My Enemy is My Husband (Chapter 1)

My Enemy is My Husband (Chapter 1)

req39

| Title : My Enemy is My Husband (Chapter 1)|

| Author : gishafz (@ginashafanm) |

| Main Cast : Shin Yoon Mi (OC) & Oh Sehun (EXO) |

| Support Cast : Find by Yourself |

| Genre : Married-life (Coming Soon), Hate-Love, Hurt/ Comfort (Coming Soon) and Romance |

| Lenght : Chaptered (2.849) |

| Rating : WARNING! PG-17!|

| Credit Poster : irmaputree @ School Art Design|

| Personal wp : gishafz |

Disclaimer : Sehun dan casting yang lain seutuhnya milik Tuhan Yang Maha Esa dan orang tuanya masing-masing. Cerita ini hanya fiktif belaka, imajinasi dan khayalan author sendiri. Jika ada kesamaan cerita dan ide itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.

A/N : Saya sudah mengshare FF ini baru diblog pribadi saja. Mohon maklum kalau ada typo yang merajalela. Apabila kalian menemukan fanfiction yang ceritanya persis seperti FF ini, kemungkinan itu FF saya. Namun jika bukan, itu namanya plagiat.

Summary This Chapter: “Apa yang sedang kalian lakukan? Oh, apa kalian sedang bercinta?”

| DILARANG KERAS UNTUK COPY+PASTE FANFICTION INI TANPA SEIZIN AUTHOR |

~ Selamat Membaca ~

Beberapa kali hembusan angin pagi menyelinap melewati celah jendela buram yang terbuka. Jika diperhatikan lebih baik, ruangan ini tidak bisa dibilang sederhana dan tidak bisa dibilang mewah. Ruangan ini terdapat berbagai macam benda koleksi kuno sekaligus lemari kaca yang berisi banyak kertas yang diletakkan pada sebuah map besar.

Dan jika dilihat lebih lagi, ruangan ini terdapat sebuah meja kerja berwarna coklat lengkap dengan kursi yang nyaman. Kemudian di depan meja kerja tersebut terdapat sebuah sofa berwarna biru laut. Dan disitulah ada seseorang—tidak, ada dua orang disana terlihat tengah bercengkrama. Kebanyakan orang pasti menilai kedua orang tersebut sedang menjalin sebuah kerjasama dalam bisnis.

Kedua orang tersebut sangat berbeda jika dinilai dalam gambaran wajah dan postur tubuhnya—justru sangat berbeda karena salah satu orang tersebut terlihat sudah menampakan lipatan samar disekitar mata dibandingkan dengan orang disebelahnya, wajahnya sangatlah berseri dan putih tanpa noda—lengkap dengan rahang tegas dan dada bidangnya.

Beberapa kali berbicara, akhirnya pria paruh baya itu memberikan sebuah kertas putih pada pria muda berstelan jas rapih berwarna hitam disebelahnya. Pria muda itu hanya menatapnya penasaran sekaligus datar, tanpa berpikir apa isi dari kertas itu pria muda tersebut langsung meraih kertas tersebut dan tersenyum miring ke arah pria paruh baya itu kemudian membacanya.

Pria muda itu langsung membaca sebuah kertas putih yang tengah dipegangnya. Matanya berkali-kali bergerak kesana-kemari. Alisnya bertaut kini—tak lupa dengan kerutan samar dikeningnya.

“Warisan?” tanya pria muda itu tanpa mengalihkan pandangannya pada objek yang tengah dipegangnya.

“Iya. Sebuah harta warisan yang menggiurkan bukan?” jawab pria paruh baya itu kemudian bertanya.

Pria muda itu meliriknya dengan sekilas kemudian kembali memandang lurus kearah rentetan huruf dan angka yang tertera disana. Pria muda itu kembali berkerut keningnya karena sedikit tidak setuju, tatkala ia membaca kata terakhir pada kertas tersebut bertuliskan “SYARAT”. Namun disana tidak dituliskan apa syarat untuk mendapatkan harta warisan bernilai $ 100.000.000,-

“Kau mau, Oh Sehun?” tanya pria paruh baya itu sekali lagi sambil menyebut nama pria muda itu.

Raut wajah pemuda bernama Oh Sehun itu sontak berseri senang, “Tentu saja aku mau. Mana ada orang didunia ini yang menolak harta warisan sebesar itu.” Tutur Sehun dengan mantap dan tegas.

“Apa syaratnya?” tanya Sehun.

Pria paruh baya itu lantas tersenyum miring mendengar pertanyaan Sehun—cucunya. Tanpa menunggu lama, lelaki paruh baya itu merogoh kantung jas yang terdapat didalam kemudian menampilkan sebuah kertas berwarna putih berisikan wajah seorang gadis yang cantik—lengkap dengan nama gadis itu dibawah foto. Pria paruh baya itu langsung menyodorkan kertas seperti polaroid itu kepada Sehun.

Sehun memandang foto itu dengan datar—bahkan seperti tidak berselera. Akhirnya, Sehun meraih polaroid itu dengan cepat lalu mengamati foto tersebut tanpa melewati tiap lekukan wajah gadis yang cantik. Pandangan pemuda itu semakin turun dan kian menurun sampai pandangannya berhenti pada sebuah huruf hangul bertuliskan sebuah nama.

Mata Sehun seketika membulat ketika membaca nama gadis itu. Gadis itu, gadis itu adalah musuh Sehun sejak duduk dibangku Junior High School dulu. Dan syaratnya? Untuk apa ini? Pertanyaan itu memutar cepat dipikiran Sehun—tanpa jeda sedikit pun. Lebih-lebih ketika mendengar perkataan Kakeknya yang semakin membuat kepala Sehun serasa ingin pecah.

“Kau harus menikahi gadis itu, Sehun. Karena ayahnya sangat berpengaruh besar dalam bidang pertambangan. Tentunya, harta orang tua gadis itu melimpah ruah.” Ucap Kakek Sehun berusaha meyakinkan cucunya. Matanya berkali-kali berbinar jika mengingat harta orang tua gadis itu.

“Lalu, jika aku menolaknya?” tanya Sehun tetap dengan nada yang terdengar datar.

“Kau tidak akan mendapatkan warisan itu.” Jawab lelaki paruh baya itu enteng.

Sehun memutar kedua bola matanya jengah. Karena dalam otak Sehun, gadis itu adalah musuh terbesar sepanjang sejarah dalam hidupnya namun kini? Sehun harus menikahi musuhnya sendiri? Tetapi Sehun tidak akan cepat menyerah jika menyangkut tentang uang. Karena bagi Sehun, uang adalah separuh dalam hidupnya. Ia sangat menyukai uang.

 

~(˘▾˘)~***~(˘▾˘)~

 

Hari ini adalah hari dimana diadakan acara reuni Kirin Senior High School angkatan 2009. Mendengar kata reuni, tentunya mereka akan bertemu dengan teman lama bahkan musuh lama. Acara reuni yang berjudulkan “Kirin SHS’09” itu diadakan malam hari pada pukul 07.00 PM KST.

Ruangan yang dijadikan sebagai tempat reuni ini sangatlah megah dan besar. Terdapat panggung besar dan tidak terlalu tinggi terletak disana, sepertinya akan ada hiburan untuk alumni sekolah Kirin yang hadir pada acara ini. Didalam ruanganitu sudah banyak orang yang berdatangan.

Aktivitas mereka sangatlah beragam. Kebanyakan mereka sudah terduduk pada kursi yang telah disediakan kemudian mengobrol sesuatu semasa di SMA. Suasana diruangan ini benar-benar sangat riuh akan orang yang sedang asyik berbincang. Suasana bising dan riuh itu mendadak hening ketika pemuda tampan nan tinggi berjalan gagah melewati mereka—terutama para gadis.

Pandangan seluruh penghuni ruangan itu fokus memandang pemuda tampan berpakaian jas hitam yang rapih. Pemuda itu tak henti-hentinya memasang ekspresi wajah yang datar dan dingin seperti bongkahan es. Kedua tangan lelaki itu menenggelamkan diri pada saku celana hitam polos. Para gadis yang melihat pemuda tampan itu hanya bisa berdiam diri sembari memujinya didalam hati.

Lelaki itu akhirnya menghentikan langkahnya kemudian tersenyum manis—walau sedikit terpaksa. Pemuda itu membungkukkan badan tanda salamnya pada setiap orang yang berada diruangan itu. Disaat itulah suara decakan kagum dan pujian terlontar manis dari mulut para gadis yang melihatnya.

Pemuda itu dipuji layaknya malaikat baru turun dari langit. Semua pujian atas ketampanan luar biasa pemuda itu memang banyak terlontar dari mulut para gadis, namun tidak untuk gadis cantik yang satu ini.

Ya! Lihat dia, gayanya masih saja seperti SMA dulu.” Kata gadis tersebut dengan sinis. Pandangan gadis itu tak kalah mengerikan dengan nada bicaranya tadi. Gadis itu tampak bersidekap dada sambil memasang raut wajah yang sulit ditebak.

“Yoonmi-ya, lebih baik kau berbaikan dengan Sehun. Sejak kalian SMA, kalian tidak pernah akur. Aku khawatir sekali.” Ujar teman gadis itu sambil menepuk pelan pundak gadis bernama Yoonmi.

Yoonmi memutar kedua bola matanya kemudian menolehkan kepalanya pada orang yang baru saja bertuturan seperti tadi.

“Astaga, untuk apa aku meminta maaf pada iblis gila seperti dia? Apapun itu aku tidak akan pernah memaafkannya.” Tegas Yoonmi tiap katanya, bertanda ia tidak akan pernah memaafkan pemuda bernama Sehun itu.

Teman Yoonmi hanya bergidik ngeri mendengar nada bicara gadis itu.

“Bukankan kau pernah menyukai Sehun, Yoonmi-ya?” tanya temennya yang satu lagi.

Mendengarkan perkataan temannya, Yoonmi hanya bisa membelalakan mata dan tersenyum miring. Masih ada saja yang percaya gosip itu, batin Yoonmi. Kini, Yoonmi menghadapkan badannya total kearah temannya itu. Yoonmi memegang pundak temannya itu dengan pelan sembari tersenyum tak berselera.

“Kau masih percaya dengan gosip itu, Kang Soo Ra?” tanya Yoonmi lumayan datar kemudian ia melanjutkannya kembali,“Asal kau tahu saja, aku tidak akan pernah sudi menyukai terutama MENIKAH dengan lelaki playboy itu.” Ucap Yoonmi penuh penekanan terutama pada kata yang dicetak kapital ‘MENIKAH’.

Soora hanya membalas ucapan Yoonmi dengan mengangguk paham. Akhirnya, Yoonmi melepas genggamannya pada pundak Soora dan memutar badannya sehingga lurus pada meja bulat berwarna krem. Pengelihatannya sangat datar menatap sebuah bunga mawar yang terlihat sudah layu itu. Tangan kanan Yoonmi memegang gelas Stemberisikan minuman beralkohol.

Yoonmi memegang erat gelas itu dan berniat akan meminum minuman tersebut. Namun semua itu tidak berjalan dengan lancar ketika seorang pemuda memanggil namanya dan refleks membuat Yoonmi mencugatkan kepalanya untuk melihat siapa yang memanggil namanya itu dengan nada yang terdengar manis.

“Yoonmi~, sudah lama kita tidak bertemu.” Ujar pemuda itu dengan kelewat manja.

Awalnya, Yoonmi bersikap datar mendengar kalimat itu tetapi ketika melihat kenyataan yang memanggilnya adalah Sehun, Yoonmi terkejut setengah mati. Aliran darahnya seketika tersendat ketika dengan sengaja Sehun mengedipkan salah satu matanya kearah Yoonmi. Tak hanya aliran darah, Yoonmi merasakan napasnya tercekat dikerongkongannya.

Yoonmi hanya mengusap dadanya dengan pelan sembari mengontrol napasnya. Ini baru pertama kali dalam hidupnya. Sehun –musuh terbesar Yoonmi-, bersikap manis seperti itu. Menurut Yoonmi itu sangatlah tidak wajar. Yoonmi curiga jika Sehun sedang merencanakan sesuatu untuk mempermalukan dirinya.

Semua gadis yang melihat Sehun menyapa Yoonmi hanya bisa menelan ludahnya bulat-bulat. Mungkin yang ada dalam pikiran para gadis itu adalah kapan aku bisa disapa Sehun seperti itu. Segelintiran gadis itu menatap Yoonmi dengan iri dan sedikit kecewa. Mereka tahu jika Yoonmi adalah musuh terbesar Sehun, dan itu benar-benar membuat mereka shock akibat Sehun menyapanya.

Yoonmi memandang Sehun dengan bengis dan garang.

“Rencana apa lagi yang akan orang gila itu buat untuk mempermalukan aku.” Gumam Yoonmi sangat pelan, justru hanya Yoonmi dan Tuhan yang tahu.

 

~(˘▾˘)~***~(˘▾˘)~

 

Kian malam, acara reuni ini semakin meriah. Lebih-lebih banyak siswa alumni itu menyumbangkan beberapa lagu sebagai hiburan untuk seluruh penghuni didalam ruangan itu. Ada saja kejadian konyol yang terjadi diatas panggung. Ada salah satu siswa alumni yang menyanyikan lagu yang sangat lembut dan penuh perasaan, disitulah banyak lelaki dan wanita berdansa.

Semua ikut bernyanyi ketika menyanyikan lagu Graduation SMA Kirin. Disanalah mereka mengingat masa-masa SMA mereka yang manis dan pahit. Masa-masa yang sangat dirindukan.

Semua bernyanyi dan tertawa bersama. Namun tidak dengan Yoonmi. Ia menghabiskan banyak waktu dengan meminum arak.

Seluruh gadis yang diyakini statusnya masih single bertepuk tangan dengan heboh ketika melihat Sehun naik keatas panggung dengan mempesona. Sampainya Sehun diatas panggung, ia langsung berjalan kearah gitar klasik kemudian meraihnya. Ia duduk pada kursi tinggi tepat ditengah-tengah panggung. Para gadis berlarian dan berdiri tepat didepan panggung.

Sehun mengetuk pelan mic yang ada didepannya itu untuk memastikan apakah mic itu berfungsi.

“Lagu ini aku persembahkan untuk wanita istimewa yang telah mengisi hatiku.” Ujar Sehun dengan nada beratnya.“Untukmu, Shin Yoon Mi.” Ucapnya kemudian dengan manis.

Mendengar perkataan Sehun seperti itu membuat seluruh penghuni ruangan tersebut secara bersamaan menolehkan kepalanya kearah Yoonmi. Yang mereka tahu adalah, Yoonmi dan Sehun sudah bermusuhan sejak SMP. Tapi sekarang? Sehun bilang Yoonmi adalah gadis istimewa untuknya? Ini benar-benar membuat orang yang mendengar itu sangatlah shock.

Banyak para gadis sontak berbisik-bisik tanpa memutuskan pandangannya kearah Yoonmi—kebanyakan dari mereka memandang Yoonmi iri. Seluruh orang yang didalam ruangan itu pun langsung menarik kesimpulan jika Sehun-Yoonmi sedang menjalin sebuah hubungan.

Yoonmi menyikapi tuturan Sehun dengan polos dan tertawa tidak jelas sambil bertepuk tangan.Oh God, sepertinya pikiran gadis itu sudah terpengaruh minuman beralkohol dan akal sehatnya pun sudah pergi entah kemana. Oh ayolah, Yoonmi bukanlah tipe orang yang suka mabuk.

“Hahahah.. Apa yang akan kau lakukan, Brengsek?!” murka Yoonmi sembari meneguk kecil minuman terlarang itu.

Entah berapa gelas yang gadis itu habiskan untuk meneguk minuman berbau tajam itu.

Sehun hanya tertawa didalam hati melihat tingkah Yoonmi—seperti orang gila. Namun Sehun tidak memperdulikannya, ia tetap akan bernyanyi untuk musuh terbesarnya itu.

Celine Dion – To Love You More

I’ll be waiting for you (Aku kan menantimu)
Here inside my heart (Di sini di dalam hatiku)
I’m the one who wants to love you more (Akulah orang yang ingin lebih mencintaimu)
You will see I can give you (Kau kan melihat bahwa aku bisa memberimu)
Everything you need (Segala yang kau butuhkan)
Let me be the one to love you more (Biarkan aku menjadi orang yang lebih mencintaimu)

Diakhir lagu yang dinyanyikan oleh Sehun, para gadis bertepuk tangan dengan sangat heboh. Baru pertama kali, Sehun menunjukan bakatnya selain menari. Dan mereka pun menyimpulkan kembali jika seorang Sehun tidaklah seperti manusia es seutuhnya. Lelaki itu ternyata bisa melakukan hal romantis.

Sehun turun dari panggung sembari memusatkan pandangannya kearah Yoonmi. Keadaan Yoonmi sekarang adalah ia sedang menundukkan kepalanya kebawah, mulutnya berbicara dengan kacau, dan rambutnya berwarna cokelat kini sudah berantakan. Sehun hanya menggelengkan kepalanya lalu tersenyum miring. Lelaki itu kembali beranjak kearah kursinya.

 

~(˘▾˘)~***~(˘▾˘)~

 

Seorang gadis berpostur tinggi itu berjalan dengan gontai. Selama perjalannya, ia tidak henti-hentinya untuk berpegangan pada dinding sebagai alat untuk membantunya berjalan agar tidak terjatuh. Penampilan gadis itu sangat berantakan. Rok pendek sepaha itu sudah miring tidak jelas—bahkan kaki gadis itu sudah tidak menggunakan sandal/sepatu.

Gadis itu berjalan disebuah lorong sepi menuju sebuah lift. Tadinya, gadis itu bertujuan untuk kembali kearah ruangan yang sedang diadakan acara reuni itu. Namun gadis itu lupa arah jalan ke ruangan reuni SMA-nya. Hingga hasil akhirnya gadis itu tersesat. Gadis itu beberapa kali memegangi kepalanya dan meringis kesakitan.

Berjalan penuh perjuangan dan akhirnya ia berdiri di depan sebuah lift. Baru saja gadis itu menekan tombol lift, ada seseorang menarik lengan gadis itu kemudian menyeretnya ke ruangan gelap dan sunyi. Ruangan itu hanya disinari oleh cahaya malam yang redup.

KLEK! Pintu ditutupoleh orang yang menyeret gadis itu.

Berkali-kali gadis itu memberontak agar orang yang menariknya kedalam ruangan gelap ini melepaskan genggamannya. Gadis itu terbilang lemah, kekuatannya sangatlah kecil dibandingkan orang yang ada dihadapannya saat ini. Gadis itu antara sadar dan tidak sadar karena ia selalu meracau.

Hey, mengapa kau memegang lenganku?” tanya gadis itu. Nadanya terdengar memerintah.

“Lepaskan! Sakit, brengsek!” protes gadis itu, nadanya lumayan keras.

Pria itu kemudian menarik gadis itu agar mengikuti langkahnya. Dengan cepat, pria itu memojokkan gadis itu pada dinding. Kedua lengannya ia letakkan antara kepala gadis itu kemudian kaki kanan pria itu ia letakkan disamping tubuh gadis itu.

“Yoonmi~, mengapa kau sangat cantik hari ini?” puji pria itu sembari mengusap pipi gadis bernama Yoonmi.

“Hahahah, kau bodoh. Aku memang sudah cantik.” Yoonmi menjitak kepala lelaki itu lumayan keras.

Lelaki itu hanya tertawa mendengarnya. Lelaki itu mendekatkan wajahnya kearah wajah Yoonmi. Pengelihatan lelaki itu jatuh pada benda yang sangat disukai kalangan pria. Benda yang sangat ingin dikecupnya saat ini. Lelaki itu semakin menghapus jarak tubuhnyanya dengan Yoonmi bahkan tubuh mereka sudah bersentuhan.

Lelaki itu mendekatkan hidungnya kearah bibir Yoonmi kemudian menghirupnya.

“Kau sedang mabuk?” tanya lelaki itu.

“Benar-benar. Aku sedang mabuk.” Jawab Yoonmi lengkap dengan anggukan.

Tercipta suasana hening ketika terjadi kontak mata antara Yoonmi dan lelaki itu. Yoonmi tetap menggambarkan raut wajah polosnya namun tidak dengan lelaki itu yang justru menampilkan ekspresi wajah mesumnya. Seringaian kecil tidak henti-henti merekah dibibir lelaki itu.

Walaupun Yoonmi sepenuhnya tidak sadar. Namun wajah yang satu ini membuat Yoonmi tidak bisa melupakan itu. Melihat wajah lelaki dihadapannya itu mengingatkan Yoonmi akan musuhnya. Meskipun pencahayaan diruangan persis seperti gudang ini tidak terlalu memadai namun cahaya bulan yang redup sudah cukup bagi Yoonmi untuk mengenali wajah lelaki dihadapannya sekarang.

“Kau Sehun?” tebak Yoonmi dengan asal.

Ya, Yoonmi menebaknya asal tetapi didalam hatinya ia yakin jika didepannya itu adalah musuh terbesarnya –Sehun-.

“Tebakanmu sangat benar, Nona.” Seringaian kecil pun muncul dibibir lelaki bernama Sehun itu.

Mendengar jawaban lelaki itu membuat kesadaran Yoonmi tidak kembali. Ia kembali tidak sadarkan diri akibat minuman berakhol itu.

“Hahahah, manusia brengsek. Ada apa Sehun? Kau ingin mencari masalah denganku?” tanya Yoonmi sedikit berdesis.

Yoonmi tidak tahu jika dirinya kini tengah diapit oleh tubuh Sehun. Yeah, Yoonmi tidak sedang sadarkan diri tetapi jika ia sadar kalau didepannya Sehun? Yoonmi pasti sudah menghabisi Sehun dengan pukulannya bahkan ia sudah membunuh Sehun.

“Kau sangat cantik, Shin Yoon Mi. Kau benar-benar menggodaku dengan pakaianmu ini.” Ucap Sehun menyeringai dan langsung menyerang leher Yoonmi dengan ciuman tipis.

Yoonmi hanya terdiam mendapati Sehun menyerang lehernya tiba-tiba. Justru Yoonmi sangat menikmati ciuman Sehun yang membuat dirinya serasa melayang.

Sehun terus menciumi leher Yoonmi dengan tipis. Ya itu tadi, namun sekarang permainan Sehun sudah mulai memanas dan menggairahkan. Tanpa aba-aba, Sehun sudah mulai menelusupkan jemarinya pada kemeja longgar yang dikenakan oleh Yoonmi. Tangan Sehun meraba punggung Yoonmi yang lembut bak kain sutera.

Tidak bermain dileher saja, Sehun sudah mulai menurunkan ciumannya. Sebelumnya, ia melepas tiga kancing pada kemeja Yoonmi baru menciumi dada Yoonmi dengan ganas. Tidak hanya mencium, Sehun mengulum dan menghisapnya dengan kuat. Akibat kegiatan itulah membuat jemari Yoonmi menelusupkan diri pada rambut hitam milik Sehun.

Suara nista yang sedari tadi tidak ingin dikeluarkan oleh Yoonmi akhirnya keluar seperti melodi yang sangat merdu. Dan itulah membuat Sehun semakin mempercepat permainannya.

“Sehhunhhh, henhhhhtihhkhaaan..” desah Yoonmi erotis.

Permintaan Yoonmi tadi diabaikan oleh Sehun bahkan permintaan itu semakin membuat Sehun bersemangat untuk melakukan Yoonmi dengan lebih. Dengan cepat, Sehun menggendong Yoonmi dan alhasil kedua kaki Yoonmi berada dipinggang Sehun. Yoonmi memeluk Sehun dengan kuat dan itu membuat kepala Sehun membenam diantara dada Yoonmi.

Sehun terus menciumi dada Yoonmi sampai tertinggal tanda kepemilikan disana. Puas bermain dengan dada Yoonmi kini Sehun bermain diperut mulus milik Yoonmi. Sehun terus menciumi perut Yoonmi dan membuat gadis itu tak henti-hentinya mendesah dengan erotis. Sehun sangat menyukainya.

Sehun menurunkan tubuh Yoonmi dan kembali sejajar dengan dirinya. Kini, Sehun menyambar bibir Yoonmi yang berwarna pink soft itu.Ia mengunci dan mengulum bibir Yoonmi dengan kuat. Kedua mata mereka sudah terpejam sejak awal permainan. Sembari menciumi bibir Yoonmi, Sehun menyibukkan kedua tangannya untuk membuka seluruh kancing kemeja Yoonmi.

Dan hasilnya, seluruh kancing kemeja Yoonmi sudah terlepas.

Yoonmi membalas perlakuan Sehun. Gadis itu membalas ciuman Sehun dengan panas—bahkan mereka saling bertukar saliva. Yoonmi mengalungkan tangannya pada leher Sehun dan sedikit menariknya agar bisa memperdalam ciuman panas itu. Sehun memeluk Yoonmi dengan hangat walau sesekali ia mengusap dan mencubit punggung Yoonmi dengan gemas.

Sehun melepas kemeja Yoonmi. Tinggal bra dan rok pendek yang melekat pada tubuh Yoonmi. Sehun melepas kemejanya sendiri dengan cepat dan saat itu juga menampilkan tubuh Sehun yang sexy. Sehun kembali menciumi bibir Yoonmi semakin kuat. Sebetulnya, mereka sudah kekurangan oksigen untuk melakukan ciuman panas itu namun apa boleh buat? Napsu sudah merajai pikiran mereka.

Sehun melepas tautan bibir mereka.

“Kau milikku, Shin Yoon Mi.”

“Kau juga milikku, Oh Se Hun.”

Setelah itu mereka kembali melanjutkan aktivitas mereka.

Kedua tubuh mereka semakin merosot kebawah hingga akhirnya mereka tertidur pada lantai yang dingin. Sehun menindih Yoonmi dari atas dan itu membuat Sehun semakin leluasa untuk menikmati tubuh Yoonmi begitu juga dengan Yoonmi, ia bisa leluasa menikmati tubuh Sehun.

Yoonmi meraba dada bidang Sehun dengan lembut. Tangannya semakin beranjak kebawah dan terhenti pada perut sixpack lelaki itu. Sehun ikut menyibukkan diri juga, sambil menciumi bibir Yoonmi pergerakan tangan Sehun sekarang tengah mengelus lembut kedua paha Yoonmi. Tangan Sehun semakin keatas dan terhenti pada rok Yoonmi. Ia bersiap untuk merobek rok Yoonmi jika tidak ada suara pintu terbuka menggema.

“Apa yang sedang kalian lakukan? Oh, apa kalian sedang bercinta?”

.

.

.

(“¬_¬)TBC (˚☐˚!!)

A/N :

Hi~! Ketemu saya lagi dengan FF yang berbeda.

Aku minta review dari kalian untuk fanfiction ke-4 buatan saya ini ^^. Kritik dan saran sangat dibutuhkan untuk membuat FF ini menjadi lebih baik nantinya. Maaf banget kalau Chapter 1 pendek banget, coz ide aku untuk Chapter 1 cukup disitu aja 😀

Aku berpikiran untuk proteksi FF ini 🙂 karena ya adegannya :V *belum tau chapter berapa.

Dan, hei! Apa kalian menyukainya? Aku tahu ini pasaran banget -_-“ tapi serius ide ini semuanya berasal dari otak author dan aku berusaha untuk membuat cerita yang agak berbeda :V kadang-kadang cewe yang mata duitan tapi sekarang cowo yang mata duitan heheh..

Adegan akhir chapter ini lumayan ya kalian tahu itu, bakal ada lanjutannya di next Chapter! Jadi, siapin obat takutnya kalian serangan jantung mendadak #bercanda-_-. Aku minta komentar kalian ^^ aku berharap yang baca FF ini pada komentar..

Oh ya kalau aku telat update, kalian bisa chek di blog saya.

Pidato aku cukup segitu aja ya?

Very Best Regards, Gina~

Copyright © 2014 gishafz. All rights reserved.

Iklan

141 pemikiran pada “My Enemy is My Husband (Chapter 1)

  1. Wahhh baru baca chapter 1 aja aku udah penasaran sama kelanjutannya. Tetep semangat ya Thor buat nulis ff nya 🙂 fighting

  2. Waww,, ceritanya seru banget. Sebenernya aku udah baca ini lama cuman baru bsa comen sekarang, maafkan aku ya thor karn jadi readers yang kurangajar ini 😥
    oh ya boleh minta nama bloknya gak ?? Soalnya aku cari2 tapi gak ketemu2, kasih tau ya thor ,, please. Soalnya penasaran banget nih sama kelanjutan ceritanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s