Wolf’s Eternal Love (Chapter 6)

<p stylwolf copye=”text-align: center;”>

A Storyline Present By:

@diantrf & @ferrinamd

Wolf’s Eternal Love

(Stupidity of Love)

Cast:

Huang Zitao, Oh Sehun (EXO) | Park Cheonsa, Zhen Yilyn (OC)

Genre: Fantasy, School-life, Romance | Rating: PG-17 | Length: Chaptered

Prev:

Teaser | Part-1 | Part-2 | Part-3 | Part-4 | Part-5

0o0

“Ta-Tao.. Kris.. Warlock itu adalah Kris..” Tao melebarkan kedua bola matanya mendengar pernyataan dari Sehun. Jika memang benar, Tao harus melindungi Lyn lebih ketat lagi. Karena ia tahu jika Kris adalah seorang guru baru di sekolah mereka, sekaligus tetangga dekat Lyn.

“Siapa? Kris? Tetangga sebelah kita?” Tanya ayah Lyn, Zhen Yuan. Sehun mengangguk dengan napas masih tersengal. Menahan perih pada luka di punggungnya.

“Benar. Dia yang akan memburu Lyn. Saat tahu Lyn mempunyai sosok jelmaan Selene, Kris sudah membuat rencana besar untuk membunuh Lyn.” Semua terdiam, tidak ada yang bergerak sedikitpun. Sedangkan Lyn terpaku tidak percaya. Ternyata dia selama ini sudah menjadi target dari Kris. Setelah mendengar cerita dari Tao tentang kisah Selene terbunuh di tangan Warlock. Tapi sekarang bukan waktunya untuk bercerita panjang lebar tentang dirinya. Sehun harus segera ditolong.

“Lebih baik bawa dia ke dalam,” titah ayah Lyn menyuruh Tao membawa Sehun untuk disembuhkan. Tubuhnya dipapah masuk ke dalam rumah Lyn. Sedangkan gadis itu membawa kotak obat untuk mengobati luka di punggung Sehun.

“Lyn, biar ayah saja yang mengobatinya. Kamu bawakan teh hangat untuknya.” Lyn mengangguk dan meletakkan kembali kotak tersebut. Lalu masuk ke dapur, Tao melihat punggung Lyn dalam diam.

“Kau tenang saja, Tao. Kau pasti bisa melindunginya.” Hiburnya pada diri sendiri.

****

Sejak kejadian semalam, Lyn menghabiskan malamnya hanya untuk memikirkan dirinya yang akan mati tragis di tangan Kris. Ayah dan Ibunya sudah meminta tolong pada Tao serta Sehun untuk melindungi Lyn diam-diam. Dua pria itu menyanggupinya. Sampai Tao memeluk Lyn dengan erat di hadapan kedua orang tuanya dan Sehun. Membisikkan kata-kata sayang untuknya agar tetap berada dalam jangkauan pria itu.

Dia tidak mau mati sia-sia, Lyn masih ingin hidup untuk membahagiakan orang yang dia sayangi. Tanpa sadar air mata turun di pelupuk mata Lyn. Segera ia menghapus air matanya.

“Kau menangis?” Bisikan halus bersamaan hembusan angin terdengar jelas di telinganya. Kepala Lyn menoleh ke kanan dan kiri mencari siapa yang berbicara padanya. Ah, mungkin hanya halusinasinya saja.

“Apa yang kamu tangisi? Itu tidak akan mempan, karena aku akan tetap memburumu.” Lyn melirik ke belakangnya. Melihat sosok tinggi itu berdiri menatap punggungnya. Tatapan misteriusnya menusuk tepat di mata Lyn. Gadis itu berjalan menjauh, berlari kecil demi menghindari dari pria itu.

****

Satu hari ini berlalu begitu cepat. Tao masih terdiam tanpa bergerak untuk pulang ke rumah. Sedangkan Cheonsa—sahabatnya sudah keluar dari kelas tepat saat bel berbunyi. Karena Sehun tidak masuk, gadis itu segera menjenguknya. Awalnya Cheonsa ingin mengajak Tao untuk menjenguk Sehun. Tapi Sehun sudah memperingatinya untuk tidak mengikuti Cheonsa. Lebih baik ia menjaga Lyn di sekolah. Takut-takut gadis itu akan diserang lagi oleh Warlock.

Tao langsung berdiri, setelah pikirannya berkecamuk. Memikirkan bagaimana cara melindungi Lyn, kekuatan Warlock sangat tinggi. Tao sebagai Shifter belum tentu bisa mengalahkannya. Tao berjalan keluar sampai ia bertemu dengan Lyn. Gadis itu berjalan lambat, sangat lambat. Seolah tak ada lagi semangat di hidupnya. Tao berlari kecil mendekati gadisnya, menyejajarkan langkahnya dengan Lyn.

“Lyn,” panggil Tao lembut. Wajah Lyn terangkat melihat seseorang yang memanggil namanya. Pria yang tengah menghuni pikirannya berdiri di dekatnya. Baru saja Lyn berniat untuk menoleh ke arah Tao, ternyata pria itu sudah mendahuluinya. Lyn memeluk leher Tao, merasakan kehangatan dalam tubuh Tao. Mereka berdua saling terdiam. Hanya napas yang beradu dan terdengar jelas.

“Aku mengkhawatirkanmu, Tao. Lukamu sudah sembuh?” Lyn menyentuh balutan perban yang masih terpasang di lengan Tao. Tidak ada reaksi berarti, raut wajah Tao tidak tampak kesakitan. Malah senyuman tersungging di bibir tipis Tao.

“Aku tidak apa-apa. Kamu tidak usah khawatir. Justru aku mengkhawatirkanmu.” Tangan Tao mengusap pipi tirus Lyn. Tangan kanan Lyn memegang pergelangan tangan Tao hangat, meresapi sentuhan tangan Tao di wajahnya.

“Kamu tenang saja. Aku pasti baik-baik saja, asalkan kamu tetap disisiku,” ucap Lyn yang justru menimbulkan semu merah di pipinya karena ucapannya sendiri. Tak ayal gelak tawa terdengar dari Tao.

“Aku akan selalu menjagamu. Ayo, kita pulang.” Lyn mengangguk. Kini giliran Lyn yang menggenggam tangan Tao. Mengajak laki-laki tercintanya untuk pulang dari sekolah. Tapi mereka tidak pernah menyadari selalu ada sosok yang mengawasi mereka dari jauh. Dengan senyuman misterius tak lepas dari bibirnya.

“Roman picisan murahan. Mereka selalu bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa. Lihat saja apa yang akan aku lakukan nanti,” ujarnya seiring sosoknya yang menghilang terbawa hembusan angin.

****

“Sehun..Sehun..” Panggilan Cheonsa sama sekali tidak digubris. Sejak kedatangannya ke rumah ini, Sehun sama sekali tidak menunjukkan antusiasmenya terhadap kehadirannya. Padahal Cheonsa sudah rela untuk pergi sendiri kesini.

“Sehun,” ujar Cheonsa sekali lagi, tapi sepertinya pria itu tetap bergeming tanpa menoleh sama sekali.

“Baiklah, aku mau pulang.” Cheonsa hendak berdiri, namun kalah cepat dengan tangan Sehun menahan langkahnya.

“Jangan marah. Aku hanya sedang memikirkan keadaan sahabatmu. Apa tadi dia masuk sekolah?” Cheonsa membulatkan matanya tak percaya. Sejak kapan Sehun memikirkan Tao? Sekarang mereka mulai saling peduli—sebenarnya Cheonsa mengharapkan hal itu. Hanya saja Cheonsa masih tidak percaya akan secepat ini. Mungkinkah karena masalah Lyn? Cheonsa mengendikkan bahunya.

“Sejak kapan kamu peduli pada Tao?” Sehun menghela napas kasar. Jadi gadisnya tidak percaya. Sedingin apapun Sehun pada Tao, ia tidak mungkin membenci Tao. Siapa lagi yang akan membantu Tao selain dirinya? Saudara sebangsanya.

“Aku serius, my princess,” ucap Sehun. Nampaknya Sehun memang serius dengan pernyataannya.

“Maaf, aku bercanda.” Cheonsa tersenyum lebar. Dia kembali duduk di sebelah Sehun. Pria itu masih terlihat lemah dengan perban yang membalut melingkari tubuhnya. Awal kedatangannya kemari, Cheonsa tidak percaya dengan ucapan Sehun yang bilang dia mengalami kecelakaan motor. Sehun berusaha meyakini Cheonsa untuk tidak mengkhawatirkan dirinya.

Kenapa separah ini? Apa yang dia lakukan setelah mengantar Cheonsa pulang? Pertanyaan itu yang sejak tadi menggentayangi pikiran Cheonsa. Sayangnya tidak berlanjut lewat mulutnya.

“Dia masuk sekolah hari ini dengan luka di lengan kanannya. Aku heran, kalian terluka di waktu bersamaan. Apa yang kalian lakukan semalam?” Sehun menatap Cheonsa datar. Ia tidak berniat untuk menjawab pertanyaan Cheonsa.

“Tidak ada. Kecelakaanku tidak ada sangkut pautnya dengan Tao. Kamu tenang saja, my princess.

****

Lagi-lagi Lyn terlambat. Sudah tiga kali, ia harus mengejar waktu untuk sampai ke sekolah. Terlebih Tao tidak menjemputnya akhir-akhir ini. Mungkin pria itu ada urusan. Lyn berjalan cepat dengan membawa buku-buku perpustakaan yang hari ini harus ia kembalikan. Saat masuk ke kelas, ia bahkan lupa bahwa jam pertama adalah Bahasa Inggris. Guru yang paling ingin dia hindari belakangan ini. Sang guru melihat muridnya masuk tanpa memberi salam.

“Kamu terlambat? Sudah jam berapa ini, Lyn?” Gadis itu membungkuk hormat meminta maaf pada Kris agar tidak memarahinya.

“Maaf aku terlambat,” ucap Lyn tanpa mau memandang Kris. Pria tinggi itu tengah menatapnya tajam.

“Sudah, kamu langsung duduk di tempatmu.” Lyn kembali membungkuk dan berjalan ke tempatnya, diikuti tatapan heran dari teman-temannya. Siapa yang tidak heran melihat Kris tidak memarahi Lyn sama sekali saat ia terlambat. Padahal dengan siswa lain, Kris terkenal tegas. Tapi untuk yang satu ini, sungguh menimbulkan tanda tanya besar.

****

“Bagaimana bisa kamu mendapatkan nilai jelek? Padahal aku dengar nilai Bahasa Inggrismu selalu bagus. Tapi setelah aku mengajar disini, kau selalu memperoleh nilai jelek. Apa yang kamu pikirnya, nona Lyn?” Lyn menunduk mendengar omongan Kris. Sebagai guru baru wajar saja ia memarahinya. Nilai D tak pantas ia dapatkan sebagai juara satu di kelas. Teman-temannya pun ikut menanyakan kenapa Lyn bisa mendapatkan nilai jelek.

“Maafkan aku, Kris. Aku janji tidak akan mendapatkan nilai D lagi.” Kris mendecakkan lidah, bosan mendengar janji gadis di hadapannya. Rasa kesalnya semakin meningkat saat melihat gambar abstrak kecil tersemat manis di leher Lyn. Ingatannya kembali muncul ketika mengikuti gadis itu berjalan sendiri di taman. Niat ingin menghabisi gadis itu buyar tak sesuai rencana, tahu bahwa ada seseorang melindungi Lyn. Kris harus menyusun rencana baru lagi untuk menjauhkan Lyn dari pria yang hingga kini belum ia ketahui siapa jati dirinya.

“Kamu harus ke rumahku nanti. Aku akan mengajarkanmu pelajaran Bahasa Inggris dengan mudah. Sepintar apapun kau tanpa berlatih setiap harinya itu tidak akan membuahkan hasil. Kutunggu di tempat parkir. Kita akan pulang bersama.” Lyn menatap Kris tidak percaya. Pria itu hanya tersenyum. Lyn tidak habis pikir, tiba-tiba ia harus menuruti Kris untuk ke rumahnya. Mengingat dia ingin menjauhi pria itu. Nyatanya, Lyn tidak bisa berkutik jika berhubungan dengan sekolahnya. Apa kata ibu dan ayah jika tahu kalau anaknya tidak mendapatkan nilai bagus sampai mendengar sikapnya yang tidak sopan pada guru?

“Ke rumah? Tapi kan bisa belajar di sekolah. Kenapa harus ke rumah?” Kris menggelengkan kepala mendengar penolakan Lyn. Dia tidak mau targetnya lepas begitu saja. Kris harus mendapatkan kekuatannya dengan mengajak Lyn masuk ke dalam perangkapnya.

“Kenapa? Kamu tanya kenapa? Karena aku ingin belajar santai. Aku tidak suka belajar formal di luar jam pelajaran. Apalagi di sekolah. Lebih baik kamu menurutiku, jika tidak kamu akan mendapatkan nilai buruk.” Ucapan Kris penuh penekanan sebelum akhirnya ia pergi dari ruang guru, meninggalkan Lyn seorang diri. Gadis itu menghela napas beberapa kali. Tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia butuh pertolongan.

‘Tao, kamu dimana? Aku membutuhkanmu.’

 

****

Di tempat lain, saat seluruh siswa beristirahat dengan santainya. Hanya ada seseorang yang berdiam diri mengabaikan temannya yang tengah bercerita.

Ya! Tao, kamu mendengarku? Tao!” Cheonsa menepuk-nepuk bahu Tao agak keras. Sejak awal masuk, Tao tampak tidak bersemangat. Hingga masuk jam pelajaran pun matanya tidak fokus dengan pelajaran yang diterangkan guru-guru. Beberapa kali Tao ditegur karena melamun di jam sekolah. Beruntung guru-guru masih memaafkan Tao. Cheonsa jadi kasihan padanya. Pasti Tao memikirkan Lyn. Sosok Lyn sebagai jelmaan seorang dewi bulan—Selene—yang dikhianati oleh penyihir jahat—Warlock.

“Ya, ada apa?”

“Kau ada masalah?” Tao menggeleng. Cheonsa tahu sahabatnya tengah berbohong. Karena ia tahu tampak dari raut wajah Tao yang tidak dapat ditutupi.

 

‘Tao, kamu dimana? Aku membutuhkanmu.

 

Sehun mendengar pikiran Lyn yang menyebut-nyebut nama Tao. Tao harus tahu hal ini.

‘Kau memikirkannya, Tao. Pergilah temui Lyn. Dia membutuhkanmu.

 

“Aku mau ke toilet sebentar, ya.” Tao bangkit dari duduknya sambil mengusap lembut puncak kepala Cheonsa. Gadis itu menatap Tao heran, hingga pandangannya bertemu dengan Sehun meminta jawaban darinya. Sayang sekali tatapan Sehun tidak mengindikasikan dia menjawab segala pertanyaan yang memenuhi otak Cheonsa. Dia lagi-lagi dibuat penasaran dengan apa yang terjadi.

****

Seperti perkataan Tao Jodoh memang selalu dipertemukan di waktu yang tepat’. Dan dia mempercayai itu terjadi. Sekarang saja Tao dapat menemukan Lyn di perpustakaan, tengah memandang buku yang sebenarnya tidak dibaca. Tatapannya kosong. Lagi-lagi Tao harus mendapati Lyn dalam keadaan seperti ini.

“Ada apa?” Tao langsung memeluk Lyn dari belakang. Beruntung tidak ada orang lain di sekitar mereka. Lyn tersentak mendapati tangan kokoh melingkar di leher jenjangnya. Bibir Tao bergerak mencium Wolf-print miliknya. Gambar abstrak kecil itu menyala. Tao tersenyum dalam diam. Dia berjanji akan terus menjaga tanda kepemilikan darinya bersama orang yang ia cintai.

“Tao, kamu disini.” Kepala Lyn bergerak untuk melihat sosok Tao begitu dekat dengannya. Tao mengelus kepala Lyn sayang.

“Bukankah kamu memanggilku?” Tao berpindah duduk di sebelah Lyn. Lalu menatap gadisnya lekat-lekat. Senyuman tersungging di bibir ranum Lyn, sejenak membangkitkan dorongan dari tubuh Tao untuk mencium Lyn. Segera saja Tao menggelengkan kepalanya, membuyarkan pikiran mesumnya.

“Tao, aku hari ini harus ke rumah Kris.” Ucapan Lyn membuat Tao berhenti bernapas. Ia tidak salah dengar, kan? Lyn akan ke rumah Warlock itu. Apa yang akan direncanakan makhluk jahat itu? Tidakkah Kris membiarkan Lyn hidup bahagia dengannya? Tao memejamkan mata, berharap dia tidak salah dengar untuk kali ini.

“Tao aku serius. Aku takut dengannya.” Kelopak mata Tao kembali terbuka masih tidak percaya dengan ucapan Lyn.

“Jangan pergi kesana. Dia akan membahayakanmu.” Sekarang giliran Lyn menutup matanya. Ia salah mengabarkan berita ini pada Tao. Pria itu tentu tidak akan mengizinkannya.

“Aku tahu. Tapi ini berhubungan dengan nilai Bahasa Inggrisku, Tao. Dia memintaku belajar private dengannya di rumah. Aku sudah menolak tapi dia tetap memintaku untuk menurutinya.” Tao mengusap-usap pipi tirus Lyn. Dia sangat menyayangi gadisnya. Tao tidak ingin ada yang mencelakai Lyn siapapun dan apapun itu.

“Kumohon jangan pergi kesana,” pinta Tao.

“Tidak, Tao. Aku harus kesana. Aku tidak akan kesana jika tidak demi—”

“Kubilang jangan kesana. Kamu tidak mendengar ucapanku!” pekik Tao. Ia tidak tahan lagi, kenapa Kris selalu punya cara untuk mengelabui Lyn? Dia memang Warlock yang pandai mengatur siasat jahatnya.

Lyn membulatkan matanya tak percaya melihat sepasang mata Tao berubah menjadi topaz—cokelat dengan aksen emas yang mengkilat. Itu terlihat menyeramkan.

“Aku tidak mengizinkanmu pergi dengannya. Aku tidak mau kamu celaka. Kumohon dengarkan aku sekali ini saja. Kuharap kamu mengerti.” Tao menundukkan kepalanya. Lalu ia berdiri, beranjak pergi meninggalkan Lyn dengan kemarahannya. Ia tak marah pada Lyn, melainkan pada dirinya. Ia butuh sendiri. Sedangkan gadis itu menangis—lagi.

****

“Ada apa memanggilku?” Suara itu muncul begitu saja disaat Tao berbaring tenang di antara angin menerpa tubuhnya. Tao beranjak dan duduk melihat Sehun berjalan ke arahnya lalu duduk bersebelahan dengannya.

“Aku meninggalkan Lyn. Aku membentaknya,” ucap Tao penuh penyesalan. Ia merasa Lyn kaget dan kecewa karena sikapnya. Disaat gadis itu membutuhkannya, tapi Tao meninggalkan Lyn begitu saja tanpa alasan yang jelas.

“Karena ke rumah Kris? Kau tidak mencegahnya?” Sehun berdiri dan berhadapan dengan Tao. Pria itu tampak memegang pergelangan tangannya.

“Aku sudah mencegahnya. Tapi sepertinya ia akan tetap pergi ke rumah Kris. Aku tidak tahu harus berbuat apa untuk melindungi—“

Bugh!

Satu pukulan telak mendarat di sudut bibir Tao, menimbulkan luka memar dan darah mengalir di sudut bibirnya. Tao menatap Sehun. ‘Apa yang kau lakukan?’ batin Tao geram. Dia berdiri dan maju selangkah. Hingga tubuh mereka beradu. Tatapan mengerikan tak terhindarkan. Sehun berani membalas tatapan Tao. Menurutnya, Tao pantas mendapatkan itu. Pria bodoh mana yang pasrah menerima gadisnya terjebak dalam situasi yang membahayakan keadaannya? Benar-benar bodoh.

“Kau pengecut, Tao. Bodoh! Kenapa kau hanya diam? Kenapa kau tidak mengikuti Lyn? Bagaimana kalau dia serius mengikuti perkataan Warlock itu. Kau tidak menyesal, hah?” Tao terdiam, dia mundur beberapa langkah menabrak bangku taman. Sampai ia menghempaskan tubuhnya di atas bangku kayu tersebut.

“Jawab aku, Tao. Kenapa kau tidak mengejarnya? Ikuti dia, Tao!” Bentak Sehun cukup membuat jiwa Tao terhempas ke dalam jurang penyesalan.

“Ya, aku memang pria bodoh. Aku belum bisa melindungi Lyn sepenuhnya. Aku menyesal.” Sehun memutar bola matanya mendengar ucapan Tao yang menurutnya terlalu dramatis.

“Kalau begitu kejar dia. Jangan sampai aku memukulmu untuk kedua kalinya, karena kebodohanmu,” ucap Sehun menepuk nepuk lengan Tao. Tao pun akhirnya berdiri dan niatnya sudah bulat untuk mengikuti Lyn dan melindungi gadisnya jika ada sesuatu yang membahayakan jiwa Lyn.

“Baiklah, aku akan mengikutinya.” Tao berlari cepat meninggalkan Sehun yang mengeluarkan smirk andalannya. Ia berhasil membuat Tao bangkit. Dan Sehun senang membantu saudara sebangsanya.

****

Sedaritadi Lyn mondar-mandir tak karuan. Dia tengah berdiri di ruang guru—tentu saja menunggu Kris keluar. Guru baru itu memaksanya tetap mengikuti perintahnya. Ancaman tentu mudah, Kris akan bilang ke guru-guru kalau dirinya sudah bukan seorang anak pintar di kelasnya. Lyn menghela napas berat, tubuhnya menjadi lelah seiring jam sekolah berakhir. Ada apa dengan dirinya?

“Maaf aku membuatmu menunggu.” Suara berat dari seseorang yang telah membuatnya menunggu telah tiba. Kini berdiri tepat di depan Lyn. Wajah Lyn terangkat melihat mata elang Kris sangat dekat. Jarak mereka hanya setengah meter.

“Tidak apa-apa.” Jawaban singkat yang mengindikasikan Lyn tidak mau berlama-lama berdekatan dengan Kris. Dia langsung menghindar, memutus kontak mata dengan pria itu.

“Ayo, kita ke rumahku. Aku sudah menyiapkan beberapa bahan untuk dipelajari olehmu.” Kris berjalan lebih dulu dengan senyuman penuh arti tak lepas dari bibirnya. Lyn mengikuti Kris tanpa berkutik sedikitpun.

Di tempat lain, gadis berambut blonde itu melihat dari kejauhan sosok Lyn dan Kris—guru baru di sekolah—yang baru sebulan mengajar disini. Cheonsa sudah melihat gerak-gerik gadis pujaan Tao mondar-mandir tak jelas di depan ruang guru. Ternyata ia menunggu Kris keluar. Dan sekarang Lyn berjalan beriringan dengan pria itu. Sedikit rasa iri di hati Cheonsa. Tapi mengingat ia sudah memiliki Sehun—lebih tepatnya dimiliki oleh Sehun. Tentu saja, Cheonsa tahu diri untuk tidak terhanyut ke dalam pesona Kris. Menyadari bahwa pria itu ada maksud terselubung dari kedatangannya ke sekolah ini.

“Mau kemana mereka?” Cheonsa mengikuti diam-diam dari belakang. Sesampainya di parkiran, Cheonsa melihat Kris membukakan pintu mobil untuk Lyn. Senyuman lebar tersungging manis di bibir Kris. Menambah ketampanan pria blasteran Chinese-Canadian tersebut. Lalu Kris beralih menuju bangku kemudi, hingga mobil berwarna merah itu melaju meninggalkan sekolah.

Cheonsa keluar dari gerbang sekolah. Ide mata-matanya muncul melihat kepergian Lyn dan Kris. Apa yang akan mereka berdua lakukan? Tangan Cheonsa memberhentikan taksi. Ia berniat untuk mengikuti arah mobil Kris pergi.

“Pak, ikuti mobil merah itu.”

****

“Kris, bukankah kita akan ke rumahmu? Ini bukan jalan ke arah rumah kita,” ucap Lyn polos. Begitu bodohnya gadis itu dikelabui seorang Warlock. Kris terdiam, pandangannya tetap fokus pada jalan di depannya.

“Kris, kita akan kemana? Turunkan aku disini.” Lyn memegang bahu Kris untuk memberhentikan laju mobilnya. Tapi bukan Kris namanya jika ia menuruti perkataan mangsa buruannya. Justru dengan cara ini dia bisa membawa Lyn pergi jauh-jauh.

Sudah lama ia menanti kehadiran Selene untuk ia buru dan mengambil cahaya bulan dalam jiwanya. Tentu tak mudah mencari buruan yang sangat lama Kris inginkan. Dan sekarang waktunya ia menculik Lyn untuk dikorbankan sebagai sumber kekuatannya. Sepasang mata Kris menatap Lyn. Warna bola matanya berubah menjadi dark emerald. Lyn memundurkan tubuhnya, dia kaget dengan reaksi Kris. Raut wajah pria itu sungguh berubah, bukan seperti Kris yang dikenalnya sebagai guru baru di sekolah.

“Aku tidak akan membiarkanmu kabur. Aku harus mendapatkan kekuatanku darimu. Dari sinar bulan yang berada dalam jiwamu. Kau tenang saja, sayang. Aku akan mengenangmu sebagai gadis yang telah bersedia mengorbankan dirinya untukku.” Lyn mencium ketidakberesan disini. Dia teringat kisah Tao tentang terbunuhnya Selene di tangan Warlock. Tangan Lyn mencoba membuka kunci pintu mobil. Ia harus kabur, walaupun tubuhnya akan terlempar jauh ke bahu jalan. Sayangnya, pintu itu tidak berhasil dibuka. Sekeras apapun Lyn mendorongnya.

“Percuma, sayang. Kamu tidak akan bisa kabur dariku.” Ucapan Kris semakin membuatnya ketakutan. Bahkan di sudut matanya sudah muncul titik air mata sebentar lagi akan keluar. Lyn memejamkan matanya, berharap Tao segera datang menolongnya.

****

Tao terbangun dari tidurnya di kamarnya yang sepi. Di rumah tidak ada siapapun terkecuali dirinya sebagai penghuni rumah. Memimpikan Lyn berteriak minta tolong padanya, bahkan melihat gadisnya berusaha menjangkau tangannya yang tidak dapat membantunya keluar dari lubang kegelapan. Tao mengelap bulir keringat di dahinya. Ia butuh air.

 

‘Tao, tolong aku. Selamatkan aku. Kris membawaku pergi jauh.’

“Lyn!” Pekik Tao membaca pikiran Lyn yang memanggil-manggil namanya. Tao bergegas mengambil kunci motornya. Ia merasa jika Lyn sedang membutuhkannya.

‘Tunggu! Aku ikut denganmu’

Ternyata Sehun sudah membaca pikirannya. Dia berniat ikut menolong Lyn dari cengkraman Warlock. Pertarungan baru akan dimulai.

‘Aku akan menolongmu, Lyn.

****

Mobil Kris berhenti di depan rumah tua nan megah. Hanya ada keheningan menyapa mereka berdua. Lyn terdiam di dalam mobil. Kris melihatnya, menatap lekat-lekat tubuh Lyn. Kemudian Kris keluar dan memutar menuju pintu depan mobil. Kris mencengkram pergelangan tangan Lyn, hingga membuat gadis itu memekik kesakitan. Tenaga Kris jauh lebih besar darinya. Ia sudah sangat siap mempersiapkan Lyn sebagai korbannya. Dewi Selene sangat mudah untuk dibunuh. Pantas saja hidupnya hanya untuk kematian yang akan menanti Lyn sebentar lagi.

“Ikut aku! Kita akan bersantai di dalam, sayang.” Lyn menggeleng keras. Ia bertahan untuk tidak mengikuti perkataan Kris. Bagaimanapun Lyn tidak ingin mati sia-sia.

“Tidak mau. Aku tidak mau ikut denganmu, pria jahat!” Kris tertawa mendengar sebutan baru dari mulut Lyn. Berani juga gadis ini? Siapa sangka dewi Selene seseorang yang pemberani, namun sayang nasibnya tidak semujur semangat dalam jiwanya yang membara.

“Jangan harap, sayang. Aku senang kau menyebutku pria jahat. Ayo, ikut aku!” Kris menarik tubuh Lyn untuk keluar dari mobil. Lyn tetap bertahan, meskipun pergelangan tangan kanannya sudah memerah.

“Tidak mau! Aku tidak mau, Kris!” Kris berhenti menarik tangan Lyn. Lantas menarik bahu Lyn ke dalam dekapannya. Bibir Kris bersentuhan tepat di atas bibir Lyn. Pria itu mencium Lyn kasar. Membuat Lyn susah bernapas, meronta-ronta di dalam dekapan Kris yang memeluk lehernya. Tetap saja tenaganya kalah besar dengan Kris—yang seorang Warlock. Gambar abstrak kecil di leher Lyn bersinar terang, perlahan Kris menyentuhkan jari-jarinya pada Wolf-print Lyn yang bersinar ungu terang.

“Przesno viderest sen.”

Menunggu beberapa detik berlalu, tidak ada pergerakan dari Lyn. Gadis itu tak sadarkan diri.

“Maafkan aku, sayang. Aku terpaksa melakukan itu pada bibir manismu.” Ibu jari Kris menyentuh bibir Lyn lembut. Lantas ia menggendong tubuh Lyn dengan menahan leher dan lutut Lyn bertumpu pada kedua tangannya, membawa gadis itu ke dalam tempat singgahnya. Meninggalkan mobilnya, serta seseorang yang sedaritadi melihat tingkah Kris. Cheonsa melihat sangat jelas, ketika Kris mencium bibir Lyn. Beraninya pria itu mencium kekasih sahabat tercintanya.

“Pria kurang ajar.”

Cheonsa keluar dari persembunyiannya. Kaki-kakinya melangkah pelan tanpa menimbulkan suara jejak kakinya. Cheonsa mendekati bangunan besar dan tua. Berpikir jika rumah ini sudah berdiri ratusan tahun yang lalu. Tapi Cheonsa tidak pernah tahu kalau di perbukitan belakang sekolahnya ada bangunan tua ini. Cheonsa menghampiri jendela tak jauh dari pintu utama. Ia mengintip diam-diam.

Beruntung Cheonsa bisa melihat apa yang dilakukan Kris. Pria itu membawa dan menempatkan tubuh Lyn di atas kursi kecil. Kris berjalan mencari sesuatu yang dicarinya—yang ternyata sebuah tali tambang. Ia mengikat tangan dan kaki Lyn, tidak hanya itu Kris melingkari tali tersebut di sekeliling tubuh Lyn.

Selesai mengikatnya, Kris berjongkok di sebelah Lyn. Memandang wajah cantik korbannya, beberapa detik kemudian Kris mencium bibir Lyn—lagi. Cheonsa terkaget, ia tidak percaya apa yang dilakukan Kris. Cheonsa sudah mengirim pesan pada Sehun untuk membawa Tao kemari. Sahabatnya harus melihat apa yang dilakukan guru baru itu pada Lyn.

“Pria kurang ajar,” umpatnya bergerak mundur sedikit menjauh dari jendela. Tak sadar jika langkahnya menabrak sebuah pot kecil terjatuh hingga menimbulkan suara berisik. Cheonsa berjongkok dan wajahnya seketika panik. Ia mengembalikan posisi pot bunga itu seperti semula. Lalu Cheonsa berdiri untuk mengawasi Kris dari tempatnya berdiri. Sepasang matanya kembali membulat sempurna, kini sosok Kris tidak ada di dekat Lyn. Hanya ada tubuh Lyn tergeletak lemah di kursi kayu antik.

“Kemana dia?” Kepala Cheonsa melirik ke kiri dan kanan. Tidak ada siapapun. Lalu dimana Kris? Tiba-tiba tubuhnya merinding, Bulu kuduknya meremang seiring angin berhembus kencang. Cheonsa membalikkan tubuhnya dan seketika memundurkan langkah, setelah melihat sosok tubuh tinggi berdiri sangat dekat dengannya.

“Ternyata ada mata-mata disini.”

TBC

@ferrinamd’s Note: Mulai ada konflik di cerita ini, loh. hehe. Pertarungan baru akan dimulai. Bagaimana kelanjutannya? Tetap tunggu part selanjutnya. See you~

@diantrf’s Note: Chapter ini rame ya banyak yang berantem. Galau juga ada, yang kepo juga ada. Staytune terus, annyeong^^

65 pemikiran pada “Wolf’s Eternal Love (Chapter 6)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s