Thriller Love (Chapter 4)

Cover FFits

 Title: Thriller Love

 Main Cast:

  • Choi Min Young
  • Byun Baek Hyun
  • Oh Se Hun
  • Zhang Yi Xing

Other Cast:

  • Natasya Im
  • Jung Se Ra
  • EXO Member
  • and others

Genre: Family, Sad, Friendship, and Thriller

Length: Chapter

Summary:

    FF ini berceritakan tentang cerita sebuah keluarga yang terpisah akibat salah paham dan cerita cinta yang kompleks. Ditambah lagi dengan sedikit bagian Thriller alias pembunuhan. Yang jelas ini kubuat sedemikian susah dimengerti supaya ceritanya agak panjang.

*Seoul Art and Music Highschool* 10.15 AM KST

“Tasya-ssi!” Seru seorang laki laki meneriakkan nama Ji Yeon ketika ia sedang berjalan menuju kantin.

“Ne, Wae?”  Ujar Tasya  setelah ia membalikkan badan kearah suara yang memanggilnya.

“Tadi kau menjatuhkan sesuatu ketika sedang meletakkan buku diloker.” Ujar laki laki tersebut sambil memberikan sebuah amplop kepada Tasya. 

“Ah, jeongmalyo? Gomawoyo, Ja Eul-ssi.” Tasya  pun menerima amplop tadi dengan herannya. Karena dia sama sekali tidak penah meletakkan amplop seperti ini diloker. Karena sedang tidak mood membaca, ia pu menyimpan surat tersebut disaku roknya. Dan setelah itu dia kembali berjalan menuju kantin.

“Syassi-a!” Panggil sseorang dari belakangnya seraya memegang bahu Tasya. Tasya pun kembali menoleh kebelakang.

“Ah, Se Hun! Waeyo?” Tasya pun agak sedikit awkward ketika idola nya sendiri memanggil namanya.

“Nanti sepulang sekolah aku mau menjenguk Min Young. Kau ikut dengan ku?”  Tanya Se Hun.

“Apa itu tidak akan menjadi masalah?” Tanya Tasya.

“Kurasa tidak, yang pergi Baek Hyun hyung, aku, dan Manager hyung. Jika kau ikut nanti ada van yang akan parkir disebelah mobilmu. Jadi orang tidak akan curiga jika kau agak sedikit bersembunyi.”

“Apa kau bisa menjaminnya, Jika ini tidak akan menimbulkan masalah. Aku ingin hidup tenang tanpa gangguan fans kalian, Se Hun-ssi.” Ujar Tasya.

“Aku yang menjaminnya. Eotte? Kau jadi ikutkan?” Seketika wajah Tasya langsung memerah ketika Se Hun melingkarkan tangan dibahu Tasya.

“Eh.. S.. Sebaiknya kau perbaiki Po..sisimu, Se Hun-ssi. Ini akan menimbulkan S..kandal nantinya.” Ujar Tasya sembari menunduk.

“Ah, ne. Bagaimana kau ikut kan?” Ujar Se Hun setelah melepaskan tangannya dari bahu Tasya.

“Baiklah aku akan ikut.” Tasya, yang masih dengan ke-awkward-annya menjawab pertanyaan Se Hun.

“Oke. Ah, Chamkamman. Mobilmu yang bewarna merah itu kan? Seingat aku siswa yang membawa mobil warna merah hanya anda Tasya-a.” Ujar Se Hun.

“Bagaimana kau tahu?” Tanya Ji Yeon bingung.

“Pagi tadi aku melihatmu keluar dari mobil bewarna merah. Dan diatas lahan parkir tadi, aku tidak menemukan mobil bewarna merah kecuali mobilmu.”

“Ah, baiklah. Nanti Van disamping mobilku sepulang sekolah. Ya sudah aku duluan ya!” Tasya pun segera berlari menuju kantin sebelum jantungnya meledak dihadapan Se Hun. Melihat tingkah Tasya tersebut, Se Hun hanya tersenyum lalu berbalik menuju danau belakang sekolah. Disisi lain, seseorang sedang memperhatikan mereka lalu merogoh handphone disaku almamaternya dan segera menghubungi seseorang.

“Annyeong, Mereka akan kerumah sakit? Apa aku harus mengikuti mereka?” Ujar seorang siswi dibalik sebuah tanaman sembari memperhatikan Se Hun yang terus berjalan menuju danau.

“….”

“Baiklah, Sekarang Se Hun sedang berjalan menuju danau sekolah? Apa aku harus mengikutinya?”

“…”

“Baiklah, berarti siang ini aku bebas dari pekerjaan rumit biasanya. Kau tahu aku lelah menguntit, Rannie-a.”

“….”

“Arraseo. AKu tahu aku dibayar. Tapi malam tadi aku hampir saja, berurusan dengan polisi karena rencanamu. Apa tidak bisa orang lain yang mengerjakannya?” siswi itu pun keluar dari tempat persembunyiannya dan berjalan menuju kelasnya.

“…”

“Ne, tapi kau tahu? Bagaimana pun aku lebih tua dari mu. Apa kau tidak bisa bersikap sopan pada yang lebih tua?”

“….”

“Apa kau hanya tertawa. Baiklah lain kali aku tidak akan membantumu lagi.”

“….”

“Nah begitu. Lain kali jangan kau ulang, arra? Aku harus kembali kekelas ada beberapa file OSIS yang harusaku selesaikan. Annyeong saeng.” Ujar siswi tersebut.

“…”

“Rannie-a, kau selalu membuatku repot. Sayangnya aku tidak bisa menghilang kebiasaan horor mu itu. Atau aku yang meregang nyawa.” Siswi tersebut duduk dikursinya ketika ia telah sampai dikelasnya. Tentu saja panggilan teleponnya sudah ia matikan.

“Kau sangat horor, Rannie-a. Sampai kapan kau harus seperti ini? Apa kau belum puas dengan apa yang terjadi dengan Bae Seul? Kalau seperti ini bisa bisa aku juga bernasib sama dengannya.” Setelah mengambil sebuah map, siswi itu pun segera mengambil beberapa file didalamnya dan mulai menelaah satu persatu file.

“Se Mi-a, Kau tidak kekantin?” Tanya seorang laki laki kepadanya.

“Ah, tidak. Banyak file OSIS yang harus aku teliti. Bagaimana? apa sudah kau berikan?” Tanya Se Mi (re: yeoja penguntit).

“Sudah, tapi dia tidak langsung membacanya. Dia hanya memasukkannya ke saku rok miliknya.” ujar laki laki tersebut.

“Ah begitu. Ya sudah, Gomawo buat bantuannya.” Ujar Se Mi sambil menunjukkan eyesmilenya kepada namja itu.

“Ne. Se Mi-a aku ke kantin ya. Annyeong!” Ujar laki laki tadi sembari meninggalkan kelas.

“Annyeong.” Setelah itu Se Mi pun segera menekan kedua pelipisnya dengan tangan dan menangkupkan kepalanya diatas meja. Sejenak ia memejamkan mata. Awalnya dia hanya ingin beristirahat sejenak, tapi lama kelamaan dia tertidur dan terbuai dialam mimpi buruknya.

“Bae Seul! Kau dimana?” Seru seorang yeoja dengan sepasang sepatu sekolah ditangannya. Penampilannya sangat kacau, mungkin dia sudah sangat stress akibat pekerjaannya disekolah.

“Se Mi eonnie.. Kau baru pulang?” Ujar seorang yeoja turun dari tangga.

 “Ah Ne. Rannie-a, kamu nampak dimana Seullie-a? Bukannya tadi kalian pulang berdua? Kemana adik keembarmu yang satu itu? Eomma mana?” Se Mi pun menghujani adiknya ini dengan berbagai pertanyaan.

“Kenapa? Kenapa eonnie lebih khawatir dengannya dari pada aku? Apa yang terjadi kalau dia menghilang dan meninggalkan eonnie begitu saja?” Yeoja itu  pun mulai mendekati Se Mi.

 “Maksudmu?” TanyaSe Mi heran.

“Apa yang terjadi jika itu semua terjadi? Apakah perhatian eonnie akan berpindah kepada aku?” Tanya yeoja itu dengan wajah sarkastis sambil mengambil beberapa helai rambut Se Mi.

“Rannie-a. Maksudmu apa?” Tanya Se Mi semakin hera melihat adiknya.

“Huh. Nothing, eonnie. Aku hanya bercanda. Eonnie mau minum apa? Orange Juice? Sini aku ambilkan. Eonnie duduk saja dulu disini.” Yeoja iu pun segera melangkah kedapur meninggalkan Se Mi yng masih bingung dengan sikap dongsaengnya ini.

Tepat disaat ia duduk, Telepon rumah yang terletak diruang tengah pun berbunyi. Se Mi pun segera mengambil langkah dan segera mengangkat telepon itu.

“Yeobeoseyo.” Ujar Se Mi.

“….”

“Ne. waeyo?”

“…”

“Mwo? Bae Seul meninggal? Anda jangan main main. Anda tahu dia siapakan? Anda jangan membuat berita mengada ngada seperti ini.”

“…”

“Apa? Dia mati tenggelam di sungai han? Hei anda tidak tahu anda sedaang berurusan dengan Keluarga Jung Dae Gu! Anda Jangan main main.” Seru Se Mi masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

“….” Se Mi tidak ingin mendengar apa yang dia dengar selanjutnya dia hanya menjatuhkan gagagng telepon tersebut dan jatuh terduduk.

“Jung Se Mi! Irreona.” Ujar seseorang sambil menggoyangkan badan Se Mi. Yang di bangunkan pun menggeliat pelan dan ketika ia sudah sedikit tersadar bahwa ia sedang tertidur di ruang kelas. ia pun mengangkat kepalanya.

“Eoh, Saemnim. Jeonsonghamnida, karena saya tertidur dijam pelajaran anda.” Se Mi pun memberikan gesture membungkuk kepada songsaemnim didepannya.

“Kamu tidak sakit kan?” Tanya Sonsaemnim.

“Tidak saem. Na Gwenchana.” Ujar Se Mi tersenyum kepada songsaemnim.

“Jeongmal? Tapi wajahmu sangat pucat, Se Mi-ssi. Apa anda tidak ingin ke UKS?” Tanya Songsaemnim memastikan lagi.

“Tidak usah saem. Na Gwenchana. Saya bisa melanjutkan pelajarannya.”  Ujar Se Mi sambil memasukkan beberapa file OSIS yang ada dimejanya kedalam tas. Lalu mengeluarkan buku pelajaran yang sedang dipelajari.

“Baiklah. Jika memang anda tidak mau, anda dapat melanjutkan pelajaran ini. Tapi saya mohon untuk fokus dan hargai keberadaan saya dikelas sekarang ini.” Songsaemnim tersebut meninggalkan meja Se Mi tanpa mendengarkan Se Mi yang mengiyakan perkataannya barusan.

*Seoul Art and Music Highschool* 01.45 PM KST

“Hyung parkir saja disamping mobil merah, yang ada dilapangan parkir.” Ujar Se Hun sambil menelepon seseorang.

“…”

“Ayolah hyung.”

“…”

“Gomawo hyung.” Se Hun pun memutuskan panggilan telepon dan segera berjalan menuju lapangan parkir.

“Se Hun-a!” Panggil seseorang. Se Hun pun menolehkan kepalanya  kearah suara yang memanggilnya.

“Se Hun-a!” Panggilan tersebut ternyata berasaldari Se Ra. Sekarang Se Ra sedang berlari kearahnya.

“Se Ra-ssi. Waeyo?” Se Hun pun sekarang dengan seutuhnya menghadapkan badan kearah Se Ra.

“Apa kau yakin tidak ingin siang ini saja testnya?” Tanya Se Ra.

“Jeosonghamnida. Aku ada urusan jadi bagaimana besok saja. Apa kau besok ada jadwal, Se Ra-ssi?”

“Ah itu…”

“Jika memang besok kau ada urusan. Kapan kau bisa saja. Asalkan jangan diluar waktu sekolah.” Ujar Se Hun sambil menunjukkan senyumnya kepada Se Ra. Setelah itu Se Hun segera membalikkan badan dan segera menuju lapangan parkir.

“Ais! Jeongmalyo! Aku kan hanya ingin menitip salam kepada Baek Hyun oppa. Tapi kenapa diapergi duluan?” Se Ra pun menghentakkan kakinya.

“Hei, Apa dia tidak ingat siapa aku? Kan aku kemarin yang jadi lucky fans diacara Fen Meeting mereka kan. Apalagi akuu menyebutkan nama aku saat itu, lagian aku juga senpat mengambil foto dengan mereka. Aish! Jinja kenapa dia tidak mengingat siapa aku?” Se Ra pun kembali menghentakkan kaki. Diaat dia sedangkesal kesalnya mata dia menangkap seseorang yang sedang berjalan kearah lapangan parkir. Tanpa basa basi Se Ra pun segera mengikuti langkah seseorang itu.

“Mwo sudah jam berapa sekarang? Aish! Sudah hampir jam setengah 3, aku harus ke tempat latihan sekarang juga. Bisa bisa aku kena marah oleh Bu Saem.” Se Ra pun segera berlari kearah mobilnya.

Disisi lain, Se Hun sedang menunggu Tasya yang belum kunjung datang. Padahal Su Ho hyung yang menggantikan Lay sudah heboh dari tadi didalam Van.

“Ya, Se Hun-a! Dimana yeoja temannya Min Young itu? Bukannya sekarang dia harus sudah ada disini. Apa dia sudah duluan?” Seru Su Ho.

“Ya, Su Ho hyung. Disamping van kita ini mobil dia, berarti dia belum pergi. Kau tahu dia dapat tugas piket hari ini. Wajar saja dia agak sedikit terlambat, lagian belum sampai 5 menit kalian disini.” Ujar Se Hun seraya mengeluarkan handphonenya.

“Kau akan menelponya?” Tanya Baek Hyun.

“Tidak, aku saja tidak mempunyai nomornya. Aku hanya sedang ingin update instagram.” Ujar Se Hun. Dia pun membuka galerinya dan memilih salah satu foto yang ia ambil kemarin. Dia hanya ingin membuat fansnya tertipu dengan apa yang sedang ia kerjakan. Agar nantinya di rumah sakit, tidak ada yang mencurigai mereka.

“Ya! Ya! Kenapa harus ada foto aku dengan Su Ho hyung disitu?” Tanya Baek Hyun.

“Ini seperti pengalihan perhatian hyung. Kau tahu berita kita kerumah sakit malam tadi sudah menyebar, dan aku tidak ingin ada fans yang menunggu dirumah sakit saat ini. Jadi aku akan mengatakan bahwa kita akan latihan sekarang. Eotte?” Ujar Se Hun mengemukakan idenya.

“Oke terserah kamu saja.” Ujar Su Ho yang perhatiannya langsung tertuju pada seorang gadis yang sedang berjalan kearah van mereka.

“”Se Hun-a, itu teman Min Young yang kita temui malam tadi kan?” Ujar Su Ho belum mengalihkan perhatiannya dari yeoja itu.

“Ah, Ne. Itu dia hyung.” Jawab Se Hun.

“Hyung, ada lalat masuk ke mulut hyung.” Ujar Baek Hyun sambil melihat mulut Su Ho yang cengo saat melihat kedatangan Ji Yeon. Seketika Su Ho pun mengatup mulutnya. Baek Hyun yang melihat kejadian itu pun tertawaterbahak bahak, Karena dirinya sudah berhasil mengerjai hyungnya yang satu ini. Menyadari Baek Hyun sedang mengerjainya, Su Ho pun menatap deathglare kearah Baek Hyun.

“Ya! Ya! Kau ini, Mengapa selalu aku yang kau kerjai!” Seru Su Ho.

“Hei, hyung. Apa kau tidak menyadari kalau dia terlihat seperti anggota T-Ara sunbae.” Ujar Se Hun sembari melihat  Tasya.

 “Dia mirip dengan T-Ara Ji Yeon, Se Hun-a.” Ujar Su Ho masih dengan muka kesal terhadap tingkah Baek Hyun barusan.

“Ah, Ne. Sepertinya mata Su Ho hyung memang salah. Bukan begitu, hyung?” Ujar Baek Hyun sambil mencolek bahu seseorang yang duduk dikursi kemudi.

“Manager hyung! Apa kau mendengarku?” Baek Hyun pun kembali mencolek bahu Manager mereka itu, karena tidak mendapat respon sama sekali.

“Ya, hyung. Manger kita sepertinya memang betul betul kelelahan. Lihat pose tidurnya, seperti tidur di sofa waktu itu.” Ujar Se Hu sambil memposisikan kepalanya didepan wajah manager mereka ini dan mengayunkan tangan didepan wajah manager mereka ini.

“Kapan?” Tanya Su Ho.

“Oh, yang waktu dia mabuk sepulang kita pesta sesudah konser waktu itu ya?” Ujar Baek Hyun.

“Ah, Ne. Bagaimana jika aku potret saja?” Ujar Se Hun sambil mengeluarkan unek unek dikepalanya. Sepertinya mereka sama sekali tidak memperdulikan suara yang memanggil mereka dari tadi. Sampai pada akhirnya, suara itu pun berganti dengan beberapa pukulan dijendela van mereka. Su Ho yang duduk disamping jendela van, spontan kaget dan segera membuka pintu van mereka.

“Ah, Mian sudah menunggu lama.” Ujar Baek Hyun sambil mempersilahkan Tasya, yeoja yang memukul pintu van mereka itu masuk kedalam van. Sebelumnya Baek Hyun sempat pindah pindah kekursi belakang van.

“Ah, Kamsahamnida. Baek Hyun…” Ujar Tasya ragu melanjutkan perkataannya. Dia bingung harus memakai Jondaetmal atau banmal.

“Oppa. Panggil saja aku Baek Hyun oppa.” Ujar Baek Hyun tersenyum kepada Tasya yang dilanjutkan dengan wajah absurd Su Ho dan Se Hun yang menatapnya dengan tatapan yang sulit dijelaskan.

“Ya, kenapa kalian melihat ku dengan tatapan seperti itu?” Tanya BAek Hyun menatap kedua hyung dan maknaenya itu.

“Sejak kapan kau membiarkan yeoja memanggilmua dengan sebutan oppa?” Tanya Su Ho.

“Apa? Jika aku menyuruhnya memanggil ku oppa? Apa aku salah? Aku hanya merasa aku suka dengannya.” Tanya Baek Hyun. Seketika seluruh orang di mobil ini pun melihat Baek Hyun termasuk Manager hyung yang tadinya tertidur langsung terbangun mendengar kata kata Baek Hyun barusan.

“Mwo? Kenapa ekspresi kalian seperti itu? Wajar kan bila aku menyukainya seperti dongsaeng bagiku. Kalian tahukan aku ini anak bungsu. Wajar saja bila aku memintanya memanggilku oppa.” Ujar Baek Hyun dengan wajah polosnya. Mendengar penjelasan Baek Hyun barusan Se Hun, Su Ho, dan Manager hyung langsung menghembuskan nafas yang sempat mereka tahan beberapa saat. Melihat pemandangan seperti ini Tasya hanya tersenyum.

“Tasya, kurasa kita pernah bertemu sebelumnya? Tapi dimana?” Tanya Baek Hyun.

“Eungg.. Kurasa.. yang.. waktu o..ppa.. dan Min Young bertabrakan saat Fan meeting beberapa hari yang lalu.” Ujar Tasya agak sedikit gugup berada didalam mobil yang sama dengan para idol.

“Ya! Kenapa raut wajahmu mendadak berubbah? Bukannya tadi kau tersenyum melihat kami, kenapa sekarang kau menjadi canggung seperti ini?” Ujar Su Ho yang menyadari perubahan sikap Tasya.

“Ah..itu…a..aku..” Ujar Tasya berusaha mengatasi rasa gugup nya. Tasya pun menunduk dan mengigit bibir bawahnya.

“Ya! Aku tahu kau gugup berada satu mobil dengan kami. Kami akan berusaha membuatmu senyaman mungkin dan menghilangkan rasa gugup itu.” Baek hyun melingkarkan lengannya di bahu Tasya dan menenangkan Tasya dengan caranya.

“Hyung, kurasa kau tambah membuatnya canggung.” Ujar Se Hun spontan dengan wajah yang sulit dijelaskan.

“Wajahmu? Kenapa wajahu mendadak seperti itu? Aku kan oppanya sekarang, wajar kan bila aku menenangkan cara seperti ini.” Ujar Baek Hyun yang masih stay dengan posenya sekarang.

“Eungg.. Baekhyun.. O..ppa.. Kurasa kau akan membuat jantungku copot jika o..ppa masih bertahan dengan posisi seperti ini.” Ujar Tasya masih dengan gugupnya sambil mencoba menyingkirkan tanga Baek Hyun yang melingkar dibahunya. Reaksi Tasya yang seperti ini membuat Su Ho dan Se Hun tertawa sampai menitikkan airmata. Baek Hyun sendiri hanya bisa terpaku mendapat reaksi seperti itu dari Tasya.

“Ya! Aku tahu bagaimana perasaan seorang fans jika dirangkul oleh idolanya sendiri.” Ujar BAek Hyun yang berusaha mengatasi rasa malunya akibat reaksi Tasya.

“Ah, Ne.” Tasya pun hanya menganggukan kepalanya lemah.

“Hyung, bagaimana jika kita berangkat sekarang saja?” Usul Su Ho kepada manager hyung.

“Ya! Ya! Kau kira aku tidak tahu apa yang harus aku kerjakan!” Protes Manager hyung kepada Su Ho yang telah memberikan usul kepadanya.

“Ah, Mianhaeyo hyung.” Baek Hyun dan Se Hun pun tertawa melihat Su Ho yang kena marah oleh manager hyung.

Tanpa mereka sadari ada seseorang yang sudah memperhatikan kedatangan Tasya dan keakraban Tasya dengan para member EXO, sampai sampai Tasya diperbolehkan menumpang Van EXO.

“Oppa nanti didepan ada kedai Jjajangmyeon. Kita berhenti disitu ya? Aku mau beli jjajangmyeon yang biasa dibeli Min Young.” Ujar Tasya didalam Van EXO. Ya, mereka masih dijalan menuju Rumah Sakit untuk menjenguk Min Young.

“Kedai Jjajangmyeon didepan itu ya? Belikan juga untuk kami, hyung?” Ujar Se Hun kepada Manager mereka yang sedang mengendarai mobil.

“Kalau kalian ingin membeli itu juga, bagaimana member yang lainnya? Sepulang dari rumas sakit kalian harus latihan.Kalian tahu, kan? tidak baik makan sebelum latihan. nanti saja sepulang latihan, kitaberhenti dikedai Jjajangmyeon yang didekat dorm.” Ujar Manager hyung kepada member EXO.

“Ayolah hyung, sekali ini saja.” Ujar Se Hun masih merengek hal yang sama dengan apa yang dia katakan sebelumnya.

“Se Hun! Kumohon jangan banyak minta… Nanti sepulang latihan kita makan di kedai Jjajangmyeon didekat kantor SM.” Ujar Manager hyung mulai marah.

“Tapi aku pinginnya makan diwarung ini.” Ujar Se Hun.

“Lain kali aja, ku ajak makan dikedai ini, hun.” Ujar Tasya sambil menunjukkan eyesmilenya kepada Se Hun yang membuat mata Se Hun melebar karena kaget. Entah apa yang dipikirannya sekarang, yang jelas wajahnye menunjukkan kekaguman saat melihat eyesmile Tasya.

“Sya, udah nyampai. Kamu jadikan beli Jjajangmyeonnya?” Tanya Su Ho kepada Tasya yang langsung mengubah ekspresi kagum Se Hun.

“Jadi kok, Su Ho-ssi. Manager oppa, kau tidak ingin makan Jjajangmyeon?” Tanya Tasya.

“Ah, pesankan saja aku satu.” Ujar Manager hyung tanpa dosa. Padahal sebelumnya dia melarang Se Hun makan Jjajangmyeon dikedai ini.

“Ya! Hyung, aku juga ingin.” Seru Se Hun.

“Kau diam saja. Nanti sepulang latihan aku yang mentraktirnya. Ya, Tasya ini uangnya…” Ujar Manager hyung sambil mengeluarkan beberapa uang ribuan won. Saat dia melihat ke jok belakang, saat ingin memberikan uang yang akan digunakan untuk membeli Jjajangmyeon pesanannya.Betapa trkagetnya ia saat melihat kursi tempat Tasya duduk telah kosong.

“Mana tasya?” tanya Manager hyung kepada Su Ho.

“Baru saja keluar.” Jawab Su Ho sekenanya.

“Aish! Jjinja?” Manager hyung pun membantingkan punggungnya ke kursi yang ia duduki.

“Ya, biarkan saja hyung. Kau tinggal mengganti uang yang akan ia pakai. Bereskan?” Ucap Baek Hyun.

“Benar juga.” Manager hyung pun mulai lega dan kembali memejamkan matanya sebentar hanya sekedar untuk mengistirahatkan matanya yang lelah melihat dan menghadapi tingkah para member EXO yang sudah ia anggap dongsaengnya sendiri. Setelah beberapa lama mereka menunggu Tasya, akhirnya Tasya pun datang dengan 3 plastik Jjajangmyeon ditangannya.

“Tasya? Kau yakin akan makan Jjajangmyeon sebanyak itu?” Tanya Manager hyung.

“Ini untuk oppa.” Ucap Tasya sambil memberikan sebuah plastik yang berisi satu porsi Jjajangmyeon.

“Ini kalian bertiga.” Ujar Tasya sambil memberikan satu plasti berisi 3 porsi Jjajangmyeon kepada Baek Hyun yang diuntukkan untuk Se Hun, Su Ho, dan Baek Hyun itu sendiri.

“Dan yang ini untuk aku dan Min Young.”

“Tapi..” Ujar Manager hyung yang ingin protes tentang jatah yang didapatkan Baek Hyun dkk.

 “Anggap saja ini rasa terimakasih aku karena kalian semua mau memberiku tumpangan menuju rumah sakit.” Ujar Tasya tanpa dosa.

“Iys, hyung. Kita kan sudah memberinya tumpangan. Bagus dong?” Ujar Se Hun yang sedari tadi merengek meminta makan Jjajangmyeon akhir tersenyum lebar ketika ia mendapatkan Jjajangmyeon yang ia inginkan.

“Ah.. Sudahlah.” Dengan pasrahnya Manager hyung pun menggas mobil van itu dan segera menuju Seoul Hospital.

“Bagaimana kalau kita makan sama Min Young dirumah sakit?” Usul Tasya dengan wajah yang berbinar binar. Seperti anak kecil yang mendapatkan lolipop.

“Aku ingin makan didorm saja.” Ujar Baek Hyun langsung memandang kearah Tasya, padahal sebelumnya dia terlihat sangat fokus pada Iphonenya.

“Kalau kita makan didorm, pasti Jjajangmyeonnya udah dingin dan pastinya sudah tidak enak lagi, hyung.” Ujar Se Hun.

“Lalu apa kita harus berlama lama disana?” Tanya Baek Hyun dengan wajah Skeptik.

“Manager hyung, kami boleh kan makan dirumah sakit nanti?” Tanya Su Ho.

“Ya, bagaimana lagi? Jjajangmyeonnya sudah terbeli. Kita tidak mungkin kan membiarkan Jjajangmyeonnya dingin, kan?” Ujar Manager hyung pasrah.

“Nah, hyung. Ayolah kita makan di ruangan Min Young nanti.” Ajak Se Hun sambil menarik lengan baju Baek Hyun dengan manja.

“Ya! Ya! Baiklah. Kita akan makan nanti disana.” Ujar Baek Hyun.

“Nah begitu dong, hyung. Kan tidak enak ketika kami makan, lalu hyung tidak makan.”Ujar Se Hun.

“Annyeong..” Ujar Tasya sambil membuka pintu ruangan inap Mi Young.

“Ah.. Tasya! Akhirnya kau datang juga. Kau tahu aku hampir mati kesepian disini.” Ujar Min Young. Setelah itu matanya pun melebar, ketika melihat kedatangan Su Ho, Se Hun, dan namja byuntae yang paling ia benci, Baek Hyun.

“Mwo? Kenapa ada member EXO disini?” Tanya Min Young dengan wajah bingung.

“Ah.. itu.. merek memberiku tumpangan saat kesini tadi. Ah, aku membawakan Jjajangmyeon dari kedai jjajangmyeon favoritmu itu.” Ujar Tasya sambil mengangkat seplastik Jjajangmyeon yang berisi dua porsi Jjajangmyeon.

“Tapi mereka..” Ujar Min Young sambil melihat kearah member EXO yang ada.

“Kau tenang saja. Kami juga akan makan disini, Tasya juga membelikan untuk kami.” Ujar Baek Hyun dengan nada ketus.

“Ya! Byuntae namja! aku sedang tidak berbicara denganmu!” Seru Min Young yang langsung mengambil posisi duduk. Padahal sebelumnya dia masih terbaring ditempat tidur.

“Ya! Ya! Apa kau bisa berhenti memanggilku dengan sebutan byuntae?! Aku kan sudah meminta maaf padamu!” Balas Baek Hyun.

“Tapi, gara gara kau yang waktu di fanmeet waktu itu. Aku jadi bulan bulanan fansmu!” Seru Min Young meninggikan suaranya.

“Ya.. Ya.. Youngie-a.. sudah!” Ujar Tasya menenangkan Min Young yang langsung ditatap deathglare oleh Min Young. Seakan akan Min Young mengatakan kau-jangan-ikut-ikutan-masalah-ini. Tasya pun tidak banyak berkata kata lagi. Karena ia tahu bagaimana sahabatnya ini marah.

“Aku kan juga sudah meminta maaf untuk itu!” Ujar Baek Hyun yang juga ikut meninggikan suaranya.

“Ah, lalu bagaimana dengan apa yang terjadi padaku saat ini? Bisa saja ini dikarenakan oleh fansmu yang tidak suka denganku ka?!” Seru Min Young lagi.

“Hei! Kau ingat,  Disekolah kau juga duduk disamping Se Hun. Bisa saja itu juga perbuatan fans Se Hun, kan?” Ujar Baek Hyun merendahkan suaranya. Dia tidak lagi berbicara dengan suara 3 oktafnya.

“Mwo? Kenapa kalian membawa bawa namaku?” Ujar Se Hun menoleh kearah duo orang yang sedang berdebat itu. Sedari tadi dia sama sekali tidak memperdulikan perkelahian antara Min Young dan Baek Hyun. Diahanya melihat kearah Seplastik Jjajangmyeon ditangan dengan tatapan kapan-jjajangmyeon-ini-akan-masuk-kedalam-mulutku?

“Kan bisa saja dari fansmu?” Ujar Min Young pun merendahkan suaraya.

“Lalu megapa kau tidak memarahi Se Hun juga?” Ujar Baek Hyun kembali meninggikan suaranya.

“Ya! Hyung, wae? Kenapa kau membawa bawa namaku lagi?” Perkataan Se Hun barusan pun hanya mendapat balasan tatapan deathglare dari Baek Hyun.

“Ah, silahkan saja jika hyung ingin membawa namaku. Aku tidak akan marah kok.” Ujar Se Hun sambil mengeluarkan wajah takutnya. Lalu bersembunyi dibelakang Su Ho yang jelas jelas lebih..eumm.. pendek darinya. Bayangkan saja jika SeHun bersembunyi dibelakang Su Ho, bagaimana posenya.

“Baek Hyun.. O..ppa.. sudahlah. Min Young masih terlalu lemah, jangan memancing emosinya.” Uja Tasya berusaha menengahi perkelahian ini.

“Dia yang memulainya. Kenapa kau melarang ku, nae saeng?” Ujar Baek Hyun.

“Mwo? Kau memanggilnya dengan sebutan nae saeng? Apa kau tidak salah, Baek Hyun-ssi?” Ujar Min Young dengan wajah skeptik.

“Kan kau lihat, nae saeng. Dia yang memulainya lebih dulu.” Ujar Baek Hyun.

“Syassi-a, bisa kau jelaskan mengapa dia memanggilmu dengan sebuatn seperti itu?” Tasya sama sekali tidak merespon perkataan Min Young. Tasya hanya mengeluarkan Jjajangmyeon yang telah ia beli untuk Min Young dan memberikannya kepada Mi Young.

“bagaimana jika kita segera memakan Jjajangmyeonnya. Kalau kita mendengar mereka kelahi terus nanti keburudingin, kan tidak enak lagi..” Ujar Tasya lalu dismbut dengan anggukan Su Ho dan senyuman Se Hun yang sempat membuatnya terbang melayang.

“Ya sudah. Aku juga sudah lapar daritadi. Syassi-a, gomawo untuk Jjajangmyeonnya.” Ujar Min Young menampilkan senyumnya yanng dapat membuat para laki laki disekitarnya merasa kupu kupu diperutnya terbang melayang.

“Ya sudah. ayo makan.” Ujar Tasya lalu fokus kepada Jjajangmyeon dihadapannya.

“Massita!!” Ujar Se Hun yang lebih dulu memakan Jjajangmyeon itu. Tingkah Se Hun pun mengundang tawa Min Young, karena menurutnya wajah Se Hun saat dia kelaparan seperti itu sangatlah lucu.

“Se Hun-ssi! Apa kau sangat kelaparan? Lihatlah ada banyak kuah Jjajangmyeon disekitar bibirmu.” Ujar Min Young sambil sesekali tertawa.

“Ya! Kau, telan dulu makanan dimulutmu baru bicara! Dasar yeoja tak tahu malu.” Ujar Baek Hyun masih dengan wajah skeptiknya.

“Lalu apa kau tidak akan makan jika aku masih seperti ini? Huh?” Ujar Min Young dengan santainya tetap memakan Jjajangmyeo dihadapannya sambil sesekali melihat Baek Hyun.

“Ya! Ya! Apakau tidak diajarkan sopan santun oleh orang tua mu? Huh?” Baek Hyun sama sekali tidak menyadari bahwa perkataannya akan mengiris hati Min Young.

“Ya! Aku tahu kok, semenjak umur aku 10 tahun, aku sama sekali tak mengecap rasa sayang eomma. Dan ayahku sendiri waktu itu sedang dibui. Nae oppa juga sudah menghilang 7 tahun yang lalu. Wajar saja aku tidak punya sopan santun sama sekali.” Ujar Min Young yang langsung membuat mata Baek Hyun melebar. Dia baru menyadari kalau apa yang ia katakan barusan sangat membuat perasaan Min Young hancur.

“Ah… Mianhae..” Ujar Baek Hyun sambil menunduk.

“Gwenchana. Sudah banyak orang yang berkataseperti itu kepadaku.” Ujar Min Young.

“7 tahun yang lalu…” Gumam Se Hun. Walaupun ia sedang bergumam, tapi tetap saja seluruh orang diruangan itu mendengarnya.

“Apa?” Tanya Su Ho yang tepat berada disamping Se Hun.

“Ah, Aniyo hyung.” Ujar Se Hun kembali menyantap Jjajangmyeonnya.

“Ah.. Ya sudah. Cepat habiskan Jjajangmyeon kalian, sebelum Manager hyung menjemput kita kesini dan mengagalkan penyamaran kita.” Ujar Su Ho.

“Ne hyung.” Ujar Baek Hyun dan Se Hun serempak yang membuat Min Young mencibir.

“Cih! Kenapa aku merasa berada dilokasi Wajib Militer, huh?” Ujar Min Young lalu memalingkan wajah kearah jendela.

“Ya! Aku juga merasa kalau aku sudah memilik badan seperti badan para militer.” Ujar Baek Hyun sambil berdiri dan mulai membanggakan tubuhnya. Hal ini membuat Tasya tertawa sampai menangis karena melihat Baek Hyun seperti itu.

“Mwo?! Seperti militer kau bilang? Sekali ditiup pun itu badan langsung terbang?” Ujar Min Young mencibir lagi.

“Mwo?! Aku sudah berusaha sabar menanggapimu dari tadi, tapi kau yang selalu membuatku emosi. Bukannya aku sudah meminta maaf kepadamu, huh?” Seru Baek Hyun meninggikan suaranya.

“Tapi aku belum bilang kalau aku memaafkanmu kan?” Ujar Min Young masih bertahan dengan suara biasanya tanpa meninggikan suaranya. Ya dia berusaha untuk tetap calm down dan berusaha membuat Baek Hyun marah. Nampaknya membuat Baek Hyun marah adalah salah satu hobinya akhir akhir ini.

 “Ya! Ya! Aish, Neo….” Ujar Baek Hyun kembali meninggikan suaranya lagi. Min Young pun hanya memalingkan kepalanya lagi keluar jendela.

*Min Young Pov*

“Ya! Ya! Aish, Neo….” Ujar Baek Hyun kembali meninggikan suaranya lagi. Aku pun hanya memalingkan kepalaku keluar jendela tanpa mendengarkan umpatan dia selanjutnya.

Aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang kurasakan akhir akhir ini. Mau itu senang, bahagia, kesal, ataupun marah, aku sama sekali tidak mengerti. Ya akhir akhir ini aku sering merasakan hal aneh jika aku bersama Baek Hyun ataupun Se Hun. Aku seperti merasa kalau Han Young oppa berada didekat ku.

“Min Young-ssi… Kurasa kami harus pulang lebih dulu. Sesudah ini kami harus latihan untuk konser.”bUjar Su Ho izin pamit pulang kepada Min Young.

“Nae Saengie, Tasya kau ingin kuantar pulang?” Tanya Baek Hyun.

“Ah…” Tasya pun kelihatan bingung dengan penawaran Baek Hyun kepadanya.

“Kurasa dia tak akan pulang bersamamu! Dia akan disini bersamaku.” Jawabku ketus. Ini kulakukan bukan karena aku cemburu, tapi karena aku ingin melindungi sahabat ku. Aku tidak mungkin ingin melihatnya bernasib sama denganku. Tapi entah mengapa tatapan Tasya kepadaku setelah aku mengucapkan hal ini agak kesal.

“Ya! Ya! Aku bertanya dengannya, bukan denganmu! Dasar nyolot!” Ujar Baek Hyun langsung menaikkan suaranya 4 oktaf sekaligus. Dan itu sangat membuat telingaku ini terganggu.

“Ya! Kau bisa tidak sehari tidak bertero=iak dengan suara yang seperti itu. kau kira itu tidak menganggu, huh?” Ujar ku stay calm.

“Lagian aku tidak ingin dia bernasib seperti ku, yang diserang oleh fans. Apalagi jika kalian mengantarnya pulang, mungkin saja fans kalian akan membakar rumahnya. Sekali lagi kukatakan tidak!” Ujar ku tegas lalu kembali menghadapkan kepalaku kejendela.

“Ya! Ya! Maksudmu apa?” Tanya Baek Hyun emosi.

“Sudah Baek Hyun.. apa yang Min Young katakan ada benarnya juga.. Kita tidak bisa menjamin keselamatan Tasya jika ia pulang bersama kita… Jika ada fans yang tahu, pasti mereka akan menyerang Tasya. Apa kau mau bertanggung jawab nantinya. Apalagi kita ini masih baru dan segala yang kita kerjakan diatur oleh..” Ucapan Su Ho pun terputus ketika Baek Hyun berbalik keluarkamar tanpa mengatakan sepatah kata apapun.

“Sudahlah hyung. Ayo kita pulang.” Se Hun pun menarik tangan Su Ho. Sebelum keluar kedua orang itu juga sempat membungkuk maaf kepadaku dan Tasya atas keributan yang mereka buat.

“Min Young…” Panggil Tasya ketika ia sudah duduk dikursi samping ranjang tempat tidurku.

“Mwo? Kau ingin memarahi ku, huh?” Ujarku tanpa melihat Tasya.

“Sampai kapan kau seperti ini pada namja.. Kau seperti ini semenjak..” Ucapan Tasya pun terputus ketika aku menatapnya dengan tatapa n aku-lelah-dengan-semua-yang-telah-terjadi.

“Dia punya aura yang sama dengan Han Young oppa. Ah, bukan dia tapi mereka.” Ujarku sambil melihat kearah tangan yang terinfus.

“Nugu?”

“Baek Hyun dan… Se Hun.” Jawabku masih dengan pandangan ke tangan yang terinfus.

“Terus sikap kamu sama Baek Hyun tadi..”

“Dulu aku juga sering seperti itu dengan oppa. Setiap apa yang aku katakan akan selalu dijawab olehnya. Ah.. bogoshipeunde…” Entah mengapa aku selalu memotong pembicaraannya. Kali ini disertai dengan pandanganku kepadanya.

“Min Young…”

“Kau tahu seberapa rindunya aku kepadanya dan eomma? Kurasa aku memang sudah dikutuk untuk seperti ini. Aku tidak tahu apa salahku dimasa lampau sampai harus seperti ini.” Aku pun menatap kosong pintu yang terdapat didepannya.

“Ayo makan Jjajangmyeon mu. Ini udah dingin, nanti gak enak lagi.” Ujar Tasya berusaha menyuapiku dengan sabar.

“Syassi-a, Kau tahu aku sangat benci kehidupanku ini. Bukan karena aku jatuh miskin seperti ini. Tapi karena orang orang yang dulu delalu berada didekat ku pergi meninggalkanku dan membiarkan aku hidup dengan kejamnya kehidupan itu sendiri.” Ujar ku menatapnya dengan pandangan kabur. Ini semua karena air mata yang tak pernah kuundang ini selalu hadir. Aku benci seperti ini.

“Ayolah makan. Aku yakin Eomma dan oppa mu tidak ingin melihat mu seperti ini.” Ujarnya masih dengan sabar memparkirkan sepasang sumpit dengan Jjajangmyeon didepan mulutku. tapi aku tetap saja tidak membuka mulutku dan menatapnya dengan tatapan aku-sudah-lelah-jangan-ganggu-aku.

“Ya, aku tahu arti tatapan itu. Tapi lihat Jjajangmyeon kau ini tidak habis sama sekali kau bahkan hanya mengacaunya dari tadi. Kau tidak memakannya. Kau tahu tidak seberapa lama aku mengantri untuk ini?” Ujar Tasya dengan tatapan memelasnya. Sesungguhnya aku tidak bisa melihat tatapannya seperti itu. tapi saat ini aku sedang tidak ingin makan.

“Ayolah, 2 suap saja sudah membuatku senang. Kau pernah bilang kan, membuang makanan itu sangat disayangkan.” Ujar Tasya lalu menampilkan senyum imutnya dihadapanku. Aku yang sama sekali tidak bisa melihat dia seperti ini hanya bisa tersenyum dan membuka mulutku tanda aku menerima makanan yang ia suapkan kepadaku.

“Nah begitu dari tadi kan bagus.” Ujar Tasya menampilkan senyum bahagianya.

“Aku senang melihat kau tersenyum seperti itu. Mirip ahjumma Im.” Ujarku yang langsung meruntuhkan senyuman indahnya itu.

“Lho kamu kenapa langsung kata gitu wajahnya…” Ujar Min Young dengan wajah bingung.

“Nothing..” Sebenarnya aku tidak puas dengan jawaban yeoja didepan aku ini dan ingin bertanya lebih. Tapi disaat aku membuka mulut, pintu sialan didepanku pun turut terbuka dan memperlihatkan sosok.. ah dia lagi. Aku sedang tidak ingin melihat wajahnya.

“Min Young.. Kurasa aku harus pulang dulu. Sudah ada appamu yang akan menjagamu disini.” Ujar Tasya sembari berdiri dari kursinya.

“Eh.. Ne.. kau juga tidak mungkin kan berlama lama disini.” Ujarku berusaha tersenyum didepannya. Aku berusaha menutupi kebencianku dengan ayahku. Aku tidak ingin dicap sebagai anak kurang ajar.

“Ahh. Annyeong Ahjussi.” Tasya pun membungkuk kepada appa dan aku hanya bisa melihat appa dengan tatapan aku-saja-tidak-pernah-sesopan-itu-padamu!

“Ne annyeong Tasya-ssi. Hati hati dijalan ne!” Ujar Appa.

“Ah, Kamsahamida, ahjussi.” Tasya pun kembalimembungkuk disaat disudah membuka pintu. Setelah itu dia keluar dan Blam! pintu itu pun tertutup.

“Young..” Ujar appa memanggil namaku dengan sebutan yang paling aku benci saat ini.

“Aku tidak pernah mengizinkanmu memanggilku dengan sebutan itu semenjak 7 tahun yang lalu. Ingat itu!”

“Young.. Bisakah kita mengulang semuanya dari awal? Appa sudah minta maaf padamu, tapi kenapa kau masih seperti ini?” Ujar appa memegang tanganku.

“Jangan sentuh tanganku! Dan apa aku pernah mengatakan padamu kalau aku memaafkanmu? Kau tidak pernah mendengarkan penjelasan eomma! Eomma bukannya tidak tahu pekerjaan kau diluar sana! Berselingkuh dan bermain diklub malam sampai lupa memberi perhatian kepada kami. Huh? Kau kira aku sudah memaafkanmu?” Ujarku berusaha untuk mengendalikan emosiku.

“Young.. Ini tak seperti apa yang kau pikirkan.. Dengarkan appa dulu..”

“Cih! Untuk apa akumendengarkanmu setelah apa yangkau lakukan pada eomma, huh?Aku tidak akan pernah memaafkanmu. Menganggapmu appaku saja aku tidak ingin.” Ujar ku lebih skeptik lagi dan mulai memandang sinis kearah appa.

“Choi Min Young..”

“Cih! Jangan pernah tambahkan marga mu didalam namaku! Aku tidak sudi memiliki marga seperti itu lagi!”

“Yongie-a…” Ujar appa mulai menitikkan airmata.

“Aku sedang tidak ingin melihat wajahmu! Aku juga sedang tidak ingin membuat dosa, jadi kumohon keluar dari sini sekarang juga.” Ujarku lalu mengarahkan pandanganku kearah berlawanan dari posisi appa. Tanpa suara appa pun meninggalkan ruangan ini. Setelah memastikan appa telah keluar, aku pun kembali meraih sebuah bingkai disalah satu laci meja ruangan ini.

#Flashback#

“Oppa.. You wanna see something?” Ujar seorang yeoja kecil dengan tangan yang disembunyikan dibelkang punggungnya.

“Ya! Ya! Sudah berapa kali kukatakan untuk tidak berbahasa inggris kepadaku.” Jawab namja kecil yang sedang duduk sambil membaca sebuah cerita fantasi yang berjudul ‘Peterpan.’

“Oh ya! Yang jelas oppa harus melihat ini.” Ujar yeoja tersebut sembari tersenyum kepada oppanya ini.

“Mwo?” Ujar namja tadi langsung meletakkan buku fantasinya itu dipangkuannya lalu mengalihkan pandangannya ke saengnya yang satu ini.

“Pejamkan mata oppa.” Ujar yeoja tadi. Dan dengan wajah ragu oppanya pun menutup matanya.

“Setelah hitungan ketiga oppa buka ya mata oppa.”

“Ne…” Ujar oppanya.

“Hana..Dul..Set..” Tepat setelah hitungan ketiga namja itu pun membuka matanya dan betapa kagetnya dia setelah melihat benda yang berada didepan matanya ini.

“Ige mwoya?” Ujar namja itu melihat 2 buah gelang yang sama persis tetapi berbeda warna.

“Sini tangan oppa.” Oppanya tadi masih dalam kebingungannya akhirnya menyodorkan tangannya.

“Tadi eomma mengajariku bagaiman cara membuat gelang. Jadi aku sengaja membuatkan satu untuk oppa. Tidak terlalu buruk kan?” Ujar yeoja itu sambil memasangkan sebuah gelang yang berwarna hitam ditangan oppanya.

“Woahh.. Yeppeuda. Gomawo Young saengie…” Oppa yeoja tersebut pun memeluk saengnya ini dengan bahagianya dan tersenyum. Umur mereka mungkin hanya terpaut satu tahu tapi jika orang yang baru melihat mereka akan mengira mereka itu seumuran karena bisa dibilang kalau wajah mereka memberikan kesan tidak ada perbedaan umur.

#End of Flashback#

*Inside EXO’s Van*

*Baek Hyun POV*

“Yeoja itu… bukannya aku sudah meminta maaf padanya? Tapi kenapa dia masih bersikap seperti itu padaku, huh?” Gerutuku ketika van kami sudah memasuki jalan raya.

“Sudahlah hyung. Kurasa dia memang seperti itu mungkin. Disekolah dia juga selalu sinis kepadaku. Walaupun kita memujinya, dia tetap saja bakal seperti itu.” Ujar Se Hun kepadaku.

“Kau seperti kenal sekali dengannya. Jangan bilang kau juga sering dilakukan seperti itu olehnya.” Ujaku spontan melihat kearahnya.

“Sering, tapi tidak seperti yang dilakukannya pada hyung.” Ujarku tanpa dosa.

“Ya! Ya! Bisa bisanya kau menceramahiku, sedangkan kau sendiri tidak pernah merasakan apa yang aku rasakan.” Ujarku sambil menatap kejam kearahnya.

 “Tapi setidaknya hampir sama hyung.” Ujar Se Hun tersenyum creepy lalu mengusap punggungku. Tak lama setelah itu, terdengar bunyi sebuah ponsel yang menandakan ada panggilan masuk. Aku dan Se Hun sibuk mencari handphone siapa yang berbunyi. Sedangkan Su Ho masih teralu sibuk dengan urusannya dialam mimpi. Beberapa saat setelah iti bunyi tersebut pun berhenti.

“Setelah itu, handphoneku yang berdering. Dengan segera aku pun mengangkat panggilan tersebut tanpa memandang nama kontak yang menelpon.

“Yeoboseyo?” Ujarku dan meloudspeaker panggilan itu.

“Ya! Ya! Jangan bilang kau lupa dengan roomate mu sendiri, baekkie.” Ujar seseorang diseberang telepon. Aku pun tersadar lalu melihat layar ponsel dan mendapati nama Chan Yeol dilayar ponsel tersebut.

“Ah, ne Chan Yeol-a! Waeyo?” Ujarku dengan wajah datar.

“Su Ho hyung, eodiga? Dari tadi aku mengirim pesan di Line tak dibalas. Terakhir tadi aku menelponnya juga tak diangkat.” Keluh Chan Yeol.

“Oh, jadi suara handphone tadi milik Joon Myeon hyung, Se Hun.”Ujar ku kepada Se Hun.

“Joon Myeon hyung sedang ada bisnis mungkin didalam mimpi. Jadi dia tidak mendengarkan panggilan disekitarnya.” Ujarku masih dengan wajah datar.

“Pantas saja. Ya! Kalian dimana? Kalian sadar tidak sekarang sudah jam berapa, huh?” Seru Chan Yeol. Kalian bayangkan suara di yang ngebass gitu teriak ditelepon. Aku saja sampai menjauh handphone ku dari telingaku.

“Kami baru saja pulangdari rumah sakit. Waeyo?” Ujar ku dengan santainya.

“Ya! Hyung kau bisa mengecilkan volume suaramu tidak?” Seru Se Hun.

“Ah! Sudahlah yang jelas Kalian sudah harus disini. Kita tidak bisa latihan dance tanpa Se Hun…”

“Oh, jadi kalian tidak membutuhkan ku?” Potongku.

“Ya! Aku belum selesai bicara. Dan kami juga membutuhkan Su Ho hyung untuk mengatur para saengnya ini.” Ujar Chan Yeol.

“Ini tidak lucu!” Aku pun dengan emosi memutus panggilan telepon itu.

“Kenapa harus karenanya moodku selalu jelek, huh?” Ujarku.

Se Hun menatapku seraya mengucapkan, “Nugu?”

“Ani. Tidak siapa siapa.”

*Tasya POV*

“Hah.. Youngie.. Kau tidak beda jauh dengan ku. Aku juga sudah tidak bisa melihat eomma ku sendiri lagi. Aku juga tidak tahu alasannya mengapa.” Aku, ya aku sedang berjalan sendiri disekitara Myeongdong yang memang dekat dari rumah sakit tempat  Min Young dirawat.

“Aku harus mencoba menjenguk eomma lagi hari ini. Aku harus mengetahui kondisinya dengan mata kepala ku sendiri.” Dengan segera ku keluarkan handphone ku dari saku almamater sekolah yang kupakai sekarang dan mendial nomor sekretaris appa, Sekretaris Jung.

“Yeoboseyo, Sekretaris Jung.”

“…”

“Aku ingin menjenguk eomma. Bisakah aku meminta surat izin wali kepada appa sekarang?”

“…”

“Bagaiman jika sore nanti. Aku akan menjenguknya besok.”

“…”

“Ya! Wae? kenapa aku tetap tidak boleh menjenguknya? Yang punya masalah dengan eomma hanya appa, aku tidak punya masalah dengan eomma.” Tanpa kusadari pandangan semua orang disekitarku sudah tertuju padaku. Ya, aku sempat meninggikan suaraku barusan.

“…”

“Arraseo. Annyeong.” Ujar ku dengan kesal memutuskan panggilan tersebut. Lalu berjalan lagi.

“Tasya!” Seseorang memanggil namaku dan dari suaranya sendiri aku sangat kenal dengan suara ini. Suara yang tidak ingin kudengar. Se Mi eonnie.

“Ah.. Wae eonnie?” Aku pun membalikkan badanku sehingga kami saling bertatapan sekarang.

“Oh.. Semenjak kapan kau pulang dengan jalan kaki?” Tanyanya. Jujur ini sangat menyinggungku. Aku tahu kemana arah pertanyaannya.

“Kita sudah lama tidak bertemu eonnie. Jadi kita kurang mengehtahui perubahaan masing masing sifat dari pribadi masing masing.” Ujarku.

“Eoh. Arraseo. Bagaimana jika kita makan bersama hari ini. Aku yang mentraktir.” Ajaknya. Dan jujur aku sama sekali  tidak menginginkan ini. Tuhan tolong aku.

“Aku..”

“Kajja. Kita pergi.” Dasar yeoja nyolot aku belum selesai bicara di sudah memotongnya dan sekarang dia menarik tanganku kesalah satu restoran masakan korea yang terkenal didaerah ini.

“Kau ingin makan apa? AKu yang mentraktir.” Oke ini sudah kedua kalinya dia mngetakan itu hari ini. Dan kali ini aku, oh bukan kami sudah duduk disalah satu meja direstoran tersebut.

“Pelayan.” Panggilnya kepada salah satu pelayan disini.

“Ayo pesan. Aku yang traktir.” Oke ini yang ketiga kalinya dia mengatakan itu.

“Aku pesan Bibimbap eonnie. Minumnya sama saja dengan eonnie.”

“Eoh? Baiklah. Bibimbap 2 dan jus jeruk 2. Arra?” Dan kali ini dia bersifat layaknya dia memesan makanan dirumahnya sendiri. Dapat kulihat wajah pelayan yang melayani kami sangat terkejut medengar perkataan Se Mi barusan.

“Arraseo.” Dengan senyum terpaksa akhirnya pelayan itu membungkuk dan meninggalkan kami.

“Wuah! Eonnie, kau terlampau sering makan makanan buatan pelayan dirumah mu ne?” Tanya ku agak sedikit menyinggungnya. Sengaja.

“Wae? Ada yang salah?” Tanyanya polos.

“Animida. Caramu memesan unik. seperti berbicara dengan pelayan pribadi.” Ujarku lalu membuka flip cover handphone dan mencheck SNS ku.

“Kau orang kedua yang menyadariku tentang hal itu.” Ujarnya padaku.

“Orang kedua? Siapa yang pertama? Namjachingu eonnie kah?” Tanya ku dengan sedikit nada menggoda.

“Bae Seulie-a. Dia yang menyadarkanku tentang hal itu. Kau tahu kenapa aku mengajakmu kesini?”

“Ani.”

“Karena aku sangat tidak menyukai cara Se Ra memperlakukanku. Dia seperti menjadikanku sekretarisnya saja. Berbeda dengan Bae Seul yang selalu menganggapku murni seperti seorang kakak.” Ujarnya. Aku hanya bisa terperangah mendengar ceritanya. Aku tidak mengerti.

“Maksud eonnie?”

“Aku dan Se Ra itu bagai langit dan bumi. Kau tahukan bagaimana cara Se Ra bertindak. Dia selalu mendapatkan apa yang dia inginkan. Termasuk kekuasaan. Kau harus tahu kenapa Warisan Kepemimpinan perusahaan tidak jatuh ketanganku. Ya, itu karenanya. Aku mengalah darinya dan lebih memilih jalur musik yang disukai Halmeonni dan Bae Seul.” Jelasnya.

‘Wah, apakah Se Ra sekejam itu dengan kakaknya sendiri.’ Ujar batinku.

“Jeongmal? Jika Bae Sul masih hidup akankah Bae Seul mendapatkannya? Kekuasaan itu?” Tanyaku.

“Ya, Abeoji lebih sayang dengan Bae Seul daripada Se Ra. Tapi dia sangat tahu Se Ra juga menginginkan itu. Bae Seul tidak pernah setengah setengah dalam bertindak. Dan pada akhirnya dia menyerahkan semua yang akan dia sendiri ambil kepada Se Ra. Termasuk nyawanya sendiri.” Se Mi eonnie pun menatap nanar pelayan yang datang kearah kami sambil membawa pesanan kami.

“Semuanya. Membuat Se Ra semakin gila akan kekuasaan. Aku hanya mengingatkan hati hati dengan sifat Se Ra. Kita tidak akan bisa menebak apa yang ia pikirkan. Assasin!”

“Mwo?” Aku semakin tidak mengerti kenapa Se Mi eonnie mengatakan hal ini kepadaku.

“Ya. Kata yang tepat untuknya adalah Assasin. Ayo cepat makan. Nanti keburu dingin.” Ujar Se Mi eonnie. Tanpa sadar makanan yang kami pesan sudah berada didepan mata kami.

*Seoul Hospital* 07.34 PM KST

*Min Young POV*

“Haaahh.. Eomma bogoshipeunde. Lihatlah sekarang disaat kau tak ada, anak laki laki kebanggaan tidak ada disampingku. Huh, dia melanggar janjinya pada eomma.” Sepertinya diriku sudah setengah gila karena lebih sering bebicara dengan bingkai foto ketimbang orang lain.

“Kau lihat. Eomma aku saja tidak ada kawan bicara sekarang. You can’t se me, eomma? Are you miss me, eomma?” Tanya ku lagi kepada bingkai foto itu. Sepertinya sekarang semua benda mati sudah kuanggap benda hidup. Huh, apa aku harus ke psikolog?

“Jangan anggap aku gila eomma. Aku tidak akan pernah pergi ke psikiater yang eomma saran kan dulu. Don’t make me angry now, eomma.” Ujarki lagi. Sekarang aku bingung, apakah aku berbicara pada bingkai foto ini atau berbicara dengan diriku sendiri?

“Ya, tentu saja dengan bingkai foto ini aku berbicara. You know? I think i be crazier since Se Ra seeing me talking alone at school garden. And i can speak english more than since i be crazier. You see eomma? I can speak english now? So comeback to me and let us to speak english everyday!” Kali ini aku tidak menegrti dengan apa yang kukatakan. Semua itu keluar begitu saja dari mulutku ini. Jadi wajar saja kangrammar nya tidak ada sambung menyambung antara satu dengan yang lainnya. Harap maklum saja.

“Oh, It so tiring and bored. Should i took the remote and turn on di tv?” Ujarku sambil berusaha mengambil remote yang letaknya disamping ranjang tempat kuberada sekarang. Tapi semuanya percuma selang infus ini sangat membatasi pergerakanku.

“Oh, Anyone can help me? Im so boring now. Bring the remote to me, please.” Dan kali ini aku meminta tolong kepada, entah siapa itu. Aku semakin terlihat gila saja. Semakin terlihat aneh.

“Nobody want to help me? Okay! Fine!” Aku pun mengambil tabung infus diatasku. Lalu duduk dan Hup! Remote TV itu sudah ada ditanganku. Aku pun mengemablikan tabung infus pada posisi semula.

“So poor you are.” Ujar ku. Ya, aku mengatakannya pada diriku sendiri. Tidak ada orang lain diruangan ini selain aku.

“Acara tv apa yang enak pada jam segini? Oh, Drama tv di SBS itu! Semoga ada.”Aku pun segera menekan angka channel tv tersebut. Dan ternyata, pas kali ini drama tv yang tidak kuketahui judulnya itu ditayangkan. Pada akhirnya kegiatan talking to myself pun berhenti dan teralihkan pada adegan adegan di drama tv tersebut.

*SM Building inside EXO’s Exercise room* 07.15 PM KST

*Lay POV*

“Ge.. Kau ingin bersepeda kah sepulang dari sini?” Tanya seorang namja dengan rambut bewarna coklat almond kepada namja yang ‘sedikit’ lebih tinggi dariku.

“Eoh? Eodi? Han river kah, Chen?” Ujar namja tersebut menjawab pertanyaan saengnya, Chen.

“Ne Lu Ge.” Angguk namja yang bernama Chen itu mantap.

“Ya, Xiumin kau ingin ikut? Aku dan Chen akan pergi bersepeda di Han river malam ini.” Ujar namja yang dipanggil Chen dengan sebutang Lu Ge.

“Aku ikut, Luhan. Aku ajak yang lainnya ya?” Tanya Xiumin pada namja yang memanggilnya, Luhan.

“Baiklah.” Jawab Lu Han lalu membereskan beberapa stuff miliknya.

“Hei ada yang ingin ikut ke han river malam ini?” Tanya Xiumin. Ya, dia bertanya dengan teriakan.

“Aku tidak ikut, hyung.” Jawabku. Yah, saat ini aku sedang mencoba menelepon manager hyung yang sedang berada di ruangan Lee Sajangnim, CEO Agensi ni. SM Entertainment, Agensi yang menaungiku bersama 11 member lainnya. Kami semua tergabung didalam sebuah grup yang bernama EXO. Ku rasa kalian sudah cukup tahu tentang itu.

“Waeyo, Lay ge?” Tanya namja dengan warna kulit tan, Kim Jong In alias Kai.

“Aku ingin kerumah sakit.” Jawab ku sekenanya.

“Hah? Hyung, sakit hyung kambuh? Siapa yang sakit? Hyung gak sakit kan?” Tanya Se Hun berlari ke arahku dan segera memeriksa panas badanku. Huh, anak ini. Apa dia lupa tadi dia juga baru pulang dari rumah sakit. Apa dia tidak bisa berpikir jernih tentang kenapa aku harus kerumah sakit.

‘Pletak’ Tangan Baek Hyun dengan sangat mulus mendarat dikepala Se Hun. Dan itu membuatku cukup terkaget.

“Lay Ge akan menjenguk Min Young, Hun Pa Bo. Kau ini tidak bisa berpikir jernih sedikit pu.” Ujar Baek hyun setelah dia menjitak kepala Magnae ini. Se Hun, how a pity you are?

“Oh. Begitu. Ya sudah.” Ujar Se Hun kembali ketempat semulanya, disamping Kris hyung.

“Ya, Apa kalian akan ikut dengan kami?” Ulang Xiumin hyung dengan wajah kesal karena tidak ada yang menanggapi pertanyaannya sama sekali. Mianhae hyung.

“Aku ikut hyung!” Ujar Kai mengangkat tangannya.

“Aku juga.” Jawab Tao.

“Se Hun, Kau ikut? Hyung akan pergi dengan mereka.” Tanya Kris pada Se Hun yang sempat terdengar ditelingaku sebelum aku memasang handfree ditelingkaku.

“Aku pergi semua. Annyeong.” Setelah mengucapkan kata itu, ku pergi keluar dari ruangan latihan dan segera menelpon manager hyung kembali. Dan kali ini panggilan ku diangkat.

“Yeoboseyo hyung.”

“…”

“Apa malam ini aku ada jadwal?”

“…”

“Oh.. Kalau begitu. Aku ingin pergi kerumah sakit, apa aku boleh?”

“…”

“Menjenguk Min Young, hyung. Memangnya hal apa lagi yang akan kulakukan dirumah sakit saat ini hyung?”

“…”

“Aku sudah memesan taksi tadi, hyung. Tapi aku berharap menjelang sampai ditaksi tidak ada fans yang mendekati aku. Kau tahu kan bagaimana kondisi kaki aku yang baru pulih? Aku tidak bisa berlari.”

“…”

“Ah, Baiklah itu ide bagus, hyung. Ya sudah aku sudah sampai didepan pintu SM Building. Annyeong.”

“…”

“Ah, tunggu aku sampai ditaksi hyung. Disini masih banyak fans. Sekali lagi. Annyeong hyung.”

‘Klik’ Panggilan itu pun terputus dan aku sudah sampai didepan pintu SM. Seorang pengawal datang kearah ku. Dan sempat bertanya, “Van anda belum datang, Lay-ssi?”

“Ah, aku pakai taksi dengan nomor 00456. Ah, itu dia.” Mata ku mendapati sebuah taksi eksklusif sedang parkir disebrang SM Building.

“Baiklah, kami akan mengantar anda.” Setelah memberikan beberap kode, beberapa pengawal pun mulai mengelilingiku dan melindungiku. Karena saat ini kondisi kaki ku bisa dibilang kurang sehat akibat cedera saat latihan.

Beberapa cahaya blitz menimpali wajah ku saat ini. Beberapa dari fans yang berkumpul didepan SM Building jug memanggil namaku. Fans fans itu juga berusaha memberikanku kado. Tapi dari seluruh kado yang ada, aku hanya mengambil sebagian, ah tidak sebagian! Aku hanya mengambil 3 dari seluruh kado yang mereka julurkan kepada aku. Mianhamnida, nae sarangeun fans. Kalian sudah berusaha banyak untuk itu.

“Seoul Hospital.” Ujarku ketika sudah sampai dengan selamat didalam taksi ini.

“Baiklah.” Seketika taksi itu pun berjalan meninggalkan SM Building. Aku pun teringata kalau manager hyung ingin membicarakan tentang Debut Solo aku yang ditargetkan 4 bulan lagi. Aku pun membuka flip cover handphone ku, lalu medial nomor manager hyung.

“Yeoboseyo hyung.”

“…”

“Apa yang ingin hyung katakan tadi?”

“…”

“Oh, jadi partner aku dalam album ini adalah Chanyeol, Baekhyun dan Zhoumi Ge.”

“…”

“Mwo? Harus mencari satu orang lagi? Untuk apa hyung?”

“…”

“Jadi single yang terakhir itu, harus diciptakan oleh seseorang selain artis SM. Apa maksudnya ini?”

“…”

“Tapi bagaiman jika orang tersebut tidak ingin bergabung di SM nantinya?”

“…”

“Kalau kau tanyakan siapa yang terlintas dipikiran aku saat ini? Aku akan menjawab Choi Min Young, hyung. Hyung tahukan? Kalau dia punya segudang bakat mulai dari dance, menyanyi, dan memainkan alat musik. Kurasa untuk menciptakan lagu itu tidak akan sulit.”

“…”

“Tentu saja aku yakin? Tapi untuk bergabung dengan SM aku tidak terlalu yakin.”

“…”

“Ya hyung. Akan kuusahakan. Baiklah.”

“…”

‘Klik’ Panggilan terputus. Seiring dengan itu aku pun menatap keluar jendela.

Apa aku harus melibatkannya juga? Aku saja baru tahu namanya 2 hari yang lewat. Apa dia tidak apa apa jika aku menunjuknya untuk berpartisipasi didalam Debut Solo ku ini. Jika dia gagal, berarti Debut aku ini pun akan gagal juga bukan? Apa aku sanggup menanggung resikonya.

 Tapi sekarang yang aku takutkan adalah Min Young itu sendiri. Jika dia gagal, berarti dia harus berurusan dengan fansku bukan? Jika dia gagal, tentu dia harus menanggung malu juga bukan? Bahkan mungkin saja malunya dia lebih besar dari aku. Apa dia akan sanggup menanggung resiko itu?

Lalu kenapa aku ini? Kenapa aku merasa kalau aku sangat gugup saat ini? Apa ini karena Min Young? Apa ini karena perkataan Xiumin malam tadi? Apa ini karena aku menyukai Min Young..?

“Jeosonghamnida. Tapi kita sudah sampai ditujuan, Lay-ssi.” Supir taksi tersebut membuatku menghentikan monologku. Dengan segera, aku mengeluarkan beberapa uang ribuan won. Dan memberikannya pada nya.

“Ambil saja kembaliannya.” Ujarku lalu meninggalkan taksi tersebut. Sembari berjalan meninggalkan taksi, aku pun merendahkan posisi topi yang kukenakan agar tidak ada yang mengenaliku. Supir taksi tadi saja tahu namaku, padahal aku sudah mengenakan masker dan aku menelponnya tadi menggunakan nama salah satu pengawal SM yang kukenal.

Tanpa basa basi aku segera menuju lift dan menekan angka 6. Selama lift berjalan menuju lantai 6, aku memikirkan bagaiman caranya aku mengatakan kepada Min Young tentang menciptakan lagu untukku.

‘Ting’ Pintu lift pun terbuka. Dengan segera aku pun berjalan menuju kamar 611. Dengan pikiran yang masih memikirkan hal yang kupikirkan di lift tadi.

‘Treekk’ Tanpa kusadari tanganku sudah membuka pintu sebuah ruangan.

“Eoh?” Min Young yang sedang menonton sebuah acara lawakan di tv seketika melihat kearahku yang baru saja berjalan masuk karah ranjangnya.

“Hah.. memakai masker ini sangat membuat nafasku sesak.” Aku pun membuka maskerku dan meletakkannya di meja samping ranjang Min Young.

“Eoh? Lay-ssi! Ada apa kau datang kesini?” Tanyanya dengan wajah terkejut.

“Ya, ada apa dengan wajahmu? Seperti melihat Monster bertangan 4 saja, huh?” Ujarku.

“Kenapa kau tidak bilang kalau kau akan kesini, Lay-ssi?” Tanyanya. Sungguh ekspresinya kali ini singin membuatku segera mencubit pipinya.

“Ya, jika kau masih menampilkan ekpresi seperti itu, tanganku akan segera mencubit pipimu.” Ujarku tanpa dosa sembar melepaskan topi yang kukenakan dan meletakkaannya di tempat ku meletakkan masker.

“Eoh? Ya sudah, kenapa anda bisa berada disini, Lay-ssi? Ada urusan apakah sampai anda menjengukku sekarang?” Tanyanya dengan wajah serta bahasa yang lebih formal dari tadi.

“Aku akan menjenguk fansku yang sedang sakit. Jadi jika kalian ingin melihatku dari dekat, katakan padaku bahwa kalian sedang sakit.”

“Kukira Baek Hyun dan Se Hun saja yang punya sifat narsis seperti itu? Apa kalian seluruh member EXO mempunyai skala narsis yang sama sama akut. Kurasa mulai saat ini aku tidak akan mengidolaimu lagi.” Ujarnya sambil memfokuskan matanya kearah tv.

“Ya, seberapapun usaha mu untyk fokus keacara itu, aku masih bisa melihat wajah gugup yang kau sembunyikan itu. Apa kau tidak ingin berfoto demganku?” Tanyaku sembari sedikit menggodanya.

“Ya! Apa anda meninggalkan sebagian otak anda kepada member yang lainnya, Lay-ssi? Kenapa anda bisa menjadi aneh seperti ini?” Tanyanya sambil menatap tepat dimanik mataku. Jujur saja itu malah membuatku menjadi gugup.

“Itu karena anda Min Young-ssi.” Entah setan apa yang merasukiku. Tapi aku berani bersumpah kata kata itu meluncur saja dari mulutku. Dapat kulhat wajahnya kali ini sangat terkejut dan bertambah gugup.

Aku pun meralat perkataanku, “Itu semua karena mu. Manager hyung menyuruhku untuk mencari tambahan partner kudalam debt ini. Kurasa membawa seorang fans tidaklah buruk. Jadi aku memutuskan untuk menawarkan hal ini kepada dirimu?” Bukannya membaik, wajah Min Young malah terlihat semakin buruk saja. Kali ini dia menambahkan ekspresi bingung diwajahnya.

“Ya! Kenapa wajahmu bertambah aneh seperti itu?” Aku pun mencubit pipinya karena sudah tidak tahan melihat ekspresinya yang seperti itu.

“Ya appo!!” Apakah teriakan seperti ini yang dihadapi Se Hun setiap hari. Dia hampir saja membuat vas bunga dimeja samping ranjangnya tumbang.

“Kenapa kau berteriak seperti itu? Kau hampir saja membuat rumah sakit ini runtuh.” Ujarku.

“Kenapa kau mencubitku? Sakit tahu!”

“Lagian wajahmu itu tidak benar. Kenapa kau memasang wajah seperti itu dikala aku memberikan tawaran bagus seperti tadi?”

“Aku bingung. Makanya ekspresiku seperti tadi? Maksud mu apa, Lay..”

“Panggil aku oppa. Aku paling tidak suka dengan embel embel seperti ssi dibelakang namaku. Yang jelas  aku menginginkanmu menjadi partnerku dalam proses pembuatan album ini sebagai pencipta lagu, Min Young.”

“Tapi bagaimana bisa aku melaksanakannya. Aku belum pernah Menciptakan lau. Paling jauh, aku hanya mengarasemen lagu.”

“Tenang saja. Kau hanya menciptakan lagu. Aku yang menambahkan musiknya.” Ujar ku sembari menatap manik matanya.

“Tapi..”

“Temanya First Love. Apa kau bisa?” Lagi lagi aku memotong perkataannya.

“Ah.. Jeongmal? Aku saja belum pernah merasakan first love. Bagaimana bisa aku membuatnya!”

“Dan kurasa sebentar lagi, kau akan merasakannya.” Ujarku yang kembali membuatnya mengeluarkan wajah seperti saat aku mecubitnya tadi. Puppy Face. Aku akan memberi nama itu pada wajahnya yang seperti ini.

“Shirreo. Bukannya oppa master dibagian ini. Kenapa harus memintaku membantumu?”

“Eits! Bukan membantu tetapi menjadi partner.”

“Tetap saja aku tidak mau!” Ucapnya. Kurasa dia lebih keras kepala dari yang kuduga. Pandanganku bahwa dia yeoja lugu sekarang mulai berubah menjadi yeoja keras kepala.

“Apa kau ingin menyi nyiakan waktu bersama idolamu sendir, Min Young-a?” Ujarku kembali menatap manik matanya. Entah mengapa setiap aku menatapnya ku selalu merasa kalau aku bertambah menyukainya.

“Aku sudah cukup tersiksa mengenal kalian, oppa.” Ujarnya menunduk.

“Jika kau menolaknya, kau juga menolak kesempatan menjadi trainee SM.” Ujarku lalu membuatnya mengeluarkan puppy facenya lagi.

“Jadi, Jika aku membantu oppa untuk menciptakan lagu untuk album oppa, aku akan diterima menjadi menjadi Trainee SM?” Tanyanya masih dengan waja puppy facenya.

“Dipertimbangkan. Jika kau berhasil dengan lagu itu dan hasilnya tidak mengecewakan. Kau berhak untuk menjadi Trainee SM.” Jawabku.

“Baiklah. Aku akan membantu oppa. Kau memang yang terbaik oppa. Terbaik dalam memberikan tawaran.”

“Ini sebagai ucapan terimakasih.” Aku pun memberikan sebuah bingkisan yang sudah aku siapkan untuknya.

“Ige Mwoya?” Tanyanya. Dengan hati hati dia membuka bingkisan itu setelah aku memberinya kode untuk membukanya.

“Woah. Darimana oppa tahu kalau aku suka boneka Teddy?”

“Molla. Aku hanya menebaknya.” Dengan bahagianya dia memeluk boneka tersebut.

‘Neomu Joahae, Min Young.’

*EXO’s Dorm* 08.00 PM KST

*Baek Hyun POV*

“Apa yang sedang mereka lakukan? Apa yang sedang mereka bicarakan?” Langi langit dorm ini sebenarnya sangat tidak menarik untuk dilihat. Tapi bagaimana pun jika kita dalam posisi telentang kita akan menatap apapun yang berada diatas kita kan? Termasuk Langit langit ini.

“Ya! Baekhyun, kenapa kau jadi mengkhawatirkan yeoja itu? Seharusnya yang kau khawatirkan adalah lirik lagu yang harus kau selesaikan. Ah, Lay hyung sudah membuatku pusing.” Aku pun duduk dan segera mengambil notes biru yang tergeletak disamping tempat tidurku.

“Temanya First Love. Aku sudah beberapa kali mengencani wanita. Dan sudah merasakan first kiss. Tapi rasa seperti First Love itu belum pernah sama sekali terlintas dihatiku. Tak pernah satu pun dari mereka yang bisa kuanggap First Love. Bagaimana aku harus menyelesaikannya, huh? Aisshh! Jeongmalyo..!!” Ujarku pada diriku sendiri. Saat ini aku sedang berada dikamarku sembari duduk diatas tempat tidur ini. Ditanganku sebuah pulpen dan sebuah notes sudah menunggu untuk kutulis. Tapi sedari tadi belum ada kata kata yang melintas dibenakku.

“Aku harus keluar untuk mengembangkan kreatifitas.” Aku pun beranjak keluar dari kamarku dan segera berjalan kearah balkon.

“Ya, dia kenapa?” Tanya D.O kepada Chan Yeol.

“Dia ditunjuk untuk menjadi pencipta lagu dalam album debut solo Lay hyung. Dan kau tahukan temanya? First Love. Dan dia sama sekali belum pernah merasakan hal itu. Sudah berapa yeoja yang ia kencani tapi tidak ada yang mengena dihatinya.” Jelas Chan Yeol.

“Bukannya kau juga?”

“Aku lelaki normal hyung. Aku sudah merasakan First Love walau tidak sesering dia dalam hal mengencani yeoja.” Ujar Chan Yeol.

Aku yang sempat mendengarkan ucapan mereka menjelang menuju balkon sempat berhenti dimeja makan sambil berdehem, “Ehem! Ada yang sedang membicarakan aku ya? Kok tenggorokan aku ini rasanya ingin batuk terus?”

“Eh.. Oh.. Baekki-a. Kau belum mendapatkan ide untuk lagunya?” Ujar Chan Yeol dengan wajah Clumsy bertanya kepadaku.

“Ani. Kalian sedang apa?”

“Memasak.” Jawab D.O.

“Kukira kalian membicarakanku..” Lalu aku pergi meninggalkan mereka yang gelagapan karena tertangkap basah sedang membicarakanku.

“Hyung..” Sesaat aku sampai dibalko dorm, aku melihat Kris hyung sedang duduk mendengarkan lagu di handphonenya.

“Ya.. Bro.. Wae? Kenapa wajahmu murung seperti itu?” Tanyanya.

“Apa hyung pernah merasakan First Love?” Tanyaku dengan wajah clumsy.

“Ya! Kau sudah mengencani berapa gadis, huh? Apa tidak ada dari mereka yang merupakan First Love-mu?”

“Ani. Ah.. Jeongmal. Aku bingung.” Ujarku frustasi lalu menjambak rambutku sendiri.

“Apa ini untuk album Lay?” Tanyanya.

“Ne hyung.”

“Itu terlihat mudah saja. First love itu, disaat kit merasa gugup ketika bersama seseorang Tapi rasa gugup itu tidak pernah kita rasakan pada orang lain. Yang jelas First Love tu adalah rasa yang tidak pernah kita rasakan pada yeoja lain akhirnya kita rasakanketika berhadapan dengan seorang yeoja. Dengan arti bahwa yeoja tersebut adalah First Love kita.”

“Lalu?” Tanyaku dengan raut ingin tahu.

“Yang jelas First Love itu bisa saja terjadi dengan orang yang tidak pernah kita duga. Contohnya, mungkin saja kau dan… Min Young…”

“Ya! Hyung, apa maksudmu?”

“Yang terjadi antara kau dan Min Young itu sama seperti yang terjadi antara aku dan kau tahu First Love ku siapa kan? Yah awal kisah kami sama persis seperti kau. Yang diawali oleh salah paham dan sedikit perkelahian.”

“Aisshhh! Hyung semakin membuatku kacau saja.” Ujarku dengan kesalnya membenamkan kepalaku dikedua telapak tanganku.

“Hyung masuk ya.. Hyung sudah lapar.” Kris pun meninggalkanku sendirian dibalkon.

“Ahh!! Kepalaku.. Jjinja.. Ya!” Aku pun menekan kedua pelipisku sambil berusaha memikirkan bait awal untuk lagu ini.

‘Sedang apa Min Young sekarang? Apa yang sedang ia lakukan bersama Lay? Siapa orang yang akan menjadi partner Lay hyung untuk lagu terakhir itu? Bagaimana jika kunjungan Lay hyung yang menjenguk Min Young adalah untuk mengajaknya menjadi partner untuk lagu itu?’

“Ya!!! kenapa aku harus memikirkannya!! Ayo!! Baekhyun kau pasti bisa memikirkannya..” Aku mengambil ponselku dan segera mencoba menghibur diri. Entah mengapa aku memilih untuk membuka galeri. Aku baru sadar kalau aku menyimpan beberapa foto Min Young di album foto foto yeoja yang telah kukencani.

‘Senyumnya.. aku baru menyadari bahwa senyumnya indah.’ Entah mengapa perasaanku menjadi seperti ini, ketika melihat fotonya dihadapanku.

“Ahh!! Kris hyung sudah membuat pikiran ku konslet..”

“Itu terlihat mudah saja. First love itu, disaat kit merasa gugup ketika bersama seseorang Tapi rasa gugup itu tidak pernah kita rasakan pada orang lain. Yang jelas First Love tu adalah rasa yang tidak pernah kita rasakan pada yeoja lain akhirnya kita rasakanketika berhadapan dengan seorang yeoja. Dengan arti bahwa yeoja tersebut adalah First Love kita.”

“Yang jelas First Love itu bisa saja terjadi dengan orang yang tidak pernah kita duga. Contohnya, mungkin saja kau dan… Min Young…”

“Yang terjadi antara kau dan Min Young itu sama seperti yang terjadi antara aku dan kau tahu First Love ku siapa kan? Yah awal kisah kami sama persis seperti kau. Yang diawali oleh salah paham dan sedikit perkelahian.”

‘Apakah aku menyukaimu, Min Young?’

3 pemikiran pada “Thriller Love (Chapter 4)

  1. ya ampun baekhyun gak akan tidak berantem jika bertemu minyoung.
    sebenarnya minyoung end sma siapa kenapa banyak sekali yang suka dengan dia..
    sera jahat banget ya..
    apa dia suka dengan baekhyun..
    next chapternya ya thor..
    mau tau gimana lagu ciptaan baekhyun dan minyoung..
    hehehe

  2. Aduhhh
    Mian ya kalau ada kesalahan atau kebungungan antara nama jiyeon dan tasya. Soalnya karakter tasya itu namanya jiyeon, jadi aku ngeditnya tuh gk terlalu teliti. Maaf.. Saya masih amatir..
    Klu soal siapa yg suka sama minyounv atau minyoung sama siapa? Kita lihat aja di 2 chapter sesudah ini yang masih dalam pengerjaan..
    Maaf ya klu agak lama updatenya soalnya banyak pr dan imajinasi buntu..
    Ttd: author (kimkicha28)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s