Blooming

Blooming

blooming-copy

Title : Blooming | Author : vanillaritrin | Genre : Fluff, School-Life, Friendship, Comedy | Length : Oneshot (>3000 words) | Rating : PG-15 | Main Cast : Oh Chae Mi( You), Oh Sehun | Support Cast : Kim Da Eun (OC), Hong Yoon Hee (OC), Shin Hyo Ra (OC), Kim Jongin, and the others | Poster : pinkfairy @ EKF

Background Song (Recommended) :

Romantic Love – Hello Venus

J Rabbit – If You Love Me (Accoustic Ver.)

Disclaimer : The plot is mine!

 

Annyeong! Ini side story chaehun/semi dari sudut pandang chaemi. Walaupun ini related banget sama camouflage, bukan berarti kondisinya sama persis sama camouflage yaaa. Intinya disini cerita kehidupan chaemi yang baik2 aja sama temen2nya dan sehun. Biar lumayan ngefil (?) sambil play bgs-nya yaa nyehehe ohya tolong baca note di ending, makasi 😀

 

Summary :

I feel like one day is too short because of you.-Romantic Love (Hello Venus)

 

 

*****

 

 

Tidak pernah terlintas di benakku menjalani hubungan jarak jauh. Aku selalu membayangkan berkencan dengan kekasihku saat weekend, bercanda, dan membicarakan hal – hal random lainnya hingga merasa sehari tak pernah cukup bersamanya. Walaupun kami tidak sepenuhnya jarak jauh, maksudku Ia pasti pulang ke Seoul. Hanya saja Ia pasti tidak akan sampai tepat pada hari pertama sekolah.

Sudah minggu kedua sekolah terhitung sejak berakhirnya liburan musim dingin. Aku membunuh waktu dengan membenamkan wajah diantara kedua tangan yang terlipat di atas meja. Di belakangku, Hyo Ra dan Yoon Hee—kedua sahabatku yang seperti anak kembar—sibuk dengan permainan konyol mereka.

Sedangkan Da Eun menatapku lurus dari tempat duduknya.

“Oh Chae Mi.” Tiba – tiba saja suaranya menjadi sangat dekat. Ia pasti sudah bangkit dari posisi terakhir dan sekarang berdiri kurang dari sepuluh centi dariku.

Aku mendongak tak bersemangat—menunggu kelanjutan ucapannya.

“Eish, sejak kapan kau jadi uring – uringan begini? Apa karena Sehun belum pulang?” Da Eun menyedekapkan tangannya. Baiklah, Ia menggodaku. Biasanya Ia hanya memancing.

“Aku kurang tidur.” Aku hendak menenggalamkan kepalaku lagi sebelum gadis berkacamata itu menghentikan pergerakanku.

“Kalau sekarang Sehun ada di depan kelas kita bagaimana?”

Sontak aku membulatkan mata tak percaya. Raut wajah Da Eun sama sekali tak terlihat bergurau. Sinar matanya juga tak menunjukkan kebohongan. Apa benar Sehun sudah sampai di Seoul?

“Hmphhh.” Itulah yang selanjutnya kudengar. Ia pandai berbohong sekarang. Aku harus mencurigainya lain kali, lihat saja.

Tangan Da Eun masih menyilang di depan mulutnya untuk menahan tawa yang akan meledak. Ia menenangkan dirinya sebelum kembali buka suara,”Ya. Jangan marah.”

“Tidak lucu, Kim Da Eun.” Aku menyahut malas sambil memutar bola mataku jengah. Sial, lagi – lagi Da Eun menjebakku.

Hyo Ra—yang duduk persis di belakangku—memajukan tubuhnya sembari menepuk pundakku, “Chae Mi-ya, setelah ini kau mau langsung pulang?” Nadanya merajuk.

Aku tahu mereka pasti merencanakan sesuatu seusai jam sekolah. Firasatku tidak enak karena Da Eun sudah terlanjur membohongiku tadi.

Aku memutar tubuh ke belakang,“Ne. Kalian mau kemana?” Aku menatap Hyo Ra dan Yoon Hee bergantian.

Orchid and Dreams!” Yoon Hee menyambut antusias dengan mata berbinar sedangkan aku terbelalak. Seingatku mereka tidak pernah mengetahui tempat itu.

“Hong Yoon Hee, beberapa waktu lalu aku menanyakan dimana coffee shop itu kalian bilang tidak tahu. Jadi ternyata kalian tahu?” Protesku seketika. Kini bukan hanya Yoon Hee yang kutuduh, Da Eun dan Hyo Ra juga menjadi sasaran.

“Itu… Kami juga baru mengetahuinya belakangan ini. Kim Jongin dari kelas 2-2 pernah bekerja paruh waktu disana.” Hyo Ra mengusap tengkuknya kikuk. Ia mengatakan yang sebenarnya namun aku—well, agak menyeramkan kalau sudah seperti ini.

“Kalau begitu kalian bertiga dapat diskon?” Aku mendelik ke arah Da Eun yang sedari tadi diam.

“T-tentu saja tidak. Ia sendiri juga kalau membeli kopi disana tidak diskon.” Yoon Hee melambai – lambaikan tangannya—takut aku salah paham atas keterlibatan pemuda bernama Kim Jongin itu.

Aku berpikir sejenak,”Aku tidak ikut kali ini. Mian.

Yaaaa~ wae geurae? Kita sudah lama tidak minum kopi bersama.” Hyo Ra mencibir manja sembari mengguncangkan lenganku sementara Da Eun mendesah panjang melihat tingkahnya.

Bukan aku tidak ingin minum kopi bersama mereka tapi aku sepertinya perlu berwaspada. Kalau mereka hanya ingin tertawa jahil karena mood-ku tak kunjung berubah, lebih baik aku tidak ikut. Daripada aku harus jadi objek pembicaraan mereka. Mereka pasti akan menyeret nama Sehun dan meledekku habis – habisan.

Ini semua memang salah Tuan Oh yang menyebalkan itu. Memangnya Ia tidak tahu aku merindukannya? Memangnya Ia tidak tahu aku ingin mendengar suaranya? Ingin tahu kabarnya? Ingin melihat wajahnya meski hanya dari Skype?

“Aku akan kembali secepatnya.”

Begitu jawabannya ketika aku meminta semua itu. Benar saja, Ia bahkan tidak membalas semua pesanku, tidak menjawab teleponku, tidak merespon semua usahaku melalui sosial media sejak hari pertama sekolah. Sebelumnya ketika liburan kami masih sering mengirim chat Kakao atau Line. Terkadang kami berbicara lewat Skype. Tak terasa dua minggu telah berlalu sejak komunikasi kami yang terakhir.

Aku khawatir. Aku takut Ia akan melirik gadis lain di Canberra. Ia juga sama sekali tidak mengabariku. Semua usahaku begitu sia – sia dan aku hampir putus asa. Aku baru pertama kali menjalin hubungan dengan seseorang dan sekarang aku frustasi karena tak kunjung bertemu dengannya.

Suara kursi berderit di sebelahku membawaku kembali ke kenyataan. Da Eun baru saja kembali ke posisinya dan semua anak menghambur ke kursinya masing – masing. Song Seongsaem—yang aku tidak tahu kapan tepatnya Ia masuk kelas—membuka buku tebalnya sembari memerhatikan muridnya kemudian mulai menjelaskan rumus matematika yang memusingkan.

 

 

*****

 

 

Da Eun, Hyo Ra, dan Yoon Hee benar – benar pergi ke Orchid and Dreams. Aku sedikit menyesal karena tidak ikut tapi kurasa ranjangku bukan ide buruk. Aku sangat lelah, pikiranku tersita oleh laki – laki yang tidak bisa mengerti perasaanku itu. Kami memang memiliki gengsi yang tinggi untuk mengakui bahwa kami saling merindukan satu sama lain.

Atau hanya aku yang merindukannya?

Aku menghentakkan kedua kakiku kesal. Kemungkinan – kemungkinan buruk selalu menghantuiku belakangan ini. Aku bahkan tidak bisa tidur nyenyak karena lelaki itu. Aish, aku benar – benar membencinya. Sungguh.

Kalau Ia kembali, hal pertama yang akan kulakukan adalah mencekiknya.

Terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri, aku tidak sadar kini sudah berada di depan rumah. Aku mengetikkan kode pintu kemudian segera melesat ke dalam. Aku ingin menyingkirkan Sehun dari benakku selagi tidur. Karena aku tahu, ketika aku bangun nanti aku pasti akan mengingatnya lagi juga mengingat perilakunya yang membuatku jengkel.

Ekor mataku menangkap sosok lain di ruang tamu yang langsung membekukan seluruh syarafku. Aku sangat mengharapkan dan menunggu kehadirannya. Tapi saat berhadapan seperti ini aku tidak berkutik. Aku hanya menatapnya takjub tanpa mengucap sepatah kata. Jarak kami cukup jauh namun aku dapat melihat senyum tipisnya yang kurindukan.

Buru – buru aku menemukan kesadaranku. Baru saja tadi aku berjanji akan mencekiknya ketika Ia sampai di Seoul. Baiklah, sekarang aku akan membalas semua perlakuannya padaku selama dua minggu terakhir.

Tunggu.

Aku-tidak-siap.

Aku bahkan dapat mendengar degup jantungku sendiri. Astaga, apakah kami sudah terlalu lama tidak bertemu sampai aku harus gugup seperti ini? Mungkin. Akupun tidak memungkiri Ia sangat sempurna meski hanya mengenakan kaos putih dan celana merah marun. Atas semua alasan itu dan beberapa alasan aneh dan tidak masuk akal yang tak bisa kujelaskan, aku tidak siap mencekiknya sekarang.

Aku ingin kabur.

“Chae Mi-ya.” Ia memanggilku saat aku hendak berbalik menuju pintu lagi. Perasaan campur aduk hinggap di hatiku. Aku dapat merasakan cairan bening yang sudah menumpuk di pelupuk mataku. Buru – buru kuhapus calon air mata itu dengan kasar kemudian menggerakkan kepalaku ke arahnya sembari memasang wajah masam.

Ia seolah dapat membaca pikiran dari ekspresiku,“Bagaimana kalau kita bermain?”

Aku mengernyitkan dahi mendengar tawarannya. Apa yang sedang Ia bicarakan sebenarnya?

“Hmm… Kau pasti marah padaku karena aku tidak mengabarimu, kan?” Ia menyeringai. Sial, sial, sial. Di saat seperti ini apa Ia harus menggodaku dan memintaku menurunkan gengsi untuk mengakuinya?

“Aku akan mengajukan pernyataan mengenai dirimu. Kalau apa yang kukatakan benar, kau harus maju dua langkah ke arahku,” Ia menggerakan tangannya—memberi kode untuk mendekat,”Tapi kalau aku salah, kau boleh mundur dua langkah. Posisimu harus di tengah.”

Aku terdiam sesaat. Aku benci keadaan ini. Aku ingin pergi saja dan tidak bertemu dengannya dulu. Aku marah padanya, aku sedikit—ehm, banyak—kecewa, sedih, canggung juga rindu padanya. Pun aku tak melihat tanda – tanda penyesalan di matanya—yang setidaknya dapat mengurungkan niatku untuk berlalu saja dari hadapannya

Yang aku garis bawahi adalah pernyataan mengenai diriku. Cih, memangnya apa yang Ia ketahui tentang diriku? Ia bahkan jarang hadir di sekolah sampai aku mengira Ia bukan murid sekolah kami. Aku ingin mengujinya—seberapa jauh Ia mengenalku. Walaupun aku harus menelan kenyataan pahit bahwa Ia tidak mengetahui apapun saat aku keluar dari rumah ini.

Akupun memutuskan untuk mencobanya. Dengan ragu, aku memusatkan posisiku di tengah antara pintu depan dan sofa tempat Sehun duduk sekarang.

Sehun menahan senyumnya sekilas sementara aku hanya menatap tajam ke arahnya. Aku harus berhasil menyembunyikan semuanya dengan sikap angkuh yang menutupi diriku bertahun – tahun.

Sehun terlihat berpikir keras beberapa detik,“Oh Chae Mi tidak baik dalam pelajaran olahraga.”

Otakku memproses pernyataan pertamanya. Aku cukup baik dalam berlari, aku selalu unggul dalam hal itu. Aku juga tidak terlalu buruk dalam berenang, bulu tangkis, basket, dan softball.

“Sebaiknya spesifik.” Aku memaksa keluar suaraku. Sehun melempar senyum malu – malunya sewaktu mendengar suaraku yang parau.

“Kau tidak baik dalam berenang.”

DEG

Sehun tidak mengenalku. Kekasihku tidak mengenalku. Damn.

Akupun mengambil dua langkah ke belakang. Seharusnya dari awal aku tak boleh membiarkan diriku mengharapkan Sehun akan mengutarakan fakta – fakta tentang diriku. Ia bahkan jarang berada di sekolah. Ia tidak tahu seperti apa keseharianku. Ia hanya mengetahui semuanya dariku sedangkan penilaianku terhadap diri sendiri tidak selamanya benar.

Air muka Sehun berubah muram melihatku mundur. Dugannya meleset. Ia tak seharusnya mengadakan permainan ini. Mungkin ini caranya mencegahku pergi, namun jika pada akhirnya aku juga pergi ini akan terasa menyakitkan untukku.

“Kau penggila kopi.” Sehun berkata skeptis.

Aku menghirup udara dalam. Aku menyukai kopi tapi aku bukan coffee freak. Aku meringis kecil—seharusnya aku bersyukur setidaknya Ia tidak mengatakan hal yang kubenci. Haruskah aku bohong agar Ia tidak kecewa? Tidak, itu bukan gayaku. Ia harus belajar menerima kenyataan bahwa Ia memang tak mengetahui apapun tentangku.

Aku mundur dua langkah seraya melirik ke belakang. Sekali lagi Sehun salah, aku akan berada tepat di depan pintu depan. Aku boleh pergi dari rumah dan tidak bertemu Sehun hari ini. Aku menimbang – nimbang dalam hati sembari menggigit bibir bawahku. Apa aku harus kembali ke rumah untuk menemuinya? Apa Ia akan mengejarku?

Kali ini aku tidak ingin menggantungkan harapanku terlalu tinggi.

Sehun memejamkan matanya. Aku agak iba melihatnya seperti itu ditambah aku sangat merindukannya. Aku ingin memeluknya. Terakhir kali kami berpelukan sewaktu mengantarnya di bandara. Di sisi lain, akupun ingin memberinya pelajaran. Sebaiknya kalau Ia tidak mengetahui apapun tentangku, Ia tak perlu mengadakan permainan ini.

“Kau—,” Ia mengambil jeda cukup lama—memilah kata – kata dalam benaknya,”Kau tidak tega melihat orang lain menderita.”

DEG

Jika aku melihat seseorang menderita, sekalipun aku tidak mengenalnya maka aku akan menolongnya. Tidak peduli apa resiko sesudahnya, aku akan menolong orang yang dalam kesulitan—bahkan bahaya.

Agak ragu aku melangkah ke depan. Sudut – sudut bibirnya perlahan terangkat dan menjelma sebagai senyuman hangat. Aku tidak ingat kapan terakhir kali Ia tersenyum seperti itu padaku. Ia lebih sering menampakkan sisi dinginnya jika berada di tempat umum.

Padahal itu semua bohong. Terkadang Ia menyebalkan, saat ini contohnya.

“Kau tidak bisa tidur belakangan ini.” Tukasnya. Aku menautkan kedua alis mendengarnya. Dari mana Ia mengetahui hal itu? Apa disini ada Ahjumma sehingga Sehun bisa menginterogasinya dulu sebelum melakukan permainan ini?

“Apa yang kau cari?” Sehun mengerutkan keningnya mendapati aku yang menoleh ke kanan – kiri tak tentu. Aku sebenarnya bukan hanya mencari Ahjumma tapi juga mencari objek lain yang bisa kupandang selain dirinya.

Ahjumma sudah pulang dari Pulau Nami?” Tanyaku linglung. Aku sungguh tak tahu apa yang sedang aku lakukan atau setidaknya aku bicara pada siapa. Mataku bergerak kesana kemari hingga Sehun mengeluarkan suaranya lagi.

“Barusan Ahjumma pergi ke minimarket. Kalau tidak ada siapapun disini bagaimana aku bisa masuk? Aku tidak tahu kode pintu, Chae Mi-ya,” Sergahnya cepat. Ia melirik arlojinya sekilas—mengukur waktu,”Bagaimana pernyataanku?”

Aku bimbang. Awalnya kupikir aku akan terbebas darinya—walaupun aku pasti sedih karena Ia tak mengetahui apapun mengenai diriku. Di sisi lain, aku ingin menyudahi saja permainan aneh ini.

Dua kali Sehun menyatakan fakta tentang aku. Haruskah aku menyangkal? Tapi ada satu bagian dalam diriku yang merasa senang karena Sehun mengetahui kebiasaan dan keadaanku. Ia memperhatikanku.

Baiklah, jangan berlebihan. Aku tidak mau harapanku pupus lagi.

Kegilaanku semakin menjadi kala jarak yang tersisa diantara kami kurang dari satu meter. Aku dapat mencium aroma mint-nya yang khas. Kulihat Sehun seperti sedang menelitiku dari ujung kaki sampai kepala.

“Apa yang kau lihat?” Aku melipat tanganku di dada. Cara pandangnya tidak mengganggu namun aku penasaran apa yang sebenarnya sedang Ia lakukan sampai begitu serius.

“Kau tidak makan selama liburan?” Ia bertanya sarkastik. Aku mengerjapkan mataku heran. Bagaimana mungkin aku hidup tanpa asupan makanan? Kemana perginya logika Sehun?

“Tentu saja makan.” Tandasku seraya melempar tatapan menusuk padanya. Aku sungguh sudah muak dengan permainan ini. Ia seperti sedang mengulur – ulur waktu.”Langsung saja pernyataan selanjutnya.” Aku menggembungkan pipi kesal karena Ia tak kunjung membalas ucapanku.

“Hm, menurut penglihatanku kau lebih kurus sejak terakhir kita bertemu.” Aku langsung memutar bola mataku jengkel. Ayolah kapan terakhir kali kita bertemu, Oh Sehun?

Aku semakin menekuk wajahku yang sudah berlipat – lipat sebagai respon kata – katanya.

Ara, ara.” Air muka Sehun berubah serius. Ia tampak berpikir keras dan hati – hati. Tinggal sekali lagi. Jika pernyataannya benar, aku akan mendekat padanya.

Mendekat pada… Siapa?

DEG

“Kau bersembunyi di balik topeng angkuhmu selama ini. Sesungguhnya kau adalah orang yang rapuh, yang tidak akan membiarkan ketidakadilan terjadi, yang akan memperjuangkan orang – orang yang kau cintai hingga akhir. Meski itu harus mengorbankan dirimu sendiri.”

Aku merasakan perasaan hangat yang menjalar ke seluruh syarafku. Kalimat demi kalimat yang meluncur mulus dari bibir Sehun seakan menjadi magnet tersendiri untukku. Aku merasa Sehun agak berlebihan dalam hal ini namun akupun tidak menampik bahwa aku bahagia. Mungkin seperti itulah cara Sehun memandangku.

Kini aku masih di posisi terakhir. Aku menimbang – nimbang untuk maju atau mundur. Kuputar ingatanku pada ucapan Sehun sebelumnya—menelaah satu persatu kalimatnya. Aku memang bersembunyi dengan topeng ini. Aku tidak ingin diremehkan orang lain lagi sejak kejadian pembully-an sewaktu SMP.

Masalah aku orang yang rapuh atau bukan, aku tidak pernah memikirkannya. Selama ini hidupku cukup baik sebelum bertemu Sehun dan Ia mengacak – acak hatiku seenaknya. Ia tidak mempermainkanku hanya saja terkadang Ia membuatku benar – benar habis kesabaran.

Aku tidak membiarkan ketidakadilan terjadi. Ketidakadilan seperti apa? Aku tidak mengerti. Sudahlah, lewat.

Aku memperjuangkan orang – orang yang kucintai hingga akhir, meski harus mengorbankan diri sendiri. Benar, aku akan melakukannya.

Perlahan tapi pasti aku melangkahkan kakiku hingga jarak diantara kami menipis. Tubuh kami hanya terpaut jarak tiga puluh centi dan aku tak berani untuk sekadar meliriknya. Pandanganku membentur sepatunya kemudian menelitinya lebih seksama. Segala hal yang dikenakan Sehun rasanya memang hanya didesain untuknya seorang.

Mianhata.” Satu kata ajaib itu meluncur dari bibir kecilnya. Aku pasti sudah gila karena menahan air mata mati – matian. Dalam hati aku tidak berhenti mengutuk Sehun karena tindakannya.

Eomma menahanku disana beberapa hari lagi dan aku—,”

“Tidak! Aku tidak mau mendengar apapun lagi!” Aku menutup kedua telingaku rapat – rapat dengan kedua tangan. Air mataku meleleh dan tak butuh waktu lama kristal bening itu membanjiri wajahku yang sudah tak karuan. Aku kesal, aku marah, aku benci ketika aku harus mengakui bahwa aku merindukannya. Bertolak belakang denganku, Ia dengan santainya bicara seperti itu. Aku tahu pasti orang tuanya ingin Ia berlama – lama disana. Aku mengerti. Tapi kenapa Ia tidak mengabariku dua minggu belakangan? Aku tidak bisa menerima alasan apapun untuk hal itu.

Semuanya berlangsung sangat cepat hingga otakku terkesan lamban mencernanya. Detik berikutnya aku sudah berada di pelukannya. Ia merengkuh tubuhku sangat erat—seolah tak membiarkanku bergeser meski satu inchi. Aku tak peduli aku akan megap – megap kehabisan napas setelah ini.

Aku menyukainya. Aku menyukai caranya mengungkapkan perasaannya padaku.

Akupun menjatuhkan tanganku ke punggungnya seraya membenamkan wajahku di dadanya. Isakanku semakin keras karena berada di pelukannya. Aku sangat merindukannya tapi Ia seperti tidak memahami perasaanku sampai aku merasa hanya aku yang merindukannya.

Sehun mengelus punggungku lalu menyandarkan dagunya di puncak kepalaku. Tangisanku semakin pecah akibat perlakuannya. Ia sedang menenangkanku—mengingatkan bahwa semuanya baik – baik saja selama Ia ada disini, di sisiku.

“Aku merindukanmu.”

Tangisku mereda sedikit demi sedikit. Aku ingin mendongak dan memastikan bahwa pendengaranku tidak salah namun aku masih ingin bersandar di dadanya. Aku belum ingin melepaskan pelukan kami. Akupun segera mengatur emosiku yang sempat meledak begitu saja beberapa menit lalu. Aku menajamkan pendengaranku pada penuturannya.

“Aku sangat merindukanmu, Chae Mi-ya.” Lanjutnya dengan tarikan napas panjang.

”Kau tidak tahu betapa tersiksanya aku menahan rindu padamu. Aku sengaja tidak memberimu kabar karena dengan begitu kita akan menghargai setiap detik yang ada ketika kita bersama. Aku hanya ingin pertemuan pertama kita ini menjadi sangat berarti dan tak terlupakan.” Ia mengakhiri dengan sebuah kecupan di puncak kepalaku. Kemudian Ia menenggelamkan wajahnya di sela – sela rambutku dan menghirup wangi shampoo yang kugunakan—memenuhi rongga dadanya dengan aromaku.

 

“Maaf telah membuatmu menunggu lama.” Imbuhnya pelan—sangat pelan hingga hampir tak terdengar jika tubuh kami tidak menempel. Aku mengangguk ringan di dadanya. Tangan kanannya terangkat—Ia mengusap rambutku sebagai balasan.

Senja ini, Sehun meminta maaf padaku. Maaf karena membuatku sedih, maaf karena membuatku kecewa, maaf karena membuatku merindukannya terlalu lama.

 

 

*****

 

 

Sehun tak pernah melepas genggamannya di tanganku dari gerbang masuk sampai menunggu giliran untuk naik bianglala. Aku juga selalu melingkarkan tanganku di pinggangnya selama perjalanan kesini. Ia mengendarai motor hijau kesayangannya seperti orang kesetanan. Well, tapi aku tidak keberatan selama aku bisa memeluknya dari belakang.

Belum sempat aku mendeskripsikan betapa bahagianya aku hari ini, aku dan Sehun sudah berada di dalam bianglala. Ia duduk di sebelahku dengan tatapan kosong. Mungkin Ia sedang merangkai kata untuk membuka topik. Kami memang agak kikuk karena sudah cukup lama tidak bertemu. Jika bukan Ia yang menghapus kecanggungan ini, jangan harap aku yang melakukannya. Aku bahkan sudah menangis tadi. Aku sudah menurunkan gengsiku sedikit—meski Ia jauh lebih menurunkannya.

Aku belum ingin mengucapkan kata – kata selagi memandang langit malam Seoul yang dapat dengan jelas kulihat dari sini. Aku sungguh bahagia Sehun membawaku kesini. Ia menepati janjinya. Saat terakhir kami berkomunikasi lewat Skype, aku mengatakan ingin sekali naik bianglala. Aku tidak ingin cepat menyimpulkan Ia perhatian namun bisa kusebut ini dengan ‘ternyata ingatannya tidak buruk juga’.

Aku merasakan tubuhku agak terhempas saat bianglala mencapai puncaknya. Sudut mataku melihat Sehun tetap tenang di sampingku. Sepertinya Ia belum ingin mencairkan kebekuan kami ini. Akupun menghela nafas berat.

“Indah sekali.” Aku menggumam pelan. Percuma saja kami kesini kalau ternyata Ia tak menikmatinya dan hanya diam seperti patung.

Langit Seoul malam ini bening namun tidak terlalu bertabur bintang. Dari atas sini, aku mengamati titik – titik cahaya sebagai representasi kehidupan kota. Jalan layang membelok, membelah kesibukan kota di bawahnya. Biasanya jalanan itu terlihat tinggi namun menjadi rendah dari tempatku berada saat ini. Seoul memamerkan kecantikannya dengan gemerlap warna – warni yang hanya akan semakin memikat setiap penikmatnya.

Sehun merapatkan tubuhnya padaku agar dapat melihat citylight lebih jelas. Sontak aku menahan nafasku. Jarak kami sangat dekat—terlalu dekat dari yang seharusnya.

“Hm.” Balasnya singkat. Aku sudah tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Aku mendengar suara beratnya tepat di telinga kiriku

“Aku sangat merindukan Seoul.” Ucapnya lagi. Tengkukku merinding karena hembusan nafasnya. Tidak bisakah Ia menjauh sedikit agar aku bisa bernafas?

“Chae Mi-ya.”

Aku masih tidak menanggapinya. Aku sudah kehilangan semua logikaku. Pikiranku kosong dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika aku bergerak sedikit saja.

Sehun masih menungguku menatapnya balik. Aku paham. Hanya saja aku belum siap melihat matanya.

Perlahan aku merasakan sentuhannya di bahuku kemudian hanya dalam hitungan detik Ia sudah memutar tubuhku menghadapnya. Aku terpojok. Di sebelahku hanya ada jendela—tidak ada ruang kosong lagi. Aku menelan ludah panik. Wajah Sehun semakin dekat. Aku bahkan tidak ingat sejak kapan Ia melenyapkan kekosongan diantara kami.

Aku membulatkan mata saat hidungnya bersentuhan dengan hidungku. Bibir kami hanya terpaut beberapa centi lagi. Sehun menatapku dengan pandangan yang tak pernah kulihat sebelumnya lalu memejamkan kedua matanya. Refleks akupun melakukan hal yang sama.

Lalu bibirnya menyapu permukaan bibirku. Hangat dan manis.

Ada banyak sekali kembang api di dadaku. Jantungku masih berdetak tak karuan namun aku menyukainya. Hatiku semakin bergejolak ketika Sehun menangkupkan kedua tangannya di wajahku lalu mulai melumat bibirku dengan lembut—sangat lembut bahkan. Atau ini karena aku belum pernah berciuman? Entahlah. Tapi aku menyukainya. Aku menyukai ciuman pertamaku.

Bibirnya masih setia melembapkan bibirku dan kubiarkan perasaan membuncah itu mengecap hatiku. Aku seperti dibawa melambung tinggi ke udara. Ia menyalurkan rindunya, cintanya, dan segala yang tak dapat Ia ungkapkan lewat deretan kata selama Ia menciumku. Sekitar dua menit, Sehun melepaskan pagutannya di bibirku. Wajahnya merona dan aku tak tahu sudah semerah apa wajahku sekarang. Ia menempelkan keningnya di keningku tanpa merubah posisinya. Dalam jarak sedekat ini, aku melihat kebahagiaan di jernih matanya. Iapun tersenyum dengan menunjukkan deretan giginya—menyebabkan lengkungan matanya membentuk bulan sabit. Deru nafasnya masih belum teratur begitupun denganku. Jantungku masih berpacu cepat namun tetap berirama.

Dalam jarak kurang dari sejengkal ini, aku takut Ia bisa mendengar detak jantungku.

“Kau perlu mendengarkan apa yang orang katakan namun tetaplah menjadi Chae Mi yang kukenal. Chae Mi yang tidak tega melihat orang lain menderita, Chae Mi yang bersedia mengorbankan dirinya untuk orang yang dicintai, dan—,” Ia menggantungkan kalimatnya. Aku menangkap kilatan nakal di matanya,”Chae Mi yang tidak bisa tidur karena merindukanku.”

Aku yang sedari tadi memegang lengannya langsung mengerlingkan mataku. Ia benar – benar mengambil kesempatan. Aku mendengus sewaktu Ia memamerkan smirk-nya yang mempesona. Sayang aku sedang tidak mood untuk mengaguminya.

Aku tiba – tiba teringat sesuatu,”Sehun-ie.”

Ia menatapku teduh. Tatapan menenangkannya yang selalu berhasil meluluhkan semua egoku.

“Tetaplah di sisiku apapun yang terjadi.” Aku sudah tidak memedulikan jarak kami saat ini. Aku hanya ingin Ia berjanji dan tidak melanggar janjinya kelak.

Ia tak kunjung menjawab. Mungkin Ia sedang menimbang – nimbang. Aku agak kecewa melihatnya butuh waktu untuk berpikir. Aku hampir menjatuhkan wajahku jika saja Ia tak mencegahku dengan mengangkat kembali wajahku dan mengecup bibirku sekilas.

“Aku berjanji.”

Setelah itu Sehun menjauhkan wajahnya dan kembali ke posisi semula. Aku mengulum senyum kala jemarinya terselip diantara jariku. Kerinduanku terbayar sudah. Sehun benar, dengan Ia tidak mengabariku selama dua minggu kami akan menghargai setiap detik yang tercurah.

Mengenai permainan tadi… Tunggu. Ada yang ingin kutanyakan padanya.

“Darimana kau tahu aku tidak bisa tidur? Pasti dari Ahjumma.” Aku menebak asal. Akupun melempar tatapan menuduh padanya. Meski Ia mengetahuinya dari Ahjumma, aku cukup senang karena Ia mengingatnya. Ia juga harus ingat itu akibat perbuatannya.

“Dari sana,” Ia menunjuk kantong mataku,”Kau benar – benar merindukanku, ya?”

Aish!” Aku memukul dadanya berkali – kali. Ia tergelak sembari menangkap tubuhku lagi dan akupun tak kuasa untuk tidak membalas dekapannya.

Hari ini Sehun merekahkan kembali perasaan yang sempat kulupakan karena ketidakberadaannya. Sehun kembali mengingatkanku bahwa semua akan baik – baik saja selama kami bersama.

Seandainya ada alat pengukur kebahagiaan, aku penasaran mengenai kadar kebahagiaanku hari ini.

Selang beberapa menit, aku baru ingat bahwa aku sudah membulatkan tekad untuk mencekiknya saat Ia tiba di Seoul. Akupun mengarahkan tanganku ke lehernya—berpura – pura kejam.

YAAA! OH CHAE MI APA YANG KAU LAKUKAN??!!”

 

 

End

 

 

Note:

Officially end! Di camouflage aku gasempet nulis end jadi sekalian aja disini yaa hehe

Dapet gasih filnya? Jujur aja yaa jujur hehe soalnya aku ngerasa gagal T_T

Aku emang pengen cerita yang rada sweet, ga banyak konflik *cukuplah konflik di camouflage* dan agak fancy gini. Karena… karena genre fic chaptered/series aku selanjutnya yaa gitu rada beda ama yang ini XD

Aku tebus kekurangan semi moment disini kkkkk oke aku pernah bilang kalo banyak yang pengen tau side story mereka bakal aku kirim kan kan? Gomawo^^ Disini jongin ga aku masukin, dia numpang lewat doang haha mian abis moment kaimi udah banyak-_- terus aku juga ga masukin nayoung yaa 😀 soalnya aku juga ngerasa moment chaemi sama temen2nya yang bertiga itu ga seberapa dibanding moment chaemi sama nayoung. Buat yang minta seyoung, jujur aku kaget ada yang ngeship sehun sama nayoung hihi dan aku minta maaf buat sekarang2 aku belom dapet yang namanya feeling mereka karena dari awal sehun emang sukanya sama chaemi bukan nayoung hiks maaf yaa 😦 aku juga ada rencana bikin project lain tentang sehun kok 😀 tapi oc-nya bukan nayoung dan jalan ceritanya juga beda, eotthae? Biar kita move on hehe soalnya jujur yaa ini aja aku bingung ceritanya mau diapain lagi, makanya jadinya cuma segini 😦

Ini aku terinspirasi dari film sixth sense (?) itu film horror thriller gitu sebenernya hahahaha tapi yang part itu aku suka. Jadi awalnya si anak yang punya sixth sense itu gamau ngomong sama psikolognya. Suatu hari pas dia pulang, si psikolog ngajuin pernyataan gitu tentang si anak. Pokoknya cara mainnya sama deh ama chaehun hehe ohya sama conan! Ahaha aku kangen conan :’) masih ada gasih? T_T conan movie deh kalo gasalah, yang conan dikasih obat biar jadi shinichi lagi buat berapa jam gitu tapi pas ran ke toilet cuma ada conan. Terus si ran nutup kuping bilang ‘tidak, aku tidak mau dengar apapun lagi’ terus conan bilang ‘kak shinichi bilang supaya kakak mau menunggunya’ OHMAYMAYMAY ITU SEDIH ASLI KAYANYA ITU EPS TERSEDIH CONAN hahaha ga kebayang jadi ran sumpeh~

Yauda side story cuma ini aja yaa, aku ga bikin lagi soalnya nanti ceritanya jadi ganyambung kalo aku tambah2in mulu dan aku ga nemu lagi itu ulzzangnya haha ini aja kebetulan sekebetulan2nya (?) ketemu ulzzang itu lagi hehe mari kita move on XD Okaaay segitu aja yaa semoga kalian suka dan jangan lupa komen okee 😀

Satu lagi nih. Kalian bakal jarang atau ngga sama sekali liat aku lagi disini huhu soalnya aku udah jd author tetap di SKFF. Jadi mungkin kalo yang mau liat fic2 aku bisa ke wp pribadi atau ke Say Korean FF yaa hehe maap ngiklan dikit^^

See you!

vanillaritrin

Iklan

15 pemikiran pada “Blooming

  1. ahh ini mah nge feel bnget thor 🙂
    bacanya smbil snyum gaje gitu(?)
    si sehun sweet bnget ama chaemi apalagi waktu naik bianglala itu mah dapet bnget feel nya, romantiiissss…. 🙂
    okeh deh thor good job n fighting trus nulisnya 🙂

  2. Kyaaaaa so sweetttttttttttt :’3 envy envy envyyy :’3 wkwk
    Nice ff thor.. Daebak daebak daebakkkk xD sumpah feel nya dapet bgt..
    Hwaiting thor!!! Moga bisa bikin ff yg keren kayak gini lagi, bahkan lebih lebih daebak dari iniiiii.. Dan pastinya lbih sweet/? Hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s