Stuck ( Chapter 7)

Stuck

Stuck Poster 2

Title       : Stuck (Chapter 7)

Author  : Hye Kim (@hyekim0412)

Genre   : Romance, Comedy

Length  : Multichapter

Rate       : PG-15

Main cast:

  • Kim Hyemin
  • Oh Sehun (EXO)

Other cast:

  • EXO member
  • Cho Kyuhyun (SJ)
  • Other cast.

Disclaimer: Other cast and the plot of story are mine. Pure from my mind. NO plagiarism.

Summary: You are mine. And I’m yours, from the first time we meet each other. Note it. Don’t you dare to leave me.

****

[PREVIEW]

“Jadi, bagaimana kalau kita membuat mereka menyadari dan mengakui perasaan mereka dengan cara memberitahu mereka bahwa mereka dijodohkan karena syarat dari bekerjasamanya perusahaan appa dan Tuan Oh?”

Woobin menatap orang tuanya dan orang tua Sehun yang tampak berpikir.

“Bagaimana? Itu usulku, sih. Nanti pada akhirnya kita memberitahu pada mereka bahwa mereka tidak dijodohkan. Ini hanya—seperti—sebuah trik untuk menyatukan mereka.”

****

Sehun menatap Hyemin yang tengah memakan ramyeonnya dengan lahap. Padahal sebelum mereka sampai di kedai ini, Hyemin bagaikan robot yang kehabisan baterai—mungkin karena perbincangan di restoran tadi atau mungkin karena ia kelaparan. Dan sekarang, baterai ia menjadi full charge saat melihat ramyeon di depannya.

“Pelan-pelan, Hyemin-a, nanti terse—“

Hyemin yang mendengar ucapan Sehun menjadi tersedak. Ia menatap Sehun tajam karena mengganggu konsentrasi makannya.

“Kau, sih—uhuk!”

Sehun mengambil gelas minum Hyemin dan memberikannya pada Hyemin. “Sudah minum saja, biar aku yang pegang.” Sehun memegang gelas yang dipakai Hyemin minum, tangan satunya mengelus punggung Hyemin lembut.

“Makanya, makan itu pelan-pelan. Kau itu seperti tak makan sebulan saja.”

Hyemin menatap Sehun dengan tatapan polosnya. “Aku benar-benar lapar, Oh Sehun.” Ia kembali melahap ramyeon dengan perlahan. Ia tak mau tersedak lagi dan berakhir dengan Sehun yang mengomelinya.

Sehun mendengus. Gadis di hadapannya ini benar-benar lucu sekali. Kenapa ia malah menunjukkan wajah polosnya yang dapat membuat Sehun ingin sekali mencium kedua pipinya? Sehun menggeleng. Oh Sehun kau itu terlalu berlebihan.

Ia memasukkan tteokbokki ke dalam mulutnya. Ia memandang sekelilingnya, takut-takut kepergok dengan para fans yang akan menggila jika melihatnya, dan parahnya akan lebih menggila saat mengetahui Sehun tengah bersama seorang gadis.

Sehun tak bisa memikirkan apa yang akan terjadi dengan gadis bawel yang tengah melahap ramyeonnya jika fans Sehun melihat gadis itu. Ia tak mau Hyemin terluka karenanya. Hanya karena fans-fans yang labil—yang tak mau melihat Sehun bersama seorang gadis.

“Oh Sehun?”

Sehun beralih menatap gadis bernama Kim Hyemin itu. Dapat dilihatnya bahwa gadis itu sudah selesai dengan urusan perutnya. Sehun tersenyum melihat wajah kekanakkan Hyemin. Ia mengelus puncak kepala Hyemin. “Sudah selesai?”

Hyemin terdiam, menatapi Sehun dengan tatapan yang sulit diartikan. Jantung gadis itu berontak saat merasakan tangan Sehun yang berada di kepalanya.Ya Tuhan, apa aku benar-benar menyukai Oh Sehun? Kalau iya, aku hanya takut Sehun malah membenciku dan berakhir menjauhiku. Apalagi orang tua kami ingin menjodohkan

“Kau kenapa?”

Sehun yang melihat setetes air mata turun dari mata milik Hyemin, segera menangkupkan wajah Hyemin. Ia segera menyeka air mata gadis itu. Ia tak mau melihat Hyemin menangis. Hatinya sakit melihat Hyemin menitikkan air mata.

“Kim Hyemin, aku bertanya padamu. Kau kenapa?”

Hyemin menepis tangan Sehun, segera beranjak dari kursi. “A, Aku tidak apa-apa. Cepat, ayo kita kembali, Oh Sehun.” Hyemin mengalihkan pandangannya dari tatapan mata Sehun. Gadis itu berjalan keluar kedai, menunggu Sehun di luar.

Sehun yang melihat kelakuan aneh Hyemin, hanya mengerutkan keningnya. Ia tak yakin jika gadis itu dalam keadaan baik-baik saja. Sehun dapat melihat jelas wajah Hyemin yang awalnya merah, berubah menjadi sangat pucat.

Sehun segera membayar makanannya dengan Hyemin, lalu bergegas menghampiri Hyemin yang nampak lesu itu. Gadis itu tak pernah selemas ini. Kadang gadis ini kekurangan energi, kehilangan senyum manis yang sering ia tunjukkan, namun sekali lagi tak pernah selemas ini. Tak sedown saat ini.

“Hyemin-a, kau kenapa?”

Hyemin menghela nafas. Rasanya ingin sekali ia menangis. Ia merutuki dirinya sendiri. Kenapa ia bisa jatuh cinta pada seorang Oh Sehun? Sudah dipastikan lelaki itu tak mungkin memiliki perasaan yang sama pada dirinya.

Ia? Dijodohkan dengan Sehun?

Orang tuanya—dan orang tua Sehun—pasti tengah bercanda. Pasti mereka tengah mabuk sehingga mengatakan hal yang aneh seperti itu. Pasti itu, Hyemin yakin.

“Kim Hyemin.”

Hyemin menoleh, menatap Sehun dengan sendu. “Oh Sehun, apa benar kita akan dijodohkan? Orang tua kita sedang bercanda, ‘kan? Aku tak mau dijodohkan denganmu.” Aku hanya ingin dijodohkan oleh Tuhan, karena kita sendiri, bukan karena orang tua kita, lanjut Hyemin dalam hati.

Perjodohan dengan cinta bertepuk sebelah tangan itu pasti menyakitkan. Hyemin sering menonton drama-drama yang mengandung unsur perjodohan. Walaupun itu hanya fiksi, tetapi Hyemin tahu bagaimana jika itu terjadi di dunia nyata.

Pasti menyakitkan sekali.

****

Sehun POV

“Oh Sehun, apa benar kita akan dijodohkan? Orang tua kita sedang bercanda, ‘kan? Aku tak mau dijodohkan denganmu.”

Kurasakan dadaku merasa sesak saat mendengar perkataan Hyemin barusan. Energiku seketika tersedot habis sehingga aku merasa sebentar lagi akan runtuh. Hyemin tak mau dijodohkan denganku? Kenapa? Kenapa ia tak mau dijodohkan denganku?

“Oh Se—“

Aku menghela nafas. “Kau tidak dengar apapun, Hyemin-a. Jangan memikirkan hal macam-macam sampai kita mendengar dari orang tua kita. Ayo kita kembali saja. Atau kau mau kuantar ke rumahmu? Wajahmu pucat sekali, Hyemin.”

Aku menggenggam tangan Hyemin erat, menyentuh wajah Hyemin yang pucat. Tidak, bagaimana pun kau harus mau menerima perjodohan ini, Hyemin. Kau harus menjadi milikku, Kim Hyemin.

Hyemin menatapku. “Tapi kalau kita benar-ben—“

“Kalau kita benar-benar dijodohkan, aku, aku, entahlah. Tapi kalau kau—Kim Hyemin—yang dijodohkan denganku, aku rasa itu tidak masalah.” Oh Sehun bodoh! Apa maksudmu dengan tidak masalah? Bagaimana kalau ia salah mengerti perkataanmu? Bodoh.

“Tapi itu masa—“

Aku menatap Hyemin tajam. “Jangan bahas ini lagi, Hyemin-a. Ayo aku antar pulang ke rumahmu. Atau kau mau kuantar ke apartemenmu?” Hyemin mengangguk. “Ke apartemenku saja. Aku sebenarnya akan pulang ke apartemenku hari ini. Aku bosan sekali di rumah.”

Gadis ini akhirnya tersenyum, membuatku mau tak mau ikut tersenyum melihatnya. Kim Hyemin, Kim Hyemin. Gadis ini memang benar-benar…

“Baiklah. Kita tunggu taksi yang lewat.”

****

Author POV

“Terima kasih, Ahjussi. Selamat malam!”

Sehun tersenyum kepada supir taksi yang ia tumpangi bersama Hyemin. Dengan susah payah, ia menggendong Hyemin yang tertidur dengan bridal style. Gadis ini kenapa berat sekali, sih? Apa karena ia makan banyak tadi, ya?

Sehun melangkahkan kakinya, memasuki gedung apartemen di mana Hyemin tinggal. Apartemen yang cukup—sangat mewah—untuk gadis seusia Hyemin. Sehun menjadi iri pada Hyemin bisa hidup di sebuah apartemen sendirian. Kapan ibuku akan mengizinkanku agar seperti Hyemin?

Sesampainya di depan apartemen Hyemin, Sehun hendak menanyakan kode apartemennya atau paling tidak membangunkan Hyemin untuk segera masuk ke dalam. Namun, segera ia urungkan niatnya itu. Ia tak ingin mengganggu wajah polos milik gadis itu.

Ia akhirnya menelepon Woobin—kakak Hyemin—setelah bersusah payah mengambil ponselnya di saku celananya dan berakhir menggunakan ponsel Hyemin yang kebetulan ada di genggaman Hyemin.

901106.

“Cih, benar saja gadis ini masih menggunakan tanggal lahir Kris hyung sebagai kodenya. Sebegitu sukanya kah dia pada Kris hyung? Dan—eo? Dia ternyata masih menggunakan selcaku sebagai wallpapernya. ” Sehun tersenyum. Gadis ini memang penurut atau—

Tidak mungkin dia menyukaimu. Atau mungkin saja? Entahlah.

Sehun yang tengah berlutut—menyandarkan Hyemin pada sebelah tangannya—mencari kontak kakak Hyemin yang satu itu, Kim Woobin. Mata Sehun tak sengaja menangkapnama kontak miliknya.

Oh Sehun Yang Tampan.

Sehun terkikik sendiri. Dengan segera, ia mencari kontak Woobin dan menelepon lelaki itu.

Hyemin-a, kau sudah sampai apartemen, Sayang?

Ne, Oppa. Hyung, ini aku. Bolehkah kau memberitahu kod—“

Menjijikkan sekali suaramu. Hahaha. Hyemin tertidur, ya?

Sehun menjauhan ponsel Hyemin, menatap kesal ponsel itu seakan-akan itu adalah Woobin. “Eum, dia tertidur. Aku tak tega memban—“

Kau tidak tega apa masih betah melihat wajah manis adikku saat tidur? Aku yang notabene kakaknya saja senang sekali melihat wajahnya saat tidur. Tak mungkin kau—seorang Oh Sehun—tak betah melihatnya. Atau kau mau melakukan hal aneh pada adikku, hah?

Sehun mendengus. “Hyung ini jangan mengada-ngada. Dan, ehm, jujur saja aku juga suka sekali dengan wajah tidurnya tapi saat ini bukan saat yang tepat, Hyung!”

“Ara, ara. Kau mau kodenya?

“Itu terserah hyung. Aku akan membawa Hyemin ke dorm jika hyu—“

121213. Itu kodenya. Kau ini, ya, dasar. Jangan melakukan aneh-aneh, Oh Sehun!

Gomawo, Hyung. Ah, Hyung, apakah benar aku dan Hyemi—“

Untuk masalah itu, serahkan saja padaku. Besok atau kapan kita akan membahasnya. Atau mungkin orang tuamu akan memberitahunya jika terjadi apa-apa. Sudah dulu ya!

TUT..

“Sudah kuduga.” Sehun berdiri dengan perlahan, agar tidak membangunkan gadis di gendongannya ini. Dengan segera, ia memasukkan kode apartemen Hyemin dan masuk ke dalamnya. Ia berjalan memasuki kamar Hyemin, menidurkan Hyemin di atas kasur milik gadis itu.

Sehun menatap sekelilingnya. Kamar Hyemin. Baru kali ini ia melihat kamar Hyemin. Kamar Hyemin lebih mirip dengan kamar seorang gadis kecil dibanding gadis remaja seusia Hyemin. Serba pink dan terdapat banyak sekali boneka di kamar tersebut.

Sehun mengerutkan keningnya saat melihat pigura yang terdapat di atas meja samping kasur Hyemin. Di pigura itu terdapat fotonya dengan Kris—yang entah kapan itu, dia lupa.

Namun, anehnya Sehun tak melihat satupun poster yang tertempel di dindinga kamar gadis itu. Biasanya fans fanatic seperti Hyemin pasti menempelkan banyak poster di sana-sini. Tapi, tidak dengan Hyemin. Dan Sehun menemukan tumpukan poster yang terdapat di sudut kamar ini.

“Apa gadis ini terlalu sayang, ya, menempel poster di dindingnya?”

Sehun menggerakkan kepalanya. Ia tiba-tiba saja merasa ingin tidur. Lelaki berumur dua puluh tahun itu berjalan menuju ruang TV apartemen Hyemin. Ia berbaring di atas sofa milik Hyemin. “Sebentar saja. Setelah itu aku akan pulang.”

Setelah ia mengatakan itu, ia akhirnya terlelap dan tak terbangun sampai pagi.

****

Hyemin menyantap sarapannya dengan tidak semangat—tak seperti biasanya. Benar saja, dirinya dan Sehun benar-benar dijodohkan. Mereka dijodohkan dengan dua alasan yang cukup konyol. Satu, karena ketertarikan Nyonya Oh pada dirinya yang begitu besar, begitu menginginkan dirinya menjadi pendamping hidup Sehun. Dan alasan kedua, karena salah satu syarat kerjasamanya perusahaan keluarga mereka.

Bukankah itu konyol?

Hyemin mendesah. Sudah hampir seminggu sejak makan malam itu dan sejak ia menemukan Sehun tertidur di sofa saat keesokkan harinya di apartemennya. Dan sejak itu Sehun tak menghubunginya. Apa Sehun membenciku, ya?

Gadis itu menggeleng. Mengingat padatnya jadwal Sehun dan anggota EXO yang lainnya memungkinkan Sehun menjadi sangat sibuk sehingga tak menghubunginya.

“Mungkin ia tengah syuting ‘EXO’s Showtime’ atau sedang rekaman acara lainnya.”

Hyemin walaupun sebal dengan Sehun, entah kenapa malah merindukan ucapan Sehun yang menyebalkan itu saat ini. Oh Sehun, terima kasih karena telah membuatku jatuh cinta padamu.

Hyemin beralih mengambil ponselnya.

27 November?

“Hari ini tanggal 27 November? Chanyeol oppa hari ulang tahun!” Hyemin dengan segera mencari kontak Chanyeol di ponselnya dan menelepon lelaki itu.

Hyemin-a? Apa kabar? Sudah lama sekali oppa tidak melihatmu.

“Aku baik-baik saja, Oppa. Oppa bagaimana?”

Aku juga baik. Kau tengah bertengkar dengan Sehun, ya? Hampir seminggu ini ia tak pernah membicarakanmu. Ia cenderung jadi sangat pendiam. Ada apa?

Hyemin berdeham. “Tidak, kok. Kami tidak ada masalah. Aku hanya sedang sibuk dengan kuliahku, Oppa,” bohong Hyemin. Sebenarnya ia tak sesibuk itu, mengingat ia seorang mahasiswi baru. Kecuali jika ia berurusan dengan si Botak.

Ah, begitu. Oh ya, tumben sekali kau meneleponku. Biasanya kau menelepon Kris hyung. Mau berbicara dengannya? Kami sedang dalam perjalanan untuk syuting acara kami yang baru itu. Kau tahu, ‘kan?

Sudah Hyemin duga. Mereka sedang syuting saat ini.

“Oh iya, happy birthday, Chanyeol oppa! Aku sampai lupa mengatakannya, hehe. Ah, Kris oppa? Aku bisa meneleponnya nanti. Sekali lagi, selamat ulang tahun, Park Chanyeol!Hwaiting!”

Terdengar kekehan Chanyeol di seberang sana. “Terima kasih, Hyemin-a. Kau orang pertama yang mengucapkan ulang tahunku selain keluargaku. Bahkan mereka—member EXO—belum mengucapkan ulang tahun untukku. Mungkin mereka lupa.”

Hyemin tersenyum. “Eo. Tak mungkin mereka lupa. Kalau begitu, hwaiting, Oppa!”

“Eum, kau juga. Jangan lupa menghubungi Sehun jika kau merindukannya, Adik Kecilku. Bye!

Oppa, mwoya! Bye, Oppa!”

Hyemin menatapi ponselnya.Menghubungi Sehun?

“Kau merindukan Sehun, kan?” Hyemin menoleh dan mendapati kakaknya yang baru saja memasuki apartemennya dengan wajah menyebalkannya. Sama seperti Sehun. Sehun lagi, Sehun lagi.

Hyemin memalingkan wajahnya, kembali melahap sarapannya. “Untuk apa aku merindukan lelaki itu? Oh ya, oppa habis dari mana? Oppa menghilang setelah memasak ini.”

Woobin terkekeh. “Akui saja kalau kau merindukan Sehun, Sayang. Wajahmu menjelaskan semuanya. Ah, aku hanya bertemu dengan temanku. Dia mengembalikan sepatuku yang tertinggal di tempat fitness kemarin.”

Hyemin meletakkan sendok dan garpunya di atas meja. Oh Sehun menyebalkan! Ia menundukkan kepalanya. Rasanya ingin sekali ia menangis, namun ego pada dirinya lebih tinggi. Ia tak mau menangis hanya karena merindukan Sehun, juga tak mau diejek oleh kakaknya.

“Ah, aku lapar se—Hyemin-a, kau kenapa?”

Woobin berjalan menghampiri adiknya. “Kau kenapa menang—Kim Hyemin!”

Hyemin berlari menuju kamarnya. Ia naik ke kasurnya dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut—setelah mengunci kamarnya. Tangisnya pun pecah.

“Dasar menyebalkan!”

Hyemin memeluk boneka pemberian Sehun saat di Tokyo waktu itu. Memukul kepala boneka tersebut seakan-akan itu adalah kepala Sehun. “Menyebalkan! Kalau membenciku, bilang saja!” isak Hyemin.

Hyemin dapat mendengar suara ketukan pintu kamarnya. Kakaknya pasti mengkhawatirkan dirinya yang tiba-tiba saja menangis. “Hyemin-a, kau kenapa, Sayang?”

I’m okay, Oppa! Aku, aku hanya ingin tidur!”

“Benarkah? Kalau begitu, istirahatlah. Kalau ada apa-apa, bilang pada oppa, ya?”

Tak lama setelah itu, ponselnya—yang sejak tadi berada di meja makan dan entah kenapa bisa berada di tangannya sekarang—berdering, menandakan sebuah panggilan masuk. Hyemin berdeham sebentar.

Matanya membulat melihat siapa yang meneleponnya.

Oh Sehun Yang Tampan.

Perlahan ia menempelkan ponsel pada telinganya. Ia menutup mata, takut-takut ia menangis lagi. Hyemin merasa ia berubah menjadi gadis cengeng sejak makan malam itu.

Hyemin-a, kau sedang apa?

Hyemin kembali berdeham, berusaha menghilangkan suara serak akibat menangis barusan. “Aku—“

Kau menangis? Kenapa?” tanya Sehun dengan nada khawatir.

Hyemin menggeleng, walaupun ia tahu Sehun tak dapat melihatnya. “Jangan bohong padaku, Kim Hyemin. Aku tahu kau habis menangis. Woobin hyung baru saja meneleponku dan mengatakan padaku kau menangis. Maaf kalau aku baru menghubungimu.”

M-mwo? Oppa meneleponmu? Kim Woobin—“

Memang apa salahnya hyung meneleponku dan memberitahu keadaan calon tunanganku?

Hyemin terbatuk. Sehun menganggapnya? Sehun menerima perjodohan ini?

Aku menerima perjodohan ini, Hyemin-a. Aku tahu kau pasti menolak ini, tapi seperti yang kukatakan waktu itu. Aku tak masalah dengan ini, mengingat betapa sukanya ibuku padamu. Aku tak bisa menolaknya. Maafkan aku.

“Oh Sehun.”

Ya? Kenapa?

Hyemin menghela nafas. “Kau tidak membenciku?”

Hening. Beberapa detik kemudian, tawa Sehun meledak di seberang sana. Hyemin menatap ponselnya bingung. Memang pertanyaanku lucu, ya?

“Oh Sehun!” rengek Hyemin.

Jadi, kau menangis karena itu? Atau karena merindukanku, Sayang?” Hyemin tersenyum. Sehun kembali menyebalkan.

Aniya! Aku tak menangis karena itu! Aku, aku hanya lelah. Dan lagi untuk apa aku merindukanmu? Menyebalkan!”

Hahaha. Kau benar-benar tak merindukanku? Sayang sekali jika aku saja yang merindukanmu.

Wajah Hyemin memanas. Sehun merindukannya? Lelaki ini tengah bercanda pasti.

Tak usah memikirkan hal aneh. Aku merindukanmu, Kim Hyemin. Hah. Aku akan mengajakmu kencan. Kencan pertama kita. Kau mau aku menjemputmu atau menyusulku ke gedung SM? Ah, bagaimana kalau kau malah bertemu Kyu—

“Kenapa kau masih memikirkan Kyuhyun oppa, sih? Aku akan menyusulmu ke sana. Sudah, syuting saja sana! Aku ingin tidur!”

Baiklah. Kau juga tak mungkin selingkuh dariku, ‘kan? Kau sore saja ke gedung SM. Setelah itu kita berangkat. Pakai pakaian yang cantik, ya, Sayang. Selamat memimpikan aku, Baby!

“Menyebalkan!” Hyemin dengan segera mematikan sambungan telepon Sehun.

Kencan?

Hyemin melompat-lompat di atas kasur. “KIYAAA!”

Dan tak lama kemudian…

OPPA, SAKIT!”

****

Hyemin berjalan memasuki gedung SM. Di halaman parkir banyak sekali fans yang berkerumun, berserta kamera-kamera dengan lensa yang seperti mengajak perang. Hyemin teringat dengan kameranya yang berada di kamarnya. Sudah lama sekali ia tak menggunakannya—untuk fangirling.

Setelah bertemu dengan manager EXO, ia akhirnya masuk ke dalam gedung SM menggunakan kartu yang entah apa itu, yang jelas seperti tanda pengenal atau semacamnya.

Saat Hyemin akan masuk ke dalam elevator, seseorang memanggil Hyemin.

“Hyemin-a!”

Hyemin menoleh. Didapati seorang lelaki yang sudah lama sekali tak ia jumpai—karena Sehun dan jadwal lelaki itu yang padat—tengah berjalan dengan cepat ke arahnya. Cho Kyuhyun. “Eo, Kyuhyun oppa!”

Kyuhyun tersenyum melihat gadis yang sudah lama sekali tak ia hubungi semenjak gadis itu mengundurkan diri dari cafénya . Ia benar-benar merindukan Kim Hyemin.

“Kau sedang apa di sini? Ingin bertemu denganku?” tanya Kyuhyun dengan senyum mengembang. Sepertinya ia melupakan Sehun yang dekat dengan Hyemin.

Hyemin tersenyum manis. “Oppa terlalu percaya diri sekali! Aku di sini, ‘kan, ingin bertemu Sehun.” Senyum Kyuhyun luntur, merasa kecewa.

“Sehun lagi?” Hyemin mengangguk. “Kau masih berhubungan dengannya?”

Hyemin kembali mengangguk. “Aku, ‘kan—“

Seseorang tiba-tiba saja merangkul Hyemin. “Dia, ‘kan, tunanganku, Hyung,” ujar seseorang itu—Sehun—dengan penuh penekanan pada kata ‘tunangan’, juga tak lupa wajah datar dan dinginnya.

Kyuhyun tertawa meremehkan. “Kau ini bercandanya berlebihan sekali. Tunanganmu? Kau menyukai Hyemin? Bilang saja kau menyukai Hyemin. Tak usah sampai mem—“

“Aku tak bercanda, Cho Kyuhyun seonbaenim. Benar, ‘kan, Sayang?” Sehun menatap mata Hyemin lembut, tersenyum yang dapat membuat Hyemin merona. Sehun mengelus sayang pipi Hyemin, menunggu Hyemin menjawab pertanyaannya tadi agar lelaki bernama Cho Kyuhyun ini berhenti mendekati Hyemin.

Kyuhyun membelalakkan matanya. “Sayang? Hyemin-a, katakan ini hany—“

“Itu benar, Oppa. Sehun adalah tunanganku. Maaf aku tak cerita pada oppa. Oppa, ‘kan, sudah seperti kakakku sendiri.” Hyemin tersenyum manis, senyum yang malah membuat Kyuhyun merasa hancur.

Sehun tersenyum penuh kemenangan pada Kyuhyun. “Kau percaya, ‘kan, Hyung? Kalau begitu, kami naik ke atas dulu.” Sehun menggenggam tangan Hyemin, menariknya masuk ke dalam elevator.

“Oh Sehun.”

Sehun menatap Hyemin tajam. “Sudah kuduga kau pasti akan bertemu dengan namja itu.”

Hyemin memajukan bibirnya. “Memang kenapa kalau aku bertemu dengannya? Lagipula dia menganggapku seperti adiknya.” Sehun memutar bola matanya. Gadis di genggamannya ini memang tidak peka atau apa, sih?

“Kau tidak merasa dia punya perasaan padamu? Maksudku, lebih dari perasaan seorang kakak terhadap adiknya? Dia melihatmu sebagai gadis, Kim Hye—“

“Memangnya Kyuhyun oppa melihatku sebagai namja? Dasar an—“

“Kau ini! Bukan itu maksudku! Aish! Kau tak pernah jatuh cinta? Cho Kyuhyun menyukaimu!” Dengan tidak rela, Sehun mengatakannya. Gadis ini benar-benar polos sekali.

“Kyuhyun oppa? Tak mun—“

“Tapi itu yang terjadi, Sayang. Dasar. Kau benar-benar tak pernah jatuh cinta?” Seperti aku yang jatuh cinta padamu. Sehun menatap Hyemin yang tengah kebingungan.

“Aku? Ti—ah, ayo sudah sampai!” Hyemin menarik Sehun keluar dari elevator.

“Oh Sehun, by the way, katanya kita mau kencan, tapi kenapa ke sini?”

Sehun memutar bola matanya. “Sudah aku bilang, ‘kan, tadi kau mau kujemput atau menyusul ke sini? Kalau aku menjemputmu, kita langsung pergi kencan sekitar jam tujuh. Tapi, kalau menyusul ke sini, kau harus menungguku sebentar untuk jadwalku besok. Setelah itu baru kita berangkat.”

Hyemin mengangguk mengerti, lalu mengikuti Sehun, memasuki studio latihan EXO. Namun, langkah Sehun terhenti. Ia menatap Hyemin dengan tatapan menggodanya. “Jadi, kau tak sabar ingin kencan denganku, ya?”

Hyemin menjadi gugup. “Ti,tidak! Maksudku, maksudku, aku hanya heran saja! Ya! Jangan menatapku seperti itu! Ayo, aku ingi bertemu Kris oppa dan Chanyeol oppa, juga yang lainnya.” Hyemin berjalan lebih dulu, meninggalkan Sehun yang terkekeh geli.

Sedetik kemudian Sehun tersadar. “Kris? Chanyeol? Gadis itu benar-benar!”

****

“Chanyeol oppa!” Hyemin berjalan dengan cepat, menghampiri Chanyeol yang tengah bermain gitar bersama Lay. Chanyeol—dan anggota lain—yang melihat kedatangan Hyemin tersenyum. “Hyemin-a, long time no see!” seru Kris, berjalan mendekati Hyemin.

Hyemin tersenyum melihat Kris. “Me too, Oppa! Ah, Chanyeol oppa, selamat ulang tahun! Aku tidak sempat membeli kado, jadi besok atau lusa aku akan memberikannya, okay?” Hyemin duduk di samping Chanyeol. Ia menatap Chanyeol dengan tatapan yang sungguh menggemaskan.

“Kau sudah mengatakannya tadi pagi, Hyemin-a. Baiklah, akan kutagih kadoku lusa. Oh ya, mana Sehun?” Chanyeol mengedarkan pandangannya, mencari Sehun. Namun, lelaki berwajah datar itu tak terlihat di setiap sudut ruangan.

“Mungkin dia pergi ke toilet. Tadi aku langsung meninggalkannya di depan elevator,” cengir Hyemin, menatap Chanyeol. Mendengar ucapan Hyemin, semuanya tertawa. Hanya dengan Hyemin, sisi bodoh Sehun terlihat.

“Kau ke mana saja, Hyemin Sayang? Oppa sudah lama sekali tidak melihatmu.” Kris berlutut di depan Hyemin, mengelus rambut Hyemin dengan sayang. “Aku—“

Ya! Wu Yifan! Menjauhlah dari Hyemin!”

Semuanya sontak melihat siapa gerangan yang baru saja berteriak seperti itu. Oh Sehun. Lelaki itu menatap Kris dengan tajam, seakan-akan menyuruh Kris untuk menjauhi Hyemin.

“Kenapa? Dia adikku ini.”

Ya! Aku yang adikmu! Dan Park Chanyeol, minggi—Hyung, sakit!” Suho tiba-tiba saja menarik telinga Sehun yang teriak tidak jelas. “Jangan teriak-teriak! Kau pikir ini di hutan?”

Ah, Hyung! Sudah sewajarnya aku menyuruh mereka untuk tidak mendekati gadisku!” seru Sehun, memegangi tangan Suho agar melepasnya.

“GADISMU?” teriak semua member, tak percaya. Sedangkan Hyemin hanya menundukkan kepalanya, merona. Oh Sehun menyebalkan!

Suho melepaskan tangannya, menatap Sehun tajam. “Gadismu? Wah, jadi kau sud—“

Geurae, dia gadisku! Dia tunanganku!”

Sehun menghampiri Hyemin, menarik gadis itu agar berdiri di sampingnya. Ia merangkul Hyemin. “Mulai saat ini, Hyemin adalah kekasihku—ani, dia tunanganku!” Sehun menatap hyungdeulnya dengan wajah serius.

Kris mengangkat tangannya. “Hyemin-a, benarkah itu?” Hyemin mengangguk. “Iya, Oppa. Aku dan Sehun, ‘kan, dijodoh—“

“DIJODOHKAN?”

Sehun membekap mulut Hyemin, menatap gadis itu tajam agar tidak memberitahu mereka bahwa ia dan Hyemin sebenarnya dijodohkan.

Aniya, Hyung! Kami saling mencintai, tidak dijodohkan. Hyemin ada-ada saja, ya?”

Hyemin menatap Sehun tajam. “Saling mencintai katamu? Aku tak mencintaimu! Aku dijo—“

“Kim Hyemin, tak usah bicara hal yang aneh. Ayo ikut aku.” Suara Sehun berubah menjadi dingin dan datar saat mendengar ucapan Hyemin. Hyemin tidak memiliki perasaan sedikitpun padaku? Apa mungkin ia sudah memiliki orang lain di hatinya? Tapi siapa? Kris? Kyuhyun?

Sehun menarik kasar tangan Hyemin. Hyungdeulnya sempat protes melihat apa yang Sehun lakukan pada Hyemin. Namun, mereka segera membungkam mulut mereka saat melihat tatapan tajam Sehun yang menusuk. Sangat mengerikan.

“Oh Sehun, sakit,” lirih Hyemin pelan. Sehun melirik Hyemin sekilas, semakin mengeratkan tangannya. “Oh Se—“

Sehun mencium bibir Hyemin sekilas, membuat Hyemin terdiam seketika. “Sudah kau diam saja.”

Sehun terus menggenggam tangan Hyemin sampai mereka sampai di mobil Sehun dengan selamat—tanpa diketahui oleh fans Sehun. Sehun membukakan pintu untuk Hyemin. Ia menggerakkan bola matanya, menyuruh Hyemin masuk ke dalam mobil.

Hyemin dengan pasrah hanya menuruti perkataan Sehun, takut-takut Sehun malah menciumnya lagi. Sehun benar-benar selalu membuat Hyemin tak bisa mengontrol jantungnya dan wajah meronanya. Sehun benar-benar menyebalkan, kapanpun itu.

Sehun—yang sudah duduk di depan kemudinya—menatap Hyemin yang hanya terdiam. Pikirannya benar-benar kacau. Kim Hyemin tidak mencintainya?

Tidak, Hyemin-a. Seperti yang sudah kukatakan, Kau menyukaiku atau tidak, aku menyukaimu atau tidak. Kau milikku. Selamanya milikku. Sejak pertama kali kita bertemu musim dingin tahun lalu.

Sehun menyalakan mesin mobilnya. Ia kembali melirik Hyemin. “Cepat pakai sabuk pengamanmu. Atau kau mau aku yang memakainya?”

****

Hyemin menatap layar yang sangat besar di depannya. Di layar tersebut tengah menayangkan sebuah film kartun keluaran Disney yang sangat ingin Hyemin tonton. Frozen. Ia ingin sekali menonton film ini karena rasa penasarannya sejak ia mengetahui berita tentang film ini—sebelum rilis.

Dan herannya, seorang Oh Sehun yang mengajaknya nonton. Apa Sehun benar-benar seorang cenayang? Atau mungkin ini sebuah takdir Hyemin untuk bisa nonton film ini karena ajakan Sehun? Entahlah.

Hyemin menatap Sehun yang tengah fokus menonton. Sehun benar-benar terlihat sangat sempurna, sangat tampan dengan rahangnya yang tajam dan tegas. Dengan kulit putih susunya, mata tajamnya, membuat Sehun berkali-kali lipat terlihat tampan.

Oh Sehun, kau benar-benar telah mencuri segalanya.

Hyemin menghela nafas—sepelan mungkin agar Sehun tak mendengarnya. Semenjak dari gedung SM tadi, Sehun terus mendiaminya. Ia hanya mengatakan hal-hal dengan singkat, dingin, dan datar. Tak ada tatapan menyebalkan serta senyum menyebalkan yang terukir di wajahnya itu.

Ada apa dengan Sehun? Apa ia marah padanya karena Hyemin mengatakan bahwa mereka dijodohkan? Atau….

Aku tidak mencintaimu.

Apa ia tersinggung dengan apa Hyemin katakan tadi? Tapi, Hyemin tak bermaksud mengatakan itu. Hyemin hanya bercanda. Ia tidak serius dengan apa yang ia katakan. Ia, Hyemin mencintai Sehun.

“Jangan memikirkan hal yang aneh. Kau ingin menonton ini, tapi malah sibuk menatapku dan memikirkan hal yang aneh-aneh.” Hyemin membulatkan matanya saat ia baru menyadari Sehun tengah menoleh padanya. Dan menatapnya saat ini, membuat wajah Hyemin memanas.

Hyemin merasa beruntung karena studio ini gelap. Dan oh, ia tak bisa membayangkan apa yang akan Sehun lakukan saat tahu wajah meronanya. Parahnya mereka duduk di kursi paling belakang atas dan di pojok.

Mungkin Hyemin akan sedikit merasa—sekali lagi—cukup beruntung jika ia tidak duduk di sebelah dinding—di pojok. Karena dengan begitu ia bisa langsung lari jika Sehun melakukan hal aneh—seperti menciumnya.

Tapi sialnya, ia duduk di sebelah dinding, membuat ia merasa terkurung oleh Sehun. Kenapa Sehun harus memilih tempat di sini? Hyemin lebih menyukai duduk di bagian tengah daripada di sini. Apa Sehun tengah merencanakan sesuatu?

“Sudah kubilang jangan memikirkan hal yang aneh. Lihat, wajahmu merona. Aneh, padahal di sini gelap, tapi aku masih bisa melihat wajah meronamu.”

Hyemin benar-benar tidak beruntung. Ia memalingkan wajahnya, kembali menatap layar.

Sehun tersenyum melihat gadis di samping kanannya yang hanya terdiam sembari menatapnya dengan wajah menggemaskannya. Namun, ia menahan mati-matian untuk tidak menunjukkan wajah seperti biasanya dan untuk tidak mencubit atau mencium Hyemin.

Sehun masih ingin memikirkan apa yang harus ia lakukan saat ini. Ia sibuk memikirkan perkataan Hyemin sejak tadi. Tidak seperti Hyemin yang kadang fokus dan tidak dengan film yang ada di depannya, ia sejak tadi berpura-pura sibuk menonton dan memakan popcorn sembari memikirkan tentang dirinya dan Hyemin.

“Kim Hyemin.”

Hyemin—mau tak mau—menatap Sehun kembali. Didapatinya Sehun tengah menatapnya dalam, dengan tatapan yang sulit artikan. Akan tetapi, Hyemin bisa melihat pancaran mata Sehun terlihat seperti orang kelelahan dan…..kecewa? Entahlah.

Sehun, perlahan mendekatkan wajahnya pada wajah Hyemin yang tak jauh darinya. Ia menggapai bibir Hyemin dengan bibirnya, mencium bibir gadis itu lembut. Sehun tersenyum saat melihat Hyemin menutup matanya, dan Sehun pun ikut menutup matanya.

Sehun melumat bibir Hyemin pelan, mendorong tengkuk Hyemin agar memperdalam ciuman mereka.Kim Hyemin, kau milikku. Sehun mengucapkan berkali-kali di dalam hati. Kim Hyemin adalah miliknya. Selamanya milik Oh Sehun.

Sehun melepaskan ciumannya saat mengetahui Hyemin membutuhkan oksigen untuk bernafas. Sehun beralih mencium kedua kelopak mata Hyemin, kening, kedua pipi, dan kembali berakhir di bibir Hyemin.

Lelaki itu menarik tangan Hyemin, melingkarkan tangan gadis itu di lehernya. Dan Hyemin hanya menurutinya. Hyemin hanya terlalu polos, dan Sehun akui Sehun telah membuat gadis sepolos Hyemin merasakan ciuman di usia Hyemin.

Namun, bukankah wajar?

Mungkin karena Hyemin terlihat seperti gadis kecil, membuat Sehun merasa Hyemin belum cukup umur.

“Oh Se— Hun.”

Sehun menarik wajahnya, menatap wajah Hyemin yang ia yakini pasti sangat-sangat merah. Sehun mengelus kepala Hyemin dengan lembut. “Mianhae.”

Sehun menghela nafas. “Mianhae. Mianhae, Kim Hyemin.” Karena mungkin aku saja yang mencintaimu, tanpa kau yang mencintaiku. Sehun menyentuh kedua pipi Hyemin. “Mianhae.”

“Kenapa? Karena kau menciumku hingga aku hampir mati kehabisan nafas?” Sehun mengulumnya senyumnya. “Segalanya. Maafkan aku.” Hyemin melepaskan tangan Sehun yang berada di pipinya.

“Maaf kenapa? Jangan membuatku mati penasaran juga.” Sehun terkekeh.

“Intinya maafkan aku, Hyemin-ssi.”

Hyemin memajukan bibirnya. “Kau tak suka aku memanggilmu dengan embel-embel ‘ssi’, tapi kau memanggilku seperti itu. Menyebalkan!”

Sehun kembali menangkup kedua pipi Hyemin, menatapnya dalam. “Kim Hyemin, dengarkan aku baik-baik. Okay?” Hyemin mengangguk. Sehun memejamkan matanya sebentar, kemudian menatap Hyemin kembali.

“Entah kau menyukaiku atau mencintaiku atau tidak, dan begitupula denganku, kau milikku. Kau tetap milikku. Hanya milikku. Milik seorang Oh Sehun. Kim Hyemin hanya milik seorang Oh Sehun. Mengerti?”

Hyemin mengerjapkan matanya. Ia masih mencerna perkataan Sehun. Perkataan Sehun sangat mudah di mengerti, tapi kenapa otaknya bekerja sangat lambat?

“Kau mengerti, Sayang?”

Hyemin menggeleng. “Entah kenapa otakku bekerja sangat lambat. Error.” Sehun tersenyum, ia memeluk Hyemin. “Kim Hyemin, kau milikku. Kau milik seorang Oh Sehun. Mengerti?” Hyemin membulatkan matanya.

Benarkah itu? Sehun yang mengatakan itu?

“Kau menyukaiku atau tidak, aku menyukaimu atau tidak, kau tetap milikku. Jangan pernah berani untuk meninggalkanku, Hyemin-a. Kau sudah menjadi milikku sejak awal.”

Hyemin berkaca-kaca. Entah Sehun menyukainya atau tidak, Sehun mengatakan ia hanya milik lelaki itu. Kim Hyemin milik seorang Oh Sehun.

“Oh Sehun.”

“Kenapa? Kau ingin mengatakan kau mencintaiku juga? Kau ingin mengatakan kau berterima kasih? Kau ingin mengatakan bahwa kau sangat senang karena bisa menjadi milik idolamu sendiri? Begitu?”

Tepat sekali, Oh Sehun.

“Aku benar, kan?”

Hyemin menggeleng. “Un, untuk pilihan yang pertama itu, itu tidak benar. Dan apa maksudmu dengan mencintaimu juga?” Hyemin dengan gugup menatap Sehun. Jangan bilang Sehun jug—

“Maksudku bukan seperti itu. Jangan memikirkan hal yang aneh-aneh lagi. Sudah kubilang, bagaimanapun perasaan kita masing-masing, I’m yours and you’re mine. Mengerti, Sayang?”

Hyemin terdiam. Sehun pasti tidak menyukainya. Pasti. Mana mungkin Sehun—

“Sudah kubilang juga jangan memikirkan hal yang tidak jelas dan aneh!” Hyemin memajukan bibirnya sebal. Oh Sehun benar-benar seorang cenayang. Atau karena wajah lugunya itu yang membuat Sehun dapat membaca pikirannya? Tidak, tidak. Sehun itu seorang cenayang!

“Kim Hyemin, aku bisa salah mengartikan kelakuanmu saat ini, lho.” Hyemin dapat melihat senyum mengerikan Sehun yang terlukis jelas di wajah datar lelaki itu. Memangnya kelakukan ia saat ini seperti apa?

Sehun mendekatkan wajahnya, ia memojokkan Hyemin pada dinding. “Sudah kubilang aku bisa salah mengartikan ini.” Sehun menyentuh bibir bagian bawah Hyemin sembari tersenyum yang menyebalkan juga mengerikan bagi Hyemin.

“Maksudmu apa, sih?”

Sehun menghela nafas. “Kau ingin aku cium, ya? Sejak tadi memajukan bibirmu terus.”

Hyemin mendorong Sehun hingga lelaki itu menjauh. “Dasar mesum! Menyebalkan! Mengerikan! Cenayang! Kau—“

Sehun dengan segera membungkam bibir Hyemin yang setengah berteriak. Gadis ini tak sadar ia sedang di mana, ya? Kim Hyemin, dasar kekanakkan.

“Kau itu berisik sekali. Jangan berisik. Kalau kau berisik, aku akan menciummu lebih lama hingga kau hampir kehabisan nafas!” ancam Sehun dengan smirk di wajahnya. Hyemin menatap Sehun tajam. “Kau ingin aku mati, ya?”

Sehun tersenyum. “Tidak mati dalam kata yang sebenarnya. Aku akan membuatmu mati karena tak bisa lepas dari pesonaku.” Hyemin bersungut menatap Sehun yang menyebalkan. Sehun terlalu percaya diri sekali. Ia memiliki percaya diri yang sangat tinggi. Wajar saja sebenarnya karena Sehun seorang idola di negara mereka, namun kepercayadirian Sehun itu sudah di atas dari batas normal.

“Menyebalkan!”

Hyemin memalingkan wajahnya, kembali menatap layar di depannya. Ia melipat tangannya di depan dadanya, dan sekali lagi tanpa sadar memajukan bibirnya, membuat Sehun semakin gemas saja pada gadis itu.

“Memang seperti itu, bukan?” Sehun meletakkan dagunya di bahu sebelah kiri Hyemin, mengeluarkan wajah imutnya. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Hyemin, membuat Hyemin risih. “Oh Sehun, jauhkan wajah dan tanganmu itu!”

Suara pelan Hyemin membuat Sehun terkikik geli. Hyemin terlihat seperti hantu gadis kecil yang sedang berbicara. Terdengar mengerikan, tetapi membuat gemas siapapun.

Sehun semakin mengeratkan pelukannya, ia menggeleng kepalanya. “Sirheo, kalau aku lepaskan nanti sayangku ini malah kabur.” Sehun menggembungkan pipinya saat Hyemin menatapnya dengan tatapan tajam, seakan-akan berkata kau-menggelikan-Oh-Sehun.

“Menyebalkan!”

“Aku memang menyebalkan, Sayang. Tapi, kau akan tetap menyukaiku, ‘kan?”

Hyemin menatap Sehun tajam. “Siapa yang menyukaimu?”

Oh Sehun benar-benar seorang cenayang! Saat ini ia bisa merasakan apa yang kurasakan padanya? Astaga, ini bahaya!

Sehun berdeham. “Aku yang menyukaimu.”

“A, Apa katamu?”

TBC

HAI SEMUA! Maaf banget ya aku baru post ff ini. Aku abis mudik jadi kesempatan menyentuh laptop kecil banget. Dan lagi ga ada wifi kekekeke~ maaf jika di chap ini rada aneh atau ngaco hehehe

Udah chap 7 nih. Gimana yaaaa kisah cinta Sehun dan Hyemin? Hehet~

Ditunggu next chapnya yaa. Don’t forget to RCL, Readers.

-xoxo-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

43 pemikiran pada “Stuck ( Chapter 7)

  1. Uhuk…..
    manis… Banget..
    Diabet jadinyaa….
    Akkkk hyemin jujur aja napa sih
    dan haha evil maknae senior VSevil maknae jr…
    author… Buruan update ya
    Plisss
    FIGHTING thor!!!!!
    author jjang….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s