Be My Shine ( Kris Story : Show Yourself Or Be Alone )

Be My Shine (Kris’ Story: Show Yourself or Be Alone)

 gvj.bmp-1

Title                       : Be My Shine

Sub – Title           : Kris’ Story: Show Yourself or Be Alone

Author                  : AlifyaA (@Alifya_Kuchiki)

Main Cast            :

  • Wu Yi Fan as Kris
  • You as Jung Hye In
  • Zhang Yi Xing as Lay

Genre                   : Romance & Friendship

Rating                   : G

Type                      : Oneshot

 

The main reason of loneliness is..

When you’re too afraid to show yourself

 

***

Annyeong, Chingudeul! Karena ada yang minta untuk dibuatkan Be My Shine versi Kris, jadi Author buatkan. Terimakasih untuk komen dan dukungan kalian selama ini, juga mohon maaf jika masih ada kesalahan dalam segi bahasa maupun penulisan. Dan maaf sekali karena lamaaaa banget ngirim Be My Shine lainnya karena lagi sibuk ngubek – ngubek comberan dan minjem singlet tante nge-blank banget. Untuk mengetahui kisah Lay, disarankan untuk membaca Be My Shine versi Lay terlebih dahulu.

Ini Daftar Versi – Versi Be My Shine Lain yang Sudah Dipublish:

  • Be My Shine ( D.O.’s Story: Someone In the Train )
  • Be My Shine ( Lay’s Story: When the Light was Disappear )
  • Be My Shine ( BaekHyun’s Story: Pervert, Naughty, & Talkative ) (Nt: Versi BaekHyun, admin eonni publish dengan judul ‘Be My Shine’ saja.)
  • Be My Shine ( Suho’s Story: The Unlucky Guardian )
  • Be My Shine ( Sehun’s Story: Noona, Jebal! )
  • Be My Shine ( Luhan’s Story: Cold Winter With the Warm Heart )
  • Be My Shine ( ChanYeol’s Story: Poor You! )
  • Be My Shine ( XiuMin’s Story: Who Is the Girl? Who Is the Boy? )

Don’t Forget To RCL ^^

***

 

[ Author / AA’s POV ]

Seorang yeoja berdiri di depan sebuah kelas yang telah menghentikan aktivitas belajarnya dengan pandangan terpaku. Terdengar suara kecil gemerutukan giginya yang muncul akibat getaran pada tubuhnya yang enggan untuk berhenti. Yang bisa dia lakukan hanya mengepalkan kedua tangannya yang sudah dipenuhi oleh peluh. Ia terus menatap ke arah kelas itu. Matanya mulai berkaca – kaca dan ia terus mencoba menghilangkan kegugupannya dengan menggigiti bibir bawahnya.

“Kenapa mereka sangat kasar?” ucapnya dalam hati saat melihat sekumpulan namja yang sedang bergumul dan melukai diri mereka sendiri.

“Otteoke? Aku harus mengambil buku catatanku yang tertinggal. Kenapa mereka belum pulang?”

Matanya tidak mau terlepas dari dua namja yang saling memukul dan teman – temannya yang menyoraki mereka sambil tertawa seakan hal itu adalah hal yang lucu untuk dipertontonkan.

Tiba – tiba ada seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang. Ia pun terkesiap dan dengan refleks berbalik. Ia melihat seorang namja yang tingginya sekitar 20cm di atasnya. Sosoknya sangat mengintimidasi, ia pun merasa takut dan langsung mengarahkan pandangannya ke lantai.

“Hye In – ssi, ada yang bisa ku bantu?” tanya namja itu.

Yeoja yang dipanggil Hye In itu masih bergetar dan enggan merespon. Beberapa detik kemudian, dengan perlahan ia memperpanjang jarak di antara mereka dan mulai mengangkat kepala dengan ragu.

“Nu..guu..seyo?” namja itu hanya bisa tersenyum manis mendengar pertanyaan lugunya. Dengan senyuman itu, seketika setengah dari rasa takutnya seakan meluap ke udara.

“Wu Yi Fan, teman – teman memanggilku Kris. Aku satu fakultas denganmu, kita juga sering berada di kelas yang sama. Sepertinya kau tidak mengenalku.. hahahaha.. maldo andwe. Bahkan dengan aku yang sering duduk di sebelahmu?” ucapnya dan mulai tertawa. Tanpa disadari, yeoja itu mengangkat sedikit bibirnya.

“Oh, apa yang kau lakukan di sini? Sudah lebih dari dua jam kelas terakhir berakhir.”

“Aku.. meninggalkan buku catatanku,” jawabnya dengan volume suara yang benar – benar rendah, namun masih dapat ditangkap oleh pendengaran Kris.

“Lalu kenapa kau tidak masuk?” tanyanya untuk kesekian kali, sedangkan Hye In hanya bisa menundukkan kepalanya kembali. Kris merasa heran dengan perilakunya dan ia mulai mengalihkan pandangannya ke kelas.

“Aah.. arraseo. Aku akan mengambilkan bukumu. Mejamu tadi di sudut paling belakang itu kan?” tanpa mendengar jawabannya, Kris langsung masuk ke kelas yang dipenuhi dengan namja urakan itu. Dan tak lama, sosok Kris pun kembali muncul dari pintu.

“Igeo,” ucapnya sambil menyodorkan sebuah buku bersampul gambar bunga sakura.

“Ka.. kamsa..hamnida.”

“Hahahaha.. kenapa kau enggan begitu? Aku kan chingu-mu. Na kalke,” ucap Kris sambil mengacak rambut Hye In yang sedang menunduk dengan lembut dan berlalu pergi.

                “Chingu?”

 

***

 

[ Kris’ POV ]

Aku melihat Hye In terduduk sendirian di salah satu meja yang berada di sudut terjauh dari keramaian kafetaria. Aku pun menghampirinya yang sedang menikmati makan siang sambil mengambil nampanku dan duduk di kursi kosong tepat di hadapannya.

“Annyeong!” sapaku.

“A-annyeong,” balasnya lalu tertunduk kembali.

“Ah, mwoya? Kenama reaction-mu seperti itu? Apa aku tidak boleh duduk di sini?” ucapku yang sedikit pura – pura beranjak.

“Aniya.. keunnyang..”

“Keunnyang?”

“Anio.” aku hanya bisa tersenyum melihat tingkahnya.

Hye In hanya meneruskan makan siangnya tanpa menghiraukanku. Sejak tadi dia hanya berusaha untuk menghindari pandangan mataku. Aku langsung beranjak dan menarik tangannya. Ia terkejut, namun tidak bisa menolak untuk mengikuti langkah kakiku. Aku terus berjalan sambil menggenggam tangan Hye In dan mengarah ke sebuah meja yang berada di tengah – tengah kafetaria. Aku langsung mendudukkan Hye In di kursi kosong di antara sekumpulan yeoja.

“Se Kyung, Ra Hee, Jin Mi, Boo Young.. ini Hye In. Bertemanlah dengan baik!” ucapku pada yeoja – yeoja itu dengan senyuman. Mereka membalas senyumanku dan mengangguk.

“Hye In-ah, tunggu dulu di sini ya. Aku akan mengambilkan makananmu,” ia hanya bisa mengangguk ragu. Aku pun pergi meninggalkan Hye In.

                “Hye In-ah, bertemanlah dengan baik!”

 

***

 

[ Hye In’s POV ]

Aku merasa terkejut ketika Kris tiba – tiba duduk di hadapanku. Saat aku menatapnya heran, ia hanya bisa menyeringai.

“Annyeong,” sapanya. Dengan ragu aku membalasnya.

Melihat reaksiku, dia langsung sedikit menggerutu dan bermaksud untuk beranjak pergi. Namun aku tahu itu hanyalah sebuah gertakan, Kris tetap di sana dan menemaniku makan siang. Aku merasa gugup dan meneruskan makan siangku tanpa menoleh ke arahnya. Tiba – tiba Kris beranjak dan menarik tanganku.

DEG

“Mwo?”

Aku hanya terus berjalan mengikutinya, tanpa lupa untuk menyembunyikan wajahku dan terus menunduk.

Kris masih tidak melepaskan tanganku. Dan hal itu berhasil membuatku semakin gugup dan tanpa ku sadari pipiku mulai memanas. Kris mendudukkanku di antara sekumpulan yeoja yang sedang menikmati makan siang mereka sambil berbincang kecil dan diselingi oleh tawa. Aku merasa iri.

Setelah itu, Kris langsung pergi untuk mengambilkan makanan kami tadi. Aku merasa khawatir dan takut ketika Kris pergi. Dengan seketika, aku kembali merasa seperti seekor kucing kecil yang berusaha untuk menyebrang di antara banyak mobil – mobil yang melaju ke arahku. Ini berbeda. Entah bagaimana aku merasa nyaman berada di sekitarnya. Aku tidak merasa asing ataupun takut terluka. Padahal sama seperti keempat yeoja di dekatku, Kris adalah orang asing.

“Annyeonghaseyo.. cheoneun Ra Hee imnida. Ini Se Kyung, Jin Mi dan Boo Young,” ucap salah satu yeoja memperkenalkan dirinya dan teman – temannya. Dengan ragu, aku mengangkat kepalaku dan melihat ke arah mereka.

“A-a-annyeong.. haseyo.” Mereka tersenyum sedikit padaku, tapi aku tahu itu bukanlah senyuman tulus.

“Neo..” yeoja yang memperkenalkan diri sebagai Ra Hee itu menunjukku. “Kau bukan yeojachingu Kris kan?”

“N-ne.”

“Mm, kureom. Kris tidak mungkin berpacaran dengan yeoja kaku sepertimu,” ia menyuapkan sedekit salad ke mulutnya, lalu menatapku dengan tatapan mengintimidasi.

“Arraseo, karena kau sudah mengertiii.. jangan terlalu bersikap seakan kau dekat dengannya atau ‘benar – benar’ dekat dengannya. Arraseo?” aku hanya mengangguk. Tanganku mulai kembali bergetar dan otomatis aku menyembunyikan wajahku kembali.

                “Kris, eodiya? Kenapa kau begitu lama?”

“Kau mendengarku tidak sih?!” Tiba – tiba ada yang menepuk pundakku, sedangkan Ra Hee langsung berhenti mencoba membentakku. Aku pun menoleh dan melihat Kris dengan senyuman di wajahnya.

“Oh, Kris!” ucap Ra Hee dengan riang dan nada suara yang benar – benar berbeda, dia terdengar manja. Kris tidak meresponnya dan hanya menoleh ke arahku.

“Mian, aku sedikit lama. Aku mengambil beberapa makanan lain untukmu,” ia langsung duduk di sebelahku dan meletakkan nampan yang penuh dengan makanan. Kris membuka bungkus roti coklat, lalu menyodorkannya padaku.

“Igeo.. makan yang banyak,” ucapnya manis. Aku pun langsung mengambilnya dan menyuapkannya ke mulutku. Saat pandangan mataku tidak sengaja menangkap Ra Hee, ia terlihat benar – benar tidak senang. Yang bisa ku lakukan hanya menunduk, terus menunduk untuk menghindarinya.

Dengan tiba – tiba Kris menyentuh daguku dan mengangkatnya.

“Jangan terus menutupi wajahmu! Nanti orang – orang tidak bisa melihat wajah manismu dan hanya melihatmu seperti hantu dalam film dengan rambut seperti itu.”

                DEG “Manis?”

                “Oh ya, tadi apa saja yang kalian bicarakan?”

                “Biasa. Fashion, ice cream dan namja populer,” jawab Se Kyung berbohong.

“Namja populer? Berarti aku.”

Mereka pun tertawa, tanpa seorangpun menyadiri kegugupanku dan tanganku yang terus bergetar. Atau mungkin tidak semuanya. Kris menyadarinya. Ia langsung menggenggam tanganku yang bergetar di bawah meja. Aku menoleh ke arahnya dan bisa ku lihat Kris hanya tersenyum getir dan menatapku dengan mata yang dipenuhi oleh kekhawatiran. Kris terus mengeratkan genggamannya. Dia mengerti. Bibirnya mengucapkan “Mianhae” tanpa mengeluarkan suara. Setelah mereka berhenti tertawa, Kris pun beralasan dan membawaku pergi.

 

***

 

[ Kris’ POV ]

“Annyeong,” sapaku pada Hye In setelah duduk di kursi sebelahnya. Ia tidak menjawabku dan hanya mengangguk kecil.

“Haaahh.. bukankah pagi ini sangat cerah?” dia tidak menjawab.

“Kenapa kau selalu duduk di sudut ruangan seperti ini?” dia tetap terdiam.

“Weo?”

“Itu..” akhirnya dia mulai bersuara, tapi ku lihat tangannya mulai bergetar lagi. Dia dengan cepat mengepalkan kedua tangannya.

“Kau tidak perlu menjawab jika itu memberatkanmu.” Aku tersenyum ke arahnya, lalu kembali memfokuskan mataku ke arah buku di atas meja.

“Kris,” panggil seseorang. Aku mendongak untuk melihat orang itu.

“Besok ulang tahunku. Aku berharap kau datang. Pestanya di rumahku pukul 7.”

“Kure,” jawabku singkat dengan ramah.

“Oh, Hye In-ssi?” panggil Min Jung mengarahkan pandangannya ke sebelahku.

“Kau juga boleh datang,” ucapnya dengan senyuman. Wajah Hye In sedikit ragu, namun aku tahu di sudut hatinya dia merasa senang.

“Jin-jinjjayo?”

“Kureom! Semua anak fakultas sastra diterima di rumahku. Jangan lupa, pukul 7 dan pakai baju yang cantik! Annyeong Kris.. annyeong Hye In!” ucapnya riang dan berlalu pergi.

“Kau akan datang?”

“Aku.. aku tidak yakin,” jawabnya dan lagi – lagi menundukkan kepala.

Hye In.. yeoja ini. Aku tidak bisa mengerti dirinya. Kenapa dia selalu menutup diri untuk orang lain, selalu bergetar dan menyembunyikan wajahnya saat seseorang berusaha berbicara dengannya.

“Hye In-ah,” panggilku, ia menoleh.

“Kajja, ikut denganku.” Aku menarik tangannya pergi.

Aku membawa Hye In ke sebuah butik . Sejak tadi yang ku lakukan hanya mondar – mandir memilihkan gaun untuknya, tapi yang dia lakukan hanya duduk terdiam tanpa mengatakan sepatah katapun.

“Hye In, mana yang kau suka?” tanyaku sambil menunjukkan dua buah gaun cantik berwarna biru dan ungu.

“Keduanya.. cantik,” jawabnya pelan.

Aku merasa sedikit jengkel dan menariknya agar bangun. Aku menimpan kedua tanganku di pundaknya.

“Aku sudah lelah memilihkan gaun untukmu. Bagaimana kalau kau saja yang memilih?”

“Tidak perlu.. Kris-ssi. Aku.. tidak akan datang.”

“Ne?”

Ia pun langsung menepis tanganku yang ada di pundaknya dan berlari ke luar, aku langsung mengejarnya dan menarik tangannya.

“Wae gurae?”

Dia tidak menjawabku dan tetap menyembunyikan wajahnya. Tangannya bergetar dengan sangat hebat, aku pun menyadarinya dan langsung melepaskan tanganku padanya.

“Apakah aku membuatmu takut?” tanyaku lembut.

“Mianhae.. seharusnya aku tidak lancang menarik tanganmu dan membawamu kemana saja aku suka,” lanjutku lagi, Hye In masih belum bergeming.

“Aku.. aku takut..” jawabnya masih tertunduk, namun ada sedikit suara isakan. Ia menangis.

“Aku takut terlihat.”

 

***

 

Aku membawanya ke sebuah taman dan duduk di salah satu kursi. Sejak tadi Hye In masih tidak mau mengatakan sepatah katapun. Dan hal ini berhasil membuatku merasa khawatir.

“Aku..” tiba – tiba dia bersuara.

“Aku benar – benar takut. Aku adalah orang yang bodoh. Aku juga tidak bisa melihat kenyataan. Saat aku menemui orang – orang, mempercayai mereka, mencintai mereka, aku tidak pernah mengetahui kenyataan bahwa perasaan itu hanya dimiliki oleh diriku sendiri. Orang – orang berkata kau tidak boleh bersikap pemilih terhadap teman, tetapi tidak ada yang pernah mengatakan orang itu juga harus memilihmu. Kau tidak memilih, tetapi dipilih. Dan saat kau tidak terpilih, mereka akan tetap bersikap baik padamu atau memilih bersikap jahat. Saat orang bersikap jahat, ia akan mencacimu, menghujatmu ataupun menatapmu dengan pandangan jijik. Tetapi orang yang memilih untuk bersikap baik walaupun tidak memilihmu dan tidak menganggapmu sebagai teman adalah yang terburuk. Mereka selalu bersikap manis, namun di belakang punggungmu mereka membencimu, mencibir dan mengatakan hal – hal yang kejam,” tuturnya dengan air mata.

“Tapi akan banyak juga yang memilihmu jika kau berusaha,” ucapku.

“Memang. tetapi jika mereka memilihmu, bukan berarti tidak ada sebuah alasan. mereka menginginkan sesuatu, semakin lama akan terus menuntut, menuntut lebih, bertanya ‘Apakah kau berpikir aku adalah temanmu?’ atau ‘Aku temanmu, kan!’ dan hal – hal lain seperti itu. Bagaimana pun aku berusaha, aku tidak bisa memiliki banyak teman. Jadi aku memutuskan lebih baik terabaikan.” mendengar perkataannya membuatku sangat marah, aku beranjak bangun dari dudukku dan menatapnya dengan pandangan kekecewaan.

“Aku tidak percaya.. aku tidak percaya telah mendekatimu dan ingin menjadikanmu teman karena aku melihat kau selalu sendirian. Aku tidak percaya kau memiliki pemikiran yang begitu sempit.” tanpa disadari, mataku mulai berkaca – kaca.

“Kau.. kau tidak perlu memiliki banyak teman. Kau tidak perlu memiliki seratus orang teman. Kau hanya perlu memiliki satu orang teman yang seratus kali lebih berharga.”

Entah mengapa aku merasa begitu terluka, dan air mata itu pun akhirnya jatuh.

“Aku memilihmu.. dan itu tergantung terhadapmu apakah aku seratus kali lebih berharga atau tidak,” lanjutku dan pergi meninggalkannya.

                “Kris, ada apa dengan dirimu?”

***

[ Hye In’s POV ]

Sejak kemarin aku merasa gusar, sampai – sampai sulit untuk tidur. Aku tidak tahu mengapa begitu menyakitkan mendengar semua perkataan yang keluar dari mulut Kris kemarin. Selain itu, aku juga merasakan perasaan menyesal.

                “Hye In – ah, dia hanya orang asing bagimu.”

Seperti biasa, aku melangkah ke kursi yang berada di sudut kelas. Di atas meja aku menemukan sebuah kotak dengan selembar kertas di atasnya. Aku pun mengambil kertas itu dan membacanya.

Hye In – ah,Ini aku, Kris. Aku meminta dongsaeng-ku menuliskan surat ini untuk mu, karena tulisanku bisa melukai matamu hehe. Mianhae karena aku begitu emosional kemarin, hingga aku mengatakan hal – hal yang menyakitkan kepadamu. Aku tahu, aku hanyalah orang asing, aku sudah terlalu lancang. Mianhae karena mendorongmu terlalu keras.

Hari ini adalah hari ulang tahun Min Jung. Walaupun kalian tidak terlalu mengenal, dia berharap kau datang. Min Jung berbohong saat mengatakan semua orang diterima di rumahnya. Dia ingin menjadi temanmu, jadi aku berharap kau mau membuka diri.

Dan ini gaun yang aku pilihkan untukmu. Mianhae kalau tidak seperti yang kau harapkan. Aku tidak terlalu mengenalmu. Aku tidak tahu apa warna favoritmu atau gaya apa yang kau sukai.

Sekali lagi, Mianhae Hye In – ah.

 

Tanpa ku sadari mataku mulai mengeluarkan air mata dan membasahi surat Kris. Dengan tangan bergetar aku membuka kotak cantik berwarna biru itu. Saat aku membukanya, aku bisa melihat sebuah gaun indah berwarna pastel lembut.

“Gaunnya cantik.. gomawo.”

 

***

 

[ AA’s POV ]

Hye In menatap gerbang besar di hadapannya dengan gusar. Ia ragu untuk masuk atau tidak. Kakinya mulai merasa sakit karena high heels yang ia kenakan. Ia terus meremas bagian rok gaun pendeknya. Dengan tiba – tiba, seseorang menepuk pundaknya.

                “Kris..”

                Yeoja itu pun menoleh dan mendapati Kris tersenyum menatapnya.

“Apa yang dilakukan yeoja manis di depan gerbang sambil terlihat kebingungan? Kajja.” Kris pun menarik tangan Hye In lembut dan membawanya masuk.

Saat di dalam, Hye In terpaku sejenak. Bukan karena rumahnya yang begitu megah, bukan juga karena perabotan indahnya ataupun matras lembut di bawah kakinya. Tetapi sekumpulan orang yang jumlahnya sungguh berhasil membuatnya merasa ingin berbalik dan pergi.

Saat ia mencoba untuk berbalik, Kris langsung mencegahnya dengan menaruh kedua tangannya di pundak Hye In. Lalu Kris meletakkan dagu namja itu di kepalanya. Hal itu berhasil membuat jantung Hye In serasa ingin meloncat keluar dari tempatnya. Hye In merasa benar – benar gugup.

“Kau lihat di sana?” ucapnya lembut. “ Kau akan memilih mereka dan tidak ada alasan pula bagi mereka untuk menolak gadis manis sepertimu.” Lalu Kris merapihkan rambut Hye In dan mendekatkan bibirnya ke belakang telinga yeoja itu.

DEG

“Aku tidak bisa selalu berada di dekatmu, jadi bertemanlah! Maka kau tidak akan sendirian.”

Kris melihat ke arah depan dan menemukan sosok Min Jung yang mencoba melambaikan tangan kea rah mereka.

“Kalian datang? Hye In.. Kris.. kemari!” panggil Min Jung dengan riang dari kejauhan.

“Dan dialah teman pertamamu.” Kris pun sedikit menjauhkan diri dari Hye In dan mendorong punggung Hye In dengan lembut. Hye In pun berjalan maju dengan yakin. Sedangkan Kris di belakangnya hanya bisa tersenyum menatap punggung yang semakin lama semakin menjauh.

“Hye In – ah, dapatkanlah teman yang seratus kali lebih berharga. Karena bagiku, kau bukan orang asing. Karena bagiku, kau bukan seratus kali lebih berharga dari teman – temanku. Kau seratus kali lebih berharga dari diriku sendiri. Aku hanya takut.. aku takut kau akan sendirian.”

 

***

 

[ Kris’ POV ]

Bisa ku lihat Hye In yang berada sekitar empat meter dariku. Ia tertawa lepas bersama Min Jung dan beberapa yeoja lain. Ini pertama kali aku melihatnya seperti itu. Ia tidak berusaha untuk menyembunyikan wajahnya dan hanya tersenyum, sambil tak henti – hentinya berbicara. Dia terlihat lebih cantik saat seperti itu.

Aku pun menoleh ke arah lain dan dari kejauhan aku melihat sesosok teman yang sudah lama tidak ku temui. Dia adalah namja terlembut yang aku kenal. Dia sedikit pendiam, namun dia adalah orang yang sangat perhatian dan memiliki banyak kasih sayang di hatinya. Dia akan berusaha tetap tersenyum dan selalu menjaga sikapnya agar tidak melukai perasaan orang lain, walaupun di saat ia terluka.

“Lay, yeogi!” panggilku. Ia pun menoleh dan menghampiriku. Saat jarak kami sudah dekat, dia langsung memelukku.

“Hahaha.. aku tahu kau sangat merindukanku, tapi jangan seperti ini! Kajja, aku akan mengenalkanmu pada seseorang.”

Aku menarik Lay ke arah Hye In yang sedang tertawa mrmunggungiku. Aku pun menepuknya pelan.

“Hye In – ah, kenalkan.. Lay.”

 

***

 

Sudah beberapa hari ini Hye In sudah mulai membuka diri. Selain denganku, dia juga dekat dengan Lay, Min Jung dan beberapa teman lainnya. Terutama dengan Lay, aku merasa lega karena Hye In cukup sering menghabiskan waktu dengannya, dia tidak pernah sendirian lagi sekarang. Namun aku juga merasa sedikit aneh, terkadang aku merasa tidak rela jika Hye In bersama Lay. Walaupun semua hal itu yang ku inginkan.

Aku berjalan ke arah ruang musik. Semakin dekat ke ruang musik, semakin jelas aku mendengar alunan musik yang indah. Saat aku sudah berada di depan ruang itu, aku pun membuka pintunya dan mendapati Hye In sedang bermain biola. Saat menyadari keberadaanku, dia langsung menghentikan lagunya. Dia menaruh biolanya dan menunduk lagi.

“Wae? Itu terdengar bagus,” ucapku.

“Kau tidak ingin mengikuti lomba, resital atau sebuah konser musik klasik?”

“Aku.. tidak pernah memikirkannya,” jawabnya pelan.

“Kalau begitu, ikut denganku.”

 

***

 

Aku membawa Hye In ke sebuah aula konser. Aku menariknya untuk naik ke panggung dan menatap ke arah kursi – kursi kosong di hadapan kami.

“Lihat, luar biasa bukan?”

“Mm.”

“Akan ada perlombaan biola di sini beberapa minggu lagi. Kau.. harus ikut!”

Dia langsung menoleh dengan kaget ke arahku.

“Tapi..”

“Arraseo..” aku berjalan ke arah belakangnya dan menyentuh kedua pundaknya lagi.

“Nan arra.. nanti.. kursi – kursi itu akan di penuhi dengan ratusan orang. Kau tidak perlu merasa takut, karena mereka akan bertepuk tangan untukmu. Percayalah..” Hye In berbalik, menatapku dan tersenyum cantik. Lalu ia menganggukkan kepalanya.

 

***

 

[ Hye In’s POV ]

Setiap hari aku berlatih biola dengan Kris setelah selesai kuliah di apartemennya, begitu pula dengan hari ini. Aku sedang beristirahat sebentar, sedangkan Kris sedang membuatkan minuman untukku. Aku terus tersenyum melihat punggungnya. Ne, aku menyukainya.

Aku berkeliling melihat – lihat apartemennya, lalu tiba – tiba aku melihat sebuah passport di atas sebuah meja di salah satu ruangan di apartemenya. Dan bukan hanya passport, aku juga menemukan sebuah tiket pesawat. Aku menyentuhnya dan membukanya. Penerbangan ke Kanada.

“Apa ini?”

“Apa yang kau lakukan, Hye – In?” panggil Kris yang sudah berada di belakangku.

“Apa ini?” tanyaku sambil menunjukkan tiket pesawat itu, Kris hanya bisa terdiam.

“Kau ingin pergi?” tanyaku mulai menahan air mata yang sepertnya sebentar lagi akan keluar.

“Hye In – ah.. aku..”

“KAU INGIN PERGI?!!” tanpa kendali aku mulai menangis dan berlari pergi keluar.

Saat keluar aku melihat Lay sedang berjalan ke apartemen Kris.

“Hye In,” panggil Lay saat melihatku menangis, aku hanya menghiraukannya dan terus berlari. Lay mengejarku dan menarik tanganku.

“Hye In – ah.. ada apa?” tanya Lay dengan mata kekhawatirannya yang membuatku luluh.

 

***

 

Kami terduduk di kursi taman dekat apartemen Kris. Aku terus menangis, sedangkan Lay hanya terdiam menemaniku. Semakin lama tangisku mulai memelan dan akhirnya berhenti. Lay menghapus air mata yang tersisa di pipiku dengan telapak tangannya, lalu mengusap – ngusap kepalaku lembut.

“Hye In – ah, ada apa?” tanyanya lembut.

“Kris.. dia akan pergi..” aku melihat wajah Lay yang mulai menunduk.

“Kau sudah tahu?” tanyaku skeptic.

“Mianhae.. aku tidak bisa mengatakannya padamu,” jawabnya.

“Waeyo? Kenapa kalian seperti ini? Apakah aku tidak cukup..AHHHH!!! LAY, KENAPA KAU HANYA DIAM?! KAU TAHU BAHWA AKU MENYUKAI KRIS. DAN SEKARANG APA? DIA INGIN PERGI? BAHKAN TANPA MEMBERI TAHUKU? AKAN LEBIH BAIK KALAU DIA TIDAK DATANG! AKAN LEBIH BAIK KALAU AKU TIDAK MENGENAL KALIAN, DARIPADA DITINGGALKAN!”

“Kris sakit,” ucap Lay pelan.

“Mwo?” aku berhenti berterik dan menatap Lay.

“Dia sakit.. dia sakit kanker.”

“Kanker?” aku merasa ada sebuah belati yang menusuk dadaku. Sakit.

Aku langsung berlari ke apartemen Kris, meninggalkan Lay. Aku langsung membuka pintunya yang tidak terkunci. Saat aku masuk, aku melihat Kris yang sedang terduduk di lantai. Punggungnya bergetar karena tangisnya. Aku pun menghampirinya dan memeluknya dari belakang.

“Mianhae.. aku tidak tahu.. kalau kau.. kau sakit,” ucapku dengan tangisan.

“Pergilah..” ucapnya.

“Aku tidak ingin kau melihatku seperti ini, aku tidak ingin kau melihatku yang semakin melemah.. aku tidak ingin kau berada di sampingku untuk waktu yang sesaat.. aku tidak ingin melihatmu menangis.”

“Ani. Aku tidak peduli. Aku tidak peduli itu sepuluh tahun atau hanya sepuluh menit.. biarkan aku berada di sisimu. Kajjima.. kajjimaaa Kriiss.. hiks.” Kris pun berbalik dan memelukku sangat erat.

 

***

 

[ Lay’s POV ]

Aku melihat punggungnya yang sedang berlari. Tanpa terasa, mataku mulai kabur karena cairan bening yang tertahan. Appo..

                “Ada apa denganmu, Zhang Yi Xing? Kau hanya menghalangi mereka.. Dan semirip apapun tingkah dan senyum Hye In dengannya, Hye In bukan dia, Hye In bukan Ha Na.”

FLASHBACK

“Kris, sebenarnya apa yang sedang kau lakukan?” tanyaku.

“Apa maksudmu?”

“Hye In.. kau menyukainya kan? Hanya dengan melihat wajahmu saja, aku tahu. Lalu apa yang kau lakukan sekarang? Kau ingin menjadi matchmaker kami?” tanyaku tak habis pikir.

“Lay.. aku tidak ingin dia sendirian,” jawabnya pelan.

“Ada kau di sini, dia tidak akan sendirian.”

“Aku tidak akan bisa berada lama.”

“Apa maksudmu?”

Sejak tadi Kris hanya mengalihkan pandangannya padaku, tapi sekarang dia langsung menoleh. Dia menatapku dengan pandangan kegetiran.

“Ada apa?” tanyaku lembut sambil menghampirinya dan duduk di sebelahnya.

“Aku sakit.”

DEG

“Aku sakit kanker lambung.”

“Oh God, kenapa kau tidak pernah mengatakannya? Seberapa buruk?”

“Mani.. mani appo,” ucapnya mulai menangis. Aku hanya bisa terdiam menatapnya.

“Lay, apa yang kau rasakan saat Ha Na meninggal?”

“…”

“Appo.. nan arrayo. Itu sebabnya aku tidak ingin Hye In juga merasakannya.. paling tidak dia tidak merasakannya saat dia sendirian.”

“Kenapa harus aku?” tanyaku dengan suara yang bergetar.

“Karena tidak ada yang pernah merasakan sakit seperti itu selain kau. Dan karena kau memiliki banyak cinta dan kasih sayang yang bisa kau berikan. Aku mempercayaimu, Lay.”

Aku langsung memeluk tubuh Kris yang menangis hebat. Dan tanpa ku sadari, aku pun ikut menangis bersamanya.

“Aku akan melakukannya.. aku akan menjaganya.. hiks.. aku tidak akan membuatnya sendirian, dan aku akan memastikan bahwa dia tahu seberapa besar dia dicintai di sisa hidupnya.. hiks.”

“Gomawo,” Kris pun membalas pelukanku. Dan yang kita lakukan sepanjang hari itu adalah melakukan semua hal yang belum dan ingin kita lakukan bersama. Sebagai teman. Sebagai saudara.

 

***

 

[ Hye In’s POV ]

Inilah harinya, lomba biola pertamaku. Aku membuka sedikit tirai panggung untuk melihat penonton yang datang. Banyak sekali. Aku mulai merasa gugup, tanganmu basah, dan tubuhku mulai bergetar. Tiba – tiba ada yang menepuk punggungku.

                “Kris..”

                Ani, bukan Kris. “Kau sudah siap?” tanya Lay.

“Aku merasa gugup.

Tiba – tiba Lay mengambil tanganku dan mengelap peluh yang ada di telapak tangan dengan sapu tangannya. Lalu dia menggenggam dan meremas tanganku lembut.

“Hye In – ah, lihat aku! Kau pasti bisa. Mereka akan mendengarkan sebuah melodi yang indah. Mereka akan tersenyum, bahkan menangis untukmu. Dan Kris.. dia tidak bisa datang.”

“Wae? Kenapa dia tidak datang?”

“Dia ada urusan. Aku akan merekammu dan mengirimkan videonya ke Kris. Walaupun Kris tidak ada, Kris berharap kau akan melakukan yang terbaik. Jangan bermain untuknya atau untukku atau untuk siapapun yang menontonmu, tapi bermainlah untuk dirimu sendiri. Dan jangan merasa sendirian, aku akan duduk di sana melihatmu. Arraseo?” ucap Lay mencoba untuk terlihat riang. Walaupun terlihat dipaksakan, tapi aku masih bisa melihat senyuman tulusnya.

“Ne, arraseo!” jawabku dengan semangat.

“Ne.. Hwaiting!”

“Hwaiting!”

Giliranku pun tiba, aku naik ke panggung dengan penuh keyakinan walaupun jantungku masih terus berdetak dengan keras. Aku melihat ke bangku penonton, aku bisa melihat Lay. Dia mengepalkan tangannya dan terus menyemangatiku. Aku pun hanya bisa tersenyum melihatnya.

Aku pun mulai menutup mataku dan memainkan biolaku. Aku terus memainkannya. Hening. Yang terdengar hanya alunan melodi dari biolaku. Dan saat aku selesai dan membuka mataku, aku melihat semua orang berdiri dan bertepuk tangan untukku. Aku menangis karena bahagia, dan saat aku melihat kembali ke arah Lay. Dia hanya tersenyum dan membentuk bibirnya berkata ‘kau lihat kan?’. Ne, aku melihatnya.

Aku menunggu keputusan dari dewan juri dengan jantung yang terus berdetak keras. Namun selain rasa gugup, aku juga merasakan perasaan lain. Tiba – tiba perasaanku tidak enak. Aku pun berusaha mengabaikannya dan berusaha menyibukkan diri.

Saat pemenangnya di umumkan, aku merasa perasaanku membuncah. Aku berhasil mendapatkan tepat pertama. Aku pun langsung naik ke atas panggung dan menerima tropiku. Saat aku menoleh ke bangku Lay, bangku itu sudah kosong. Kemana dia?

Setelah turun dari panggung, aku langsung mengeluarkan ponselku untuk memberi tahu Kris mengenai kabar bahagia ini. Tapi setelah empat kali mencoba, dia tetap tidak mengangkatnya. Aku mulai putus asa, aku pun berusaha untuk menghubunginnya lagi. Dan kali ini tersambung dan diangkat.

“Kris, aku menang. Aku mendapatkan posisi pertama,” ucapku riang begitu ponselnya diangkat.

“…”

“Kris?”

“Ini aku.”

“Lay?.. Lay? Lay, Apa yang kau lakukan dengan ponsel Kris? Dan kenapa kau tiba – tiba menghilang? Juga suaramu.. kenapa begitu serak?”

“Dia pergi..”

“Ne?”

“Kris pergi.” Jleb! Mataku mulai berkaca.

“Dia jadi ke Kanada?” tanyaku mulai menahan tangis.

“Ani.. dia pergi.. hiks.. Hye In – ah.. Kris.. dia..” aku pun hanya membeku dan menjatuhkan tropiku hingga pecah dan hancur.

 

***

 

Sejauh mataku memandang yang bisa ku lihat hanyalah pakaian – pakaian dan payung – payung hitam yang terus berlalu lalang di hadapan mataku. Aku membeku, bibirku, tubuhku, hatiku, semuanya membeku. Seseorang meletakkan kedua tangannya di pundakku dari belakang. Kris.. ani, dia bukan Kris.

“Hye In – ah, ayo kita pulang. Pemakamannya sudah selesai,” ucap Lay lembut di belakangku. Aku tidak mendengarkannya dan hanya menangis.

Rasanya begitu menyakitkan. Kenapa? Kenapa kau harus datang padaku saat kau tahu kau akan segera pergi. Kenapa kau membuatku mencintaimu. Kenapa kau melakukan semuanya?

“Karena dia tidak ingin kau sendirian,” ucap Lay seakan dia bisa membaca pikiranku. Aku pun menoleh ke arahnya terkejut. Saat aku menoleh, aku melihat matanya yang sudah berkaca – kaca.

“Dia tidak ingin melihatmu terus berdiam diri sendirian sambil terus menyembunyikan wajahmu. Dia tidak ingin kau sendirian bahkan setelah dia pergi.”

Lay mendekat ke arahku dan langsung mendekapku. Hangat.

“Gwaenchana.. kau tidak akan sendirian,” ucap Lay di belakang telingaku. Tubuhnya bergetar, tetapi dia terus mencoba mengeratkan pelukannya. Bukan hanya aku yang merasa kehilangan. Lay.. dia juga. Aku membalas pelukannya dan tiba – tiba mataku terbuka lebar.

Kalau Kris tidak datang, aku akan sendiri. Walaupun ini begitu menyakitkan, tapi inilah hidup. Aku harus melepaskan sesuatu untuk mendapatkan yang lainnya. Sendirian, tanpa mengenal Kris dan baik – baik saja saat dia pergi atau dikelilingi orang yang peduli denganmu, dengan mengenal Kris dan terluka saat dia pergi. Aku mengerti sekarang. Gomawo.. Kris.”

 

Aku masih bisa merasakan rasa sakitnya. Rasa sakit seakan sesuatu menggorogoti hatimu. Meski begitu aku tetap harus melepasmu untuk pergi ke suatu tempat yang lebih indah. Terimakasih karena telah memberikan banyak hal untukku. Terimakasih karena membuatku tidak merasa sendirian. Terimakasih karena telah memberikan cintamu di sisa hidupmu. Aku akan sulit untuk berlari ke depan, namun aku tidak akan pernah berhenti untuk mencobanya. Jika aku berhenti, aku hanya akan menyia – nyiakan apa yang kau berikan selama ini, aku hanya akan membuat dirimu sedih, orang – orang di sekitarku khawatir dan aku hanya akan semakin melukai hatiku. Meski aku berusaha untuk melupakanmu, namun selamanya kau akan menjadi cahaya kecil yang terus bersinar di dalam hatiku.

“Gomawo, Kris. Gomawo karena meninggalkanku dengan seorang malaikat indah di sisiku.”

 

THE END

 

 

29 pemikiran pada “Be My Shine ( Kris Story : Show Yourself Or Be Alone )

  1. penasaran bgt sm alasan kris yg tb2 ngedektin hye in, ini tuh agak mengganjal gitu, feel ny dpt, tp yg bkn krg ya itu alasan kris buat hye in g sndrian, hmmmm kalo du dunia nyata boro2 ad cowo ganteng ky gitu ngedeketin cewe cupu macem hye in, -_-

    • Mmm.. Apa ya?
      Sometimes we don’t need any reason about anything, even if sometimes it’s make no sense.
      Mungkin saya hanya mencari alasan, kalau begitu..
      Just say, it’s really short story so I can’t tell all of them clearly.
      The mistake is mine, sorry..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s