All To Well

All To Well

Genre       : Romance, AU

Cast        : Song Hyeri [OC]

Kim Jongin

Kevin Li a.k.a Wu Yi Fan a.k.a Kris

Shin Hani

Im Yoona

Etc (find it yourself ^^)

Length      : Songfic – Oneshot

Author      : autumnleaf_94

Rating         : General

Disclaimer    : This story created based on Taylor Swift Performance @Grammy Awards 2014. Such a touching performance. You can see the video here : http://www.youtube.com/watch?v=7BidCMrrJXA

This is my first songfic by the way, and kesimpulannya, authir ngga bakat banget bikin songfic ~,~ Jadi sebagai permintaan maaf, author ijinin yang mau perbaiki songfic ini. Tapi jangan lupa credit dengan sebutin nama pena author dan kasih link songfic yang kamu post somewhere , di kolom komentar di post ini. Biar author bisa ngeliat versi lain songfic ini ^^

Dilarang plagiasi dengan re-post tanpa kredit, ok? ^^

Enjoy ! 😀

 

 

All Too Well

 

 

Prolog

 

“Yoboseyo. Nuguseyo?”

 

“Yoboseyo. Hyeri-ah”

 

“Jonginnie?”

 

“Nde. Help me. Aku baru dirampok.”

 

“Jinja?! Kau di mana sekarang?”

 

“Masih dekat kantorku, di halte. Tapi kantorku sudah tutup. Aku tidak bisa ke sana”

 

“Nde aku segera ke sana?” Aku segera bangkit tanpa berpikir panjang

 

“Hyeri-ah”

 

“Nde?”

 

“Tolong bawakan aku mantel, atau syal. Di sini dingin sekali.”

 

Kejam sekali perampok itu. Bahkan tidak meninggalkan pakaian hangat untuknya.

 

***

 

Itu dia, dia di sana. Menggigil sambil terus menggosokkan telapak tangannya, berharap mendapat kehangatan dari panas yang terjadi akibat gaya gesek kedua telapak tengannya. Kentara sekali ia sangat kedinginan. Dengan panik aku segera menepikan mobilku di depan halte. Lalu turun dan menyampirkan syal biruku padanya.

 

“Tapi bukankah ini syal kesayanganmu? Yang diberikan oleh sunbae cinta pertamamu?”

 

“Aish! Pakai saja!”

 

“Gomawo Hyeri-ah. Maaf aku menelponmu. Mereka juga mengambil ponselku. Dan nomor yang aku hafal hanya nomormu.”

 

“Gwenchana” Aku mengusap tangannya dan meniupkan uap dari mulutku ke tangannya agar ia hangat. Ia yang kerampokan. Kenapa rasanya aku yang panik?

 

***

 

Gomawo Hyeri-ah. Mungkin kau satu-satunya yang mau memberikan barang penuh kenangan milikmu. Menandakan bahwa aku penting untukmu. Terima kasih.

 

***

 

Prolog End

 

***

 

“Selanjutnya, mari saksikan penampilan dari teman kita satu ini. Adakah yang ingat dia? Teman Busan kita!”

 

Sialan, Shin Chae Rin, MC reuni ini. Aku tahu walaupun sudah bertahun-tahun hidup di Seoul logat Busanku memang masih belum hilang. Tapi tidak seharusnya dia menjelaskan se“terang “itu -,-

 

“SONG HYERIIII!!!” penonton berteriak kompak

 

Oke aku menyerah

 

***

 

Aku menarik nafas dalam. Di depanku sudah tersaji sebuah Crystal Grand Piano. Bahannya yang transparant membuat aku bisa melihat setiap instrumen di dalamnya. Perlahan hatiku kembali ragu, apakah aku bisa menyanyikannya dengan baik? Apakah tuts-tuts itu nantinya akan bisa menyampaikanya sejelas instrumen yang ditampakkan oleh piano itu?

 

Aku mencoba meyakinkan diri dengan melihat penonton di depan panggung. Ya, dia di sana, berdiri tepat hanya tiga meter dari panggung dengan memegang segelas white wine di tangannya. Begitu mata kami bertemu, aku langsung mengalihkan pandanganku darinya. Aku masih tidak ingin menatap kristal kembarnya itu.

Tapi pertemuan pandangan kami barusan membawa efek tersendiri padaku. Kemarahanku kembali bangkit. Dengan mantap aku mengangkat tanganku dan menekan salah satu tutsnya, untuk menarik perhatian penonton yang sejak tadi memang sudah diam memperhatikan setiap gerakanku.

 

“Kalian pasti tahu lagu ini. Aku tidak tahu kalian menyukainya atau tidak. Tapi aku menyukainya. Jadi, dengarkan saja.” Aku memasang wajah jahil. Penonton tertawa riuh. Aku ikut tertawa. Tapi entah dengan tawa ini, kemarahanku semakin bergemuruh di dalam dadaku.

 

Ssstttt…. Aku meletakkan telunjukku di depan bibirku memberi tanda bahwa aku akan mulai.

 

Dentingan piano dimulai…

 

I walked through the door with you, the air was cold,

But something ’bout it felt like home somehow.

And I left my scarf there at your sister’s house,

And you still got it in your drawer even now.

 

***

 

Flashback

 

“Eonnie”

 

“Eoh?”

 

“Apa kau yakin, kau tidak menyukkai oppaku?”

 

Aish, anak ini!

 

“Hentikan. Hani ah” aku mengambil belanjaan kami tadi dan meletakkannya di dalam kulkas sesuai tempatnya masing-masing

 

“Tapi, lihatlah! Bahkan barang belanjaan di apartemen ini saja kau yang mengaturnya. Tidak mengertikah eonnie, eonnie cocok sekali menjadi nyonya Kim Hyeri.”

 

Panas. Tidak, bukan hatiku yang panas, tapi temperatur terasa panas. Baru aku sadari ternyata aku belum membuka syal putih di leherku. Akhirnya aku membuka dan meletakkannya begitu saja di atas meja. Hani yang merasa diacuhkan justru semakin memperpanjang kalimatnya.

 

“Eonnie, masihkan eonnie belum mengerti? Aku tidak pernah melihat oppa sebahagia saat oppa bersama eonnie. Dan kita sama-sama yeoja, eonnie. Eonnie kira aku tidak bisa melihat bagaimana eonnie memandang oppa? Aku tahu eonnie menyukai oppa. Kenapa eonnie gengsi sekali untuk mengaku?!”

 

“Hani-ah” aku tidak tahan dengan semua kecerewetannya

 

“Eoh?” Hani menawab penuh perhatian padaku

 

“Apa kau sudah yakin untuk hidup di apartemen ini sendiri?”

 

“Yak! Eonnie, jangan mengalihkan pembicaraan!”

 

Tiba-tiba terdengar bunyi tombol password ditekan. Kami terdiam hingga pintu terbuka. Kim Jongin. Orang yang sejak tadi dibahas oleh Hani, telah selesai bercakap-cakap dengan temannya tadi di bawah. Kami baru saja pulang dari berbelanja perlengkapan untuk apartemen baru Hani. Namun Jongin bertemu teman lamanya tadi saat di parkiran, sehingga aku dan Hani naik duluan kesini.

 

Belum juga kami bertiga membuka obrolan, tiba-tiba ponselku bunyi. Ternyata dari Seo Joo Hyun, sahabat lamaku yang baru sampai Seoul dari Busan. Aku secara mendadak diminta menjadi tour guidenya untuk berkeliling Seoul. Tentu saja aku tidak bisa menolaknya mengingat ia adalah sahabatku dan juga sekarang hari Minggu, sekolah tempatku mengajar sedang libur.

 

“Jongin-ah, Seohyun sedang di Seoul, aku akan menjadi tour guidenya hari ini. Bisa kau antarkan aku pulang? Agar aku bisa naik mobilku sendiri untuk jalan-jalan bersamanya”

 

Sure, atau kau mau aku antar berkeliling bersama Seohyun sekalian??”

 

“Kau temani saja makhluk bawel ini” Aku mengambil tasku di sofa “Percayalah, seorang namja tidak akan suka keliling bersama dua yeoja sahabat lama yang baru bertemu. Kau akan benar-benar jadi sopir. Tidak dipedulikan. Hahaha” Aku membuka pintu dan keluar diikuti oleh Jongin.

 

“Oke, lah, terserah kau” Jongin tergelak sepintas sambil menutup pintu. Belum juga satu langkah kami berjalan, terdengar teriakan

 

“Ya! Pergi saja kalian! Tidak usah pamit dengan pemilik apartemen! Anggap saja aku tidak ada!”

 

“PHUAHAHAHHA!!!”

 

Kami tergelak keras dan sambil tertawa kami lari dari kemarahan empunya apartemen baru.

 

***

 

Oh, your sweet disposition and my wide-eyed gaze.

We’re singing in the car, getting lost upstate.

Autumn leaves falling down like pieces into place,

And I can picture it after all these days.

 

Suaraku mulai bergetar. Aku masih dapat mengingat dengan sangat jelas kenangan itu. Tapi, sekarang aku tidak boleh mengeluarkan air mata.

 

***

 

THIS AIN’T A SONG FOR THE BROKEN HEARTED! WEEWW! WEEEEW!!

 

Suara gitar kami tiru dengan bibir sedemikian rupa. Keadaan kami semakin parah ketika sampai pada refrain

 

IT’S MAI LAAAAAAAAAAYYYYYYYYYFFFFFFF

IT’S NOW OR NEVERRR

I AIN’T GONNA LIVE FORREVERRR

I JUST WANNA LIVE WHAIL I’M ALAAAYYYYYYFFFFFF

 

Tanganku bahkan meniru gerakan seseorang yang sedang bermain gitar. Namun kenyataannya, tidak sedetikpun gerakanku mirip dengan Richie Sambora, sang Gitaris Bon Jovi

 

IT’S MAI LAAAAAAAAAAYYYYYYYYYFFFFFFF

MAI HEART IS LIKE ANOPEN HAIWEYYY

LAIK FRANKIE SAID I DIDIT MAIWAYYYYYYYYYYYYY

 

Jongin semakin memperparah keadaan

 

Tiba-tiba sebuah daun maple mendarat di kaca depan mobilku.

 

I JAST WANNA LIIIIIIFE HEEEY DAUN MAPLE!!!

 

Perpaduan warna merah, coklat dan oranye pada daun itu indah sekali. Persis seperti gambar yang selama ini aku buat. Hanya lebih indah. Aku segera menepikan mobilku secara perlahan agar daun itu tidak jatuh. Setelah sampai di tepi aku keluar dan mengambil daun itu untuk aku simpan. Jongin yang sudah tahu benar dengan obsesiku akan dedaunan saat musim gugur, tidak mengatakan apa-apa.

 

Perjalanan kami ke apartemen Hani berlanjut. Rupanya Jongin masih menyimpan rasa penasarannya.

 

“Kenapa kau suka sekali dengan dedaunan di musim gugur? Bukannya daun justru gugur dan rontok di musim gugur. Kau tahu kan? Mu.sim.gu.gur. Musim gugur.”

 

“Aku justru ingin seperti dedaunan itu. Orang melihatnya hanya sebagai daun yang gugur. Mereka mengacuhkannya, bahkan tidak menganggapnya. Tapi tidak ada musim gugur tanpa dedaunan yang gugur bukan?”

 

“Jadi kau… ingin menjadi orang yang walaupun tidak dilihat,, tapi sebenarnya orang tidak bisa hidup tanpamu? Seperti itu?”

 

“Begitu kira-kira analoginya. Orang sangat mengagumi keindahan musim gugur bukan. Dan bukan musim gugur tanpa dedaunan yang gugur”

 

“Wow, dalam sekali artinya. Mencontek dari mana?”

 

“Yak!”

 

Suasana sunyi sejenak…

 

“Hyeri-ah… sepertinya aku jatuh cinta”

 

Kepadaku? Aah, jangan! Maksudku, iya, semoga iya. Aish! Jangan! Aku tidak ingin merusak persahabatan ini. Tapi aku menyukainya.

 

“Nde? Nu..gu?”

 

“Kau ingat? Teman masa SMA kita, Im Yoona”

 

Im Yoona. Im Yoona yang cantik. Im Yoona yang populer. Tentu saja aku ingat. Sepertinya seluruh teman namja ku di masa SMA menyukainya. Termasuk Jongin.

 

“Kemarin dia mengatakan bahwa ia menyukaiku.”

 

“Lalu?”

 

“Aku mengatakan iya”

 

DEG!

 

***

 

And I know it’s long gone,

And that magic’s not here no more,

And I might be okay,

But I’m not fine at all.

 

Rasa sakitnya masih terasa sampai sekarang. Bahkan masih bisa membuatku ingin mengeluarkan air mata saat aku mengenangnya lagi.

 

‘Cause there we are again on that little town street.

You almost ran the red ’cause you were looking over me.

Wind in my hair, I was there, I remember it all too well.

 

***

 

“Hyeri-ah!” sesorang memanggilku dari belakang. Sesorang yang sudah membuatku menunggu selama tiga jam. Aku berbalik, membuat rumbutku berkibas terkena angin. Dapat kulihat ia nafasnya memburu dan wajahnya memerah. Ia habis berlari.

 

“Mianhe Hyeri-ah. Yoona tadi tidak ingin pulang. Jadi aku masih harus menemaninya”

 

Yoona lagi. Yoona lagi.

 

“Bahkan tidak sempat memberiku kabar?”

 

“Yoona mengambil ponselku. Katanya agar tidak ada yang mengganggu kencan kami. Mianhe Hyeri-ah”

 

“Bahkan tidak sempat memberiku kabar?”

 

“Yoona mengambil ponselku. Katanya agar tidak ada yang mengganggu kencan kami. Mianhe Hyeri-ah”

 

Jadi sekarang aku adalah gangguan?

 

“Gwenchana”

 

“Bagaimana menontonnya? Jadi?”

 

“Filmnya sudah selesai setengah jam yang lalu” Aku menunjukkan dua tiket film tidak terpakai dan membuangnya begitu saja di tanah. Aku terlalu kecewa, bahkan untuk sekedar tidak ingin menyinggungnya.

 

“Kita nonton jam selanjutnya saja bagaimana? Aku yang membayar”

 

“Tidak usah. Aku lelah. Aku ingin pulang” Aku berbalik

 

Grep! Ia memegang tanganku. “Mianhe… Jeongmal mianhe….”

 

Aku hanya melepaskan tangannya dan terus berjalan pulang. Terlalu kecewa untuk mengatakan apapun.

 

***

 

Photo album on the counter, your cheeks were turning red.

You used to be a little kid with glasses in a twin-size bed

And your mother’s telling stories about you on a tee ball team

You tell me ’bout your past, thinking your future was me.

 

Dulu tidak ada yang pernah kau ajak ke rumahmu selain aku. Bertemu eomma mu. Melihat foto-foto masa kecilmu. Dan masuk ke kamarmu untuk melihat kenangan-kenangan yang kau punya sebelum mengenalku.

 

And I know it’s long gone

And there was nothing else I could do

And I forget about you long enough

To forget why I needed to…

 

Tapi itu dulu…

 

***

 

“Yoboseyo”

 

“Hyeri-ah. Nanti aku ke rumahmu ya”

 

“Untuk apa?” Aku sudah meragukan setiap janjinya sejak saat itu

 

“Err…. Tunggu saja aku nanti. Jam delapan” Klik. Ia mematikan sambungan telepon begitu saja. Hal yang biasa tentang seorang Kim Jongin sejak dulu. Namun sekarang, entahlah. Rasanya sekarang sangat menyakitkan

 

***

 

‘Cause there we are again in the middle of the night.

We dance around the kitchen in the refrigerator light

Down the stairs, I was there, I remember it all too well, yeah.

 

***

Dan di sinilah kami sekarang. Berdansa didekat dapur, lebih tepatnya di bawah tangga. Diiringi lagu jazz favorit kami. Dengan mematikan semua lampu dan membuka kulkas lebar-lebar, sehingga hanya cahaya dari lampu kulkas lah yang menyinari kami.

 

Satu jam yang lalu ia datang dengan membawa bunga lily kesukaanku dan sebuah boneka Hello Kitty, yang lagi-lagi favoritku. Ia meminta maaf atas kejadian saat itu. Dan sialnya, sungguh sial. Aku tidak pernah bisa marah begitu lama padanya.

 

“Hyeri-ah” Ia menunduk menatap kornea mataku, yang sejajar dengan dagunya

 

“Nde?”

 

“Mianhe”

 

“Aku sudah memaafkanmu”

 

“Tidak. Ini untuk hal lain”

 

“Hal lain apa?”

 

“Yoona tidak suka ketika aku bersamamu. Ia cemburu.”

 

***

 

Denting piano mulai intens

 

Maybe we got lost in translation! Maybe I asked for too much!

And maybe this thing was a masterpiece ’til you tore it all up.

Running scared, I was there, I remember it all too well!

 

***

 

“Yoona lagi!”

 

“Hyeri-ah. Aku…”

 

“DIAM! DENGARKAN AKU!”

 

Ia terkejut dengan bentakanku… dan diam

 

“Sejak kau menjadi kekasih Yoona tidak ada lagi kita yang dulu! Jongin sahabatku tidak lagi menganggapku penting! Apa kau bahkan tahu bahwa kemarin aku mengajakmu menonton karena aku ingin menghabiskan hari ulang tahunku bersama sahabatku?! Tapi apa kau bahkan ingat bahwa kemarin adalah hari ulang tahunku?! Dan ingatkah kau, sejak kau menjadi kekasih Yoona kita hanya bertemu tidak sampai lima kali. Tidak sampai lima kali dalam tiga bulan! Dan Yoona tidak suka bila kita bertemu?! Hah?! Apa itu adalah permintaan yang terlalu banyak untuk sahabatku sendiri?!”

 

Ia terpaku mendengar semua yang aku katakan. Air mata keluar tanpa bisa aku cegah. Walaupun aku sudah mengatakannya, tapi kenapa rasanya sesak… sesak sekali di dadaku…

 

Ia berjalan maju hendak menghampiriku. Aku mundur menghindarinya. Masih dengan hidung memerah dan air mata mengalir di kedua pipiku.

 

“Dengarkan aku untuk terakhir kalinya.”

 

Ia masih diam.

 

Ia menggeleng.

 

Aku tahu ia tidak mau ini menjadi yang terakhir. Tapi aku yang menginginkannya. Aku sudah lelah.

 

“Aku hanya ingin kau tahu” volume suaraku menurun “Aku menyukaimu sejak SMA. Tapi aku hanya diam karena aku tidak ingin merusak persahabatan kita. Persahabatan kita terlalu istimewa. Aku tidak pernah membiarkan orang lain masuk terlalu dalam ke hidupku… Kecuali kau! Tapi kau menghancurkan ini dengan begitu mudahnya!”

***

 

Hey! You call me up again just to break me like a promise!

 

Aku menyanyikannya dengan mata dan emosi yang mengarah lurus ke matanya

 

So casually cruel in the name of being honest.

 

Aku yakin ia paham. Ia bahkan tidak menghindari tatapanku dan menerima kemarahan yang aku salurkan.

 

I’m a crumpled up piece of paper lying here

‘Cause I remember it all, all, all… too well.

 

Air mataku mengalir. Aku harus mengendalikan suaraku yang bergetar. Lagu ini terlalu tepat menyampaikan segala emosi, kemarahan dan kekecewaan yang terus menghantuiku selama bertahun-tahun.

 

Ke-intens-an denting piano mulai menurun seiring emosi yang berusaha aku turunkan. Menggambarkan kelelahanku atas kekecewaan yang terjadi.

 

Time won’t fly, it’s like I’m paralyzed by it

I’d like to be my old self again, but I’m still trying to find it

After plaid shirt days and nights when you made me your own

Now you mail back my things and I walk home alone

 

Denting piano mulai intens lagi. Kali ini tanpa air mata,dengan mantap aku menatap lurus dan tajam pada matanya. Marah.

 

But you keep my old scarf from that very first week

‘Cause it reminds you of innocence and it smells like me

You can’t get rid of it ’cause you remember it all too well, yeah

 

Ya! Kau membuatku marah sekaligus bingung! Kalau aku tidak berarti untukmu kenapa kau masih menyimpan syal biru yang pernah aku berikan padamu?!!

 

Apa kau masih tidak bisa melupakan ketulusanku saat itu, yang panik akibat khawatir kau akan kedinginan?! Jujurlah! Apa kau sudah melupakan ketulusanku saat itu?!

 

***

 

“Kenapa kau berdua bersamanya hah? Bukankah kau yeojachinguku?!”

 

Ia hanya terdiam

 

“Apa semua ini tidak berarti untukmu?! Aku berhenti menghubungi orang yang telah menjadi sahabatku selama bertahun-tahun, bahkan demi kau! Dan kau seenaknya berselingkuh?!” namjanya mengguncang bahu yeojanya dengan marah

 

“Maafkan aku… Aku mencintainya…” Ia menunduk

 

Dapat kulihat wajah sang namja yang tidak tega melihat yeojanya begitu merasa bersalah. Ia memilih diam dan beranjak meninggalkan tempat itu. Ia berjalan melewati yeojanya ke arah yang salah.

 

Arah yang salah.

 

Karena sejak tadi aku berada sepuluh meter dari punggung yeojanya. Melihat semua pertengkaran itu.

 

Langkahnya sempat terhenti melihatku. Dapat kulihat warna mukanya yang begitu sedih dan hancur. Seharusnya aku berlari padanya dan memeluknya saat itu juga.

 

Namun aku telah kehilangan kepercayaan diriku sebagai seorang sahabat. Sebagai seorang yang bisa menghiburnya. Sebagai seorang yang penting.

 

***

 

Kepercayaan diri yang belum muncul sampai bertahun-tahun kemudian

 

‘Cause there we are again, when I loved you so

Back before you lost the one real thing you’ve ever known

It was rare, I was there, I remember it all too well

 

Wind in my hair, you were there, you remember it all

Down the stairs, you were there, you remember it all

It was rare, I was there, I remember it all too well

 

***

 

Aku berlari panik menghindari pandangan orang-orang. Airmataku tidak bisa berhenti sejak turun dari panggung. Seperti melepaskan sebuha beban berat. Dan sekarang rasanya kosong di hatiku. Namun rasa kosong ini pun terasa begitu tudak nyaman. Membuatku ingin menangis keras.

 

Dimana dia? Dimana dia?

 

Aku terus mencarinya di kerumunan tamu. Panik membawaku untuk berjalan cepat dan dengan bingung mencari keberadaannya. Kebingungan terus melandaku hingga sebuah tangan memegang bahuku. Aku refleks berbalik. Dan… Ia di sana… Tangisku meledak.

 

I’ve told him! I’ve finally told him!

 

Yeah, you’ve done a great job back there” Ia merengkuhku dalam pelukannya. Rasa tenang yang ditimbulkan membuat air mataku keluar semakin deras, dadaku semakin sesak. Dan tangisku menjadi semakin kencang.

 

Thanks. Thanks for all

 

Kevin Li. Tuhan menakdirkan kami bertemu ketika aku melanjutkan sekolahku ke Kanada. Saat itu aku sama sekali tidak menyangka, seorang namja tidak dikenal yang tiba-tiba meminjamkan syalnya padaku saat aku kedinginan lupa membawa syal di musim salju yang sedang pada puncaknya di Kanada, adalah namja yang akan rela pergi ke Korea untuk menemaniku demi agar aku bisa menyanyikan lagu tadi untuk namja yang telah membuatku kehilangan kepercayaan terhadap semua namja di dunia. Agar aku tidak terus menyimpan kemarahanku.

 

Namja yang akan menyembuhkan lukaku.

 

Namja yang berhasil membantuku mendapatkan kepercayaan diriku lagi.

 

Namja yang berhasil membuatku merasa penting.

 

Namja yang akan aku jawab lamarannya malam ini dengan kata “yes

 

***

 

Done ^^

Ditunggu komentarnya yaa, kritik juga nggap apa2, biar author bisa menulis lebih baik ^^

Iklan

18 pemikiran pada “All To Well

  1. Good FF authornim^^
    cuma mau bilang ini ff keren sumpah, cuman agak ngegantung gitu endingnya menurut aku,
    tp gapapa ini ff keren gilaa~ *teriaksamasehun

Tinggalkan Balasan ke Dhea saenggie hyukkie oppa Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s