A Longlast Happiness (Chapter 4)

A Longlast Happiness

Title: A Longlast Happinnes (Chapter 4)

Author: Jung Rae Mi

Cast: -EXO’s Sehun

-OC’s Se Ra

-etc

Genre: Angst, Sad, Romance

Rating: PG-16 (turun)

Length: Chapter

A.N: udah chapter 4!!! *renggangin tubuh* kembali lagi dengan author super kejam ini *lambai tangan bangga* *Se Ra: capek gua jadi tokoh FF-nya*.  Malas nge-bacot,

Happy Reading!! ^^

.

.

.

Oppa, kenapa Oppa diam saja ketika melihat ibu Oppa mencium lelaki lain?” Tanyaku saat itu.

Suho Oppa tersenyum lembut. “Karena akhirnya aku melihat sebuah cinta dimata Eomma, dan senyum bahagianya yang tulus, yang selama ini tidak pernah aku lihat. Dia bahagia, maka aku bahagia.”

.

.

.

Sehun awalnya sedang sarapan tenang dengan waffle dan sirup apel yang dibuatkan Se Ra, namun pertanyaan Se Ra membuatnya tersedak.

Oppa, apakah kau tidak mencintai Min Ah Eonnie?”

Setelah meneguk air putih dan menormalkan nafasnya, hazel Sehun segera menatap ke caramel Se Ra. “Kenapa kau bertanya seperti itu?”

Se Ra menelan ludah gugup. “Oppa berpacaran satu tahun dengannya. Min Ah Eonnie itu cantik. Ia pernah menjadi model. Ia pintar, mendapat cum laude saat kuliah dulu dan pernah menjadi asisten dosen. Ia juga bisa memasak, orangnya baik dan ramah. Meskipun ia mengidap gagal ginjal, tapi dibalik itu, ia sempurna, Oppa. Dibandingkan denganku, aku tidak ada apa-apanya. Oppa yakin tidak jatuh cinta padanya?” Se Ra menunduk.

Sehun meletakkan garpunya lalu menarik wajah Se Ra hingga mata yang disukainya itu menatap ke hazel miliknya. “Kau itu takdir terindah hingga akhir hidupku Se Ra.”

“Ta-tapi bagaimana jika Min Ah Eonnie-lah takdir Oppa, bukan aku? Mungkin suatu saat nanti Oppa akan sadar bahwa Min Ah Eonnie adalah takdir Oppa, bukan?”

Sehun menggeleng pelan. “Takdir terindah hingga akhir hidup bukanlah sesuatu yang berkembang seiring berjalannya waktu. Takdir itu akan terasa sejak awal bertemu. Dan aku merasakan itu ketika melihatmu Se Ra.”

“Ta-tapi Oppa, aku rasa aku tidak mungkin takdir Oppa. Kita pasti akan bersama jika kita ditakdirkan, bukan?”

Amarah Sehun mulai naik. Tapi ia berusaha menahannya. “Aku bisa menceraikan Min Ah. Dengan begitu kita bisa bersama, ‘kan?”

Andwe Oppa! Andwe! Min Ah Eonnie mencintai Oppa, dengan itu dia akan bahagia.”

“Tapi bagaimana denganmu?! Apa kau bahagia? Apa kau senang ketika melihatku menciumnya di altar kemarin? Apa kau senang ketika melihat ia menyuapiku ketika makan malam kemarin? Apa kau senang ketika melihatku masuk di kamar yang sama dengannya?!”

Tubuh Se Ra bergertar pelan. Memang tidak ada kebahagiaan yang ia rasakan sejak kemarin. “A-aku hanya ingin Eomma melihatku, Oppa… sekali saja… aku ingin…”

Seketika Sehun merasa bersalah telah lepas kendali dan membentak gadisnya. Ia segera mengusap kepala Se Ra lembut dan membawa Se Ra kedalam pelukannya. Se Ra terisak pelan.

Apakah sebegitu sulitnya untuk meminta pada Eomma untuk tersenyum tulus padanya?

.

.

“Aku tidak percaya Sehun bisa bertahan untuk mencintaimu. Minta Sehun untuk menikah dengan Min Ah.”

“A-apa?”

“Iya. Min Ah mencintai Sehun, tidakkah kau lihat? Aku hanya ingin anakku bahagia, dan Min Ah bahagia dengan Sehun. Kau harusnya sadar Se Ra, Min Ah dan Sehun sangat cocok. Min Ah itu sempurna sama seperti Sehun, sedangkan kau?”

Eomma aku-“

“Aku akan sangat bangga padamu jika membuat Min Ah bahagia.”

“….. Baiklah, aku akan bicara pada Sehun.”

.

.

Mungkin Se Ra sadar namun bertingkah seolah menutup mata. Atau mungkin Se Ra tidak tahu sama sekali.

Tapi Sehun tahu,

Bahwa ibu Se Ra itu selalu menggunakan kelemahan Se Ra agar Se Ra menuruti setiap kemauannya yang selalu merugikan Se Ra.

Dia selalu berkata bahwa ia akan bangga jika Se Ra melakukan kemauannya.

Dan sejak dulu, Se Ra ingin mendapatkan seulas senyuman tulus dari ibunya yang bahkan pernah tidak menjemputnya ketika sekolah dasar dulu membuatnya menunggu selama 6 jam sebelum Kai yang baru pulang dari latihan dance datang menjemputnya.

Sehun sadar, bahwa wanita itu tidak pernah bangga pada Se Ra. Ia tidak akan pernah bangga pada Se Ra.

Tidak akan pernah.

.

.

.

Se Ra awalnya tidak yakin dengan keputusannya ini. Tapi ketika ia melihat kearah kalender, ia akhirnya yakin.

Sejak kemarin, Se Ra pikir mungkin hanya terlambat, namun sekarang semuanya terasa yakin. Maka tidak ada alasan lagi bagi Se Ra untuk menunda keberangkatannya nanti.

.

.

.

Waktu beberapa hari bagi Se Ra tidak akan cukup untuk bersama Sehun. Ia memerlukan waktu selamanya. Tapi bagaimana lagi, inilah resiko yang harus dia ambil. Kini ia hanya bisa diam menatap Min Ah yang pulang dan segera meraih bibir Sehun. Ia hanya bisa tersenyum tipis dan masuk ke kamar.

Ia membuka ransel-nya dan mengambil sebuah kotak musik disana. Dibukanya kotak musik itu dan alunan lagu Dream A Little Dream of Me-nya Yiruma membelai telinga Se Ra. Usai lagu berdurasi 2 menit 12 detik itu bermain, terdengar suara seorang lelaki dari kotak musik itu. “Will you marry me?”

Se Ra terisak. Tubuhnya bergetar kuat. Air matanya berlomba membasahi pipi. Liquid itu bahkan menetes pada kotak musik di pangkuannya.

“Mianhaeyo Suho OppaMianhaeyoMianhaeMianhae… Aku tidak bisa…”

.

Lelaki itu menyandarkan punggungnya di pintu berwarna coklat. Ia mendengarkan dengan seksama lagu karya Yiruma yang ia tahu sangat disukai oleh Min Ah, Kai, dan Se Ra, yang terdengar dibalik pintu ini. Jemarinya bergerak kecil seolah sedang bermain piano, ia sudah hafal dengan baik lagu ini karena kekasihnya itu sangat menyukainya. Mereka sering memainkan lagu ini bersama.

Lalu hazel-nya membulat mendengarkan sebuah suara samar dibalik pintu kamar. Empat kata yang selama ini ia impikan untuk mengatakannya pada kekasihnya, bukan kakak kekasihnya.

Dan mendengar isakan kekasihnya di balik pintu ini, menyebutkan nama Suho, ada sebuah denyutan di dadanya.

Sekalipun kekasihnya sering berkata jika Suho bukanlah siapa-siapa, bukan orang yang dicintainya, dan sudah dianggap kakak olehnya,

Tapi entah mengapa, selalu ada sedikit rasa sakit yang mencubit hatinya.

.

.

.

“Mana Se Ra?” Tanya Min Ah sembari mengambil tempat duduk disamping Sehun.

“Istirahat di kamar. Katanya ia pusing dan mual.” Jawab Kai.

“Masuk angin?” Tanya Min Ah lagi. “Aku akan membuatkan bubur untuknya selesai aku makan.”

Kai memilih untuk mengangguk seadanya. Ia segera melahap makanannya. Sedangkan Sehun menoleh ke arah Min Ah dan tersenyum tipis, “jangan. Kau harus segera minum obat dan istirahat. Aku saja yang buat.”

Min Ah tertawa kecil. “Mwoya? Memangnya kau bisa memasak?”

“Se Ra pernah sakit dulu ketika di Paris, kelas 2. Aku yang membuatkan sup krim untuknya. Selama sup krim itu ditemani roti panggang, dia akan memakannya.” Jawab Sehun.

Istrinya itu mengangguk mengerti. Ia mulai melahap makanannya. Berusaha melupakan denyutan di dalam dadanya yang merasa tidak suka akan kenyataan yang diucapkan suaminya barusan.

.

.

.

Setelah memastikan sup krimnya enak dan aman dimakan untuk Se Ra, ia segera membawa semangkuk sup, dua roti panggang, dan segelas air putih, menuju kamar Se Ra.

Ia segera membuka pintu berwarna coklat itu, masuk, lalu menutupnya. Ditatapnya sosok gadisnya yang sedang bersandar di kepala ranjang sembari memejamkan mata. Ada earphone berwarna putih yang menyumpal telinganya. Tungkainya merajut langkah lalu duduk di sisi ranjang. Gadis itu segera membuka mata dan tersenyum menatapnya. “Waeyo, Oppa?”

Sehun membalas senyuman itu, “bukankah dokter bilang kau harus minum obat? Makanlah. Aku yang buat.”

Se Ra segera mengambil sup itu lalu mulai menyendokkannya di mulutnya. Sedangkan Sehun menaruh nampan itu di nakas samping ranjang dan membuka ransel Se Ra, mencari botol obat milik gadis itu.

“Bagaimana rasanya?” Tanya Sehun sembari berusaha meraih botol obat yang berada dibagian paling bawah ransel Se Ra.

“Aman untuk dimakan.” Jawab Se Ra sembari tertawa yang dibalas kekehan dari Sehun. Se Ra menguyah roti panggangnya lalu menyadari bahwa tangan Sehun kini menemukan sebuah kertas putih yang agak kusut. “Oppa, andwe-

Terlambat. Sehun sudah membaca kertas itu. Lelaki itu menoleh ke arahnya. Caramel Se Ra menatap perlahan ke arah Sehun. Wajah datar tanpa ekspresi, alis yang tampak normal, mata yang menyiratkan tidak ada rasa apapun, maka Se Ra takut. Karena itu berarti Sehun marah.

Ige mwoya?” Tanya Sehun dengan nada sedikit membentak.

O-oppa…”

“Kau tidak memberitahuku? Stadiummu naik? Se Ra, sudah ketiga dan kau-“ Sehun tidak sanggup melanjutkan perkataannya lagi. Ia tidak pernah bisa marah pada Se Ra. Rasa menyesal kini menyelubungi hatinya melihat tatapan takut dari caramel kesayangannya itu.

Sehun menarik nafas pelan, lalu meraih botol Se Ra kemudian mengeluarkan 4 pil dari sana dan menaruhnya di piring kecil di nampan.

Tangan Sehun mengusap lembut kepala Se Ra. “Mian, tadi aku kelepasan. Maafkan aku, ma cherie. Aku tidak sengaja.”

Se Ra mengangguk pelan dan lanjut melahap sup-nya. Sehun tersenyum tipis melihat sosok gadisnya yang terlihat menggemaskan. Tangannya refleks terjulur dan mencubit pipi Se Ra yang menggembung karena makan. Se Ra menatap Sehun kesal lalu melanjutkan makannya.

Usai makan, Se Ra segera meminum obat lalu merebahkan dirinya. Sehun membungkuk lalu mencium lembut kening Se Ra, kemudian turun kehidung, lalu berakhir di bibir.

Sehun mengecupnya lembut dan memberikan sedikit lumatan sebelum mengusap kepala Se Ra dan membawa nampan itu keluar dari kamar. Se Ra juga harus beristirahat.

.

.

.

Sehun bermimpi malam itu. Ia bermimpi bahwa ia terbangun dari tidur yang nyenyak. Lalu dihadapannya ada seorang bayi kecil, yang memiliki bentuk wajah, dan hidung, yang mirip dengannya. Bibir bayi itu mirip dengan bibir Se Ra. Ketika kelopak mata bayi itu terbuka, ia melihat hazel indah milik bayi itu. Rambutnya yang tipis dikuncir keatas terlihat lucu.

Bayi itu tertawa manis, memperlihatkan gusi yang belum ada giginya. Tawanya ceria. Dan di dekat bayi itu ada bayi lainnya lagi. Bayi yang mirip dengan bayi berkuncir itu. Rambut bayi itu tidak dikuncir seperti yang satunya. Namun bayi itu memiliki caramel Se Ra. Bayi itu juga tertawa ceria.

Dan kedua mata Sehun bertemu dengan kedua mata Se Ra yang berbaring dibelakang kedua bayi itu. Tangan Se Ra mengusap lembut punggung bayi berkuncir lalu menggenggam tangan Sehun.

Kedua bayi yang tengkurap itu kembali tertawa riang, lalu tangan mungil keduanya menyentuh bibir Sehun sambil berujar girang, “Ppa!”

Sehun terbangun malam itu dengan setetes air mata yang mengalir di pipinya.

Ia menarik nafas sejenak dan kembali merebahkan tubuhnya.

Apakah masa depan kami akan seindah itu? Jika benar Tuhan, kumohon, berikanlah jalan terang agar aku bisa bersama Se Ra kembali.

.

.

.

“Minta Sehun agar berpacaran dengan Min Ah.”

Mwo? Tapi Eomma, aku dan Sehun Oppa berpacaran.”

“Oh ayolah, tidak mungkin Sehun akan bertahan selamanya dengan dirimu. Kau baru menjadi sepasang kekasih selama 6 tahun dan kau merasa bangga dengan itu? Sehun pasti akan mencintai Min Ah. Min Ah itu sempurna, dan kau? Kurang dalam sebulan berpacaran dengan Min Ah, Sehun akan melupakanmu. Dan aku hanya ingin membuat Min Ah bahagia, karena kau tahu, ginjal aku dan ayahmu juga Kai tidak cocok dengan Min Ah. Jadi suatu saat Min Ah pasti akan mati, dan aku ingin dia bahagia. Jadi kumohon, biarkan ia merasakan cinta sekali saja, karena ia sangat mencintai Sehun.”

“Tapi-“

“Aku sangat bangga padamu jika kau ingin melakukannya, Se Ra…”

“……… A-a-aku akan bicara pada Sehun Oppa.”

.

.

.

Kai sedang memotong pancake-nya lalu menyuap kedalam mulutnya. Disampingnya ada Sehun yang sedang menyesap cappuccino buatan Min Ah, begitulah yang Se Ra katakan tapi Sehun tahu jika Se Ra yang membuatnya, sambil memainkan tab-nya, melihat diagram perusahaannya.

“Se Ra, bisakah kau ambilkan koran di depan dan carikan aku berita terbaru tentang Ashton Kutcher?” Tanya Min Ah sambil menuang cappuccino dalam mug-nya. Ia sempat membaca skandal tentang idolanya itu kemarin, jadi mungkin akan ada berita terbaru tentang skandal yang dialaminya.

Se Ra mengangguk lalu berjalan menuju pintu utama dan mengambil koran di depan pintu. Ia segera membalik halaman demi halaman koran itu, mencoba membaca satu persatu berita, artikel, dan wacana yang ditulis dengan font yang cukup kecil.

Sedangkan Kai dan Sehun terdiam sejenak. Merasa ada yang janggal.

Caramel Se Ra masih berusaha mencari berita itu. Matanya menyipit ketika membaca huruf-huruf kecil itu. Deretan huruf-huruf itu membuat kepalanya terasa pusing dan ia merasa mual. Se Ra segera membanting koran itu dan berlari menuju kamar mandi, tidak tahan lagi dengan rasa mual yang menyelimuti tubuhnya.

Mendengar suara ‘srak’ yang mereka yakini bahwa itu suara koran yang jatuh, membuat Kai dan Sehun sadar apa yang janggal. Dan membuat Min Ah terkejut karena melakukan sebuah kesalahan.

“Koran itu hurufnya kecil!” Teriak Kai pada Min Ah sebelum berlari menuju kamar mandi.

Min Ah berlari menuju kamar mandi. Ia panik. Karena dia-lah yang membuat Se Ra seperti ini. Wajah Se Ra terlihat pucat. Tubuhnya lemas. Ia tersenyum menatap Min Ah dan menggeleng. Mengatakan bahwa ini bukan salahnya.

Karena memang ini bukan salah Min Ah.

Melainkan salahnya sendiri.

.

.

.

To be continued

.

.

.

Oke, ini aneh.

Betewe, sejak kemarin author udah sadar kalau judulnya emang salah. Tapiiii, males ngedit *ditendang*

Ini mungkin chapter paling aneh, ya. Hahahaha.

Komentarnya jangan lupaaa~! ^^

Iklan

25 pemikiran pada “A Longlast Happiness (Chapter 4)

  1. ohh jadi minah sakit jantung ya thorr..aaa kyaaa..hiks.hiksss..tapi lebih kasihan sama sera nya… yang di koran itu ada tulisan apaan sih???

  2. lah sera sakit apa pke stadium2,,,trus tulisan kecil d koran??? alesan ajj ap gmn??? sera sakit apap???? akhhh sera sakit q juga ikut skitttt

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s