My Life (Chapter 1)

 SILVY

MY LIFE

Author                : Silvy Wahyu Hasanah as Oh Silvy

Cast                    :

  • Oh Sehun as Park Sehun
  • Xi Luhan
  • Kim joonmyun as Park Joonmyun
  • Zhang Yixing as Park Yixing
  • Byun Baekhyun
  • Park Chanyeol
  • Kim Jongin
  • Do Kyungsoo
  • Kim Minseok
  • Kim Jongdae
  • Kris Wu
  • Huang Zitao
  • Lee Teamin as Xi Yangin

Pair Cast          : Official couple EXO

Genre               : Romance, Sad, Gender Swicth, Fantasy.

Rated               : T

Summary        : Tidak ada yang tahu akan takdir. Mungkin takdir akan mempertemukanmu dengan orang yang menjadi musuhmu di masa lalu. Mungkin juga takdir akan mempertemukanmu dengan orang yang kau cintai dimasa lalu.

Benang kehidupan memang rumit, menyatukan manusia dalam benci, cinta dan persahabatan. Pertemuan dengan orang-orang dimasa lalu, orang-orang yang masih menjadi misteri di kota Seoul.

Dunia manusia, Dunia Sihir, sebuah rahasia publik yang tak akan terpecahkan.

“01001101 01111001 00100000 01001100 01101001 01100110 01100101”

MY LIFE

Miris memang. Melihatnya saat ini saja mungkin tidak ada orang yang akan mengenalinya. Kurus, pucat, seperti mayat hidup. Mungkin orang tidak akan mengenali sosok Park Sehun yang dulu di puja oleh kaum yeoja maupun namja. Seorang Park Sehun yang dulu bak bintang yang bersinar. Ya, tentu tanpa seorang yeoja asal China yang amat sangat dicintainya itu ia amat hancur. Seorang yeoja yang telah merubah seluk beluk hidupnya. Yang telah mengacaukan perasaan, dan merubah seorang Park Sehun si namja Ice price, menjadi seorang yang murah senyum. Setidaknya itu ketika mereka masih bersama.

“Luhaaan…” namja berkulit putih pucat itu masih terus mengigaukan nama yeoja yang pernah mengisi ruang hatinya yang kosong itu.

“Hei Sehun, bangunlah, bangun…” namja tinggi bernama Park Chanyeol terus menggoncang tubuh adiknya itu. Khawatir akan keadaan adik satu-satunya itu.

“Yaa, Sehun, bangunlah, jangan begini, ku mohon Sehun… hiks” Chanyeol sudah tidak tahan, semenjak kepergian Luhan, Sehun menjadi pemurung dan berakhir dengan tubuh dipenuhi selang infus. Untuk pertama kalinya, seorang Park Chanyeol, menumpahkan keluh kesahnya dalam sebuah liquid yang mengalir lancar menuruni pipinya. Dengan cepat ia mengambil handphone yang ada di meja nakas sebelah ranjang Sehun dan menelpon seseorang.

“Yobosseyo. Baekki-ah. Baekki. Hiks” Chanyeol tidak tahan untuk menahan kesedihannya sendiri.

“Ya, Park Chanyeol, kau kenapa? Kau menangis eoh? Ada apa?” Racau Baekhyun, yeojachingu dari Chanyeol yang mulai khawatir, mengingat namjachingunya itu sangat jarang menangis. Bisa terbilang tidak pernah.

“Bisakah kau ke rumah sekarang. Hiks.” Chanyeol masih terisak memandang keadaan adiknya.

“Nde Yeollie-ah, aku akan segera kesana. Sabar ne.” Baekhyun langsung menutup teleponnya dan bergegas kerumah kekasihnya, Park Chanyeol.

“Yeollie-ah, kau kenapa?” Baekhyun langsung menghambur memeluk kekasihnya itu, dapat dirasakannya Chanyeol yang sangat rapuh saat ini. Chanyeol yang biasanya selalu tertawa, kini menangis dengan keadaan Sehun.

“Baekki-ah, Ottokhae? Hiks. Sehun semakin parah, dia selalu mengigaukan nama Luhan, dia tak pernah bangun lagi Baekki-ah. Ottokhae?” tangisan Chanyeol semakin gencar memenuhi kamar Sehun, dengan sigap, Baekhyun mempererat pelukannya untuk memberi kekuatan pada kekasihnya itu.

“Kau harus sabar Yeollie-ah, aku akan disini, aku akan menemani kesulitanmu. Kita pasti berhasil, aku yakin Luhan pasti masih hidup dan dia pasti baik-baik saja. Kita pasti menemukannya Yeollie-ah” Baekhyun berusaha menyembunyikan kesedihannya, takut memperparah kesedihan kekasihnya. Ia juga sedih, kehilangan sahabat yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri. Kehilangan sosok yang berperan sebagai sahabat, adik, sekaligus kakak diwaktu yang sama.

“Tapi kita sudah berusaha sejauh ini, sudah satu tahun kita mencarinya, bahkan polisi sudah menyerah. Ottokhae Baekki-ah, Ottokhae? Aku takut Sehun tidak akan bertahan, ia sangat bergantung pada Luhan. Luhan adalah hidup dan matinya Baekki-ah.” Air mata Chanyeol kembali membasahi pipinya.

Baekhyun menatap Chanyeol, dan mengusap air mata dipipi namjachingu yang sudah bersamanya selama dua tahun ini. Baekhyun tersenyum manis. Senyum yang membuat Chanyeol luluh, yang membuat Chanyeol nyaman dan tenang, yang selalu membuat Chanyeol jatuh cinta padanya.

“Kau percaya aku kan?” Chanyeol mengangguk pelan.

“Kau percaya keajaiban?” Chanyeol terlihat berpikir.

“Kalau kau percaya padaku, kau harus percaya keajaiban yang akan aku buat untuk membantumu, Sehun, dan Luhan. Aku akan membuat keajaiban itu terjadi Yeollie-ah.” Lanjut Baekhyun meyakinkan Chanyeol.

“Bagaimana caranya?” Chanyeol makin bingung dengan penuturan yeojachingunya itu.

“Kau lihat saja, sebuah keajaiban pasti akan aku buat, untukmu Yeollie-ah.” Baekhyun mengelus pipi Chanyeol.

“Gumawo Baekki-ah, kau selalu ada untukku.” Chanyeol mempererat pelukannya, seakan takut Baekhyun menghilang seperti Luhan.

“Cheonma chagi.” Baekhyun mengelus punggung Chanyeol hingga tak terdengar lagi isakan darinya.

“Kekeke, sejak kapan kau memanggilku dengan ‘chagi’ ha?” Chanyeol terkekeh dengan panggilan dari yeojachingunya itu. Walaupun hatinya masih sedih, ia berusaha ceria untuk kekasihnya.

“Kau tahu, semua orang dikampus merindukan duo happy virus.” Kata Baekhyun tersenyum.

“Ahh, baiklah. Sepertinya besok akan ada duo happy virus lagi di sekolah.” Chanyeol mencubit pelan hidung Baekhyun.

“Yaa, sakit Park Chanyeol.” Baekhyun pura-pura kesal dan mempoutkan bibirnya.

“Apakah sakit?” Chanyeol mengelus hidung Baekhyun yang berhasil membuat rona merah di pipi Baekhyun.

“A-anni.” Jawab Baekhyun gugup, menyadari posisinya yang terlampau dekat, Baekhyun langsung menjauhkan dirinya dan mengalihkan wajahnya yang merah karena ulah Chanyeol. Walaupun sudah dua tahun bersama, Chanyeol selalu berhasil membuat rona dikedua pipi chaby kekasihnya itu.

“Jinjja? Kau yakin?” Chanyeol yang melihat Baekhyun menjauh, langsung mendekapnya.

“Aku senang kau ada disini. Aku senang, karena itu kau. Baekki-ah. Saranghae.” Chanyeol mengecup kepala Baekhyun, Baekhyun membalas pelukan Chanyeol.

“Aku akan disini, aku tidak akan menjauh, selama itu kau, aku… nado saranghae Park Chanyeol.”

FLASHBACK

“Pagi semua.” Kim Seonsaengnim memasuki kelas membangunkan beberapa murid dari lamunannya.

“Pagi saem.” Semua menjawab salam dari guru mereka, kecuali satu murid, yang tak banyak bicara, bahkan ia tetap memasang poker facenya setiap saat.

“Hari ini kita kedatangan seorang murid pindahan dari China, silahkan masuk Luhan.” Kim Seonsaengnim menyuruh murid pindahan itu untuk memasuki kelas. Kelas yang tadinya ribut melebihi pasar tradisional pun seketika hening melebihi kuburan. Semua mata terpana melihat murid pindahan tersebut. Mereka bergulat dengan pikiran masing-masing.

‘Yeppo’

‘Manis’

‘Kyeopta’

Mungkin itu beberapa pemikiran dari murid-murid tersebut.

“Annyeonghaseyo, jeoneun Xi Luhan ibnida. Bagapseumnida.” Suara Luhan memecah keheningan yang sempat terjadi.

“Ehhem, baiklah, ada yang mau bertanya?” Kim Seonsaengnim ikut memecah keheningan yang masih terjadi. Seketika, semua murid namja dikelas itu mengangkat tangan ingin bertanya.

“Kau manusia?”

“Mana mungkin, dia pasti bidadari” sanggah seorang murid namja.

“Kenapa kau sangat cantik?”

“Berapa umurmu?”

“Berapa nomor teleponmu?”

“Apa kau punya namjachingu?”

“Maukah kau jadi yeojachinguku?”

Seluruh namja di kelas itu sangat antusias, kecuali satu orang. Ya, satu orang. Siapa lagi kalau bukan pria dengan gelar ‘ice price’. Ia masih saja melihat keluar jendela, tidak berniat untuk mengalihkan pandangannya pada murid pindahan itu.

“Cukup. Pertanyaan apa itu. Xi Luhan, kau silahkan duduk disamping Park Sehun, dan kalian semua, jangan bertanya yang tidak-tidak.” Kim Seonsaengnim mulai emosi dengan seberondong pertanyaan tak bermutu yang diajukan murid-muridnya itu.

“Baik saem.” Xi Luhan berjalan menuju bangku kosong di sebeleh Sehun. Ia begitu penasaran dengan namja satu ini, kenapa dia tidak seantusias yang lain.

Namja yang aneh’ batin Luhan.

“Hai, aku Luhan” Sapa Luhan ke Sehun, tapi tak ada pergerakan dari namja tersebut. Luhan hanya mengedikkan bahu dan kembali fokus dengan pelajaran yang sedang berlangsung.

‘KRING KRING KRING. ITS TIME TO HAVE A BREAK’

Bel istirahat berbunyi, dan murid-murid mulai menyerbu tempat kesayangan mereka, kantin.

“Hai, aku Baekhyun, Byun Baekhyun.” Baekhyun menyapa Luhan yang tampak sedang menyalin catatan dari Kim Seonsaengnim.

“Oh, hai. Aku Luhan, Xi Luhan.” Luhan tersenyum dengan mata rusanya.

“Wah, matamu keren.” Baekhyun mengacungkan dua jempolnya.

Mwo? Kenapa dengan mataku?” tanya Luhan tak mengerti.

“Matamu, seperti anak rusa kau tahu. Hmm, mungkin aku akan memanggilmu dengan sebutan ‘rusa cantik’, sepertinya bagus.” Baekhyun tertawa hingga yang terlihat hanya eyeliner yang menghiasi matanya.

“Yaa, mwoya ige? Kenapa ‘rusa cantik’? Aku manusia Baekhyun-ssi.” Luhan mempoutkan bibirnya.

“Yaa, jangan panggil aku seformal itu, panggil saja Baekki.” Jelas Baekhyun. Luhan yang belum terbiasa, hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

“Hehehe. Oke oke. Ba-ba-Baekki-ah.” Panggil Luhan tergagap.

“Huhh.” Luhan dan Baekhyun serentak mengalihkan pandangan pada namja disamping Luhan-Sehun. Ia hanya menghela nafas berat, dan langsung pergi meninggalkan kelas, tanpa melirik sedikitpun pada Luhan dan Baekhyun.

“Ada apa dengannya? Sedari tadi aku lihat, dia hanya memandang keluar jendela, bahkan tidak berbicara sedikitpun.” Tanya Luhan, pertanyaan yang sedari tadi ia simpan dalam benaknya.

“Dia memang begitu, ‘ice price’. Dia hanya berbicara pada orang tertentu. Dan yang aku tahu, dia hanya berbicara pada hyungnya, dan beberapa sahabatnya.” Baekhyun dengan semangat bercerita kepada Luhan, semua yang ia tahu tentang Sehun. Bagaimana tidak, Baekhyun, si ratu gosip, akan tahu segala sesuatu tentang murid-murid yang selalu jadi bahan perbincangan.

“Wah, kau tau banyak ya.” Luhan tampak antusias mendengar cerita Baekhyun, hingga seseorang menghampiri mereka dan ikut menimbrung percakapan antara Luhan dan Baekhyun.

“Bagaimana Baekhyun tidak tahu, diakan biang gosip disekolah ini.” Yeoja dengan mata besar dengan bibir tebal itu langsung duduk didepan Luhan.

“Yaa, Kyungsoo. Kau berani mengataiku eoh.” Baekhyun memukul kepala yeoja yang bernama Kyungsoo itu. Luhan hanya terkekeh.

“Yaa, appo Baekki-ah.” Kyungsoo mengelus kepalanya. Tiba-tiba ada tangan yang memukul kepala Baekhyun.

“Yaa, appo.” Baekhyun mengelus kepalanya dan mengalihkan pendangannya pada orang yang berani memukulnya.

“Yaa, Kkamjong, beraninya kau memukul kepalaku. Sakit tahu.” Baekhyun mulai mengoceh dengan suara nyaringnya.

“Kau yang berani memukul kepala yeojaku.”

#LUHAN POV

“Ahh, aku Kyungsoo. Do Kyungsoo.” Kyungsoo mengulurkan tangannya padaku.

“Aku Luhan. Xi Luhan.” Aku menampilkan senyum andalanku.

“Ahh, pantas saja para namja tadi sangat bersemangat. Ternyata kau memang cantik sekali Luhannie.” Blush, kata-kata Kyungsoo berhasil membuat rona merah dipipiku. Aku yang malu, langsung mengalihkan pandanganku kearah jendela. Tak mau mereka melihatku dengan rona merah memalukan ini.

Tapi tunggu, aku melihat seseorang. Orang yang sama yang duduk disebelahku. Park Sehun. Tapi kenapa dia? Dia tampak selalu melamun. Aku makin penasaran dengan namja itu.

Aku terus melihat kearah Sehun, hingga sebuah tangan menepuk lembut bahuku. Aku tersadar.

“Luhan, kau melamun?” tanya Kyungsoo khawatir padaku.

“Anni, aku hanya sedang ada pikiran.” Aku berusaha agar mereka tidak khawatir.

“Ahh, kenalkan ini Jongin, Kim Jongin. Dia namjachinguku.” Kyungsoo menunjuk seorang namja berkulit tan yang tadi memukul kepala Baekhyun.

“Hai, aku Luhan. Xi Luhan.” Aku menjabat tangannya.

Chagi, kau kenapa tidak bilang kalau punya teman secantik dia.” Tanya Kai dengan polosnya, dan Kyungsoo langsung membulatkan matanya yang memang sudah bulat.

“Yaa Kai-ssi, kau mau mati eoh. Mau melirik temanku?” ancam Kyungsoo.

“Bukan begitu chagya. Kau kenapa selalu cemburu eoh. Aku hanya cinta padamu chagi.” Bujuk Kai, dan tampak ekspresi Baekhyun seperti orang mau muntah. Aku terkekeh melihat pemandangan yang di suguhkan teman-teman baruku ini.

“Luhan, kenalkan ini namjachinguku, Park Chanyeol. Dia sekarang di tingkat akhir.” Baekhyun memperkenalkan namja tinggi dengan senyum lima jari yang baru ikut menimbrung dengan kami.

“Anneyong sunbaenim, jeoneun Luhan ibnida.” Aku membungkuk memberi hormat.

“Hahaha, yaa, tak usah seformal itu. Panggil saja aku oppa. Bolehkan chagi?” Chanyeol meminta persetujuan dari Baekhyun. Baekhyun hanya mengangguk dan tersenyum manis.

“Yaa yaa yaa. Berhenti lah ribut, bagaimana kalian ini.” Chanyeol menengahi pasangan Kaisoo.

Hyung, aku tadikan bilang, kenapa Kyungie tidak memberi tahu kalau punya teman secantik Luhan. Dan dia malah ngambek hyung.”

“Yaa, namja pervert, kau sudah punya Kyungie masih saja mau melirik yeoja lain.” Chanyeol memukul kepala Kai.

“Yaa, appo hyung. Hyung juga salah paham. Maksudku itu, kalau Kyungie bilang dari dulu punya teman secantik Luhan, kita bisa jodohkan dengan adikmu hyung.”

“Yaa, Kim Jongin. Luhan saja baru pindah hari ini. Dan adik Yeollie pun sama sekali tidak meliriknya. Bagaimana mau dijodohkan?” Baekhyun mulai mengocehi Kai.

Aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, dan siapa adik Chanyeol oppa? Tidak melirikku? Ntahlah. Aku kembali mengalihkan pandanganku keluar jendela. Masih kudapati raut wajah yang sama seperti tadi. Muram, sedih. Ingin rasanya aku mengubah wajah muram itu menjadi tersenyum. Aku penasaran, dalam keadaan flat saja, dia setampan itu, apa lagi saat dia tersenyum. Aku rasa akan sangat tampan.

“Eoh, aku permisi dulu ya.” Aku ingin menghampirinya. Aku permisi dengan teman-teman baruku ini.

“Luhannie, mau kemana?”

“Ke toilet.” Jawabku bohong.

Sekarang aku ditaman belakang sekolah. Tempat aku melihat namja yang sangat membuatku penasaran. Aku melihatnya duduk di bangku, tepat di bawah pohon rindang. Aku mengatur napas, karena berlari dari lantai tiga menuju ketaman ini. Bisa dibayangkan betapa lelahnya.

Setelah tenang, aku mulai menghampirinya.

“Hai.” Tak ada jawaban.

“Emm, bolehkah aku duduk disini?” dia masih diam. Ada apa dengannya? Apa dia bisu? Ahh tidak mungkin.

“Diam berarti iya.” Aku langsung mendudukkan diriku di sampingnya. Keheningan selalu terasa jika berada didekatnya. Aku kesal akan hal itu.

#SEHUN POV

   Sejak kedatangan murid baru itu, ntah kenapa jantungku terasa berdebar dua kali lebih cepat. Padahal aku belum mengenalnya. Well, aku baru tahu namanya. Xi Luhan, yang aku tahu itu artinya rusa. Saat seluruh namja dikelasku bertanya padanya, aku penasaran, seperti apa wajahnya sehingga semua namja pervert dikelasku sangat antusias. ‘cantik, manis, perfect’ tiga kata itu sangat pas untuk menggambarkan yeoja yang kini ada dihadapanku.

“Hai.” Dia menyapaku. Kenapa dengan jantungku ini, tidak mungkinkan aku jantungan. Aku masih bungkam dibalik kegugupanku ini.

“Emm, bolehkah aku duduk disini?” dia ingin duduk disebelahku, kenapa aku hanya diam. Aish, apa otakku sedang konslet(?).

“Diam berarti iya.” Dia duduk disebelahku. Biasanya jika ada orang yang mendekatiku, aku akan pergi menjauh. Tapi kenapa semuanya terasa begitu kaku. Badanku rasanya beku.

Baby don’t cry tonight, eodumi geochigo namyeon….” Luhan menyanyi. Kenapa dia tidak pergi saja, jantungku jadi tidak beres. Aku seperti pernah mendengar dan familiar dengan suara ini. Untung saja aku bisa menyembunyikan ekspresiku. Kalau tidak, aku pasti sudah bertindak gila seperti namjanamja sinting dikelasku.

#AUTHOR POV

Baby don’t cry tonight, eodumi geochigo namyeon….” Luhan menyanyi, pelan memang, tapi masih bisa didengar oleh Sehun.

“01001001 00100000 01001100 01001111 01010110 01000101 00100000 01010101” Luhan menulis angka-angka di tanah sambil menggumamkannya lalu tersenyum menghadap Sehun. Sehun yang tak mengerti, menatap Luhan dengan dahi berkerut.

“Itu bilangan biner, aku sangat suka belajar tentang biner.” Luhan mengalihkan pandangannya dari Sehun dan menjawab pertanyaan Sehun yang tertampang dari raut wajahnya itu.

“Aku belajar bilangan biner sejak aku di sekolah dasar, biner sudah seperti teman hidupku.” Luhan tak melepaskan senyum dibibirnya.

“Apa cita-citamu?” Tanya Luhan menyadarkan Sehun dari lamunannya. Sehun langsung mengalihkan pandangannya. Tak mendapat jawaban, akhirnya Luhan berniat untuk pergi, namun sebuah tangan menahannya.

“Bisakah tetap disini?” Luhan langsung tersenyum dan mengangguk, lalu duduk kembali. Walaupun tidak ada percakapan sama sekali, tapi Luhan senang, dapat mendengar suara Sehun.

KRING KRING KRING. ITS TIME TO BEGIN THE NEXT LESSON.

Bel masuk sudah berbunyi dan Luhan berniat kembali ke kelas, tapi sekali lagi tangan Sehun menahannya. Luhan menatap heran ke arah Sehun. Sehun hanya memasang muka datarnya dan menarik Luhan menuju atap sekolah. Luhan terus memberontak.

“Yaa, lepaskan aku Sehun. Ini waktunya masuk, kau tak dengar bel tadi eoh?” Luhan terus meneriaki Sehun dan memukul tangan Sehun yang menggenggam tangannya. Sehun makin mengeratkan pegangannya, membuat yeoja bermata rusa itu mengerang sakit.

“Akhh, sakit Sehun.” Sehun melepaskan pegangannya dan menatap Luhan dengan tatapan ‘ikuti saja, jangan berisik’. Luhan terdiam dan tak lagi menolak ditarik Sehun. Chanyeol yang melihat perilaku adiknya itu tersenyum lega.

‘Sepertinya tidak perlu dijodohkan. Mereka memang jodoh.’ Batin Chanyeol, ia berlalu kearah kelasnya.

Skip time.

Luhan kembali berontak saat tahu ia akan dibawa ke atap sekolah. Sehun yang sudah jengah mendengar ocehan Luhan, mendorong yeoja rusa itu ke dinding dan mengunci kedua bahu Luhan dengan tangannya. Posisi mereka terlalu dekat, hingga bisa dirasakan napas mereka masing-masing.

“Bisakah kau tidak berontak? Aku hanya ingin kau menemaniku hari ini.” Ucap Sehun dingin dengan tatapan tajamnya.

“Ta-tapi Sehun. Ini sudah waktunya masuk. Kalau kita bolos, kita akan dihukum.” Luhan terlalu gugup berada di posisi yang sangat dekat dengan seorang namja. Ia hanya bisa menunduk tanpa membalas tatapan tajam Sehun.

“Aku akan bertanggung jawab.” Jawab Sehun final.

“Maksudmu?” Luhan tak mengerti ucapan Sehun, ia memberanikan menatap manik mata Sehun.

Sehun menghela napas dan beranjak mundur. Ia lalu duduk di bangku dekat taman buatan, dapat langsung menikmati pemandangan keadaan di bawah sekolah.

Luhan yang telah sadar dari keterkejutannya, berjalan kearah Sehun dan duduk disamping Sehun. Untuk menormalkan detak jantungnya, Luhan mengedarkan pandangannya ke sekeliling atap, dan berdecak kagum.

“Wahh… Pemandangannya sangat indah disini.” Luhan masih belum mengalihkan pandangannya, tak sadar namja disebelahnya itu sedang menatap Luhan tanpa berkedip.

“Kau sering kesini?” Luhan mamandang Sehun dan membuat namja itu salah tingkah. Sehun hanya mengangguk. Luhan tersenyum.

“Kata Baekki, kau itu orangnya tertutup. Tapi aku tidak percaya. Kau pasti orang yang baik dan ceria.” Luhan tersenyum sumringah, walaupun ia tidak yakin dengan kata-kata yang baru saja ia ucapkan.

‘Walaupun aku tidak yakin dengan kata-kataku, akan aku buat kau menjadi namja yang ceria seperti dulu, aku tidak tahu apa masalah yang menimpamu sehingga kau berubah jadi penutup seperti ini’ Luhan hanya bisa bergumam dalam hati. Sehun menatap Luhan lalu mendecih.

“Cihh, yeoja sok tahu.” Sehun bergumam, tapi masih dapat didengar jelas oleh Luhan.

“Mwo? Apa katamu? Kau meragukan kata-kataku eoh?” Luhan berkacak pinggang. Mempoutkan bibirnya.

“Seberapa yakin kau dengan ucapanmu?” tanya Sehun akhirnya.

“Aku yakin 99,99%” jawab Luhan yakin.

“Berani taruhan?” Sehun menantang Luhan.

“Kenapa tidak. Aku berani.”

“Baik, yang kalah harus menuruti tiga keinginan pemenang. Otte?” Sehun mengulurkan tangannya.

“Hmm, oke, deal.” Luhan menjabat tangan Sehun. Hangat, itu yang dirasakan Luhan. Luhan tersenyum penuh kemenangan, karena Sehun malah banyak bicara padanya.

“Eoh, lihat, sekolah sudah selesai. Tasku masih dikelas. Ottokhae?” Luhan mulai resah.

“Kajja, kita pulang. Sebelum kita dapat pelajaran tambahan.” Sehun melirik sedikit kearah Luhan.

“Luhan, ti amo” Luhan yang berada didepan Sehun, berhenti berjalan dan menatap heran kearah Sehun.

“Mwo? Kau bilang apa tadi Sehun-ssi?” tanya Luhan penasaran.

Ti amo.” Sehun mengulang pernyataannya.

“Apa artinya?” Sehun hanya diam.

Luhan mengedikkan bahunya, “Ya sudah, kalau tidak mau memberi tahu.” Luhan membalikkan badan dan kembali berjalan ke kelas. Sehun hanya menetap punggung Luhan yang perlahan menjauh, hingga sosok itu hilang di koridor sekolah.

Ti amo, je t’aime xi Luhan.” Sehun bergumam.

“Yaa, Luhannie, kau kemana saja eoh? Tidak masuk pelajarang Kris Seonsaengnim” Kyungsoo yang melihat Luhan masuk kelas, langsung berlari kearahnya.

“A-aku, tadi aku berulang kali ke toilet, akhirnya aku ke UKS.” Jawab Luhan bohong.

Jinjja? Kau serius? gwenchana? Mana yang sakit?” Baekhyun bertanya dengan khawatir dan memeriksa setiap bagian tubuh Luhan.

Nan gwenchana Baekki-ah. Aku sudah baikan.” Luhan berusaha setenang mungkin agar kedua temannya ini tidak curiga.

“Oh ya, Sehun juga tidak masuk tadi. Apa Sehun bersamamu?”

DEG

“A-anni. Aku tak melihatnya.” Luhan terlalu gugup, hingga bicarapaun terbata-bata.

“Yaa Kyungie, kau kan tahu setiap kriss Seonsaengnim mengajar, dia selalu bolos.”

“Kenapa begitu?” Luhan penasaran. Banyak hal yang ingin dia tahu tentang Sehun.

“Ntah lah, kami tidak tahu.” Baekhyun bergumam.

“Ahh, kajja. Kita pulang saja. Sudah sore.” Kyungsoo menarik tangan Luhan dan Baekhyun.

#TAO POV

Aku masih merasa bersalah pada Sehun. Karena aku menolaknya, sekarang ia jadi pemurung. Ottokhae?

Lagi, aku melihatnya. Kenapa dia masih begitu. Apakah begitu sakit saat ditolak orang yang kau cintai? Taman itu, taman tempat Sehun sedang duduk sekarang, tempat ia menyatakan perasaannya. Aku selalu merasa bersalah. Sebelum ia menyatakan perasaannya, Sehun adalah namja yang ceria, murah senyum. Tapi semenjak kejadian itu, Sehun jadi orang yang pemurung. Ini salahku.

“Hai.” Aku melihat seorang yeoja menghampiri Sehun. Tunggu, aku tak pernah melihat yeoja itu di sekolah. Apa dia murid baru?

“Bolehkan aku duduk disini?” kenapa dengan yeoja itu. Apa dia tidak takut dengan Sehun. Ahh, mungkin karena dia murid baru.

“Diam berarti iya.” Yeoja itu duduk disamping Sehun. Selama ini, setiap ada yeoja yang menghampiri Sehun, Sehun pasti meninggalkannya, tapi kenapa dengan yeoja itu. Kenapa Sehun malah diam saja?

“01001001 00100000 01001100 01001111 01010110 01000101 00100000 01010101” biner. Aku yakin itu bilangan biner, walaupun samar, aku masih bisa mendengar jelas apa yang di katakan yeoja itu dalam bilangan biner. Tidak biasa.

Aku akui yeoja itu cantik. Tapi hei, apa aku tak salah lihat? Kenapa Sehun menggenggam tangan yeoja itu? Kenapa yeoja itu duduk lagi?

“Akkhh, kenapa jadi begini. Apa rasa bersalahku begitu dalam sehingga melihat Sehun dengan yeoja lain, hatiku jadi sesak. Ottokhae? Apa aku menyuKainya? Ahh anni, aku sudah punya kriss oppa.” Aku mengacak rambut frustasi.

“Waeyo chagi?” suara itu mengejutkanku. Tanpa aku lihatpun aku tahu pemilik suara itu. Kriss oppa.

“Anni oppa.” Aku berusaha menyembunyikan kegelisahanku. Aku tak mau Kriss oppa salah paham.

“Kajja, kita ke kantin.” Aku hanya bisa mengangguk mendengar ajakan namjachinguku ini. Mungkin dengan aku bersamanya, bisa melupakan sedikit rasa bersalahku.

Aku melirik sedikit kearah Sehun. Aku melihat Sehun menarik lengan yeoja itu. Hmm, baguslah, berarti ia sudah mulai melupakan aku. Aku tersenyum kecut.

Skip time

Chagi, gwenchana?” kriss terus saja menatapku khawatir. Aku hanya bisa mengangguk lemah.

“Gwenchana oppa.” Jawabku bohong. Aku tak baik-baik saja melihat Sehun dengan yeoja itu.

 

#AUTHOR POV

 

Sudah seminggu Luhan pindah ke senior art school. Dan seminggu itu pula ia berusaha membuat Sehun ceria. Kadang ia mengganggu Sehun, yang akhirnya mendapat deathglare dari si ‘ice price’.

Banyak yeoja yang tidak suka melihat Luhan dekat dengan Sehun. Bahkan sahabatnya, Baekhyun dan Kyungsoopun tak menyangka Sehun akan berbicara pada Luhan. Walaupun hanya dalam keadaan tertentu.

Hari ini Luhan tidak mengganggu Sehun. Ia lebih tertarik dengan ucapan Baekhyun, ‘ada buku-buku biner di perpustakaan’. Dan benar saja, disana Luhan. Di perpustakaan, sibuk dengan dunianya dan bilangan biner. Dunia terasa milik Luhan dan bilangan biner.

Sehun. Dia gelisah di bangkunya.

‘Tidak biasanya rusa itu tidak menggangguku. Apa dia sudah bosan? Andwae. Tidak boleh. Aku bahkan belum menyatakannya, tapi dia sudah menjauh.’ Sehun berteriak dalam hati.

Dengan segenap keberanian, dan membuang jauh image coolnya, Sehun memanggil Baekhyun, dak bertanya tentang keberadaan Luhan. Dan disinilah Sehun, berlari menuju perpustakaan dengan tergesa-gesa. Seakan jika tidak, ia akan kehilangan lagi.

Sehun menemukan Luhan. Ia duduk disudut perpustakaan yang sepi. Bahkan disini tidak dipasang CCTV karena jarang didatangi siswa.

“Luhan.” Sehun memanggil Luhan, pelan. Tak ada jawaban, Luhan masih asyik dengan bilangan biner kesayangannya.

“Luhan.” Kali ini lebih keras, sehingga Luhan menoleh.

“Eoh, Sehunna. Kau disini. Sejak kapan? Duduklah.” Luhan mempersilahkan Sehun duduk di bangku sebelahnya.

“Buku apa yang kau baca?” Sehun penasaran dan memajukan kepalanya, melihat pekerjaan yeoja disampingnya itu. Tanpa mereka sadari ada lima pasang mata yang memperhatikan mereka.

“Eoh, buku tentang biner.” Jawab Luhan gugup menyadari wajahnya yang bersentuhan dengan wajah Sehun. Empat pasang mata yang memperhatikan mereka, tersenyum lega, sedangkan sepasang mata lagi tersenyum miris.

“Kajja Baekki-ah, Kkamjong, Kyungie. Tidak baik mengganggu orang yang sedang PDKT.” Ajak Chanyeol sok bijak.

“Eoh, bisakah kau artikan kalimat biner pernah kau ucapkan ditaman? 01001001 00100000 01001100 01001111 01010110 01000101 00100000 01010101” Sehun mengucapkan bilangan biner yang pernah Luhan ucapkan dengan lancar. Luhan hanya bisa memasang wajah takjub.

“Bagaimana kau bisa menghapalnya? Padahal aku hanya mengucapkannya sekali.” Luhan berpura-pura berpikir dan mempoutkan bibirnya berusaha mengalihkan perhatian Sehun.

“Cihh, kau tak bisa mengalihkan perhatianku, rusa jelek.” Sehun mencubit pipi Luhan.

“Yaa, apoo Sehunna.” Luhan mengelus pipi yang dicubit oleh Sehun dan mempoutkan bibirnya.

“Kekeke, yaa rusa. Kau sangat jelek ‘cantik’ kalau begitu.” Sehun terkekeh. Luhan yang melihatnya sampai terpaku.

“Sehun.”

“Eoh, wae?” Sehun masih terkekeh.

“Apakah kau benar-benar tertawa?” Luhan tersenyum jail.

“A-anni.” Sehun langsung merubah raut wajahnya menjadi datar lagi.

“Aku menang Sehun. Aku menang. Kau tertawa.” Luhan bersorak gembira, tidak menyadari keberadaannya.

“Yaa, kecilkan suaramu. Ini perpustakaan pabbo.” Sehun langsung menarik tangan Luhan, lalu membekap mulut Luhan hingga Luhan berada di dekapannya. Membelakanginya. Luhan seketika membeku.

“Sehun, bisakah kau lepaskan tanganmu. Ini perpustakaan.” Luhan berbisik karena gugup.

“Eoh, mian mian. Mianhae.” Sehun melepaskan bekapan dimulut Luhan. Mereka jadi salah tingkah. Tak menyadari sepasang mata yang hatinya telah hancur.

“Eoh, karena aku menang, kau harus memenuhi perjanjian kita. Otte?” tanya Luhan setelah sadar dari kegugupannya.

“Ehhem, baiklah, aku akan memenuhinya.” Jawab Sehun gugup, karena mendapat tatapan penuh harap dari Luhan.

“Apa yang pertama?” lanjut Sehun.

“Kau harus menjawab. Otte?” Luhan mendapat ide.

“Apa yang harus ku jawab?”

“Apa arti ucapanmu saat di koridor? Ti amo?” Luhan bertanya penuh selidik. Sehun yang menyadari pertanyaan Luhan, menjadi salah tingkah.

“Ahh, bisakah pertanyaan itu diajukan terakhir? Aku lupa artinya.” Jawab Sehun bohong.

Geurae, hmm, apa ya pengganti permintaan ku tadi?” Luhan tak menyadari kebohongan Sehun, ia terlihat berpikir untuk mengganti permintaannya.

“Ahha, aku tahu.” Jawab Luhan sumringah.

TO BE CONTINUE

NB : Otte?

Gaje ya? Maap deh, masih amatir.

Hunhan moment dikit? Tenang ini masih Chapter awal.

Kalo responnya bagus, bakal dilanjutin chapter selanjutnya.

Kalo responnya biasa atau gak bagus, cukup tahu aja.

#CUPLIKAN NEXT CHAPTER

“Bagaimana yeobo? Apa kau sudah menemukannya? Aku sudah tidak sabar membuatnya menderita.” Xiumin.

“Sabar yeobo, aku sudah menemukannya. Ia sekelas dengan anak kita.” Chen.

“Kau yakin?” Sehun.

“Sangat yakin.” Luhan.

“Yeollie-ah. Aku bermimpi buruk.” Baekhyun.

“Itu hanya mimpi Baekki-ah. Jangan khawatir, aku disini.” Chanyeol.

“Aku rasa aku mencintainya.” Zitao.

“Aku tahu kau mencintainya, aku hanya pelarian.” Kris.

“Aku tidak menyangka.” Kai.

“Apa benar? Bagaimana bisa?” Kyungsoo.

“Yeobo, aku menemukan anak kita. Ia sangat tampan sepertimu.” Lay.

“Jinjja? Apakah mereka masih mengenali kita?” Suho.

Sekian cuplikannya…. J

 

 

 

Iklan

8 pemikiran pada “My Life (Chapter 1)

  1. Wah.. Sepertinya aku duluan yg comment nih thor.. Hehe 😀
    FFnya keren alurnya juga. Ga nyangka aja semua member dapet jodoh atu-atu haha
    Okedeh next chap yooo~
    Keep writing & Fighting!!! 😉

  2. Annyeong rainbow..
    gumawo kamu udah comment..
    jinjja? ahh author jadi tersanjung..
    chap selanjutnya lagi di antrean, keep reading yaa… 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s