Dauntless One (Chapter 2)

Dauntless One

BtZhtEvCMAE_-Zm

Judul:

Dauntless One (Chapter 2)

Author :

isanyeo

Main Cast

Oh Sehun ; Lim Hansun

Genre:

Romance ; Angst

Rating :

PG13

            Hansun tak mengerti mengapa Sehun berada di kelas Fisika – bersama dengannya. Dia juga tak mengetahui Oh Sehun satu sekolah dengannya. Ini adalah tahun ketiga untuk Hansun namun tak pernah sekalipun Hansun melihat seorang Oh Sehun di sekolah. Namun, Hansun memilih untuk tak memikirkannya lebih lanjut.

“Aku selalu berada di kelas Fisikamu, oh dengan Bahasa Inggris juga,” ujar Sehun.

Hansun hanya mengerutkan kening. Bukan urusanku, batinnya.

“A-aku hanya memberi tahu.” Seolah mengerti arti tatapan Hansun, Sehun mengalihkan pandangannya.

Hansun masih menatap Sehun dengan tatapan anehnya. Lalu seolah kejadian kemarin masuk akal di pikirannya, dimana Sehun mengetahui namanya tanpa ia memberti tahu. Hanya saja mengapa dia tak mengenal Sehun? Memang Hansun tak begitu kenal dengan kebanyakan orang di sekolah apalagi tahun di bawahnya. Namun seperti yang Sehun katakan, dia berada di 2 kelas yang sama dengan Hansun. Apakah dia begitu tak toleran dengan sekelilingnya?

Hansun menempati kembali kursi yang dianggap miliknya. Studio 3 ramai dengan pasangan muda. Beberapa hari semenjak mengetahui Sehun adalah murid sekolahnya, Hansun selalu bertemu dengannya di gedung Bioskop. Hansun mulai tak nyaman dengan bertemunya dia dengan Sehun. Tak hanya di 2 kelas namun juga di kantin sekolah dan setiap hari di Bioskop.

“Sehun,” panggil Hansun.

Sehun yang berada tepat di sebelahnya menoleh dengan senyum mencapai mata. Hansun menatapnya datar sebelum menghela nafas panjang. Tanda dia benar-benar sudah tak tahan.

“Apakah kau mengikutiku? Kau selalu berada dimanapun aku berada,” tanya Hansun.

Sehun menggeleng keras. Sembari menggerakkan tangannya di udara. “T-tidak. Aku tidak mengikutimu.”

“Lalu mengapa kau setiap hari kemari?” tanya Hansun.

“Tidakkah kau mengetahuinya? Aku sebenarnya,” utar Sehun. “Aku sama denganmu. Hampir setiap hari kemari. Hanya saja beberapa hari ini aku memilih untuk duduk di sini.”

Hansun semakin mengerutkan keningnya. Dia tak pernah melihat Sehun sebelum malam dimana Sehun menganggunya, atau mungkin Hansun tak menyadarinya karena dia memang tak pernah memperhatikan orang lain selain film yang dimainkan.

“Begitu?”

Sehun menganggukkan kepalanya mantap. Hansun hanya diam dan melepas tatapannya dari Sehun. Membiarkan Sehun kebingungan mendapati Hansun yang mengakhiri percakapan mereka begitu saja. Lalu mereka terhanyut dalam potongan-potongan kejadian di depan mereka.

“Sampai jumpa besok, Hansun-ssi.” Sehun melambaikan tangannya ke arah Hansun.

Hansun melirik Sehun yang masih berada di Halte. Melambaikan tangannya dan Hansun hanya melihat dengan tapapan biasa dari balik kaca bis 22. Kemudian mengalihkan pandangannya dari Sehun. Bis berjalan dan ketika Hansun menoleh untuk melihat Sehun. Lelaki itu sudah berjalan ke arah tikungan jalan yang selalu dilaluinya setiap malam. Sudah beberapa hari ini Hansun ditemani Sehun berjalan ke Halte, kemudian menawarkan untuk pulang bersama Sehun, tapi Hansun selalu menolak. Lalu seperti kebiasaan, Hansun tak menolak ketika Sehun akan menunggunya mendapatkan bis.Hansun tak mengerti mengapa Sehun bersikap layaknya mereka saling mengenal satu sama lain. Memang benar Hansun mengenal Sehun, namun hanya sebatas nama dan dimana dia sekolah. Tidak lebih. Hansun tak bodoh menganalisis apa yang sedang terjadi. Entah dia terlalu berpikir terlalu jauh, namun Hansun berpikir mungkin lelaki bernama Oh Sehun memiliki perasaan padanya.

Minggu berlalu dan hampir sebulan sejak Hansun mengenal Sehun. Lelaki itu selalu bersamanya hampir setiap waktu kecuali di kelas-kelas dimana mereka tidak bersama. Sehun akan menunggu Hansun di lobi sekolah jika Hansun ada keperluan.

Aku hanya ingin teman untuk menonton.

            Begitu selalu alasannya ketika Hansun bertanya mengapa Sehun menunggunya. Hansun mencoba melupakan dugaannya bahwa Sehun menaruh perasaan yang tidak biasa padanya. Mungkin Sehun sudah mengetahuinya lama. Mengetahui ini sudah hampir setengah dari tahun ketiga mereka dan sebentar lagi mereka akan lulus. Namun Hansun hanya hampir sebulan mengenal Sehun, itupun tak lebih dari sekedar mengenal info dasar.

“Hansun?” panggil Sehun.

Hansun melirik Sehun yang berada di depannya. Hansun mengunyah makanannya sedangkan Sehun tak menyentuh makanannya sama sekali. Sehun masih menatapnya sembari tersenyum. Seseorang bernama Taeyong duduk di sebelah Sehun, mengaku teman Sehun dan meminta sesuatu dari Hansun. Hansun melirik Lyn yang menatap kagum pada Taeyong dan mendengus kecil.

“Aku tidak mau Sehun.” Hansun menggelengkan kepalanya tanda ia benar-benar tidak mau membantu Taeyong.

“Tolonglah?” Sehun menatap Hansun penuh harap. “Temanku satu ini benar-benar menyukai Lyn,” Sehun berbisik pada Hansun.

Hansun tetap menggelengkan kepalanya. Untuk membantu Taeyong mendekati teman dekatnya, Lyn? Hansun takkan pernah mau menyetujui hal itu.

Hansun meletakkan sendok dan garpunya dan membawa nampan makanan bersamanya. Meletakkan di tempat tersedia kemudian meninggalkan kantin dan Hansun tau Sehun mengikutinya. Sehun mempercepat langkahnya mendekat pada Hansun.

“Mengapa tak mau, Hansun?” Sehun menghentikan Hansun dengan berdiri di depannya.

Hansun hanya mendengus kecil dan melewati Sehun. Sehun menarik tangan Hansun untuk menghentikannya. “Hansuuuuun?”

“Aku tau seperti apa Taeyong dan aku tidak akan membiarkan Lyn bersama Taeyong, Sehun.” Hansun menatap tajam ke arah Sehun.

“Tapi kali ini Taeyong bilang dia akan berubah, Hansun. Kau tahu, beberapa minggu ini Taeyong juga tak pernah bersama perempuan lagi, dan kini dia ingin bersama Lyn,” ujar Sehun.

“Dan kau mempercayainya?” tanya Hansun sinis.

“Huh?”

“Kau benar-benar mempercayai bahwa dia akan berubah? Kau sebagai temannya tahu persis bagaimana dia memperlakukan perempuan, Sehun. Kali ini dia bersama dengan satu perempuan beberapa hari kemudian dia akan bersama dengan perempuan yang lain.”

“Itu sudah lama, Hansun. Kali ini dia benar-benar serius,” Sehun memohon.

Hansun menghela nafas panjang dan menggeleng. “Semua lelaki semacam dia akan berkata demikian untuk mendapatkan perempuan, Sehun.”

Hansun melepas tangan Sehun dari tangannya. Sehun masih tak mau berhenti dan menarik jas Hansun. “Ayolah. Kau lihat sendiri nampaknya Lyn juga tertarik pada Taeyong. Jika kau membantu Taeyong, kau juga akan membantu Lyn. Kurasa. Lyn akan senang jika dia bersama Taeyong.”

Hansun menatap Sehun datar. Matanya memancarkan kekosongan. Cukup lama. Sehun hanya menatap balik Hansun dan perlahan melepaskan jas Hansun yang sedari tadi ditariknya.

“Kau tak cukup mengerti akan hal ini Sehun.” Suara Hansun melembut, pancaran mata Hansun berubah menjadi sendu. Dan untuk pertama kalinya Hansun membiarkan dia mengeluarkan emosi semacam itu kepada orang lain, dan Hansun tak mengerti mengapa dia membiarkan itu terjadi. Selama ini Sehun melihat Hansun yang cuek dingin namun dalam batas normal, Hansun tak pendiam juga tak banyak bicara. Hanya saja di mata Sehun, Hansun tak begitu peduli dengan sekitarnya.

“Aku tak akan membantu Taeyong untuk memberikan kebahagian yang singkat kepada Lyn. Setidaknya menurutku, Lyn lebih berhak mendapatkan seseorang yang lebih baik dari Taeyong. Aku tidak bisa menjamin kalau Lyn akan selalu senang bersama Taeyong. Maka dari itu aku tak mau melakukannya. Aku tak akan berani menukarkan pribadi Lyn dengan kebahagian yang singkat dari Taeyong.”

Hansun mengehela nafas panjang sedangkan Sehun hanya diam memperhatikan setiap ucapan Hansun. Karena sadar atau tidak, bagi Sehun itu adalah pertama kalinya Hansun berbicara banyak padanya, biasanya Hansun akan membiarkan Sehun tergantung oleh pertanyaan-pertanyaan tak terjawab atau harapan-harapan pada Hansun untuk memberi kata-kata lebih banyak yang tak tercapai.

“Sehun. Jangan meminta hal itu lagi. Aku tak akan melakukannya.”

Hansun menundukkan kepalanya sejenak lalu pergi dari hadapan Sehun. Langkahnya perlahan dan matanya memandang tak fokus. Jauh di dalam sana Hansun merasakan sesuatu yang terasa nyata memukul-mukul dan menciptakan rasa pilu dan tertekan ke dalam. Desauan dari hidung Hansun sering kali terdengar. Dan memori-memori berputar di kepala Hansun, membuatnya terdiam sejenak dan memejamkan mata.

            Aku tak akan seperti dulu lagi, kau tahu? Bertemu denganmu adalah hal yang paling indah. Maka dari itu aku menyadari bahwa mungkin kau adalah yang terakhir.

            Kau dan aku akan selalu bahagia. Aku tak akan melepasmu.

            Kau tidak akan seperti mereka sebelummu. Aku tak memiliki cinta sebesar ini pada mereka. Hanya padamu.

            Beberapa tahun lagi, ketika aku sudah siap. Aku akan memintamu dari orangtuamu. Lalu kita wujudkan mimpi-mimpi kita bersama.

            Perjalanan kita masih panjang. Kau bisa menunggu? Karena aku selalu menunggu.

            Aku mencintaimu, Hansun. Aku akan selalu begitu.

            Rantaian kata-kata manis dan melelehkan hati terngiang di kepala Hansun. Dan Hansun mengeluarkan geraman kecil melalui mulutnya dan mempercepat langkahnya ke kamar kecil. Membiarkan matanya yang terasa panas membakar dan mungkin dengan satu kedipan mata, air bening akan jatuh melewati pipinya.

Sehun hanya diam di sana melihat Hansun yang tiba-tiba berjalan cepat setelah beberapa detik berhenti. Kalimat yang diucapkan Hansun seolah membuatnya berpikir akan sesuatu. Raut wajah Sehun berubah menjadi serius, wajah polos dan agak kekanakan yang biasanya selalu dia pasang kini hilang.

Aku tak akan berani menukarkan pribadi Lyn dengan kebahagiaan yang singkat dari Taeyong.

Sehun terpaku di tempatnya hingga Taeyong menepuk pundaknya dengan tatapan penuh harapan. Sehun menggeleng kecil ragu dan raut wajah sedih Taeyong yang diterimanya.

“Taeyong-ah?

Taeyong menggumam atas panggilan Sehun.

“Apakah kau benar-benar yakin dengan ucapanmu?”

“Yang mana?”

“Kau tidak akan seperti dulu lagi dan akan serius jika kau diberi kesempatan oleh Lyn?”

Taeyong menganggukkan kepalanya pelan ke arah Sehun.

“Lalu,” Sehun menatap Taeyong ragu, “apakah kau tidak akan meninggalkannya untuk gadis lain yang mungkin lebih baik daripada Lyn?”

Taeyong diam sejenak kemudian tersenyum ragu pada Sehun. Menggelengkan kepalanya dan berkata, “Aku tak tahu, Sehun. Bisa jadi iya atau mungkin tidak. Aku tidak bisa menjaminnya.”

Taeyong tertawa kecil dan merangkul Sehun kemudian menyeretnya masuk ke kelas. Sedangkan Sehun hanya terdiam dan kembali memikirkan ucapan Hansun sebelumnya.

Hansun tak mengindahkan panggilan Sehun berkali-kali. Sedangkan pemilik suara yang terus menyebutkan nama yang sama nampak tak tenang. Sesekali tangannya mencoba untuk menyentuh pundak Hansun, mengguncangnya sedikit dan tetap saja tak ada jawaban dari Hansun.

“Hansun?” ulang Sehun.

Hansun tak bergeming. Masih memandang layar di depannya.

“Aku tidak akan meminta bantuan semacam itu lagi. Kumohon, jangan bersikap seperti ini.” Sehun menarik baju ujung lengan Hansun.

Hansun melirik ke arah Sehun. Sehun hanya tersenyum karena setidaknya Hansun menganggap dia ada.

“Aku bersikap sebagaimana biasanya, Sehun.”

Sehun hanya menganggukkan kepalanya singkat. Menyadari bahwa memang Hansun bersikap sebagaimana biasanya, tak merespon Sehun ketika film sudah diputar. Sehun bersikap berlebihan dan berpikir bahwa sikapnya yang tak seperti biasanya.

“Sehun?” panggil Hansun.

Sehun menoleh ke arah Hansun, menunggu kata-kata selanjutnya yang akan terucap dari bibir Hansun.

“Untuk malam ini. Kau tak perlu mengantarkanku ke halte.”

Sehun ingin menanyakan alasannya namun Hansun sudah berdiri dan keluar dari Studio 2 dan Sehun butuh beberapa detik untuk merapikan dirinya dan mengikuti Hansun keluar.

Film belum usai, namun Hansun sudah pergi. Sehun memandang setiap sudut namun dia tak menemukan keberadaan Hansun dimana-mana. Dan malam itu, Sehun harus pulang sendiri lagi. Seperti dulu.

 

13 pemikiran pada “Dauntless One (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s