Silhouette – Crooked

(3)SILHOUETTE CROOKED POSTER

Title: Silhouette

#3 Crooked

Author: Nandani P (@nandaniptr) & Sagita T (@sagitrp). | Main Cast: Kim Jongin/Kai (EXO-K), Park Haemi (OC), Kim Myungsoo/L (Infinite)| Supporting Cast: Seol Hanna (OC), Park Cheondoong/Thunder (MBLAQ), Kris/Wu Yi Fan (EXO-M), and the rest find by your own. | Genre: Drama, Romance, Angst | Duration/Length: Multi-Chapter |Rating: PG-16

Summary:

Love is exist but with an absence of eternity. After first moment of the lovers encounter, there is an affirmation of love. Psychologically lunacy, emptiness, panic, delusion that the moment would lasts forever. I’m seized by the desire.

I hide behind my back and postpone all the answers.

-(Quote cr: F(x) Pink Tape art film)

 

 

Recommended playlist:

  1. Crooked – G-Dragon
  2. Lies – Bigbang

.

.

Nothing ever lasts forever
In the end, you changed
There is no reason, no sincerity
Take away such a thing as love
Tonight, I’ll be crooked

Leave me alone
I was alone anyway
I have no one, everything is meaningless
Take away the sugar-coated comfort
Tonight, I’ll be crooked

 

  • Crooked (G-Dragon)

 

 

 

Well.

Kurasa semuanya berjalan dengan baik-baik saja.

 

 

 

Kai membuka tutup botol Wine di tangannya dengan amat hati-hati. Kemudian ia memutar-mutar botol dan mencampurkan perpaduan antara Vodka Currant, Crème de Cassis dan Pineapple Juice dalam takaran yang pas. Lalu ia menyaring isinya ke dalam gelas koktail dingin dengan lihai. Tak lupa ia mencomot dua buah ceri dan menempelkannya di bibir gelas sebagai penghias. Semuanya dilakukan dengan sempurna. Kris yang berada di sebelahnya menggeleng-gelengkan kepala, lalu kembali fokus pada pekerjaannya mengelap gelas-gelas kaca yang berjejer rapi di depannya.

 

Ckckck, aigoo. Bartender baru itu masih saja show off seperti itu di hadapan para wanita. Kris mengomel dalam hati.

 

“Dua gelas French Kiss.” Kai menyodorkan gelas-gelas itu ke arah dua perempuan yang duduk berdampingan tepat di  hadapannya di balik meja bar. Salah satunya berambut panjang berwarna pirang dan bermata biru, sepertinya dia orang asing. Ia hanya memakai baju crop tee bermotif aztec dan hot pants. Dan disebelahnya terdapat juga rekannya, seorang perempuan berkulit gelap eksotis dengan bibirnya yang tebal. Ia memakai tanktop berwarna merah menyala dan celana jeans panjang. Mereka terdiam sesaat. Speechless melihat aksi Kai yang begitu menarik perhatian.

 

French Kiss…dengan cita rasa yang begitu menggoda. Sesuai dengan namanya.” Kai menyeringai kecil. “Sesuai juga dengan kalian.” Lalu ia mengedipkan matanya, mengakhiri kalimatnya dan segera berlalu. Keduanya masih diam tak bergerak. Tangan mereka masih lekat memegang tungkai gelas. Terpesona dengan ketampanan luar biasa dari seorang bartender muda berkulit cokelat yang sedang berkeringat dan masih saja terlihat seksi di mata mereka.

 

“Kau hebat.” Kris berbisik di telinga Kai.  “Sampai sekarang bahkan mereka tidak mengalihkan pandangannya darimu.”

 

Kai menanggapi perkataan Kris dengan dingin dan raut wajah tidak peduli. Ia hanya mengangkat bahunya lalu berbalik untuk membuka satu kancing kemejanya. Hawa ruangan ini terlalu panas.

 

Saat ia memandang ke bawah, bayangan dirinya terpantul jelas di meja kaca bar. Seorang Kim Jongin dengan rambut acak-acakan, peluh yang menetes satu persatu di pelipisnya, kemejanya yang sudah tak berbentuk dan wajah yang terlihat amat lelah.

 

Kai meringis. Ia merasa penampilannya begitu buruk saat ini, dan mereka masih saja tidak melepaskan pandangan matanya?

 

Apakah ini sudah terlampau berlebihan?

 

Kai mengerang dalam hati. Kemudian ia mengacak-acak rambutnya frustasi. Kai merasa hidupnya semakin kacau. Ia merasa ‘semuanya tetap baik-baik saja’ disaat ia melihat kenyataan berbalik 180 derajat menyerangnya.

 

Ia melangkah menjauhi Kris dan mendekati jendela. Menerawang  jauh. Matanya menatap ke luar bar dengan pandangan kosong.

 

Entahlah, hari ini aku merasa sangat merindukan Hanna-noona.

 

Kehilangan Seol Hanna memang membawa dampak begitu besar dalam kehidupannya. Ia menyadari itu.

 

Ia selalu merasakan kehilangan dalam hidupnya. Pertama saat ia masih kecil, ibunya pergi meninggalkannya ke alam yang bahkan tak bisa ia raih, membuatnya kehilangan arah dan pegangan. Ayahnya juga ikut kehilangan kewarasannya, setiap hari kerjanya hanya berkutat pada pekerjaan, mabuk-mabukan dan berganti-ganti wanita. Tapi beruntungnya ia masih bisa tetap memberikan uang dan hartanya pada Kai, namun kebahagiaan yang diberikan pada Kai sama dengan nol besar.

 

Dan kali ini kehilangan Hanna yang pergi begitu saja meninggalkannya ke Wina, membuatnya hancur tak karuan. Ia merasa kehilangan seseorang yang biasa selalu ada untuknya, merawat dan menjaganya.

 

Kai kehilangan semuanya.

 

Hingga sampailah Kai di fase kehidupan seperti ini. Tidak pernah terbayangkan dalam otaknya ia akan bekerja menjadi seorang bartender seperti sekarang. Menjelajahi kehidupan yang tidak pernah ia kira akan ia jalani.

 

 

 

Kai memasukkan kedua tangannya dalam saku, kemudian bersender di meja bar. Tatapan matanya tak lepas memandang keluar, langit hitam kelam yang polos tanpa bintang.

 

Kris yang melihatnya dari kejauhan mengernyitkan dahi dengan heran.

 

Mengapa orang itu begitu misterius? Sebetulnya apa yang terjadi dengannya?

 

 

 

Kai merogoh kantongnya dan mengeluarkan sebungkus rokok dan mengambil satu dari dalamnya. Kemudian ia menyalakan pemantik dan mendekatkan ujung rokok dengan api, lalu mulai menghisap rokok itu dalam-dalam. Dalam hitungan detik, ia menghembuskan nafas dari mulutnya dan keluar bersamaan dengan asap yang memenuhi indra penciumannya.

 

Mungkin ini satu-satunya cara untuk melupakanmu, noona.

 

 

 

**********

 

 

 

Haemi merasa sedikit kikuk berada di tempat seperti ini. Mungkin karena ini bukan kebiasaannya. Dan ia juga berpikiran bahwa sepertinya ia juga salah kostum. Haemi hanya memakai hoodie dengan lengan panjang berwarna cokelat yang kedodoran dan skinny jeans serta rambut dicepol sederhana ke atas. Sementara di sekelilingnya semua orang berpakaian serba terbuka. Suara speaker berdentum-dentum memenuhi gendang telinganya. Lantai dansa begitu riuh.

 

Sesampainya di sudut meja bar ini, matanya terpaku memandang laki-laki yang bersandar di dekat jendela itu dengan dahi berkerut. Di depannya terdapat segelas cola float yang ia pesan sekitar sepuluh menit yang lalu, sedari tadi tidak tersentuh.

 

Kris yang memperhatikan Haemi sedari tadi segera mendekatinya dan berbisik pelan.

 

“Kau heran melihatnya ya?”

 

Haemi terkejut dan refleks memundurkan tubuhnya perlahan, lalu ia menganggukkan kepalanya.

 

“Yah..begitulah.” Jawabnya. “Siapa dia?”

 

“Bartender baru.” Kris menanggapi. “Agak sedikit…stress mungkin. Ia senang sekali melamun seperti itu.”

 

“Ah..begitu.” Haemi mengangguk paham.

 

“Ada perlu apa…ngg, perempuan yang kelihatannya baik-baik sepertimu..datang kesini?” Kris bertanya dengan sedikit bingung.

 

Aniya. Aku sedang menunggu seseorang dan…ah dia sudah datang.” Spontan bibir Haemi membentuk senyuman. Seseorang yang ditunggunya sedari tadi melangkahkan kaki mendekat ke arahnya.

 

“Hei Haemi-ah! Sudah lama kau menungguku disini?” Tanya Cheondoong—seorang DJ dan pemilik bar ini (ia membuat usaha bar ini berdua dengan sahabatnya—Lee Joon), sekaligus kakak kandung Haemi. Haemi menggeleng-geleng lalu terlihat berpikir sebentar.

 

“Mungkin sekitar lima belas menit.” Ia mengira-ngira.

 

“Oh, kau mengenal Cheondoong-hyung?” Kris menyela, matanya membulat.

 

“Dia adikku.” Cheondoong menyambar. “Cepatlah kembali bekerja.” Suruhnya tegas.

 

Kris hanya ber-ooh ria. Lalu ia segera berjingkat kembali ke tempatnya dan mulai bekerja seperti biasanya.

 

“Bagaimana? Kau jadi membicarakan tentang hal yang tadi kau bahas di telepon?” Cheondoong mengambil tempat duduk tepat di kursi tinggi bar sebelah Haemi. Yang ditanyai hanya terdiam, matanya masih lekat memandang laki-laki di pojokan itu.

 

“Hei.” Cheondoong menggerak-gerakkan telapak tangannya tepat di depan wajah Haemi. Kemudian, Haemi seperti tersadar.

 

“Ah apa yang kau katakana tadi oppa? Aku tidak mendengar.”

 

“Apa yang kau perhatikan sampai kehilangan konsentrasi seperti itu?” Cheondoong bertanya heran. Lalu ia mengikuti pandangan mata Haemi. “Jangan-jangan laki-laki itu?”

 

“Hmm, begitulah. Siapa dia, oppa? Aku tidak pernah melihat dia sebelumnya.” Tanya Haemi.

 

“Kau kan memang jarang kesini, Haemi-ah.” Balas Cheondoong. “Tapi memang dia bartender baru, ia baru saja mulai bekerja sekitar dua minggu yang lalu, bersamaan dengan laki-laki tadi.” Tangannya menunjuk Kris yang sedang sibuk membuat minuman untuk pengunjung di sudut kiri.

 

“Tapi…ia kelihatan seperti…” Haemi menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, berusaha mencari kata-kata yang pas.

 

“Aku mengerti maksudmu. Ia terlihat kacau bukan? Entahlah. Sepertinya hidupnya agak sedikit…berantakan.” Cheondoong menghela napas panjang. “Ia sangat pendiam. Tapi ia juga sangat rajin. Agak sedikit aneh, asal-usulnya masih tidak diketahui. Tapi aku yakin sebenarnya dia anak baik. Bahkan sepertinya dia berasal dari kalangan berada. Hampir setiap hari ia seperti itu, berdiri di dekat jendela dan melamun. Kurasa ia sedang ada masalah berat dan perlu orang lain untuk menyemangatinya. Ia terlihat seperti…kesepian.” Cheondoong mengakhiri penjelasannya yang diikuti dengan anggukan kepala dari Haemi.

 

“Siapa namanya oppa?” Haemi bertanya lagi.

 

“Kim Jongin. Kami semua biasa memanggil dia Kai.”

 

 

 

**********

 

 

 

(Yeah) love is pain
Dedicated to all my broken-hearted people
One’s old a flame, just scream my name
And I’m so sick of love songs (yeah)
I hate damn love songs,

 

Momento of ours.

 

Lies!

 

Kai berjalan dengan langkah terseret memasuki minimarket di dekat rumahnya. Pikirannya masih berputar di Seol Hanna. Bagaimana sakit hatinya saat Hanna meninggalkannya begitu saja itu masih terasa seperti nyata. Sudah beberapa kali ia merasakan hal seperti ini. Kai memukul-mukul kepalanya sendiri, lalu ia memutuskan untuk keluar tanpa membeli apa-apa. Otaknya seperti berhenti berfungsi, bahkan ia tidak bisa berpikir tentang apa yang harus ia beli. Pikirannya masih dipengaruhi alkohol yang barusan ia minum.

 

“Bawa wortel dan kentang itu kesini, Jongin-ah. Jangan terlalu banyak mengambil makanan lain, atau aku tidak mau memasak untukmu lagi.” Hanna-noona berdecak. Ia menggeleng-geleng melihatku yang mengambil satu persatu snack di rak tanpa henti. Aku hanya membalas dengan menyeringai jahil.

 

“Sekali-sekali noona. Boleh ya?” Aku mencoba untuk merayunya. Hanna-noona memandangku sesaat, lalu ia luluh dan mengangguk dengan sedikit tidak rela.

 

“Ah..ya sudahlah. Sekali ini saja tapi. Mengerti?”

 

Aku tidak menjawab perkatannya, yang kulakukan adalah berteriak senang dan mulai meneruskan kegiatanku yang sempat terhenti tadi. Mengambil snack sebanyak-banyaknya dan memasukkannya ke troli belanja.

 

Mungkin kenangan yang membawanya memasuki tempat ini. Saat setahun yang lalu Hanna mengajaknya pergi ke minimarket untuk sekedar membeli bahan makan malam bersamanya.

 

A late night and rain falling down.
I bring you back from my memories.
I promised myself I would be fine without you, but I can’t help it.
I take in liquor which I don’t even know how to handle trying to fill my empty heart.

 

A day without you is too long.

 

I pray that I may please forget you (that’s a lie).

 

  • Lies (Big Bang)

 

**********

 

 

 

Haemi berjalan menuju minimarket dengan langkah lebar-lebar. Di benaknya sudah terbayang apa saja midnight snack yang harus ia beli untuk menonton film nanti malam bersama Myungsoo. Ia bersiul senang. Saat membuka gagang pintu minimarket, ia bertabrakan dengan seorang lelaki dari arah yang berbeda. Ia terlihat amat kacau. Haemi memandangnya sekilas dengan kesal, lalu memutuskan untuk tidak memperdulikan lelaki itu dan berjalan masuk. Ia melongokkan kepala ke rak-rak berjejer penuh makanan. Matanya berbinar. Ia memilih dengan seksama lalu membayarnya ke kasir. Saat ia sudah menyelesaikan pekerjaannya berbelanja, ia keluar dari minimarket.

 

Dalam waktu yang bersamaan, dengan terhuyung-huyung, Kai melangkah lurus di jalanan tanpa melihat sekelilingnya. Haemi yang melihatnya dari jauh hanya menggeleng-gelengkan kepala heran melihat seorang lelaki yang serampangan menabrak sana-sini. Apalagi tadi ia juga sempat menabraknya di depan pintu minimarket.

 

Tanpa disengaja, bahu Kai menyenggol keras seorang perempuan di samping laki-laki kekar yang berjalan berlawanan dengannya. Laki-laki itu menautkan kedua alisnya dan memandang Kai dengan pandangan marah.

 

“Apa maksudmu?” Ujarnya dengan nada tinggi. Kai menanggapi dengan cuek. Ia terus berjalan tanpa memperdulikan teriakan laki-laki di belakangnya. Karena tidak terima, ia mendatangi Kai. Lalu menarik kerah bajunya tinggi-tinggi. Kai memandang laki-laki di depannya dengan raut wajah datar. Karena kesal tidak direspon, laki-laki itu memukul Kai tanpa basa-basi dengan kepalan tangannya yang sudah ia persiapkan sedari tadi. Perempuan yang berjalan bersama lelaki itu kini mulai panik. Keadaan tegang.

 

Tanpa sadar Haemi dengan panik berlari mendekati mereka berdua. Entah keberanian darimana datang begitu saja padanya. Ia berusaha melerai perkelahian yang hampir saja terjadi itu.

 

“Ah joesonghamnida! Tapi bisakah kalian berhenti?” Ia berteriak keras-keras. Posisi tangan yang siap meninju wajah Kai itu berhenti seketika. Ia menoleh heran.

 

“Siapa kau?” Tanya laki-laki kekar itu dengan sinis. “Oh, apa dia ini pacarmu, huh?”

 

Haemi mendekatinya dengan takut-takut.

 

“Uh, ti-tidak. Bukan. Aku tidak bermaksud apa-apa ahjussi…hanya saja jangan berkelahi disini. Dilihat banyak orang.” Haemi berbisik. Lelaki itu menoleh ke sekelilingnya. Beberapa pasang mata memandang mereka dengan heran dan sedikit ekspresi takut. Lelaki kekar itu melepaskan tarikannya dari kerah baju Kai. Kemudian mendengus marah. Perempuan yang disenggol itu menarik-narik bajunya dengan sedikit malu. Mungkin dia kekasihnya. Pikir Haemi.

 

 

 

“Untung ada perempuan muda ini. Sekali lagi kau seperti itu, kau akan benar-benar kuhajar.” Ancamnya. Kai hanya membuang muka. Haemi yang berada di sebelahnya membungkukkan badan dan meminta maaf berkali-kali. Laki-laki dan perempuan itu segera pergi berlalu dari hadapan mereka.

 

Kai mendongak, ia meneliti penampilan perempuan di sebelahnya itu dengan seksama dari atas sampai bawah.

 

“Apa kau sudah merasa seperti pahlawan sekarang?” Kai berkata dingin. Haemi yang posisi tubuhnya masih membelakangi Kai, berbalik dan menatap matanya lurus. Ia mulai kesal dengan perkataan Kai yang tidak menyiratkan rasa berterimakasih sama sekali.

 

“Apa itu caramu berterimakasih, huh?” Haemi menjawab dengan suara tinggi.

 

“Cih, memangnya siapa kau?” Tanya Kai dengan intonasi nada yang terdengar amat sarkastik. Haemi mulai merasa darahnya mendidih. Seharusnya aku tidak menyelamatkan lelaki ini. Dia memang bodoh. Mulut lelaki di depannya ini harus diberi pelajaran. Mungkin satu tamparan cukup.

 

Tapi tunggu,

 

Laki-laki ini…bukannya bartender baru di bar kakak?

 

Haemi terdiam memperhatikan lelaki di depannya ini baik-baik.

 

“Apa aku begitu tampan hingga kau memperhatikanku sampai seperti itu?” Kai bertanya dengan nada mengejek. Haemi menghela napas panjang.

 

“Tidak.” Haemi menjawab kesal. “Tapi jika kau bertanya siapa aku, namaku Park Haemi, jika kau memang benar-benar ingin tahu.” Ia melanjutkan kalimatnya, namun kali ini Haemi sudah mulai memelankan suaranya. Ia tahu laki-laki di depannya ini bermasalah. Entah karena apa. Ia tidak boleh ikut terpancing emosi.

 

Kai menghembuskan nafas dalam-dalam. Kemudian ia memicingkan matanya.

 

“Mengapa kau ikut campur dalam masalahku?” Tanyanya.

 

 

 

“Aku mengerti maksudmu. Ia terlihat kacau bukan? Entahlah. Sepertinya hidupnya agak sedikit…berantakan.” Cheondoong menghela napas panjang. “Ia sangat pendiam. Tapi ia juga sangat rajin. Agak sedikit aneh, asal-usulnya masih tidak diketahui. Hampir setiap hari ia seperti itu, berdiri di dekat jendela dan melamun. Kurasa ia sedang ada masalah berat dan perlu orang lain untuk menyemangatinya. Ia terlihat seperti…kesepian.”

 

Haemi masih mengingat jelas perkataan kakaknya kemarin malam saat di bar.

 

 

 

Mungkin memang dia perlu sedikit bantuan.

 

 

 

“Kau tidak boleh seperti itu, Kai.” Haemi menjawab lugas. “Aku tidak tahu masalah apa yang menimpamu, tapi tidak seharusnya kau bersikap seperti itu. Paling tidak kau harus meminta maaf saat kau tahu kau itu salah.” Haemi menjelaskan panjang lebar. Rambutnya bergerak-gerak seiring gerakan tubuhnya.

 

 

 

“Jongin-ah, kalau kau berbuat salah, kau harus meminta maaf. Mengerti? Akui jika kau salah, jangan bersikap seperti pengecut.”

 

 

 

Tiba-tiba Kai mulai blank. Ia terngiang nasihat dari Hanna, wanita yang paling dicintainya itu sama persis dengan apa yang diucapkan perempuan mungil di hadapannya kini.

 

 

 

Bersikap baiklah, Jongin.”

 

 

 

“Aku jadi laki-laki tadi pasti kesal. Apalagi dengan sikapmu yang masa bodoh. Setidaknya bersikaplah lebih baik.” Haemi masih tetap tidak berhenti mengomelinya. Ia menggeleng-gelengkan kepala lalu mendekat ke arah Kai. Kai terdiam. Ia seperti melihat Hanna di dalam tubuh perempuan itu. Suara di pikirannya menyuruhnya untuk menuruti perkataan perempuan itu.

 

“Tapi kau tidak apa-apa kan?” Haemi bertanya khawatir. “Bibirmu berdarah.” Ia memegang wajah Kai, dengan hati-hati. Sentuhan tangan perempuan itu terasa seperti listrik bertegangan rendah, membuyarkan semua lamunan Kai. Ia membelalakkan mata kaget lalu menepis tangan Haemi dari wajahnya.

 

“Apa-apaan kau?” Ia berseru kaget. Haemi terkejut mendengar seruan Kai. Ia melepaskan sentuhannya dan memundurkan tubuhnya menjauh sedikit.

 

Ah mianhae.. aku tidak bermaksud untuk..”

 

Sebelum Haemi menyelesaikan kalimatnya, Kai sudah bangkit dan mendorong bahu Haemi dengan kasar dari hadapannya, lalu pergi meninggalkannya sendiri. Ia malas berurusan dengan segala hal yang berhubungan dengan Hanna.

 

Haemi termenung di tempatnya berdiri. Masih merasa sedikit heran.

 

Matanya tak lepas memandang laki-laki yang berjalan menjauh darinya itu.

 

Aku sudah menolongnya, tetapi mengapa balasannya seperti itu? Haemi menggerutu kesal.

 

Dia memang aneh.

 

 

 

To be continued.

 

a/n:

 

read my another stories, you should give it a try! 😉

 

HEIR & HEIRESS [completed]

 

https://exofanfiction.wordpress.com/2013/09/07/heir-heiress-chapter-1/

 

100 PAPER CRANES [completed]

 

https://exofanfiction.wordpress.com/2013/12/27/100-paper-cranes/

 

 

 

visit wordpress:

 

http://www.beautywolfff.wordpress.com

 

there are new story for HEIR&HEIRESS if you craving for more! and other exo ff(s) too!

 

kamsahamnida<3<3

 

 

 

mind to leave a comment? 😉

 

 

 

7 pemikiran pada “Silhouette – Crooked

  1. Wihhhh sumfehh keren tenan rekk!! Ditunggu chapter selanjutnya ya thor!! Makin penasaran! Muga” kai sama haemi saling punya rasa.. wkwkwk^^

  2. duh aku gk liat kalo ini tu chapter 3nya -.-” jadi aku harus baca dari chapter 1 kalo mau bner2 nyambung sama jalan ceritanya…
    Dilanjut ya thor ^^ keren.. Ngebayangin kai jadi bartender

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s