Werewolf Beside You ( Chapter 3 )

Werewolf Beside You

 Fanfiction poster (WEREWOLF BESIDE YOU by @fireyeols)

늑대 인간, 당신 옆에 (Chapter 3)

by Ayeolaa Park

Cast: Lee Sara, Park Chanyeol (as Werewolf), Park Chanyeol (as Human), Kim Jongin, Wu Yifan, and other cast || Length: Multichapter || Genre: Fantasy, Tragedy, and Romance.

Ratting: PG

Inspiration: Novel/Movies: Werewolf Boy (90% IDE SENDIRI)

Disclaimer:

PURE CREATED BY ME! NO PLAGIARISM!

DO NOT COPY-PASTE WITHOUT MY PERMISSION!

Maaf, typo bersebaran dimana-mana. Bahasa dan penggunaan kata mungkin jauh dari kata bagus. Masih amatir dan mainstream karena baru pemula. Well, happy reading!

Pertemuan singkat antara 2 makhluk yang berbeda… Dan terasa seperti ‘dejavu’.

“Perkenalkan… Aku… Aku Lee Sara. Penghuni baru rumah sebelah.”

“Aku Park Chanyeol.”

 

Rasa ‘cinta’ adalah perasaan yang baru ia rasakan membuatnya merasa lemah.

“Chanyeol… Bolehkah aku mencintaimu?”

“Kupikir… Aku tidak pantas untuk kau cintai, Sara.”

“Tapi… Aku rasa… Aku mencintaimu, Park Chanyeol.”

“Aku juga mencintaimu, Lee Sara.”

Namun, mereka harus berpisah karena adanya perbedaan.

 

 

 

CHAPTER 3…

 

—Gangwon-do Yanggu, December, 1964—

 

Sara termenung manis di jendela kamarnya. Tubuhnya sudah segar, dan sweater putih sudah rapih ia kenakan. Hampir setiap hari dia mengenakan sweater musim dinginnya. Karena, salju masih menutupi jalananan Gangwon-do dan udara masih belum ternetralisasi dengan minimnya pencahayaan matahari yang kurang hangat.

Ia melirik jam dindingnya, masih pukul setengah tujuh pagi. Sedangkan dia sudah rapih. Dia menunggu jendela yang ada diseberang jendela kamarnya terbuka. Jendela rumah tua bercat putih itu. Ia menunggu Chanyeol bangun. Teman barunya.

Apa Chanyeol sudah bangun? Jendelanya belum dibuka…

Batinnya. Ia segera beranjak dari tempat termenungnya dan melangkah ke arah dapur. Ibunya sedang memasak rupanya. Sedangkan adiknya sedang berkonser ria menyanyikan lagu anak seusianya di kamar mandi.

Tiba-tiba, ide manis datang. Ia meminta bahan makanan untuk membuat bubur gandum, ia ingin memasakkan makanan untuk Chanyeol. Untungnya, ibunya dengan berbaik hati memperbolehkannya Sara untuk membuatkan Chanyeol sarapan. Dengan satu alasan, ibunya ingin berkenalan dengan Chanyeol.

Sara berpikir sejenak, kemudian menyetujui permintaan ibunya. Chanyeol juga akan mau berkenalan dengan ibunya dan menyetujui untuk mengaku menjadi seorang manusia biasa sementara.

Sara segera mengambil bahan makanan yang ada di lemari makanan dan menaruhnya di keranjang. Ia ingin melihat Chanyeol kagum akan kepintarannya memasak. Walau hanya memasak masakan sederhana.

Ia pun berjalan dan menghirup udara dingin kawasan Gangwon. Butiran salju menghantam permukaan wajah dan rambutnya seketika. Ia sudah sampai rupanya, segera ia membuka pagar yang tak terkunci dan berjalan manis ke arah pintu rumah Chanyeol. Ia berdiam diri dan berpikir sejenak, mungkin saja Chanyeol belum bangun. Ia pun mencoba membuka langsung pintunya. Betapa kagetnya Sara, bahwa rumah Chanyeol tak terkunci.

Ia segera berjalan masuk ke rumah yang megah milik Chanyeol. Matanya langsung menatap terkejut Chanyeol yang sedang tertidur di sofa ukuran besar tepat di tengah ruangan. Mata Chanyeol masih menutup damai bagaikan anak anjing yang sedang tertidur di sisi induknya.

Chanyeol masih tidur rupanya.

Batinnya dan terkekeh kecil di hadapan Chanyeol yang masih tertidur. Kakinya melangkah ke arah dapur. Ia segera membuka lemari dapur. Mengeluarkan panci dan sendok sayur. Ia pun mulai memasak.

Saat sedang asyiknya Sara memasak, hidung Chanyeol mengendus-endus. Ia mencium bau makanan. Mata Chanyeol membuka perlahan dan langsung menatap ke arah dapurnya. Ia memekik tertahan, ternyata tepat di dapurnya seorang gadis sedang memasak. Ia kenal betul, itu Sara. Teman barunya.

Chanyeol baru sadar, semalaman ia tidur di sofa. Ia ketiduran. Kakinya berjalan pelan ke arah dapur dan sering kali ia mengusap kedua matanya dengan tangan yang seadanya. Masih dengan wajah yang mengantuk, ia menyentuh bahu Sara. Sara pun memekik kaget melihat Chanyeol yang baru bangun. Matanya mengerjap melihat Chanyeol yang baru saja bangun tidur. Rambutnya acak-acakan menambah kesan ketampanannya. Namun, Sara melihat jelas, ada kantung mata yang cukup besar di mata bulat Chanyeol.

“Mwohaneungoya?” Tanya Chanyeol polos, sontak membuyarkan lamunan Sara yang sedaritadi mengagumi ketampanan Chanyeol. Chanyeol benar-benar mencuri pandangan Sara lebih dari lima detik.

“Se… Sedang membuatkanmu sarapan, C-chanyeol.” Jawab Sara geragapan dan mencoba memfokuskan matanya pada panci.

“Untuk siapa? Untukku?” Tanya Chanyeol meyakinkan. Sara mengangguk malu sambil tersenyum, walau tak menghadap ke arah Chanyeol, Chanyeol masih membalas senyuman Sara.

Sara mengambil sebuah sendok dan mengambil sesendok bubur dari panci untuk mengetes rasa. Sebelumnya, ia meniup pelan buburnya. Kemudian ia suapkan sendiri ke mulut kecilnya. Ia mengangguk senang karena bubur buatannya tidak gagal. Ia kembali menyendokkan bubur dari panci kemudian meniupnya juga. Lalu, ia menyodorkan sesendok bubur itu ke mulut Chanyeol.

“Aaaa.” Ucap Sara ke arah Chanyeol. Chanyeol tersenyum dan membuka pelan mulutnya. Ia langsung menelan bubur yang Sara suapkan untuknya.

Eottokhae?” Tanya Sara takut. Takut-takut, seleranya tak sama dengan selera Chanyeol. Untungnya Chanyeol mengangguk sambil menaikkan ibu jari tangan kanannya ke arah Sara. Sara pun terkekeh dengan perilaku Chanyeol yang lucu.

“Pasti kau lapar. Duduklah, aku akan menyiapkannya.” Perintah Sara lembut, Chanyeol pun menurutinya dan segera mendudukkan tubuh jangkungnya di kursi.

Sara menuangkan pelan bubur gandum yang ia buat ke atas mangkuk. Tak ingin membuat Chanyeol menunggu, Sara segera berjalan ke arah meja makan dengan semangkuk bubur hangat di tangannya. Tak lupa, ia selalu menyunggingkan senyum untuk Chanyeol seorang tentunya.

Cha~ Spesial buatan Sara untuk Park Chanyeol!” Seru Sara sumringah sambil menyodorkan mangkuk yang ia bawa, masih dengan senyum merekah di bibir kecilnya. Kemudian ia melipat kedua tangannya di atas meja. Manis.

Chanyeol pun menyendokkan bubur gandum buatan Sara. Tak lupa, sebelumnya ia meniup terlebih dahulu untuk menghilangkan rasa panas pada bubur. Saat sendokkan kedua, Chanyeol memberikannya kepada Sara. Sara terkejut dengan sesendok bubur yang Chanyeol sodorkan tepat pada bibirnya.

“Aaaa.” Ujar Chanyeol, Sara pun membuka mulutnya pelan. Ia pun langsung menelan bubur itu sehingga masuk melewati kerongkongannya. Chanyeol pun tersenyum dengan deretan giginya rapih. Sangat tampan.

“Chanyeol, apa kau tidur cukup semalam?” Tanya Sara membuka pembicaraan. Chanyeol pun terdiam. Chanyeol baru sadar, semalaman ia menangis meratapi nasibnya yang sekarang. Ia bernostalgia dengan kenangannya 5 tahun yang lalu. Oleh karena itu, matanya kini berkantung.

“Chanyeol… Kau… baik-baik saja kan?” Tanya Sara lagi, sontak membangunkan lamunan Chanyeol.

Gwaechana! Terimakasih sudah membuatkanku sarapan.” Ungkap Chanyeol berbohong. Ia semakin menundukkan kepalanya karena ia telah berbohong pada gadis semanis Sara.

Setelah Chanyeol menghabiskan sarapannya, ia segera ke kamar mandi. Sedangkan Sara menunggu sambil menyuapkan bubur gandum yang ia buat sebagai cemilan. Tapi, anehnya Sara, ia tak mengganti mangkuk bekas Chanyeol makan. Karena, mangkuk yang masih berbentuk dengan baik hanya satu. Sara memang gadis yang sederhana.

Dengan jaket abu-abu dan celana panjang, Chanyeol sudah selesai mandi. Sara mengerjap ke arah Chanyeol, apa yang Chanyeol pakai, terlihat pas dan tampan di mata Sara.

“Chanyeol, aku ingin memperkenalkanmu kepada ibuku. Ibuku ingin bertemu denganmu.” Pinta Sara sesopan mungkin. Chanyeol sempat berpikir keras.

“Baiklah. Apa aku mesti berbohong?” Ungkap Chanyeol kemudian, seakan tau apa yang Sara pikirkan sebelum berpikir untuk memperkenalkan Chanyeol kepada ibunya. Sara terlihat berpikir keras, apa mau ibunya mengizinkan dirinya untuk berteman dengan makhluk seperti Chanyeol?

“Itu tergantung padamu, Chanyeol.” Jawab Sara sambil menunduk dalam. Chanyeol tak tega melihat Sara yang nanti pasti kesusahan mencari alasan mengapa Chanyeol tak ingin berkenalan dengan ibunya.

Melihat perilaku Sara yang sekarang, membuat Chanyeol merasa tidak enak dengan kebaikan Sara. Bagaimanapun, kebaikan Sara juga karena kebaikan ibunya juga. Chanyeol pun menggapai dagu Sara dan menaikkannya agar menatapnya.

“Untukmu, aku mau.” Ungkap Chanyeol lembut dan sangat manis di dengar. Sara pun tersenyum kepada Chanyeol. Ia tak merasa lelah memberikan Chanyeol seribu senyum. Entah mengapa, Sara sangat ikhlas memberikan senyum untuk Chanyeol.

Mereka berdua pun beranjak dari kursi dan segera keluar, menghirup udara segar namun dingin menusuk kulit. Mereka berdua pun berjalan bersama. Layaknya sepasang kekasih, sangat romantis.

Mereka melihat seorang anak kecil berumur 5 tahun sedang bermain salju. Anak itu mirip dengan Sara, tak lain adalah Aera, adik Sara. Saking asyiknya bermain salju, Aera tak menyadari keberadaan kakaknya dan seorang pria jangkung yang ada disamping kakaknya.

“Eh, eonn—“ Ujar si kecil Aera, kata-katanya terputus saat melihat Chanyeol yang berdiri di samping Sara. Ia mengangakan mulutnya lebar melihat Chanyeol.

“Aera, perkenalkan. Ini temanku, Park Chanyeol.” Ujar Sara, Chanyeol pun tersenyum ke arah Aera yang sedang menganga memandangi Chanyeol.

“Park Chanyeol.” Ucap Chanyeol memperkenalkan.

“Waa, suaramu besar sekali!” Jawab Aera sumringah mendengar suara berat dan besar Chanyeol.

“Eish, perkenalkan dirimu dulu, Aera. Dan jangan ada sebutan ‘kamu’, panggil Chanyeol oppa, arraseo?” Perintah Sara, Aera pun mengangguk.

“Lee Aera, Park Chanyeol oppa!” Ujar Aera menggemaskan. Chanyeol terkekeh dan juga senang, jarang sekali ada seseorang yang memanggilnya dengan sebutan ‘oppa’. Mengingat, dirinya adalah seorang anak bungsu di keluarganya dulu.

“Apa yang sedang kau lakukan, Aera?” Tanya Sara sambil mengacak-acak rambut halus kecoklatan milik Aera.

“Membuat manusia salju. Oppa, bantu aku ya? Jebal…” Ucap Aera memelas sambil menggenggam tangan kanan Chanyeol. Chanyeol tampak bingung dengan permintaan Aera, dia merasa masih canggung.

Oh… Baiklah, aku akan membantumu.” Balas Chanyeol kemudian, Sara pun tersenyum melihat kebaikan Chanyeol kepada adiknya yang kini seperti mengenal Chanyeol dekat.

Padahal, dulu saat baru mengenal Jongin, dia tampak ketakutan dan tidak ingin berdekatan dengan orang asing seperti Jongin. Padahal, Jongin memiliki wajah yang tampan sama seperti Chanyeol. Yang membedakan adalah postur tinggi badan, Chanyeol lebih jauh tinggi daripada Jongin. Bukankah orang yang tinggi lebih terlihat menakutkan bagi anak seumuran Aera? Entahlah, Aera merasa ingin dekat dengan Chanyeol, sedekat kakaknya dengan Chanyeol.

Sara terduduk santai di depan Aera dan Chanyeol yang sedang berusaha membuat manusia salju. Mereka mulai membuat bulatan salju yang berukuran besar ke ukuran kecil. Aera nampak akrab dengan Chanyeol. Padahal, belum genap 24 jam mereka berkenalan, tawa-canda kecil keluar dari mulut mereka. Sara nampak takjub dengan senyum merekah Chanyeol yang memperlihatkan deretan gigi putihnya. Terlebih dengan gayanya yang menepuk kedua telapak tangannya sambil menutup kedua matanya, ia nampak geli melihat gaya lucu Aera. Sangat tampan.

Aera melihat kakaknya hanya terdiam sendiri dan senyum-senyum sendiri membuat Aera ingin melihat bagaimana waktu berdua Chanyeol dengan kakaknya. Aera pun berbisik pada Chanyeol, “Oppa, temani kakakku. Dia sendirian. Lihat pipinya sudah memerah karena dingin.”

“Maksudnya?” Chanyeol membulatkan mata anak anjingnya.

Ne, Sara eonni mengidap penyakit turunan dari almarhum ayah.” Celoteh Aera iba sambil sesekali melirik kakaknya yang sedang menggosokkan kedua tangannya.

Chanyeol makin membulatkan matanya. Ia baru tahu, ayah dari Sara sekaligus Aera sudah meninggal dunia. Ditambah lagi, ia baru tahu, Sara mengidap penyakit. Pantas, waktu pertama kali mereka bertemu, Sara pingsan dengan keadaan mimisan.

Chanyeol pun mengangguk dan berjalan pelan mendekati Sara. Benar, pipi Sara berwarna merah, sangat kontras dengan kulitnya yang berwarna putih pucat.

“Sara, kau baik-baik saja?” Tanya Chanyeol yang kini duduk di samping Sara. Sara menoleh.

G-gwaechana. Hanya kedinginan, sudah biasa.” Bohong Sara, padahal ia merasa dingin. Sangat dingin tepatnya.

Jeongmalyo?” Tanya Chanyeol lagi meyakinkan. Sara pun mengangguk.

“Ohiya, Chanyeol. Apa kau tau nanti malam adalah malam apa?” Tanya Sara mengganti topik pembicaraan. Ia tidak ingin Chanyeol tau bahwa dia sedang kedinginan.

Tapi Chanyeol tau Sara sedang sangat kedinginan, ucapannya terdengar bergetar. Sara tidak pintar berbohong. Ingin Chanyeol memeluknya dan membenamkan kepala Sara di dadanya, agar Sara merasa hangat. Keterangan, Chanyeol sama sekali tidak merasa kedinginan.

“Malam… Senin?” Jawab Chanyeol seadanya. Sara menarik nafas dan membuangnya pelan.

“Benar kan? Aku tidak salah?” Tanya Chanyeol kemudian.

“Iya sih, tapi kurang tepat! Nanti malam adalah malam pergantian tahun.” Jawab Sara kecewa.

“Oh… Aku lupa, maaf.” Ungkap Chanyeol yang sebelumnya hanya ber-o ria.

“Kau mau menghabiskan malam pergantian tahun denganku kan?” Tanya Sara lantang.

“Te-tentu.” Jawab Chanyeol.

“Janji?” Tanya Sara menatap dalam manik mata Chanyeol, dan Chanyeol membalasnya dan tersenyum.

“Janji.”

Blush~

Angin berhembus beserta butiran-butiran salju kecil. Refleks, Sara memeluk tubuhnya sendiri dan menggigil hebat. Terdengar suara gertakan kecil yang giginya buat. Kemudian ia menggosokkan kedua telapak tangan mungilnya, membuat kehangatan.

Chanyeol menatapnya bingung. Dia berpikir sedingin itukah hari ini? Tapi dia tidak merasa dingin. Dia tak ingin Sara tau bahkan bingung, ia pun ikut menggosokkan kedua telapak tangan besarnya. Kemudian, ia tempelkan ke kedua pipi Sara. Sara pun menatap kedua manik mata Chanyeol. Ia menatap kagum dengan apa yang Chanyeol lakukan untuknya saat ini. Sekaligus kagum dengan aura ketampanan milik Chanyeol. Rambut hitamnya yang acak-acakan berkibar halus, benar apa kata Aera, bagaikan seorang aktor.

Sara mengerjap dengan pipinya yang kini lebih merah daripada sebelumnya. Tak ketinggalan, deru detak jantungnya pun semakin berdegup kencang. Bagai sengatan listrik, kehangatan dari kedua telapak tangan Chanyeol yang hangat mejalar langsung ke seluruh tubuhnya. Rasa dinginnya hilang sejenak. Ia ingin terus dalam posisi ini, kalau perlu, ia ingin menghentikan waktu ini dan selamanya begini, begitu pula Chanyeol.

Eonni, oppa, jangan bermesraan terus. Ibu sudah ada di depan pagar.” Ujar Aera tiba-tiba sambil menarik-narik ujung pakaian Sara dan Chanyeol bergatian.

Chanyeol pun melepas kedua telapak tangannya dari pipi Sara dan Sara mencoba menetralisir kembali degup jantungnya. Begitu pula Chanyeol. Ibunya pun mendatangi mereka dengan senyum cantik nan awet muda milik ibu. Ibunya menatap kaget Chanyeol yang berdiri di sebelah Aera.

“Ibu, ini Chanyeol oppa! Kekasih Sara eonni!” Kata Aera sumringah dengan tangan mungilnya yang masih menggenggam tangan besar Chanyeol. Chanyeol pun membungkuk sopan.

Annyeong, bu.” Ujar Chanyeol sesopan mungkin.

“Kau Park Chanyeol?” Tanya ibunya, Chanyeol pun mengangguk dengan senyum ramah.

“Wah, suaramu besar sekali, nak. Dan kau juga sangat tinggi. Berapa umurmu?” Tanya ibu dengan senyum ramah.

“20 tahun, bu.” Jawab Chanyeol yang pasalnya sedikit berpikir berapa umurnya sekarang. Ibunya pun hanya mengangguk paham. Sara baru tau umur Chanyeol, ternyata Chanyeol lebih tua satu tahun dengannya.

“Ibu ke dalam dulu ya. Ohiya, di kota nanti malam ada pesta kembang api. Kalian tidak akan kesana malam ini? Banyak anak muda yang datang.” Ujar ibu, seakan memberi sebuah tanda memperbolehkan Sara menghabiskan waktu malam pergatian tahun bersama Chanyeol.

“Akan kami pikirkan.” Ujar Sara, ibu hanya tersenyum dan masuk ke dalam rumah sambil menenteng keranjang berisi sayur-sayuran dan buah-buahan. Aera pun tak ketinggalan ikut ibu masuk ke dalam rumah.

“Jadi… Kita pergi malam ini?” Tanya Sara.

Tanpa aba-aba mereka berdua saling menoleh. Chanyeol tampak berpikir sejenak. Bagaimana bila ada orang yang menyadari dirinya kalau dirinya adalah manusia serigala. Namun, untuk Sara, Chanyeol pun mengangguk dan tersenyum untuk Sara kembali.

 

 

 

 

Kondisi malam kawasan Gangwon mulai menghangat, tak sedingin tadi pagi. Angin-angin kencang berubah menjadi angin lembut. Entah spesial untuk malam ini badai salju tak turun atau hanya kebetulan malam pergantian tahun.

Chanyeol dan Sara berjalan kaki menuju bagian kota Gangwon bersama. Apa ini disebut berkencan? Entahlah mereka juga bingung. Suasana canggung terus menghantui benak mereka. Tak ada salah satu dari mereka yang memulai topik pembicaraan.

Mereka hanya saling mencuri-curi pandang satu sama lain. Sara nampak anggung dengan dress hijau tosca gelap dibawah lutut dengan jaket tipis setengah badan. Rambut panjang kecoklatannya ia ikat menjadi buntut kuda dengan ikat rambut berbentuk pita berwarna biru tua. Sedangkan Chanyeol nampak serasi dengan kemeja hijau tua dan celana panjang. Tatanan rambutnya masih sangat simple, hanya disisir dengan jari. Dan dimodel di ke ataskan.

Pukul 11 malam, mereka berangkat demi melihat pesta kembang api di kota. Betapa romantisnya mereka. Tak hanya mereka berdua yang terlihat berpasangan, hampir semua pengunjung pun juga terlihat berpasangan. Bedanya, Sara dan Chanyeol tak saling berkontak kulit sedikit pun. Pegangan tangan pun tidak.

Sara terlihat iri dengan para pasangan yang berlalu lalang, ia sedikit kesal dengan ketidak romantisan Chanyeol malam ini. Yang benar saja, Chanyeol tidak pernah berkencan. Dan inilah kali pertamanya dia berjalan-jalan menghabiskan waktunya dengan seorang gadis.

Saat di tengah jalan, Sara membeli 2 bungkus cemilan—ddeokbokki. Satu untuknya dan satu untuk Chanyeol. Akhirnya, mereka menemukan tempat untuk mengistirahatkan tubuhnya. Bangku taman yang muat untuk 2 orang dewasa.

Sara melirik jam tangan kecilnya, jarum jamnya menunjukkan ke angka antara 11 dan 12. Waktu terasa begitu cepat. Begitu pula waktu-waktu yang ia luangkan bersama Chanyeol, kini genap 4 hari mereka telah menghabiskan waktunya bersama. Sebagai teman.

Dan 4 hari itupun, Sara belum melihat jelas wujud asli Chanyeol. Sesungguhnya, Sara ingin tau, bagaimana sosok Chanyeol yang sebenarnya. Sosok Chanyeol sebagai seekor serigala. Sosok Chanyeol sebagai pemangsa kejam. Sosok Chanyeol yang ia lihat malam itu… Masih terasa ganjil di benaknya. Dan masih terasa tidak percaya dengan sosok Chanyeol. Chanyeol sangat terlihat seperti manusia biasa, bukan sesosok serigala hantu. Wolf.

“Chanyeol… bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?” Kata Sara memulai pembicaraan. Sontak Chanyeol menoleh.

Anehnya, Chanyeol terkekeh. Bagaimana tidak, Sara nampak lucu saat ini. Saus ddeokbokki tersisa disisi bibir Sara sebelah kiri. Ibu jari besar Chanyeol mengusap pelan sudut bibir Sara lembut. Sara mengerjap dengan apa yang Chanyeol lakukan padanya saat ini. Semuanya di luar dugaan, sisi Chanyeol amatlah manis. Tak jarang membuat detak jantung Sara terlewat satu detik.

“Ah, aku seperti anak kecil ya.” Ucap Sara dan menunduk.

“Tadi mau ngomong apa?” Tanya Chanyeol sambil memegang dagu Sara agar menatapnya. Inilah sisi romantis Chanyeol, Chanyeol selalu memegang dagu Sara agar menatapnya. Dan Sara sangat suka dengan perilaku Chanyeol yang satu ini.

“Em…” Sara sedikit bergumam. Ia bahkan lupa ingin berbicara apa, karena perilaku Chanyeol yang selalu membuatnya hilang ingatan seketika. Sara mencoba mengingat. Ia menggapai tangan Chanyeol agar tidak terus ada di dagunya, karena perilaku ini, Sara lupa segalanya. Chanyeol menggenggam tangan Sara erat dan meletakkannya di atas pahanya.

“Kau tidak pernah menceritakan penyakitmu padaku.” Ungkap Chanyeol dalam. Dan ia mengeratkan genggaman tangannya.

Sara menolehkan kepalanya. Menghembuskan malas nafasnya. Jika berurusan dengan penyakitnya, suasana hati Sara selalu menurun. Ia benci dengan penyakitnya ini. Membuat setiap orang khawatir dengannya. Dan tak lama lagi, Chanyeol juga khawatir dengan penyakit yang Sara idap.

Chanyeol kembali menggapai dagu Sara dengan sisi tangannya yang lain, sedangkan tangan lainnya masih setiap menggenggam tangan Sara. Chanyeol menatap dalam manik mata Sara, “Jawab aku…”

“I… i-ini… hanya penyakit turunan, tidak perlu dikhawatirkan.” Ucap Sara.

Chanyeol tersenyum lemah dengan Sara yang kini sudah menunduk lagi. Tangan Chanyeol menggapai puncak kepala Sara dan mengelusnya pelan.

“Aku tau. Aku harap, kau bisa sembuh total.” Kata Chanyeol lembut. Sara membalasnya dengan senyum paksa. Ia tau, penyakitnya ini tidak akan pernah sembuh. Kecuali, bila keajaiban terlahir dalam dirinya.

“Dan kau… Tidak pernah bercerita tentang dirimu. Apa kau… mempunyai keluarga?” Tanya Sara.

Ia kini sedikit rileks, dan sedikit tidak takut-takut lagi bila bertanya dengan Chanyeol. Karena Chanyeol selalu menjawabnya, walau kadang berbohong. Chanyeol sedikit terkejut dengan pertanyaan Sara. Ia menghembuskan nafasnya kasar. Ia menggapai kepala Sara dan mengistirahatkan kepala Sara di pundaknya. Sara sempat terkejut. Namun ia mulai terbiasa. Chanyeol memang sesosok yang tak terduga. Tak terduga bisa seromantis ini.

“Ngomong-ngomong, aku merindukan keluargaku.” Ujar Chanyeol sambil mengeratkan kembali genggaman tangannya untuk Sara. Tangan mereka masih bertautan.

“Aku seorang anak bungsu. Aku memiliki ibu dan ayah tentunya, dan seorang kakak perempuan.” Lanjut Chanyeol, namun terputus dengan pertanyaan Sara.

“Kemana keluargamu?”

“Mereka…”

 

 

 

“Aku membunuh mereka.”

 

 

 

DEG!

Detak jantung Sara terlewat satu detik. Bukan karena kagum, namun benar-benar terkejut dengan apa yang Chanyeol katakan. ‘membunuhnya’ kata yang sangat menakutkan bagi Sara.

“Maksudmu?” Tanya Sara meyakinkan. Chanyeol tersenyum miris.

Oh, tangan yang kau genggam ini, tangan yang sangat kubenci.” Entah mengapa, mata Sara memanas. Ia menarik nafasnya sesaat dan menaikkan sedikit kepalanya ke atas untuk menahan air-air yang tiba-tiba saja terbendung di bawah matanya.

“Mengapa kau membunuh mereka?” Tanya Sara kembali.

“Saat itu, aku tidak bisa mengendalikan diriku. Aku harus membunuh orang yang aku sayangi terlebih dahulu agar aku bisa menjadi sosok manusia.” Jawab Chanyeol jelas.

“Semoga mereka tenang disana.” Ujar Sara datar. Ia tidak takut.

“Ceritakanlah kembali ceritamu. Mengapa tangan ini bisa membunuh mereka.” Lanjut Sara bertanya.

“Park Yoora. Kakakku, dia menikah dengan laki-laki yang sama sepertiku. Namun naas, dia dibunuh. Entah siapa yang membunuh, dan mungkin, oleh suaminya sendiri. Entahlah, aku tak memikirkannya.”

“Nama yang cantik. Aku ingin bertemu dengannya.” Ucap Sara sebagai respon. Mereka pun terdiam sejenak.

“Lanjutkan.” Perintah Sara.

“Aku bercerita terlalu banyak.”

Aninde! Itu pisikal keluargamu, tentangmu belum. Yang paling aku penasaran adalah… Mengapa kau… Bisa… Menjadi seperti… sekarang.” Tanya Sara lagi, namun sedikit terputus-putus. Ia takut Chanyeol tak membalas pertanyaannya yang satu ini.

“Ayahku seorang professor, dan eksperimennyalah yang membuatku seperti ini.”

Tepat pada jawaban Chanyeol yang terakhir. Suara riuh pengunjung dan kembang api terdengar di telinga mereka. Sontak Sara menaikkan kepalanya kembali dan melihat langit gelap yang kini berwarna-warni karena kembang api. Sangat indah.

“Chanyeol…”

“Hmm?”

“Jangan pernah tinggalkan aku ya?”

“…” Chanyeol mengangguk.

“Janji?”

“Janji.”

Jari kelingking mereka kini saling saling terkait satu sama lain. Mereka pun menatap kagum kembang api yang membuncah indah di langit malam, masih dengan jari kelinglingking yang masih menyatu. Lama-kelamaan, tautan kelingking itu menjadi tautan tangan yang hangat dan manis sekali. Senyum terlukis di masing-masih wajah mereka. Mereka saling menutup mata dan berharap…

 

 

 

To Be Continue

 

 

 

A/N:

Siap-siap, next chap bakal menegangkan!!! #hahagaje-_- Maaf bagian romantisnya Cuma 2 chapter, kelanjutannya bakal menuju ke thriller sama tragedy. Ada bahasa yang kurang dimengerti? Leave your coments for the next chapter~ No siders ya!

Thanks for reading!

 

20 pemikiran pada “Werewolf Beside You ( Chapter 3 )

  1. makin keren aja chinguu,,
    .jadi terharu baca yg bagian akhir..kok aq ngrasanya miris bgt yaa nasib mereka,.tp gpp..mereka saling melengkapiii..sweett bgt,,
    ..semoga aja janji mereka bakal mereka tepati apapun yg terjadiii,.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s