Our Relation (Chapter 2)

Our Relation (Chapter 2)

bbjd

Title : Our Relation | Chapter 2

Author : Kim Shin | @_ShinVIP

Cast :

  • Xi Luhan
  • Kim Hye Mi
  • Oh Sehun
  • Han Hyo Sun

Genre : Romance, comedy (?)

Rate : PG + 16

Length : Multichapter

Diclaimer : Luhan dan Sehun ciptaan Tuhan, yang mau ngambil silahkan izin dulu dengan Tuhan /ngawur/ sedangkan ff abal ini ciptaan saya, hasil bertapa selama 9 bulan 7 hari /makinngawur/

Summary : Dua bersaudara. Mungkin saat mendengar itu kalian akan teringat dengan Wright bersaudara. Dua orang ilmuwan hebat yang berhasil menciptakan pesawat. Yahh! Mungkin kalian akan teringat itu.

Tapi ini lain, disini dua bersaudara tersebut adalah dua orang yang sangat menyebalkan. Dan lagi, kenapa Tuhan malah menggoreskan takdir bahwa mereka harus berhubungan dengan dua pria aneh tersebut, yang mana satunya bersikap sedingin es sedangkan yang satunya lagi nyeleneh seperti ulat nangka…

 

-oOo-

 

Jadi maid di café terkenal itu memang susah, banyak peraturannya. Harus cantiklah, harus murah senyumlah, harus sopanlah, harus telatenlah, harus ini harus itu. Membosankan! Untung saja digaji, kalau tidak, mana sudi Hyo Sun melayani para pengunjung yang kadang memiliki tampang jutek dan terkadang juga berisik. Lain Hyo Sun, lain pula Hye Mi. Ia berfikiran, jadi maid itu suatu hal yang menyenangkan, ia bisa menerima banyak pengalaman, ia bisa belajar tentang bagaimana tata cara menjadi pelayan yang baik, ia bisa membagikan senyum -yang otomatis ia juga bisa mendapatkan pahala- kepada semua orang, ia bisa melatih kesabarannya saat ada pengunjung yang mengeluh tentang kinerja mereka yang buruk dan juga, ia bisa mendapatkan uang dengan hasil jerih payahnya sendiri. Menyenangkan bukan?

Setiap kali bekerja, Hyo Sun selalu memasang tampang malas. Tak jarang bos mereka kesal dan menceramahi -atau lebih tepatnya memarahi- Hyo Sun dengan sedikit bentakannya, tapi memang si bebal Hyo Sun, ia malah menganggap suara amukan bosnya itu hanyalah sebagai angin lalu. Dan ujung-ujungnya, si baik Hye Mi-lah yang akan mengeluarkan kata ‘Maaf’ untuk mewakili sahabatnya itu, berharap agar Hyo Sun tidak dipecat oleh bos mereka yang terkenal akan kedisiplinannya. Dan ini, terus terjadi secara berulang-ulang, seperti sekarang…

“Hyo Sun! berapa kali aku bilang, keluarkan senyuman mu dan bicaralah dengan sopan. Apa yang kau lakukan? Kau membentaknya? Kau mau semua pelangganku kabur? Kau mau membuat café ku bangkrut?” bosnya benar-benar kesal sekarang. Bagaimana bisa Hyo Sun membentak seorang pria yang telah menjadi pelanggan setianya selama bertahun-tahun?

“Pria itu brengsek bos!” ujar Hyo Sun santai, ia bahkan tak takut sedikitpun dengan suara keras bos mereka.

Apa yang dilakukan Hyo Sun memang ada benarnya. Ia hanya ingin melindungi sahabatnya. Apa salah jika ia membentak -dan menonjok- pelanggan yang hendak berlaku kurang ajar pada sahabat manisnya?

“Maaf bos, kami minta maaf. Kami janji tidak akan mengulanginya lagi.” Hye Mi yang sedari tadi hanya diam dan berdiri disamping Hyo Sun akhirnya buka suara. Kasihan juga melihat Hyo Sun dibentak seperti itu.

“Kali ini aku maafkan. Kau Hyo Sun, bersikaplah lebih sopan lagi. Aku tau pria tadi hendak berbuat tak senonoh, tapi setidaknya jangan kau tonjok juga dia, para pelanggan yang lain jadi takut melihatmu, terutama anak kecil.” ucap bosnya panjang lebar. Memaafkan kelakuan Hyo Sun yang sebenarnya tidak patut disalahkan karena ia juga tau apa yang sebenarnya telah terjadi pada karyawannya.

“Hmm!” gumam Hyo Sun singkat, masih dengan tampang malasnya.

“Dan kau Hye Mi, jika ada yang berbuat tak senonoh padamu, laporkan saja pada ku. Aku yang akan menghadapinya, dan tentunya tidak dengan aksi anarkis.” bosnya berbicara sambil menunjuk kearah Hye Mi dan diakhiri dengan sindiran serta pandangan mata yang mengarah pada Hyo Sun.

“Dia menyindir.” umpat Hyo Sun, tau bahwa ia disindir secara halus oleh bos mereka yang masih muda ini.

“Iya bos.”

“Kami permisi.” Hye Mi dengan cepat menarik sahabatnya. Takut kalau-kalau si bos mereka ini jadi hantaman maut tangan baja Hyo Sun.

 

-oOo-

 

Pukul sepuluh lewat lima belas menit. Menandakan bahwa pekerjaan paruh waktu mereka selesai dan waktu pulang pun tiba. Segera melepaskan pakaian maid mereka, Hyo Sun dan Hye Mi segera berlari keluar toko, tempat dimana mereka bekerja. Hal yang paling menyenangkan adalah saat mereka berjalan di trotoar jalan yang sepi sambil sesekali berbincang hangat, mengeluarkan kalimat candaan, dan tak jarang, kata-kata hinaan pun sering keluar dari bibir-bibir manis mereka. Seperti sekarang…

“Hyo Sun-a, kau tak lapar?” tanya Hye Mi. Gadis dengan pembawaan kalem tersebut akhirnya buka suara setelah bosan melihat aspal.

“Hmm! Aku lapar Hye Mi-ah~ kau tak lihat wajah cantik ku ini?” ujar Hyo Sun manja, sambil menunjuk wajahnya memperlihatkan ekpresi bahwa ia benar-benar tersiksa karena lapar.

Hye Mi hanya bisa tersenyum menanggapi sahabatnya ini. “Kau mau makan apa?”

“Terserah, asal jangan plastik sampah saja.” jawab Hyo Sun asal, mengelus-ngelus perut keroncongannya.

“Tulang ayam mau?” tanya Hye Mi, mengedip jahil kearah Hyo Sun.

“Yakk! Kau kira aku anjing diberi makan tulang?” teriak Hyo Sun, tak terima mendengar tawaran menyebalkan dari sahabatnya ini.

“Hahaha…”

“Awas kau.” teriaknya lagi. Mengejar Hye Mi yang saat ini sedang berlari diiringi dengan suara tawa.

Berlari bermenit-menit, hingga tanpa sadar Hye Mi malah menabrak salah satu dari pria nakal yang sedang nongkrong disekitar daerah tersebut.

BRUKK

“Aw…” pekik Hye Mi, tersungkur kebelakang.

Pria yang sedang asik berbicara bersama teman-temannya itu terkejut, dan menoleh kearah Hye Mi yang belum sadar bahwa ia sedang dalam bahaya. Menyeringai, si pria tersebut menyeringai senang saat ia mendapatkan mangsa yang manis. Mendekat dan berjongkok didepan Hye Mi.

“Aigooo… lihat lah siapa yang menabrakku.” ucapnya.

“Bos, manisnya~”

“Sikat bos!”

Teman-teman si pria tersebut malah berteriak dengan mata-mata mereka yang berkilat nafsu.

“Malam manis, mau aku temani?” tanya si pria kurang ajar, menyentuh lembut helaian rambut Hye Mi.

“Ma-maaf.” Hye Mi yang ditanya malah bergetar takut, ia perlahan-lahan menggeser tubuhnya mundur, menjauhkan wajahnya dari pria nakal tersebut, tapi sepertinya sang pria malah makin mendekat.

“Jangan mendekat.” ucap Hye Mi semakin takut, mengepalkan tangannya dan meletakkannya didepan dada. Membuat benteng perlindungan diri. Terus mundur kebelakang.

Yang difikirkan Hye Mi saat ini adalah menghindar dan berlari, tapi sepertinya terlalu sulit. Ia sudah benar-benar terpojok di dinding jalan.

“Oh ayolah… aku hanya ingin menyentuhmu sedikit manis.” ujar pria tersebut. Ia semakin bertingkah kurang ajar, menyentuh pergelangan tangan Hye Mi, hendak mendaratkan kepalanya kearah leher jenjang nan mulus milik Hye Mi, tapi sebuah suara menghentikan aksinya.

“Yakk brengsek!” Hyo Sun datang dengan mata berkilat amarah, menggulung lengan bajunya, “Singkirkan wajah jelekmu brengsek!” ucapnya murka. Mendekati si pria brengsek dan bersiap mendaratkan satu tonjokkan manis kearah si pria tersebut, tapi sebelum itu, si pria telah memberikan kode pada teman-temannya yang berada dibelakang untuk menghentikan Hyo Sun, si gadis pengganggu–menurutnya.

GREPP

“Diamlah manis.” ucap pria yang lainnya. Mencengkram erat pergelangan tangan kiri Hyo Sun.

“Kau mengganggu.” ucap yang satunya, mencengkram sebelah kanan.

“Lepas brengsek!” Hyo Sun benar-benar kesal, amarahnya telah sampai keubun-ubun. Dengan sekuat tenaga ia menggoyangkan sikunya kearah dada pria yang mencengkram lengan kirinya, dan dengan mudahnya tangan Hyo Sun pun terlepas dan si pria tersebut malah meringis kesakitan.

BRUKK

Lagi, Hyo Sun kembali melayangkan pukulan mautnya kearah pria yang lain. Menghadapi dua pria bukanlah hal yang sulit. Hyo Sun masih terus memukuli wajah pria yang telah membuatnya marah, menduduki pria tersebut, menonjok wajahnya dengan bringas, sampai-sampai ia lupa dengan sahabatnya yang saat ini benar-benar terpojok.

“Diamlah manis, layani saja aku.” Pria yang berada di depan Hye Mi berhasil merobek lengan baju Hye Mi, hingga memperlihatkan pundak mulusnya.

“Jangan… ku mohon…” Hye Mi menangis, ia takut, sangat takut. Lebih baik mati dibunuh, ketimbang hidup tapi diperkosa. Hye Mi menoleh sebentar kearah Hyo Sun, berharap sahabatnya itu melihat kearahnya dan segera membantu, tapi sepertinya Hyo Sun terlalu sibuk dengan mainannya–memukul kasar si pria brengsek.

“Jangan… hiks…” Hye Mi terus menangis, memohon dengan sedikit berontak agar ia segera dibebaskan. Walaupun ia sendiri tau, itu tidaklah mungkin.

“Diam!”

PLAKK

Kesal mendengar tangisan dan jeritan dari Hye Mi, si pria pun menampar keras wajah Hye Mi, hingga membuat gadis tersebut kehilangan kesadaran serta menimbulkan sedikit darah disudut bibirnya.

Disisi lain, Hyo Sun benar-benar tak sadar kalau sahabatnya sedang dalam keadaan mengenaskan. Dan saat ia menoleh ke arah samping, ia benar-benar shock. Melihat sahabatnya pingsan dengan posisi terpojok serta baju yang sobek dibagian bahu, membuatnya semakin marah, membuatnya semakin menjadi monster dan membuatnya ingin segera membunuh si pria brengsek. Dengan langkah cepat, ia berjalan kearah Hye Mi -atau lebih tepatnya kearah si pria-, berjalan dengan tergesa-gesa hingga ia lupa bahwa masih ada satu pria lagi yang belum ia tuntaskan. Dan si pria tersebut, dengan liciknya malah mengeluarkan sapu tangan dan membubuhkan obat bius kedalamnya. Ia pun berjalan perlahan dibelakang Hyo Sun dan dengan gerakan cepat ia membius Hyo Sun hingga Hyo Sun merasakan sesak dan seketika gelap.

 

-oOo-

 

Luhan melajukan mobil Lamborghini hitam milik adiknya dengan kecepatan penuh. Ia masih memikirkan kejadian tadi. Baru kali ini ia benar-benar benci dengan para karyawannya. Oke, lebih tepatnya bukan ‘Baru kali ini’ tapi ‘Beberapa kali ini’. Wanita, pria, sama saja. Mereka sama-sama bodoh. Tidak bisa bekerja secara professional. Untungnya Luhan seorang direktur yang baik hati. Yahh, dia baik hati. Sangat baik, saking baik hatinya dia baru saja memecat 3 orang karyawannya dengan senang hati.

Yang pertama, Wang Jung Yoo, seorang gadis cantik berperawakan tinggi dipecat karena memanggil Luhan tanpa embel-embel “Pak.” Gadis itu juga dengan bangga mengklaim bahwa Luhan adalah her future hushband-nya. Cih! Menjijikkan! Kedua, Kim Ah Bong, seorang karyawan pria berumur 29 tahun, dipecat karena tak sengaja menumpahkan kopi keatas surat-surat berharga milik perusahaan dan karna surat berharga tersebut basah dan rusak, akhirnya Luhan harus membuat kembali surat tersebut dengan cara merelakan waktu istirahatnya. Yang ketiga, ini yang paling menyebalkan, Lee Ha Moon, pria tua dengan postur tubuh gemuk, berkaca mata, umur berkisar 45 tahun. Dipecat karena sengaja meludahi sepatu Luhan, setelah diinvestigasi apa penyebab kelakuan buruk pria tersebut, ternyata si pria tua tersebut menyimpan dendam pada Luhan sebab Luhan juga pernah memecat anak perempuannya, Lee Ha Song. Hey! Gadis itu wajar kan kalau dipecat? Wajarlah, alasan Luhan memecat si gadis cantik yang dulu menjabat sebagai sekretarisnya adalah karena si gadis hendak memperkosa Luhan di ruang kerjanya sendiri. Heol! Kenapa gadis-gadis saat bertemu pria tampan akan berubah menjadi agresif?

Lain Luhan yang selalu bersikap ‘Terlampau baik’ pada setiap karyawannya. Maka Sehun bersikap ‘Acuh tak acuh’ pada semua karyawannya. Ia tak mempermasalahkan para karyawan wanita yang selalu menatap genit kearahnya. Ia tak mempermasalahkan karyawan pria yang memandang iri padanya. Dan ia juga tak mempersalahkan asistennya, Kim Ae Young, yang selalu mengelus-elus tangan putihnya. No problem, selagi Sehun masih merasa belum terganggu atau pun risih. It’s Oke wae~

Oh… disini agak dijelaskan sesuatu. Mungkin ada yang bertanya kenapa mereka masih kuliah padahal mereka -Luhan dan Sehun- sudah memiliki jabatan sebagai direktur diperusahaan masing-masing. Itu karna mereka tidak ada kegiatan lain, mereka merasa bosan dan butuh hiburan. Menjabat sebagai direktur disebuah perusahaan besar itu bukanlah pekerjaan yang mudah, itu sulit sangat sulit malah. Makanya mereka memilih pergi kekampus dengan harapan dapat bersenang-senang dengan teman sebaya yang lain. Mereka sendiri sebenarnya sudah lulus S2. Kenapa bisa masuk kekampus -lagi- dan langsung naik kesemester 7? Itu karena uang, mereka punya uang dan bisa membeli segalanya. Cukup sekian!

Luhan masih melajukan mobil adiknya dengan kecepatan penuh, ia ingin cepat-cepat sampai ke apartemen, berendam air panas lalu tidur. Tapi sepertinya perencanaan tersebut harus dibuang jauh-jauh, karna saat tengah melajukan mobil dengan focus, tanpa sengaja matanya malah menangkap dua orang gadis cantik yang sedang dihadapkan dengan tiga preman nakal. Tanpa pikir panjang, ia segera menginjak rem mobil. Ntah kenapa tubuhnya menyuruh untuk berhenti dan memperhatikan gerak-gerik kedua gadis tersebut.

Sama seperti Luhan, Sehun yang terkejut mendapati hyungnya berhenti secara mendadak segera menolehkan arah pandangannya, melihat kearah satu titik yang sama dengan hyungnya. Ia terbelalak.

Sehun menyembulkan kepala lewat kaca mobil, lalu dengan cepat ia keluar dari mobil melihat dari kejauhan, si gadis berbaju pink yang sedang berusaha menyelamatkan temannya. Luhan yang dari tadi diam dan berada didalam mobil, akhirnya memutuskan keluar. Mengikuti jejak sang adik.

“Hyung, apa perlu kita bantu?”

Mereka kini bersandar sambil melipat tangan di samping pintu mobil, melihat kearah Hye Mi dan Hyo Sun yang sedang dalam bahaya, mereka hanya melihat tanpa membantu.

“Diamlah!” ucap Luhan singkat, menatap dalam kearah Hye Mi dan Hyo Sun yang sedang berjuang menyelamatkan hidup mereka.

“Astaga! Gadis pink itu monster!” Sehun enggan diam, ia terus-terusan berceloteh sambil mengarahkan matanya kedepan, melihat seram kearah Hyo Sun yang sedang menghajar musuhnya dengan penuh nafsu.

“Hyung, yang satunya terpojok.”

“Hyung, kau yakin tak mau membantu?”

“…”

“Jahat sekali kau hyung. Kalau saja ibu tau kau tak mau membantu gadis yang sedang dalam kesusahan, kau pasti sudah dijadikan gulai hyung.” ucap Sehun semakin panjang lebar. Sebenarnya ia ingin membantu, tapi kalau membantu sendiri, lebih baik pikir-pikir dulu. Sehun tak mau pipi mulusnya mendadak lecet hanya karna mencampuri urusan orang lain. Hey!

“Ckckck! Yang satunya ditampar sampai pingsan. Benar-benar sekelompok banci!” Sehun menggelengkan kepalanya, masih dengan pandangan mata focus kedepan dan mulut yang berceloteh-celoteh ria.

“Brengsek!”

“Hey! Hyung, kenapa bertindak sendiri?” kaget, Sehun kaget saat melihat hyungnya yang tiba-tiba berlari menyebrangi jalanan yang sepi, kearah gadis-gadis malang.

.

.

.

“Coba dari tadi kau diam seperti ini, pasti aku tak kan menamparmu.” ucap si pria sambil menatap kearah Hye Mi yang pingsan dihadapannya. “Apa boleh buat, memperkosa gadis pingsan sepertinya tak terlalu buruk.” ucapnya lagi. Mengarahkan tangannya kearah kancing baju Hye Mi, hendak berbuat lebih dan lebih. Tapi sebelum itu…

“Apa aku mengganggu?” sebuah suara mengintrupsi kegiatannya, si pria pun mendongak kearah samping.

“Siapa kau?” tanyanya berang, sepertinya misinya selalu gagal.

“Hanya orang lewat,” jawab Luhan santai. Melipat tangannya didepan dada.

“Sialan kau!” si pria pun berdiri, menunda kegiatan kejinya dan bersiap memukul Luhan dengan tangan kasarnya.

BRUKK

Sepertinya Luhan bukanlah lawan yang sebanding, hanya sekali pukul si pria telah jatuh tersungkur, terbatuk-batuk sampai mengeluarkan darah.

Masih belum menyerah, si pria mencoba berdiri, mengepalkan tangannya kuat-kuat dan…

BRUKK

Lagi, Luhan hanya sedikit menggerakkan badannya, tapi si pria malah terkapar tak berdaya di atas tanah. Bermain-main dengan Luhan merupakan suatu kesalahan besar, karna Luhan bukanlah pria yang mudah dilumpuhkan. Jago karate, pandai silat, dan juga pemimpin tawuran dari tahun ke tahun, ada yang berani melawan?

Disisi lain, Sehun mendekati pria yang sedang memeluk Hyo Sun -yang pingsan- dari belakang, “Lepaskan!” perintah Sehun dingin pada si pria.

BRUKK

Pria tersebut melepaskan Hyo Sun dengan senang hati ketanah, berlari kearah Sehun dengan pisau lipat ditangannya. Terbelalak, Sehun kaget saat ia melihat Hyo Sun yang dilepaskan sembarangan dan lebih kaget lagi saat ia melihat si pria yang berlari kearahnya dengan sebuah pisau lipat.

SRAKK

Sehun nyaris saja kehilangan nyawanya. Tapi untungnya ia gesit, dan dengan sigap ia menjatuhkan pisau yang semula diarahkan kepadanya, “Kau mau mati heh?” tanya Sehun pada pria yang saat ini tangannya dipelintir kuat oleh Sehun.

“Pergi, atau ku kirim kau keneraka?” ucap Sehun dingin sambil menatap tajam kearah si pria, melepaskan cengkraman kuatnya di lengan pria tersebut. Nampaknya si pria masih mau melawan, tapi saat ia melihat tatapan tajam Sehun, ia lari, atau lebih tepatnya, si pria berfikir, dia belum siap mati.

“Hey bangunlah.” ucap Sehun. Ia berjongkok dihadapan Hyo Sun dan menepuk-nepuk pelan pipi mulus gadis tersebut.

“Heh? Gadis ini kan yang menonjok ku kemarin?” ujarnya, mengingat kembali kejadian naas yang telah terjadi kemarin.

“Hyung, bagaimana? Apa perlu ditinggalkan saja?” tanya Sehun, sedikit berteriak kearah Luhan yang saat ini sedang berjongkok didepan Hye Mi sambil mengusapkan saputangannya kearah bibir Hye Mi dan juga menyampirkan jaketnya, menutup bahu Hye Mi yang sedikit terekspos.

“Hn.” sahut Luhan ambigu.

Sehun terdiam ditempat, membiarkan Hyo Sun terkapar didepannya. Sedangkan dia, dia melihat kearah Luhan dengan pandangan aneh, ‘Sejak kapan hyung menjadi orang baik?’ pikirnya.

SRAKK

“Hah?” kaget Sehun. Ia kaget saat melihat Luhan menggendong Hye Mi ala bridal style.

“Angkatlah! Bawa keapartemen.” Luhan berujar singkat, meninggalkan Sehun yang terpelongo melihat kelakuan hyungnya yang mendadak aneh.

“Ck! Merepotkan!” Dengan sigap ia pun mengangkat Hyo Sun di pundaknya, seperti mengangkat karung beras.

“Hyung, bawa keapartemen siapa?” tanya Sehun saat ia telah sampai dimobil, melempar kasar Hyo Sun kedalam mobil, ditempatkan disamping Hye Mi yang juga pingsan.

“Kita.” jawab Luhan singkat, menyalakan starter mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.

“Hah? Kenapa apartement kita?” tanya Sehun. Tak habis fikir, apa sih yang difikirkan hyungnya ini, membawa gadis tepat pukul 11 malam. Apa nanti kata tetangga?

“Kau tau rumah mereka?” Luhan menatap adiknya intens, berharap adiknya yang bodoh ini mengerti apa alasannya membawa si gadis-gadis pingsan keapartemen mereka.

“Tidak, hehehe…” ucap Sehun disertai cengiran bodoh, menggaruk kepalanya yang sebenarnya sama sekali tidak gatal.

 

-oOo-

 

Sehun berdiri didepan Hyo Sun yang sedang terbaring di sofa apartemen mereka, meneliti setiap inci wajah Hyo Sun, dan tanpa sadar ia sempat bergumam ‘Manis’.

“Hyung, kenapa yang satunya ditaruh dikamar mu?” tanya Sehun, memandang heran kearah Luhan yang sedang menyiapkan dua mangkuk bubur dan dua gelas susu hangat. Bingung, kenapa hyungnya malah membawa si gadis satunya kekamarnya sendiri? Apa hyungnya itu mau berbuat aneh? Ah sepertinya tidak mungkin, Luhan hyung bukanlah orang seperti itu. Lagian dia itu Gay! *eh

“Hn.” selalu saja, sepertinya Sehun mulai jengah dengan kalimat ‘Hn’ hyungnya itu.

“Berikan padanya.” ujar Luhan singkat. Berjalan kearah Sehun yang sedari tadi terus-terusan memandang Hyo Sun dan menyodorkan nampan berisi semangkuk bubur serta segelas susu pada Sehun, sembari menunjuk Hyo Sun dengan dagunya.

“Untuk ku mana?” tanya Sehun polos. Menerima nampan tersebut dan meletakkannya diatas meja.

“Ck!” bukannya menjawab, Luhan malah berdecak kesal lalu membalikkan tubuhnya, mengambil bubur dan susu lainnya yang tadi ia taruh di meja makan. Pergi meninggalkan Sehun yang juga menatap kesal kearahnya.

Lima menit… Sehun masih berdiri memandangi Hyo Sun.

Sepuluh menit… Sehun mulai jengah.

Delapan belas menit… Sehun mulai merasakan pegal dikaki jenjangnya.

Dua puluh tiga menit… akhirnya Sehun pun mengambil langkah sopan untuk membangunkan Hyo Sun, si gadis pingsan yang sepertinya enggan membuka mata.

“Hey hey bangunlah!” ucap Sehun, mengarahkan kaki panjangnya kearah tubuh Hyo Sun yang terbaring didepannya.

“Hey! Gadis liar, kau mati?” tanyanya, masih dengan kaki yang menendang-nendang pelan tubuh samping Hyo Sun.

“Hey! Awww–” teriak Sehun keras. Belum sempat ia mengeluarkan kalimat pedasnya yang lain, kakinya sudah dicengkram kuat oleh Hyo Sun.

“Kau mau mati?” ucap Hyo Sun pelan, membuka perlahan mata indahnya dan menatap tajam kearah Sehun.

“Ya ya ya! Kaki ku. Akh!” Sehun berteriak sambil merintih kesakitan, menatap horror kearah kakinya yang sedang dicengkram kuat oleh Hyo Sun, hingga sedikit menimbulkan ruam-ruam merah di kaki mulusnya.

“Apa yang kau lakukan disini eoh? Keluar!” perintah Hyo Sun sambil melepaskan cengkraman di kaki Sehun. Sepertinya ia belum sadar kalau ini bukan apartemennya.

Menjaga jarak, Sehun mundur perlahan. “Ck! Lihatlah! Siapa kau, mengusirku dari apartemenku sendiri? Tak sadar diri!” umpatnya. Menatap sengit kearah Hyo Sun yang sedang mencoba duduk dari posisinya terbaring.

“Mwo?” kaget, lalu dengan cepat Hyo Sun mengarahkan kepalanya kesegala arah, meneliti setiap inci ruangan yang ia kira sebagai apartemennya sendiri. “Astaga!” ucapnya pelan, menutup wajahnya dengan telapak tangan. ‘Kenapa aku bisa berada disini?’ pikirnya dalam hati, masih dengan tangan yang menutupi wajahnya ia berpikir. Berpikir, apa yang telah terjadi sampai-sampai bisa nyasar ke apartemen orang lain. Apakah mabuk? Tidak! Lalu? Seketika bayangan ia dan Hye Mi yang sedang becanda ditengah jalan muncul, terus berlanjut saat Hye Mi yang ia lihat sudah terpojok dengan seorang pria brengsek, terakhir saat ia ingin membunuh si pria brengsek dan tiba-tiba… kenapa gelap?

“Yakk! Kau!” teriak Hyo Sun keras, menunjuk Sehun dengan telunjuknya.

“Dimana Hye Mi brengsek!” ucapnya lagi, berdiri dan mencengkram kerah baju Sehun kasar.

“Hey! Tenanglah. Kau mau menciumku?” Sehun berkata santai tapi sebenarnya ia gugup. Wajah Hyo Sun yang cantik terlalu dekat dengan wajahnya.

“Brengsek kau!”

BRUKK

Tanpa pandang bulu, akhirnya Hyo Sun melayangkan pukulan mautnya kearah Sehun hingga membuat Sehun tersungkur kebelakang, “Cih!” Sehun menggeram, memegangi pipinya yang sakit.

“Benar-benar tak tau terima kasih.” Dengan cepat Sehun segera berdiri dan memberikan deathglare terbaiknya pada Hyo Sun, yang malah ditantang balik dengan tatapan nyalang.

“Harusnya kau berterima kasih pada kami, kalau tidak ada kami. Kalian pasti habis diperkosa pria-pria brengsek tadi.”

“Aish! Jinjja, benar-benar gadis liar!” umpatnya kasar, hendak pergi meninggalkan Hyo Sun sendirian diruang tamu apartemen mereka, tapi sebelum itu ia sempat berkata, “Makanlah.” menunjuk bubur dan juga susu yang mungkin sudah dingin diatas meja, “Dan temanmu, bersama hyungku. Dikamar…” setelah mengucapkannya ia pergi, meninggalkan Hyo Sun yang terkejut dengan mata terbelalak.

“APA?”

 

TBC

Note: FF ini cuma ff Hate/Love aja… Maksudnya cuma fanfict yang nyeritain tentang cast yang benci jadi cinta… Cuma sedikit kisah-kisah manis aja. Jadi yang ngarepin kalo dalam ff ini bakal ada orang ketiga, itu gak bakalan ada #perih u____u

Dan dalam ff ini, memang author buat alur lambat untuk membantu author dalam menceritakan kejadian detail pertemuan mereka.

Sedikit aja cuap-cuapnya. Thanks buat yang udah review kemaren^^

Mind to review again? Review kalian penyemangatku~

Thanks for reading ^^

Iklan

34 pemikiran pada “Our Relation (Chapter 2)

  1. wehehhe…sii luhann,.gayanyaa sok cool bgt siihh hahagkk..trs sii sehun,.cereweettttnyaaaaa….hadeuuhhh..tapii lucuuuu,.ahihihiii..
    ehh knpa hyemi dibawa ke kamar luhan..?? trs sehun hahagkkk..sukurin luuu ketemu ma gadis bar” eohh..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s