Devil Child (Chapter 1)

Author : Z

Tittle : Devil Child (part 1)

Cast :

☆ Kim Jong In

☆ Sung Ha Rim (OC)

☆ Kim Tae Hyung

☆ Oh Sehun

☆ Song Ahri (OC)

☆ ….

Lenght : Chapter

Genre : Romance, Misteri, Fluff, Fantasy

Disclaimer : FF ini murni ide dan karangan author. No plagiat.

Author’s Note : Mian kalau ff ini tidak seperti ff yang lain(?) karena author memiliki imajinasinya sendiri(?) wkkk dan minta komennya ne ^^

 

。゚ °Devil Child °゚。

Devil Child #poster

Di bawah langit malam yang begitu dingin dan hening seorang yeoja berlari menghindari beberapa namja yang terus saja mengejarnya. Kedua lutut yeoja itu terdapat bercak merah karena telah kesekian kali lutut itu terbentur oleh jalan yang keras. Yeoja  masuk kedalam sebuah gang dan bersembunyi didekat bak sampah yang cukup besar. Ia menutup mulutnya supaya hembusan nafasnya yang terengah-engah itu tidak membuatnya celaka dan ketauan.

 

Dilihatnya bayangan beberapa namja yang mulai mendekat. Jantung yeoja itu berdebar-debar saat bayangan itu semakin mendekat. Yeoja itu melihat dari bayangan seorang namja datang dan memukul namja-namja itu. Walaupun hanya dari bayangan ia bisa melihat betapa lincah dan berutalnya namja itu. Bahkan namja-namja tadi tumbang dengan sangat cepat.

 

Yeoja itu berinisiatif untuk melihat keadaan. Mata yeoja itu melebar saat sayap hitam dengan dihiasi sedikit api biru yang memancar tiba-tiba keluar dari punggung namja dengan rambut pirangnya. Namja itu melihat yeoja yang sedang diam terpaku menatapnya. Wajah namja itu dingin dan memiliki tatapan yang sangat tajam. Dengan tak memedulikan yeoja yang menatapnya itu ia memilih pergi. Di dalam kegelapan malam namja itu menghilang begitu saja tanpa jejak.

 

Yeoja itu tersadar akan lamunannya. Ia merasa mengenal namja itu. “Jong In?” Ucapnya pelan.

 

。゚ °Devil Child °゚。

 

Dua orang namja merintih kesakitan. Wajah memar dan darah yang keluar dari hidung maupun mulut mereka tak bisa ditutupi lagi. “Ampunilah aku..” salah satu namja itu meminta ampun pada namja bertubuh ramping yang sedang memukulinya. Tak ada sedikitpun belas kasihan yang di tunjukkan namja berambut pirang itu. Matanya yang tajam dan wajahnya yang tidak mengekpresikan rasa takut maupun bersalah. “Aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku mohon ampunilah aku.” Untuk kesekian kalinya namja itu kembali memohon agar dirinya tidak kembali dipukuli. Namja berambut pirang itu menarik kerah baju yang dipakai namja yang sudah babak belur dan namja itu terangkat dengan mudahnya.

 

“Jangan pernah menghalangi jalanku.” Ucap namja itu dengan tatapan membunuhnya. Awal dari perkelahian ini bukanlah hal yang besar. Bahkan sangat sepele dan tidak pantas untuk diperdebatkan.

 

Saat namja berambut pirang itu sedang berjalan santai dengan tangan yang masuk kedalam saku celananya. Mata tajamnya itu tertuju ke dua namja yang sedang asik mengobrol didepannya. Ia memendang kaleng minuman kosong yang baru saja dijatuhkan oleh namja-namja itu tepat di hadapannya. Kaleng itu tepat mengenai salah satu namja yang membuat kedua namja itu emosi. Tapi rasa takut dan kecemasan melanda mereka seketika saat tau siapa yang menendang kaleng itu. Kim Jong In. Namja yang sangat di takuti dan di jauhi banyak orang karena sifatnya seperti iblis.

 

Bahkan ia pernah menghajar murid sekolah lain sampai murid itu mengalami patah tulang yang parah dan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menyembuhkannya.

 

Jong In menghempaskan begitu saja tubuh namja itu dan kembali melanjutkan jalannya menuju sekolah yang sudah tidak jauh jaraknya.

 

。゚ °Devil Child °゚。

 

Saat para murid saling mengobrol dan bercanda tawa seorang namja lebih memilih untuk mendengarkan musik lewat earphone hitam miliknya. Mata namja itu tertutup dengan kedua kaki diatas meja dan kedua tangannya dilipat di bawah dada. Sekilas tampak sangat keren.

 

Murid-murid itu berhamburan duduk di tempatnya masing-masing saat melihat guru mereka telah memasuki kelas. Dia adalah guru Han. Walikelas dari kelas 11-3. Selain menjadi walikelas guru Han juga mengajarkan olahraga. Guru itu mendekati namja yang sedang asik mendengarkan musik lewat earphonenya dibangku sudut kelas. Tanpa sepatah katapun ia menarik earphone itu. Mata mereka saling menatap dengan tajam.

 

Tak mau mencari ribut dengan gurunya namja pirang itu menurunkan kakinya dan kembali duduk dengan normal. Ya, guru Han adalah satu-satunya guru yang berani menegur maupun menasehati Jong In, namja brutal yang tak kenal ampun. Selama ini Jong In tak pernah mau mencari ribut dengan setiap guru yang ada di sekolahnya. Karena ia tau jika ia mencari ribut resikonya adalah dikeluarkan dari sekolah ini. Dan Jong In tak mau itu terjadi.

 

Guru Han kembali kedepan kelas untuk membuka kelas sebelum jam pelajaran benar-benar akan dimulai. Dari meja belakang di ujung kanan seorang yeoja tengah fokus menatap Jong In dengan sorotan menyelidik. Ia yakin namja yang malam itu menolongnya adalah Jong In. Tapi kenapa ada sayap yang keluar dari punggungnya? Apakah itu hanya sebuah ilusi saja?

 

Sangat banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan kepada Jong In si namja pendiam, angkuh, dan menakutkan. Tak ada yang tau pasti siapa orang tuanya dan kapan dia lahir. Setiap kali ada orang yang bertanya tentang itu ia hanya menjawab ‘memang itu semua penting?’ Bahkan sampai sekarang pihak sekolahpun tidak ada yang tau dan membuatkannya identitas palsu. Begitupun tentang dimana ia tinggal selama ini.

 

“Sung ha? Sung ha?!” Yeoja itu tersentak saat mendapati guru Han telah berdiri didekat bangkunya. “Masih pagi sudah melamun.” Jong In melihat kearah yeoja yang baru saja dibentak guru Han dan lalu kembali mengalihkan pandangannya dengan malas kearah kirinya. Lebih tepatnya kearah jendela yang tepat berada di sebelah kirinya.

 

“Maafkan aku.” ucap Sungha pada gurunya itu.

 

。゚ °Devil Child °゚。

 

Suasana mencekam sangat terasa yang membuat banyak orang tak akan berani datang kesana. Tapi sayangnya memang tak ada seorangpun yang bisa kesana maupun tinggal disana. Karena tempat itu adalah dunia iblis. Dunia dimana para iblis tinggal. Dan ditempat itu dipimpin oleh raja iblis yang terkenal akan kekejamannya.

 

Namja berambut coklat membuka sebuah pintu yang cukup besar. Pintu itu adalah pintu perbatasan antara istana dimana raja iblis tinggal dengan pemukiman. Semua iblis sangat menghormati raja mereka. Tak ada yang berani menentang bahkan berdebat dengan keluarga kerajaan. Namja itu kembali membuka beberapa pintu sampai ia berhenti di suatu ruangan yang sangat luas.

 

“Mau apa kau kemari?” Tanya sang raja kepada namja dihadapannya.

 

“Ayah, bukankah ini sudah lebih dari sepuluh tahun? Kenapa kau tidak membawanya pulang kembali kedunia iblis? Kurasa dia sudah banyak menderita di dunia manusia.”

 

“Perintahku adalah kewajiban. Dan tidak ada yang bisa menentangnya termasuk anakku sendiri. Dia telah melanggar peraturan yang telah lama dibuat oleh raja pendahulu. Dan kurasa dia tidak ingin kembali kedunia iblis.”

 

“Biarpun begitu dia tetaplah saudaraku.”

 

“Kau dan dia lahir dari ibu yang berbeda.”

 

“Tapi kita mimiliki satu ayah. Jadi dia tetaplah saudaraku.”

 

“Lebih baik kau berlatih dan tingkatkanlah kekuatanmu. Kau masih terlalu lemah untuk menjadi seorang raja.”

 

“Aku tak pernah tertarik menjadi seorang raja.” ucapnya acuh. Api yang mengelilingi raja itu membesar dan hampir menyelimuti seluruh ruangan yang raja dan sehun tempati.

 

“APA KAU BILANG?!” Suara gemuruh terdengar begitu keras. “SEHUN! BAGAIMANAPUN JUGA KAU HARUS MENJADI RAJA! KELUARLAH! AKU SEDANG TAK INGIN MELIHATMU!” Namja bernama sehun itu telah membuat raja iblis marah dan menyebabkan bangunan yang saat ini ia huni terlihat beberapa retakan di dindingnya. Tapi menurut sehun ayahnya itu belum marah karena jika ayahnya itu marah dunia iblis bisa hancur. Seperti kejadian sepuluh tahun yang lalu. Dimana terjadi kekacauan yang sangat dasyat yangbterjadi di dunia iblis.

 

。゚ °Devil Child °゚。

 

Jong In lebih memilih tiduran di bawah pohon dengan ditemani earphone nya daripada harus berlari-lari mengejar satu bola dan membuang bola itu ketempat bernama gawang. Ia tak peduli jika walikelas yang tak lain juga guru olahraganya itu menegurnya. Jong In hanya mau melakukan sesuatu jika itu akan menghasilkan nilai untuknya. Tapi permainan sepak bola kali ini hanya sebuah pemanasan dan namja itu sama sekali tak tertarik.

 

Beberapa yeoja yang sedang berkumpul di tepi lapangan melihat kearah Jong In yang sedang tertidur dibawah pohon yang letaknya cukup jauh dari mereka. “Kau tau, dia memukul murid sekolah kita lagi.”

 

Beberapa yeoja tampak terkejud dengan ucapan temannya itu. “Jinjja? Jong In berkelahi lagi? Jika terus begitu dia pasti bisa dikeluarkan.”

 

“Dia pasti punya alasan tersendiri memukul mereka.” Semua menoleh kearah Sungha yang telah duduk disamping mereka.

 

“Sejak kapan kau duduk disitu?”

 

“Sejak tadi. Wae?”

 

“Ani. Tapi aku dengar dia berkelahi hanya karena sebuah kaleng minuman kosong. Bukankah itu berlebihan. Dan aku dengar murid itu sampai babak belur.”

 

“Mengerikan.. dia seperti iblis saja.” Sungha hanya diam mendengarkan setiap komentar yang keluar dari mulut teman-temannya itu. Saat ia melihat kearah pohon tempat Jong In tertidur. Namja itu telah pergi entah kemana.

 

。゚ °Devil Child °゚。

 

Berbeda dengan manusia kebanyakan Jong In memiliki indra pendengaran lebih tajam dari manusia pada umumnya. Tak bisa dipungkiri ia bisa mendengar para yeoja yang mengatainya seorang iblis dengan sangat jelas. Tak mau mendengarnya namja itu lebih memilih untuk kembali kekelas dan tidur disana.

 

“Jong In!” namja itu berhenti saat ia mendengar suara yeoja yang memanggilnya. Yeoja itu mendekati Jong In dan tersenyum padanya. “sudah ku duga kau tak akan ikut olahraga.”

 

“kenapa kau selalu mendekatiku? Kau tidak takut padaku?” yeoja itu tertawa geli.

 

“takut? Kenapa aku harus takut padamu? Memang kau hantu?” Jong In menatap Ahri lekat. Ia satu-satunya yeoja yang tidak akan menjauh walaupun ia tau bagaimana sifat Jong In selama ini.

 

“kau tidak ada kelas?” tanya Jong In sembari berjalan menuju kelasnya.

 

“guru dikelasku tidak masuk jadi aku tidak ada kelas.” Ahri duduk di dekat bangku yang di tempati Jong In. “Jong In aku ingin main kerumahmu.” Jong In menatap yeoja itu tajam. “hei. Jangan menatapku seperti itu.”

 

“kau tak perlu kerumahku.” ucap Jong In dingin. Namja itu kembali memasangkan earphone miliknya ketelinganya. “pergilah. Jangan ganggu aku.”

 

“ya! Wae?! Kenapa kau selalu melarangku kerumahmu? Kau bukan gelandangankan? Kau punya keluarga dan rumahkan?” Jong In menendang meja yang berada tepat di hadapannya. Namja itu sangat tak suka jika ada seseorang yang menanyainya hal-hal pribadi seperti itu.

 

“apakah kau tidak bisa diam?! Jangan pernah urusi urusanku. Pergilah.” Ahri melihat Jong In sinis sedari awal ia memang sudah mempersiapkan dirinya untuk dibentak oleh Jong In. Tapi ini semua ia lakukan untuk sebuah tujuan.

 

“baiklah.” Ahri menunjukkan senyumnya itu kembali. “aku tidak akan memaksamu tapi cepat atau lambat kau harus memberitauku ne.” “aku kembali kekelas dulu.” Jong In masih saja mengabaikan apa yang dikatakan Ahri. Yeoja itu pergi dengan senyum meremehnya. “jika bukan karena dia aku tak akan mau mendekatimu bahkan berbicara padamu.” ucapnya pelan setelah benar-benar keluar dari kelas. Jong In melirik kearah pintu yang baru saja dilewati oleh Ahri. Namja itu sudah tau sejak lama jika Ahri baik padanya bukan karena ia benar-benar peduli ataupun ingin berteman dengannya. Yeoja itu adalah pacar dari salah satu namja yang pernah babak belur di tangan Jong In.

 

Sungha membuka pintu kelas dan mendapati Jong In sedang melakukan kebiasaannya sehari-harinya. Tidur dikelas dengan kaki diatas meja. Tak mau mempedulikannya ia segera melakukan tujuannya datang kekelas. Mengambil kan botol minum milik temannya. Jong In membuka matanya perlahan dan melirik yeoja yang tengah mengambil botol minum di salah satu meja. “apakah jam olah raga telah berakhir?” tanya Jong In dengan Ekpresi wajah biasanya. Walaupun ekpresinya biasa dia masih terkesan dingin dan sangat datar. Sungha tersentak saat namja itu bertanya padanya. Walaupun mereka di kelas yang sama mereka belum pernah mengobrol sama sekali.

 

“b-belum, aku hanya mengambilkan botol minum milik Hana.” Jong In kembali menutup matanya setelah mendengar jawaban itu. Saat Sungha akan pergi ia menunda niatnya itu dan mendekati Jong In. “Jong In.” namja itu membuka matanya dan melirik Sungha. “aku ingin berterimakasih padamu karena kau telah menyelamatkanku waktu itu. Jika kau tak ada mungkin aku tidak akan bisa bernafas bebas disini.” masih tidak menurunkan kakinya namja itu melepas earphone yang ia pakai.

 

“memang kapan aku pernah menyelamatkanmu?”

 

“apakah kau tidak ingat? Malam itu, kau memukul beberapa namja yang terus saja mengejarku.” Jong In tersenyum remeh.

 

“aku terlalu sering memukul orang jadi aku tak mengingatnya. Tapi aku hanya menghajar orang jika orang itu menggangguku. Dan aku tak pernah merasa menyelamatkanmu.” jelas-jelas namja malam itu adalah Jong In. Sungha sangat yakin oleh hal itu karena ia melihatnya sendiri. Rambut pirangnya yang tersapu oleh angin malam dan mata itu. Mata yang tidak dimiliki oleh orang lain.

 

“tapi aku sangat yakin jika namja malam itu adalah kau.. Dan..” Sungha ragu untuk mengatakannya tapi ia hanya ingin tau apakah yang ia lihat malam itu adalah nyata atau hanya imajinasinya semata. “dan aku melihat sayap hitam muncul dari punggungmu.” Jong In terbelak mendengar ucapan Sungha barusan. Kenapa dia bisa melihatnya? Namja itu menurunkan kakinya. Ada yang berbeda dengan Jong In. Ia tampak serius sekarang.

 

“kau bisa melihatnya?” tanya Jong In memastikan apakah pendengarannya salah atau tidak.

 

“n-ne.” Sungha menatap Jong In aneh. Ini pertama kalinya ia melihat ekpresi Jong In seperti ini. Mata Sungha melebar melihat sayap hitam dengan sedikit api biru tiba-tiba keluar dari punggu namja itu. Sama seperti yang ia lihat malam itu. Hampir saja ia berteriak tapi namja itu menutup mulut Sungha dan menyuruhnya untuk tidak berteriak.

 

“kau benar-benar bisa melihatnya?” tanya Jong In memastikan. Sungha hanya mengangguk meng iyakan pertanyaan Jong In. Namja itu melepaskan tangannya yang membungkam mulut Sungha lalu mengangkat sebelah sudut bibirnya. Sayap di punggung Jong In perlahan menghilang. “menarik.” Sungha menatap Jong In dengan penuh kebingungan dan tanda tanya.

 

“k-kenapa kau memiliki sayap seperti itu? Siapa kau sebenarnya?” tanya Sungha.  Hana membuka pintu kelasnya. Ia memutuskan untuk mengambil sendiri air minumnya karena Sungha tak kunjung kembali. Ia melihat sesosok yeoja yang sedang berdiri.

 

“ya! Sungha kenapa kau lama-” Hana menutup mulutnya dengan tangannya saat mendapati Sungha dan Jong In melihat kearahnya. Hana tak melihat kehadiran Jong In tadi karena tertutup oleh tubuh Sungha. “m-maafkan aku.” yeoja itu takut jika ia mengganggu Jong In. Tak mau mengambil resiko ia langsung pergi dan kembali kelapangan bersama yang lain.

 

“Sepertinya kau sudah ditunggu. Lain kali kita bicarakan hal ini.” Jong In kembali memasang earphonenya menaikkan kakinya kemeja dan melipat keduatangannya di bawah dada lalu memejamkan matanya. Sungha pergi begitu saja dengan membawa botol minum ditangannya. Merasa yeoja itu telah pergi Jong In membuka matanya perlahan. Ia menatuh keduatangannya dibelakang kepala dan melihat kelangit-langit yang berwarna putih. “tak kusangka sudah sepuluh tahun berlalu semenjak ada manusia yang bisa melihat sayapku.”

 

。゚ °Devil Child °゚。

 

Hana kembali duduk di dekat teman-temannya yang lain. “dimana Sungha?” tanya salah seorang teman.

 

“ahhh aku tadi melihatnya sedang bersama Jong In. Menurutmu mereka sedang apa? Apakah Sungha membuat masalah dengan Jong In. Aisshh nyawa Sungha dalam bahaya.” Hana sangat khawatir dengan keadaan temannya itu. Apakah dia masih hidup? Tak ada seorang pun yang berani bahkan mendekati Jong In karena mereka semua takut jika Jong In akan memukuli mereka jika mereka melakukan kesalahan.

 

“Sungha? Rim Sungha? Dia berbicara dengan Jong In? Jinjja?” yeoja itu tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. Hana mengangukan kepalanya. “wahh daebak! Tapi apa yang mereka bicarakan?” Hana menggeleng.

 

“aku tidak tau. Semoga saja bukan pembicaraan yang dapat menghilangkan nyawa seseorang.” Sungha mengulungkan botol minum kepada Hana.

 

“maaf lama.” ucapnya dan duduk di dekat Hana. Yeoja menggambil botol minumnya yang baru saja diulurkan padanya.

 

“ya Sungha. Kau tidak terlukakan?” Hana mengecek tubuh Sungha khawatir.

 

“terluka? Kenapa?” tanya Sungha bingung.

 

“kau tidak membuat masalah dengan Jong In kan? Kau tau akibatnya jika kau membuat masalahkan?”

 

“tidak. Aku tadi hanya berbicara dengannya.”

 

“apa yang kau bicarakan dengannya?”

 

“aku hanya berterimakasih padanya karena dia pernah menyelamatkanku.”

 

“Jong In menyelamatkan orang? Kau tak salah?” Hana masih tak percaya dengan temannya itu. Bagaimana bisa orang sebrutal dan sekeji Jong In bisa menyelamatkan orang.

 

“ne. Hilangkanlah penilaian buruk kalian terhadap Jong In. Dia tidak seburuk yang kalian kira.” Hana memegang kening Sungha.

 

“kau tidak sakitkan?” Sungha menyingkirkan tangan temannya itu.

 

“aniya. Mungkin jika kalian bisa terbuka dan tidak membencinya dia akan baik pada kalian.” Hana menggelengkan kepalanya cepat. Ia tak ingin mengambil resiko terburuk jika berteman dengan Jong In.

 

。゚ °Devil Child °゚。

 

Sungha berjalan pulang menuju rumahnya. Jarak rumahnya dan sekolah tidak terlalu jauh. Oleh karena itu ia lebih memilih berjalan kaki daripada naik kendaraan. Alasan lain juga karena jalan yang ia lalui terkadang tak bisa dilalui oleh kendaraan semacam mobil atau bus.

 

Dalam sekejap mata seseorang membungkam mulut Sungha dan menariknya kesebuah gang kecil di dekatnya. Sungha mencengkram tangan yang membungkam mulutnya itu. “diamlah. Ini aku.” ucapnya. Sungha mengenal suara itu. Ia melirik wajah namja yang membungkam mulutnya itu. Jong In. Sungha memukul pelan tangan Jong In yang masih membungkamnya menyuruh namja itu untuk melepasnya.

 

“ya! Apakah kau sedang menculikku? Kenapa kau tiba-tiba membungkamku seperti itu?!” Sungha masih tak terima dengan perlakuan Jong In terhadapnya. Tak mau membahasnya disini namja itu menarik tangan Sungha lebih masukkedalam gang. Jong In berhenti di ujung dinding di gang itu. Gang itu memang tak menembus kejalan maupun tempat lain walaupun belum malam disini gelap karena tak ada cahaya yang menembus dua rumah tinggi yang mengapitnya. “kau mau membawaku kemana? Jalan ini buntu.” Jong In menggambar sesuatu di dinding  itu dengan telunjuknya.

 

Mata Sungha membesar saat melihat dinding yang ada dihadapannya itu tiba-tiba seperti air yang menggenang. Hanya saja dinding ini horizontal. Namja itu menarik Sungha untuk melewati dinding itu. Awalnya ia ragu tapi pada akhirnya ia mengikuti Jong In yang masih menarik tangannya.

 

Sungha tercengang tak percaya saat melihat dirinya dan Jong In sudah berada di dalam rumah. Ia tak ingat sudah memasuki rumah. Tapi kenapa sekarang dirinya bisa didalam? Jong In melepaskan tangan Sungha. “ini rumahku.” Sungha menatap Jong In penasaran sekaligus terpukau. Ia tak menyangka jika Jong In memiliki rumah sebagus ini.

 

“setauku aku tidak masuk kedalam sebuah rumah dan tadi aku hanya berdiri di depan sebuah dinding dan….” Jong In tersenyum. Dan meninggalkan Sungha memasuki rumahnya. “Jong In!” panggil Sungha. Namja itu berhenti dan menoleh. “siapa kau sebenarnya?”

 

“aku akan mengganti bajuku. Kau tunggulah di ruang tamu, aku akan menjelaskan padamu.”

 

Beberapa menit kemudian Jong In keluar dari sebuah ruangan yang bisa dipastikan itu adalah kamarnya. Namja itu duduk di sofa di dekat Sungha duduk. “aku akan menjawab pertanyaanmu tadi. Kau pasti taku saat pertamakali melihatku. Aku memang tak bisa menutupi sifat asliku yang sebenarnya. Aku terlahir dengan sifat yang sudah menurun dalam diriku.” Sungha memperhatikan setiap kata-kata yang keluar dari mulut Jong In. “kau percaya adanya iblis?”

 

“aku pasti percaya. Iblis asalah musuh manusia.” Jong In mengangkat sebelah sudut bibirnya.

 

“kau memang benar. Iblis adalah musuh manusia. Mereka tak akan pernah bisa berteman dengan manusia. Begitupun denganku, sampai kapanmu aku tak akan pernah bisa berteman dengan manusia.” Sungha menatap Jong In dengan sedikit bingung. Ia masih mencerna kata-kata yang namja itu ucapkan. “karena aku berbeda dengan manusia. Aku bukanlah seorang manusia.”

 

“mwo?! Lalu kau apa?”

 

“aku adalah seorang iblis.” Sungha berdiri tak percaya dengan apa yang dikatakan Jong In.

 

“itu tidak mungkin. Jika kau iblis bagaimana kau bisa terlihat oleh manusia? Bukankah iblis adalah mahluk yang tidak bisa manusia lihat?” punggung Jong In kembali mengeluarkan sayap yang pernah Sungha lihat.

 

“kau bisa melihatnya kan? Setelah melihat ini apakah kau masih tidak percaya jika aku adalah seorang iblis?”

 

“t-tapi bagaimana mungkin.. Lalu kenapa kau menyamar menjadi manusia?”

 

“aku tidak sedang menyamar.”

 

“lalu apa yang kau lakukan di dunia manusia? Apakah kau ingin mengganggu manusia?”

 

“sedari awal aku tak ingin mengganggu mereka tapi naluriku mengatakan jika aku harus menghajar orang yang menggangguku. Aku telah diusir dari dunia iblis sepuluh tahun yang lalu karena menyelamatkan seorang anak manusia yang hampir tertabrak mobil. Sama sepertimu anak itu juga bisa melihat sayapku.”

 

“maksudmu tidak semua manusia bisa melihat sayapmu itu?”

 

“iya. Hanya manusia tertentu yang bisa melihatnya.” Sungha mulai tertarik dengan percakapan ini.

 

“lalu anak manusia itu dimana?” tiba-tiba api biru yang awalnya hanya seperti noda itu membesar menyelimuti sayap yang ada di punggung Jong In.

 

“anak itu dibunuh. Ia dibunuh didepan mataku sendiri. Aku tau ayahkulah yang menyuruh pasukan iblis untuk membunuhnya. Anak itu sama sekali tidak memiliki dosa apapun. Ini semua salahku.” entah kenapa hari Sungha terasa ngilu mendengar cerita Jong In. Ia bisa menangkap rasa amarah, kesedihan, sekaligus kebencian dari raut wajahnya.

 

“lalu kenapa kau tidak kembali keduniamu?”

 

“aku belum bisa melakukannya. Aku berjanji pada diriku, aku tak akan kembali sebelum menjadi lebih kuat dan bisa mengalakan ayahku.” Jong In melihat kearah Sungha. “kau bisa melihat api biru yang menyelimuti sayapkukan? Tak semua iblis memilikinya. Setiap iblis memiliki api mereka masing-masing dan warna apilah yang membedakan iblis itu terlahir dari ras mana. Api hitam adalah milik pasukan iblis yang biasanya berjaga. Warna merah adalah milik iblis biasa. Dan seterusnya..”

 

“kenapa kau menceritakannya padaku?”

 

“karena kau adalah manusia yang dapat membantuku untuk memperbaiki sistem di dunia iblis yang sudah mulai rusak.

 

“a-aku?” Sungha menunjuk dirinya sendiri. “kenapa aku? Aku bahkan tak tau apa-apa tentang dunia itu. Bagaimana bisa aku memperbaikinya?”

 

“karena kau bukan manusia.” Sungha menggelengkan kepalanya tak percaya.

 

“aku adalah manusia! Aku lahir dari kedua orangtuaku! Dan aku hidup didunia ini sejak aku lahir!” yeoja itu membantah habis-habisan Jong In. Bagaimana bisa namja itu tiba-tiba bilang bahwa Sungha bukanlah manusia. Apa dia gila?

 

“terserah kau ma-”

 

“aku ingin pulang sekarang! Keluarkan aku dari rumahmu ini!”

 

“bukalah pintu dibelakangmu itu. Kau akan bisa keluar. Tapi kau tak akan bisa masuk kesini kecuali aku yang membukanya. Dan jangan beritau siapapun ten-” Jong In menghentikan kata-katanyasaat  melihat Sungha yang sudah menuju pintu keluar. Jong In menghela nafasnya dan kembali menyembunyikan sayapnya itu. “kau bahkan tidak tau siapa dirimu yang sebenarnya.”

 

。゚ °Devil Child °゚。

 

Sungha duduk didepan cermin sambil menyisir rambutnya yang masih setengah basah. “hah! Apa maksudnya aku bukan manusia. Dia gila!” Sungha masih saja tidak suka saat Jong In mengatakan bahwa dirinya bukanlah manusia. Pintu kamar Sungha berbunyi. Tanda ada seseorang yang mengetuknya.

 

“sungha. Makan malam telah siap.”

 

“ne eomma.” Sungha segera menyelesaikan kegiatan menyisir rambutnya dan pergi keruang makan. Di meja makan telah terdapat ayah dan ibunya yang telah siap menyantap makanan diatas meja. Setelah makan malam selesai entah kenapa Sungha ingin bertanya sesuatu kepada ibunya itu. “eomma, aku anak appa dan eomma kan?” yeoja paruhbaya yang sedang meminum air putihnya itu tersedak. Sungha segera menghampiri ibunya itu karena khawatir terjadi hal yang buruk.

 

“eomma tidak papa?” tanya Sungha memastikan.

 

“hei Sungha sudah sangat jelas kau adalah anak appa dan eomma. Kenapa kau bertanya seperti itu.” ayah Sungha ikut menjawab sekarang.

 

“sudahlah. Sungha jika kau sudah selesai makan segera kerjakan tugasmu dan tidur. Jangan tidur larut malam ne.” melihat ibunya yang sudah membaik Sungha pun memutuskan untuk segera kekamar dan mengerjakan tugas sekolahnya.

 

“kenapa dia tiba-tiba bertanya seperti itu.” ayah Sungha masih saja heran kenapa tiba-tiba anaknya satu-satunya itu bisa bertanya seperti itu. “istriku. Apakah dia sudah mengetahuinya?”

 

“Sungha adalah anak kita satu-satunya dan tetap akan menjadi anak kita selamanya. Walaupun dia tidak terlahir dari rahimku tapi aku sudah merawatnya dari bayi dan aku sangat mennyayanginya.”

 

Sungha menutup mulutnya menahan tangisan yang tiba-tiba keluar dari airmatanya. Setelah makan malam selesai dan ingin kembali kekamarnya ia mengurungkan niatnya dan bersembunyi di belik dinding didekat meja makan. Sungha menghapus airmatanya dan berlari masuk kekamarnya. Ia menutup pintu itu dengan pelan supaya orangtuanya tak mendengarnya. Yeoja itu berbaring tengkurap dan menutup kepalanya dengan bantal.berusaha menenangkan dirinya.

 

。゚ °Devil Child °゚。

 

Hari ini Sungha memilih duduk di bangku kosong di samping kanan Jong In. Ia ingin menanyakan suatuhal pada namja itu. Hana yang melihat temannya itu terheran-heran kenapa Sungha tetap saja mau dekat-dekat dengan Jong In.

 

Tak seperti biasanya hari ini Jong In lebih sering membaca buku daripada mendengarkan musik lewat earphone nya itu. “kenapa kau duduk diritu?” tanya Jong In yang masih fokus pada bukunya.

 

“ada yang ingin aku tanyakan padamu. Ini tentangku.” Jong In melirik Sungha sesaat dan kembali fokus pada bukunya.

 

“bicaralah.” Sungha melihat keteman-teman sekelasnya yang berada di dalam kelas. Cukup banyak. Dan tidak mungkin Sungha akan berbicara panjang lebar jika masih terdapat banyak orang di kelasnya.

 

“s-sekarang?”

 

“hemm..”

 

“i-ini pribadi jadi aku tak bisa membicarakan disini.”

 

“baiklah pulang sekolah aku akan menunggumu di dekat gerbang aekolah.

 

。゚ °Devil Child °゚。

 

Jong In bersandar di dinding dekat gerbang masuk sekolahnya. Walaupun ia tak membuat onar ataupun menghajar orang hari ini setiap murid yang akan lewat didepan namja itu memilih menjaga jarak dengan namja berambut pirang yang memancarkan aura menyeramkan. Sungha datang menghampiri Jong In dengan nafas yang terengah-engah.

 

“maafkan aku. Aku harus membersihkan kelas tadi.” tanpa mengatakan apapun Jong In menegakkan tubuhnya dan memasukkan tangannya ke saku celana. Namja itu berjalan tanpa berbicara sepatah katapun. “ya. Jong In? Kau mau kemana?” bukankah Jong In menunggu Sungha? Kenapa dia malah pergi saat yeoja itu menghampirinya. Sungha berlari mengejar Jong In karena namja itu telah berjalan cukup jauh. “ya! Tunggu!”

 

Sungha mensejajarkan jalannya dengan Jong In tapi tetap saja ia selalu tertinggal dan harus berlari kecil untuk kembali mensejajarkannya. “Jong In! Kau mau kemana? Bukankah kau berjanji akan menjelaskan tentang diriku?”

 

“kita cari tempat lain. Jika kita bicara disana mereka akan melikati kita. Aku tak suka itu.”

 

“tapi kita mau kemana?” setelah berjalan cukup jauh Jong In masuk kesebuah cafe diikuti Sungha dibelakangnya. Jong In duduk di bangku didekat jendela dan memesan dua minuman untuknya dan yeoja itu.

 

“jadi kau ingin bertanya apa?”

 

“kenapa kita disini?”

 

“kau jadi bertanya tidak?”

 

“jadi!” jawab Sungha. “Jong In kau pernah bilang jika aku bukan manusia. Apa maksudmu?” Jong In diam sesaat. Seorang yeoja menaruh dua minuman diatas meja yang Jong In dan Sungha tempati lalu pergi.

 

Jong In meminum minuman yang ada di depannya. “sudah jelas kau bukanlah seorang manusia. Jika kau seorang manusia kau tidak akan bisa melihat sayapku.”

 

“lalu anak kecil itu juga bukan manusia?” Jong In mengangguk.

 

“dia seorang anak malaikat yang entah kenapa bisa berada di dunia manusia.”

 

“lalu kenapa dia dibunuh?”

 

“kami sebagai bangsa iblis dilarang berhubungan dengan para malaikat bahkan sampai menyelamatkan nyawa malaikat. Saat aku membawanya kedunia iblis dan akan mengembalikannya kedunia malaikat entah ayahku tau dari mana. Ia mengerahkan para pasukannya untuk mencariku dan anak itu. Saat aku akan menaruhnya kembali kedunia manusia ada pasukan yang melihatnya dan mengejar anak itu. Saat itu aku tak sanggup melawan pasukan yang terus bertambah. Dan pada akhirnya anak itu dibunuh didepan mataku.”

 

“jika bukan manusia makhluk apa aku ini?”

 

“jawabannya sudah pasti. Jika bukan iblis sepertiku kau adalah manaikat.”

 

“lalu bagaimana caranya aku mengetahuinya?”

 

“kau ingin mengetahuinya?” Sungha mengangguk pasti. Jong In menyuruh Sungha mendekatkan kepalanya padanya dan yeoja itu dengan cepat mendekatkannya.

 

“ini adalah caraku mengetahui bahwa anak itu bukan manusia.” Jong In mencium bibir Sungha sekilas. Mata yeoja itu melebar dan pipinya merona. Seketika sayap putih bersih keluar dari punggung Sungha. Jong In sedikit terkejut melihat sayap itu. Dan tanpa ia sadari sayap miliknya keluar begitu saja. “k-kau….” ucapnya terkejut.

 

Sungha masih terpaku dengan kecupan itu. Ia merasakan tubuhnya berbeda dari sebelumnya. “y-ya! Apa yang kau lakukan?” dengan wajah meronanya ia mengusap bibirnya berusaha menghilangkan kecupan itu.

 

“kenapa kau bisa berada didunia manusia?” tanya Jong In khawatir. “lihatlah sayap mu.” Jong In menghela nafasnya tak percaya. “bagaimana bisa malaikat sepertimu bisa ada di dunia seperti ini. Sebenarnya apa yang terjadi di dunia itu.”

 

“sayap?” Sungha melihat kekanan dan kirinya. Ia terkejut saat melihat sayap berwarna putih muncul di belakangnya. “ya! Sihir apa yang kau gunakan?! Jangan menyihirku sembarangan. Hilangkan sayap ini! Aku tak ingin orang tau aku memiliki saya seperti ini!”

 

“aku tidak menyihirmu. Itulah wujud aslimu. Manusia tidak akan bisa melihat sayap kita.” Jong In menatap Sungha serius. “apa tujuanmu datang kedunia ini?”

 

“tujuan? Apa maksudmu?” tanya Sungha bingung.

 

“kau jangan pura-pura bodoh didepanku. Tak mungkin malaikat sepertimu datang kedunia manusia tanpa memiliki tujuan apapun.”

 

“aku benar-benar tidak tau. Aku dirawat dari kecil oleh orangtuaku. Walaupun aku tidak terlaahir dari rahim ibuku aku tetaplah anak mereka. Dan aku adalah manusia bukan malaikat!” Sungha tak tahan dengan pembicaraan ini dan memilih untuk pergi.

 

“kau harus menyembunyikan sayapmu itu.” ucap Jong In sebelum Sungha melangkah lebih jauh. “beberapa bulan ini iblis-iblis mulai berkeliaran di dunia manusia dan mereka bisa saja membunuhmu saat mereka melihatmu.” Sungha berbalik menatap Jong In. “tapi jika kau ingin di bunuh pergilah.” sayap yang ada dipunggung namja itu menghilang bersamaan saat ia berdiri. “aku pergi.” ucapnya dan pergi. Jong In berjalan melewati Sungha yang masih menatap kearah meja yang sudah kosong itu.

 

“tunggu.” Sungha berbalik dan menahan lengan Jong In. Sayap namja itu kembali keluar. Melihat ada keanehan pada dirinya Jong In menatap Sungha dengan penuh tanya. Sungha melepaskan lengan Jong In perlahan. “jika benar aku adalah malaikat. Beri waktu untukku untuk menerima kenyataan ini. Dan bagaimana menyembunyikan sayapku?” tanya Sungha polos. Jong In hendak memegang lengan Sungha dan membawanya ikut dengannya. Tapi entah kenapa namja itu mengurungkan niatnya.

 

“ikut aku.” ucap Jong In dan pergi.

 

。゚ °Devil Child °゚。

 

Jong In membawa Sungha kerumahnya untuk menjawab sekaligus menerangkan tentang dirinya dan hal yang harus dihindari sebagai malaikat. Jongin duduk di sofa di depan Sungha. “dengarkan baik-baik. Sayap mu akan keluar saat kau menginginkannya dan terkadang saat kau tak menginginkannya. Seperti tadi saat aku mengecupmu. Kau pasti merasa tersipu ataupun terlalu bahagia”

 

“y-ya! Siapa yang terlalu bahagia?!” bantah Sungha.

 

“selain itu ketika kau sangat marah dan sangat sedih sayapmu juga bisa keluar.” Jong In memunculkan lagi sayapnya. “kau lihat api biru disayapkukan. Jika iblis sedang merasa marah api itu akan menyebar dan menyelimuti sayapku. Bahkan jika kemarahan seorang iblis sudah pada puncaknya api itu bukan hanya menyelimutinya tapi membesar membuat bentuk sayap sendiri.”

 

“apakah malaikat juga bisa melakukannya?”

 

“aku tidak tau. Sayapmu tidak memiliki api. Mungkin kau tidak bisa melakukannya.”

 

“lalu bagai mana menyembunyikan sayapku?”

 

“cukup pikirkan kau ingin menyembunyikannya.”

 

“baiklah aku akan mencobanya.” Sungha memejamkan matanya dan melakukan apa yang dikatakan Jong In. Tapi saat ia membuka matanya sayap itu masih ada. “kau membohongiku? Kenapa sayapku masih ada?” JongIn menghela nafasnya.

 

“kau tak perlu terlalu berkonsentrasi. Bersikaplah biasa.” Sungha kembali mencobanya dan berhasil. Sayap itu menghilang begitu saja. “sekarang dengarkan aku baik-baik. Kau adalah malaikat dan aku adalah iblis. Awalnya aku mengira kau iblis sepertiku dan bisa menolongku tapi aku salah. Seorang malaikat akan membuat dunia iblis lebih hancur. Dan jangan pernah tunjukkan sayapmu diluar sana karena itu sangat berbahaya bagimu.” Sungha mengangguk mengerti.

 

“tapi bagaimana cara mengeluarkan sayapku kembali?”

 

“sama seperti menghilangkannya kau juga harus menginginkan sayapmu muncul.” Sungha langsung mencoba apa yang di katakan Jong In dan sayap itu kembali muncul. “Sungha. Ulurkan tanganmu.” dengan masih terkagun karena memiliki sayap yang indah Sungha mengulurkan tangannya begitu saja. Jong In menulis sesuatu dengan jari telunjuknya di tangan Sungha.

 

“kau sedang apa?” tanya Sungha bingung. Tapi Jong In tak menjawabnya dan beralih menulis sesuatu di meja didepannya. Sungha semakin bingung dengan tingkah Jong In. Tapi meja kaca yang barusaja Jong In tulisi itu tiba-tiba muncul sebuah rekaman video seorang bayi yang berada di depan sebuah rumah. Sungha tak asing dengan rumah itu karena itu adalah rumahnya. Seberapa saat kemudian ia melihat ibunya yang keluar dan mengambil bayi yang ada di depan rumahnya iti. “siapa bahi itu?” tanya Sungha.

 

“itu kau. Seharusnya mantraku menampilkan awal mula kelahiranmu tapi sepertinya memori itu telah dihapus.”

 

“aku?” Sungha kembali melihat video itu. Tak mau terlalu lama Jong In menghilangkan mantranya dan video itu hilang.

 

“sepertinya ada yang sengaja menaruhmu di depan rumah itu. Supaya mereka merawatmu.”

 

“tapi kenapa mereka menaruhku dirumah itu?”

 

“aku tidak tau. Mungkin untuk menyelamatkan nyawamu.”

 

“menyelamatkan nyawaku?” Sungha kemabali teringat tentang yang dikatakan Jong In di cofe tadi. “Jong In kau bilang jika ada iblis hang melihatku mereka akan langsung membunuhku. Kenapa mereka melakukan itu?”

 

“karena bangsa iblis tak menyukai malaikat. Kami bangsa iblis memiliki tujuan dan tempat yang berbeda dan itu tidak akan pernah sama.”

 

“lalu apakah kau akan membunuhku?” Jong In terdiam dan menatap Sungha. Namja itu mengangkat sebelah ujung bibirnya.

 

“apakah aku terlihat seperti iblis yang akan membunuh malaikat?”

 

“ne.” jawab Sungha langsung. Jong In menatap yeoja itu datar. Itu bukanlah jawaban yang diharapkannya. Suasana hening. Tak ada yang memulai percakapan lagi. Entah kenapa terasa sangat canggung.setelah beberapa lama Jong In dan Sungha saling memanggil nama satu sama lain bersamaan. Dan beberapa saat kemudian keheningan kembali tercipta di antara keduanya.

 

Jong In memecah keheningan itu. “Sungha sebaiknya kau pulang. Ini sudah mulai sore.” yeoja itu menyetujui saran Jong In dan segera pulang. Jong In mengantar Sungha sampai keluar gang.

 

“kalau begitu aku pulang dulu.” ucap Sungha dan pergi. Jong In masih terus memandangi yeoja itu dari belakang. Saat ia kembali masuk kedalam gang itu ia merasakan aura yang aneh tetapi ia tak asing dengan aura itu. Jong In mengedarkan pandangannya mencari asal aura itu muncul. Dilihatnya namja dengan jaket hitamnya sedang memandangi Sungha dari kejauhan.

 

“mau apa dia kesini..” Jong In terus melihat namja itu. Dan setelah puas melihat Sungha dan akan pergi namja itu melihat kearah Jong In yang berdiri menatapnya dengan sinis. Ia hanya membalas tatapan itu dengan senyuman yang lebih mirip dengan senyum meledek. “Taehyung si iblis api hijau. Apa yang kau lakukan disini..” namja bernama Taehyung itu mendekati Jong In. Dan membungkuk member hormat.

 

“selamat sore pangeran Kai.” ucap Taehyung memberi salam dengan menekan kata ‘pangeran Kai’. Kai adalah nama asli Jong In di dunia iblis. Tak ada satupun manusia yang mengetahui nama itu. “sudah lebih dari sepuluh tahun kita tidak pertemu. Apakah pangeran tidak merindukanku?”

 

“mau apa kau datang kesini?” Jong In masih menatap Taehyun dengan sinis. Iblis api hijau adalah iblis yang berada ditinhkatan dibawah iblis api biru. Mereka memang menghormati adanya rajayang mengatur dunia iblis tetapi mereka tetap tidak suka dengan para iblis keluarga kerajaan.

 

“aku hanya melihat-lihat bagaimana dunia yang ditempati oleh pangeran iblis. Dan sebagai pembuka aku telah menemukan aura yang cukup mengejutkan hari ini.” Taehyun tersenyum meremeh pada Jong In. Jong In tau pasti Sungha lah yang dimaksud Taehyung. Selain iblis api biru, iblis api hijaupun juga bisa merasakan aura yang terpancar dari tubuh setiap makhluk tak terkecuali makhluk sebangsanya sendiri. Tapi Jong In tak pernah menyangka jika sejak ia mengecup Sungha di cafe tadi membuat aura malaikat yeoja itu terpancar begitu kuat.

 

“kembalilah kedunia iblis.” ucap Jong In cetus.

 

“apakah yeoja yang keluar dari gang tadi bukan manusia?” entah kenapa dia sangat tertarik dengan aura yang terpancar dari yeoja itu. “aura yang dipancarkannya sangat indah.”

 

“pergilah dari dunia ini. Jika tidak aku akan membakarmu dengan apiku.” sorot mata Jong In memperlihatkan sorot mata namja yang akan membunuh seseorang. Bagaimanapun juga Taehyung tetaplah seorang iblis dan dia sebaiknya tidak mengetahui identitas Sungha yang sebenarnya.

 

“kau masih saja suka cara kekerasan. Baiklah aku akan pergi.” Taehyun menulis sesuatu di jalan yang ia injak dengan ujung sepatunya. “senang bisa melihatmu..” ucapnya dan masuk kedalam jalan yang menyerupai genangan air. Setelah namja itu benar-benar menghilang jalan tadi kembali mengeras dan Jong In masuk kedalam rumahnya.

 

“aku tidak akan melepaskan yeoja yang menarik perhatianku.” Taehyung kembali keluar dari tempatnya menghilang tadi. Dan melihat kearah dinding yang ia tau itu adalah ujung dari sebuah gang. “kau pikir aku akan menuruti perkataan pangeran buangan sepertimu? Kau jangan membuatku tertawa.”

 

。゚ °Devil Child °゚。

 

Sungha membuka pintu rumahnya dengan malas. “aku pulang..” Sungha melihat kekanan dan kekiri. Ia tak melohat orangtuanya. “apakah mereka pergi?” saat ia sedang melihat-lihat mencari orangtuanya Sungha melihat bercak darah yang menuju kekamar orangtuanya. Dengan sigap dan khawatir ia langsung membuka pintu kamar itu tapi pintu itu terkunci. “APPA!! EOMMA!!” Sungha tak bisa berfikir jernih sekarang. Ia takut terjadi apa-apa pada orangtuanya. “appa?! Eomma?!” Sungha masih berusaha membuka pintu itu tapi itu percuma.

 

Setelah hampir lima menit pintu itu akhirnya terbuka dengan sendirinya. Sumgha tercengang melihat orangtuanya yang terkapar tak berdaya dengan banyak darah yang keluar. “ada apa ini? Kenapa appa dan eomma bisa seperti ini.” Sungha melihat kearah jendela yang terbuka lebar dan ia melihat seseorang dengan jacket hitamnya dan sayap yang menghiasi punggungnya itu melompat keluar dari jendela. Tangan Sungha terus menggenggam erat tangan eommanya. “appa eomma, aku akan memanggil ambulance akumohon bertahanlah.”

 

Saat yeoja itu akan pergi. Ia melihat selembar kertas diatas tempat tidur milik orangtuanya. Tanpa basa basi Sungha menggambilnya dan membaca tulisan yang ada di kertas itu.

 

Bencilah aku..

Buat dirimu penuh dengan kebencian..

Karena kebencian akan membuatmu jauh lebih mempesona..

Cepat atau lambat kau akan menjadi milikku..

 

Api hijau keluar dari kertas itu dan membakar habis kertas yang baru saja Sungha baca. Apa yang sebenarnya terjadi? Jong In apa maksudmu!! Sungha menatap tajam jendela yang terbuka lebar itundengan penuh kebencian. Kenapa kau melakukan ini?!

 

。゚ °Devil Child °゚。

 

Sungha berjalan memburu memasuki kelasnya. Ia tak sabar ingin memaki Jong In karena tega melakukan hal yang keji pada orangtuanya. Ia mendatangi meja Jong In dan memukul meja itu dengan tangannya. “YA! Apa maumu?! Kenapa kau tega melakukannya?!!” tak aada satu muridpun dikelas yang berpaling dari Sungha. Ini pertama kalinya dalam sejarah ada yang berani membentak Jong In seperti itu kecuali guru Han pastinya.

 

Jong In melihat Sungha bingung. “melakukan apa?”

 

“kau jangan pura-pura tidak tau! Kau kan yang memukuli orangtuaku hingga terluka!” para murid tersentak dengan ucapan Sungha barusan. Memukuli orangtua? Apa dia gila? Jong In berdiri dari duduknya dengan kasar.

 

“aku tak pernah memukul orangtuamu.”

 

“aku bahkan melihatnya sendiri! Setelah puas memukuli mereka kau kabur begitu saja lewat jendela!”

 

“sudah aku bilang aku tidak melakukannya!” nada suara Jong In mulai meninggi. Murid yang awalnya menonton satu persatu mulai meninggalkan ruang kelas dan membiarkan Jong In dan Sungha. Mereka tak ingin terkena imbas dari perdebatan ini.

 

“siapa lagi jika bukan kau?! Hanya kau yang memiliki sayap dan juga sihir.” Sayap? Sihir? Jong In teringat akan sesuati.

 

“kapan kejadian itu?”

 

“kemarin saat aku pulang dari rumahmu.”

 

。゚ °Devil Child °゚。

 

Seorang namja dengan wajah lucunya berjalan santai menyusuri koridor sekolah. Hampir semua murid mengenal namja itu. Jungkook. Namja yang pintar, lucu dan mudah akrab dengan banyak teman. Ada sesuatu yang membuatnya tertarik. Banyak murid yang sedang berkumpul di depan kelas 11-3. Dengan sangat tertarik namja itu mendekati kerumunan dan bertanya pa yang sedang terjadi.

 

Jungkook meminta para mirid itu memberinya jalan untuk masuk dan melarang satupun murid membuka pintu itu setelah ia didalam.

 

Namja itu melihat Jong In yang sedang berdebat. Tapi debat mereka terhenti saat Jong In melirik kearah namja yang berdiri di depan pintu. Namja itu tersenyum menyambut tatapan Jong In. “kita bertemu kembali.. Kai.” Jong In menghampiri Jungkook mendorongnya kearah pintu dan mengangkat kerah namja itu.

 

“kau..! Apakah kau yang melakukannya?!” Jongkook menyeringai.

 

“hei.. kau tak mau mereka melihatmu memukul tubuh namja lucu ini kan?” Jong In melihat murid-murid yang melihatinya dari kaca yang berada di pintu.

 

“keluarlah dari tubuh itu! Jangan libatkan manusia yang tidak mengerti apapun menjadi korban!”

 

“apakah anak raja iblis pantas mengucapkan kalimat seperti itu?” Jungkook melihat kearah Sungha yang tampak memandanginya bingung. “dia adalah seorang malaikat. Iya kan?” Jungkook semakin memancing emosi Jong In.

 

“jangan pernah menyentuhnya!” Jong In mengkuatkan cengkramannya di kerah Jungkook.

 

“Ya! Jong In apakah sekarang kau mau memukulnya juga?!” Sungha mulai tak tahan dengan sikap Jong In yang sedah kelewat batas.

 

“diamlah! Kau tak tau apa-apa! Didalam diri namja ini adalah iblis yang kau lihat kemarin! Iblis yang telah melukai orangtuamu!” Sungha diam terpaku menatap namja yang berada didepan Jong In. Apakah benar dia seorang iblis? Sayap Jong In keluar dengan leluasanya. Api biru menyelimuti seluruh sayap itu. “jika kau tak ingin keluar dari tubuhnya. Aku akan mengeluarkanmu secara paksa.” ancam Jong In.

 

Bersambung…

Iklan

42 pemikiran pada “Devil Child (Chapter 1)

  1. annyeoooong…
    mm akhir2 ini lagi sukaa banget baca ff genre fantasy, surealism, dan sejenisnya. emang kadang bkin mikir keras siih, tapi itu menarik bangeet, hehhee.
    jadiii aku lanjut yaa..
    oiya tentang gaya bahasa ff ini aku lumayan suka, ga seperti gaya bahasa ff yg biasa aku baca siih, jadi agak kurang pas gituu, tapi yaah setiap author punya gayanya masing2 kaan, hehhee..aku tetap menghargai koo..dan aku ga bilang kalo gaya bahasa author jelek lho yaa, tapi lumayan aku suka..
    okelah, annyeoong..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s