The Raspberry ( Chapter 8 : Afraid? )

The Raspberry (chapter 8: Afraid? )

 2014-04-13-22-51-39_deco

Author:            laelynur66

 

Main cast:        Kim Jongin (Exo)

                     Oh Sohee a.k.a Raisa Oh (Oc)

                     Oh Sehun a.k.a Daniel Oh (Exo)

                     Xi Luhan (gs) (Exo)

                     Byun Baekhyun (gs) (Exo)

 

Support cast:     all member Exo

                     Zico Block B

                    Zelo BAP

                     Taehyung BTS

                     Daehyun BAP

 

Length:            chapters

 

Genre:             romance, family, friendship (entahlah, mungkin genrenya akan berubah tiap chapter, mungkin)

 

Rating:             PG-17

 

Author note:

 

 

 

 

Dengan ujung jemarinya, Luhan menyentuh tiap benda yang ada di kamar Sehun, matanya pun menyapu segala penjuru kamar Sehun, kamar dengan nuansa hitam putih yang mendominasi, bebarapa poster anime menempel pada dinding yang bercat seperti papan catur, sementara sang pemilik kamar sendiri berada di balik pintu kamar mandi. Ia berjalan menuju ranjang raksasa milik Sehun, mendudukkan dirinya di sana, mengusap lembut sprei dari kain linen yang lembut, aroma khas lelaki serta aroma pafum Sehun yang manis bercampur menjadi satu memenuhi kamar Sehun, khas para lelaki dengan kamar yang sedikit berantakan, buku-buku dan majalah serta beberapa pakaian berserakan. Luhan mengamati meja yang ia yakini sebagai meja belajar Sehun yang dipenuhi figura-figira poto. Ia mengalihkan perhatian pada lemari kaca yang dipenuhi dengan miniature robot gundam dan beberapa tokoh anime serta miniature mobil-mobil sport buatan Eropa yang tertata rapih, kekanakan namun begitu melambangkan karakter seorang Oh Sehun, membuat Luhan tersenyum sebelum berdiri dan mendekati meja belaja Sehun, mengamati satu persatu poto yang terletak di sana.

Senyumnya semakin lebar tatkala mendapati sebuah figura foto dengan objek sosok Sehun usia tujuh tahun tengah memeluk seekor anjing shiberian husky dan tersenyum lebar menampakkan gigi depannya yang ompong. Luhan terkikik geli, menikmati foto di tangannya.

“apa yang kau lakukan?”

Suara serak Sehun membuat Luhan terlonjak kaget dan spontan berbalik menatap Sehun dengan membekap figura poto Sehun di dadanya.

“Lu?”

Luhan menggeleng saat Sehun melirik figura foto di tangannya.

“jangan katakan!” desisi Sehun. Ia menjulurkan lehernya mengintip meja di belakang Luhan kemudian menggeram kesal. “kemarikan!” tambahnya saat tersadar.

“tidak!”

“Lu!” Sehun menggeram.

“tidak, tidak, tidak!” tolak Luhan dengan gelengan antuasias.

Sehun menghela nafasnya, matanya melirik pintu kamarnya yang tertutup, dalam hati ia bersyukur memilik keluarga yang menghargai privasinya, setidaknya tidak akan nada yang masuk ke kamarnya sebelum mengetuk pintunya, sekalipu itu adalah kedua adik kembarnya yang kelewat bandel. Matanya lalu berpaling menatap kepala Luhan yang tertunduk.

“Lu..” gumamnya lagi. Luhan kembali menggeleng.

“baiklah, kau yang memaksaku” ujar Sehun, sebelum mengulurkan tangannya menumpukannya pada ujung meja di belakang Luhan memenjarakan Luhan dalam kukungannya.

Luhan mengangkat kepalanya memberanikan diri menatap Sehun, “tidak bisakah aku memilikinya?” cicit Luhan.

Oh, tentu saja kau bisa memilikinya, kau bisa memiliki semua yang kumiliki Luhannie sayang, batin Sehun. Tetapi berbanding terbalik dengan hatinya, Sehun menggeleng “tidak” ujarnya tegas.

“Sehunnie….” Rengek Luhan.

“tidak Luhan! tidak” tegas Sehun.

Luhan memajukan bibirnya kesal, membuat Sehun tergoda untuk mengecup bibir Luhan singkat dan Luhan semakin cemberut ketika Sehun benar-benar melakukannya.

“kau curang!” pekik Luhan dan berusaha melepaskan dirinya dari kukungan Sehun.

“apapun itu sayang, demi dirimu” lirih Sehun serak, ia melepaskan cengkramannya pada meja di belakang Luhan dan naik mengusap rambut keemasan Luhan mendorong tengkuk kekasihnya mendekat sebelum menekankan bibirnya pada bibir Luhan, melumat bibirnya, membuat sang kekasih terbuai dan melupakan segalanya. Ya segalanya.

Kenyataannya memang seperti itu, akal sehat Luhan akan menghilang seiring dengan perlakuan Sehun padanya, bagaimana bibir Sehun yang lembut menari di atas permukaan bibirnya mematikan seluruh sarafnya, impuls ke otaknya bahkan berhenti, membuat seluruh otot di tubuhnya tidak berfungsi. Luhan bahkan tidak menyadari saat tangan Sehun menjangkau figura poto di tangannya, tanpa melepaskan tautan bibir mereka, Sehun meletakkan kembali benda itu pada meja di belakangannya. Sehun merunduk saat Luhan berjinjit dan kedua lengan Luhan merangkul lehernya pelan dan sebagai balasan ia memeluk pinggang Luhan menahan bobot tubuh Luhan, ini memang bukan yang pertama lagi bagi keduanya, tapi entah mengapa setiap mereka berciuman seperti ini, semuanya tampak luar biasa, di mana tidak ada lagi moment lebih indah seperti itu di sekitar mereka.

Luhan terpekik ketika merasa tubuhnya terangkat melawan gravitasi, Sehun mengangkat tubuhnya dan membawanya entah kemana tanpa melepaskan bibir mereka. Ia terperanjat saat tubuhnya terhempas di atas ranjang dengan Sehun yang menindihnya dan menunduk menatapnya tepat di mata. Betapa Sehun memuja kecantikan Luhan, kecantikan yang bahkan dewi aphrodith pun akan menyesal karena mewariskan kecantikan padanya, kecantikan mustahil yang bisa di miliki orang kebanyakan, kecantikan yang hanya dimiliki Luhan, Luhannya..

“se..” belum sempat Luhan mengucapkan sesuatu Sehun kembali menunduk menciumnya lembut, menyapukan kembali bibirnya di atas bibir Luhan. dan saat Luhan memilih membalas ciumannya, Sehun menangkup sisi wajah Luhan, ciumannya semakin dalam dan penuh sayang, membuat Luhan terenyak. Jemari kurus Luhan menyisir helaian rambut pirang Sehun yang halus, ia menyukai aroma sampo yang tertinggal di rambut Sehun, begitu lembut sekaligus tegas.

Sehun mnejauhkan wajahnya dan berganti mencumbu leher Luhan, membuat Luhan mendesah pelan, jemarinya mencengkram kaus Sehun kuat. Saat itu matanya menangkap sesuatu di atas sana, tepatnya di atas langit-langit kamar Sehun, Luhan tersentak dan dengan kasar mendorong tubuh Sehun menjauh darinya.

“Luu!” Sehun menggeram kesal karena kesenangannya terhenti.

Luhan melirik Sehun yang berbaring terlentang di sampingnya tengah memijit pelipisnya.

“apa?” Tanya Sehun sengit.

“kau berselingkuh!” pekik Luhan.

“hahh?” Sehun menatapnya heran. selingkuh? Selingkuh?

“siapa dia!” seru Luhan dan menunjuk poster ukuran jumbo yang tertempel di langit-langit kamar Sehun tepat berada di atas ranjangnya.

Sehun tertawa serak membuat Luhan mendelik kesal padanya, Sehun lalu beringsut dari tempatnya, mendekatkan dirinya pada tubuh Luhan, tangannya menjangkau tangan Luhan dan meremasnya lembut.

“hei, kenalkan dia Luhan.. kekasihku” ucap Sehun sembari menatap poster Miranda Kerr di atas sana. “walaupun ia tidak secantik dirimu—“ Sehun tersenyum saat Luhan mendengus kesal padanya “tapi aku mencintainya.. mencintainya dengan segenap jiwaku” Sehun melanjutkan dan semakin mengeratkan remasannya pada jemari Luhan. Luhan dengan cepat berbalik menatap pada wajah Sehun dan menjulurkan lehernya memberikan kecupan singkat pada pelipis namja itu.

“kuharap, ia akan seterusnya bersamaku..” lirih Sehun membuat Luhan mendorong dirinya masuk ke dalam dekapan hangat pemuda itu, membenamkan wajahnya pada dada bidang Sehun, menghirup aroma tubuh Sehun yang menguar dari sana.

Sehun tertawa serak sebelum membalas memeluk Luhannya dengan sayang.

Ini rumit. Ini terlalu rumit.. Luhan membatin.

 

 

***

 

 

“jadi?” Tanya Sehun yang sedang berdiri di ambang pintu kamar Sohee.

“jadi apa?” Tanya Sohee heran.

“Kai belum menghubungimu?” Tanya Sehun. Sohee mengerutkan keningnya heran.

“tadi dia meminta izin padaku untuk membawamu pada pestanya Chen..” tambah Sehun.

“ahh..” Sohee menyadari sesuatu lalu berdiri dari kursi yang dudukinya. “jam berapa sekarang?” Tanya Sohee.

“sebentar lagi jam tujuh tepat” sahut Sehun.

“oh, shit! aku lupa” seru Sohee dan belari pada lemari wardrobenya.

“kau akan pergi juga?” Tanya Sohee dengan berteriak.

“hmmm” sahut Sehun dan melirik ke bawah pada ruang keluarganya di mana Luhan tengah bermain bersama kedua adiknya dan Suho serta Yixing yang menjadi penonton. Tadi setelah makan siang bersama, Luhan memilih tinggal untuk bermain sebenarnya Zico dan Zelo yang memaksanya.

“aku duluan yah!” seru Sehun dan berlalu dari pintu kamar Sohee, samar ia bisa mendengar gumaman Sohee dari balik lemari wardrobenya.

 

 

***

 

 

Di dalam ruangan kamar yang gelap, hanya cahaya lampu yang masuk dari celah tirai jendela yang sedikit tersibak. Seorang duduk di tepi ranjangnya, mengamati dua benda yang ia pegang di kedua tangannya. matanya mengamati sebuah botol kecil berwarna cokelat kemudian berganti menatap pada tangan kanannya di mana ia menggenggam tiga buah butir pil dan kapsul yang berbeda… ia menghela nafasnya dalam sebelum meletakkan botol ada meja kecil di sisi ranjangnya dan menjangkau gelas air yang terletak di sana, meneguk butiran pil tersebut sekaligus, matanya terpejam ketika basahnya air beserta pil-pil yang melewati tenggorokannya. Tangannya terulur memijit pelipisnya dengan kedua jari telunjuk dan jempolnya sebelum, tangannya menjangkau ponselnya yang tergelatak di samping gelas air yang sudah kosong….

“hyung” sapanya ketika saluran teleponnya tersambung.

“…”

“ah, ne, maaf hyung..” ia mendesah pelan dan kembali meletakkan ponselnya. Ia mendesah pelan.

“jong? Jongin?”

Ia tersentak saat seseorang memanggilnya dan mengetuk pintu kamarnya pelan. Suara itu. Ia begitu mengenalinya, denan sigap ia memasukkan botol kecil itu ke dalam laci, sebelum beranjak dari tempatnya membukakan pintu bagi sang pemanggil.

“eomma?” serunya saat mendapati wanita paruh baya yang telah melahirkannya itu berdiri di depan pintu kamarnya masih lengkap dengan setelan kantornya.

“hmm, eomma tidak jadi lembur! Mau makan malam bersama?” tawarnya sembari tersenyum.

Jongin menunduk menatap pakaian yang ia kenakan.. “tapi eomma…”

“ah, kau akan pergi?” Jongin mengangguk singkat.

“aku..”

“tidak apa, Jongin..” potong eommanya. “apa kau sudah mengunjungi kakekmu?” tambahnya, membuat Jongin menghentikan kegiatannya, dan berbalik menatap eommanya dengan alis terangkat.

“besok, besok aku akan mengunjungi pak tua itu” sahut Jongin datar. Eommanya tertawa ringan.

“pak tua itu kakekmu yang menanggung segala fasilitasmu, sekali-kali menginaplah di sana” ujar eommanya dan mengusap pelan kepala Jongin. Dan Jongin hanya menggeram kesal pada kenyataan yang baru saja dibeberkan oleh eommanya mengenai kakeknya.

 

 

 

***

 

 

 

Sohee berdiri dengan bersandar pada tembok batu pagar rumahnya, menunggu Jongin yang akan menjemputnya, mengingat itu membuatnya merona mengingat ini adalah kencan pertama mereka, pertama dalam artian saat hubungan mereka telah resmi. Ia menyeka rambutnya ke balik punggungnya, rambut cokelat susunya sengaja ia urai dan menyematkan bandana lembut dari sutera di puncak kepalanya. Ia mengenakan sundress cantik berwarna kuning gading sebatas lutut dengan bordiran bunga-bunga mawar serta renda-renda manis di ujung pangkal gaunnya. Wedges dengan warna senada bajunya ia kenakan di kaki mungilnya, tas selempang kecil yang hanya memuat ponselnya menggantung di pinggangnya.

Ini adalah pengalaman pertamanya menghadiri pesta di luar dari pesta resmi yang diadakan perusahaan dadnya yang biasa mewajibkan seluruh anggota keluarga menghadirinya, ini adalah pesta nonresmi pertamanya, membuatnya bingung mengenakan apa, setalah mendapat masukan dan bantuan dari Yixing unninya, ia memilih mengenakan sundress cantik itu. Sohee mendongak menatap pada ujung jalan, belum ada tanda-tanda kemunculan Jongin membuatnya kembali menunduk memainkan karikil dengan ujung sepatunya, ia meringis pelan, saat cahaya lampu jalan menerpanya dari balik pohon-pohon cherry yang menandakan hari beranjak gelap, tapi Jongin… ia terperanjat saat sebuah aventador putih (cek coba mobil ini, ini kece sumpahh) menepi di hadapannya, suara desisan mesinnya yang selembut genta angin membuat Sohee tidak menyadari keberadaan mobil yag dikendarai oleh, Jongin…

“hai manisss..” sapa Jongin menggoda dari dalam mobil tanpa atap tersebut.

Sohee memberengut padanya dan mendelik saat Jongin melepas kacamata hitam yang dikenakannya membuat Jongin terlihat seperti aktor utama dalam film action yang sesekali ia tonton bersama Sehun. Dan ia tersenyum saat Jongin menggiringnya, membukan pintu penumpang di sisi kanan mobil mempersilahkannya masuk ke dalam mobil sport mewah tersebut.. tidak lama hingga Jongin kembali duduk di belakang kemudi kembali mengenakan kacamata hitamnya dan menjalankan mobilnya dengan kecepatan rata-rata membelah jalanan kota Seoul di mana mereka menjadi sorotan, mengingat betapa mencoloknya aventador putih Jongin itu.

 

 

 

***

 

 

Suara dentuman music keras bertalu-talu memenuhi indara pendengaran Sohee bahkan saat ia masih berada di pelataran parkir. Ia tersenyum saat matanya menangkap MClareen kuning Sehun yang terparkir tidak jauh dari tempatnya serta Skyline putih milik Chanyeol yang itu artinya ada Baekhyun di sana. Namun Tangannya berkeringat entah mengapa perasaan tidak enak juga sedikit menghantuinya, namun semua itu lenyap saat tangan Jongin menggenggam jemarinya lembut dan menuntunnya berjalan melewati taman yang membatasi antara pelataran parkir serta rumah mewah tempat pesta diadakan.

Jongin mendorong pelan pintu ganda yang terbuat dari kayu mahoni dihadapanya, seketika itu juga dentuman music semakin memekakkan telinga Sohee, cahaya remang-remang karena karena lampu utama dimatikan berganti dengan kerlap-kerlip lampu redup berwarna-warni seolah ia berada di club malam, membayangkan seperti itu membuat perutnya tiba-tiba mual dan semakin mengeratkan pegangannya pada Jongin. Ada begitu banyak orang yang berlalu lalang di hadapannya, bau alcohol yang bercampur dengan aroma parfum mahal yang seperti membuat hidungnya terbakar bercampur menjadi satu, semua ini terlalu asing baginya.

“Jong!” Sohee memanggil Jongin yang berjalan di depannya, namun tidak mendapat respon.

“Jongin!” panggil Sohee lagi, berhasil membuat pemuda itu menoleh padanya. Sohee meringis pelan dan perlahan menggeleng pada Jongin, entah untuk apa. Ia tersentak saat Jongin mendekat padanya dan menariknya mendekat dengan melingkarkan satu lengannya pada pinggang Sohee, membuatnya tertunduk malu. Ia bahkan bisa merasakan tatapan menusuk dari beberapa yeoja yang lewat di hadapannya dengan mendelik tidak suka padanya. bukan tanpa alasan Jongin melakukannya, ia menyadari keadaan, dan ia hanya tidak mau terjadi sesuatu yang tidak diinginkannya pada Sohee, mengingat eerrrr.. tatapan yang ditujukan pada Sohee.

“sebentar saja, kita temui Chen, lalu pergi dari sini” bisik Jongin di telinga Sohee mengangguk dan merona malu mengingat posisinya begitu intim dengan Jongin di tengah kerumunan orang banyak. Walaupun ada begitu banyak pasangan yang tengah bercumbu di sekitarnya tapi tetap saja ia merasa malu.

Mereka berjalan menaiki tangga setelah tadi berhenti sejenak pada mini bar di mana seorang bartender sedang meracik minuman dan menjulurkannya pada Jongin yang di terima oleh Jongin namun Jongin sama sekali tidak meminumnya.

“Chen” seru Jongin pada seorang pemuda tampan yang tengah memegang tongkat billiard.

“Kai! Kau datang!” Suara cempreng namun merdu itu terdengar di antara hiruk pikuk pesta serta music yang berdentum keras.

Jongin mengangguk sekilas dan berganti menatapi sekelilingnya.

“aku tidak bisa lama!” ucap Jongin dan melirik Sohee yang menyembunyikan diri di balik punggungnya. Chen mengangguk mengerti dan kembali sibuk pada meja billiardnya.

“kenapa Kai?” bersenang-senanglah dulu!” seru seorang pemuda dengan suara beratnya, membuat Jongin berbalik padanya.

“hai, sobat! Lama tidak berjumpa” seru Jongin padanya dan menjabat tangannya.

“hmmm” namja itu mengangguk pelan.

“yak, Bang Yongguk! Giliranmu!” teriak seorang pemuda cantik di balik pemuda dengan suara berat tadi.

“aku, duluan!” pamit Jongin dan kembali menuntun Sohee menjauh dari tempat itu.

Sohee menatap sekelilingnya, mencoba mencari keberadaan Baekhyun dan Sehun, tapi tidak, sejauh ia memandang hanya orang asing yang ia temukan, serta beberapa wajah yang cukup familiar baginya. Jongin sedang berbicara dengan beberapa temannya, masih dengan memegang tangan Sohee, seolah tidak ingin melepas Sohee dan Sohee bersyukur karenanya, ia tidak tau apa yang akan terjadi pada dirinya jika ia berkeliaran seorang diri pada pesta seliar ini.

Ia tersenyum saat menemukan keberadaan seorang yang begitu dikenalinya tengah berdiri menyandarkan dirinya pada tembok dengan segelas minuman di tangannya.

Baekhyun.

Mulut Sohee terbuka hendak memanggilnya namun terhenti saat seorang pemuda—yang Sohee yakini adalah Chanyeol—mendekati Baekhyun menariknya ke dalam pelukan namja itu dan mencium bibir Baekhyun panas, membuat Sohee merona dan memalingkan mukanya ke arah lain.

Ia tersentak ssaat lengan Jongin memeluknya, tidak, sebenarnya hanya melingkarkan kedua lengannya pada pundak dan perlahan menariknya menjauh, menjauhi seorang yeoja berambut merah terang menyala yang sedang menatap mereka sendu…

 

 

 

***

 

 

 

Sohee melirik Jongin dengan ujung matanya, pemuda itu tengah menatap kosong pada gelap malam di hadapannya, kedua tangannya mencengkram setir mobilnya kuat hingga buku-buku jarinya memutih, wajahnya tegang menyimpan berbagi macam emosi di sana. Mereka masih berada di pelataran parkir rumah mewah tadi, tidak ada yang bersuara di antara keduanya hanya dentuman musik yang terdengar serta beberapa suara binatang malam yang samar terdengar.

Sohee memberanikan dirinya menyentuh lengan Jongin dan menatap wajah pemuda itu, seolah bertanya ada apa.. wajah Jongin seketika membaik, ketegangan di wajahnya berubah menjadi lembut saat matanya menatap wajah Sohee yang panik.

“Jong, are you okay?” Tanya Sohee pelan.

Jongin mengangguk sebelum menarik Sohee ke dalam dekapannya, memeluknya erat, menyalurkan segalanya lewat pelukannya..

“jong, ada apa?” Tanya Sohee samar teredam dada Jongin.

“namanya Krystal, Krystal Jung..” lirih Jongin di telinganya, membuat tubuh Sohee menegang. Krystal Jung? Siapa?

Sohee melepaskan dirinya dari pelukan Jongin dan menatap Jongin meminta penjelasan.

Jongin menghela nafasnya, “kau harus percaya padaku, saat ini, aku hanya benar-benar mencintaimu… tidak ada yang lain…aku..” Jongin tersentak saat tangan Sohee menangkup kedua pipinya “aku percaya Jongin, apapun itu, aku percaya… mau berbagi cerita?” ujar Sohee sembari menatap dalam mata pemuda tersebut.

Jongin mengecup sekilas bibir Sohee “tidak di sini, kajja!” seru Jongin kemudian menyalakan mesin aventador putihnya dan berlalu dari pelataran parkir kembali membelah jalanan malam kota Seoul.

 

 

***

 

 

“ugh, sialan!” Sehun memaki dirinya sendiri saat tidak menemukan Luhan di tempat terakhir ia meninggalkan kekasihnya itu. Dengan tergesa ia kembali mengitari ruangan yang di penuhi sesak manusia yang tengah menikmati dentuman music serta minuman di tangan masing-masing, menggumamkan kata maaf pada semua orang yang id tabrak ataupun yang nyaris ia tabrak.

Ia menghembuskan nafasnya lega saat mendapati sosok Luhan tengah duduk pada sofa merah di sudut ruangan, dengan langkah lebar ia berjalan menghampiri Luhan.

“Lu..” panggil Sehun, tangannya menahan tangan Luhan yang hendak menegak minuman pada gelas di tangannya. Sehun mneggeram kecil ketika menyadari wajah Luhannya memerah bahkan mulutnya meracau kata-lata yang kurang jelas di telinga Sehun.

Dengan kasar Sehun merebut gelas di tangan Luhan mnyesapnya sedikit dan meringis saat panasnya alcohol membasahi lidahnya. Demi Tuhan, siapa yang menyediakan minuman beralkohol di pesta ini? Matanya menyalang menatap sekitarnya, ia baru menyadarinya minuman di tangan orang yang Lewat di hadapannya pun sama dengan yang di teguk Luhan, matanya beralih menatap sudut lain dari ruangan tersebut di mana sepasang kekasih sedang bercumbu, membuatnya mengernyit jijik. Oh ayolahh, ini di tengah keramaian.

“Sehunnieee…” desah Luhan.

“Luhan, kau mabuk!” ucap Sehun tegas.

“no, no, no..” Luhan mengelengan kepalanya, imut

Sehun menghempaskan dirinya duduk di samping Luhan, mencengkram kuat pundak yeoja itu “lu, kau..” Sehun mengernyit saat menghirup aroma pekat alcohol dari mulut Luhan “kau mabuk!” lanjutnya. Dan lagi-lagi Luhan menggeleng pelan dengan mata setengah terpejam..

“Luu…” Sehun mneggeram pelan saat Luhan merangkak naik dan duduk di pangkuannya.

“Sehunniieee…” kekeh Luhan, ia mendekatkan wajahnya pada wajah Sehun, menatap Sehun dengan mata sayunya.. “Sehunniieee… aku suka sekali dengan…” tangan Luhan terangkat mengusap garis rahang Sehun dengan intim, membuat Sehun menahan nafasnya, tentu saja, dirinya lelaki dan disuguhkan oleh wajah sang kekasih yang tengah mabuk, dan menatapnya dengan tatapan sayu, di tambah kekasihnya itu duduk di atas pangkuannya, membuatnya..

“Lu.. Luhan” Sehun tersedak ludahnya sendiri saat Luhan menciumi garis rahangnya dan sesekali menjilatinya. Sehun mendorong tubuh Luhan menjauh.

“eung… Sehunnieeee..” Luhan merengek seperti seorang balita yang permennya di rebut, membuat Sehun—.

“Lu..” Sehun bungkam, bungkam ketika Luhan menekankan bibirnya pada miliknya, melumat bibirnya pelan, menghisapnya, menarikan lidahnya pada permukaan bibir Sehun, membuat bulu kuduk Sehun merinding.. tidak, ini salah… ini…Sehun membatin, menjaga akal sehatnya tetap pada posisinya. Ia mendesah pelan saat lidah Luhan menerobos masuk, menggelitik rongga mulutnya. Seketika itu akal sehatnya menghilang entah ke mana, membiarkan hasrat lelakinya menunutunnya. Dan Sehun tidak terkejut lagi saat mendapati tangannya sendiri menekan pelan tengkuk sang kekasih, membalas ciuman panas Luhan, mengusap punggung kekasihnya itu intim.

Ia tersentak, ketika matanya beradu dengan mata cokelat yang memicing tajam menatapnya penuh amarah, pemuda pirang pemilik mata tesebut mengenggam gelas di tangannya dengan kuat, menghasilkan retakan-retakan kecil pada gelas tersebut, nyaris membutnya pecah.

Dengan sedikit kasar Sehun mendorong tubuh Luhan. “Lu, kita pulang!” tegas Sehun dan menuntun Luhan berdiri, memapahnya berjalan, meninggalkan pesta liar yang sama sekali tidak akan terbersit lagi di benaknya untuk menghadiri pesta seperti itu.

Dengan membungkuk Sehun memasangkan sabuk pengaman pada tubuh Luhan, setelah sebelumnya memastikan posisinya nyamann ia tersenyum kecil saat mendengar igauan tidak jelas Luhan, Sehun mengecup kening yeoja itu sebelum menutup pintu mobilnya.

‘bugghhhh’

Sehun terdorong ke belakang ketika seseorang memukul wajahnya dengan sekuat tenaga.

“what the—“ Sehun memaki sembari memegang wajahnya yang ia yakini memar di bagian pipi kanannya.

Pemuda tinggi berambut pirang itu menatapnya garang “kau.. seharusnya kau menyadari posisimu!” bentak pemuda tersebut, penuh amarah. Tangannya terulur mencengkram kerah kemeja yang digunakan Sehun.

“cih” Sehun mendecih, semakin menyulut emosi pemuda tesebut.

‘buggh’

Satu pukulan kembali di wajah Sehun, kali ini ia bahkan merasakan pekatnya darah di mulutnya.

“dia, milikku! Dan selamanya akan menjadi seperti—“

‘bughhh!”

Sehun melayangkan tinjunya pada namja itu bahkan sebelum perkataanya berakhir.

“milikmu? Siapa yang kau maksud? Aku, aku pemiliknya” Sehun berteriak tepat di depan wajah pemuda tersebut dan kembali melayangkan tinju di wajahnya, membuatnya limbung ke belakang dan Sehun meringis pelan, saat merasakan jemarinya kebas.

“sialan!” pemuda tinggi itu menerjang Sehun hingga terjatuh di tanah, duduk tepat dia atas tubuh Sehun, memukuli wajahnya tanpa ampun.

“dia, milikku! Xi Luhan milikku! Milik Wu Yifan!” geram pemuda pirang itu. Sehun kewalahan, penglihatannya bahkan memburam akibat darah yang merembes dari plipisnya. Ia tidak boleh menyerah, tidak aku tidak boleh menyerah sekarang, Sehun membatin. Dengan segala sisa tenaga yang dimiliknya ia, menerjang tubuh pemuda di atasnya dan membalikkan posisinya, menghajar dan memukuli wajah arrogant di bawahnya hingga tenaganya tidak bersisa lagi.

“kau, kau sudah membuangnya! Dan aku yang memilikinya sekarang!” pekik Sehun penuh kemarahan. Ia menunduk menatap wajah hancur di bawahnya “ingat itu, kau sudah membuangnya..”

Sehun lengah, pemuda itu menendang tepat di perutnya, membuat Sehun terbatuk dan mengeluarkan darah segar dari mulutnya, tubuhnya menghantam tanah dengan keras, pendangannya semakin memburam, rasa besi di mulutnya semakin keras terasa, nafanya terputus-putus dan Sehun hanya bisa menangis saat pemuda itu, membawa Luhannya pergi. Pergi darinya.. dan perlahan ia kehilangan kesadarannya..

 

 

 

***

 

 

 

Sohee mendongak menatap wajah Jongin yang terus diam. Setelah meregangkan punggungnya yang bersandar pada dada Jongin, ia duduk di antara kedua kaki Jongin dengan kedua lengan Jongin yang memeluk pinggangnya erat.

“Jong?”

“hmm?”

“kenapa kau membawaku kemari?” Tanya Sohee, matanya mengamati sekitarnya, entah ia berada di mana, sepanjang ia melihat hanya gelap dan hamparan lapangan rumput yang luas, pencahayaan pun hanya berasal dari lampu mobil Jongin yang terparkir tidak jauh dari mereka dengan mesin yang masih menyala—Sohee selalu merasa takjub akan deru msin mobil Jongin yang lembut seperti genta angin.

“mmmm, entahlah!” sahut Jongin dengan menumpukan dagunya pada puncak kepala Sohee.

“Joong!” Sohee mencubit lengan Jongin kesal.

“tunggu sebentar lagi ne..” dan Sohee manganggguk.

“lalu, bagaimana dengan Krystal?” Sohee kembali mendongakkan kepalanya menatap wajah Jongin yang seketika mengeras mendengar nama itu disebut olehnya.

Jongin menghembuskan nafasnya kasar “dia… Dia temanku dulu. Kami, kami sudah bersama sejak kami balita…”

“lalu?” Sohee memiringkan kepalanya meminta Jongin melanjutkan ceritanya.

“dua tahun yang lalu, saat aku baru lulus junior high school…” Jongin mengambil jeda sebentar “aku mengungkapkan perasaanku padanya, bahwa aku menyukainya dan ingin hubungan kami lebih dari sekitar sahabat” tambah Jongin dengan suara pelan.

“lalu?”

Jongin menautkan alisnya “kau tidak cemburu?” tanyanya heran.

“cemburu? Untuk apa? Dia hanya masa lalumu..” jawab Sohee tenang, membuat Jongin sedikit cemberut. Sama sekali tidak mengerti jalan pikiran kekasihnya itu.

Jongin menarik nafasnya “tapi dia… tidak mengatakan apapun, dua hari setelah kejadian itu ia pindah ke jepang tanpa memberi tahuku sama sekali, klise memang dan itu—“

“dan kau sakit hati karenanya?” sahut Sohee. Jongin mengangguk singkat “dan sekarang tiba-tiba ia kembali?” Tanya Sohee. Jongin kembali mengangguk.

“apa kau masih menyukainya?” Tanya Sohee lagi, membuat Jongin mengerutkan alisnya heran.

“hei, mengapa kau bertanya pertanyaan seperti it pada kekasihmu?” protes Jongin tidak terima.

“aku hanya bertanya! Apa kau masih menyukainya atau tidak?” Sohee membela dirinya.

“tentu saja tidak, bukankah sudah ada kau? Sudah ada Oh Sohee di sini” seru Jongin dan menunjuk jantungnya, mau tidak mau Sohee tersenyum.

“aku tidak apa kalaupun kau masih menyukainya..” tambah Sohee, membuat Jongin melepaskan pelukannya pada Sohee.

“jadi itu artinya bahwa kau tidak mencintaiku?” Tanya Jongin sedikit emosi.

“tidak! Tentu saja tidak!” Sohee menggelengkan kepalanya antusias.

“lalu?”

“aku Cuma bilang kau boleh menyukainya tapi sebagai sahabatmu, karena orang yang kau cintai itu aku! Oh Sohee!” seru Sohee dan berbalik menghadap Jongin sembari menunjuk dirinya sendiri.

Jongin tertawa serak sebelum menarik Sohee ke dalam pelukannya, memeluk yeoja itu penuh sayang.

“kurasa sudah mulai” ucap Jongin tiba-tiba dan melepaskan pelukannya pada Sohee.

“ehh? Apa?” Sohee mendongak menatap Jongin.

“tunggu sebentar” Jongin berdiri dan membantu Sohee berdiri juga, berjalan menuju mobilnya, mematikan mesin dan lampunya.

Seketika gelap gulita membuat Sohee mengeratkan pegangannya pada tangan Jongin..

“Jongin, kau menakutiku” gumam Sohee.

“ohh, ayolahh… sebentar lagi.. nah itu mereka..”

Sohee terpekik dengan suara tertahan ketika matanya mendapati pendar-pendar cahaya yang berkerlap kerlip, terbang melayang di sekitarnya dan Jongin.

“Jongin, ini—“

“kunang-kunang.. cantik bukan?” sela Jongin dan mendapat anggukan dari Sohee. mata Sohee bersinar menatap heran dengan cahaya yang berkerlap kerlip di sekitarnya itu.

“dari mana kau tau?” Tanya Sohee.

“aku selalu ke sini, tapi hanya setiap musim panas kunang-kunang itu akan keluar” jawab Jongin, tangannya menangkap beberapa ekor hewan tersebut. “Sohee..” panggilnya serak.

“hmm?” gumam Sohee tanpa mengalihkan perhatiannya dari kerlap-kerlip di hadapannya.

“aku memetikkan bintang untukmu” ujar Jongin pelan.

“ehh? Benarkah?” Tanya Sohee dengan berbalik menatap Jongin penasaran.

“mmm.. ini..” Jongin meletakkan tangannya yang terkatup di depan wajah Sohee. Sohee menautkan alisnya heran kemudian ekspresi herannya berubah menajdi senyuman lebar saat Jongin membuka tanganya yang terkatup, membuat belasan ekor kunang-kunang berterbangan di depan wajahnya membawa kerlap-kerlip yang cantik.

Jongin terdorong mundur saat Sohee meloncat dan menerjangnya dengan pelukan, tawa seraknya lolos dari mulutnya kemudian membalas memeluk Sohee, mengangkat tubuhnya beberapa inchi dari tanah membawanya berputar-putar di tempat. Betapa ia akan bahagia bila yeoja dalam pelukannya itu bahagia juga.

“hei Sohee?”

“hmm??”

“aku, mungkin tidak bisa selamanya bersamamu..” Jongin menelan ludahnya saat Sohee berbalik menatapnya heran “maksudk—“

“ya?“

“sudahlah Jongin, jangan lanjutkan!”

“hahahah” Jongin tertawa serak “aku hanya ingin bilang, jika aku tidak lagi di sampingmu, aku ingin menjadi salah satu bintang di atas sana menyinari malammu, tapi jika Tuhan tidak menjadikan aku bintang, setidaknya aku ingin menjadi kunang-kunang saja, mereka sama, bercahaya…”

soooo…. Chessyy…”

“setidaknya, berterima kasihlah!” gerutu Jongin.

“terima kasih, terima kasih Jongin..”

 

 

 

***

 

“ada apa?” Tanya Jongin tanpa mengalihkan perhatiannya pada jalan di hadapannya.

Sohee menoleh padanya dengan sedikit panik “entahlah, momku beberapa kali menelon tapi—“ Sohee menunjukkan ponselnya pada Jongin, ponsel dengan layar lebarnya yang mati.

Jongin tersenyum tipis, ia memikirkan mengapa Sohee begitu menyukai menggunakan ponsel dengan layar lebar yang bahkan dengan kedua tangannya pun ia tida bisa memegang benda itu sepenuhnya.

“gunakan ponselku saja” ujar Jongin kemudian merogoh saku celananya dan menjulurkan ponselnya ada Sohee yang menerimanya dengan senyuman.

“bagaimana?” Tanya Jongin setelah melihat Sohee membawa ponselnya pada telinganya. Dan Sohee menggeleng “tidak di angkat”

Jongin menganguk mengerti.

“entahlah Jong, perasaanku sedikit tidak enak sekarang..” lirih Sohee.

everything’s gonna be okay…” bisik Jongin, tangannya terulur menggenggam lengan Sohee, menyalurkan sedikit kekuatannya pada kekasihnya yang tengah mengangguk patuh di sampingnya.

 

 

***

 

 

Sehun berjalan terseok dipapah oleh Kyungsoo yang tidak henti-hentinya bertanya ‘siap yang melakukan ini padanya’. Tangannya sedikit bergetar ketika mengetuk pintu rumah di depannya, ia takut jika Sohee atau siapapun yang membukan pintu dan melihatnya dalam keadaan menyedihkan seperti ini akan histeris bahkan lebih parah akan pingsan—hal ini kemungkinan besar akan terjadi jika momnya yang membuka pintu untuknya—, rasa sakit di tubuhnya sama sekali tidak sebanding dengan hatinya, luka di wajahnya tidak sebanding dengan luka yang menganga di hatinya, betapa ia ingin menagis mearung-raung dan sekencang yang ia bisa..

“Sehun, siapa—“ dan perkataan Kyungsoo terputus oleh jeritan histeris momnya yang membuka pintu di depannya dan menatap horror bercampur panik padanya, tidak lama hingga isak tangis penuh kehisterisan terdengar dari mulut momnya, tidak lama lagi sampai pekikan histerisa juga dari kedua adik kembarnya dan hebusan nafas berat dari hyungnya yang kemudian membantu Kyungsoo memapahnya masuk, menuju kamarnya.

Sehun berbaring terlentang dia atas ranjangnya, menatap kosong pada poster Miranda Kerr di atas sana “pada akhirnya, memang hanya kau yang tidak meninggalkanku.” Lirihnya entah pada siapa. Di atas meja kecil di samping ranjangnya tergeletak, beberapa bungkus obat penghilang sakit serta antibiotik ia sudah meminumnya tadi, tapi tetap saja, pil-pil obat tersebut tidak mampu menghilangkan rasa sakit di hatinya… tangannya terangkat menyentuh pelipisnya yang mendapat dua hingga jahitan oleh Minseok sepupunya, lalu turun menyentuh sudut bibirnya yang masih terasa perih, mungkin obat yang diminumnya tadi belum begitu bereaksi. Ia menoleh ketika seorang membuka pintu kamarnya dan berjalan mendekatinya.

“Sehun-ah” suara lembut itu, Yixing noonanya duduk di pinggir ranjangnya, tangannya terulur mengusap rambut Sehun lembut.

Tangan Sehun terangkat, meremas jemari unninya itu, di saat seperti ini hanya Yixing yang bisa berpikir jernih atas segala apa yang terjadi padanya, hanya dia yang bisa berbicara banyak tanpa isak tangis serta pekikan histeris, tidak seperti momnya ataupun Sohee yang terus menangis melihat keadaannya, atau Suho yang merasa sangat terpukul dan menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi padanya.

“mau bercerita?” Tanya Yxing lembut.

Sehun mengangkat kepalanya dan meletakkannya di atas pangkuan Yixing, bersikap manja ada kakak iparnya tersebut bukanlah sekali dua kali ia melakukannya dan semua itu selalu berhasil membuatnya nyaman dan tenang saat menghirup aroma manis lemonade yang bercampur aroma bayi yang menguar dari tubuh Yixing.

“noona”

“hmm?”

Sehun menarik nafasnya panjangnya “aku mencintainya noona, yang bahkan aku sendiripun tidak menyangka akan merasakan perasaan seperti itu seumur hidupku” lirih Sehun.

Yixing tersenyum “lalu? Kenapa kau tidak melanjutkan saja? Maksud noona, melanjutkan mencintainya?”

Sehun menggeleng di atas pangkuannya “tapi saat aku mencintainya, saat itu pula aku merasakan sakit, sakit di sini..” Sehun mengangkat tangannya menyentuh dadanya.

“mencintai seseorang itu, tidak akan pernah tidak sakit Sehun-ahh.. noona mencintai hyungmu juga tak lepas dari rasa sakit” jelas Yixing membuat Sehun memiringkan kepala menatapnya. “rasa sakit atas cibiran dari orang yang memandang noona sebelah mata” lanjut Yixing, matanya menerawang jauh, mengingat semua caci maki yang ditujukan padanya karena mencinta dan bersama Suho.

Sehun ingin bertanya mengapa, namun ia mengurungkan dan memilih melanjutkan ceritanya “tapi noona, bagaimana jika dia bukan milik noona? Maksudku, dia tidak diperuntukkan noona?” tanyanya pelan “dia milik orang lain..” tambahnya lirih.

Sehun mendengar noonanya iu menarik nafasnya sebelum menjawab “seperti halnya dengan bunga mawar Sehun-ahh, kau melihat bunga itu begitu cantik, hingga perasaan ingin memilikinya begitu besar muncul di hatimu, tapi ada konsekusensi dari itu semua, mungkin jarimu akan terluka tertusuk oleh durinya… jika mencintai seseorang cobalah umpamakan mereka seolah bunga anggrek, bunga anggrek tidak hanya cantik tapi juga bersahaja, sehingga jika kau ingin mengambilnya kau harus mengambilnya beserta batang tempat ia hidup, membuatmu mungkin menjadi enggan mengambilnya, dan membiarkannya pada tempatnya semula..”

Sedikit banyak Sehun paham akan apa yang dijelaskan Yixing, membuatnya terdiam dengan segala macam pemikiran di kepalanya bercampur aduk. “tapi aku.. mencintainya” lirih Sehun pelan. Dadanya sesak oleh persaan yang campur aduk, ia ingin menangis, bolehkah?

“mencintai itu, tidak selamanya harus saling memiliki bukan? Tergantung dari dirimu sendiri bukan? Jika kau beruntung kau akan bersamaya.. jika tidak, kau harus tetap bersyukur karena mencintainya…” sahut noonanya, tangannya mengacak lembut rambut Sehun, membuat Sehun terenyak dan perlahan namun pasti isakan halus lolos dari bibir Sehun. Ia menangis, mennagis di atas pangkuan noonanya, menangis mengeluarkan segalanya. Mnnagis hingga ia jatuh terlelap, memimpikan segala hal yang inah besamanya…

 

 

 

***

 

 

 

Jongin terduduk di sisi ranjangnya dengan kaki yang menjuntai ke lantai serta kedua tangannya yang mencengkram kepalanya melawan rasa sakit yang di rasakannya di sana. Beberapa butir obat telah ia teguk, hanya tinggal menunggu reaksinya yang sepertinya sebentar lagi akan ia rasakan. Nafasnya meburu hebat, keringat menetes dari pelipis turun ke dagunya pendingin ruangan yang menyala tak lantas membuat keringatnya mengering. Saat ia merasakan reaksi obat yang ia teguk mulai menjalar ke seluruh tubuhnya, kedua tangannya melepas cengkraman pada kepalanya dan berindah mencengkram sprei ranjangnya kuat. Tidak sampai matanya menangkap sebuah note di atas meja kecil di samping ranjangnya… ada deretan Hangeul di sana, deretan kalimat doa yang selalu terselip di sakunya di akhir hari saat sekolah berakhir di penghujung minggu… doa yang indah..

Tuhan..

Aku tak tau apakah besok malam aku masih bisa mengucapkan doa yang sama

Terbersit rasa takut

Kuharap ini wajar

Pinta terbesarku, Tuhan…

Pulangkan aku dalam keadaan yang baik

Kapan pun itu…

 

Jongin tersentak membaca doa tersebut, membuatnya meneteskan airmata. Doa tersebut adalah salah satu hal indah yang Sohee berikan padanya, selain bisikan di telinganya “jangan lupa besok ke gereja” setelah Sohee memberikan kecupan singkat di pipinya setelah ia mengantarnya pulang di penghujung minggu. Ataupun terkadang Sohee akan bersamanya berdoa di gereja pada minggu pagi yang cerah dan sedikit demi sedikit hatinya menjadi sedikit tenang dan damai.

Seolah tidak mau terlalu berlarut-larut, Jongin meletakkan kertas tesebut di atas meja. Menjangkua ponselnya menghubungi seseorang.

“hyung” serunya saat panggilannya terangkat.

“…”

“aku.. ingin menanyakan prosedur operasinya hyung… dan apa efek samping dari operasi itu..” ucap Jongin dengan suara bergetar.

“…”

“baikla hyung, aku akan ke tempatmu besok..”

 

 

***

 

 

 

“oppa?” panggil Sohee pada seorang yang tengah berdiri di depan pintu lemari pendingin yang setengah terbuka dengan satu tangan memegang gagang pintu, dan satu memegang ponselnya di telinga.

“ehh, Sohee?” sahut orang tersebut dan buru-buru menutup pintu lemari pendinga di depannya serta menaruh ponselnya di saku celananya.

“apa yang oppa lakukan?” tanya Sohee dan menarik sebuh kursi di meja makan sebelum menjatuhkan dirinya duduk di sana.

“oppa baru pulang… dan sedikit haus.. kau?” sahutnya.

Sohee mengendikka bahunya, matanya menatapi sosok di depannya itu, celana jeans berwarna biru tua, kemeja cokelat tua yang dikenakannya terdapat noda tepung di sana. “aku hanya lapar oppa..”

“pada jam seperti ini?” Sohee mengangguk mengiyakan “mau oppa buatkan sesuatu?” dan Sohee kembali mengangguk antusias.

Sohee tau profesi oppanya tersebut. Kim Minseok, sepupunya, yang tinggal bersama mereka, di pagi hari ia menghabiskan waktunya di rumah sakit dengan memeriksa dan mengobati pasien dan saat malam menjelang ia kan berubah menjadi seorang koki pada sebuah restorant italia terkenal di Seoul, terkadang Sohee tidak habis pikir, bagaimana oppanya itu bisa dengan lihai membagi waktunya, seolah 24 jam dalam sehari saja tidak cukup baginya untuk beraktivitas, bisa menemukannya saja di rumah itu adalah hal paling luar biasa baginya, mengingat Minseok pulang di saat ia sudah tidur dan kembali pergi saat ia belum terbangun.

“oppa membuatkan apa untukku?” Tanya Sohee dengan melongokkan kepalanya pada counter dapur tempat Minseok meleksanakan pekerjaannya.

“pasta, tidak masalahkan?” sahut Minseok tanpa mengalihkan perhatiannya pada semua bahan di hadapannya.

Sohee mengangguk pelan, pasta memang terdengar biasa, tapi lain cerita jika yang membuatnya adalah seorang chef lulusan pastry terbaik dari unversitas terkenal di Italia dan memiliki pengalam menjadi koki di berbagai macam restaurant italia.

“salmon atau daging?”

“salmon!” jawab Sohee cepat. Tiba-tiba ia mengingat Jongin yang sangat menyukai salmon fillet dengan perasan lemon, membuatnya tersenyum kecil.

“kenapa kau tersenyum?” Tanya Minseok dan menatap Sohee heran. Sohee menggeleng pelan.

Tidak lama hingga sepiring pasta dengan warna merah, dan aroma tomat yang manis teridang di hadapan Sohee yang tersenyum bahagia hanya karena sepiring pasta.

“enaaakk…” seru Sohee, membuat Minseok tersenyum dan mengusap pelan kepala sepupunya..

“oppa, ponsel oppa bergetar” Sohee menunjuk pada ponsel Minseok yang tergeletak di meja tidak jauh darinya.

“oppa, angkat ne?” Tanya Minseok dan mendapat anggukan dari Sohee dengan mulut penuh pasta. Namun matanya tidak berpaling dari sosok sepuunya itu yang mengerutkan keningnya menatap pada layar ponselnnya.

“…”

“ahh, ne. ada apa?”

“…”

“besok, datanglah ke tempatku… aku akan menjelaskannya padamu, oke?”

“…”

Minseok kembali meletakkan ponselnya di meja.

“siapa?” Sohee bertanya sembari menyendokkan pasta ke mulutnya.

“pasien oppa.. nikmati pastamu ne, oppa ke kamar dulu!” Sohee lagi-lagi hanya mengangguk mengiyakannya saat Minseok berdiri pada tempatnya dan berlalu meninggalkan ruang makan.

 

 

***

 

 

Luhan membuka matanya, dan kembali memejamkannya ssat matanya belum terbiasa dengan cahaya yang memenuhi ruangan, kepalanya terasa berat dan dengan tangan yang terangkat memijit pelipisnya pelan, ia berusaha mengingat apa yang telah terjadi adanya hingga kepalanya begit—ingatan berputar kembali saat ia bersama Sehun… tunggu, Sehun? Luhan membatin. Dan dengan sekali hentakan ia bangkit dari tidurnya mengenyahkan rasa pusing di kepalanya, matanya menyalang menatap sekelilingnya. Ini, ruangan ini sedikit familiar baginya, tapi ini bukan kamarnya. Tapi… Sehun, Sehun! Di mana dia? Luhan menyapukan pandangana ke segala penjuru, tubuhnya menegang saat seseorang membuka pintu di sudut ruangan dan ia benar-benar ingin muntah ketika mengenali seorang yang membuka pintu terebut adalah…

“Kris?” Luhan menggumam saat namja tinggi itu berjalan mendekat padanya dengan secangkir kopi di tangannya.

Kris tersenyum, senyum yang mengerikan menurut Luhan “bagaiman tidurmu?” Tanya Kris sembari meletakkan cangkir berisi kopi pada meja kecil di samping tempat tidur.

“bagaima bisa?? Dan mana Sehun?” Tanya Luhan nyaris menjerit.

Kris menunduk menatap Luhan dengan sedikit mengintimidasi lalu mngendikkan bahunya enggan menjawab

“Kris. Kumohon!” lirih Luhan berjalan mendekat padanya berdiri berhadapan dengan pemuda pirang itu.

Kris menjulurkan tangannya, mengusap pipi Luhan lembut “kau milikku..” ucapnya serak.

Luhan menggeleng “tidak, Kris! Kita sudah berakhir.. kita tidak bisa lagi bersama” sahut Luhan dengan menggelengkan kepalanya.

“kenapa? kenapa seperti itu?” gumam Kris pelan.

“kau tau alasannya Kris dan kumohon berhentilah bersikap seolah kau tidak mengetahuinya” kata Luhan tegas.

“aku tau itu Luhan, tapi kenapa? kenapa kau tidak ingin berjuang bersamaku? Berjuang mempertahankan hubungan kita, berjuang melawan keinginan orang tua kita..”

“Krisss!” Luhan menjerit memotong perkatan Kris. “semuanya sudah terlambat. Aku dan kau sama-sama harus menerimanya, kita tidak bisa bersama!” tambahnya dengan nada tinggi

“harusnya kau tau betapa aku membenci ibumu yang merebut ayahku dari ibuku, dan bagaimana aku ingin membunuh ayahku yang menyebabkan ibuku meninggalkanku untuk selamanya!” Kris berujar sedikit berteriak di depan wajah Luhan, membuat Luhan bergetar takut, menatap ekspresi wajah Kris yang… mengerikan.

Luhan menundukkan wajahnya “harusnya, kau juga tau, betapa aku membenci ibuku yang mengkhianati ayahku demi ayahmu…” lirihnya pelan.

“lalu kenapa? kenapa kau membiarkan mereka bersama dan mencampakkanku?” tanya Kris dengan suara bergetar.

“Kriiiss, aku tidak mencampakkanmu.. aku hanya… kita tidak bisa bersama lagi setelah pernikahan itu, kita..” Luhan menjerit frustasi saat Kris mendorong tubuhnya, menghempaskannya di atas ranjang, menindih tubuhnya dan menciumi bibirnya kasar. Luhan memberontak, berusaha melepaskan dirinya, tapi tidak Kris mencengkramnya terlalu kuat, membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali menangis dalam diam, menangis dengan beruarai airmata. Ia tersentak saat merasakan beberapa tetas air jatuh membasahi pipinya dan ia tertegun mendapati Kris menangis, Kris meneteskan airmatanya.

Kris menjauhkan wajahnya dan menatap Luhan dengan mata yang berurai airmata “Luhan kumohon..” pintanya sepenuh hati, agar yeoja yang ia cintai itu mengerti perasaannya. Dan saat kepala Luhan menggeleng pelan ia sadar tidak ada lagi tempat untuknya di hati yeoja itu, tidak ada, kecuali..

“gege..” panggil Luhan lirih, membuat hatinya perih.

 

Dan semenjak ada dia

Kamu bukan kamu yang seperti dulu

Tiada lagi kisah indah dan kini kusendiri

Berteman bayangmu

Malah kini berganti sunyi sepi untukku

Meskipun engkau telah pergi

Mungkin takkan kembali

Aku di sini tetap di sini sayangku

Aku masih sayang padamu

Aku masih rindu padamu

Meski kini cintamu bukan aku

Dan kini aku tau jendela hatimu tertutup untukku

Ingin kulihat lagi wajah yang selalu kurindu

Ingin rasa aku berlari

Walau hanya mengejar mimpi…

 

Kris hanya terdiam di tempatnya dengan berbagai perasaan sedih, marah, kecewa, sakit bercampur menjadi satu di kepalanya. Tapi apa yang bisa ia lakukan? Tidak ada. Kecuali membiarkan yeoja yang di cintainya berjalan meninggalkannya. Meninggalkannya di belakang. Tanpa menoleh sedikitpun.

 

 

***

 

 

Mata Sehun mengikuti momnya yang berjalan menuju pintu rumah mereka, sedari tadi bel berbunyi, tapi ia enggan bergerak dai posisinya, duduk dengan nyaman di atas sofa sembari memainkan joystick di tangannya. seluruh penghuni rumah sudah pergi sedari tadi, yang tertinggal hanya dirinya serta momnya dan Yixing yang memang tidak memiliki kegiatan di luarnya. Seharusnya dirinya berangkat sekolah bersama Sohee tadi, jika saja momnya tidak histeris mengingat luka di wajahnya belum sembuh sepenuhnya. Tidak, bukan hanya itu, dirinya pun belum siap untuk bertemu dengannya di sekolah. Dan ia sedikit bersyukur karena saudaranya yang lain tidak menanyakan lebih lanjut apa yang terjadi dengan dirinya, ia hanya mengatakan seseorang yang mabuk memekuli dirinnya, dan ia juga bersyukur mereka percaya akan semua kebohongannya.

“seseorang ingin bertemu denganmu!” kata momnya ketika berjalan di hadapannya dengan sekeranjang buah tropis di tangannya. Barulah Sehun mengalihkan perhatiannya dari layar lebar di depannya.

“siapa?” tanyanya singkat.

he said, he is your friend!” sahut momnya.

Dengan malas Sehun meletakkan joystiknya, berjalan menuju ruang tamu rumahnya. Ia mengerutkan alisnya, siapa? Tanyanya dalam hati. Seorang namja menggunakan seragam sekolahnya dengan rambut bewarna hitam dan ekspresi wajah yang sedikit mengerikan menurutnya. Ia tidak pernah melihatnya..

“hai” orang itu ramah. Dalam hati Sehun mengelus dadanya, suaranya terdengar ramah berbanding terbalik dengan ekspresi wajahnya.

“nugu..”

“aku Tao, Huang Zi Tao” orang itu memotong perkataan Sehun.

“lalu?”

“duduklah dulu..” titahnya pada Sehun, Sehun mau tidak mau mendekat dan duduk pada sofa berseberangan dengan pemuda tersebut.

“jadi Tao-ssi, apa yang membawamu kemari, aku bahkan tidak mengenalmu” ujar Sehun dengan sedikit nada ketus.

Ia tersenyum tipis, hanya mengangkat salah satu sudut bibirnya “kau memang tidak mengenalku.. tapi aku yakin kau pasti mengenal Kris wu? Atau mungkin kau mengenal Luhan?”

Tubuh Sehun menegang mendengar Tao menyebutkan kedua nama tersebut, terlebih lagi ia menyebutkan nama Luhan.

“lalu?”

Tao menarik dan menghembuskan nafasnya “aku datang kemari untuk meminta maaf atas nama Kris..”

Sehun mendengus pelan, minta maaf? Tinggi sekali harga dirinya dengan membawa orang lain untuk meminta maaf padanya.

“jika kau pikir aku adalah suruhan Kris, kau salah.. aku yang berinisiatif sendiri melakukannya” Sehun tertegun heran, seolah ia bisa membaca pikirannya.

“lalu apa hubungan semua ini dengan..”

“Luhan?” lagi-lagi Taa memotong perkataan Sehun dan menebak isi kepala Sehun.

Sehun mengangguk kecil.

“aku, berterima kasih padamu karena berani merebut Luhan..”

“merebut? Hei, aku tidak merebutnya! Kris fucking Wu itu yang melepasnya!” Sehun memotong perkataan Tao sedikit tidak menerima pernyataannya

“aku tau, sekarang dengarkan aku bercerita tanpa perlu kau memotongnya! Oke?” pinta Tao dan Sehun mengangguk.

“Kris dan Luhan, dulu mereka sepasang kekasih, mereka saling menyayangi.. tapi..” tao mengambil jeda dan mengamati Sehun yang tidak mengubah ekspresinya sama sekali.

“ayah Kris dan ibu Luhan, mereka saling mencintai dan, mereka bersama tanpa mempedulikan perasaan anak mereka..”

“demi tuhan!” pekik Sehun tidak percaya.

“aku belum selesai, kau tau!” herdik Tao. Dan Sehun meminta maaf dengan bergumam.

Tao melanjutkan “Hingga puncaknya, ibu Kris, bunuh diri di saat ia akan melaksanakan konser tunggalnya… kau pasti mengenalnya, ia penari balet terkenal di dunia.. dan semua itu membuat Kris sangat terpukul, ia menjadi sangat protektif dan bahkan possesif pada Luhan, kau taukan jika impian Luhan menjadi seorang penari professional? Kris mengetahui itu, dan ia mati-matian melarang Luhan melakukannya, hanya karena ia tidak mau Luhan menjadi seperti ibunya. tidak lama setelah itu, Luhan memutuskan hubungan mereka, mengingat mereka telah menjadi saudara, walaupun tiri.. tapi Kris, ia sama sekali tidak ingin mereka berakhir, ia ingin mereka berjuang. Tapi Luhan.. ia tidak mau melanjutkannya, sebenarnya semua itu bukan alasan bagi Luhan, Luhan hanya ingin impiannya terwujud menjadi penari professional dan ia ingin memfokuskan segalanya di sana. Kris benar-benar kehilangan kendali, Luhan meninggalkannya dan ia juga kehilangan ibunya, kau bisa membayangkan perasaannya bukan?”

Sehun terdiam tidak mampu berkata apapun, bahkan memikirkannya pun ia tidak mampu.

“jadi itu alasan Kris..”

“jadi kumohon, kau harus tetap bersama Luhan. apapun yang terjadi, kau harus terus mendukungnya.. hanya kau yang bisa, kau yang bisa menemaninya mencapai impiannya” Tao mengakhiri kisahnya.

“sebenarnya apa hubunganmu dengan semua ini?” Tanya Sehun

“Luhan, Luhan itu sepupuku dan aku ingin melihatnya bahagia. Dan selama ia bersamamu, aku melihatnya bahagia, melihatnya sinarnya kembali..” tambahnya lagi.

Dan Sehun hanya terdiam di tempatnya bahkan ketika Tao pamit pulang pada momnya, ia berusaha mencerna segalanya. Hanya satu, satu yang ia ingin tau jawabannya.. apa Luhan juga mencintainya?

 

 

 

***

 

 

Halooo.. kembali lagi.. ampuuun jangan timpukin saya…

Gimana? Panjangkan? Hahahahha, lagi semangat banget nih… mungkin in untuk yang terakhir, izinkan saya pamit dulu hendak mengurusi KRS (yang kuliah pasti tau dehh). Teruuuuusssssssssssssssss, ini tamatnya yah chapter sepuluh mungkin? Hahahahahaha…… kalian pasti kesel karena lama banget apdetnya, iya saya jga kadang ngerasain gaenak banget nunggu ff yang saya baca di apdet, apalagi ff paporit saya itu syukur2 kalo sebulan sekali si authornya ngapdet, biasanya dua bulan sekali malah,, huuuffffttt.. kok curhat sihh? Wkwkwkwkwkw.

Ehh, betewe saya baru namatin, baca arbitrage, sama anterograde tomorrow sama a thousand September lohhhhh… versi inggrisnya pulaaa.. hahahahh, sok banget yahh,, padahal indonya juga ada.. gasihh, supaya feelnya gahilang ajja gitu kalo baca ori nya.. hahah, bahasa inggris ajja dapet standar mulu d esema udah syukur. Dan dari ketiga cerita itu, KENAPA BANGET JONGIN YANG HARUS MATI??? Apa saya udah bilang di sini jongin juga bakalan mati? Mungkin saya terinspirasi dari ketiga ff di atas. Hahhaha,, ampun.. udah deh itu ajjaaa..

Oh yah, our story juga lagi di ketik niihh, udah mmm 3k word lebih masih mau nambah shhh, tinggal edit sana-sini dan apdet kalo sempet.. hehehehe.. byeee~~~

Oh yahhh, mmmmm ada yang udah baca 10080? Aku maua baca itu ahhh,, telat banget yah? Sebenarnya aku udah tau lama, tapi baru sekarang keburu bacanya.. ehh, katanya mengharu biru banget yak itu? Kekekekekee. Sama tuh kaya anterograde tomorrow, buset dah tuhh mewek darah saya bacanya..

Udah ah.. byee~~

@campus @FKG = fakultas kelebihan gadis.. wokwowkwokwowkowok

Betewe saya lagi overdosis lagu-lagunya akmu a.k.a akdong musician niihhh..

13 pemikiran pada “The Raspberry ( Chapter 8 : Afraid? )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s