Wolf’s Eternal Love (Chapter 5)

Wolf’s Eternal Love

wolf copy

A Storyline Present By:

@diantrf & @ferrinamd

 

Wolf’s Eternal Love

(Full Moon)

 

Cast:

Huang Zitao, Oh Sehun (EXO) | Park Cheonsa, Zhen Yilyn (OC)

 

Genre: Fantasy, School-life, Romance | Rating: T | Length: Chaptered

 

Prev:

Teaser | Part-1 | Part-2 | Part-3 | Part-4

 

0o0

 

Selalu seperti ini, Cheonsa selalu merasa kepanasan beberapa kali dalam satu bulan. Ibunya bilang mungkin karena tubuh Cheonsa tak cocok dengan hawa sekitarnya. Namun bukankah gila jika Cheonsa kegerahan di malam bersalju seperti tahun-tahun sebelumnya? Oh, rasa panas yang ia rasakan selalu aneh. Bahkan Cheonsa sering mandi malam jika ia sudah tak kuat dengan rasa panas itu. Seperti sekarang, Cheonsa baru saja selesai mandi namun sepertinya sia-sia. Tubuhnya masih merasakan hawa panas yang aneh.

 

Dan seperti malam sebelumnya juga, yang Cheonsa lakukan hanya memaksakan dirinya untuk tidur walau sekarang baru pukul delapan malam. Masih terlalu sore dan sangat lama menunggu esok hari. Ia terus bergerak tak nyaman di ranjangnya. Ini cukup menyiksanya. Cheonsa pernah memeriksakannya di rumah sakit dan dokter bilang tak ada yang aneh dengan tubuhnya. Sudahlah, lebih baik Cheonsa memejamkan matanya dan terbangun di pagi hari.

 

Namun Cheonsa seperti mendengar ada suara-suara aneh di balkon kamarnya. Tak mungkin kan jika itu hantu? Pikiran Cheonsa mulai menerawang kemana-mana. Bagaimana jika itu pencuri? Atau jangan-jangan hanya kucing peliharaan Han halmeoni yang tersesat di balkon kamarnya?

 

Akhirnya Cheonsa memutuskan untuk bangun dari tidurnya dan melihat keadaan balkon. Dibukanya pintu kaca itu ke samping. Nihil, bahkan tak ada kucing seperti perkiraannya. Jangan-jangan itu hantu? Cheonsa langsung membalikkan tubuhnya untuk kembali masuk ke kamar kalau saja ia tak menabrak sesuatu di hadapannya. Tubuh seseorang.

 

Aaaaa tuan hantu kumohon jangan makan aku—“

 

“Cheonsa, ini aku.”

 

“Sehun! Kenapa mengaget—”

 

Sssttt, kau ini cerewet sekali.” Ucap Sehun masih sambil memeluk gadisnya ini. Sehun melepas pelukannya dan menarik Cheonsa agar kembali masuk ke kamarnya. Tanpa permisi atau apapun, Sehun langsung berjalan menuju lemari pakaian Cheonsa—membukanya dan mengambil beberapa pakaian dari sana. Cheonsa sebenarnya ingin protes, namun ia ingin menanyakan dulu apa maksud Sehun datang kemari malam-malam lewat balkon dan dengan tiba-tiba merampas bajunya seenaknya. Sehun membalikkan badannya dan berjalan ke arah Cheonsa yang tengah duduk di ranjangnya. Dan Cheonsa menyadari sesuatu.

 

Mata Sehun. Keduanya berwarna merah mengkilat seperti batu rubi—sama seperti saat pertama kali Cheonsa bertemu dengan Sehun. Sama seperti saat Sehun memberinya Wolf-print dulu. Jujur, Cheonsa takut melihat Sehun yang seperti ini. Refleks Cheonsa menutup matanya saat Sehun semakin mendekat ke arahnya. Sehun mengerutkan keningnya, namun seketika langsung mengerti dengan tingkah Cheonsa. Ia tersenyum kecil dan menaruh baju yang tadi ia ambil di samping Cheonsa lalu mengusap kepala gadis itu dengan lembut.

 

“Maaf, aku memang seperti ini saat bulan purnama. Jangan takut lagi, ne?”

 

Cheonsa perlahan membuka matanya, walaupun masih takut untuk menatap langsung mata Sehun. Pria itu tersenyum dan mengacak poni Cheonsa lalu menarik tangan gadis itu untuk berjalan mengikutinya, tak lupa dengan beberapa baju yang kini telah Sehun masukkan ke dalam tas yang ia bawa.

 

Sebenarnya Sehun mau apa? Jangan bilang jika Sehun ingin menculik Cheonsa dan berbuat macam-macam?

 

Walaupun penasaran dan sedikit takut, namun Cheonsa tetap mengikuti Sehun. Mereka kini tengah berdiri lagi di balkon. Sehun tiba-tiba memeluk Cheonsa—dan gadis itu refleks memejamkan matanya. Dan saat Cheonsa sudah membuka matanya kembali, ia terkejut karena sekarang mereka berdua telah berada di depan rumah Cheonsa. Sehun hanya tertawa melihat kebingungan Cheonsa dan menyuruh gadis itu agar menaiki motornya.

 

“Kita mau kemana?”

 

“Ikut saja, nanti kau akan tahu sendiri.”

 

Kepercayaan terbangun sendirinya. Entah mengapa sekarang Cheonsa sudah mulai bisa menerima Sehun. Ia langsung naik dan Sehun serta-merta menghidupkan motornya, melaju dengan cepat membelah keheningan malam kompleks itu.

 

0o0

 

Jalan-jalan malam sepertinya hal yang cukup bagus untuk dilakukan saat ini. Walaupun tak melakukan apapun selain berjalan membelah keheningan malam, Lyn tetap menikmati kegiatannya saat ini. Ia hanya berkeliling kompleks rumahnya dan hal itu terasa menyenangkan baginya. Ia menatap langit malam ini. Bulan purnama bersinar sangat terang. Indah, seolah setiap pancarannya adalah sebuah kekuatan yang membuat Lyn merasa tenang. Gadis ini memang terbiasa jalan-jalan di malam hari.

 

Sebenarnya jarang, ia hanya keluar saat bulan purnama tiba. Ya, Lyn sangat ingat jika ia selalu ingin jalan-jalan malam hanya saat bulan purnama saja. Ia tak tahu apa alasannya, tapi ia merasa bahwa cahaya bulan sangat baik bagi dirinya. Gadis itu mengenakan peach coat dan membiarkan rambut panjangnya terurai begitu saja, tertiup angin malam yang berhembus cukup kencang malam ini. Di tangannya terdapat se-cup hot chocolate yang baru saja ia beli di café seberang kompleks.

 

Sejujurnya Lyn ingin langsung berjalan pulang karena sekarang hampir pukul delapan malam, namun begitu melewati taman bermain di kawasan ini membuat Lyn ingin datang kesana untuk beberapa saat. Sepertinya pulang agak malam hari ini tidak terlalu buruk. Lyn langsung mengirim pesan pada ibunya sambil berjalan memasuki area taman bermain. Seperti yang ia duga, tak ada siapapun disini. Tapi Lyn tidak merasa takut, ia selalu merasa jika ada yang mengawasinya. Menjaganya dari kejauhan.

 

Kaki Lyn terus berjalan membelah jalan setapak taman ini. Lampu-lampu yang terang menghiasi setiap sisi jalan. Pepohonan dan bunga-bunga terlihat indah walaupun didominasi dengan warna beige yang berpantulan dengan langit malam. Akhirnya Lyn menghentikan langkahnya tepat di depan ayunan taman ini. Ia duduk di salah satu ayunan itu sambil meminum sisa hot chocolate-nya yang tinggal separuh. Rasa hangat minuman itu membuat Lyn tak terlalu merasa kedinginan.

 

“Lyn?”

 

Sontak Lyn mencari arah sumber suara. Dilihatnya Tao yang tengah tersenyum dari kejauhan dan kini pemuda itu berlari untuk menghampiri dirinya. Lyn merasa heran, untuk apa Tao ada disini? Bukankah rumahnya tak berada di daerah ini? Namun rasa heran itu Lyn tutupi dengan senyum manisnya. Setidaknya Lyn merasa senang karena Tao ada disini dan menemaninya.

 

“Lyn, sedang apa disini?”

 

Bukannya menjawab, Lyn justru terpaku melihat Tao sekarang. Matanya yang biasanya berwarna hazeld berubah menjadi topaz—cokelat dengan aksen emas yang mengkilat. Sadar dengan wajah Lyn yang berubah pucat, Tao langsung tersenyum kikuk sambil mengusap tengkuknya dan duduk di ayunan samping Lyn. Mereka terdiam, Lyn masih kaget dengan penampilan Tao sedangkan Tao sedang mencari alasan yang tepat atas penampilannya. Tak mungkin kan ia bilang bahwa warna matanya akan berubah setiap bulan purnama?

 

“Kau pasti kaget. Aku punya penyakit rabun malam, jadi harus memakai contact-lens.”

 

Apa? Rabun malam? Tao, kau benar-benar bodoh. Mana ada penyakit rabun malam? Tao merutuki dirinya dalam hati dan Lyn masih saja terdiam. Semoga saja Lyn percaya dengan pernyataan bodohnya tadi. Semoga saja.

 

“Jadi begitu. Iya, aku tadi sempat kaget. Tao sedang apa disini?”

 

“Hanya jalan-jalan saja. Jodoh memang selalu dipertemukan di waktu yang tepat.”

 

Dasar Tao. Ia memang sedaritadi mengikuti Lyn, hanya untuk memastikan jika gadisnya itu baik-baik saja dan tak ada yang mengganggunya. Setelah Tao tahu tentang siapa Lyn sebenarnya, ia sudah menduga jika Lyn pasti akan keluar rumah saat bulan purnama, bersamaan dengan meningkatnya kekuatan Shifter. Pipi Lyn langsung bersemu kemerahan mendengar ucapan Tao. Tao gemas dan langsung mencubit pipi kiri Lyn. Bulan purnama ini membuat pancaran kecantikannya semakin kuat.

 

Untuk mengusir keheningan, Tao menceritakan kisah dewi Selene pada Lyn. Ya, ibaratnya sekali dayung berpulau-pulau terlampaui, hehe. Mungkin Lyn memiliki ikatan dengan masa lalunya. Suatu kesamaan jiwa dengan dewi Selene terdahulu. Karena biasanya memang begitu. Seseorang yang memiliki garis darah dewa biasanya akan mengingat sesuatu di masa lalu jika ia diceritakan tentang kisah leluhurnya yang terdahulu.

 

“Jadi, dewi Selene dibunuh oleh seorang Warlock?”

 

Lyn membulatkan matanya, merasa kaget dengan akhir cerita yang sangat tragis itu. Namun Tao justru ingin tertawa melihat wajah Lyn yang sangat lucu. Tao mengangguk lalu mengacak rambut Lyn. Berbanding terbalik dengan Lyn yang langsung terdiam tanpa suara. Lyn memang pernah membaca buku-buku sejarah dan mitologi kuno. Dan sepertinya ia pernah tahu kisah itu. Tapi dimana? Buku apa yang ia baca? Tao yang menyadari lamunan Lyn kini ikut berpikir juga. Seandainya saja Tao memiliki kekuatan membaca pikiran seperti Sehun.

 

“Hei, jangan membicarakan orang di belakangnya!”

 

Benar kan? Tiba-tiba Sehun mengiriminya telepati. Anak itu, bisa-bisanya membaca pikiran Tao dari jarak sejauh ini. Huh, sepertinya Sehun adalah salah satu penggemar berat Tao.

 

“Tao, ada Warlock di sekitarmu. Kau bersama Lyn, kan?”

 

Tao membulatkan matanya. Ia menelisik ke segala arah. Warlock sangat pandai bersembunyi dan selalu muncul tiba-tiba. Kekuatan mereka bisa dibilang sedikit lebih tinggi dari bangsa Shifter. Penyihir selalu punya berbagai mantra untuk mencelakakan orang lain—dan dalam kasus ini Tao harus berhadapan dengan penyihir hitam, yang tentu saja kekuatannya sangat hebat.

 

“Trezma redoctrus tessee”

 

BRUK!

 

Akh!

 

“Ta-Tao?!”

 

Sial, ternyata Warlock itu tak main-main. Untung saja Tao cepat membawa Lyn untuk menghindar dari posisinya semula. Bagaimana bisa ada pohon rubuh semudah itu? Tentu saja ini ulah Warlock. Tao juga tadi sempat mendengar bisikan mantranya. Dan lebih parahnya lagi, lengan kanan Tao tergores dahan pohon—membuatnya mengeluarkan banyak darah. Lyn yang terlalu kaget kini hanya bisa menangis dalam pelukan Tao. Terlalu takut untuk melihat keadaan Tao saat ini. Tao mengusap rambut Lyn, berusaha menenangkan gadis itu.

 

Huh, angin malam ini sangat kencang, ya? Ayo kuantar pulang.”

 

“Tao, da-darahnya—“

 

“Kau punya obat merah, kan? Ayo cepat pergi dari sini. Anginnya semakin bertiup kencang.”

 

Lyn sebenarnya agak bingung juga. Pasalnya angin bertiup tak terlalu kuat, namun mengapa Tao berkata seperti itu? Tapi rasa kaget Lyn membuatnya tak bisa berpikir sejauh itu. Perlahan Tao berdiri, diikuti Lyn yang sekarang sudah berani membuka matanya—walaupun masih agak takut dan shock. Mereka pun berjalan meninggalkan taman dengan langkah yang sedikit terburu-buru. Tao takut jika Warlock itu berbuat lebih jauh sedangkan keadaannya sekarang tak memungkinkan untuk melawan. Sepertinya Tao harus memanggil Sehun saat ini. Baru pukul sepuluh malam. Dan karena sekarang bulan purnama, Tao ingin mengungkap siapa yang ingin mencelakakan Lyn. Hari ini juga.

 

0o0

 

Cheonsa sedaritadi tak melepaskan pelukannya pada Sehun. Sebenarnya apa yang ada di otak Sehun ini? Cheonsa sangat takut pada laut, dan sekarang Sehun malah membawanya ke pantai—yang letaknya di timur perbatasan yang cukup jauh dari daerah mereka. Apa Sehun juga tak pernah mendengar teori jika bulan purnama maka akan terjadi pasang air laut? Cheonsa masih ingin hidup. Sehun—sekali lagi—menghembuskan napas jengah atas Cheonsa. Sudah hampir sepuluh menit ia membujuk Cheonsa agar percaya padanya, namun gadis itu tetap saja keras kepala.

 

“Demi Tuhan, Cheonsa! Aku akan katakan sejujurnya jika kita sudah sampai di bibir pantai. Percayalah.”

 

Gadis manis itu masih terus menggelengkan kepalanya dalam pelukan Sehun. Huh, jika begini caranya tak ada pilihan lain selain berteleportasi. Biarkan saja jika Cheonsa nantinya akan berteriak atau apa. Sehun yakin Cheonsa akan langsung luluh jika ia sudah berdekatan dengan laut. Baiklah, semua ini Sehun lakukan karena ia tahu jika Cheonsa membutuhkan laut saat bulan purnama. Gadis itu pasti selalu merasa kepanasan saat bulan purnama tiba. Tentu saja, dia itu kan keturunan dewi laut. Laut sudah menyatu dengan darahnya. Hal ini Sehun ketahui dari ibunya. Itulah penyebab Sehun meninggalkan Cheonsa tadi saat pulang sekolah.

 

My princess, buka matanya..”

 

“Sehun—“

 

“Cheonsa, aku tak suka dibantah.”

 

Sekarang Cheonsa tahu jika Sehun sudah mulai memanggil namanya dengan normal berarti ia tengah kesal. Dengan sangat terpaksa, Cheonsa membuka matanya perlahan. Cheonsa mengira jika ia akan disambut oleh pemandangan laut yang membentang luas. Alih-alih Sehun justru membawa Cheonsa ke daerah pantai berkarang. Apa maksud pemuda ini sebenarnya?

 

“Baiklah, aku hanya akan bilang sekali jadi perhatikan baik-baik. Kau akan selalu merasa kepanasan saat bulan purnama karena garis darahmu itu. Eurinome itu dewi laut, dan setiap bulan purnama ia akan bangkit dari kerajaannya. Karena itulah aku membawamu kemari. Berbeda dengan Lyn yang tak akan pernah bertemu dengan Selene karena dewi Selene telah terbunuh, Eurinome masih hidup sampai saat ini. Sederhananya, kau membutuhkan air laut untuk mendinginkan tubuhmu.”

 

Jadi itulah alasan mengapa Cheonsa selalu merasa kepanasan di malam tertentu—yang ternyata adalah malam purnama. Sehun melepaskan pelukannya, membuat Cheonsa perlahan bisa merasakan jiwa laut yang memanggilnya. Jiwa Eurinome. Kakinya secara otomatis berjalan mendekat ke arah laut tanpa ia kehendaki. Sehun hanya mengikuti dari belakang. Sepertinya ini akan berhasil. Dan kini Cheonsa sudah resmi merendam dirinya dalam air yang dikelilingi tebing-tebing karang yang cukup tinggi.

 

“Cheonsa, ada yang ingin kau katakan?”

 

Sehun juga tahu jika Cheonsa pasti memiliki sebuah kalimat yang tak ia sadari apa maknanya. Kalimat untuk memanggil Eurinome. Cheonsa pasti tahu. Alam bawah sadarnya pasti masih sangat ingat dengan kalimat itu. Cheonsa yang mendengar ucapan Sehun kini memejamkan matanya, mencoba mengingat sesuatu yang mungkin ingin ia ucapkan saat ini.

 

“Szaci huscta lizcovricsa”

 

Kalimat itu keluar begitu saja dari mulutnya. Dan tak lama, air laut pun bersinar sangat terang, diiringi ombak yang perlahan mendekat ke bibir pantai tempat tubuh Cheonsa berada. Dan hanya dengan satu kali kedip, Sehun sangat terkejut saat menyadari kehadiran Eurinome tepat di hadapannya. Sosok ular raksasa mengerikan yang kini tengah melingkar di tebing karang yang paling tinggi, bertatapan mata dengan Cheonsa.

 

Ular itu sangat mengerikan, dengan sebuah horn berwarna merah seperti batu rubi—mirip dengan warna mata Sehun—di tengah kepalanya. Matanya berwarna hijau zamrud seperti milik Cheonsa. Ular itu berwarna blue emerald mengkilat seperti warna samudera saat pagi hari, dengan sisiknya yang berkilau. Menyeramkan namun terkesan sangat indah dan cantik. Tak salah jika sejarah berkata bahwa Eurinome adalah dewi yang cantik namun menyeramkan.

 

Hening untuk beberapa saat. Saat ini Sehun tak dapat membaca pikiran Cheonsa. Sepertinya gadisnya itu tengah berbicara dengan Eurinome dari hati. Tak lama, tubuh Eurinome melepas lilitannya dari karang dan pergi kembali ke laut, bersamaan dengan ombak tinggi seperti saat ia datang. Laut pun kembali bersinar terang dan detik selanjutnya kembali berwarna gelap seperti semula.

 

“Terimakasih, Shifter.”

 

“Namaku Sehun.”

 

Sehun tersenyum lalu menghampiri Cheonsa dengan sebuah handuk di tangannya. Gadis itu telah keluar dari air dengan tubuhnya yang basah kuyup. Sehun sangat berusaha untuk menjaga pandangannya pada tubuh Cheonsa. Masih sempat saja berpikiran mesum disaat seperti ini. Mereka tepat saling menghentikan langkah di bibir pantai. Sehun menyerahkan handuk yang ia pegang pada Cheonsa. Gadis itu masih terdiam sambil mengeringkan rambut dan pakaiannya. Sehun jadi penasaran dengan apa yang terjadi diantara Cheonsa dan Eurinome.

 

“Ada yang ingin kau katakan, my princess?” Sehun tersenyum. Cheonsa menatapnya dengan lembut.

 

“Sehun, terimakasih.”

 

Cup~

 

Bagaikan mimpi, Sehun membulatkan matanya saat Cheonsa dengan tiba-tiba melingkarkan tangannya di leher Sehun dan menciumnya—tepat di bibir. Apakah dunia sudah memutar balik arah rotasinya? Atau jangan-jangan Sehun sebenarnya ikut hanyut terbawa arus ombak dan mati mengenaskan? Tak mungkin Cheonsa serta-merta melakukan hal ini padanya. Rasanya Sehun ingin sekali terbang dan tak kembali lagi ke bumi. Ini terlalu indah hanya untuk sekedar sebuah mimpi belaka.

 

“Sehun, datanglah ke kompleks rumah Lyn. Bantu aku memergoki Warlock yang mengincar Lyn.”

 

Setidaknya telepati Tao barusan membuat Sehun tersadar bahwa ini bukan hanya sekedar mimpi. Sehun memang tadi merasakan jika ada Warlock di sekitar Tao, dan ia juga telah memperingatkan Tao. Apa yang Warlock itu lakukan hingga membuat Tao minta bantuan padanya? Baiklah, setelah ini Sehun akan mengantar Cheonsa pulang dan menyusul Tao. Bulan purnama belum habis menerangi malam ini. Sehun merasakan kekuatannya semakin bertambah, apalagi dengan ciuman manis Cheonsa saat ini. Tapi ada satu hal yang mengganjal di pikiran Sehun.

 

Apa yang Eurinome bicarakan dengan Cheonsa sampai membuatnya melakukan hal ini?

 

0o0

 

Lyn dibantu oleh ibunya kini sedang mengobati lengan Tao. Ibu Lyn sangat kaget saat mengetahui Lyn pulang dengan seorang teman yang sedang dalam keadaan luka seperti ini. Beberapa kali Tao meringis menahan sakit saat Lyn menempelkan kapas beralkohol ke lukanya. Bahkan Lyn sampai harus menutup matanya karena tak tega melihat Tao yang seperti itu.

 

Saat ibu Lyn bertanya apa penyebabnya, Tao berbohong dan bilang jika lengannya tergores pagar pembatas kompleks. Tao ini memang kalau berbohong tak pernah masuk akal, namun anehnya mengapa semua orang selalu percaya dengan jawaban tak masuk akal Tao? Dan Lyn pun hanya diam saat tahu Tao menyembunyikan kejadian sebenarnya dari ibunya. Mungkin Tao hanya tak ingin membuat ibu Lyn khawatir, sama seperti Lyn.

 

Sekitar sepuluh menit Lyn telah selesai mengobati luka Tao dan membalutnya dengan perban. Ibu Lyn kini tengah membuatkan teh hangat untuk Lyn dan Tao. Mereka berdua kini saling terdiam di ruang tamu. Tao bingung ingin bicara apa pada Lyn. Ia takut Lyn akan curiga dengan kejadian tadi dan bertanya lebih lanjut pada Tao. Tao tak bisa berkata yang sejujurnya pada Lyn. Namun ia juga tak ingin membohongi Lyn, karena cepat atau lambat Lyn pasti akan mengetahui takdirnya yang sebenarnya. Sekali lagi, Tao sangat berharap memiliki kekuatan membaca pikiran seperti Sehun.

 

“Lyn sedang memikirkan keadaanmu. Dan ia juga sedang memikirkan suara aneh yang ia dengar di taman tadi. Apa yang terjadi dengan kalian? Oh ya, aku harus mengantarkan Cheonsa pulang dulu baru bisa datang kesana. Lima belas menit, aku janji.”

 

Tao ingin sekali memukul Sehun karena telah lancang membaca pikirannya—dan juga ingin berterimakasih karena telah memberitahukan isi pikiran Lyn padanya. Tao tersenyum tipis saat mengetahui jika Lyn memikirkan keadaannya. Dan apa tadi? Suara aneh apa yang Lyn dengar di taman? Atau jangan-jangan suara aneh yang Lyn maksud adalah suara mantra sang Warlock? Sehebat itukah Lyn sampai bisa mendengar bisikan mantra itu? Karena setahu Tao hampir semua makhluk tak bisa mendengar bisikan mantra seorang penyihir. Beruntung karena Tao adalah Shifter dengan pendengaran serigala yang tajam sehingga bisa mendengar mantra itu. Bulan purnama ternyata juga membuat kekuatan Lyn bertambah—walaupun tanpa gadis itu sadari.

 

Tunggu, apa tadi yang Sehun bilang? Mengantar Cheonsa? Mereka dari mana sampai bisa pulang jam sepuluh malam? Sudahlah, Tao akan menanyakannya pada Cheonsa besok di sekolah.

 

Kini ibu Lyn datang membawakan teh dan sepiring kue—entah apa itu namun terlihat enak. Wanita itu lalu duduk berseberangan dengan Tao dan Lyn yang masih terdiam satu sama lain. Mereka terlalu banyak memikirkan hal-hal aneh tadi dengan hipotesis mereka sendiri. Sementara Lyn terdiam menatap jendela di samping kanannya, ibu Lyn nampak sangat memperhatikan Tao. Ia menelisik penampilan Tao, membuat Tao jadi salah tingkah sendiri diperhatikan seperti itu.

 

“Lyn, bisa tolong masakkan sesuatu untuk ayah? Ia akan pulang setengah jam lagi. Biar ibu yang menemani Tao.”

 

Lyn mengangguk dan berjalan perlahan meninggalkan ibunya dan Tao. Tao semakin gugup. Apakah sekarang sudah terlalu larut untuk jam ‘bertamu’ seorang gadis? Apalagi ayah Lyn akan segera pulang. Tao hanya diam sambil sesekali tersenyum kecil pada Ibu Lyn.

 

Ahjumma, saya—“

 

“Jangan terlalu canggung, panggil saja eommonim.”

 

Sekarang Tao tahu dari mana Lyn mendapatkan senyum manis itu. Ibunya masih terlihat sangat cantik dan muda, dengan senyuman yang manis. Dan, eommonim? Sepertinya Tao diterima dengan baik oleh keluarga ini.

 

“Apakah kamu yang memberikan Wolf-print pada Lyn?”

 

Tao serta-merta membulatkan matanya. Apa artinya ini? Apakah ibu Lyn bukan manusia juga? Atau jangan-jangan keluarga Lyn seluruhnya bukanlah manusia biasa, mengingat Lyn memiliki garis darah dewa. Ibu Lyn yang tahu akan kekagetan Tao langsung menceritakan semuanya. Bahwa beliau tahu hal itu dari suaminya—ayah Lyn. Ayah Lyn adalah seorang Warlock putih, dan ibu Lyn hanya manusia biasa. Beberapa hari yang lalu suaminya bilang jika sepertinya Lyn memiliki teman dari bangsa Shifter—tepatnya Wolf Shifter, dan Shifter itu telah ‘menandai’ Lyn. Tao hanya diam, merasa tak percaya dengan apa yang ia dengar.

 

Dan orang tua Lyn ternyata tahu jika anak mereka adalah penjelmaan dewi Selene, maka dari itu mereka selalu mengizinkan Lyn keluar malam saat bulan purnama, karena itu memang panggilan jiwa Lyn untuk merasakan sinar bulan saat malam purnama. Tapi sepertinya ada yang tak ibu Lyn ketahui. Menjadi penjelmaan dewi Selene berarti hidup hanya untuk kematian. Lyn tak akan selamat sampai Warlock yang mengincarnya berhasil dilenyapkan selamanya.

 

BRAK!

 

 

“Sayang, tolong ambilkan kotak obat!” Ibu Lyn dan Tao sontak menoleh ke arah suara pintu terbuka itu.

 

“Ayah, siapa itu?”

 

“Tadi aku melihatnya masih berwujud serigala dan ia terluka parah.”

 

Ayah Lyn datang dengan seseorang yang terluka parah di bagian punggungnya. Tao langsung bangkit dari duduknya dan membantu ayah Lyn untuk memapah orang itu. Entah mengapa Tao seperti mengenali pemuda itu. Dan ketika Tao sudah bisa melihat wajahnya..

 

“Sehun?!”

 

“Ta-Tao.. Kris.. Warlock itu adalah Kris..”

 

 

TBC

 

 

@ferrinamd’s Note: Eng,ing,eng, ketahuankan siapa Kris sebenarnya. Sosok misterius kris memang cocok jadi Warlock. Ckck. Ini baru awal konflik, nantikan kelanjutannya, kawan. Stay tune 😉

 

@diantrf’s Note: Ngerjainnya ngebut kayak pembalap F1. Semoga ga ada yang bingung. Semoga semuanya suka. Annyeong^^

23 pemikiran pada “Wolf’s Eternal Love (Chapter 5)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s