Cynicalace (Chapter 16)

Cynicalace (Chapter 16)

cyc baru jpeg

Title : Cynicalace

Author : NadyKJI & Hyuuga Ace

Length : Chaptered

Genre : Romance, Comedy, Friendship

Rate : G

Main Cast :

Jung Re In (OC)

Geum Il Hae (OC)

Park Chanyeol (EXO)

Kim Jong In (EXO)

Web : cynicalace.wordpress.com

 

Disclaimer: Annyeong, ff ini adalah murni hasil pemikiran author yang kelewat sangat tinggi, dilarang meniru dengan cara apapun, don’t plagiator. Gomawo #deepbow.

 

Summary :

Aku tidak membencimu. Aku hanya tidak ingin berurusan lagi denganmu. Tapi mengapa kau selalu hadir di sekitarku layaknya modul akuntansi yang selalu kubawa setiap hari. Wajahmu mengangguku tapi aku mulai merindukannya ketika wajah itu menghilang dari keseharianku. Oh, menyebalkan.

–Jung Rein–

Aku tidak sudi, aku tidak sudi, aku tidak sudi! Dia menyebalkan, cuek, dan dingin. Tapi… terkadang dia baik juga walau dengan muka datar, terlihat tulus, dilihat-lihat juga ia lumayan.. bukan, tampan… Argh! Aku menyerah, sepertinya karma itu berlaku.

–Geum Ilhae–

Sama seperti panggilannya, yeoja itu memang kelewat bodoh. Sialnya, karena terbiasa menjadi dampak dari perilakunya, aku menjadi terbiasa untuk selalu hadir di sisinya. Namun entah mengapa aku merasakan keberadaanya bagaikan pelangi dalam keseharianku yang hanya dihiasi dua warna – hitam dan putih.

–Kim Jong In–

Melihat wajah seriusnya, merasakan kesinisannya padaku. Itulah makanan keseharianku karena ulahku sendiri. Well, kau memang bodoh dan gila jika bersangkutan dengan yeoja itu. Kau terlalu gila Park Chanyeol.. tapi, aku tidak keberatan gila untuknya. It’s a pleasure.

–Park Chanyeol–

 

Author’s Note:

Chapter 16 mengudara jugaaaa >.< YOW!!Ada yang kangen sama cyc? Marilah kitasimak fullchapter spesial buat kencannyaKaiHae kkkk~Tp Rein dan Chanyeol tetepnongol dikit kok..Dan satu hal, chapter inifull author’s pov hihihisemoga ga boseninyooo~

Baiklah, enjoy the story yaaaa>.<

 

HAPPY READING~~!

___

 

-:Author’s PoV:-

“Ju…Jung…Jung… Rein!” Ilhae tengah memegang tangan Rein atau lebih tepatnya bergelendot pada Rein yang terseok-seok berjalan menuju pintu apartemen mereka.

Rein membuka pintu apartemen dan mendorong Ilhae, dia tidak sabar ingin mengusir anak kecil yang tengah berulah itu – menurut pendapatnya – bahkan Rein merasa Reno lebih baik daripada Ilhae saat ini.

Ilhae yang tengah menahan daun pintu sebelum dihentak tertutup oleh Rein berkata. “Tidak bisakah kau ikut? Jebal? Untuk menjadi pengawas? Atau pawang kalau mau?”

“P-PAWANG?! Heol! Shirreo!” Rein sudah gatal ingin menutup pintu jika saja ia tidak memikirkan kemungkinan jari Ilhae yang patah – hal yang tidak boleh terjadi terutama hari ini. Pawang? Dia kira kebun binatang?

“Ayo –”

BRAK!

“Aku mau tidur! Ini hari Sabtu dan kewajibanku adalah tidur dan bermalas-malasan di apartemen! PERGILAH ILHAE!”

Omona…” Ilhae mengusap-ngusap ujung hidungnya yang nyaris mencium pintu karena kebarbaran Rein.

“Apa yang terjadi? Kau tahu suaranya terdengar jelas bahkan dari ujung lorong.”

Ilhae langsung menoleh dan membuang muka sesaat kemudian. “Aku diusir Rein.” Jawabnya sakarstik.

“Kalau begitu bagus, karena kau memang tidak memerlukan apartemen seharian ini. Kkaja.”

Mendengar ajakan untuk pergi, yeoja bernama Ilhae tengah menjalankan hari kebalikan sepertinya, karena yeoja itu sama sekali tidak bergerak dari tempatnya sampai orang yang menarik tangannya berhenti karena merasakan beban dan berbalik.

Wae?”

Daripada menjawab, Ilhae memilih untuk mengamati Kai dari rambutnya yang tertata seperti biasa, kaus biru gelap nyaris hitam yang dikenakannya, jeans hitam, dan sepatu berwarna hitam pula.

Well, Hae-hae, kau sudah cantik, jadi ayo berangkat.” Kai melihat Ilhae dari atas ke bawah. Mulai dari rambutnya yang tergerai seperti biasa, kemeja fanel lengan sesiku berwarna coklat tua kotak-kotaknya, jeans biru, sneakers lusuh berwarna coklat muda, dan tas selempang hitamnya yang tidak pernah berubah.

“Kenapa kau tidak memakai kacamatamu?” Kai memiringkan kepalanya.

“Bagaimana jika nanti kacamataku terlempar saat menaikki wahana?”

Kai menganggukkan wajahnya setuju. “Masuk akal.”

Lalu mereka melangkah meninggalkan lorong apartemen dan memasuki lift.

“Hmm, Kai.”

Ne?”

Ilhae menatap lantai tidak berani menatap ke arah lain, bahkan pintu lift yang memantulkan bayangan mereka berdua. “Kenapa kau menanyakan kacamata?”

“Untuk melengkapi penampilanmu supaya menjadi anak kutu buku.”

“Aku serius, Kai.” Jika saja Kai bisa melihat kalau Ilhae tengah memutar bola matanya.

“Supaya kau terlihat bodoh.”

“Kai!”

“Karena kau terlihat cantik dengan kacamata?”

Gotjimal!”

Kai tengah berusaha menekan tawa yang nyaris melucur dari mulutnya. “Karena orang ceroboh sepertimu terlihat lebih meyakinkan dengan kacamata – agar terlihat pintar.”

YAK!” Ilhae menghentakkan kakinya tepat ketika lift berhenti dan terbuka di basement.

Kai menaikkan alisnya. “Timing yang tepat Hae-babo.”

Heol!” Jika saja bukan karena tangannya yang digenggam Kai, Ilhae pasti sudah menggebuk namja itu dengan tas selempang kebanggaannya tersebut.

“Baiklah. Karena aku pertama kali bertemu denganmu.”

Ilhae yang selayaknya sudah melupakan topik tersebut secepat kilat menoleh dan terdiam sebentar. Kai menyadari kenyataan tersebut. “Wajahmu Hae-ya.”

Ilhae terperajat. “Ada yang salah dengan wajahku?”

Kai menggunakan tangannya yang bebas untuk mengusap wajah Ilhae dari atas ke bawah dan membuat Ilhae terkejut.

“Ayo, masuk saja.” Kai menjejalkan Ilhae setengah memaksa ke kursi penumpang.

“Ya! Ya! Aku masuk!” Ilhae menggembungkan pipinya dan Kai terkekeh sebelum menutup pintu dan berjalan menuju kursi pengemudi.

Brak.

“Baiklah, Lotte World, tuan putri?”

Ilhae hanya menganggukkan kepalanya singkat sebelum memalingkan matanya ke jendela, berusaha mendinginkan diri yang dirasanya demam mendadak – apakah ia harus minum antibiotik?

*-*-*

Rein baru saja hendak memasukki kamarnya ketika ia mendengar pintu apartemennya yang diketuk oleh seseorang. Jangan bilang itu Ilhae? Karena jika itu benar-benar Ilhae, Rein bersumpah ia akan segera menelpon Kai dan menyuruh namja itu mengurus sahabatnya yang sangat absurd beberapa hari kebelakang. Dia terus menerus meminta Rein untuk menemaninya berkencan dengan Kai, gila tidak? Mana ada kencan yang seperti itu?

TOK TOK TOK

“SEBENTAR!”

Rein berlari kecil ke arah pintu dan dengan luwes membuka pintu apartemennya untuk menemukan..

Bukan Ilhae untungnya, melainkan sosok jangkung Park Chanyeol yang hari ini terlihat fresh dengan rambut yang sedikit dicukur, sedang tersenyum lebar ke arahnya.

Chanyeol disisi lain, baru pertama kali melihat Rein tampak rumah. Maksudnya, Rein hanya memakai celana pendek dengan kaus belel khas orang yang mau menghabiskan sepanjang harinya hanya di rumah. Belum lagi rambutnya yang ia ikat asal sehingga terkesan berantakan. Tapi pemandangan ini begitu menarik sehingga senyuman Chanyeol makin melebar.

“Apa yang kau lakukan disini?” Namun senyuman itu jatuh ketika dia mendengar suara Rein yang begitu datar, seakan-akan tidak senang dengan kedatangannya yang tiba-tiba.

“Kudengar hari ini Ilhae berkencan dengan Kai. Jadi kukira kau akan sendirian di apartemen.”

Rein melemparkan tatapan yang artinya, ‘Lalu?’

“Aku ingin menemanimu.” Rein terdiam, jujur saja hatinya begitu berdebar kencang dengan kedatangan Chanyeol yang tiba-tiba tapi dia berhasil menutupi kegugupannya dengan kejutekannya. “..Boleh?”

Tapi suara Chanyeol yang begitu tulus dan polos meruntuhkan egonya untuk menjaga imagenya. Sehingga Rein tersenyum kecil. “Kau mau menonton film?” Tawar Rein ringan wajahnya tersipu ketika melihat Chanyeol mengangguk antusias bak anak anjing menemukan makanannya setelah tak makan 2 hari.

*-*-*

Setelah perjalanan 45 menit yang membuat Ilhae tertidur di kursi penumpang, Kai memarkirkan mobil di area parkir yang sudah disediakan pihak Lotte World. Baru saja Kai akan mencoba membangunkan Ilhae – yang pada kenyataanya adalah yeoja paling tidak bisa dibangunkan kecuali bangun sendiri – yeoja itu sudah menggeliat. Perlahan kelopak mata Ilhae menggeletar terbuka.

“Hoam –”

Kai sekali lagi melarikan tangannya pada wajah Ilhae, tapi kali ini dengan hadiah pukulan ringan.

PLAK.

“Kau mau membuatku kekurangan oksigen ya?” Ilhae kembali menguap dan menggosok matanya. Setelah dirasa cukup sadar dan pandangan matanya sudah kembali jernih Ilhae baru menoleh dan benar-benar menatap Kai.

Dhuar! “OMO! Maaf!” Ilhae menutup kedua mulutnya dengan telapak tangannya malu dengan apa yang baru saja diperbuatnya – sungguh tidak seperti yeoja!

Kai mengacak-ngacak puncak kepala Ilhae. “Gwaenchana aku sudah pernah merasakan yang lebih buruk. Tidak ingat?”

Dengan satu kedipan mematikan wajah Ilhae langsung memerah – IA INGAT! HUA! Ingat ketika ia tertidur di bus. Dia menampar Kai di depan banyak orang!

(Flashback Start)

Kala itu bus sudah berhenti di halte dan Ilhae masih tertidur dengan kepala menyandar pada Kai. Kai yang mengetahui dirinya dan Ilhae harus turun mencoba peruntungannya untuk membangunkan Ilhae. Kai yang belum mengenal Ilhae seperti Rein tidak menyangka kalau yeoja ini memiliki watak buruk ketika tidur, langsung mengguncang-guncangkan pundak Ilhae.

“Hae-babo, ireona! Sudah sampai.”

Ilhae yang tengah tertidur itu mengerutkan wajahnya dan setengah membuka matanya.

PLAK!

Cap tangan Ilhae langsung timbul di pipi Kai.

“Jangan ganggu tidurku!” Tangan Ilhae menarik kerah baju Kai sehingga Ilhae yang sudah berpindah posisi menyender ke jendela dalam proses menampar bertatapan sangat dekat dengan Kai yang masih syok.

Instant, semua isi bus yang belum berniat untuk turun langsung melihat ke arah mereka. Ada sepasang sahabat yang mengatakan kalau mereka pasangan yang sedang ribut. Ada juga nenek-nenek yang bilang kalau anak jaman sekarang ini terlalu frontal. Deru mesin bus mengeras ditengah keheningan Kai dan Ilhae menandakan kalau bus hendak berangkat. Kai yang pertama kali dan satu-satunya pihak yang sadar melihat Ilhae sudah memejamkan matanya lagi langsung terperajat.

Ajusshi!! Chankaman!”

Akhirnya dengan awkward dan terburu-buru Kai melingkarkan lengan Ilhae dan membuat yeoja itu bediri dalam papahannya.

“Yah! Kau mau menculikku ke mana~” Ilhae mengigau.

Jeosonghapnida, jeosonghapnida. Temanku sedang sakit.” Kai terpaksa membungkuk meminta maaf pada seluruh isi bus.

Jeosonghapnida ajusshi.” Kai berucap pada bapak supir sebelum benar-benar turun.

“Jagalah yeojachingumu dengan baik anak muda. Bawalah ke klinik terdekat. Dia mungkin demam.” Saran ajusshi sebelum menekan tombol tutup pintu otomatis yang membuat Kai malu.

Ilhae masih meronta-ronta dalam papahan Kai dan tidak bisa diajak bekerja sama setidaknya sampai berjalan ke perpustakaan.

“Hae-babo!! Apakah kau mau kerja?!”

“Tentu saja!”

Barulah setelah itu Kai bisa memapah Ilhae ke perpustakaan dan menempatkan yeoja itu di salah satu kursi terpojok. Setelah Ilhae berhasil duduk yeoja itu meletakkan kepalanya di meja dan melanjutkan tidur. Kai yang sudah kapok tidak ingin menimbulkan tragedi di perpustakaan mencoba tabah dan menggantikan yeoja itu di meja penjaga perpustakaan.

Satu jam berlalu, ketika Kai melewati meja Ilhae untuk mengembalikan buku pinjaman barulah ia melihat yeoja itu sudah bangun dan terbengong-bengong.

BRUK!

Kai membanting buku yang dibawanya ke hadapan Ilhae dan menjelaskan apa yang terjadi selama yeoja itu tertidur PULAS.

(Flashback End)

Sepanjang flashback Ilhae tidak begitu menyadari sekitarnya bahkan kapan dia dan Kai sudah sampai tempat pembelian tiket. Kai menarik tangan Ilhae sesaat setelah yeoja itu sadar dari lamunannya.

“Sudah selesai berpetualang ke masa lalunya nona?”

Kai menyeringai ketika melihat Ilhae mengangguk singkat dengan pipi memerah.

Tanpa bertanya apapun pada Ilhae, Kai menyeret Ilhae – membuat mereka berlari – menuju antrian sebuah wahana yang masih sepi. Karena hal itu pula Ilhae tidak sempat mengungkapkan isi kepalanya dan sudah duduk dengan manis di kursi terdepan wahana Flume Ride.

“Ya! Selamat datang di wahana Flume Ride, enjoy~” Yeoja yang menjadi petugas di wahana tersebut melambaikan tangan pada mereka – masih ada beberapa orang yang duduk di kursi belakang – dan Ilhae hanya bisa tegang sembari mencengkram pegangan di depannya.

TET!

Kereta mulai berjalan dan Ilhae mencoba menahan nafasnya lalu menoleh untuk melihat Kai.

MWO?! Kau gila!”

Kai menoleh. “Wae?”

“Masukkan ponselmu!” Ilhae melotot melihat Kai yang tengah menyorot mereka berdua dengan kamera ponselnnya.

“Kau harus melihat wajah tegangmu, lagipula banyak orang yang merekam diri ketika mereka menaikki wahana dan mempostnya di youtube.” Jawab Kai.

Andwae! Masukkan ponselmu!”

Melihat Ilhae yang bersikeras akhirnya Kai menurut dan memasukkan ponselnya tepat pada saat mereka sudah berada di puncak tertinggi Flume Ride. Ilhae dengan sigap mencengkram pegangan di depannya dan memejamkan mata. Satu detik berselang Ilhae sudah kehabisan nafasnya karena tercengang oleh sejumlah air yang membasuhnya di sisi kiri dan sedikit di depan.

“YAK! BASAH! INI DIA! AKU TIDAK MAU MAIN PERMAINAN YANG BASAH-BASAHAN DULU!” Ilhae mengomel sementara kereta mereka masih berjalan menuju puncak kedua atau yang terkahir.

Well, tidak ada salahnya basah Geum Ilhae.”

“Tidak jika aku membawa baju ganti! Kau mungkin bawa –“

“Aku tidak membawanya.” Kai memotong Ilhae dan memandang lurus ke depan. Menunggu kereta mereka menuju puncak kedua sekaligus reaksi Ilhae yang akan jatuh pada ketinggian tertentu tersebut secara tidak sadar di sela-sela gerutuannya.

“Ish! Tidak bisakah – HYAA!” Ilhae kehilangan suaranya ketika ia merasakan gaya gravitasi yang kental menariknya ke bawah, tangannya refleks mencengkram pegangan dihadapannya tetapi satu tangan kanannya mencengkram lengan Kai kaget.

Splash. Satu kali lagi mereka yang sangat tidak beruntung karena duduk paling depan mendapatkan guyuran air walau tidak sehebat yang pertama.

Kereta memelan ketika sudah sampai ke destinasi awal dan Ilhae segera turun sembari misuh-misuh dengan lengan bagian kirinya yang dingin karena basah. Sementara Kai masih sempat bercanda dengan yeoja yang mengoperasikan wahana sebelum berjalan kembali ke sebelah Ilhae.

Heol! Sekarang kita basah kuyup! Puas?!” Ilhae memalingkan wajahnya jauh-jauh dari Kai dan memandang asal stand-stand makanan yang mereka lewati.

“Oh ayolah, baju akan kering dengan sendirinya. Sesudah ini kita akan menaikki wahana yang mengayunkan kita di udara. Baju kita akan kering karena diangin-angin.” Kai menjawab santai.

Geez! Itu hanya akal-akalan – Baiklah. Ayo kita menaikki wahana yang mengguncang adrenalin dan membuat baju kering.” Di tengah-tengah amukannya Geum Ilhae mendapatkan pikirannya kembali. Bukankah dia ke sini ingin membuat Kai menderita sesuai usul Rein? Tidakkah ia sendari tadi hanya sibuk salah tingkah karena Kai?

“Karena aku sudah memilih tadi, bagaimana denganmu?”

Ilhae mengangguk setuju dan lumayan senang karena kesempatan yang didapatkannya. “Baiklah, French Revolution.”

Sesudah itu mereka berjalan lagi keluar dari gedung dan menuju arena Magic Island. Ilhae yang sudah lumayan familiar dengan tempat ini tentu saja mengetahui dengan pasti letak setiap wahana yang pernah dijamahnya dengan Rein.

“Kai, apakah kau pernah ke sini sebelumnya?”

Kai mengangguk. “Pernah dengan Ryuin noona yang tentu saja ke sini hanya karena penasaran. Kami bahkan hanya mencoba wahana yang normal dan tidak berbahaya karena tentu saja dia takut.”

“Kalau begitu aku akan mengajakmu mengendarai berbagai wahana yang memancing adrenalin.”

Ilhae bersemangat dan hendak lari menuju antrian yang lumayan panjang itu kalau saja Kai tidak menarik tangannya sehingga yeoja itu terpental ke belakang dan punggung Ilhae menabrak dada bidang Kai.

YA –”

“Kau mengantri dulu, ne? Aku akan membeli minuman.”

Sesingkat itu lalu Kai meninggalkan Ilhae yang bahkan masih mengumpulkan kesadarannya. Ilhae mengumpat pelan sebelum kembali berlari kecil menuju antrian agar pasangan yang baru saja datang dari arah kanannya tidak menyelanya.

Sepuluh menit Ilhae menunggu dan yeoja itu kini telah mengelap keringat yang terbentuk di dahinya. Matahari sudah semakin membumbung ke atas dan membuat suasana taman bermain yang tidaklah sepi ini semakin panas.

Aigoo, ada yang kepanasan. Igo.” Kai yang berhasil berjalan menyusuri antrian dengan berbagai omelan. Kalau saja ia tidak berkata kalau ia sedang menyelamatkan gadisnya yang kepanasan karena mengantri ia tidak akan bisa lewat – mengingat antrian dalam kasus ini sangatlah penting, ia tentu tidak akan dibiarkan lewat.

Gomawo.”

Kai menyedot minumannya bersamaan dengan Ilhae. Yeoja itu sangat bersemangat untuk memasukkan jus jeruk ke dalam kerongkongannya.

Padat merayap, akhirnya 20 menit kemudian barulah Ilhae dan Kai sampai pada tahap duduk di wahana. Ilhae dan Kai mengambil tempat di tengah-tengah. Setelah pegawai memeriksa kembali alat pengaman mereka, rekan kerjanya yang berada di depan mesin pengontrol menjalankan wahana dengan muka bosan – sepertinya dia sudah terlalu lama menjadi pekerja di Lotte World.

Kereta dengan kecepatan mengejutkan melaju dan Ilhae hanya berusaha untuk menenangkan diri dari sensasi menggelitik di perutnya. Tanpa benar-benar di sadari, kereta berhenti pada rel membulat, seperti yang sudah pernah Ilhae rasakan. Sekarang mereka berada dalam posisi terbalik dan rambut Ilhae sudah melayang-layang di udara.

“Kai, tidakkah kau merasakan seluruh darah dalam tubuhmu mengalir ke kepala?” Ilhae berguman tanpa berkedip.

“Ne.” Kai menjawab kelewat tenang dan Ilhae benar-benar yakin kalau Kai baik-baik saja dan tidak menderita siksaan apapun. Namun tentu saja Geum Ilhae tidak akan menyerah semudah itu. Setelah tanpa aba-aba kereta tersebut kembali melaju Ilhae dan Kai pada akhirnya turun.

Begitu berpijak pada tanah Ilhae sama sekali tidak merasakan dirinya berada di sana, hanya deru adrenalin yang mungkin membuatnya bisa berdiri tanpa goyah. Kai di sampingnya juga baik-baik saja, malah namja itu yang menanyakan apakah Ilhae baik-baik saja.

Setelahnya, seharian Ilhae dan Kai mencoba hampir semua wahana yang menguji ketahanan jantung dengan senang tanpa ada yang mual atau pusing. Mereka telah mencoba atlantis, gyro drop, gyro swing, gyro spin, bungee jumping, swing tree, dan sebagai penutup the conquistador sebelum akhirnya Kai menarik Ilhae duduk di kursi yang berhadapan dengan wahana komidi putar.

Mereka duduk bersebelahan dan terlalu dekat bagi Ilhae. Tidak membantu sama sekali, Kai malah menyandarkan kepalanya pada pundak Ilhae kemudian.

Saat Ilhae mencoba berpindah…

Chankaman Hae-babo.”

Ilhae kemudian menoleh untuk melihat Kai yang tengah memejamkan matanya. “Kau lelah?” Tanya Ilhae.

“Tentu saja, babo. Tidakkah kau merasakan tenagamu terkuras habis?” Gumam Kai.

“Yap. Hanya saja waktu seperti ini sangat sayang jika tidak digunakan dengan bijaksana. Tidak banyak waktu untuk pergi ke taman bermain seperti ini.” Ilhae tersenyum simpul – usul Rein berhasil.

Keheningan menyelimuti mereka selama beberapa menit. Keduanya sibuk dengan lalu lalang manusia yang mempunyai tujuan seperti mereka. Di tengah-tengah pengamatannya, Kai melihat sebuah boneka yang menjual permen kapas pada anak-anak.

“Hae-ya, apakah kau lapar?” Tanya Kai.

“Hmmm, tidak tahu juga, tapi kalau makan takut isi perut keluar karena menaikki wahana yang ekstrim.”

Kai mengangkat kepalanya dan melambaikan tangan pada boneka penjual permen kapas tersebut dan untunglah boneka tersebut mengerti.

“Tepat. Tapi kau tetap harus mengisi perutmu dengan yang manis-manis. Tidak ada jadwal kau sakit maag Hae-hae.”

Setelah melayani satu anak dan ibunya yang mencegatnya di tengah perjalanan, akhirnya boneka tersebut sampai dihadapan Kai dan Ilhae. Ketika boneka tersebut menyodorkan satu permen kapas berwana pink pucat pada Ilhae yeoja itu menerimanya dan memilih untuk mencermati Kai yang membayar permen kapasnya.

Ilhae mengambil satu bagian kecil permen kapasnya dan merasakan manisnya gula yang memanjakan lidahnya. “Kau tidak makan?” Ilhae menoleh pada Kai dan mengambil satu bagian lagi dengan mulutnya.

“Tentu saja makan.” Jawab Kai.

“Tapi kau hanya membeli sat –” Ilhae terdiam ketika Kai dengan cepat mendekatkan wajahnya dan mencium sudut bibir Ilhae – yang langsung saja membuat jantung Ilhae meloncat dari rongganya. Kasihan sekali jantungnya yang hanya sebesar kepalan tangan itu.

Kai menyeringai. “Manis.” Katanya tanpa memperdulikan Ilhae yang tercengang.

“Makanmu berlepotan, tapi tentu saja itu tidak mengangguku sama sekali. Aku dengan senang hati membersihkannya.” Kata Kai lagi dan namja itu menggenggam tangan Ilhae yang memegang tongkat permen kapas dan menariknya mendekat untuk memakan gumpalan halus tersebut.

“Y..ya! Modus!” Ilhae terbata.

Kai tertawa saat Ilhae menarik tangannya menjauh dan memalingkan wajahnya.

I’m not.” Tambah Kai sesudah ia selesai tertawa.

“Kenapa kau hanya beli satu?”

“Karena aku biasa saja dengan makanan manis, itu hanya sebagai pengganjal perut saja.” Kai sudah kembali pada dirinya yang biasa dan bersandar pada kursi dengan kedua tangannya menopang kepala.

Ilhae yang sedang skakmat mencoba mencari bahan pembicaraan. “Ingin naik komidi putar?”

“Tidak.”

“Wae?”

“Pusing, aku pernah mencobanya ketika bersama noona.”

Ilhae bergidik ketika pikirannya melayang ke saat di mana ia dan Rein bermain komidi putar dan yang ada Ilhae bukannya sembuh dari lelah tapi malah sedikit pusing. Tapi Rein justru keranjingan sekali dan menaikki wahana itu mungkin sampai 4 atau 5 kali. Membayangkan hal itu membuat Ilhae ingin muntah sesaat. “Majja.”

“Wahana apa lagi yang ingin kau naikki Hae? Hari sudah mulai sore.”

Maka dari itu untuk beberapa menit otak Ilhae terhalihkan dari tugasnya memikirkan ketidaksiapannya dengan setiap reaksi Kai dan memikirkan apa yang mungkin ingin dinaikkinya. Ah!

“Bianglala.”

“Sungguh khas perempuan ya?”

“Maksudnya?” Ilhae memakan permen kapasnya lagi.

“Kebanyakan yeoja pasti ingin menaikki bianglala di akhir trip mereka ke taman bermain.”

Kai mencondongkan tubuhnya untuk memakan permen kapas dan syukurlah kali ini Ilhae cukup siap dan tidak akan melemparkan benda tersebut karena gugup.

Ilhae mengerutkan dahinya. “Tidak juga. Ini percobaan pertamaku. Terakhir aku ke sini aku terlanjur ilfeel pada Jung Rein. Yeoja itu sudah menaikki bianglala sebanyak 5 kali saat aku kembali main dari jungle adventure, dan yeoja itu masih naik sampai menginjak angka sebelas? Atau lebih?”

“Ahaha, Jung Rein. Yeoja itu benar ketika menceritakan tentang dirinya saat perkenalan karyawan. Salah satu hobinya adalah menaikki biangalala. LOL. Kalau begitu kkaja, kita bisa melihat matahari terbenam jika beruntung.”

Kai berdiri dan Ilhae mengikutinya. Permen kapas yang memang sangat mudah hilang di mulut itu sudah menipis dan habis saat mereka keluar dari gedung indoor – tempat mereka berteduh.

Antrian bianglala memang panjang, tapi cepat sekali maju karena bisa menampung banyak orang satu kali putar.

“Silahkan.” Yeoja dengan tag nama June membukakan pintu untuk Ilhae dan Kai yang mengambil posisi duduk berhadapan.

*-*-*

Mwo? Kau akan menghilang selama 3 hari di gunung?” Rein memutar bola matanya, Chanyeol sangat melebih-lebihkan keadaan ketika ia bilang dia akan pergi trip bersama club panahan selama 3 hari 2 malam. Acara menonton telah usai dan Rein sedang menyiapkan makan malam ketika mereka berbicara.

“Yeol, aku tidak menghilang di gunung. Club hanya mencari villa yang berada di kaki gunung. Itu saja..” Chanyeol terdiam dan Rein bertanya-tanya apa yang sedang dia pikirkan.

“Boleh aku ikut?” Tanyanya setelah 1 menit penuh berdiam diri.

Mwoya? Tentu saja tidak. Ini acara interndankau tahu sendiri pihak luar tidak akan boleh ikut, Yeol.”

“Sial!” Geraman namja itu membuat Rein makin bingung. Yeoja bermarga Jung itu kembali ke bangkunya dengan 2 jus apel di tangannya.

Wae?” Tanya Rein hati-hati karena ia bisa melihat jelas perubahan ekspresi Chanyeol. Namja itu terlihat begitu gusar menjurus ingin marah.

“Bagaimana aku bisa tenang? Membiarkanmu selama 3 hari bersama Sehun. Menginap.”

“Astaga Yeol! Sehun? Aku bukannya mau honeymoon-” Rein terdiam ketika melihat lirikan tajam Chanyeol yang baru pertama kali ia lihat. Tanpa disadarinya tubuhnya sedikit meremang karena tatapan itu. “Maksudku, berdua saja dengan Sehun. Ini acara club, Yeol. Ada lebih dari 20 orang disana.”

“Oh tidak tahukah kau, Rein. Menyatukan kata Sehun, Rein, dan Honeymoon membuatku ingin menonjok sesuatu?”

Rein menjilat bibirnya. “Mian, aku salah memilih kata.” Chanyeol terlihat lebih tenang. Namun ekspresinya masih begitu gelap. “Yeol, kau tidak usah menghawatirkan apapun. Aku akan kembali padamu dalam 3 hari, aku akan pulang Sabtu pagi dan akan menghadiri pesta keluarga Do malamnya. Denganmu.”

“Rein aku takut terjadi sesuatu antara kau dan Sehun. Kurasa bila aku menjadi Sehun, aku akan mengambil kesempatan itu untuk lebih dekat denganmu. Baik secara fisik ataupun.. batin.” Chanyeol terlihat begitu galau sehingga dia terus menerus melarikan diri dari tatapan Rein.

“Shhhh.. Lihat aku, Yeol.” Rein memajukan tubuhnya untuk menyentuh pipi namja yang masih belum menjadi kekasihnya itu.

“Yang kusukai adalah dirimu. Kau tahu itu kan?”

Chanyeol mengangguk dan dia mengistirahatkan pipinya di tangan Rein. Matanya terpejam sesaat.

“Kau harus percaya padaku.”

“Aku tidak percaya pada Sehun, Rein-ah. Kau ingat ketika dia menggenggam tanganmu saat kalian berdua ‘kencan’ – cih, mengingatnya membuatku begitu kesal. Padahal kalian tidak pacaran atau semacamnya.” Matanya kembali terbuka dan menatap Rein dengan pandangan sedih. Rein melihat itu dan dia begitu merasa bersalah.

“Maafkan aku, aku selalu menganggap dia teman dekatku sehingga tidak bisa membatasi diri saat itu. Dan aku tidak pernah kencan dengannya…”

“Bagimu itu bukan kencan, tapi bagi Sehun?”

Rein menghela napasnya. Chanyeol benar-benar cemburu pada Sehun, atau bagaimana?

“Park Chanyeol, kumohon percayalah padaku. Dan biarkan aku mengikuti trip club panahan selama 3 hari. Dan aku berjanji satu hal..”

Chanyeol mengerutkan keningnya, sementara Rein hanya tersenyum dengan begitu cantiknya.

“Aku akan menjaga jarakku dengan Sehun. Minimal 500 milimeter!”

“Bagaimana dengan 5 kilometer?”

Rein mendengus dan menarik tangannya dari pipi namja itu, tapi Chanyeol dengan sigap menariknya kembali. “Aku percaya padamu. Jangan kecewakan aku yah. Nyalakan selalu ponselmu karena aku akan menghubungimu setiap 30 menit.”

“Ouchh.. Tipe namjachingu protektif, eoh?” Rein terkekeh dan Chanyeol mencubit pipi yeoja itu dengan gemas. Ekspresinya sudah berubah lebih ceria sekarang walau masih ada rasa was-was dalam rautnya.

“Dan kau harus menjadi tipe yeojachingu yang penurut, arasseo?”

Rein berkelit. “Aku belum menjadi yeojachingumu, arasseo?”

“Ckk.. Bisakah kau telepon saja si Sehun dan katakan kau menolaknya sekarang?”

“Itu tidak sopan, bodoh!”

*-*-*

“Pokoknya aku tidak mau naik bianglala lagi.” Ilhae melahap sepotong pizza dengan rakus, setelah ia dan Kai turun dari bianglala, mereka menyisir kembali gedung indoor yang sepertinya lebih jarang terjamah oleh mereka – mereka menaikki beberapa wahana ramah jantung – dan berkakhir pada Lake Pizza, restaurant dengan spesialisasi pizza – seperti namanya – sebagai destinasi akhir mereka.

“Tidak kusangka kau takut pada bianglala. Padahal semua permainan ekstrim kau jalani selancar jalan tol.” Timpal Kai yang baru saja menelan pizzanya.

“Ih! Aku benar-benar ngeri. Bergoyang-goyang tidak stabil – seperti mau jatuh.” Mengingat kembali masa-masa penuh penyiksaan itu Ilhae tidak sudi!

“Tetap saja, kau tidak merasa mau jatuh ketika naik gyro swing?”

“Berbeda.” Ilhae bersikeras. “Wahana itu berjalan lebih cepat dan aku merasakan pengamannya. Bianglala? Aku berada di kapsul siap jatuh.”

Kai tersenyum sebelum mengambil potongan terakhir pizza yang berada di loyang. “Ekspresimu itu perlu diabadikan.”

Ilhae memelototi Kai lalu menegak air mineralnya.

Tak.

“Ck, diam!” Ilhae mengelap mulutnya kasar dengan punggung tangannya.

“Baiklah, Hae. Aku menyerah.” Kai menelan habis makanannya dan melihat jam di ponselnya. Jam 10, sudah saatnya mereka pulang, sementara Ilhae sedang memeriksa ponselnya yang sudah lama terabaikan.

“Hua! Lelah juga.” Ilhae merentangkan tangannya di udara – ia dan Kai sudah berjalan menyusuri area taman bermain yang sudah sepi dengan segelintir orang saja yang masih bertahan.

“Permisi.”

Kai berhenti ketika seorang namja dengan jubah coklat menghampirinya sedangkan Ilhae yang tidak begitu peduli harus berhenti beberapa di depan kemudian mengambil langkah mundur untuk menyamai Kai.

“Apakah kalian mau masuk ke rumah hantu? Sebagai pasangan terkahir?”

Ru..rumah hantu? Ilhae langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat tapi Kai dengan tidak sensitifnya mengangguk juga menggenggam tangan Ilhae yang sudah siap kabur dari tempat kejadian. Seumur hidupnya Geum Ilhae tidak pernah sudi memasuki wahana seram seperti itu dan sukses menghindarinya, kecuali hari ini?

“Ayo, Hae-hae. Sepertinya menarik.”

Glek.

Ilhae berusaha mati-matian untuk diam di tempat tapi Kai menyeretnya paksa untuk mengikuti namja sialan yang menawarkan wahana tersebut. Ilhae mendongak dan mengerti. Ternyata ia memang tidak beruntung dengan mau melewati rumah hantu sebagai jalan pulang.

“Silahkan masuk! Our last couple!” Namja itu mengumumkan dan Ilhae menciut ketika Kai menggenggamnya lebih erat dan berjalan masuk.

Suasana gelap dengan penerangan lemah menyambut mereka. Ilhae tidak dapat melihat dengan jelas, dan ia hanya dapat melihat beberapa bentuk abstrak bahkan sesuatu yang berwarna putih.

Isi rumah hantu itu hanya boneka sepanjang pengamatannya dan mengetahui fakta itu Ilhae merasa lega selama perjalanan mereka melewati lorong. Sampai pada siluet yang berjalan di ujung lorong. Ilhae langsung menciut dan berakhir dengan dirinya yang berlindung dipunggung Kai. Tangannya sudah lepas paksa dari genggaman Kai dan memilih untuk mencengkram punggung kaus biru gelap yang dikenakan Kai.

“Huaaa! Aku tidak mau maju!” Rengek Ilhae. Ternyata ada orangnya!

“Ayolah Hae-ya, kau tidak mungkin keluar jika tidak melewati lorong ini.” Kai berusaha menarik Ilhae kembali ke sampingnya tapi nihil, yeoja itu bahkan tidak bergeming. Satu sisi Kai merasa senang karena Ilhae benar-benar dekat dengannya, satu sisi lagi ia merasa bersalah karena membuat Ilhae ketakutan – tapi terkadang akal sehat bukanlah yang bermain ketika orang sedang jatuh cinta, dan Kai menikmati moment ini.

“Kalau begitu kau ikuti aku saja ya, jangan melihat ke kanan atau kiri. Cukup lihat punggungku arra? Juga jangan membuat kausku belel, lingkarkan tanganmu di pinggangku.” Kai berkata lagi mencoba membujuk Ilhae.

Sirheo! Cepat maju!” Ilhae berkomando setengah mendorong Kai dan namja itu terkekeh sebelum berjalan maju.

Kai yang memang tidak takut dengan hal seperti itu hanya berjalan melewati orang berkostum hantu dengan santai – lagipula mereka juga memiliki aturan sendiri tentang jarak dengan pengunjung.

“Kalau bajuku belel kau harus belikan yang baru. Setuju?”

Ilhae yang hanya bisa melihat kegelapan dengan wajah yang benar-benar menempel pada punggung Kai menggerutu pelan dengan bergantung pada arahan Kai. “Suruh siapa kau memaksaku ke rumah hantu!”

“Galak sekali. Ayolah, apa kau benar-benar tidak menikmatinya, Hae?”

“Menikmati apanya!” Geram Ilhae ketika ada yang menggelitik kakinya – dengan naas Ilhae mencoba berpikir kalau itu adalah tanaman plastik yang menggelitik kakinya bukan sebuah tangan ramping yang pucat.

“Aku menikmatinya.” Jawab Kai santai saat tiba-tiba tirai di sebelahnya terbuka dan memunculkan boneka yang sangat mengerikan, ia tidak menggubrisnya dan terus maju menuju ruangan yang disinyalir adalah kamar mayat – melihat jejeran ranjang diantara mereka.

Ilhae mendongak. “MWO?!”

“Setidaknya kau berada sangat dekat denganku.”

Ilhae mendengar pernyataan tersebut tapi bermaksud hanya menyimpannya saja di kepala karena matanya tengah melirik panik ke kanan dan kiri. Horror Ilhae melihat mayat-mayat yang berada di ranjang membuka matanya satu persatu ketika menyadari keberadaannya dan Ilhae tidak tahu mana yang sungguhan atau boneka. Ini mengerikan!

“YA! KAI!!! LARI!” Kai terkejut saat Ilhae menarik-narik bajunya panik.

“WHOA!!!”

Ilhae setengah meloncat dan menarik kaus Kai dan berlari keluar dari ruangan tersebut karena seoonggok tubuh yang dikiranya boneka itu menjulurkan tangannya pada Ilhae dan semakin mendekatinya.

“Ya! Ilhae! Hae!” Kai kewalahan mengikuti Ilhae dalam posisi yang kurang praktis tersebut.

“Ya…” Ilhae berhenti di ujung lorong yang sepi dan menyandarkan diri pada tembok.

Ketika sedang menenangkan dirinya Ilhae terlonjak kembali ketika tiba-tiba suara sound effect yang memekakkan telinga mengirimkan kembali rasa takut. Ia kemudian menarik Kai mendekat dan memposisikan diri seperti sebelumnya – Ilhae di belakang Kai.

“Ayo… jalan lagi.” Guman Ilhae pelan.

“Kau seharusnya jangan berlari Hae-ya. Mereka tidak akan menyentuhmu.” Kai kembali berjalan.

“Ta..tapi tetap saja.”

Kali ini mereka memasukki ruang kelas dengan 6 meja dan 5 meja terisi sedangkan satu lagi kosong dengan buku terbuka di atas meja kosong tersebut bertuliskan ‘ayo bergabung dan belajar bersama kami’.

“Ada aku Hae.”

Ilhae menggelengkan kepalanya kuat-kuat dan tidak berani mendongak untuk yang kedua kalinya atau ia akan melihat kembali pemandangan mengerikan yang meracuni otaknya.

Ilhae tidak tahu mereka sudah berjalan sampai mana, yang ia tahu adalah segalanya terasa jauh dan lambat di rumah hantu ini karena ia tidak kunjung juga menemukan pintu  keluar – atau Kai yang mengumumkan kalau mereka sudah berada di luar.

“Sudah sampai pintu keluar?” Tanya Ilhae yang sangat tidak sabar untuk keluar pada akhirnya.

“Yap.” Jawab Kai ketika ia sudah bisa melihat plang exit yang berkedip-kedip dibuat mengerikan.

Tiba-tiba kursi yang berada dekat pintu keluar bergerak sedikit. Perlahan-lahan muncullah proyeksi orang duduk disana – seorang ajhussi berumur yang memakai baju petugas keamanan.

“Gadis yang cantik yang ada dibelakangmu anak muda.”

Mwo?! Kenapa sekarang hantunya bisa bicara! Ilhae mengeratkan pegangannya pada kaus Kai.

“Hanya proyeksi dan ada orang yang bicara dari ruang kontrol.” Kai yang merasakan genggaman Ilhae menguat di belakangnya menjelaskan.

“OHOHOHO! Cerdik anak muda, tapi jika kau tidak keluar sekarang kalian harus menginap di sini. Mungkin saja yeojachingumu bersedia tidur bersama hantu-hantu ini.”

Membayangkan dirinya terperangkap di tempat hina seperti ini tidak pernah ada dalam rencana hidup Ilhae bahkan di mimpinya yang paling gila sekalipun!

Kai tidak menggubris proyeksi tersebut dan berjalan menuju pintu keluar yang sekarang ada didepan matanya, ia tinggal mengambil satu langkah lagi.

“Nona manis? Tidakkah kau ingin memperlihatkan wajahmu yang cantik?”

Bulu kuduk Ilhae meremang dan Ilhae benar-benar sudah tidak kuat berada di dalam sana tanpa menjadi tidak waras. Ilhae mengambil nyali untuk melirik ke kiri karena agak penasaran sebelum akhirnya mendorong Kai untuk mengambil langkah menuju akhir penyiksaanya.

Cahaya lampu wahana yang satu per satu mulai dipadamkan menyambut mereka. Ilhae merasa lega luar biasa dan langsung merosot ke permukaan taman bermain yang dibentuk dari paving block.

“Kau baik-baik saja?”

Ilhae mendongak untuk menatap Kai kesal. “BAIK-BAIK SAJA BAGAIMANA! AKU TIDAK KUAT UNTUK BERJALAN LAGI BABOYA!”

Ilhae tidak bercanda saat ini karena ia benar-benar tidak bisa merasakan kakinya. Terganggu, Ilhae melihat ekspresi Kai yang menandakan kalau namja itu sedang menahan kekehannya.

“Baiklah, sini kugendong.” Kai menghampiri Ilhae hendak meraup yeoja itu dari lantai.

“Ya! Berbalik! Aku tidak mau bridal style.” Ilhae memerintahkan Kai dan untung saja namja itu menurut.

Ilhae berusaha merasakan kakinya dan detik berikutnya ia sudah bergantung bagai koala dipunggung Kai dengan tangan yang melingkar di lehernya.

Piggyback eh? Kenapa kau tidak mau bridal style?” Kai berkata lalu tersenyum pada petugas rumah hantu yang berjaga di pintu keluar – yang sudah mengamati keduanya sejak mereka keluar.

“Memangnya aku mau menikah denganmu?” Ilhae menggerutu.

Kai tertawa renyah. “Di masa depan?”

“Cih!” Ilhae mendengus di leher Kai – menggelitik namja itu.

“Jangan bernafas di leherku. Aku serius. Coba kau pikirkan…”

“Aku tidak berniat memikirkannya. Pertama karena aku masih takut dengan rumah hantu, kedua itu masih lama.” Balas Ilhae.

“Well, terima kasih karena memberikanku kehormatan untuk menikahimu nyonya Kim.”

“Aku tidak bilang mau!” Ilhae memelototi Kai – atau mungkin punggung Kai.

Tidak seru jika seorang Kai kalah begitu saja dalam perdebatan kecil begini. “Secara tidak langsung kau bilang iya, hanya masih lama.”

“Itu bukan maksudku!” Ilhae menoleh ke arah Kai hanya untuk mendapatkan pemandangan side profile Kai – kepala yeoja itu beristirahat di bahu Kai.

“Bukan maksudmu untuk saat ini?”

Gezz! Aku bahkan belum resmi menjadi yeo…” Ilhae berkedip ketika Kai menoleh ke arahnya dan wajah mereka hanya sejauh beberapa inci saja.

“Kau mau –“

“Jangan di sebut!” Ilhae malu sendiri.

Kai menoleh untuk melihat kalau Ilhae yang sedang salah tingkah adalah hal paling menggemaskan untuknya.

Hening…

Kai menatap Ilhae dan Ilhae menatap Kai. Degup jantung yang saling berpacu bagi keduanya. Hembusan nafas Kai yang menggelitik pipi Ilhae juga menerbangkan beberapa helai rambut yeoja itu.

Tanpa ragu Kai yang melihat bibir mungil Ilhae, menciumnya. Ketika hal itu terjadi Ilhae terkejut saat merasakan kembang api baru saja meledak di dalam perutnya dan mata Ilhae menggeletar tertutup secara refleks.

Beberapa detik yang singkat untuk ciuman yang sangat lembut itu dan Kai menarik diri. Ilhae membuka matanya dan melihat Kai tersenyum.

“Kalau kau mau menjadi istriku – pengantinku di sama depan, kau boleh menjadi yeojachinguku Geum Ilhae.”

Ilhae tidak membalas Kai tetapi warna merah merambat dari pipi menuju ke seluruh wajahnya, dan Ilhae yang benar-benar K.O. tersebut hanya dapat menyembunyikan wajahnya di lekukan leher Kai.

*-*-*

“Aku bilang kau tidak perlu mengantarku sampai ke atas lagi Kai.” Ilhae berjalan keluar dari lift menuju apartemennya dengan Kai yang mengikuti di sampingnya.

“Kau masih tidak bisa berjalan dengan benar.”

Ilhae berdecak kesal. “Kai, itu sudah sejam yang lalu. Aku sudah duduk dan menenangkan diri di mobil! Kakiku sudah kuat untuk menopang diriku.”

“Kau ceroboh Ilhae, dan ditambah kejadian rumah hantu, itu benar-benar mengkhawatirkan.”

“Aish! Percayalah aku sudah hidup selama 21 tahun tanpamu dan selama itu aku tidak kenapa-kenapa. Aku tidak sepayah itu Kim Jongin.”

Mereka sampai di depan pintu apartemen tetapi Ilhae masih menunda acaranya memasukkan pin.

“Baiklah, cukup diterima. Tapi karena sekarang sudah ada aku, tentu saja aku harus memastikan kau aman. Masuklah, sudah malam.”

Walaupun kata-kata Kai adalah kata-kata paling manis dan klise… “Well, terima kasih Kai. Untuk hari ini.” Ilhae menundukkan kepalanya.

“Apa yang kau katakan? Jangan berbisik, aku tidak bisa mendengarnya Hae-ya.”

“Tidak ada siaran ulang!” Ilhae menggerutu karena Kai yang berubah menyebalkan.

“Ayolah, katakan lagi. Aku tidak dengar.” Kai menatap Ilhae lekat-lekat.

Ilhae langsung terpaku menatap Kai. “Ter..terima kasih, untuk hari ini.”

Kai tidak puas dan mendekatkan wajahnya pada Ilhae. “Lebih keras.”

“Kau ini tuli ya?” Ilhae tergagap dan Kai hanya menatapnya menunggu hal yang diinginkannya.

Clek.

“Rein-ah aku pulang dulu…” Chanyeol yang baru saja membuka pintu terpana dengan Rein yang berusaha mengintip dari punggung namja raksasa itu.

“Ya! Jangan berciuman di depan apartemen.” Lanjut Chanyeol setengah mengomel membuat Ilhae memalingkan muka karena malu.

“Yeol, geser!” Rein akhirnya menggerutu karena tubuh giant Chanyeol benar-benar menghalangi pandangannya. “Aigoo.. Apa yang kalian berdua lakukan di depan pintu, huh?” Lalu Rein bertanya dengan nada jahil pada pasangan KaiHae yang kelihatan sama-sama salah tingkah.

“Mereka hampir berciuman Rein-ah!” Chanyeol mengadu bagai anak kecil.

“Ani! Namja ini saja yang tidak ada gunanya ingin mengantarku sampai sini.”

Well, seingatku satu jam yang lalu kau tidak bisa berjalan dengan benar Geum Ilhae.”

“Aish? Mana yang harus aku percaya?” Rein mengacak-acak rambutnya.

“Chanyeollie-mu!”

“Rein-ah! Kita sudah mengenal lebih lama daripada kau dan Chanyeol!” Ilhae menatap sinis Chanyeol akibat nama lucu yang digunakan namja itu.

“Kalian semua seperti bocah. Tapi jika kalian ingin berciuman, geurrae.. Aku akan beri space untuk kalian. Bukankah biasanya kencan akan diakhiri dengan ciuman manis.. Errr..” Rein terlihat geli dengan ucapannya sendiri, tapi tangan kanannya menarik mundur Chanyeol sehingga namja ini tidak lagi mengalangi pintu.

“Jika sudah selesai, ketuk saja pintunya.” Lalu dengan cepat Rein kembali menutup pintu.

Mwo?!” Ilhae langsung melotot, dengan cepat Ilhae mengetuk pintu geram. Sedangkan Kai hanya terkekeh pelan melihat Rein dan Ilhae yang menyerupai Tom and Jerry.

Agak lama sampai Rein akhirnya membuka pintu dengan hening tanpa ucapan jahil lainnya. Berbeda Rein berbeda pula Chanyeol, dengan wajah sumringahnya namja itu mengacak-acak puncak kepala Rein.

“Baiklah, aku pulang Rein-ah!”

Ilhae mengangguk dan memasuki apartemen. “Gomawo untuk hari ini dan pulanglah dengan selamat. See? Aku mengucapkannya dengan jelas.” Ilhae menjulurkan lidahnya.

Kai tersenyum sehingga matanya hilang dan membelai pipi Ilhae. “Baiklah, aku pulang,”

Blam. Pintu tertutup meninggalkan kedua namja yang pulang dan kedua yeoja yang hening.

“Oi..” Ilhae memecah keheningan sembari melempar tasnya ke sofa.

Mwo?”

“Bagaimana rasanya ciuman pertamamu?” Dengan blak-blakannya Ilhae menanyakan.

Rein yang sedang berjalan ke arah Ilhae yang mendahuluinya sampai terantuk sebanyak 2 kali karena pertanyaan yeoja itu yang begitu tiba-tiba. “Ciuman pertama? Aku bahkan tidak tahu bagaimana rasanya ciuman pertamaku. Kau ingat betapa parahnya aku mabuk saat di Jeju? Ckk..” Yeoja bermarga Jung itu menghela napasnya. Lalu dia teringat sesuatu. “Kau baru mendapatkannya hari ini yah?” Dengan lirikan jahil ia menatap Ilhae.

Ilhae tidak menjawab pertanyaan Rein tapi dari semburat merah di pipinya Rein mengetahui bahwa jawaban dari pertanyaannya adalah YA. Lalu ia melihat Ilhae merenung.”Seperti kembang api Rein.” Tapi kemudian matanya membelalak dan dia berusaha mengalihkan pembicaraan dari topik ciuman Kai dan Ilhae dengan mengorbankan Rein. “Oh kau sudah ingat? Well, mau kuceritakan kalau kau tidak ingat? Ahahahaha, by the way… Kenapa kau tadi? Ciuman kedua?” Ilhae merebahkan diri di sofa.

Tapi seperti sebelum- sebelumnya, Rein pasti dengan mudahnya mengikuti arus pembicaraan Ilhae tanpa menyadari bahwa dirinya sedang ‘dikorbankan’.”Ciuman keduaku.. Di rooftop. Dengan penuh miskonsepsi. Sialan memang namja bernama Park Chanyeol.” Ilhae bergeming. Dia merasa bahwa Rein tidak bicara padanya. Yeoja itu seakan mengenangkan sesuatu dengan dirinya sendiri. Namun beberapa saat setelahnya, mata Rein membulat dan wajahnya berubah semerah tomat. “Kenapa… aku tadi? Eobseo. Tidak ada apa- apa. Aku akan menagih cerita kencanmu besok, jadi bersiap- siaplah. JALJAYO, GEUM ILHAE!”

Kemudian Rein lari tunggang-langgang menuju kamarnya. Menutup -tidak, membanting pintu dan segera menyembunyikan wajahnya di balik bantal. Tentu saja Ilhae tidak bisa melihatnya.

“Wow, Rein dan Chanyeol. Progressnya lebih cepat dari yang kuduga. Well lucu juga.” Ilhae bangkit dan mengambil tasnya sebelum berjalan ke kamarnya. Ilhae sebenarnya merasa geli. Bisa-bisanya ia dan Rein memiliki percakapan semacam ala yeoja – mengingat betapa merayapnya mereka tentang hal feminim seperti itu.

Tapi, apasih yang tidak bisa dilakukan orang-orang yang sedang jatuh cinta? Rein saja berubah menjadi gadis yang sangat lembut pada orang yang awalnya ia benci. Sementara Ilhae bisa bersikap manis pada musuh bebuyutannya.

To Be Continue…

12 pemikiran pada “Cynicalace (Chapter 16)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s