Darling Smoker (Chapter 3)

Darling Smoker

A Storyline Present By:

@diantrf

Darling Smoker

(Hell, Boy! I Really Love You)

Cast:

Xiao Luhan, Zhang Yixing/Lay (Exo) | Park Cheonsa, Han Hyunna (OC)

Genre: Romance, School-life | Rating: PG-17 | Length: Chaptered

DC:

Terinspirasi dari sebuah komik dengan judul yang sama (Darling Smoker—Mizuto Aqua). Banyak adegan yang sama antara cerita asli dan ff ini, namun yang membedakan adalah adanya pengembangan cerita dan gaya bahasa khas penulis sendiri.

 

0o0

 

Ini hari minggu dan entah mengapa aku merasa sangat bosan. Biasanya Jongin akan mengajakku bermain di rumahnya atau hanya sekedar jalan-jalan dengan menaiki motornya. Namun sepertinya ia sudah melupakanku semenjak ia berpacaran dengan senior yang super cantik itu—Kim Ryeona. Terkadang cinta memang bisa menyingkirkan posisi sahabat untuk sementara waktu. Lihat saja, aku tak akan mau menemaninya lagi jika ia nanti putus dengan kekasihnya. Seenaknya saja melupakan sahabat seperti itu.

 

Dan Hyunna sedang pergi ke rumah kakeknya. Senangnya bisa pergi dengan keluarga di hari libur. Orang tuaku sedang dinas ke luar kota dan aku hanya sendiri di rumah. Menyebalkan. Bisa-bisa aku lumutan jika hanya berdiam diri di rumah seperti ini. Ya Tuhan, andai saja ada yang ingin berbaik hati dan mengajakku jalan-jalan saat ini, pastilah orang itu sangat terberkati hidupnya. Huh, seandainya saja aku mempunyai nomor ponsel Luhan atau apapun untuk menghubunginya..

 

Eh? Apa yang aku pikirkan? Aku kan tak terlalu dekat dengan Luhan. Kenapa aku sekarang jadi memikirkannya? Ah, atau jangan-jangan aku merindukannya? Ya ampun, Cheonsa. Sekarang kan hanya hari libur sekolah biasa, mengapa bisa semudah itu merindukannya? Untuk apa pula merindukan namja menyebalkan seperti Luhan? Belum tentu juga ia merindukanku. Sepertinya otakku semakin tak waras karena pusing memikirkan tingkah Luhan yang aneh-aneh.

 

 

Ting..Tong..

 

 

Siapa pula yang datang itu? Jika yang datang adalah salesman penyedot debu aku bersumpah akan menyiramnya dengan seember air dan membanting pintu di hadapannya. Bukankah sudah berkali-kali ibuku menolak untuk membeli, namun ia selalu saja datang dan kembali menawarkannya lagi. Dasar menyebalkan. Aku pun bangkit dari ranjang dan berjalan menuju pintu depan. Alih-alih membawa ember berisi air, aku hanya membawa sebotol air mineral. Aku masih mempunyai belas kasih untuk tidak membuat orang lain basah kuyup—kecuali Luhan, ia memang pantas menerimanya kemarin.

 

Aku membuka pintu dan kini sukses terdiam, mataku membulat dengan sangat tidak elit. Tepat di hadapanku—kyaaa kenapa sunbae satu ini tampan sekali?! Rambutnya yang biasanya jatuh dengan normal kini dibentuk sedemikian rupa dan membuatnya semakin terlihat tampan dan keren. Hyun, pantas saja kau menyukai dia!

 

 

“Hai, boleh aku masuk?”

 

 

Jika ini adalah cerita komik mungkin sekarang sudah bermunculan bunga-bunga tak jelas di sekitarnya. Yixing tersenyum padaku. Sangat manis. Hyunna mungkin menyesal pergi ke rumah kakeknya saat ini jika aku menceritakan tentang kehadiran Yixing dengan penampilan mempesonanya ini. Aku hanya bisa tersenyum bodoh lalu mengangguk, memberi jalan padanya untuk masuk. Aku mempersilakannya duduk di sofa lalu beranjak ke dapur untuk mengambil minum.

 

 

Ah, terimakasih. Jadi merepotkan.” Ia kembali tersenyum lalu meminum sedikit jus yang aku berikan.

 

Sunbae, tahu alamatku dari mana?”

 

 

Ia menatapku salah tingkah lalu tertawa sendiri. Ya ampun, entah itu Luhan atau Yixing, mereka memiliki senyum manis yang mampu membuat para gadis berteriak histeris. Ia terlihat memikirkan jawaban atas pertanyaanku. Aku kan hanya penasaran, dari mana ia tahu rumahku? Apakah dari Hyunna? Ya, kemungkinan terbesar adalah dari Hyunna. Siapa lagi memangnya? Tak mungkin kan jika ia tahu alamat rumahku dari Luhan? Tak mungkin.

 

 

“Aku menanyakannya pada Hyunna. Oh iya, apa kamu ada acara hari ini?”

 

 

Tepat. Aku mulai curiga jangan-jangan mereka berdua telah berpacaran? Ah, biarkan saja. Tapi awas saja jika memang benar mereka telah pacaran dan Hyunna sama sekali tak memberi-tahukanku. Tak ada bedanya dengan Jongin, aku akan menyiram mereka dengan jus mangga nanti. Eh, tapi untuk apa Yixing menanyakan apakah aku ada acara hari ini atau tidak? Apakah ini jawaban Tuhan atas doaku? Apakah Yixing akan mengajakku jalan-jalan? Tunggu, tapi kenapa harus Yixing?

 

 

“Tak ada, sunbae. Memangnya kenap—“

 

“Bagus, ayo ikut denganku. Ini ada hubungannya dengan Luhan.”

 

 

Sepertinya Yixing memiliki kemampuan untuk membaca pikiranku. Buktinya segala macam pertanyaan di otakku dapat ia jawab dengan singkat, padat dan sangat jelas. Apa mungkin Luhan yang menyuruh Yixing untuk menjemputku? Memangnya ia tak bisa datang kesini sendiri? Huh, Luhan ini laki-laki atau bukan? Aku jadi curiga dengan wajah cantiknya itu. Atau Luhan itu sebenarnya transgender? Oh, pikiranku mulai melantur kemana-mana sekarang. Yixing sepertinya menunggu jawabanku.

 

 

Oh, aku tidak disuruh Luhan. Justru aku ingin meminta bantuanmu.”

 

 

Baru aku akan menanyakan hal lain lagi, namunYixing sudah lebih dulu menarik tanganku dan memaksaku untuk berganti pakaian. Luhan dan Yixing sepertinya memiliki sifat yang hampir sama. Dapat membuat para gadis terpesona, dan selalu memerintah orang seenaknya. Aku bisa gila jika dikelilingi makhluk-makhluk tak waras seperti mereka. Lebih baik aku menurut dan sekarang aku sudah masuk ke dalam kamar dan memilih baju yang tepat.

 

Karena aku tak tahu mau dibawa kemana—dan aku takut salah memilih pakaian yang tak sesuai dengan suasana tempat itu—lebih baik aku cari aman dengan memilih pakaian yang sejenis dengan Yixing. Ia hanya memakai celana panjang biasa dengan kaus hitam polos dan jaket. Sangat santai—menurutku. Jadilah aku hanya memakai peach blouse dengan brownies coat dan mengikat rambutku menjadi dua kepangan di kanan dan kiri—persis sekali seperti anak taman kanak-kanak. Wah, aku terkejut melihat diriku di cermin. Cheonsa, kau sangat manis hari ini.

 

 

Sunbae, ayo jalan.”

 

 

Dengan semangat aku menarik tangannya. Ia yang semula masih duduk di sofa sepertinya tersentak kaget atas kelakuanku. Bukannya berdiri, kini ia malah menatapku dengan pandangan aneh. Aku tahu aku cantik tapi tak usah memandangku seperti itu juga. Aku semakin menarik tangannya. Dan seakan ia baru kembali dari lamunannya, ia langsung mengikutiku yang kini berjalan keluar rumah. Setelah mengunci pintu, semuanya selesai. Aku siap jalan-jalan! Tunggu, Yixing kesini naik apa?

 

 

“Kenapa tiba-tiba diam? Bukankah kamu tadi sangat semangat menarikku?”

 

Sunbae..kesini naik apa?”

 

 

Kini aku bingung. Tak ada satu kendaraan pun yang terparkir manis di depan rumahku. Hampa. Apa ia naik taksi? Tapi setahuku ia mempunyai motor, bahkan waktu itu mengantar Hyunna pulang dengan mobil. Atau jangan-jangan ia kehilangan kendaraannya? Oke, ini terlalu dramatis. Aku masih menatapnya dalam diam—menunggu jawabannya. Tak mungkin kan jika ia kesini jalan kaki?

 

 

“Jalan kaki.”

 

 

Sepertinya langit berubah menjadi gelap dan baru saja aku mendengar petir menyambar. Oh, atau itu hanya backsound kekagetanku saja? Yixing bercanda, kan? Tak mungkin kan ia jalan kaki sungguhan kesini? Ah, ini tak lucu!

 

 

Hahaha, benar kata Luhan. Wajahmu jadi jelek saat kaget. Mobilku ada di depan kompleks sana. Tapi aku tak bohong, kan? Aku ke rumahmu jalan kaki dari depan kompleks.”

 

 

Sunbae satu ini benar-benar tak lucu. Langsung saja aku memukulnya beberapa kali—dan tentu saja ia hanya tertawa melihatku yang kesal. Lalu kami berjalan menuju mobilnya. Sepanjang jalan ini aku masih terus berpikir kemana ia akan membawaku. Memangnya sekarang Luhan sedang berada dimana? Mengapa terasa mencurigakan seperti ini? Baiklah, aku lebih memilih diam dan menunggu agar Yixing menjelaskan padaku dengan sendirinya.

 

Kami sampai di depan portal kompleks. Terlihat security yang biasanya menjaga kompleks. Ah, pasti ia mengira bahwa Yixing adalah kekasihku. Pak satpam, suatu hari nanti kau akan melihat jika Luhan-lah yang akan selalu mengantar dan menjemputku dari sekolah. Kau pasti akan sangat mengenalnya nanti. Tenang saja pak satpam, aku janji. Oke, abaikan saja monolog absurd-ku barusan. Yixing pun segera mengendarai mobilnya. Aku masih terdiam, masih memikirkan segala kemungkinan. Mungkinkah ke pantai? Atau ke taman hiburan? Ah, atau ke rumah Luhan? Hm, sepertinya tidak mungkin.

 

 

“Aku mengajakmu untuk membantuku. Luhan sekarang sedang bosan.” Ia membuka suara setelah kami terdiam cukup lama. Luhan? Bosan?

 

 

“Aku merokok karena aku bosan.”

 

 

Ah, aku mengerti. Jadi Yixing menyuruhku menemani Luhan agar ia tidak merokok lagi? Baiklah, kalau alasannya itu dengan senang hati akan aku lakukan. Tapi aku jadi penasaran tempat seperti apa yang Luhan kunjungi saat ia merasa bosan. Apakah Luhan itu tipe pria melankolis—menatap hamparan laut sambil terus menghisap rokoknya—seperti pujangga kesepian, atau tipe apa? Aku semakin penasaran. Aku hanya mengangguk menyanggupi permintaan Yixing. Ini akan jadi hal yang menyenangkan!

 

0o0

 

Aku hanya bisa membulatkan mata begitu mengetahui kemana Yixing membawaku. Lupakan bayangan tentang Luhan yang sedang menatap hamparan laut atau duduk dengan mempesona sendirian di salah satu bangku taman. Yixing membawaku ke sebuah bar yang demi apapun sangat berisik hingga membuat gendang telingaku ingin pecah. Ayolah, jangan sampai pecah—karena pabrik di Korea belum ada yang memproduksi cadangan gendang telinga. Yixing menarik tanganku untuk segera masuk, namun aku masih membatu. Aku takut, kenapa Luhan berada di tempat seperti ini, sih?!

 

 

“Kau takut? Tenang saja, aku akan menjagamu sampai kau bertemu Luhan. Ayo.”

 

 

Dan aku pun menurutinya lalu pasrah saja saat tanganku kembali ditarik oleh Yixing. Benar kan, disini sangat berisik. Aku juga harus menutup mataku karena tak mau melihat pemandangan-pemandangan menjijikkan—wanita bar dengan pakaian minim, pria yang sedang mabuk bahkan pasangan yang sedang.. Aaaaa Luhan apa yang kau lakukan disini?! Namun karena aku tak mau tersandung dan jatuh dengan tidak elit lebih baik aku memaksakan membuka mataku sambil terus merapalkan doa keselamatan. Tuhan, lindungilah aku!

 

 

“Itu Luhan. Kamu diam dulu disini, aku ingin bicara sebentar dengannya.”

 

 

Sebenarnya jarak kami dan Luhan hanya selisih beberapa langkah saja. Namun sepertinya karena ruangan ini minim cahaya jadilah ia tak menyadari kehadiran kami. Aku menurut dan kini terdiam di posisiku. Aku sudah merencanakan rencana bagus dengan Yixing. Haha, lihat saja kau Luhan! Perang kita masih berlanjut sampai sekarang.

 

Yixing sudah bertemu Luhan dan kini mereka duduk bersebelahan. Mereka saling menyapa. Suara mereka samar-samar juga masih dapat aku dengar. Dapat kulihat tak ada apapun di sekeliling Luhan. Tidak dengan gelas bekas alkohol ataupun wanita penggoda lainnya. Dalam hati aku bersyukur, Luhan tidak berbuat terlalu jauh. Mereka tertawa lalu Luhan terlihat mengeluarkan kotak rokoknya. Aku sudah tak dapat mengganti rokok Luhan lagi karena ia menjadi semakin hati-hati semenjak aku menukar rokoknya menjadi jelly.

 

 

“Merokok lagi? Bisa-bisa kau disiram air lagi oleh Cheonsa.”

 

Hah, jangan bercanda. Bagaimana bisa gadis itu berada disini—“

 

 

Ctak!

 

 

Luhan menoleh kaget ke arahku. Aku melambaikan tanganku dan tersenyum padanya. Rasakan itu! Aku menggunting rokok Luhan tepat saat benda itu baru saja disulutnya. Ia masih menatapku dengan ekspresi kagetnya. Aku menjulurkan lidahku dan tersenyum jahil padanya. Jangan remehkan ancaman seorang Park Cheonsa. Aku tak akan berhenti sampai Luhan benar-benar berhenti merokok.

 

 

Ya! Zhang Yixing, kenapa kau membawa gadis menyebalkan ini kesini?!”

 

Hahaha, untuk membuatmu tidak bosan lagi. Sudah ya, aku harus menjemput Hyun di rumah kakeknya. Cheonsa, buat Luhan berhenti merokok! Annyeong.”

 

 

Aku mengangguk dan tertawa kecil lalu melambaikan tangan mengantar kepergiannya. Luhan yang tadinya terus merapalkan sumpah-serapahnya pada Yixing kini telah sepenuhnya mengalihkan pandangannya padaku. Ia menatapku tajam, dan lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum bodoh ditatap seperti itu. Setelahnya ia hanya bisa menghela satu napas berat lalu merubah tatapannya padaku. Dan kini ia malah tersenyum ke arahku. Aku sudah biasa. Luhan memang memiliki banyak kepribadian.

 

Eh, tapi tunggu! Tadi Yixing bilang apa? Menjemput Hyun di rumah kakeknya? Hyunna? Han Hyunna sahabatku? Ini semakin mencurigakan. Awas saja jika Hyunna ternyata tak menceritakan apapun padaku!

 

 

Ya, Yixing sunbae! Apa maksudnya menjemput Hyun di rumah kakeknya?!” Tapi percuma saja aku berteriak, Yixing telah hilang dari pandanganku.

 

Huh, lagi-lagi kau. Baiklah, sudah terlanjur. Tunggu disini, aku akan mengambilkanmu sesuatu.”

 

 

Luhan dengan tiba-tiba menarik tanganku untuk duduk di tempatnya duduk tadi. Senyumnya berubah menjadi senyum manis lagi dan ia mengacak poniku sebelum akhirnya pergi meninggalkanku entah kemana. Rasanya seperti kami sedang kencan berdua, hihi. Kini aku sudah seperti anak kecil yang mengayun-ayunkan kakiku ke depan dan belakang sambil bersenandung kecil sembari menunggu kedatangan Luhan. Aaaa aku sangat excited sekarang. Mungkin nanti malam aku akan menelepon Hyunna dan membuat telinganya berdengung karena teriakan bahagiaku.

 

Aku terlalu asyik dengan kegiatan mengkhayalku sampai-sampai aku tak menyadari kini ada dua orang pria dengan tampang super mesum yang duduk di kedua sisiku. Sontak wajahku langsung berubah pucat dan aku sangat panik. Mau apa kedua pria ini? Oh tidak, aku masih terlalu muda untuk muncul di televisi dengan tag-line ‘Seorang gadis cantik ditemukan tewas di sebuah kamar hotel dan diduga adalah korban pemerkosaan’. Aaaaa eomma aku tak mau seperti itu! Bahkan salah satu dari mereka kini dengan seenaknya memainkan kepangan rambutku. Bau alkohol sangat pekat tercium olehku. Luhan, kau dimana?!

 

 

“Hai manis, sendirian? Bagaimana kalau—“

 

 

Dug!

 

 

Mataku membulat melihat apa yang terjadi. Itu..bagaimana pisau itu bisa tiba-tiba menancap di meja?! Ya Tuhan, apa bar ini dihuni oleh banyak hantu? Bagaimana bisa pisau itu melayang sendiri dan dengan tiba-tiba menancap di sela-sela jari salah satu pria mesum ini?

 

 

Eum, maaf tadi tanganku licin jadi pisaunya terbang begitu saja.”

 

 

Tiba-tiba Luhan datang dengan senyum manisnya, seakan-akan ia tak pernah berbuat dosa dan hal barusan adalah murni ketidak-sengajaan. Jadi Luhan yang melempar pisau itu? Ia melakukannya untuk melindungiku? Sungguh? Huaaa aku sangat senang—ya walaupun aku masih sedikit kaget dengan adegan ‘pisau melayang’ tadi. Kedua pria yang sepertinya sedang mabuk itu menatap Luhan dengan ngeri. Aku hanya bisa terkikik kecil melihat mereka. Dan belum sempat aku menghentikan tawaku, tiba-tiba Luhan menarik pinggangku dan membawaku ke dalam pelukannya. Mau apa lagi dia?

 

 

“Dan satu lagi. Gadis manis ini milikku, dari ujung rambut sampai ujung kakinya. Tolong jangan ganggu dia, atau—“

 

Ah-itu-maaf, kami permisi!”

 

 

Mereka langsung lari tunggang-langgang dan menabrak beberapa orang di lantai dansa. Aku semakin tak bisa menahan tawaku melihatnya—jadilah aku tertawa di pelukan Luhan. Eh? Aku masih berada di pelukan Luhan? Rasanya sangat hangat dan nyaman. Harum kayu manis dari tubuhnya membuatku hanya ingin memejamkan mata dan tidur di ranjang empuk milikku. Tapi aku langsung menyadari sesuatu. Semua orang memandang ke arah kami. Semuanya.

 

 

“Cheonsa, ayo pergi dari sini. Semua orang memperhatikan kita.”

 

Ya! Sunbae pabo! Siapa suruh membuat keributan—kyaa!”

 

 

Dan lagi, lalu lagi, dan lagi-lagi Luhan selalu saja berbuat seenaknya padaku. Tadi tanganku ditarik Yixing dan sekarang dia yang menarik tanganku, membawaku keluar dari bar ini dan tanpa minta izin padaku langsung menyuruhku masuk ke dalam mobilnya. Dalam hati aku terus mengutuk Luhan supaya menjadi katak saja—atau tikus bila perlu. Tak lama, Luhan masuk ke balik kemudi dan langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan menggila. Aku curiga bahwa Luhan ini memiliki cita-cita menjadi pembalap namun tak bisa terwujud. Miris.

 

Sepanjang perjalanan pun aku hanya diam sambil memasang wajah malas. Aku sama sekali tak mau memperhatikan Luhan saat ini. Kecepatan mobil ini masih terus menggila—dan kenapa pula jalanan yang kami lewati ini sangat sepi? Ini seperti jalan menuju perbatasan kota. Luhan mau membawaku kemana? Atau jangan-jangan.. Aaaaa Luhan kalau kau macam-macam aku tak segan-segan menyirammu dengan air panas satu ember! Aku takut dengan kecepatan mobil ini. Bisa-bisa aku jantungan saat ini juga. Jadilah aku menutup mataku, sambil berdoa semoga tak terjadi hal yang buruk.

 

Aku masih menyandarkan tubuhku pada jok mobil sambil memejamkan mata. Mungkin sekarang aku terlihat seperti anak kecil yang takut naik roller-coaster. Tapi perlahan aku merasakan bahwa kecepatan mobil ini tidak segila tadi. Apakah Luhan menyadari ketakutanku dan mengurangi kecepatan mobilnya? Huh, semoga saja. Aku tak mau mati muda dengan keadaan tidak elit seperti ini—‘Seorang gadis cantik ditemukan tewas di dalam sebuah mobil mewah. Saksi mata yang bernama Luhan mengaku jika gadis itu meninggal karena jantungnya yang tiba-tiba berhenti berdetak akibat shock dengan kecepatan laju mobil yang di luar batas’—oke aku memang terlalu banyak mengkhayalkan hal yang tidak perlu. Abaikan.

 

Mobilnya berhenti. Apakah sudah sampai ke tempat tujuan? Dengan perlahan aku membuka kedua mataku. Dan—ya ampun, bisakah namja satu ini tak mengagetkanku sehari saja?!—wajah Luhan kini cukup dekat denganku. Ia memandangku dengan tatapan yang aku pun bingung apa maksudnya. Seperti tatapan polos seorang anak kecil. Dia sangat manis, kenapa ekspresinya bisa berubah menjadi manis seperti itu hanya dengan sekali kedip?

 

 

Su-sunbae, kita dimana—“

 

“Kau ketakutan, ya?”

 

 

Kedua alisnya naik—ekspresi bertanya yang sangat lucu. Ia lalu tersenyum kecil dan mengacak poniku, setelahnya langsung menyalakan mesin mobil lagi dan melajukan mobilnya ini—kali ini dengan kecepatan sedang. Matanya terfokus sepenuhnya pada jalanan, sementara aku masih sibuk mengatur detak jantungku. Luhan, sampai sekarang pun aku masih bingung dengan kepribadiannya yang sebenarnya. Jenius, tekun, manis, liar. Luhan, satu nama itu berhasil membuatku tak bisa berpikir jernih. Aku membenci tingkahnya yang menyebalkan, menyukai perilaku manisnya. Aku mencintainya. Bagaimanapun keadaannya, aku akan tetap mencintainya.

 

 

“Rambutmu bagus. Urailah bila bersamaku. Sayang jika dilihat oleh orang lain.”

 

 

Deg!

 

 

“Baiklah, aku akan melepaskan kepangan rambutku ini.”

 

 

Karena ia adalah Luhan, pria dengan sejuta sifat yang sangat aku cintai.

 

0o0

 

Mataku terasa sangat berat untuk terbuka. Ah, aku dimana? Ranjang ini terasa empuk dan nyaman. Apa aku sedang berada di kamarku? Tunggu—apa, kamar? Bukankah tadi aku berada di dalam mobil Luhan? Jadi tadi itu hanya mimpi? Semua kejadian itu hanya mimpi?! Aaaa eomma mengapa hanya mimpi?

 

 

Eh, aku dimana?”

 

 

Aku membuka mataku dan menyadari lingkungan sekitar. Ini bukan kamarku. Ini dimana? Apakah di rumah Luhan? Jadi semua kejadian itu bukan mimpi, kan? Huft, syukurlah. Aku bisa gila jika semuanya ternyata hanya mimpi. Tapi tunggu! Aku, kenapa aku bisa berada di kamar seperti ini? Mana Luhan? Atau jangan-jangan aku dan dia telah.. Oh Tuhan, Luhan bukan namja seperti itu. Bukan! Tapi kenapa aku bisa ada disini? Apa mungkin tadi aku tertidur saat di mobil dan Luhan menggendongku sampai kesini? Hm, mungkin seperti itu.

 

Setelah terduduk sempurna di ranjang, aku kembali mengedarkan pandanganku ke sekeliling. Kamar ini sangat besar dan bagus. Ini tak seperti rumah. Apa mungkin kamar hotel? Atau villa? Pandanganku terhenti pada secarik kertas yang menempel di bantal. Aku pun mengambilnya dan membacanya perlahan—walaupun mataku masih ingin sekali terpejam.

 

 

‘Tadi kau tertidur jadi aku menggendongmu sampai kamar. Ini villa milikku, orang tuaku yang memberikannya. Jangan takut, aku tak berbuat macam-macam padamu. Jika sudah bangun, kau bisa menemuiku di kolam renang. Keluarlah lewat pintu dapur. Lepas coat-mu, jangan sampai terkena air. Kau bisa pinjam bajuku yang ada di lemari jika perlu.’

-Luhan-

 

 

Oh, jadi ternyata ini villa miliknya. Pantas saja jalan kemari tadi melewati hamparan ladang bunga dan sawah. Luhan di kolam renang? Huh, pasti ia ingin mengerjaiku dan membuat tubuhku basah. Baiklah, karena aku tak ingin pulang dalam keadaan basah, jadilah aku melepas coat-ku dan blouse yang kupakai. Untung aku selalu memakai kaus putih sebagai rangkapan. Aku tak mau meminjam baju Luhan. Baiklah, sekarang aku hanya memakai celana pendek selutut dan kaus putih. Aman jika terkena air.

 

Ternyata villa ini sangat luas. Aku bingung dimana dapurnya. Setelah berkeliling cukup lama, akhirnya aku berhasil menemukan dapur dan melihat sebuah pintu yang langsung menuju ke halaman belakang. Tuhan, pemandagan ini sangat indah. Kolam renang dengan deretan pepohonan di pinggirnya, taman bunga mini, dan halaman belakang ini langsung menghadap ke sebuah pegunungan. Cahaya mentari sore membuat suasana ini terlihat semakin indah. Dan itu dia Luhan, sedang duduk di pinggir kolam sambil memainkan kakinya di air. Huh, dan ia sedang merokok. Awas saja, akan aku kerjai dia!

 

 

Byurr!

 

 

Berhasil! Aku berjalan jinjit dan langsung mendorongnya ke kolam renang. Jika kemarin aku menyiramnya dengan air, sekarang biar saja ia tercebur ke dalam kolam renang. Aku terus tertawa sampai air mataku keluar. Luhan pasti akan memarahiku setelah ini. Biarkan saja, bendera perang masih kukibarkan untuknya. Lima menit, mengapa Luhan belum terlihat juga? Apa jangan-jangan ia ternggelam?

 

 

Su-sunbae..”

 

 

Oke, aku mulai panik. Kolam ini kosong. Apa Luhan sudah naik keluar kolam? Atau jangan-jangan..yang tadi itu hantu? Aku masih terus mencari-cari dimana Luhan. Kutengok lagi kolam renang itu. Nihil, Luhan tak ada disana.

 

 

Grep!

 

 

Aaaaa sunbae!”

 

“Kau harus dapat hukuman karena sudah mengerjaiku.”

 

Mwo?! Apa maksud—“

 

 

Byurr!

 

 

Beginilah Luhan. Sudah seenaknya memelukku dari belakang, dan sekarang ia membuat kami sama-sama masuk ke dalam air. Untung saja aku bisa berenang. Aku menyesuaikan pandanganku, dimana lagi Luhan itu? Kenapa hilang lagi?

 

 

“Mencariku, hm?”

 

 

Demi apapun, Luhan ini mengapa hidupnya sangat horor, sih? Tiba-tiba saja sudah berada di belakangku. Tangannya memeluk pinggangku, dan kepalanya tepat berada di samping kananku. Deru napasnya yang cukup dingin itu berhasil membuat aku bergidik ngeri. Sepertinya jiwa evil dan mesumnya akan keluar. Eomma, selamatkan Cheonsa! Dan bisikkannya satu ini benar-benar membuatku tak bisa berkutik.

 

 

“Kau tahu hukuman apa yang pantas untuk gadis nakal sepertimu?”

 

 

Tamatlah riwayat hidup Park Cheonsa. Luhan membalikkan tubuhku dengan mudah—karena ini di dalam air—menghadapnya. Kukira aku akan dihadiahi oleh tatapan liarnya, namun ternyata aku salah. Luhan menatapku dengan lembut. Ia tersenyum kecil dan langsung menempelkan bibirku dengan miliknya. Ia memperlihatkan eye-smile-nya dan langsung menutup matanya. Aku juga ikut menutup mataku. Rasanya aneh dan menyenangkan. Sensasi dinginnya air—karena sekarang matahari hampir kembali ke peraduannya—dan lembutnya bibir Luhan.

 

Seperti, ada rasa nyaman tersendiri saat berada di dekat Luhan. Ia masih terus memeluk pinggangku, dan tanganku mengalung di lehernya. Tubuh kami hanya diam, mengikuti air yang masih terus berombang-ambing tertiup angin. Apakah ini perwujudan ketulusannya terhadapku? Apakah Luhan juga merasakan hal yang sama denganku? Di bawah langit senja. Ditemani air yang dingin ini. Cinta kami dipersatukan dengan sebuah ciuman manis yang menyenangkan. Hanya kami, dan semoga akan terus seperti ini nantinya. Semoga Luhan memang benar mencintaiku juga.

 

 

TBC

 

 

Angel meleleh ngetiknya huaaa Luhan oh Luhan mengapa dirimu seperti itu? Aduh gimana ini ceritanya? Semoga suka ya. Annyeong^^

Iklan

62 pemikiran pada “Darling Smoker (Chapter 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s