Different Man (Chapter 1)

Different Man

different man

 

NB : annyeong! sebelumnya author udah pernah post teasernya + pengenalan tokoh september tahun lalu. astagaa udah hampir setaun ya. mian banget author lama banget lanjutnya. mungkin ada yang belum baca teasernya, author bakal tulis lagi disini.

Dan diitunggu ya komentar kalian, please banget jangan jadi silent reader :’) semakin banyak komentar, author janji bakal lebih cepet update next chapter. hehhe gomawo *bow*

(nb : untuk poster, author udah bikin versi barunya juga loh kkk)

 

 

Title : Different Man

Author : exaucia

Chapter : Part 1

Genre : Romance | Sad-Happy | Family

Length :

Rating : PG-15

 

cast [chapter 1] :

– Wu Yi Fan as Wufan [Kris]

– Oh Sehun as Sehun

– YOU / OC as Ji Ah

– Da eun as eomma Kris

– Jian hao as Appa Kris

– Johee as eomma Ji Ah

 

sedikit review teaser :

 

Kris berjalan masuk kedalam sebuah ruangan, ia tak menemukan siapapun didalam sana.
“Wu Fan..” Kris menoleh saat mendengar suara yang sangat dikenalnya.
“Tao Hua.. Sedang apa kau disini?” Gadis bernama Tao Hua itu perlahan mendekati Kris, hingga..
BUGH!
Kris membulatkan matanya melihat seorang pria berbadan besar yang tiba-tiba muncul dibelakang Tao Hua dan melayangkan kayu yang dipegangnya, menghantam kepala Tao Hua, membuat gadis itu terkapar dengan darah yang mengucur dari kepalanya.
“Tao Hua!”
Keringat membasahi wajah Kris yang terbangun dari tidurnya. Mimpi itu terus membayangi Kris. Padahal Kris sudah berusaha melupakan kejadian itu.

 

**

 

“Kenalkan, dia Kris. Murid pindahan dari Taiwan, tapi tenang saja, ia bisa berbicara bahasa Korea. Kris akan masuk dalam kelas yang sama denganmu, songsaenim harap kau bisa membantunya jika ia menemukan kesulitan” jelas Kangin songsaenim yang hanya dibalas anggukan oleh Ji Ah.

 

“Ya! Kau mengerti bahasa korea kan?” Ji Ah mulai ragu apa benar kata Kangin songsaenim, buktinya saja Kris tidak menjawab pertanyaannya. “Can you speak korean?” Ji ah mengulang pertanyaan nya dalam bahasa inggris.
“Tunjukan saja dimana kelasku dan tutup mulutmu!” Ji ah tersentak. Namja itu bisa berbicara dalam bahasa korea.

 

CHAPTER 1 :

 

“Mwo? Andwae!” tolak Ji Ah sesaat setelah eommanya memaksanya untuk pindah sementara waktu dirumah sahabatnya. Ji Ah mendengus kesal saat ia menyadari, bahkan orangtuanya sudah memasukan semua pakaian dan barang lainnya kedalam koper.

“Ji Ah! Jebal-“ eomma Ji Ah melirik jam tangannya. “Kita tak punya banyak waktu. 2 jam lagi para penagih itu akan datang” ujarnya dengan wajah memohon.

“Terserahlah” Ji Ah terpaksa menuruti eommanya. Appa Ji Ah ketahuan melakukan korupsi diperusahaan tempat nya bekerja, beberapa hari ini keadaan rumah benar-benar tak aman. 2 hari yang lalu, para penagih datang dan memaksa masuk dengan merusak pintu depan. Para penagih kejam itu hanya memberi waktu 2 hari untuk Appa Ji Ah mengembalikan semua dana yang ia pakai. Mana mungkin?! Mengumpulkan uang berjuta-juta bahkan berpuluh juta dalam waktu 2hari adalah hal yang mustahil. Itulah mengapa orangtua Ji Ah akan kabur. Tidak- bukan kabur, tapi lebih tepat nya pergi sementara waktu. Mereka akan mengembalikan uang itu, pasti! Hanya saja mereka membutuhkan waktu.

“Terima kasih, sayang. Maafkan eomma membuatmu seperti ini” umar eomma Ji Ah sambil mengelus kepala Ji Ah. Wajahnya tampak menunjukan penyesalan yang amat sangat.

 

**

 

Ji Ah sibuk mengagumi megahnya rumah teman dari eommanya itu. Bangunan dihadapannya saat ini lebih pantas disebut istana.

“Aigoo! Johee!” seorang wanita paruh baya yang baru saja keluar dari dalam rumah, memeluk hangat eomma Ji Ah. “Ayo masuklah dahulu”

“Mianhae Da Eun, aku tahu seharusnya kita bisa mengobrol banyak, tapi seperti yang aku katakan ditelepon, aku tak punya banyak waktu. Aku harus pergi sekarang” sesal eomma Ji Ah.

Da Eun mengangguk mengerti. Memang sebelumnya Eomma Ji Ah – Johee sudah menjelaskannya. Ia akan menitipkan Ji Ah sementara waktu dirumahnya.

“Maafkan aku merepotkanmu” ujar Johee.

“Tidak. Tidak sama sekali” Da Eun menggeleng dan menunjukan senyum manisnya. “Ah, apa ini anakmu?” pandangan Da Eun mengarah pada Ji Ah. “Dia cantik sepertimu”

“Ya, dia anakku. Terima kasih kau mau menerimanya. Aku tak tahu harus meminta bantuan pada siapa lagi” ujar Johee.

“Tak masalah”

“Mianhae Da Eun, Aku harus pergi sekarang”

“Baiklah, hati-hati“

Johee akhirnya pergi setelah ia berkata bahwa ia akan segera menjemput Ji Ah setelah semua masalah selesai.

 

**

 

“Taruh saja kopermu disitu, biarkan Kris yang membawanya ke atas” ujar Da Eun.

“Terima kasih-” Ji Ah menggantungkan ucapannya, ia bingung harus memanggil wanita dihadapannya kini dengan sebutan apa.

“kau boleh memanggilku eomma, atau mommy” ujar Da Eun seakan dapat membaca pikiran Ji Ah

“Ah-ne”

“Kris! Kemari sebentar” Da Eun berteriak memanggil hingga seorang namja turun dari lantai atas. Ji Ah yang masih sibuk mengagumi isi rumah, tidak menyadari kedatangan namja itu.

“Bisakah kau mengantarkan Ji Ah ke kamar baru nya? Mommy harus menyiapkan makan siang” pinta Da Eun.

“Ya, Mom” sahut namja itu. Terlahir dan besar di Amerika -sebelum akhirnya mereka pindah ke Taiwan- namja bernama Kris itu terbiasa memanggil eommanya dengan sebutan “mommy”.

Ji Ah menoleh saat Da Eun menyentuh pundaknya, seakan menyadarkannya agar ia mengikuti Kris. Namun ketika ia melihat namja bernama “Kris” itu, seketika itu ia terkejut, Ji Ah dengan reflek melangkah mundur dengan mata yang terbelalak.

“Kau-” ucapnya pelan. Ia tak menyangka Kris yang Da Eun maksud adalah Kris yang juga menjadi teman baru dikelasnya.

“Kalian sudah saling kenal?” tanya Da Eun. “Aigo! Mommy baru sadar kalian berada dalam sekolah yang sama. Atau jangan-jangan kalian satu kelas?”

“Ya, kami satu kelas” jawab Kris dengan santai. Ia mengangkat koper milik Ji Ah, dan berjalan menaiki tangga, meninggalkan Ji Ah yang masih dalam keterkejutannya.

“Itu sangat baik. Kalian bisa belajar bersama, pergi kesekolah bersama, bukankah itu menyenangkan?” Ji Ah hanya tersenyum kecil mendengar semua ucapan eomma Kris. Dalam hatinya ia berdoa agar itu tidak pernah terjadi.

 

 

**

 

Kris mengantarkan Ji Ah kekamar barunya, yang berada tepat disebelah kamarnya. Terlihat dari papan nama yang tertempel disetiap pintu kamar. Kris hanya berkata bahwa semua itu adalah pekerjaan eommanya, saat Ji Ah bertanya mengapa harus ada nama disetiap kamar. Bahkan papan nama Ji Ah sudah terpasang didepan kamar barunya.

Ji Ah begitu terpana dengan kamar barunya, perabotannya yang serba pink, sesuai dengan warna favoritnya.

“Apa eomma mu menyiapkan ini khusus untukku?” tanya Ji Ah.

“Molla. Berhentilah bertanya. Aku harus kembali ke kamarku” Setelah mengatakan hal itu, Kris berjalan keluar dari kamar Ji Ah.

“Dasar namja aneh” umpat Ji Ah pelan namun terdengar oleh Kris, membuat namja itu kembali membalikan badan menatap Ji Ah. “Apa kau bilang?” tanyanya dengan nada tegas.

“Ups. Mian jika kau merasa umpatan itu untukmu. Kau sudah boleh kembali ke kamarmu” ujar Ji Ah sebelum ia menutup pintu kamarnya dihadapan Kris.

Ji Ah mulai membongkar kopernya, memindahkan pakaiannya kedalam lemari barunya. Ji Ah menghentikan kegiatannya, ia tersenyum miris melihat bingkai foto yang ia bawa dari rumahnya, foto keluarganya. Selama ini Ji Ah pikir keluarganya baik-baik saja, ia tidak pernah merasa kekurangan, tidak pernah merasa ada masalah dalam keluarganya. Namun dibalik semua itu, semuanya hanyalah kebohongan. Ponsel yang ia miliki, baju tas sepatu ber-merk yang Appa nya belikan untuk Ji Ah, hanyalah hasil dari kecurangan.

Ji Ah hanya berharap orangtuanya akan baik-baik saja, dan juga ia berharap agar ia dapat merasa nyaman dikeluarga barunya.

“Makan malam sudah siap” Ji Ah hampir saja menjatuhkan bingkai foto yang akan diletakannya diatas meja belajar saat Kris tiba-tiba membuka pintu kamarnya kasar, membuatnya kerkejut.

“Tak bisakah kau mengetuk pintu terlebih dahulu?” tegur Ji Ah.

“Tidak” jawab Kris singkat, lalu menutup kembali pintu kamar Ji Ah.

“Aishh! Jinja! Bagaimana bisa aku tinggal bersama dengan namja aneh itu” Ji Ah menendang kopernya, melampiaskan kekesalannya pada Kris.

 

**

 

Kris sibuk mengunyah makan malamnya, disaat Ji Ah malah menatap tajam ke arah Kris seakan akan menerkam namja itu.

“Ji Ah, apakah kau tidak suka masakan eomma?” tanya eomma Kris, membuat Ji Ah tersadar bahwa sejak tadi ia hanya memandangi Kris tanpa menyentuh makan malamnya.

“Ah-tidak, eomma” Ji Ah tampak masih kaku memanggil eomma Kris juga dengan panggilan “eomma”

Ji Ah memasukan sesuap nasi goreng buatan eomma Kris kedalam mulutnya, mengunyahnya, dan setelah itu berkomentar bahwa itu adalah nasi goreng terenak yang pernah ia makan. Membuat Kris dengan sinis berkata “Apa selama ini kau makan batu?”

“Kris!” Eomma Kris memukul lengan Kris cukup keras, dan melototi Kris seakan berkata “hentikan-itu”

“Mulai besok kalian akan berangkat sekolah bersama, pulang sekolah bersama, dan bahkan belajar bersama. Itu akan sangat menyenangkan” ujar eomma Kris dengan gembira. “Ah, andai kau dan Katty bisa akur dan berhenti berkelahi” lanjutnya.

Kini Eomma Kris menggeser tubuhnya, menghadap Ji Ah. “Katty, dia adalah anak kedua, anak perempuan satu-satunya” eomma Kris menjelaskan bahwa Katty harus tinggal diasrama sekolah barunya. Katty akan pulang kerumah setiap akhir pekan, dan eomma Kris berjanji akan mengenalkannya nanti pada Katty.

“Bagaimana kamar barumu? Kau suka?” Eomma Kris mengganti kembali topik pembicaraan.

“Ya, aku sangat menyukainya”

“Eomma dengar kau sangat menyukai warna pink, maka dari itu eomma mempersiapkan semua itu dalam waktu 2 hari. Lain kali kita harus berbelanja untuk keperluanmu yang lainnya”

“Ah, tidak perlu” Ji Ah menggoyangkan kedua tangannya didepan wajahnya, dan menggelengkan kepala nya.

“Tidak perlu sungkan, lagi pula sejak dulu eomma mengharapkan hal seperti itu. Sayangnya, Katty sangat sulit untuk diajak pergi bersama”

 

Setelah makan malam, Kris langsung kembali kekamarnya, sedangkan eomma Kris meminta Ji Ah untuk menemaninya diiruang tengah sembari menunggu kepulangan suaminya, yang akan sampai di Seoul malam ini setelah pergi ke Beijing untuk perjalanan bisnis. Eomma Kris bercerita banyak mengenai keluarganya, bahwa suaminya berasal dari Taiwan, sedangkan dia memiliki campuran Korea-Amerika, Ia memiliki anak sulung bernama Daniel yang tinggal di Taiwan dan bekerja sebagai dokter. Ia juga meminta Ji Ah untuk dapat membantunya memantau Kris disekolah, mengingat kepribadian Kris yang sangat tertutup. Ji Ah tidak terlalu mengerti apa yang terjadi pada Kris, tapi yang ia tangkap, ada sesuatu yang terjadi, melihat wajah eomma Kris yang menyiratkan kekawatiran.

Eomma Kris dan Ji Ah segera membukakan pintu ketika mendengar bel rumah berbunyi.

“Aigoo pantas saja Kris memiliki wajah yang tampan” gumam Ji Ah, dan selama beberapa detik, ia hanya memandangi wajah Appa Kris, bahkan tanpa berkedip. Eomma Kris terlihat sangat cantik meskipun ia tidak menggunakan make up, dan Appa Kris, wajahnya sedikit mirip seperti Vannes Wu -artis Taiwan yang sering Ji Ah lihat di majalah langganannya- Matanya tidak selebar mata eomma Kris, namun badannya begitu tegap dan tinggi, membuat siapapun tidak akan menyangka bahwa statusnya sudah berbubah menjadi seorang ayah. Ji Ah akui, Kris memiliki wajah yang tampan, namun akan lebih baik lagi jika Kris juga mengubah sikapnya yang arogan.

“Annyeong Haseo” Ji Ah hampir saja lupa memberi salam.

“Kau pasti Ji Ah? tanyanya. “Selamat bergabung dikeluarga kami”

Appa Kris dapat berbicara bahasa korea dengan lancar rupanya, ia juga meminta Ji Ah untuk memanggil dia dengan sebutan “Appa”.

 

 

**

 

Rupanya eomma Kris tidak main-main, pagi ini ia sudah meminta supir untuk mengantarkan Kris dan Ji Ah ke sekolah, sehingga terpaksa mereka harus berangkat bersama.

Selama perjalanan, Kris hanya diam memandang keluar jendela, dan ketika Ji Ah ingin memulai percakapan, Kris dengan cepat memasang headphone miiknya yang sudah tersambung ke ipod. Membuat Ji Ah bersumpah tidak akan mau berbicara dengan Kris lagi.

Ji Ah meminta sang supir untuk menurunkannya didepan sebuah minimarket yang berada tak jauh dari sekolah dengan alasan ia perlu membeli sesuatu, meskipun kenyataannya ia tidak mau ada seorangpun yang tau kalau ia berangkat sekolah bersama Kris.

“Ji Ah!” Ji Ah menoleh dan mendapati Sehun, kakak kelasnya sekaligus kekasihnya, berlari kecil dan menyamai langkah Ji Ah.

Oh Sehun, nama lengkapnya, mereka sudah resmi menjadi sepasang kekasih sejak 8 bulan yang lalu. Ji Ah bersyukur, meskipun ia sering sekali dimanfaatkan teman sekelasnya, meskipun ia tidak termasuk murid yang cantik ataupun pintar, tapi ia menemukan seseorang yang menyukainya secara tulus.

“Sudah sarapan?” tanyanya, dibalas anggukan oleh Ji Ah.

“Sepulang sekolah nanti, bisakah kita makan siang bersama? Kebetulan hari ini aku tidak ada jadwal untuk bimbingan belajar” ujarnya. Ji Ah tersenyum lebar dan dengan cepat menyiyakan ajakan Sehun. Beberapa bulan ini, ia merasa semakin jarang bertemu Sehun. Sepulang sekolah Sehun harus mengikuti bimbingan belajar mengingat saat ini ia duduk ditingkat 3 SMA. Dan malam hari, Sehun biasanya akan berlatih basket dengan teman-temannya, lagipula Ji Ah juga tidak diijinkan untuk pulang malam. Membuat frekuensi mereka bertemu semakin berkurang.

 

 

Kris melangkahkan kakinya, masuk kedalam kelas. Beberapa murid tampak sedang mengobrol, dan sebagian lainnya berkumpul mengelilingi meja yang setahu Kris, itu adalah meja Ji Ah. Salah seorang dari mereka mengeluarkan spidol, dan menuliskan beberapa kata diatas meja Ji Ah, setelah itu mereka kembali ke bangku mereka masing-masing.

Dan ketika Ji Ah masuk kedalam kelas, mendapati mejanya yang penuh dengan kata-kata ejekan yang ditunjukan untuk keluarganya, matanya memanas, tangannya memukul meja keras, Kris sampai dibuat terkejut olehnya.

“Siapa yang melakukan ini eoh?!” tanya Ji Ah dengan suara lantang.

“Yak! Kau anak koruptor, tidak bisakah kau diam?” celetuk seorang yeoja yang sedang asik mewarnai kukunya.

“Berita mengenai Appamu sudah tersebar luas, nona” ejek yang lain.

“Anak koruptor tidak pantas bersekolah disini”

Ji Ah baru saja melangkah meninggalkan kelas, ketika seseorang menghalangi langkahnya, dan menarik lengannya sehingga yeoja itu kembali masuk kedalam kelas.

“APA YANG KALIAN LAKUKAN?!” bentak namja itu.

 

TBC

 

20 pemikiran pada “Different Man (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s