Gembel-Gembel Mempesona (Chapter 2)

TITTLE: GEMBEL-GEMBEL MEMPESONA

AUTHOR: @Novinobie

GENRE: Romance, Friendship

RATED : T+

LENGTH: Multichapter

CAST : Wu Yi Fan/Kris ,Choi Siwon,Oh Sehun ,Lee Donghae

Song Hye Ri(OC), Choi Seung Rin(OC), Choi Hyo Seok(OC),Lee Hae Ra(OC), dll

(Cast sewaktu-waktu bisa nambah)

A/N: FF dengan judul teraneh yang pernah saya buat. Cerita ini murni milik saya.  Jika tak berniat membacanya, mendingan lewat aja.

“Sorry For Typos”

Happy Reading….

.

GEMBEL-GEMBEL MEMPESONA

*Chapter 2*

 

Roda koper-koper  yang  berputar beradu dengan panasnya aspal berhenti saat sang pemilik koper menghentikan langkahnya. Donghae dan Sehun -si pemilik koper-  memandang bangga bangunan tinggi di hadapannya. Bangunan itu bukan hotel, bukan apartement mewah, bukan juga mall, bangunan itu adalah apartemen sederhana atau lebih layak di sebut dengan rumah susun. Sehun memandang rumah susun itu dengan wajah senang, senyum pun juga tak lepas dari bibir  Donghae.

“Kita di lantai berapa hyung ?” tanya  Sehun

“Kata tuan Kang kamarnya di lantai tiga, nomor 64,” jawab Donghae, mendengarnya  Sehun pun menghitung jumlah tingkatan rusun itu dengan jari telunjuknya.

“Berarti, di sana!”

“Ya,mungkin. Kajja!” ajak Donghae lalu kembali menarik kopernya. Namun, langkah keduanya di hentikan oleh nada ponsel Donghae yang berbunyi.

Siwon Choi Calling…

Yeobseo ?”                                                                                        

“YA! Lee Donghae, kalian dimana ? aku tidak bisa menemukan alamat yang kau berikan!” suara Siwon terdengar sedikit menggebu dan bercampur  emosi dari sana. Donghae hanya merespon dengan menghela nafas panjang.

“ Nowon Apartemen.”

“Mwo ? bukankah kita tadi sudah melewatinya ?” suara Siwon kali ini terdengar  sedang bicara dengan seseorang. “Kau tunggu kami disana ne ? sampai jumpa,” Sambungan telepon pun terputus begitu saja oleh Choi Siwon. Donghae berdecak atas kelakuan sahabatnya ini.

“Siwon hyung ?” tanya Sehun

“Ne, dia dalam perjalan kemari. Mereka meminta kita menunggu sebentar.”

“Mereka ?”

“Ya, Siwon dan sepupunya.”

“Jadi sepupu Siwon Hyung itu ikut juga ?”

“Sepertinya begitu,” Donghae hanya mengangkat bahunya.

Donghae dan Sehun  terpaksa harus menunggu kedua orang itu di depan apartement sederhana itu.

Sesuai dengan rencana yang sudah di susun matang-matang dua minggu yang lalu, mereka akan tinggal di apartement ini selama tiga bulan saja. Dan tentunya melepas semua fasilitas mewah yang selama ini menjadi poin utama mereka di mata para wanita.

Tak menunggu lama, mobil mewah Siwon pun berhenti di depan Donghae dan Sehun.

“Yo! Lee Donghae,” sapa Siwon dengan semangat. Sementara Yi Fan hanya menyapa dengan mengangkat tangan kanannya cool.

“Hm,”

Hyung, kau membawa mobilmu juga kesini ?” tanya Sehun pada Siwon yang sibuk menarik koper besarnya dari bagasi.

“Ya,” jawab Siwon lalu merapikan lengan jaketya.

“Aigoo, bukankah sudah ku katakan jangan membawa mobilmu kesini. Kau pikir mobil mewahmu itu mau kau simpan di mana ? apartemen ini tidak ada tempat menyimpan mobil mewahmu itu.” ucap Donghae kesal. Detik selanjutnya Lee Donghae menghubungi seseorang, yang tak lain asisten Siwon sendiri. “Yeobseo ?. Tuan Shin, bisa kau ambil mobil Siwon di Nowon Apartemen. Ne, Terima kasih tuan Shin.” Mendengarnya Choi Siwon memandang Donghae horror.

“Lee Donghae, Kau-“

“Sudahlah, Kajja.” Tepukan Yi Fan di punggungnya akhirnya membuat Siwon tak melanjutkan ucapannya. Keempat namja tampan ini pun melangkahkan kakinya menuju apartemen sederhana ini.

.

.

Dua minggu sebelumnya.

Siwon dan Donghae duduk santai di salah satu kafe di daerah gangnam. Sebenarnya Siwonlah yang mengajak sahabatnya bertemu disini. Tidak lain yang ingin di bahasnya adalah tentang -keikutsertaaanya- dalam rencana Lee Donghae dan Oh Sehun beberapa hari lalu.

“Begini, tentang saranmu kemarin. Apa kau benar akan melakukannya ?” Siwon bertanya memasang wajah serius.

“Tentu saja, aku tidak sepertimu yang selalu main-main,” jawab Donghae percaya diri. Meskipun sedikit kesal dangan ucapan Donghae, dia diam saja dan berpikir sejenak.

“Baiklah, karena itu menurutmu menguntungkan. Aku dan Kris ikut.” jawab Siwon final. Mendengarnya Donghae pun menjtuhkan pandangannya pada Siwon.

“Sepupumu itu ?”

“Ne,”

“Oke, tak masalah. Kita akan memulainya dua minggu dari sekarang. Urus saja semua pekerjaan kantormu terlebih dahulu. Ini tidak lama, hanya tiga bulan saja.”

“Ya, aku setuju.” mendengarnya Donghae pun memasang senyum puas.

.

***

.

Empat pria tampan ini kini memandang ruangan sekelilingnya. Sehun dan Donghae ‘masih’ memasang wajah semangat, Yi Fan tetap dengan gaya Coolnya. dan Siwon ‘kembali’ memasang wajah horrornya. Siwon dengan kasar melepas kaca mata hitam yang bertengger dihidungnya dan memandang sekelilingnya dengan pandangan tak percaya.

“Serius kita berempat tinggal bersama di dalam sini ?” tanya Siwon entah pada siapa.

“Tentu saja!” Sehun dan Donghae menjawabnya bersamaan.

Disini. Apartemen sederhana nomor  64 yang hanya memiliki dua kamar besar dan satu kamar mandi. Ada juga ruang tamu kecil yang jaraknya hanya beberapa meter dari dapur.  Tempat ini lah menjadi tempat pertama yang menjadi petualangan mereka berempat.

“Tidak bisakah kau mencari tempat yang lebih besar sedikit ?.” Tanya Siwon sebal.

“YA! Tuan Choi! kau lupa tujuan kita apa ?! Kau ini menyebalkan sekali,” jawab Donghae.

“Tapi inikan sudah-“

“Kau dan Kris satu kamar. Kamarnya di sana.” potong Donghae lalu menunjuk kamar yang tepat di seberang mereka. Tanpa pikir panjang, Yi Fan pun menarik kopernya menuju kamar yang di tunjuk Donghae. Sehun yang tak mau ambil pusing juga menarik kopernya masuk kedalam kamar yang akan di tempatinya bersama Donghae.

.

***

.

Hari sudah menjelang sore, Donghae dan Sehun sibuk melingkari tulisan- tulisan di koran dengan spidol warna merah . Melingkari tulisan yang bertuliskan lowongan kerja. Mereka duduk di ruang tamu sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Yi Fan duduk di sofa seberang Sehun sambil memainkan Laptopnya, beberapa kali ia menelpon orang dengan bahasa China yang sangat tidak di mengerti oleh Donghae dan Sehun. Sedangkan Siwon, namja ini duduk di tengah-tengah memandang bosan televisi yang menyala di depan mereka.

Suara bel sejenak menghentikan kegiatan mereka. Keempatnya sama-sama menoleh ke arah pintu, saling menunggu siapa yang akan bersedia dengan ikhlas berdiri lalu membukakan pintu untuk si tamu.

Akhirnya, Yi Fan lah yang berdiri lalu membuka pintu tersebut. Tak berapa lama, pria tampan itu kembali dengan membawa sebuah amplop di tangannya.

“Siapa hyung ?” tanya Sehun,

“Asistenku,” jawab Yi Fan pendek kemudian duduk dan membuka amplop cokelat yang ada di tangannya. Sejenak ia memandang beberapa kertas yang ia keluarkan dari amplop tadi. Dan sepertinya ada juga berapa lembar foto. Yi Fan tersenyum – senyum tipis, hal ini menarik perhatian dari keketiga temannya. Siwon  penasaran dengan foto apa yang di lihat sepupunya hingga tersenyum yang menurutnya sedikit aneh seperti.

“Kau melihat apa sih ?”  Tanpa mengurangi ketidak sopanannya, Siwon menarik salah satu foto itu dari tangan Yi Fan dan melihatnya.

Jeda sebentar.

MWO ?! dari mana kau dapatkan foto ini ?!” Suara  Siwon kali ini tidak hanya mengagetkan Yi Fan, tapi juga Donghae dan Sehun. Dengan kesal Yi Fan kembali mengambil foto lagi dari Siwon.

“Kau ini apa-apaan sih hyung!,” Yi Fan memasukan semua lembar foto itu kembali dalam amplop.

“Kris, dari mana kau mendapatkan foto Hye Ri ?” tanya Siwon lebih serius.

“Hye Ri ?” ujar Donghae, “Song Hye Ri ?”. Yi Fan menutup matanya lalu memijat pelipisnya pelan lalu mengganguk membenarkan ucapan Siwon dan Donghae.

“Ya,ya, ya…baiklah.” ucap Yi Fan akhirnya. “Dia memang Song Hye Ri, salah satu karyawan di perusahaanmu.”

“Woooaaah, kau cepat sekali bertindak hyung. Kita bahkan baru hari pertama di sini. Bravo!.” Sehun dengan tanpa di suruh bertepuk tangan sendirian memuji Yi Fan. Namun tak berlangsung lama saat pandangan galak  Siwon dan Donghae tertuju padanya hingga membuat nyali putera presiden ini ciut. Sehun bukannya tak kenal Hye Ri, dia sangat kenal malah. Song Hye Ri itu termasuk dalam daftar ‘noona’ favorite Sehun.

“Tidak,tidak, kau tidak boleh dengannya.” ujar Siwon, “Hye Ri itu sahabat kami, kau tidak boleh dengannya. Aku tidak setuju.” ucapan Siwon semakin membuat Yi Fan mengerutkan dahinya penuh tanya.

“Memangnya kau ayahnya Hye Ri ? seenaknya bicara begitu,” kali ini Donghae. “Kris, sejak kapan kau menyukai Hye Ri ?” tanya Donghae, reaksi Yi Fan hanya mengangkatkan bahunya seolah berkata ‘entahlah’.

“Kau liat reaksinya. Heh, aku sangat mengenal bocah ini. Aku tak mungkin menyerahkan sahabatku padanya.” Siwon bicara pada Donghae sambil menunjuk Yi Fan.

“Choi Siwon diamlah,” peringat Donghae

“Apa ? kau setuju sahabat kita dengannya ?. Tidak, aku tidak setuju.”

“Memangnya kenapa ? kau ini berlebihan sekali.”

“Justru aku yang bertanya ? kenapa kau setuju ?”

“Aku tidak mengatakan kalau aku setuju, hanya saja…”

“Hanya apa, huh ?. aku tidak mau ide gilamu ini akan melibatkan orang lain lagi, terutama sahabat kita.” tanpa mendengar jawaban dari Donghae lagi, Siwon beranjak dari tempat duduknya dan menyambar jaket kulitnya kemudian pergi keluar tak peduli Donghae dan Sehun memanggilnya.

Ketiganya diam beberapa saat sejak kepergian Siwon. Jangan tanya ekspresi wajah Yi Fan, rahangnya  kini mengeras.

‘sebegitu tidak percaya kah sepupunya sendiri padanya ?’

“Siwon hyung, se-sepertinya benar marah…” Sehun mengeluarkan suaranya.

“Hm, Siwon sudah seperti ini jika menyangkut masalah Hye Ri, terhitung sejak setahun yang lalu.” jawab Donghae pelan. Mendengarnya Yi Fan mengalihkan pandangannya ke Lee Donghae.

“Kami berdua sudah menganggap Hye Ri seperti adik kandung kami sendiri. Tapi aku tak tahu jika Siwon se-protektif ini padanya, mungkin…” Donghae menggantungkan ucapannya sejenak, “Mungkin dia tidak ingin kejadian satu tahun yang lalu terulang kembali,” lanjut Donghae. Ucapan pria tampan ini semakin membuat tanda tanya besar di kepala Yi Fan.

“Maafkan Siwon, kau tahu sendiri sifatnya seperti apa. Ia tak mungkin seperti tadi jika tidak ada alasan.” Donghae menepuk bahu Yi Fan. Sementara Sehun dari tadi menjadi pendengar yang baik.

“Aku sendiri tak bisa mengatakan alasannya kenapa, karena aku sendiri juga tidak ingin mengingatnya.” Donghae terdengar menghela nafas panjang lalu tersenyum tipis.

“Haaaah…tidak seharusnya pria tampan seperti kita bermelankolis ria seperti ini. Kajja! Sehun, kita harus pergi ke supermarket sekarang. Kulkas kita masih kosong. Biarkan saja Choi itu menenangkan dirinya sebentar.” Donghae bangkit dari tempat duduknya dengan semangat seolah melupakan semua yang terjadi beberapa menit yang lalu.

“Oh? oke,” jawab Sehun mau tak mau ikut berdiri dan mengikuti langkah Donghae. Saat baru di depan pintu, Yi Fan memanggilnya.

“Donghae hyung!,”

“Ya ?”

“Tidak bisakah kalian percaya padaku ?” tanya Yi Fan dengan nada suara dinginnya, mendengarnya membuat Sehun meneguk ludahnya ngeri. Tapi tidak dengan Lee Donghae, dia tetap bereaksi seperti tadi meskipun sempat kaget dengan pertanyaan Yi Fan.

“Ku pikir, aku ikut dalam rencana kalian ini karena aku memang benar ingin serius. Jadi, tidak bisakah kalian mempercayaiku ?” ucap Yi Fan lagi. Donghae tersenyum tipis, “Jika memang seperti itu, teruslah meminta restu dari hyung kesayanganmu itu. Fighting!.” jawab Donghae  mengangkat kepalan tangan kirinya. Meski terdengar seperti bercanda, tapi ada makna yang dapat Yi Fan mengerti dan mau tak mau ia pun ikut tersenyum setelah mendengar kalimat Donghae. Ia mengangguk paham.

Setelah Donghae da Sehun keluar. Sejenak Yi Fan terdiam dan berpikir, ‘Seperti inikah rasanya ?’ ucapnya dalam hati. Sekilas ia teringat dengan wajah Hye Ri, gadis yang di temuinya dengan tidak sengaja seminggu yang lalu. Mengingat kejadian itu membuat Yi Fan mengulum senyumnya sendiri.

.

***

.

Sehun masih asyik mendorong troli yang isinya penuh dengan semua belanjaan untuk kelangsungan hidup mereka berempat. Sementara Donghae sedang sibuk memilah milih makanan apa lagi yang akan di belinya. ini memang cukup membingungkan karena biasanya para pesuruh rumahlah yang membelinya. Namun sekarang, mau tak mau dua pangeran tampan ini turun langsung kelapangan(?) untuk membeli semuanya.

Konsentrasi -mari memilih makanan- Donghae terpecahkan saat mendengar suara gaduh. Ia pun mencari sumber suara tersebut dan Bingo!. Dia menemukannya, itu suara dari stand penjual buah jeruk.

Disana, ibu-ibu, anak-anak muda, bahkan bapak-bapak pun ada. Mereka sepertinya berebutan membeli buah jeruk.

Hyung! kau mau kemana ? hei!” Teriak Sehun karena Donghae meninggalkannya, Donghae berjalan ke stand penjual buah tersebut.

“Kau mau membeli jeruk lagi ? orangnya banyak sekali hyung.” ucap Sehun lagi setelah berhasil mengejar Donghae.

Donghae melihat kerumunan orang yang berebutan jeruk, berusaha mencari penyebabnya. saat penuh perjuangan dia masuk di dalam kerumunan orang -orang itu, Mata Donghae melihat lebih tepatnya membaca sesuatu.

“JERUK MANIS DISKON 60%”

Tulisan warna merah  itu begitu besar di atas papan warna kuning. Inilah penyebabnya. Penyebab semua orang berkumpul disini, karena diskon ternyata.

HYUNG! sedang apa kau ?” panggil Sehun. Tak lama kemudian Donghae pun meninggalkan kerumunan dan kembali menemui Sehun. Jangan lupa sebuah senyum yang tak terdefinisi terpatri di bibirnya.

“Tidak jadi membeli jeruk ?”

“Bukan, bukan itu.” jawab Donghae -masih- tersenyum

“Lalu ?”

“Kajja. Ikut aku!” ajak Donghae, Sehun yang masih bingung hanya mengikuti Donghae. Entahlah kemana itu.

.

***

.

Panas sore ini membuat tak membuat rasa gondok pria ini hilang, malah dia semakin berapi-api. Siwon berjalan sambil menendang -nendang udara kosong dengan kesal.

“Kenapa bocah itu tidak memberi tahuku terlebih dahulu!.” ujarnya. Kejadian beberapa saat lalu membuat moodnya kembali buruk.

“Apa aku tadi terlalu kasar bicara pada mereka ?,” Siwon berhenti sejenak.

“Tapi dia sendiri yang membuatku emosi, berani-beraninya ingin mendekati Hye Ri tanpa seijinku. Aiisshh…” ucapnya lagi. Merasa capek dia duduk di kursi yang ada di pinggiran jalan. Ia menghela nafas pelan. Menenangkan diri sejenak. Bersyukur angin sepoi-sepoi mampu sedikit mengangkat perasaan buruknya.

Ia duduk menyilangkan tangan di dadanya sambil memejamkan mata. Hal ini tidak berlangsung lama, saat asyik-asyik tidur sejenak disini ada berbagai suara yang mengganggunya. Siwon membuka matanya perlahan.

“Hei, dia bangun…ommooo tampannyaaa.”

“Dia keren sekali,”

“Apa dia artis ?,”

Siwon terkejut saat membuka matanya dengan benar. Di hadapannya ada puluhan Yeoja yang sedang mengelilinginya. Ada juga yang sibuk memoto wajahnya.

“Ya! apa-apaan kalian ?!” Bentak Siwon tak suka.

“Omo! Dia gagah sekali!”

“Kyaaa…oppaaa…”

Bukannya pergi, para yeoja itu semakin gemas padanya. Dia tahu dia tampan, tinggi, dan kaya yang sudah pasti jadi idaman wanita. Tapi…ayolah, di panas terik seperti ini siapa yang suka di kelilingi banyak orang di tambah suasana hatinya yang buruk dari tadi. Dengan kesal Siwon pergi meninggalkan tempat ini lalu menghentikan sebuah taksi. dengan segera ia masuk kedalam taksi tadi.

“Nowon Apartemen…”

“Nde…”

.

***

.

Taksi yang di tumpangi Siwon berhenti di depan apartemen tempat tinggal barunya.

“Oi, Hyung!.” teriak seseorang memanggilnya saat Siwon baru saja keluar dari taksi. Sehunlah yang memanggil. Ternyata Sehun dan Donghae juga baru pulang dari kegiatannya berbelanja di supermarket dan dengan kebetulan dia bertemu dengan Siwon.

“Hyuuuung, kau bawa ini nee…” Dengan senyum maut ala Maknae Sehun dengan polosnya memberi satu kantong belanjaan besar pada Siwon. “Apa maksudnya ini, bocah!”

“Kau bawa saja, kasihan dia dari tadi membawa semuanya. Ini juga untuk kau makan  selama disini.” ujar Donghae. Siwon hanya memutar matanya. Mereka bertigapun bersama- sama masuk kedalam apartemen dengan masing-masing membawa kantung besar belanjaan.

“Aaaaahh…lelahnya.” Sehun langsung melempar dirinya ke sofa panjang setelah meletakan semua barang bawaanya.

Drrrtt…Drrrtt..

Ponsel miliknya bergetar di dalam saku celananya. Dengan malas Sehun meraih ponselnya dan ia langsung terkejut siapa yang meneleponnya.

Noonanim Calling…

Namja putih ini langsung duduk tegap dan langsung menghela nafas panjang sekali. Ibu jarinya dengan -sedikit- gemetar mengusap touchscreen ponselnya.

Nde…Noonaa…?”

“Sehuniee… kau sudah sampai ?”

“Hm, ba-baru saja pesawatku sampai. disini ramai sekali…”

“Ramai ? aku tidak mendengar suara apapun dari sini.” jawab dari kakaknya membuat keringat Sehun keluar sebesar biji jagung.

“Aku…aku sedang di dalam toilet noonaa…”

“Ooh…kau jorok sekali.”

“Hehehe…”

“Jaga tata kramamu di Negara orang, bagaimanapun kau harus tahu kau anak siapa.”

“Ne…Araseo,”

“Syukurlah kalau kau baik-baik saja. Kau tidak diarekan di negara orang ? baru landing saja sudah masuk toilet.”

“Tentu saja tidak!”

“Hahaha…aku bercanda, kalau begitu sampai jumpa nanti. Jaga kesehatanmu mengelilingi New Zeland.”

“Neee…”

Sehun langsung bernafas lega saat sang kakak memutuskan telepon. Asal tahu saja, pemuda tampan putra presiden ini berbohong pada keluarganya. Dia mengatakan jika dia akan pergi keluar negeri pada seluruh keluarganya.

“Bisa habis kau jika Jie Yoo tahu,” ucap Donghae yang tiba-tiba duduk di sampingnya.

“Tenang saja hyung, noona tidak akan tahu selama kau dan Siwon hyung tidak memberi tahunya.”

“Semoga.”

Hyung, kenapa nada bicaramu tidak meyakinkan sekali ?!”

“Hahaa…iya..iya..”

Hyung ?.” Sehun memanggil nama Donghae dengan nada sedikit berbeda.

“Hm ?”

“Kau serius dengan yang tadi ?” Sehun kembali menanyakan kejadian saat mereka masih di supermarket tadi.

“Menurutmu ? apa aku bercanda ?.” Donghae balik bertanya.

“Umm…kau memang sudah membayar lunas tempat itu tadi. Tapi bagaimana jika pemiliknya datang dan mengacaukan semuanya ?,” tanya Sehun lagi.

“Tidak akan, salahnya sendiri tidak membayar sewa tempatnya.” jawab Donghae acuh.

“Jadi kau benar akan menjual buah jeruk besok ?.”

“Ya. Tentu saja!” jawab Donghae semangat.

Beberapa saat yang lalu -saat masih di supermarket-  Donghae menyeret  Sehun menemui manager stand tempat penjual buah. Sehun yang tidak mengerti hanya ikut saja. Baru setelahnya ia mengetahui apa rencana Donghae.

Donghae mengatakan dengan bangga jika dia akan berjualan jeruk di salah satu stand buah yang baru saja ia sewa. Dan itu sukses membuat Sehun menjatuhkan belanjaan yang ia bawa di tangannya. Beberapa kali ia menanyakan keseriusan Donghae dan tentu saja jawabannya tetap sama ” aku akan jadi penjual buah!”.

“Lalu…bagaimana denganku ?” tanya Sehun dengan pelan.

“Huh ?.”

“Ne, Aku harus mencari pekerjaan juga. Dengan begitu aku akan lebih mudah mendapatkan kekasih.” Sehun bersandar di sofa sambil menerawang pekerjaan apa yang cocok dengannya.

“Apa kau tidak punya gambaran sama sekali ?” tanya Donghae, Sehun menggelengkan kepalanya.

“Salah sendiri terlalu manja,”

“Ya! katamu sama pedasnya dengan noona,” protes Sehun. “Bagaimanapun, ini pertama kalinya untukku.”

“Baiklah, aku mengerti. Bagaimana untuk sementara kau ikut denganku saja ?” tawar Donghae tersenyum menggoyang-goyangkan alisnya.

“Umm…bukan ide yang buruk. Oke!” jawab Sehun setuju dengan semangat.

“Yeah, besok kita akan beraksi..hhahaaha…” dua pemuda beda usia ini bersorak ria, seolah-olah baru saja mendapatkan undian berhadiah. Yaah..Semoga rencana ‘menggaet wanita’ dengan propesi penjual jeruk ini membuahkan hasil.

.

***

.

Ini sudah pukul sembilan malam. Mereka pun sudah makan malam beberapa saat yang lalu. Sehun sudah masuk kamar dari tadi untuk pergi tidur, ia mengatakan harus tidur lebih cepat agar staminanya berjualan buah jeruk besok lebih maksimal -_-

Siwon tidak di dalam apartemen, tapi dia kini berdiri bersandar pada pagar pinggiran apartemen ini. Pria tampan ini memandang jalanan dari tempatnya berdiri. Suasana sekitaran tempat tinggal mereka ini tidak seramai apartemen mewahnya. Malam ini memang terasa tenang, sesekali ia tersenyum membayangkan apa yang di alaminya seharian ini. Seperti anak-anak saja. Ia masih belum akur dengan teman sekamar -sekaligus- sepupunya. Wu Yi Fan.

Siwon tahu itu bukan sifatnya. Hanya reflek saja pikirnya. Tapi memang kenyataannya ia amat protektif pada sahabatnya. terutama setelah kejadian setahun yang lalu.

“Apa kabarmu malam ini hyung ?” Siwon tahu itu suara Yi Fan. Tapi ia tidak menoleh.

“Ini,” Yi Fan memberinya sekaleng bir dingin. Siwon memandang sepupunya.

“Kau mau menyogokku dengan sekaleng bir ?” tanya Siwon tersenyum lalu mengambil minuman itu dari tangan Yi Fan.

“Maaf atas kelakuanku seharian ini.” ucap Siwon lalu menenggak minumannya.

“Ne, aku mengerti. Donghae hyung sudah mengatakannya.” jawab Yi Fan.

“Donghae menceritakan semuanya padamu ?” tanya Siwon.

“Tidak, dia hanya mengatakan ada alasan mengapa kau bicara seperti itu tadi. Tapi dia tidak menceritakan semuanya.” jawab Yi Fan.

“Begitu rupanya…” ucap Siwon mengangguk sekilas. Untuk sesaat mereka berdua diam, hingga Yi Fam kembali bersuara.

“Tidak bisakah?”

“Huh ?”

“Tidak bisakah hyung mempercayaiku ?” tanya Yi Fan, dia menatap langit malam. Siwon diam sebentar.

“Setahun yang lalu….”

Flash back.

Siwon dan Donghae berlari tidak tahu diri di lorong rumah sakit. Beberapa saat yang lalu mereka menerima telepon dari Bibi Song, mengatakan bahwa Hye Ri masuk rumah sakit dan keadaanya saat ini kritis.

Song Hye Ri, saat ini perempuan itu ada di ruang operasi. Keadaanya sangat kritis, sejak tadi bibi Song menangis dan beliau pun di tenangkan oleh Donghae. Siwon kini sudah dalam keadaan luar biasa cemas.

Yang ia dan Donghae tahu Hye Ri selama dua hari ini  sakit dan keadaannya sudah mulai membaik. Tapi tidak ada menyangka jika Hye Ri melakukan tindakan nekat di dalam kamarnya. Perempuan 20 tahun ini memotong urat nadi pergelangan tangannya sendiri di kamar mandi. Beruntung kejadian itu dengan cepat di ketahui oleh ibunya, dan Hye Ri dengan segera di bawa ke rumah sakit.

“Eomma tak menyangka jika Hye Ri melakukan semua ini…eomma sangat khawatir dengannya.” Bibi Song menangis di pelukan Donghae yang sudah seperti anaknya sendiri.

“Eomonim, Hye Ri akan baik-baik saja…” ucap Donghae. Siwon yang berdiri di depan pintu ruang operasi mengeram emosinya. Ia mengepalkan tangannya marah. Dia tahu siapa yang menyebabkan sahabatnya seperti ini.

“Siwon-ah! kau mau kemana ?!” Donghae berteriak memanggil Siwon saat namja itu dengan marahnya akan meninggalkan rumah sakit. Donghae yakin tujuan Siwon saat ini adalah ketempat lelaki brengsek itu. Ia ingin sekali mencegah Siwon agar tidak melakukan hal di luar kendali, tapi saat ini ia harus menemani ibu Hye Ri. Donghae menghela nafas pasrah.

…..

Siwon menceritakan semuanya pada Yi Fan. Sepupunya ini mendengar semua awal bagaimana Siwon jadi seperti ini pada Hye Ri.

“Lalu apa yang terjadi selanjutnya ?” tanya Yi Fan.

“Dia ku hajar habis- habisan.” jawab Siwon sambil tersenyum kecut. “Mulai dari saat itulah aku berjanji menjaga semuanya. Terlepas…terlepas dari kematian Yejin, aku tidak ingin kejadian ini terulang lagi.” jawab Siwon lalu menatap langit malam.

Yi Fan dapat melihat ada kerinduan yang mendalam di wajah Siwon. Dia tahu jika Siwon detik ini sedang merindukan Yejin. Dia tahu jika hyungnya saat ini belum sepenuhnya membuka hati untuk cinta yang lain. karena sosok itu, Park Yejin. Wanita yang selama ini di cintai Siwon, wanita yang kini sudah bersama Tuhan kurang lebih dua tahun yang lalu. Keadaan kembali sepi.

Hanya suara kendaraan yang terdengar di antara mereka.

“Huh ? habis ?” Siwon menggoyang-goyangkan kaleng birnya yang sudah habis.

“Aissh…menyebalkan sekali.” Siwon berdecak lalu melempar kaleng kosong itu ke dalam tong sampah.

“Aku akan mengurus semua cara agar kau bisa masuk perusahaanku tanpa ketahuan. Kau harus serius kali ini, atau aku akan menghajarmu lebih parah dari mantan kekasih Hye Ri itu.” ucap Siwon. Yi Fan memandang hyungnya dengan pandangan tak percaya. Siwon mengijinkannya.

Yi Fan tersenyum lebar. Entahlah, ia merasa tidak ada yang lebih menyenangkan dari sekarang.

“Terima kasih hyung. Kau bisa percaya padaku!”

.

.

.

.

TBC

Hallooo…saya bawa chapter dua. Semoga suka, maaf telat update. Senang sekali baca review yang kemaren, 100% semuanya pengen lanjut…terima kasiiiiiih…

CU.

14 pemikiran pada “Gembel-Gembel Mempesona (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s