasi apapun tentang kejadian 15 tahun lalu itu dan tentang pria yang sudah aku beritahu lewat pesan singkat semalam. Saya ingin melihat hasilnya 2 hari lagi,”

“……”

“Anda tenang saja, saya bersedia membayar berapapun yang Anda minta. Asalkan anda dapat bekerja dengan baik untuk saya. Kamsahamnida,”

*

Jong Hyun kembali tersulut emosi setelah membaca pesan singkat yang ia terima dari pengawal Tae In. Hye Ri yang menyadari tingkah suaminya menghampirinya yang sedang duduk di pinggir ranjangnya.

“Kepar*t!!” Jong Hyun mengepalkan tangannya sangat kencang sampai terlihat memerah. Hye Ri langsung menggenggam tangan Jong Hyun untuk meredam emosi Jong Hyun.

Sajangnim, waeyo?”

“Para pengawal berusaha membawa pulang Tae In dengan menyusulnya ke kampus, tetapi Tae In sudah mengajukan cuti kuliah beberapa hari yang lalu. Para pengawalku pun mencoba melacak keberadaan Tae In dengan GPS, tapi Tae In sudah mengganti ponsel beserta kartunya.”

“Lalu, siapa orang yang Sajangnim teriaki ‘Kepar*t’ itu?”

“Ia Shim Changmin, adik dari istriku terdahulu—paman Tae In dan Jong In. Tae In tidak pernah dipertemukan dengan keluarga eommanya.”

“Apa masalahnya dengan orang itu, Sajangnim?

“Setelah pengawalku menanyakan soal keputusan cuti Tae In, ternyata bukan Tae In sendiri yang mengantarkan surat permohonan cuti, melainkan Shim Changmin. Berarti Tae In—“ pembicaraannya terhenti ketika seorang pelayan membawa sebuah amplop seukuran Ipad dan berjalan menghampirinya dan Hye Ri.

Jwoseonghamnida, sajangnim. Ada kiriman untuk anda,” pelayan langsung menyerahkan amplop coklat itu pada Jong Hyun. Ia lalu membungkukkan badannya seraya berlalu dari hadapan majikannya itu.

Jong Hyun melempar amplop itu sembarang setelah melihat isinya. Ia berteriak sampai-sampai para penjaga yang mendengar menghampiri majikannya. Hye Ri bangkit dari duduknya lalu berusaha memunguti isi amplop yang di lempar suaminya tiba-tiba. Hye Ri membekap mulutnya dan terbelalak. Ia terduduk lemas sambil menatap ke arah Jong Hyun yang masih terlihat syok seolah bertanya “Apa maksudnya?”

*

Shim Changmin tersenyum puas saat masuk ke dalam rumah. Ia disambut oleh Ji Min yang menantinya di ruang tamu. Changmin langsung menghambur ke pelukan kakaknya itu. Ji Min tersenyum bahagia melihat ekspresi wajah Changmin yang terlihat sangat senang.

Noona penasaran dengan apa yang terjadi pada dongsaengku sampai ia terlihat sangat bahagia seperti ini. Apa kau punya seseorang yang akan kau kenalkan padaku?” Ji Min menggoda adiknya. Changmin mendengus, membuat Ji Min tertawa kecil.

“Yak! Noona! Mungkin dunia akan bersorak jika aku berhasil mendapatkan seorang wanita untuk aku nikahi kelak!”

“Lalu, apa yang membuat dongsaengku seperti ini? Jawablah! Ppali!” Ji Min merajuk. Changmin berdiri lalu mendekatkan mulutnya ke telinga kakaknya itu.

“Tunggu tanggal mainnya saja ya, noona. Pasti itu akan membuat noona jauh lebih bahagia melebihi kebahagiaanku hari ini,” Changmin berlalu dari Ji Min yang terlihat bingung dengan bisikan adiknya itu. Sejujurnya, Ia tidak mengerti apa yang adiknya bicarakan.

*

Pagi-pagi sekali, Sehun sudah bangun dari tidurnya. Walaupun ini adalah hari Minggu—hari dimana semua orang menantikannya untuk bersantai—tidak demikian dengan Sehun. Ia dengan cekatan membereskan pekerjaan rumah yang belum sempat dibereskan oleh Jong In. Sehun berhati-hati agar tidak menimbulkan suara berisik yang bisa membangunkan Nara dan Kai.

Ia beralih ke taman belakang. Ia membereskan barang-barang yang tampak berserakan. Ia merapikan rerumputan yang tumbuh tidak beraturan. Setelah semuanya selesai, Sehun duduk bersandar pada dinding batu tempat ia menemukan Nara dan Jong In beberapa hari lalu. Sehun bangkit dari duduknya karena ia merasa menduduki sesuatu. Sehun meraih sebuah robekan kertas—lebih tepatnya robekan foto—dari tempatnya duduk. Ia memperhatikan foto itu dengan seksama. Matanya membulat saat ia melihat seorang gadis yang terlihat tak asing baginya.

“Sepertinya, ini Tae—“

“WAAAAAAAAA!!!!!!!” Sehun terbelalak dan seketika tersungkur saat melihat seseorang muncul di sampingnya dengan tiba-tiba. Wajah yang terlihat menyeramkan itu membuat Sehun—dengan sekuat tenaga—mencoba menjauhi sosok ‘menyeramkan’ itu.

TO BE CONTINUED

17 pemikiran pada “Innocent Things (Chapter 6)

  1. siapa sih yg ngagetin sehun pagi- pagi dengan muka “menyeramkannya” trus kenapa shim siblings nggak mempertemukan jongin sama tae in ??
    penasaran…!! next chapter semoga cepet di publish deh

  2. baru baca chapter 1 sampe chapter ini beberapa hari yang lalu, ini ceritanya keren semoga tae in cepet ketemu sama jong in ya kasian mereka berdua terus semoga keluarga changmin dilindungi deh ngga di sakitin sama ayahnya jongin sehun juga semoga bisa cepet ketemu sama krystal, ditunggu next chapternya thor keep writing fighting author 🙂

  3. Maaf baru komen di chapter ini thor ^^
    Aku masih bingung sama ff ini thor -_- selain itu, couple Sehun sebenarnya siapa?? -_-
    Oh ya, di tunggu next chapternya ^^
    Jangan lama-lama -_-
    Fighting!! Keep writing!! ^^

  4. aku menanti klnjutn ff ini, krn aq suka bget ma jln critany, smoga eounni bisa ttep nglnjutin ff ini, & chapter2 lnjutannya bisa segera d posting..
    keep faithing!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s