Darling Smoker (Chapter 2)

Darling Smoker

A Storyline Present By:

@diantrf

 

Darling Smoker

(The Reason That I Didn’t Know)

 

Cast:

Xiao Luhan, Zhang Yixing/Lay (Exo) | Park Cheonsa, Han Hyunna (OC)

 

Genre: Romance, School-life | Rating: PG-17 | Length: Chaptered

 

DC:

Terinspirasi dari sebuah komik dengan judul yang sama (Darling Smoker—Mizuto Aqua). Banyak adegan yang sama antara cerita asli dan ff ini, namun yang membedakan adalah adanya pengembangan cerita dan gaya bahasa khas penulis sendiri.

 

0o0

 

Tanganku pegal karena kemarin memeriksa puluhan lembar jawaban siswa. Ternyata empat orang pun masih kurang untuk mengerjakan semua itu. Namun hal itu sebanding dengan rasa senang di hatiku. Iya, Luhan kemarin mengantarku pulang dengan motornya. Aneh, padahal seingatku ia selalu membawa mobil ke sekolah. Entahlah, mungkin hanya ingin mengubah suasana sementara. Sedangkan Hyunna juga diantar pulang oleh Yixing—dan aku harus merelakan telingaku yang sakit akibat teriakannya yang bertubi-tubi saat meneleponku. Hyunna terlalu excited sampai-sampai lupa bahwa ia meneleponku pukul sepuluh malam. Gadis yang sedang jatuh cinta memang sangat mengerikan.

 

Dan hari ini aku sangat berterimakasih kepada kepala sekolah tercinta kami karena mengadakan rapat dadakan yang sangat lama. Guru-guru diperkirakan tak akan masuk kelas sampai jam terakhir nanti. Bahkan sekarang kelasku sudah hampir kosong, hanya menyisakan aku dan Hyunna serta beberapa murid lain yang lebih memilih untuk tidur ketimbang keluyuran tak jelas.

 

Oh, jangan tanyakan kemana Jongin. Ia sedang mengadakan tanding sepak bola dengan kelas sebelah. Ya, walaupun sudah bisa dipastikan kelas kami akan menang—siapa pula yang bisa menandingi namja bar-bar seperti Jongin? Tandingannya di kelas sebelah paling-paling hanya kelompok Sehun-Tao dan kawan-kawannya. Mereka jelas tak sebanding dengan murid kelasku.

 

Hyunna terlihat sedang menulis sesuatu di mejanya. Untunglah aku bukan tipe gadis yang selalu ingin tahu urusan orang lain. Jika Hyunna mau cerita padaku, maka aku akan dengan senang hati mendengarnya. Jika tidak, ya sudah. Untuk apa pula ingin tahu urusan orang lain? Baiklah, waktu kosong ini sebaiknya aku gunakan untuk membuat beberapa analisis. Kira-kira apa alasan Luhan—sang murid teladan dan ketua Dewan Siswa terhormat yang digilai banyak gadis itu—merokok. Apa ya?

 

Pertama, mungkin karena ia terlalu sering bergaul dengan namja yang tidak benar. Tapi, aku tak pernah lihat Luhan bermain dengan orang yang aneh. Paling-paling hanya dengan Yixing atau dengan Yifan sang mantan ketua klub basket. Haruskah ketua klub basket adalah para namja dengan tinggi yang kelewat batas normal? Saat ini pun Chanyeol yang tinggi itulah ketua basket yang baru. Oke, abaikan itu. Sepertinya alasan pertama ini kurang masuk akal.

 

Kedua, apakah mungkin hanya untuk sekedar membuatnya terlihat manly? Ah, sepertinya ini juga tidak. Luhan jarang sekali berbuat yang aneh-aneh di depan banyak orang. Hanyalah seorang Xiao Luhan dengan senyum ramahnya dan selalu membantu orang lain di saat kesulitan. Itupun sudah bisa dikategorikan manly. Berarti bukan ini alasannya.

 

Ketiga.. Argh! Untuk apa pula aku membuat analisis bodoh yang tak jelas ujungnya nanti? Lebih baik langsung kutanyakan saja pada Luhan. Ya! Aku harus menanyakan langsung padanya, syukur jika ia mau mendengarkan nasihatku untuk tidak merokok lagi. Sayang sekali kan jika namja tampan seperti dia ternyata mempunyai sisi gelap di belakang?

 

Karena, aku mencintai Luhan. Sangat, hanya saja aku tak menyukai fakta bahwa ia merokok. Hanya itu. Dan jika aku bisa membuat Luhan berhenti merokok, pastilah Luhan menjadi pria sempurna di mataku. Oke, misiku sekarang adalah mengetahui sebab ia merokok dan sebisa mungkin membutnya berhenti. Ya, harus!

 

 

“Cheonsa, mau tidak menemaniku menyerahkan ini pada Yixing sunbae?”

 

 

Hyunna dengan horornya tiba-tiba muncul di hadapanku dengan memegang sebuah buku. Ah, sepertinya ia daritadi sedang menulis sebuah catatan. Memang, kelas tiga sekarang tengah sibuk mencari materi-materi sewaktu mereka kelas satu dan dua. Dan cara yang paling efektif adalah meminjam catatan adik kelasnya. Hyunna ini memang terkadang terlalu baik. Padahal aku sangat tahu jika ia jarang sekali yang namanya mencatat pelajaran. Demi Yixing tercintanya apa sih yang tak bisa ia lakukan? Hehe.

 

Tunggu, apa tadi Hyunna bilang? Yixing kan sekelas dengan Luhan, aku bisa sekalian menanyakan hal itu pada Luhan. Lebih cepat lebih baik kan? Dan sepertinya kelas Luhan juga sedang tak ada guru. Toh semua guru sedang rapat, berarti kelasnya saat ini juga sedang kosong seperti kelasku.

 

 

“Baiklah, ayo.”

 

 

Kami berjalan santai menuju kelas Luhan. Ia berada di kelas 12-1—tentu saja, ia kan jenius. Sepanjang jalan ini pula aku menagih penjelasan pada Hyunna kenapa kemarin aku dan Luhan melihat tangannya terkait dalam genggaman Yixing. Dan ternyata hanya sebuah refleks saja. Saat Yixing kemarin menjemputnya di kelas, tanpa sadar namja itu langsung menarik tangan Hyunna dan lupa untuk melepasnya bahkan sampai tiba di ruang Dewan. Oh, kukira ada sesuatu yang Hyunna sembunyikan dariku. Tapi semoga saja ini menjadi awal yang baik bagi Hyunna dan Yixing nantinya.

 

Tak terasa kami telah sampai di depan ruang kelas Luhan dan Yixing. Aku sedikit menengok ke dalam, ternyata keadaannya tak beda jauh dengan kelasku. Hanya terlihat beberapa siswa yang sedang tertidur atau sekedar membaca buku. Dan mataku menangkap Luhan, ia sedang membaca sebuah buku dalam diam di tempat duduknya. Dan di sampingnya Yixing sedang mengetik sesuatu di laptop-nya. Aku menatap Hyunna, dan ia akhirnya memberanikan diri untuk mengetuk pintu kelas ini.

 

 

Tok..tok..

 

 

Annyeonghaseyo, sunbae. Bisa tolong panggilkan Yixing sunbae?”

 

 

Kami disambut oleh seorang sunbae perempuan yang senyumnya sangat manis. Sepertinya ia orang yang baik. Ia kembali masuk ke kelasnya dan memanggil Yixing. Yang dipanggil pun langsung beranjak dari kursinya dan menghampiri kami. Ia tersenyum cerah saat menyadari kehadiran kami—lebih tepatnya kehadiran Hyunna.

 

 

Eoh, Hyun. Terimakasih.”

 

 

Hyunna memberikan buku catatannya pada Yixing. Untuk beberapa saat terjadi kecanggungan diantara mereka. Aku hanya diam sambil menahan tawaku. Mereka ini sangat lucu. Bagaimana ya jadinya jika mereka berdua menjadi sepasang kekasih nantinya?

 

 

Eum, sunbae. Bisa tolong panggilkan Luhan sunbae?” Aku jadi teringat tujuanku menemani Hyunna. Yixing sunbae terlihat mengerutkan keningnya.

 

“Luhan? Ah, baiklah. Eh, Hyunna bisa tidak membantuku mencari beberapa materi lagi di dalam? Tak usah sungkan, temanku semuanya baik.”

 

 

Wajah Hyunna terlihat memerah. Sungguh, aku ingin tertawa saat ini juga. Akhirnya Yixing sunbae menarik tangan Hyunna agar ikut masuk ke kelasnya. Aku hanya melambaikan tanganku dan tersenyum penuh arti padanya. Tak lama aku menunggu, Luhan langsung keluar dengan sebuah buku tebal di tangannya. Sebenarnya buku apa itu?

 

 

“Ada apa?”

 

 

Luhan sangat manis saat ini. Wajahnya seperti anak lima tahun yang bertanya akan kemana kepada ibunya. Tak sadar, aku menunjukkan senyumku. Dan itu membuat Luhan menatapku heran.

 

 

Ah-itu-bolehkah aku bertanya beberapa hal pada sunbae?”

 

“Disini? Eum, sebaiknya jangan disini.”

 

 

Ia langsung menarik tanganku tanpa dosa. Koridor terlihat sepi karena sepertinya semua murid lebih memilih untuk menghabiskan waktunya di kantin. Tangan kirinya masih menggenggam tanganku sedangkan tangannya yang lain sibuk memegang buku tebal yang ia baca. Sebenarnya itu buku apa sih? Aku jadi penasaran karena sepanjang perjalanan ini Luhan sama sekali tak melepas pandangannya dari buku itu.

 

Kami pun sampai. Luhan menempelkan ibu jarinya di alat pendeteksi sidik jari lalu pintu pun terbuka. Ia masuk lebih dulu dariku dan meletakkan buku tebal itu di meja lalu pergi berbelok entah kemana, sepertinya untuk mengambil minuman. Waktu yang tepat untuk mengobati rasa penasaranku. Aku dengan gesit langsung menghampiri meja itu dan mengambil buku itu untuk kulihat judulnya. Dan kau tahu apa yang tertulis disana?

 

 

What..the..

 

“Kau ini kenapa ingin tahu sekali urusan orang?”

 

Kyaaa sunbae! Buku apa itu?!”

 

 

Sontak aku menjerit kaget dan buku itu terbanting begitu saja di meja. Luhan ini sepertinya memang hantu dan bukanlah manusia, datang dan pergi dengan tiba-tiba—selalu mengagetkan orang lain. Sepertinya ketua Dewan satu ini memang gila. Untuk apa membaca buku seperti itu? Ya Tuhan, kenapa aku mencintai orang seperti dia yang hanya manis di luarnya saja?

 

 

“Kau kan sudah membaca judulnya, kenapa masih tanya?”

 

“Ma-maksudku..”

 

 

Sepertinya wajahku sudah sangat merah melebihi lobster yang direbus. Kau tahu apa judul buku itu? “1001 Posisi Menyenangkan Untuk Bercinta”. Tidakkah Luhan ini gila? Luhan malah menatapku jahil setelah menyadari perubahan wajahku yang mendadak ini. Sepertinya otaknya telah diracuni hal-hal seperti itu. Ya Tuhan tolong aku, jangan sampai Luhan bertingkah yag aneh-aneh sekarang!

 

 

“Kau ini, wajar kan jika pria membaca hal seperti itu? Itu termasuk pengetahuan umum.”

 

“Pengetahuan umum apanya?! Dasar otak mesum!”

 

“Pengetahuan agar nanti aku tak kikuk saat menidurimu.”

 

 

Sungguh, aku ingin sekali memukul wajahnya yang terlihat mesum itu. Daripada menanggapi omongannya yang tak jelas dan menyebalkan itu, lebih baik aku duduk dan beristirahat sejenak sebelum nantinya menanyakan beberapa pertanyaan serius padanya. Luhan terlihat salah tingkah karena aku tak menanggapi omongannya. Rasakan itu!

 

 

Hey jangan marah, aku hanya bercanda. Kau ingin membicarakan apa denganku?”

 

 

Luhan menyusulku dan duduk di sampingku. Kami sekarang sedang berada di ruangan pribadi Luhan, bukan di luar. Dan bisa dipastikan tak ada orang lain yang dapat mendengar pembicaraan kami. Baguslah, aku bisa dengan gamblang menanyakan hal apapun pada Luhan. Ia diam sambil terus menatapku dari samping. Ada apa dengannya? Tadi bicara melantur dan sekarang hanya terdiam menatapku. Sepertinya orang teraneh di sekolah ini menurutku adalah Luhan.

 

 

“Kenapa bisa ada gadis secantik ini di dunia..”

 

 

Aku menutup mulutku karena menahan tawa. Rasanya aku ingin muntah detik ini juga karena kalimat cheesy Luhan barusan. Baiklah, aku sudah tak dapat menahan tawaku sekarang. Memang sangat tidak elit bagi seorang gadis tertawa terbahak seperti ini di hadapan lawan jenis, apalagi itu adalah sunbae yang kau cintai. Tapi mau bagaimana lagi? Luhan sangat lucu saat ini.

 

Jadilah sekarang aku tertawa terbahak-bahak sambil memukul-mukul pinggiran sofa, bahkan air mataku sampai keluar. Luhan masih terdiam, entahlah apa yang ia lakukan saat ini karena aku masih sibuk menghentikan tawaku. Sekitar beberapa menit tawaku reda, aku menoleh ke arah Luhan. Ia masih terdiam, menatapku dengan senyum kecil di bibirnya. Aku langsung terdiam. Ya Tuhan, ekspresi Luhan kali ini sungguh manis.

 

 

“Sudah tertawanya? Sudah?”

 

Aaaaa sunbae, sakit!”

 

 

Ia mencubit kedua pipiku dengan sangat semangat. Kali ini ia yang tertawa senang karena sukses membuat pipiku merah seperti tomat. Dasar Luhan menyebalkan! Ia masih terus tertawa menyebalkan, maka dari itu aku memutuskan untuk mengambil buku laknat miliknya yang tebal itu lalu memukul kepalanya dengan cukup keras. Belum puas, lalu aku memukul-mukul bahunya dengan tanganku. Ia berteriak minta ampun namun aku sama sekali tak menggubrisnya. Rasakan itu, dasar sunbae menyebalkan.

 

 

“Hei, hei! Aku ini seniormu, hormatilah sedikit!”

 

“Untuk apa menghormati senior menyebalkan sepertimu—kyaaa!”

 

 

Tiba-tiba Luhan menarik tanganku yang sedaritadi memukul bahunya, membuat jarak kami hampir tak ada lagi. Ia mendekatkan bibirnya di telingaku. Rasanya sangat geli dan aku merasakan hawa-hawa evil Luhan. Mau apa lagi dia? Namun sialnya aku terlalu kaget dan membeku di posisiku sekarang. Napasnya terasa hangat. Ya Tuhan, mengapa senior satu ini selalu membuatku jantungan?

 

 

“Sepertinya kita sudah terlalu banyak bercanda. Tadi kau ingin membicarakan apa denganku? Cepat katakan agar aku bisa lanjut membaca buku yang tadi.”

 

 

Ia berbisik di telingaku, semakin membuatku merasakan sensasi berdebar ditambah kesal. Langsung saja aku kembali memukul bahunya. Jadi ia lebih mementingkan buku laknat itu daripada apa yang akan aku bicarakan nanti? Akhirnya setelah adegan kekanakan ini selesai, kami sama-sama membenarkan posisi duduk dan saling menatap satu sama lain. Aku memulai pembicaraan serius ini.

 

 

“Sebenarnya..apa alasan sunbae merokok? Itu kan melanggar peraturan sekolah, dan tak baik juga untuk kesehatan.”

 

 

Sial, aku merutuki nada bicaraku yang terlewat polos ini. Aku hanya terlalu takut untuk menanyakan hal itu, pasalnya aku kan dekat denganya baru kemarin lusa. Dan sekarang dengan lancangnya menanyakan hal privasi seperti itu? Tapi mau bagaimana lagi, aku terlalu khawatir padanya. Aku kecewa dengan perilakunya satu ini dan aku ingin ia berhenti. Aku bukannya membencinya, aku hanya tak suka dengan fakta jika ia merokok. Itu saja. Apa salah jika aku ingin merubah perilaku orang yang aku suka menjadi lebih baik?

 

Kukira ia akan langsung menunjukkan ekspresi terkejut atau risih, namun justru ia tersenyum manis padaku dan mengacak poniku dengan gemas. Luhan ini kenapa sih? Kadang bisa berubah menjadi sangat baik, kadang jahil dan menyebalkan, kadang mesum, dan sekarang ia kembali menunjukkan sisi manisnya padaku. Tak sadar mungkin aku semakin menyukainya. Ani, aku mencintainya. Sangat. Aku mencintai seniorku yang sangat susah ditebak ini.

 

 

“Tak apa-apa asal jangan ketahuan.”

 

 

Ia mencubit pipiku—kali ini dengan lembut—dan tersenyum lagi lalu mengambil buku tebal yang tergeletak di meja dan lanjut membacanya, mengabaikan diriku yang hanya bisa membulatkan mataku atas jawabannya. Aku kan bicara serius, kenapa ia hanya menanggapinya biasa saja? Bagaimana nanti jika murid atau bahkan guru tahu jika Xiao Luhan sang ketua Dewan yang terhormat dan digilai banyak gadis ini merokok? Apa ia tak memikirkan tindakannya itu?

 

 

“Kalau begitu aku yang akan menyebarkannya.”

 

 

Aku langsung berdiri dan menghadapnya, menampakkan ekspresi menantang. Sebenarnya ini hanya gertakan saja. Tentunya aku tak rela Luhan diskors bahkan sampai dikeluarkan hanya karena masalah ini. Ia mengalihkan pandangannya dari buku itu kepadaku, menunjukkan senyum evil-nya dan kembali membaca buku itu lagi. Dasar menyebalkan!

 

 

“Sebarkan saja, tak akan ada yang percaya denganmu.”

 

 

Kenapa ia sungguh sangat menyebalkan? Baiklah, itu artinya aku tak bisa membuatnya berhenti merokok dengan cara baik-baik. Oke Luhan sunbae, mulai hari ini kita akan berperang. Perang yang serius! Akhirnya aku meninggalkannya tanpa pamit. Biar saja, aku akan benar-benar membuat Luhan berhenti merokok. Lihat saja nanti!

 

 

“Gadis itu sungguh lucu.”

 

 

Sebenarnya aku tak benar-benar keluar, hanya saja sekarang aku bersembunyi di balik pintu ruangan pribadinya. Menunggu reaksi Luhan dengan apa yang baru saja aku lakukan padanya. Tadi dia bilang aku apa? Lucu? Hihihi tak usah bilang seperti itu aku juga tahu jika aku gadis yang lucu. Ia mengeluarkan kotak rokoknya dan mengambil satu batang lalu mengapitnya di bibir. Dan saat ia akan menyalakan pematiknya..

 

 

Hahaha, aku dikerjai.”

 

 

Ia tertawa sendiri. Ya ampun, wajahnya mengapa sangat manis saat tertawa seperti itu? Rencana pertama berhasil. Tadi aku sukses menukar rokoknya dengan rokok buatanku—yang berisi jelly manis berwarna cokelat. Setelah memastikan rencana pertama ini sukses, aku berjalan keluar ruang Dewan dan memutuskan untuk kembali ke kelas. Sepanjang perjalanan aku hanya senyum-senyum sendiri memikirkan Luhan. Kira-kira rencana apa lagi yang harus kulakukan agar ia menyerah dan mengikuti nasihatku untuk berhenti merokok?

 

Saat sudah hampir dekat dengan kelas, dari posisiku ini aku dapat melihat dua orang yang tengah berdiri di depan kelasku. Oh, rupanya itu Hyunna dan Yixing. Ternyata Hyunna telah selesai membantu senior pujaannya itu. Mereka nampak berbicara lama lalu akhirnya Yixing pergi. Dan yang membuatku kaget ialah, Yixing mengusap kepala Hyunna dengan lembut dan tersenyum manis padanya sebelum akhirnya benar-benar pergi meninggalkan Hyunna. Sepertinya Hyunna dan Yixing semakin dekat. Syukurlah.

 

Sepanjang sisa langkahku menuju kelas aku masih memikirkan rencana selanjutnya untuk Luhan. Ia harus benar-benar berhenti merokok dalam jangka waktu dekat ini. Harus. Dan aku tak boleh menyerah. Karena cinta butuh pengorbanan. Dan aku sangat mencintai senior menyebalkan itu.

 

 

0o0

 

Byurr!

 

 

Satu ember penuh air dengan telak membasahi seluruh tubuh Luhan. Rasakan, siapa suruh merokok disini? Untungnya aku sudah tahu gerak-gerik mencurigakan Luhan. Dan ternyata aku datang di saat yang tepat, Luhan tengah menyulutkan alat pematik di ujung rokoknya. Haha, rasakan itu. Sudah kubilang kan jika kita akan perang sungguhan?

 

Ia menatapku dengan mata membulat dan mulut menganga, pose yang sangat aneh namun terlihat lucu di saat bersamaan. Ia menunjukku dengan telunjuknya dan sudah akan mengucapkaan sumpah serapahnya, namun lebih memilih untuk diam dan memendamnya sendiri. Memang tak ada yang sanggup memarahi gadis manis sepertiku ini, hihi.

 

 

“Bagaimana kau tahu jika aku sedang merokok?”

 

Sunbae membuka jendela di hari berangin seperti ini pasti untuk sirkulasi udara, kan? Dasar menyebalkan!”

 

 

Luhan melirik jendela ruangannya yang terbuka lalu tertawa kecil. Setelahnya ia berjalan menuju lemari kacanya yang besar itu. Tepat berada di depan lemari, Luhan membuka blazer sekolahnya sekaligus kemejanya, membuatku dapat melihat tubuh bagian atasnya. Kyaa Luhan topless!

 

 

Kyaaa sunbae, apa yang kau lakukan?!”

 

 

Otomatis aku berteriak heboh lalu menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku. Aku tak mau menodai mataku yang suci ini. Aish, senior satu ini selalu ada saja tingkahnya yang membuatku jantungan. Aku mendengar helaan napasnya yang sangat dalam lalu tanpa kuketahui Luhan tengah berjalan ke arahku, masih dengan posisi tubuhnya yang topless. Ya Tuhan, selamatkan aku dan mataku.

 

 

“Apa? Kau masih tanya apa? Kan kamu yang membuat bajuku basah. Tentu saja aku ingin menggantinya.”

 

 

Ia menatapku dengan jengah. Aku masih menutup kedua mataku—ya walaupun aku masih dapat melihat Luhan dari sela-sela jariku. Tubuhnya sangat putih, seperti wajahnya. Dan otot tangan serta perutnya itu..kyaa eomma aku bisa gila!

 

 

Hmm, tapi..kepalang tanggung aku sudah seperti ini, bagaimana kalau kita..”

 

 

Bruk!

 

 

Tembok sialan, mengapa kau berada di belakangku saat genting seperti sekarang ini? Tubuhku terjebak oleh kekangan tangan Luhan. Aku masih menutup mataku, namun aku masih bisa melihat jika Luhan kini tengah menatapku dengan tatapan mesumnya itu. Huh, mengapa membuat Luhan berhenti merokok sangatlah sulit? Justru aku yang dibuat jantungan olehnya. Bagaimana ini, apa yang akan Luhan lakukan padaku kali ini?

 

 

“Buka matamu.”

 

 

Refleks aku menggeleng mendengar bisikan Luhan. Seenaknya saja menyuruhku membuka mata saat ia tengah topless di hadapanku dan mengekang tubuhku. Hembusan napasnya sangat terasa di leherku. Ya ampun Luhan, aku baru dekat denganmu semenjak kemarin lusa dan hari ini kau benar-benar membuatku hampir mati karena susah bernapas dan jantung yang berdebar lebih cepat dari biasanya.

 

 

“Park Cheonsa, aku ini seniormu. Menurutlah sedikit.”

 

 

Selalu saja ia memanfaatkan fakta bahwa ia seniorku dan aku harus menurutinya. Baiklah, aku melepas tanganku dari wajahku dan menatapnya langsung ke matanya. Ia pikir aku takut dengannya? Huh, jangan harap. Aku balas menatapnya tajam. Ingin sekali aku menjambak rambutnya jika ia sedang bertingkah menyebalkan dan sok mengatur seperti sekarang ini.

 

 

Cup~

 

 

Belum selesai aku menghinanya dalam hati, ia tiba-tiba saja menciumku—entah untuk yang kesekian kalinya, aku tak ingat. Aku menutup mataku. Sentuhannya begitu lembut, dan bibirnya terasa sangat manis—tapi aku sangat menyesali atas aroma tembakau yang masih dapat kuhirup dari tubuhnya dan kurasakan sedikit di bibirnya. Sebenarnya apa tujuannya menciumku berkali-kali seperti ini? Apa ia benar menyukaiku, atau justru aku hanya dijadikan bonekanya saja? Aku menahan tangis, aku takut jika Luhan hanya menganggapku sebagai mainannya saja yang seenaknya bisa ia perlakukan sesuka hatinya.

 

 

“Jika kau ingin tahu, aku merokok karena bosan. Dan jika Cheonsa ingin membuatku berhenti, maka Cheonsa tak boleh membuatku bosan. Mengerti?”

 

 

Lagi-lagi, ia menunjukkan senyum manisnya itu padaku lalu mengacak poniku. Ia berlalu menuju lemari kaca tadi dan mengambil seragam cadangannya lalu memakainya dalam diam. Aku masih terpaku di posisiku saat ini. Aku semakin bingung dengan Luhan yang memiliki banyak kepribadian. Sebenarnya Luhan itu malaikat berjiwa iblis, atau iblis berjiwa malaikat?

 

 

Sunbae, aku hanya mengkhawatirkan dirimu, itu saja. Dan..aku tidak suka ciuman dengan aroma rokok.”

 

 

Setelah mengucapkan hal itu, aku keluar dari ruangannya dengan langkah yang cukup pelan. Aku bingung, otakku mencoba memikirkan kemungkinan terburuk dari kedekatan kami. Dari semua perlakuan Luhan terhadapku. Bagaimana jika ia hanya main-main? Aku mencintainya dengan tulus, maka dari itu aku ingin ia berubah menjadi lebih baik. Hanya itu, apa itu sebuah kesalahan?

 

Saat aku sudah keluar dari ruangan Luhan, aku berjumpa dengan Yixing sunbae. Ia tersenyum padaku lalu melewatiku dan masuk ke dalam ruangan Luhan.

 

 

“Gadis itu menarik. Bukankah begitu, Luhan?”

 

Hahaha, ia sangat menggemaskan saat pipinya bersemu merah.”

 

 

Samar-samar aku mendengar suara Yixing dan Luhan. Yixing tak terlalu merapatkan pintunya sehingga aku masih dapat mendengar suara dari dalam. Seukir senyum otomatis terkembang di bibirku. Ternyata Luhan menyukaiku. Semoga saja ini awal yang baik bagi kami. Semoga.

 

 

TBC

 

 

Kenapa Luhan mesum banget ya._. Hihi, maaf atas segala kekurangan. Annyeong^^

43 pemikiran pada “Darling Smoker (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s